Semua tulisan dari admin

Bangun RS Marianum Kimbana, Suster Provinsial SSpS Timor Dinilai Bohongi Warga Lokal

337 Views

Belu–NTT, Garda Indonesia | Lukas Kaisadu, warga Dusun Kimbana menilai mantan Kepala Provinsial SSpS Timor telah membohongi warga lokal Dusun Kimbana, Oetfo dan Dusun Leoruas pada tahun 2015 silam, awal perencanaan pembangunan Rumah Sakit Marianum Kimbana, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu dialami warga lokal di masa kepemimpinan Kepala Provinsial SSpS Timor saat ini, Sr. Aloisia Teti, SSpS dan pimpinan proyek (pimpro), Fredrikus Bele.

Diceritakan Lukas Kaisadu pada Senin siang, 18 Oktober 2021 bahwa proyek pembangunan RS Marianum berlokasi di Kimbana yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Suku Beihale. Rencana pembangunannya dilakukan sejak enam tahun lalu (2015, red). Kala itu, mantan Kepala Provinsial SSps Timor yang kini sudah diganti oleh Kepala Provinsial  SSpS Timor yang baru, Sr. Aloisia Teti, SSpS, pernah mendatangi rumah orang tua Lukas Kaisadu dengan tujuan meminta bantuan ayah kandungnya, Herman Kalla selaku Kepala Suku Beihale untuk diadakan acara adat peletakan batu pertama, sekaligus dukungan pengawalan proses pembersihan lokasi pembangunan hingga ketika proses pembangunan dimulai.

Permintaan itu diterima pihak Lukas Kaisadu dan Herman Kalla tanpa dibayar, lantaran dijanjikan untuk memperkerjakan warga lokal yang berdomisili di 3 dusun terdekat, yakni Dusun Kimbana, Oetfo dan Dusun Leoruas sebagai tenaga buruh prioritas. Kesepakatan itu pun dinyatakan secara tertulis dan ditandatangani oleh dua orang wakil pemerintahan Dusun Kimbana, yakni ketua RW V, Frandus Hale dan Ketua RT II, Dami Berek.

“Waktu itu, suster kepala provinsial yang lama datang langsung di rumah. Dia datang sama–sama dengan pimpro lama. Suster datang minta kami untuk kawal pembersihan lokasi, supaya tidak ada orang yang datang tegur. Dan itu, kami lakukan secara sukarela, tanpa dibayar. Perjanjian tentang prioritas tenaga buruh lokal itu ditandatangani oleh Ketua RW V dan Ketua RT II Dusun Kimbana. Nah, fakta yang kami hadapi sekarang justru realisasi dari kesepakatan itu sama sekali tidak ada. Faktanya nol! Ini ‘kan suster dan pimpro tipu kami orang lokal,” berang Lukas Kaisadu.

Selanjutnya, Lukas menegaskan bahwa isi kesepakatan tertulis enam tahun lalu, jumlah tenaga buruh lokal tidak dibatasi. Berapa pun tenaga buruh yang dibutuhkan, semuanya harus diambil dari warga lokal tiga dusun sesuai dengan spirit Kongregasi SSpS “pemberdayaan masyarakat lokal”.

“Sekarang, suster provinsial dan pimpro baru itu datang, mereka lupa tentang semua janji yang dulu. Kami warga lokal melamar kerja, mereka bilang tenaga buruh sudah cukup. Tapi, saya cek di dalam, justru mereka diam–diam bawa tenaga buruh banyak dari luar,” kesal Kaisadu.

Ada pun cerita lain, bahwa pimpro Fred Bele sebelumnya pernah meminta Lukas Kaisadu agar memberikan kesempatan kepada 20 orang tenaga buruh yang dibawanya dari luar. Lantas, Lukas pun sepakat tetapi dengan syarat orang lokal tiga dusun menjadi tenaga buruh prioritas sebagaimana termuat dalam kesepakatan tertulis bersama mantan Kepala Provinsial SSpS Timor dan pimpro yang lama, enam tahun lalu.

“Kami ketemu enam mata dengan Fred Bele. Dia bilang, kalau bisa dia sisip tenaga buruh 20 orang yang dia bawa dari luar. Saya setuju, tapi dengan syarat orang lokal tetap jadi prioritas, nanti sisanya baru ambil dari 20 orang itu. Kita sudah mengerti dengan dia, malah sekarang dia balik lagi dengan dia punya orang yang jadi prioritas. Kami yang orang lokal kerja di bawah tekanan. Mereka bilang, kalau kami mau tetap kerja, kami hanya dibayar 50 ribu per hari tanpa makan dan minum. Sementara, dia punya orang dibayar 70 ribu per hari. Kami tidak tahu, dia punya tenaga buruh itu tanpa makan minum seperti kami atau tidak? Padahal, pekerjaan kami sama,” urai Lukas kecewa.

Lukas Kaisadu pun tak segan–segan menyebut Fred Bele sebagai pribadi licik yang hanya mau memperdaya dan menindas warga lokal. Lukas pernah dijanjikan oleh Fred Bele untuk menjadi tenaga pengawas khusus bagi tenaga buruh lokal tiga dusun, yakni Dusun Kimbana, Oetfo dan Dusun Leoruas.

“Ternyata apa? Orang lokal datang lamar tidak diterima karena bilang sudah cukup. Kami sudah selama 2 minggu lebih, tiap hari hanya bolak balik. Hari ini datang, mereka bilang besok datang lagi, begitu terus setiap hari. Kami masuk cek, ternyata orang luar paling banyak, sedangkan orang lokal hanya 8 orang. Mereka bikin kami seperti boneka mainan saja. Mereka buat begini, siapa yang tidak marah? Kami sudah cukup sabar, ikut mereka punya permainan. Kalau tidak mau kami orang lokal masuk kerja, ya kasih tahu jujur saja supaya kami tidak usah bolak–balik tiap hari,” tandas Lukas Kaisadu dengan wajah marah. (*)

Penulis + foto: (*/Herminus Halek)

‘One Man One Kelor Tree’ PLN Tanam 2 Ribu Anakan Kelor di Hari Listrik Nasional

750 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur menghelat gerakan One Man One Kelor Tree ‘satu orang satu pohon kelor’ yang  bertujuan mendukung visi pemerintah daerah membudidayakan Kelor sekaligus ke depannya menjadi identitas NTT.

General Manajer PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko menekankan bahwa semua tahu Kelor adalah NTT dan nanti NTT identik dengan Kelor. “Itu visi dari pemerintah NTT. PLN ingin mendukung program pemerintah daerah melalui penanaman kelor di seluruh lingkungan PLN di NTT, masih banyak lahan yang bisa dimanfaatkan. Hari ini, kita seluruh karyawan PLN menanam 2.000 pohon, ini adalah langkah awal kami mengembangkan Mutiara Hijau di NTT,” ujarnya pada Jumat, 22 Oktober 2021.

Agustinus Jatmiko pun bersyukur bisa berdiskusi dengan teman-teman Keloris, apakah PLN bisa berkontribusi dalam budidaya Kelor, bermanfaat bagi masyarakat NTT.

“Dan hasil diskusinya hari ini salah satunya, kami menanam dengan metode satu orang satu pohon kelor, merawat dan tumbuh, tetapi kami tetap membutuhkan bantuan dari ahli-ahli kelor di NTT. Kami berterima kasih atas kerja sama semua pihak dan semoga PLN NTT tetap memberikan kontribusi dalam budidaya dan pemanfaatan kelor,” tambah Jatmiko.

Usai menanam, para Keloris menyiram setiap anakan Kelor

Kiki Krisnadi Keloris NTT sangat mendukung dan mengapresiasi sekali karya PLN. Ia dan teman-teman telah berdiskusi dengan GM PLN untuk program kelor ke depan. Selain itu, Keloris sudah melaksanakan Ekspedisi Mutiara Hijau NTT.

“Kami dengan teman-teman keloris dan KABOAX sudah melatih masyarakat tentang kelor dengan total peserta lebih kurang 200 orang, menjangkau 17 desa, dengan  menekankan bagaimana mengelola kelor menjadi identitas mereka, mengolah kelor bukan saja menanam tapi juga langsung menyuplai hasil olahan kelor,” urai Kiki Krisnadi.

Keloris Kiki pun mengucapkan terima kasih kepada PLN yang sudah memfasilitasi hingga ke desa-desa. “Dan kegiatan hari ini menjadi percontohan juga bahwa di kantor PLN mana pun tidak ada yang sekeren ini, PLN NTT memulai program menanam kelor,” jelasnya.

Gerakan One Man One Kelor Tree merupakan wujud nyata PLN mendukung program untuk digunakan sebagai bahan makanan dan pupuk organik serta menjadikan NTT sebagai provinsi kelor sesuai dengan semboyan Kelor adalah NTT dan NTT adalah Kelor. Saat ini, kelor sedang dikembangkan untuk bisa menjadi PMT (pemberian makanan tambahan) bagi anak- anak. Kelor memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan anak untuk dapat tumbuh dengan sehat.

Sebelumnya, PLN telah melakukan beberapa program pengembangan kelor di NTT seperti bantuan bibit dan rumah pengeringan kelor untuk 2 kelompok tani serta ekspedisi Mutiara Hijau NTT yaitu program pelatihan kepada kelompok tani kelor di 17 Desa pada 5 Kabupaten di Pulau Timor.

Turut hadir dalam acara tersebut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Persatuan Istri Karyawan dan Karyawati (PIKK) PLN NTT, Komunitas Kelor, Petani Milenial Kelor,  KABOAX (Grup komedi asal NTT) dan seluruh karyawan-karyawati PLN Grup Kota Kupang.(*)

Sumber dan foto (*/Humas PLN UIW NTT)

Editor (+roni banase)

Polri Bongkar 13 Kasus Pinjaman ‘Online’ Ilegal, 57 Orang Jadi Tersangka

213 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Polri terus berupaya memberantas pinjaman online (pinjol) ilegal sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto mengungkapkan saat ini sudah ada 13 kasus pinjol ilegal yang dibongkar.

“Penanganan kasus pinjaman online ilegal yang dilaksanakan oleh jajaran Polri sesuai dengan instruksi Presiden melalui Bapak Kapolri, kita sudah mengungkap 13 kasus dengan 57 tersangka yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” urai Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto pada Jumat, 22 Oktober 2021.

Komjen Agus mengungkapkan, 13 kasus pinjol ilegal yang diungkap itu tersebar di seluruh Indonesia. Mulai dari Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat hingga Jawa Tengah.

“Yang pertama kita mengungkap dari Bareskrim sendiri. Kemudian dari Polda Metro kemudian Polda Jawa Barat, Polda Kalimantan Barat dan Polda Jawa Tengah,” ujarnya.

Komjen Agus mengatakan, saat ini kasus pinjol ilegal itu masih dianalisis. Nantinya, hasil analisis akan didiskusikan ke seluruh jajaran Polri di wilayah agar pelaku usaha pinjol ilegal bisa ditindak sesuai dengan aturan yang ada.

“Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Menko Polhukam tadi bahwa pinjaman online ilegal ini secara objektif dan subjektif tidak memenuhi unsur perdata, artinya kepada mereka tindakan-tindakan mereka adalah tindakan-tindakan ilegal sehingga ini perlu kita melakukan penindakan,” tutur Agus. (*)

Sumber dan foto (*/Humas Polri)

Editor (+roni banase)

Disertasi Pariwisata NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat Resmi Pakai Titel Doktor

789 Views

Salatiga, Garda Indonesia | Program studi Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), meluluskan Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dalam ujian terbuka Doktor Studi Pembangunan yang dihelat secara luring terbatas di Balairung UKSW, pada Jumat 22 Oktober 2021.

Disertasi berjudul “Transformasi Pariwisata Nusa Tenggara Timur (Inclusive, Local Resources-Based, Sustainable) berhasil dipertahankan oleh Viktor Bungtilu Laiskodat selaku Gubernur NTT di hadapan para penguji, yaitu Prof. Dr. Gatot Sasongko, S.E., M.S. Titi Susilowati Prabawa, S.Pd., M.A., Ph.D. dan Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph.D. (Rektor Undana). Bertindak sebagai promotor adalah Prof. Daniel D. Kameo, S.E., M.A., Ph.D. dengan Ko Promotor Prof. Dr. Intiyas Utami, S.E., M.Ak., dan Dr. Wilson Therik, S.E., M.Si.

Paradoksal NTT sebagai daerah yang kaya sumber daya, tetapi masuk dalam jajaran daerah miskin dan tertinggal memicu VBL melakukan penelitian ini. Salah satu sumber kekayaan sumber daya ekonomi yang potensial di NTT adalah sektor pariwisata dan menjadi fokus penelitian ini.

Penelitian yang dilakukan VBL pada 45 obyek wisata yang tersebar di 10 pulau, dari pulau Flores sampai pulau Timor yang mencakup wilayah 11 kabupaten dan kota. Dinamika perkembangan industri pariwisata dengan pendekatan lima pilar utama atau yang dikenal dengan 5A yaitu attraction, accesbility, accommodation, amenities, dan awareness dieksplorasi lebih mendalam pada disertasi ini.

“Keunggulan pariwisata NTT adalah pada pilar attraction sedangkan empat pilar lainnya masih memiliki tantangan. Dengan mencermati bahwa sektor ekonomi bisa dikaitkan dengan sektor pariwisata, dalam penelitian ini dilakukan kajian rantai pariwisata di NTT di mana ditemukan bahwa rantai nilai pariwisata di sini belum terangkai. Industri pariwisata masih belum mengoptimalkan kekuatan sumber daya lokal,” terang Gubernur VBL.

Hal ini tampak dengan masih adanya pasokan sumber daya yang berasal dari luar NTT, dengan demikian sumber daya ekonomi juga harus direlakan keluar NTT yang berdampak pada masyarakat yang tidak bisa menikmati sumber daya ekonomi yang seharusnya berputar di NTT. Karena itulah ditegaskan pria kelahiran Oenesu-Kupang ini bahwa pembangunan sektor wisata di NTT perlu bertransformasi, dari yang semula berjalan secara sektoral menjadi komprehensif. Melalui disertasinya, Gubernur VBL merekomendasikan pendekatan pembangunan inklusif yang berbasis pada kekuatan sumber daya lokal dan berkelanjutan.

“Model pembangunan pariwisata NTT berkelanjutan atau sustainable tourism adalah dengan adanya harmonisasi secara komprehensif antara komponen lingkungan hidup, ekonomi, budaya dan sosial, yang ditautkan dengan faktor kelembagaan dan dipayungi oleh kebijakan publik. Dengan demikian, NTT bukan lagi suatu daerah dengan kondisi alam kering, miskin, tertinggal, dan tidak mampu berkompetisi dengan wilayah lainnya. NTT telah bangkit dengan menyadari adanya keindahan dan potensi alam sebagai kekayaan yang dimiliki dan bertransformasi menuju masyarakat NTT sejahtera,” tegasnya.

Tidak lupa Ia pun mengatakan, penelitian yang ia lakukan tidak semata-mata hanya untuk meraih gelar Doktor saja. Lebih dari pada itu,  penelitian ini dilakukan untuk membuat sebuah grand design dan peta jalan bagi pariwisata NTT sebagai “lokomotif” pembangunan di bumi Flobamorata dengan keterlibatan semua komponen masyarakat.

“Hasil riset saya, agar setiap komponen masyarakat terlibat dalam pembangunan pariwisata. Dan jika itu semua tidak kita implementasikan, maka riset itu sama saja tidak berguna. Oleh karena itu, setiap regulasi yang kita buat dan hasilkan harus bersifat kolaboratif kerja bersama dengan setiap komponen, pemangku kepentingan, para stakeholder terutama tentu saja setiap elemen masyarakat. Semua itu pasti banyak tantangan. Tapi dengan bekerja secara kolaboratif, maka grand design pariwisata yang kita hasilkan akan membawa dampak yang signifikan bagi pembangunan ekonomi masyarakat NTT,” jelasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Interdisiplin yang juga sekaligus penguji disertasi ini, Titi Susilowati Prabawa, S.Pd., M.A., Ph.D. menyampaikan bahwa Viktor Bungtilu Laiskodat adalah lulusan ke-67. Hasil penelitian ini sebagai dasar dalam menentukan kebijakan pembangunan pariwisata di NTT.

“Gelar doktor yang resmi disandang, beliau dapat memanfaatkan hasil penelitiannya sebagai landasan penentuan kebijakan pariwisata untuk wilayah NTT dan diharapkan dapat terus mengasah daya kritisnya sebagai intelektual interdisiplin sesuai dengan prinsip yang diajarkan oleh almamaternya dalam mengemban tugas-tugas selanjutnya sebagai Gubernur demi kemajuan pembangunan NTT,” jelas Titi.(*)

Sumber dan foto (*/Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT)

Kominfo Belu & Undinus Semarang Kolaborasi Bentuk KIM Desa Naitimu

404 Views

Belu–NTT, Garda Indonesia | Dinas Kominfo Kabupaten Belu melalui bidang Hubungan Media dan Sumber Daya, mendukung program pemerintah daerah guna mewujudkan salah satu rencana strategis (Renstra) di bidang informasi masyarakat tingkat desa.

Salah satu kegiatan strategis yang dilaksanakan Dinas Kominfo Belu berkolaborasi dengan Universitas Dian Nuswantoro (Undinus) Semarang menyerahkan papan nama (banner) sekretariat Kelompok Informasi Masyarakat (KIM)  yang didesain oleh mahasiswa-mahasiswi magang ke Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis, 21 Oktober 2021.

“Penyerahan banner sekretariat ini sebagai tanda telah dibentuknya KIM di Desa Naitimu. Kita berharap, KIM menjadi agen yang dapat memberikan informasi secara berimbang, merata, cepat dan akurat bagi masyarakat Naitimu,” jelas Kabid Hubungan Media dan Sumber Daya, Dominikus Mali, S.Sos.

Kabid Dominikus menuturkan, bahwa ke depan, KIM berkolaborasi dengan teknologi literasi digital. Informasi – informasi terkait pemerintahan, pembangunan, sosial, budaya, dan pariwisata seputar wilayah Desa Naitimu akan diliput oleh tim KIM dan dipublikasikan pada website ‘laman’ desa dan disebarkan melalui media sosial agar diketahui publik.

“Teman – teman wartawan bisa bermitra dengan kelompok KIM untuk mendapatkan informasi seputar Desa Naitimu. Kami juga akan membantu menyebarluaskan informasi yang di-share oleh media–media online dan cetak ke kelompok KIM di 69 desa di Belu, sehingga masyarakat bisa memperoleh informasi secara lebih mudah dan cepat,” ungkap Kabid Domi Mali.

Adapun tujuan dan sasaran pembentukan KIM, yakni  meningkatkan pola pembinaan KIM sebagai wahana pembinaan SDM; meningkatkan koordinasi,  integrasi, dan sinkronisasi pembinaan KIM secara terpadu dengan instansi pemerintah/swasta dan lembaga organisasi lainnya; dan meningkatkan peranan KIM sebagai wahana penggerak partisipasi aktif masyarakat dalam hal penyampaian informasi dan aspirasi masyarakat secara terus–menerus dan berkesinambungan.

Kepala Desa Naitimu, Norbertus Moa menyambut baik pembentukan KIM dan bersedia berkolaborasi dengan Kominfo Belu demi peningkatan kualitas penghimpunan dan penggalian informasi dalam wilayah desa . Informasi yang dipublikasi kepada masyarakat lewat website desa dapat memenuhi unsur akurat.

Terkait honor anggota KIM Desa Naitimu, lanjut Nobert Moa, pihaknya akan berupaya mengagendakan sebagai salah satu materi musyawarah desa, kemudian dilanjutkan dengan tahapan asistensi anggaran.

“Kami segera revisi SK lama dengan terlebih dahulu merekrut ulang tenaga baru. Kami pastikan SK baru akan  diterbitkan pada pertengahan bulan November 2021. Kita akan perjuangkan honor bagi semua anggota KIM. Intinya, setiap anggota KIM pro aktif untuk bekerja,” tandas Kades Moa. (*)

Penulis + foto: (*/Herminus Halek)

BNN Provinsi NTT Kolaborasi Bea Cukai Tangkap Dua Tersangka Narkotika di Bajawa

334 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Badan Narkotika Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur (BNNP NTT) berkolaborasi dengan Bea Cukai mengungkap peredaran narkoba jenis ganja di Bajawa, Kabupaten Ngada pada Rabu, 29 September 2021 sekitar pukul 10.00 WITA

Kerja kolaborasi tersebut diawali saat petugas BNN Provinsi NTT mendapat informasi dari masyarakat bahwa akan ada pengiriman narkotika diduga jenis biji ganja oleh Gary dari Amerika (USA) dan penerima kiriman JO dengan alamat Kios VINSKHA Jl. Kartini RT. 02 RW. 01, Bajawa, Kabupaten Ngada, maka petugas BNNP NTT dan Bea & Cukai melakukan pengecekan terhadap informasi tersebut.

Kabid Pemberantasan BNNP NTT, Kombes Pol. Jhoni M. Siahaan dalam sesi coffe morning pada Selasa, 19 Oktober 2021 menguraikan dari proses penyidikan telah ditetapkan dua tersangka yakni YBSW alias JO, 44 tahun dan MM alias M, 33 tahun. Keduanya Laki-laki, berprofesi swasta dan beralamat di Waeroa RT. 08 Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebuu, Bajawa, Kabupaten Ngada.

“Setiba di alamat sesuai dengan informasi, petugas BNN Prov. NTT mengecek tentang kiriman paket dan benar kiriman paket telah berada di alamat Kios VINSKHA Jl. Kartini RT. 02 RW. 01 Bajawa, milik saudari (MAG). Saat petugas BNNP NTT melakukan interogasi terhadap saudari (MAG), datang saudara (MR) dan saat itu saudari (MAG) memberitahukan kepada petugas kalau saudara (MM) mengetahui penerima kiriman atas nama JO,” urai Jhoni M. Siahaan mewakili Kepala BNNP NTT dan didampingi Petugas Bea & Cukai.

Petugas BNNP NTT, imbuh Jhoni, menuju ke rumah penerima kiriman atas nama JO,  menunjukkan kiriman paket tersebut dan diakuinya kalau kiriman paket tersebut adalah miliknya. Kemudian kiriman paket tersebut dibuka dan disaksikan oleh saudara (MM) dan aparat desa setempat, yang mana isi dalam kiriman paket tersebut terdapat 4 (empat) kotak yang berisi narkotika jenis ganja dan beberapa bungkus bibit sayuran.

Selanjutnya Petugas BNNP NTT melakukan penggeledahan pada rumah dan kamar saudara (YBSW) alias JO, namun tidak ditemukan adanya narkotika. Untuk pengembangan dilakukan penggeledahan di kamar MM dan ditemukan 2 (dua) paket narkotika jenis ganja dan 5 (lima) linting narkotika jenis ganja.

Dengan adanya peristiwa tersebut, tandas Jhoni Siahaan, saudara (YBSW) alias JO dan saudara (MM) diamankan oleh Petugas BNNP NTT guna proses lebih lanjut dengan barang bukti berupa 2 (dua) paket narkotika jenis ganja berat 9,8900 gram milik tersangka (MM); 5 (lima) linting narkotika jenis ganja berat 3,4987 gram milik tersangka (MM); 4 (empat) kotak yang berisi narkotika jenis biji ganja berat 0,4812 gram milik tersangka (YBSW) alias JO; 1 (satu) kartu ATM Mandiri milik tersangka (MM) dan 1 (satu) buah telepon genggam merek samsung A10 warna hitam milik tersangka (MM).

Penulis, editor dan foto utama (+roni banase)

Ultah Ke-57 Partai Golkar, DPD II Belu Target Rebut Kursi Pimpinan DPRD 2024

161 Views

Belu–NTT, Garda Indonesia | Partai Golongan Karya (Golkar) ulang tahun ke–57 pada Rabu, 20 Oktober 2021. Bertepatan usia partai di atas setengah abad ini, Dewan Pimpinan Daerah tingkat II Belu, Provinsi NTT bersama segenap kader dan pengurus mengisinya dengan menyelenggarakan tiga jenis kegiatan utama, di antaranya melayani  7.600 dosis vaksinasi Covid–19 bagi masyarakat umum di Kecamatan Atambua Kota dan Raihat, ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Seroja di Haliwen, Kelurahan Manumutin, Kecamatan Atambua Kota, dan pemotongan tumpeng di Kantor Sekretariat DPD II Atambua.

Ketua DPD II Golkar Kabupaten Belu, Jefry Yohanes Nahak mengungkapkan bahwa partai yang berlambang pohon Beringin dengan warna khas dominan kuning secara serentak di seluruh Indonesia, mulai dari DPP, DPD I dan II menyelenggarakan berbagai macam kegiatan.

Ketua DPD II Partai Golkar Belu, Yohanes Jefry Nahak (kanan) sedang menyiram bunga rampe di TMP Seroja Haliwen, Kelurahan Manumutin, Kecamatan Atambua Kota

Jefry Nahak menuturkan bahwa Partai Golkar mempunyai target untuk memenangkan berbagai event politik tingkat nasional hingga daerah yakni pilpres, pilgub, pilbup/pilwalkot, dan pileg 2024. “Khusus NTT, Partai Golkar sudah menargetkan untuk memenangkan pemilihan gubernur, bupati dan legislatif. Kita di Belu sudah merekrut bakal calon bupati/wakil bupati dan bakal calon legislatif. Dengan semangat usia partai ke– 57 tahun, kami yakin bisa memenangkan seluruh event termasuk di Kabupaten Belu,” sebut Jefry Nahak.

DPD II Belu, imbuh Jefry Nahak, juga optimis bisa merebut kursi pimpinan DPRD Belu pada pemilihan legislatif 2024 sesuai tema “Bersatu untuk Menang.”

Pilpres 2024, tandas Jefry Nahak, Partai Golkar secara nasional sudah memutuskan melalui Rapimnas dan Munas untuk mencalonkan Ketua Umum DPP, Airlangga Hartarto sebagai calon presiden tahun 2024. Sosialisasi pun sudah dilakukan di tingkatan semua kabupaten. Demikian juga calon Gubernur NTT tahun 2024, Partai Golkar siap mengusung Ketua DPD I, Melki Laka Lena. (*)

Penulis + foto: (*/Herminus Halek)

Pariwisata Alor, Gubernur VBL Minta Lembaga Agama Dorong Umat Punya ‘Awareness’

201 Views

Kalabahi, Garda Indonesia | Guna mendapatkan sebuah desain pariwisata yang hebat atau sustainable, maka harus butuh kinerja semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, lembaga agama, lembaga adat hingga pemerhati pariwisata. Demikian diungkapkan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat pada saat memberikan sambutan dalam pertemuan Tokoh Lintas Agama Se-Provinsi NTT pada Selasa,.19 Oktober 2021.

Mengusung tema “Penguatan Modernisasi Agama dan Merawat Keberagaman dari Pinggiran Indonesia” pertemuan Tokoh Lintas Agama Se-Provinsi NTT tersebut dilaksanakan di aula Gereja GMIT Pola Tribuana Kalabahi.

Gubernur VBL dalam sambutannya menekankan berbicara tentang modernisasi agama dan juga pariwisata, maka kita berbicara tentang iman dan pariwisata terkait imajinasi karya. “Kita hadir di sini juga ada festival-festival. Lembaga agama dan umatnya harus mulai untuk turut membantu pemerintah dalam membangun pariwisata sehingga bisa membantu menumbuhkan ekonomi,” ujarnya.

Lanjut VBL, jangan kita hanya terus menjalankan ajaran dan ritual keagamaan namun kita sendiri tidak mampu memiliki manfaat yang konkret untuk orang lain. “Dengan merawat hubungan yang baik dalam keberagaman umat beragama ini juga tentunya kita ingin lembaga agama harus mampu mendorong umatnya untuk memiliki kesadaran (awareness) mengenai pentingnya pariwisata,” tegasnya.

Maka dari itu, imbuh VBL, kita juga tidak boleh kerja sendiri-sendiri. Harus sinergi dan kolaborasi saling memberi arahan, saling mendukung dan memberi saran atau ide untuk membangun pariwisata NTT.

Pose bersama Gubernur NTT dengan Direktur Event Nasional dan Internasional Kemenparekraf, Bupati Alor dan para ulama

Menurut Gubernur VBL, alam dan budaya dengan nilai pariwisata tinggi harus mampu dijaga dengan baik juga pengelolaannya dengan baik. “Desain pariwisata itu harus memberi nilai tambah. Misalnya dengan Festival Dugong itu harus dibuat kalender khusus. Agar punya nilai mahal karena diadakan pada waktu tertentu saja. Juga kita jaga kelestariannya seperti olahraga diving harus kita jaga alam lautnya. Maka dari itu, kita mau para pengunjung juga menjaga alam bawah laut tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Event Nasional dan Internasional Kemenparekraf Dessy Ruhati mengatakan, Alor sebagai penyangga destinasi pariwisata super prioritas dari Labuan Bajo, memiliki spot diving indah dan juga Festival Dugong.

“Kita harapkan dengan Festival Dugong ini ke depannya juga harus mengkaji dugong bukan hanya dari aspek pariwisatanya dan juga bagaimana menjaga kelestariannya. Serta kita harapkan festival dugong juga bisa menjadi even nasional,” kata Desi.

Bupati Alor Amon Djobo memberikan apresiasi kepada Gubernur NTT dan sangat senang karena sering turun langsung ke tengah masyarakat. “Selama saya hidup ada dua gubernur yang kerja hebat dan mau turun langsung ke masyarakat yaitu Bapak Ben Mboi dan juga Bapak Viktor Laiskodat. Puji Tuhan juga selama kepemimpinan Bapak Gubernur Viktor Laiskodat dan juga Bapak Wakil Gubernur Josef Nae Soi selama ini provinsi NTT selalu tenteram dan tidak ada gesekan yang terjadi dalam kehidupan beragama,” ucapnya.

Saat kunjungan ke Alor,  Gubernur VBL turut hadir dalam Festival Paralayang serta mengunjungi Festival Dugong didampingi Bupati Alor Amon Djobo, Jajaran Forkopimda Alor, Wakil Bupati Sabu Raijua Yohanes Uli Kale, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Zet Libing. (*)

Sumber dan foto (*/Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT)

Editor (+roni banase)