Alarm Global Jakarta Air Makin Langka, IPO PAM Jaya Melantai 2027
- account_circle Penulis
- calendar_month Sel, 10 Feb 2026
- visibility 231
- comment 0 komentar

![]()
Pemanfaatan sumber air baku dari dalam wilayah Jakarta masih terbatas. Dari sejumlah sungai yang mengalir di ibu kota, baru lima sungai yang dinilai memiliki potensi sebagai sumber air baku.
Jakarta | Saat Kota Metropolitan Jakarta terus menggaungkan ambisi menjadi kota global, perhatian publik kerap tersedot pada simbol-simbol modernitas: gedung pencakar langit, transportasi massal, dan kawasan bisnis baru. Namun di balik itu, Jakarta menghadapi krisis senyap yang justru menentukan masa depannya, yakni krisis air.
Pemetaan Watershed Investigations dan The Guardian menempatkan Jakarta dalam kategori kota dengan tekanan air ekstrem, sejajar dengan London dan Bangkok.
Pengambilan air tanah nyaris melampaui ketersediaan alaminya, terutama akibat tata kelola air yang buruk dan tidak berkelanjutan. Kondisi ini menempatkan Jakarta dalam lanskap global yang mengkhawatirkan.
Pemanfaatan sumber air baku dari dalam wilayah Jakarta masih terbatas. Dari sejumlah sungai yang mengalir di ibu kota, baru lima sungai yang dinilai memiliki potensi sebagai sumber air baku, yakni Sungai Ciliwung, Sungai Sekretaris, Sungai Krukut, Sungai Pesanggrahan, dan Kanal Banjir Barat.
Keterbatasan pemanfaatan sungai-sungai tersebut membuat struktur pasokan air Jakarta tetap bergantung pada sumber eksternal.
Sementara, melansir Badan Pusat Statistik (BPS), kapasitas produksi air bersih Jakarta sangat bergantung pada ketersediaan air baku. Hingga saat ini, sebagian besar pasokan air baku masih berasal dari luar wilayah DKI Jakarta.
Waduk Jatiluhur menjadi sumber utama dengan kemampuan memasok air baku hingga 18.000 liter per detik. Selain itu, Jakarta juga memanfaatkan air curah yang dipasok oleh PDAM Tangerang sebagai sumber tambahan.
Krisis air bersih Jakarta dan rencana IPO PAM Jaya
Separuh dari 100 kota besar dunia kini mengalami tekanan air tinggi, bahkan beberapa seperti Cape Town dan Chennai nyaris mencapai “hari nol”. Pada konteks ini, pertanyaan penting bagi Jakarta bukan lagi apakah krisis air akan datang, melainkan apakah kota ini siap mengelolanya.
Sejarah kota-kota global menunjukkan bahwa kemajuan tidak dibangun hanya dengan proyek fisik, melainkan fondasi layanan publik yang kuat, terutama air bersih. Air adalah prasyarat kesehatan, produktivitas ekonomi, dan stabilitas sosial. Kota global tanpa sistem air yang andal adalah kontradiksi.
Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membawa Perumda PAM Jaya melantai di Bursa Efek Indonesia melalui skema Initial Public Offering (IPO) pada 2027, menuai kritik tajam dari berbagai kalangan.
Di sinilah wacana Initial Public Offering (IPO) PAM Jaya menemukan relevansinya. IPO bukan sekadar agenda korporasi, melainkan instrumen reformasi tata kelola.
Melalui disiplin pasar, transparansi, dan akses pendanaan jangka panjang, IPO mendorong PAM Jaya menjadi utilitas publik yang profesional dan berkelanjutan, tanpa mengalihkan kedaulatan negara atas air.
Komersialisasi air patut dipahami, namun keliru arah. Tarif dan standar layanan tetap di tangan pemerintah. Justru tanpa reformasi pembiayaan, krisis air akan makin dalam.
Pada era kebangkrutan air global, IPO PAM Jaya adalah alat untuk menyelamatkan fondasi Jakarta sebagai kota global yang berfungsi, bukan sekadar tampil.(*)
- Penulis: Penulis
- Editor: Roni Banase
- Sumber: melihatindonesia & ragam literatur











Saat ini belum ada komentar