Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Wisata dan Budaya » Cero Woja : Strategi Adaptif Masyarakat Manggarai Bertahan Hidup

Cero Woja : Strategi Adaptif Masyarakat Manggarai Bertahan Hidup

  • account_circle Ferdy Daud
  • calendar_month Ming, 1 Mar 2026
  • visibility 294
  • comment 0 komentar

Loading

Pada lanskap perbukitan yang bercorak agraris, keberlangsungan hidup masyarakat sangat ditentukan oleh siklus alam, kesuburan tanah dan pola musim. Ketergantungan ini menempatkan sektor pertanian sebagai fondasi utama pemenuhan kebutuhan pangan.

Namun, sayangnya dinamika iklim terutama intensitas hujan pada musim dureng (hujan) sering kali menghambat proses pengeringan padi secara konvensional melalui paparan sinar matahari.

Dalam kondisi tersebut, masyarakat Manggarai mengembangkan berbagai strategi adaptif untuk merespons keterbatasan ekologis. Salah satu praktik tradisional yang masih bertahan adalah Cero Woja, yang berfungsi sebagai mekanisme alternatif dalam menjaga kualitas dan ketersediaan beras sebagai pangan pokok dalam mempertahankan keberlangsungan hidup.

Cero Woja merupakan potret ketangguhan orang Manggarai yang menggabungkan kemampuan bertahan hidup secara fisik dengan tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal dan kebersamaan. Cero berarti menyangrai, sedangkan woja merujuk pada padi.

Dengan demikian, Cero Woja dapat dipahami sebagai praktik menyangrai padi menggunakan wajan besar sebelum ditumbuk secara manual atau diproses melalui mesin penggiling.

Tradisi ini biasa dilakukan pada musim hujan (dureng), ketika intensitas curah hujan tinggi menyebabkan padi sulit dikeringkan secara optimal melalui paparan sinar matahari.

Pada kondisi tersebut, tungku dapur tradisional (leba) bertransformasi dari sekadar alat memasak menjadi pusat ketahanan pangan rumah tangga. Api tidak hanya berfungsi sebagai sumber panas, tetapi sebagai medium adaptasi ekologis. Cero Woja dilakukan di atas tungku, menandakan kehangatan dan kehidupan yang harus tetap berjalan meskipun dalam keterbatasan.

Penyangraian dilakukan secara perlahan dengan pengadukan konstan untuk menjaga kestabilan suhu. Teknik ini menuntut ketelitian dan pengalaman, sebab suhu yang terlalu tinggi atau durasi yang terlalu lama dapat merusak kualitas beras.

Oleh karena itu, praktik ini tidak semata-mata bersifat teknis, melainkan juga mengandalkan pengetahuan empiris yang diwariskan secara turun-temurun.

Maka dapat dikatakan, Cero Woja berfungsi sebagai mekanisme mitigasi untuk menjaga ketersediaan beras sebagai pangan pokok.

Proses penyangraian yang dilakukan di dapur tradisional menghadirkan ruang interaksi antargenerasi. Pengetahuan mengenai pengaturan api, durasi sangrai, hingga tanda-tanda kematangan padi ditransmisikan melalui praktik langsung, bukan sekadar melalui instruksi verbal.

Jadi, Cero Woja berperan sebagai medium pewarisan nilai ketekunan, kesabaran, dan solidaritas dalam kehidupan keluarga maupun komunitas.

Cero Woja bukan sekadar teknik pengolahan padi, melainkan strategi adaptif masyarakat Manggarai dalam menjaga keberlanjutan pangan di tengah ketidakpastian iklim.

Tradisi ini mencerminkan integrasi antara pengetahuan lokal, pengalaman empiris, dan nilai-nilai budaya yang menopang ketahanan hidup komunitas agraris.

Dalam konteks modernitas yang ditandai oleh percepatan teknologi dan budaya instan, praktik-praktik kearifan lokal seperti Cero Woja dalam masyarakat Manggarai menghadirkan perspektif alternatif mengenai relasi manusia dan alam.

Bahwasanya, tradisi ini tidak semata-mata merupakan aktivitas domestik, melainkan bagian dari sistem pengetahuan ekologis yang terbangun melalui pengalaman historis dan interaksi berkelanjutan dengan lingkungan.

Bagi masyarakat Manggarai, hujan tidak diposisikan sebagai ancaman atau hambatan, melainkan sebagai bagian dari siklus kosmis yang harus dipahami dan dihormati. Karena ketika intensitas matahari berkurang dan proses penjemuran menjadi tidak memungkinkan, masyarakat tidak memaksakan kondisi alam untuk tunduk pada kehendak manusia.

Sebaliknya, menyesuaikan strategi, misalnya dengan memanfaatkan dapur dan tungku tradisional (leba) sebagai ruang alternatif untuk mengeringkan hasil panen. Dalam hal ini, api bukan sekadar sumber panas, tetapi medium adaptasi ekologis.

Hal ini mencerminkan suatu etika lingkungan yang berbasis pada prinsip harmoni dan koeksistensi. Bertahan hidup tidak dimaknai sebagai upaya dominasi terhadap alam, melainkan sebagai proses negosiasi dan penyesuaian diri terhadap dinamika alamiah.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kebijaksanaan lokal mengandung rasionalitas ekologis yang relevan dengan diskursus keberlanjutan (sustainability) kontemporer.

Namun demikian, transformasi ruang domestik akibat modernisasi menghadirkan tantangan tersendiri. Pergantian tungku tradisional dengan kompor gas serta pergeseran arsitektur rumah menuju konstruksi beton secara perlahan menggeser fungsi sosial dan simbolik dapur.

Di sisi lain, tungku tidak hanya berfungsi sebagai alat memasak, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial, ruang transmisi nilai, dan lokus kebersamaan keluarga. Di sekitar bara api, percakapan berlangsung, pengetahuan diwariskan, dan solidaritas diperkuat. Hilangnya tungku tradisional berpotensi mengurangi dimensi komunal tersebut.

Dengan demikian, perubahan material dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dipandang sekadar sebagai kemajuan teknologi. Ia juga membawa implikasi kultural yang signifikan, termasuk potensi hilangnya memori kolektif dan praktik sosial yang selama ini menopang kohesi masyarakat.

Oleh karena itu, refleksi terhadap praktik seperti Cero Woja menjadi penting, bukan sebagai romantisasi masa lalu, melainkan sebagai upaya memahami kembali nilai-nilai adaptif dan ekologis yang dapat memberi kontribusi bagi pembangunan yang lebih berkelanjutan dan berakar pada identitas lokal.(*)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekretaris Jenderal KAI, Apolos Djara Bonga, S.H. saat menyematkan tanda peserta diklat khusus advokat kepada salah satu peserta

    Diklat Khusus Profesi Advokat KAI NTT 2021, Menuju Advokat Profesional

    • calendar_month Sen, 22 Nov 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kongres Advokat Indonesia (KAI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghelat diklat khusus profesi advokat (DKPA) kerja sama DPD KAI NTT dengan Fakultas Hukum Undana Kupang seminggu pada 22—27 November 2021. Diklat ini diikuti oleh 48 calon advokat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat. Dikutip dari bahasan.id, dalam ranah hukum Indonesia, terdapat […]

  • Paket Sehati Salmun Tabun-Marten Tualaka Daftar di KPU TTS

    Paket Sehati Salmun Tabun-Marten Tualaka Daftar di KPU TTS

    • calendar_month Sab, 31 Agu 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Loading

    SoE | Pasangan calon bupati dan wakil bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), periode 2024—2029, Drs. Salmun Tabun, M.Si, dan Dr. Marten Tualaka, SH., M.Si, yang diusung NasDem dan Hanura telah mendaftar di KPU TTS pada Kamis, 29 Agustus 2024. Kedatangan pasangan calon bupati dan wakil bupati TTS ini didampingi para […]

  • Silaturahmi Danki Kavaleri KKA Lelowai, Pena Batas Naik Ranpur Anoa

    Silaturahmi Danki Kavaleri KKA Lelowai, Pena Batas Naik Ranpur Anoa

    • calendar_month Ming, 15 Mei 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Loading

    Belu, Garda Indonesia | Segenap wartawan yang bergabung dalam Organisasi Persatuan Jurnalis Perbatasan (Pena Batas) RI-RDTL bersilahturahmi dengan Danki Kavaleri , Kapten Kav. Bekti Aji Sayekti, S.T.Han di markas Kompi Kavaleri Komodo Ksatria Anuraga atau Kikav KKA di Lelowai, Desa Derok Faturene, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 14 […]

  • PPKM Tak Efektif, Covid Tembus 1 Juta, LaNyalla: Sanksi Tegas Pelanggar Prokes

    PPKM Tak Efektif, Covid Tembus 1 Juta, LaNyalla: Sanksi Tegas Pelanggar Prokes

    • calendar_month Sel, 26 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Langkah pemerintah yang menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk menekan penyebaran Covid-19, dinilai kurang efektif tanpa saksi tegas. Angka Corona pun sudah tembus 1 juta. Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyarankan pemerintah daerah menyiapkan sanksi tegas bagi pelanggar protokol kesehatan (prokes). Sesuai dengan rilis yang diperoleh Garda Indonesia, […]

  • Pemuda TTS Bangga dan Terharu, Presiden Jokowi Berbusana Adat Amanatun

    Pemuda TTS Bangga dan Terharu, Presiden Jokowi Berbusana Adat Amanatun

    • calendar_month Sen, 17 Agu 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 197
    • 0Komentar

    Loading

    Soe-T.T.S, Garda Indonesia | Dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (T.T.S), semua unsur masyarakat menyampaikan kebanggaan dan keharuan mereka terhadap apresiasi dari Presiden Jokowi yang menggunakan pakaian adat Swaparaja Amanatun saat menjadi inspektur upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada Senin, 17 Agustus 2020. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2020/08/17/berbusana-adat-amanatun-tts-presiden-pimpin-upacara-di-istana-merdeka/ Kebanggaan serupa pun dilontarkan oleh Charles Lakapu, salah […]

  • TBC Penyebab Kematian Terbanyak Ke-3 di NTT Tahun 2017

    TBC Penyebab Kematian Terbanyak Ke-3 di NTT Tahun 2017

    • calendar_month Sen, 25 Mar 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh Karolus Ngambut, SKM, MKes. Ketua Program Studi Kesehatan Lingkungan Poltekes Kemenkes Kupang Kupang-NTT, Garda Indonesia | Refleksi dalam rangka memperingati Hari TBC Sedunia Minggu, 24 Maret 2019, ditulis dengan gaya apa adanya, santai dan sedikit menyentil tentang kondisi riil saat ini dengan berbagai ritme kehidupan Hok hok hok… demikian bunyi batuk dari seorang lelaki […]

expand_less