Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Koordinat Cinta yang Hilang, Jatuhnya Pesawat ATR 42-500

Koordinat Cinta yang Hilang, Jatuhnya Pesawat ATR 42-500

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Sen, 19 Jan 2026
  • visibility 564
  • comment 0 komentar

Loading

Pagi itu, langit tidak sekadar biru. Ia terlalu sopan, terlalu rapi, seolah sedang menghadiri pesta pernikahan yang batal tanpa pernah diberi tahu. Angin berembus dengan santun, awan berjalan pelan, dan dunia sepakat berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa yang akan hilang hari itu.

Pesawat ATR 42-500, tubuh logam kecil dengan umur dua puluh lima tahun dan kelelahan yang disembunyikan, mengangkat sepuluh nyawa dari Yogyakarta. Sepuluh cerita yang masih setengah jalan. Sepuluh rencana yang belum sempat minta izin kepada maut. Di salah satu kursi, duduk seorang perempuan bernama Florencia Lolita Wibisono. Orang memanggilnya Ollen. Nama yang lembut, seolah diciptakan agar mudah dipanggil pulang.

Ollen menatap jendela. Di pantulannya, ada wajah perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istri. Ia tidak membawa gaun pengantin hari itu, tapi ia membawa bayangan gaun yang putihnya belum sempat kotor oleh realitas. Di tas kecilnya, mungkin ada ponsel berisi pesan yang belum terkirim, foto cincin yang belum dipamerkan, dan catatan belanja yang terlalu optimistis, bunga, katering, tanggal yang belum berani ditulis. Ollen somo kaweng. Mau nikah. Kalimat yang diucapkan sambil tertawa, karena hidup masih terlihat jinak.

Ia berdarah Manado. Dari ibunya, Kendis, Minahasa, tempat doa-doa tidak pernah disingkat. Doa diucapkan dengan napas panjang, dengan jeda yang memberi waktu bagi Tuhan untuk mendengar. Doa yang hari itu naik lebih cepat dari pesawat, tapi entah mengapa tiba lebih lambat.

Pesawat melaju. Mesin berdengung seperti lagu nina bobo bagi takdir. Lalu, di antara Maros dan Pangkep, langit memutuskan berhenti ramah. Kontak hilang. Kata yang terdengar administratif, dingin, dan kejam. Hilang kontak, seolah manusia adalah sinyal yang bisa disambungkan ulang. Seolah cinta bisa dihubungi kembali jika baterai diganti.

Di darat, waktu retak. Jam di rumah keluarga Ollen berhenti berdetak, bukan karena rusak, melainkan karena tidak sanggup lagi bergerak ke depan. Keluarga bersiap ke Makassar. Kata bersiap terdengar ringan bagi mereka yang tak ikut mengemas duka. Mereka memasukkan pakaian secukupnya, tapi lupa, atau mungkin tak sanggup, memasukkan air mata, karena air mata tak pernah cukup. Mereka membawa harapan seperti kaca tipis, dijaga, dipeluk, namun tetap melukai.

“Semoga mukjizat,” kata mereka. Kalimat paling rapuh yang dimiliki manusia. Mukjizat selalu diminta ketika semua pintu sudah menutup diri. Mukjizat adalah cara kita menawar kenyataan, meski tahu tawaran itu sering ditolak.

Sementara itu, gunung Bulusaraung berdiri tua dan bisu. Ia telah melihat ratusan tahun manusia datang dan pergi. Hari itu ia kembali menerima rahasia. Badan pesawat ditemukan di puncaknya. Badan, kata yang menyayat. Mengingatkan bahwa yang jatuh bukan hanya logam, tapi juga tubuh-tubuh yang pernah hangat, yang pernah memeluk, yang pernah berjanji.

Bayangkan Ollen pada detik terakhir. Tidak perlu ledakan, tidak perlu teriakan heroik. Cukup sunyi. Sunyi yang berat. Mungkin ia memikirkan ibunya. Mungkin ia memikirkan calon suaminya yang sedang menghitung hari. Mungkin ia memikirkan satu hal paling sederhana, Aku belum sempat hidup. Tragedi paling kejam bukanlah kematian, melainkan hidup yang baru hendak dimulai lalu dipadamkan.

Di tempat lain, gaun pengantin menunggu di masa depan yang tak jadi datang. Cincin masih bulat, belum pernah menyentuh jari yang seharusnya. Undangan belum dicetak, tapi perpisahan sudah diumumkan oleh alam. Inilah hidup bekerja sempurna. Pernikahan dibatalkan tanpa pemberitahuan, oleh kekuatan yang tidak bisa diajak bicara.

Tim SAR bekerja, manusia melawan medan, negara melawan cuaca. Mereka mencari bukan hanya korban, tetapi kepastian, karena bagi keluarga, ketidakpastian lebih menyakitkan dari kabar terburuk. Lebih baik luka yang berdarah dari harapan yang menggantung.

Lalu kita, yang membaca kisah ini, tiba-tiba tersadar. Betapa sombongnya kita pada rencana. Betapa yakinnya kita pada jadwal tiba. Padahal hidup tidak pernah menjanjikan pendaratan. Ia hanya memberi tiket sekali jalan, lalu menonton dari kejauhan saat kita percaya segalanya akan baik-baik saja.

Florencia Lolita Wibisono. Ollen. Namamu kini bukan sekadar tercatat di manifes. Namamu tinggal di dada orang-orang yang mencintaimu, sebagai lubang yang tak bisa ditutup oleh waktu. Jika tangis jatuh saat membaca ini, biarkan. Itu bukan kelemahan. Itu tanda, di dunia yang sering dingin dan cepat lupa, kita masih manusia.(*)

 

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jaksa Agung Mengundurkan Diri? Simak Penjelasan Kapuspenkum

    Jaksa Agung Mengundurkan Diri? Simak Penjelasan Kapuspenkum

    • calendar_month Sen, 17 Jul 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Beredar informasi yang dibagikan berkali-kali di media sosial bahwa Jaksa Agung, Burhanuddin ST mengundurkan diri atau direshuffle dalam pelantikan kabinet pada Senin, 17 Juli 2023. Merespons kondisi tersebut, maka Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Dr. I Ketut Sumedana  secara tegas menyatakan bahwa informasi tersebut hoaks atau bohong. “Hingga […]

  • 22 Tahun, 68 KK di Belu Tak Punya Lahan Garap, Bene Hale Sumbang Jagung

    22 Tahun, 68 KK di Belu Tak Punya Lahan Garap, Bene Hale Sumbang Jagung

    • calendar_month Sel, 8 Mar 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Loading

    Belu – NTT, Garda Indonesia |  Ketua fraksi Golkar DRPD Belu, Benediktus Hale memulai masa reses pertama di tahun 2022, mengunjungi dan membagi hasil kebunnya sendiri berupa ratusan kilo gram jagung ke masyarakat RT 8 dan 9, Dusun Raihenek, Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu, 6 Maret […]

  • Hari Anak Nasional, Ketua KPK : Bentengi Penerus Bangsa Nilai Antikorupsi

    Hari Anak Nasional, Ketua KPK : Bentengi Penerus Bangsa Nilai Antikorupsi

    • calendar_month Sab, 24 Jul 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Anak-anak Indonesia kembali memperingati Hari Anak Nasional (HAN) pada 23 Juli 2021, mengusung tema ‘Anak Terlindungi, Indonesia Maju” tema tahun ini sangat tepat, mengingat anak-anak adalah generasi penentu arah, tujuan dan kemajuan bangsa kita. Melindungi anak-anak, sejatinya bukan hanya tugas para orang tua dan keluarganya semata, melainkan kewajiban segenap eksponen masyarakat […]

  • Kado Natal PLN untuk Rumah Ibadah di Pelosok Pulau Sumba

    Kado Natal PLN untuk Rumah Ibadah di Pelosok Pulau Sumba

    • calendar_month Sel, 27 Jan 2026
    • account_circle Penulis
    • visibility 293
    • 0Komentar

    Loading

    Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Manager UP2K Sumba dan Manager UP3 Sumba di tengah prosesi ibadah. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa PLN tidak hanya hadir sebagai penyedia infrastruktur, tetapi juga bagian dari keluarga besar masyarakat Sumba.   Sumba | Semangat Natal bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan aksi nyata untuk berbagi terang hingga ke penjuru […]

  • Mutasi 7 Pejabat Pemprov NTT, Wagub Nae Soi: Berkinerja Majukan Daerah

    Mutasi 7 Pejabat Pemprov NTT, Wagub Nae Soi: Berkinerja Majukan Daerah

    • calendar_month Jum, 6 Agu 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sebanyak 7 (tujuh) pejabat pimpinan tinggi pratama (PTP) lingkup pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Prosesi pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan oleh Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi pada Jumat, 6 Agustus 2021. Saat memberikan sambutan, Wagub Nae Soi menegaskan setiap jabatan yang dimiliki harus ditandai dengan adanya kinerja yang bermanfaat […]

  • Pemkot Kupang Sidak Masker dan Ukur Suhu Tubuh Pengguna Angkutan Jalan

    Pemkot Kupang Sidak Masker dan Ukur Suhu Tubuh Pengguna Angkutan Jalan

    • calendar_month Jum, 17 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Wakil Wali Kota Kupang, dr. Hermanus Man memantau jalannya operasi yang dihelat oleh Dinas Perhubungan Kota Kupang, yang mana setiap kendaraan roda dua maupun empat (umum dan pribadi), yang masuk dari luar kota diminta berhenti sejenak, kemudian semua penumpang beserta pengemudi diukur suhu tubuhnya menggunakan thermal gun. Dilaksanakan di daerah […]

expand_less