Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Corona dan Karnaval Cinta Kembali Ke Rumah

Corona dan Karnaval Cinta Kembali Ke Rumah

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sel, 24 Mar 2020
  • visibility 60
  • comment 0 komentar

Loading

Corona dan Karnaval Cinta Kembali Ke Rumah

Oleh Marsel Robot 

Kala dunia lagi berlumuran duka lantaran kehidupan sedang tersedak oleh virus misterius “corona” yang mewabah sedunia dan mematikan itu, seorang teman mengirim pesan singkat begini, “Bung, apa yang sedang dunia pikirkan saat ini? Saya sedang membayangkan kota-kota menggantang sepi, berubah menjadi kuburan raksasa, rumah-rumah sakit menjadi padang mayat. Lantas, semua orang menghamburkan semacam tangisan naratif (berkisah) di atas kuburan itu tentang dunia yang kian kerdil, dekil, dan hidup mulai susut dalam gulungan kafan.”

Pesan singkat teman ini, tentu di luar logika kodokteran, ilmuwan, atau para penganut teori konspirasi. Ia hanya menaut-nautkan corona dengan keadaan dunia hari-hari ini. Tidak masuk akal, dan memang ada bagian hidup ini yang misterium, tidaklah cukup akal kita untuk menggapainya. Barangkali teman tadi berimajinasi tentang Tete Manis (Tuhan) mencicilkan hari kiamat atau sedang mengusap romantis ubun manusia yang sedang menciptakan surga rasa neraka di bumi. Atau Tete Manis sedang menyembuhkan manusia dari kesurupan yang selama ini lalai pulang rumah, lupa pulang ke dalam diri, dan lupa jalan menuju-Nya. Mungkin selama ini manusia terus keluar dan meliar di jalanan kehidupan, begitu suntuk menimbun rindu pada dirinya yang tak pernah kelar. Atau selama ini manusia terlalu berhala pada benda. Persis yang diwantikan Yuval Noah Harari (2018), “Saat revolusi saintifik, umat manusia membungkam Tuhan juga.”

Efek Domino Corona

Corona menjadi lida maut yang menjulur dari pojok kelam menyedot nyawa dan mematikan kehidupan. Tak ada virus semisterius corona sepanjang abad ini. Rutinitas manusia sebagai manusia dihentikan. Dari sanalah dirasakan efek sosial corona jauh lebih luas daripada virus corona itu sendiri. Kita diingatkan tidak berkumpul melebihi sepuluh orang. Bahkan, di mana satu dua orang berkumpul, diduga berpotensi virus corona. Itu berarti pula, virus corona menggunting konser kemanusiaan atau basa-basi sosial seperti berjabat tangan, berpelukan, berciuman, dan bentuk-bentuk kemunafikan kolektif lainnya.

Demikian pula, acara penting segenting apapun dihindari. Orang diimbau untuk beribadah di rumah, tinggalkan gereja, masjid, rumah adat, meninggalkan pasar, mall, dilarang bepergian. Kita diminta segera melakukan semacam karnaval cinta pulang ke rumah, pulang ke dalam diri, menikmati hari-hari bahagia di ruang tengah bersama keluarga tercinta. Saat jedah ini adalah waktu paling indah melakukan konser kemanusiaan dengan keluarga seraya menghela napas iman yang kian karatan. Bintang pesepak bola Barcelona, Leonal Messi menikmati masa jedah akibat corona dengan imbauan, “Sudah waktunya untuk bertanggung jawab dan tinggal di rumah, ditambah lagi ini adalah waktu yang tepat untuk bersama orang-orang yang Anda cintai, yang tidak selalu bisa Anda lakukan. Sebuah pelukan…” https://amp.kompas.com/bola/read/2020/03/15/10200068/virus-corona-lionel-messi–waktunya-bersama-dengan-orang-tercinta

Kepanikan dunia lebih krusial pula di bidang ekonomi. Perusahaan nasional atau korporasi transnasional berantakan. Perusahaan maskapai, usaha pariwisata tekor berat. Bayangkan, corona justru muncul dari China yang merupakan negara eksportir terbesar dengan ekspansi paling luas di dunia. Virus Corona menyebabkan perekonomian China memburuk dan berdampak langsung pada fluktuasi ekonomi dunia. Keadaan itu pula yang mendorong pertemuan G-20 yang berlangsung 22—23 Februari 2020. Negara-negara yang tergabung dalam G-20 Amerika, China, Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Perancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Indonesia, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, dan Uni Eropa mengehela tema pertemuan masalah corona, dan membangun solidaritas antara negara, lihat http://www.bi.go.id

Virus Hoaks

Dasar manusia. Masih saja jutek, ugal, dan bandel menimpahkan hoaks menjadi beban tambahan di atas duka dunia karena corona. Virus hoaks yang ditularkan melalui media sosial berhamburan untuk menggemburkan keadaan. Indonesia memang negara paling subur untuk membiakkan hoaks. “Sejumlah 196 hoaks yang terdeteksi. Beragam konten hoaks seperti resep penyembuhan (hoaks tentang bawang putih dapat menyembuhkan corona), tokoh terkenal, Sri Paus dan Herry Poter (Daniel Radcliffe) positif corona, Pangeran Uni Emirat Arab dikabarkan Positif Virus corona, pesan perantai pencegahan virus corona yang mengatasnamakan UNICEF, takut corona, warga tiongkok berebut Al-Quran untuk dipelajari”. Pemerintah Malaysia dan Singapura yang akan menyemprotkan racun pembasmi virus corona atau Covid-19 beredar di media sosial. Pesan berantai lewat aplikasi percakapan WhatsApp pada Minggu, 22 Maret 2020.

Setiap hari virus hoaks menular jauh lebih masif daripada virus corona. Virus hoaks memproduksi kepanikan yang sangat luas dan berdampak pada kegelisahan, dan ketakutan. Keadaan itu pula menjadi rentan (daya tahan tubuh menurun), memudahkan corona menyerbuh tubuh. Virus corona dan virus hoaks mempunyai dampak yang sama dengan cara kerja yang berbeda.

Ada dua perusahaan yang secara kasat mata meraup keuntungan besar. Pertama, perusahaan media sosial yang memproduksi video, kesaksian, pesan pendek atau narasi peristiwa. Terbayang jika ratusan jenis hoaks diproduksi setiap hari, ditularkan 30 juta penduduk, maka mudah dibayangkan keuntungan yang diperoleh dari menjual kebohongan atas kedukaan itu. Kedua, perusahaan pembuat masker yang omsetnya berlipat ganda dan mendatangkan laba yang tak pernah diperkirakan sebelumnya.

Barangkali, kita sedang diingatkan. Sebab, waktu dan ruang telah menyatu dengan eksistensi. Corona, melalui gejala yang sederhana dan menular begitu mudah, mematikan, menghentikan kehidupan. Semua orang diminta pulang ke rumah, pulang ke dalam diri meranumkan kemesrahan dengan keluarga. Sesekali memandang fajar dari serambi timur bersama keluarga, sambil membayangkan tangan pencipta-Nya. Atau bersama keluarga membuka jendela barat memandang sunset (matahari terbenam) merayap menuju peraduan tanpa kita turut ke sana. Lilin memori dinyalakan di hati dan di ruang tengah sambil bertanya siapa kita ini. Kita memang sedang membutuhkan jedah kehidupan yang pernah dikeluhkan Anthony Smith (baca Simiers, 2009), “… bahwa dunia secara keseluruhan tidak dapat menawari kita memori, mitos, dan simbol yang kita butuhkan sebagai makhluk manusia.” Atau minimal seperti terucap dalam penggalan puisi di bawah ini:

Masih punya waktu untuk sekadar mewanti
Apakah kita sedang pergi atau sedang pulang ke eksistensi?
Ketika, aku, kau, dan dia hanya bagian dari perkakas dalam kontainer
Pelabuhan teramat jauh, atau tak ada pelabuhan itu
Kaupun tahu, memori mulai mengering di ladang-ladang
Kaupun tahu, roti yang tak sempat kaubagikan bukan milik kita (Em Er)

(*/Penulis merupakan Dosen FKIP Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Positif Covid-19 NTT Jadi 16 Kasus, Tambah 3 Kasus dari Soe, Nagekeo & Kupang

    Positif Covid-19 NTT Jadi 16 Kasus, Tambah 3 Kasus dari Soe, Nagekeo & Kupang

    • calendar_month Sen, 11 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Malam ini saya melaporkan hasil pemeriksaan di Laboratorium RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes dari 48 sampel swab diketahui ada 3 (tiga) sampel menunjukkan positif Covid-19 plus,” ungkap Dr. drg. Domi Minggu Mere, M.Kes. dalam keterangan pers secara virtual pada Senin malam, 11 Mei 2020. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2020/05/09/swab-pcr-test-perdana-di-ntt-1-positif-covid-19-dari-klaster-sukabumi/ Adapun positif […]

  • Jenazah Frans Lebu Raya Tiba di Kupang Saat HUT Ke-63 Provinsi NTT

    Jenazah Frans Lebu Raya Tiba di Kupang Saat HUT Ke-63 Provinsi NTT

    • calendar_month Sen, 20 Des 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Wafatnya Drs. Frans Lebu Raya pada Minggu siang, 19 Desember 2021 di RS Sanglah Denpasar, mendapat atensi khusus dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sekretaris Daerah Provinsi NTT, Benediktus Polo Maing saat memimpin rapat terkait fasilitasi kepulangan Jenazah Alm. Drs. Frans Lebu Raya dan prosesi penguburan mantan Gubernur NTT dua […]

  • Delapan Kabupaten di NTT Catat 58 Kekayaan Intelektual Komunal

    Delapan Kabupaten di NTT Catat 58 Kekayaan Intelektual Komunal

    • calendar_month Ming, 3 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Mencatat warisan budaya sebagai Kekayaan Intelektual Komunal ke Kementerian Hukum dan HAM untuk memperoleh perlindungan hukum secara defensif. Kekayaan Intelektual Komunal merupakan Kekayaan Intelektual yang kepemilikannya bersifat kelompok dan merupakan warisan budaya tradisional yang perlu dilestarikan, hal ini mengingat budaya tersebut merupakan identitas suatu kelompok atau masyarakat. “Dari sisi teknis pelayanan […]

  • Selamat Pagi

    Selamat Pagi

    • calendar_month Jum, 5 Mar 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Roni Banase Hari ini, Jumat, 5 Maret 2021, pukul 06.16 WITA, saat kunikmati pagi di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Suhu berkisar 18—20 derajat Celcius dengan balutan kabut lumayan menusuk rusuk, dinginnya udara pagi ini yang membangunkan diriku dari tidur malam pada pukul […]

  • Ketua LBH Nusa Komodo Nilai Pemred Floresa Bekerja Amatir

    Ketua LBH Nusa Komodo Nilai Pemred Floresa Bekerja Amatir

    • calendar_month Sab, 5 Okt 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Loading

    Manggarai | Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Nusa Komodo Manggarai, Marsel Nagus Ahang menduga, Pemimpin Redaksi Floresa, Herry Kabut bekerja untuk kepentingan diri dan medianya dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang wartawan. Demikian Marsel Ahang melalui rilisnya yang diterima media ini pada Jumat siang, 4 Oktober 2024. Marsel Ahang menyatakan dugaan itu karena saat menjalankan tugas […]

  • Mengenal Syamsul Jahidin, Mantan Satpam Pengguncang Markas Polisi

    Mengenal Syamsul Jahidin, Mantan Satpam Pengguncang Markas Polisi

    • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
    • account_circle Rosadi Jamani
    • visibility 538
    • 0Komentar

    Loading

    Publik ramai membicarakan sosok pemberani, dan mantan Satpam. Sosok ini telah mengguncang markas polisi. Dialah Syamsul Jahidin, bukan Syamsul yang itu ya. Ini asli Syamsul pemberani. Namanya, dari lahir memang Syamsul Jahidin. Ia bukanlah dari akademi kepolisian, bukan dari barisan keluarga ningrat, melainkan dari pos satpam. Tempat paling jujur untuk belajar tentang negara, menjaga pintu, […]

expand_less