Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » “Kita Sesama Pendosa” Refleksi Atas Perikop Injil Yohanes 8:1—11

“Kita Sesama Pendosa” Refleksi Atas Perikop Injil Yohanes 8:1—11

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Rab, 24 Mar 2021
  • visibility 155
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Fernando Mau, Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira

Dalam perikop Injil Yohanes 8:1—11 ditampilkan sebuah kejadian yang menggugah kita untuk memberikan tafsiran dan tanggapan kritis atas realitas saat ini. Kalau kita membaca dan merenungkan teks Kitab Suci ini, maka kita dapat menyaksikan bagaimana seorang wanita yang melakukan perbuatan zinah dibawa ke hadapan Tuhan Yesus untuk dihakimi dengan hukum rajam.

Persoalan yang menggugah penulis untuk merefleksikan perikop Injil ini terletak pada hukum rajam yang hendak dijatuhkan pada wanita yang berbuat zinah. Kalau kita melihat persoalan ini dalam konteks kita saat ini, maka dapat disamakan dengan hukuman mati yang sering dipraktikkan dalam kehidupan bernegara saat ini.

Dalam bacaan Injil Tuhan Yesus menolak untuk menghukum wanita yang berbuat zinah dengan mengatakan, “Barang siapa di antara kamu tidak berbuat dosa, hendaklah ia yang pertama melempar batu kepada perempuan itu.” Penolakan Tuhan Yesus ini sekaligus memberikan peraturan bilamana kita dapat menghakimi orang lain. Jika kita tidak berdosa, maka kita boleh menghakimi orang lain dan sebaliknya jika kita berdosa maka kita tidak boleh menghakimi orang lain. Tetapi, semua manusia di dunia ini berdosa (kecuali Bunda Maria, satu-satunya manusia yang tidak berdosa) dan dalam konteks bacaan ini__di antara orang-orang yang hadir__ hanya Tuhan Yesus yang tidak berdosa. Ia tidak menghukum perempuan itu. Ia menyelamatkan nyawanya dan mengampuni dosanya. Ia menyurunya pergi dan jangan berbuat dosa lagi.

Penjelasan di atas memberikan sebuah pemahaman, bahwa manusia secara kondisi eksistensial senantiasa mengalami keberdosaan. Memang manusia punya kecendrungan untuk berbuat baik, tetapi serentak punya kecendrungan berbuat dosa. Kalau dalam bahasa teologis dikatakan, manusia hidup dalam keadaan rahmat dan dosa. Berkaitan dengan ini, rasul Paulus mengatakan, “ Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku” (Roma 7:19—20). Dengan demikian, manusia sebenarnya tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk saling menghakimi.

Hal berikut yang perlu kita tahu, bahwa kehidupan manusia tidak boleh ditiadakan oleh siapapun termasuk oleh manusia itu sendiri, karena manusia adalah citra Allah. Dari sini, dapat kita tarik, bahwa citra Allah yang melekat dalam diri manusia menegaskan keluhuran martabatnya dan kodrat ilahinya. Jadi, bukan ditentukan oleh apa yang dicapai di luar diri Allah. Konsekuensinya adalah selain Allah, tidak ada yang berhak mencabut nyawa manusia, Allah yang mencipta, Allah yang menghembuskan nafas kehidupan, maka Allah yang berhak mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.

Pemahaman-pemahaman di atas sebenarnya menghantar orang pada sebuah tindakan cinta akan kehidupan. Tetapi fakta sering berbanding terbalik, sehingga penghilangan atas kehidupan manusia dapat kita saksikan di mana-mana, dengan berbagai alasan yang mengeliminasi keluhuran martabat manusia.

Pada zaman modern ini, seseorang bisa saja dihukum mati karena dikehendaki oleh penguasa yang otoriter atau karena melakukan pelanggaran yang digolongkan ke dalam kejahatan luar biasa. Ini sering dibenarkan dengan dalil “demi kebaikan bersama, demi sebuah keadilan, demi kepastian hukum, dan lain-lain”, namun ada hal paling fundamental yang mereka lupakan, yaitu keberadaan setiap manusia secara personal sebagai citra Allah yang mestinya dilindungi, karena darinya kehidupan bersama dan segala macam usaha untuk merawat kebersamaan itu terbentuk.

Jadi, melihat keadaan masyarakat manusia yang cendrung legalis ini, kita sebenarnya berada dalam suatu pelarian, suatu keterbiritan, suatu keterasingan, suatu alienasi dari kasih Tuhan yang tidak terbatas. Karena itu, kecendrungan kita adalah mencari kedamaian yang kita ciptakan sendiri dengan menghakimi orang-orang yang bersalah, padahal kedamaian yang hakiki itu hanya dapat ditemukan dalam Tuhan tanpa menghakimi orang lain.

Kita perlu berbalik dari keberdosaan kita, Tuhan tidak menghakimi kita. Tetapi, Ia hanya berpesan kepada kita, “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Foto utama (*/koleksi pribadi)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dengan Nahkoda Presiden Jokowi, Kapal Bernama Indonesia Tak Akan Karam

    Dengan Nahkoda Presiden Jokowi, Kapal Bernama Indonesia Tak Akan Karam

    • calendar_month Ming, 9 Agu 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Rof Sin Presiden Jokowi paling sering dihina, direndahkan, dihujat, dicaci maki, disebarkan hoaks dan fitnah oleh para pembencinya. Sebagus dan sehebat apa pun kerja Presiden Jokowi untuk bangsa dan negara ini, tetapi di mata mereka para pembenci ini, tetap tidak pernah bagus dan semuanya salah Jokowi. Bukan hanya menimpa Presiden Jokowi sendirian, tetapi […]

  • Kunker ke Mabar, Gubernur VBL Pinta Kelola Pantai Pede Berbasis Ekologis

    Kunker ke Mabar, Gubernur VBL Pinta Kelola Pantai Pede Berbasis Ekologis

    • calendar_month Sen, 22 Jun 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Loading

    Mabar-NTT, Garda Indonesia | Dalam rangkaian kunjungan kerja Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) selama sepekan di Daratan Flores, Ia meminta agar tanah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT dikelola berbasis lingkungan atau ekologis. “Silakan bangun hotel dan area publik yang bisa diakses publik dengan berbasis ekologis,” tandas Gubernur VBL di depan Kepala Badan Aset Provinsi […]

  • Gubernur Viktor Segera Siapkan Studio Musik Untuk Anak-anak NTT

    Gubernur Viktor Segera Siapkan Studio Musik Untuk Anak-anak NTT

    • calendar_month Ming, 21 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur 1 NTT didampingi Ibu Julie Laiskodat selepas dari kunjungan kerja dari Kabupaten Ende; setiba di Bandara El Tari Kupang langsung mengunjungi anak-anak NTT yang mengikuti Spesial Hunt Kupang Audisi Rising Star Indonesia di T More Hotel Kupang. Ditemui oleh gardaindonesia.id dalam sesi audisi spesial Hunt Kupang, Rising Star […]

  • HAN 2020, Kemen PPPA Serahkan Paket Pemenuhan Kebutuhan Spesifik Anak

    HAN 2020, Kemen PPPA Serahkan Paket Pemenuhan Kebutuhan Spesifik Anak

    • calendar_month Sab, 11 Jul 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | “Hari Anak Nasional tahun ini mengangkat tema Anak Terlindungi, Indonesia Maju. Artinya ini harus berlaku bagi anak-anak di seluruh Indonesia. Tidak terkecuali bagi anak-anak yang ada di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang ini,” tegas Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga saat menyerahkan paket pemenuhan kebutuhan spesifik […]

  • Program CKG Prabowo di NTT Dipantau Langsung Gubernur Laka Lena

    Program CKG Prabowo di NTT Dipantau Langsung Gubernur Laka Lena

    • calendar_month Sen, 7 Apr 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Loading

    Di hadapan Gubernur Laka Lena, Kepala Puskesmas Lendiwacu, Sisilia dengan bangga membeberkan sudah 319 orang yang menerima program CKG di puskesmas tersebut.   Sumba | Usai melaksanakan kunjungan kerja di Kabupaten Sumba Timur pada Sabtu—Minggu, 5—6 April 2025, Gubernur NTT, Melki Laka Lena melanjutkan rangkaian kunjungan kerja (kunker) di Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Barat. […]

  • Light Up The Dream PLN Pecut Asa 89 Keluarga Prasejahtera di NTT

    Light Up The Dream PLN Pecut Asa 89 Keluarga Prasejahtera di NTT

    • calendar_month Kam, 21 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Loading

    Wali Kota Kupang, Christian Widodo menegaskan komitmen pemerintah untuk berkolaborasi lebih erat dengan PLN, karena program LUTD sejalan dengan visi pemerintah dalam menyediakan akses energi yang berkeadilan.   Kupang | Program Light Up The Dream (LUTD) kembali membawa kebahagiaan bagi 89 keluarga prasejahtera di NTT. Seremoni penyalaan listrik secara simbolis diselenggarakan di kediaman Bapak Marselinus […]

expand_less