Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Larangan Bekarang versus Kuliner Lokal Larantuka

Larangan Bekarang versus Kuliner Lokal Larantuka

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sen, 14 Okt 2024
  • visibility 123
  • comment 0 komentar

Loading

Larantuka | Bekarang adalah dialek melayu tempatan, yang merupakan suatu praktik sosial budaya masyarakat Larantuka dalam mencari ikan atau biota laut lainnya ketika air laut surut.

Kesempatan ini digunakan orang-orang di Larantuka dan sekitarnya untuk turun Bekarang, orang dewasa hingga anak-anak akan turun ke laut membawa serta ember, pisau, nere (anyaman dari daun lontar berbentuk kerucut), dan alat pancing. Sepanjang sore hingga malam, mereka akan sibuk mencari siput dan kerang di cela-cela karang dan pasir.

Kadang aktivitas ini justru menjadi ajang rekreasi bersama keluarga dan teman-teman sekaligus mengumpulkan lauk untuk makan malam di rumah. Kebiasaan ini kemudian mempengaruhi ragam kuliner masyarakat Larantuka yang selalu didominasi oleh makanan-makanan yang bersumber dari laut. Sebut saja Mudu (kuliner Larantuka dengan bahan dasar biota laut).

Namun aktivitas yang menyenangkan ini perlahan-lahan mengalami pergeseran. Akhir-akhir ini, Bekarang justru menimbulkan keresahan bagi masyarakat sekitar, khususnya para nelayan, pemerhati lingkungan, dan pemerintah daerah.

Kegiatan yang berlangsung masif seperti membawa besi panjang berujung runcing untuk menangkap gurita lalu membongkar bebatuan untuk menemukan ikan yang terperangkap di genangan air sebagian besar justru ikan-ikan yang dilindungi, serta kelakuan oknum-oknum tertentu yang mulai menggunakan bahan-bahan kimia tampaknya mulai mengancam keberlangsungan ekosistem laut di Larantuka. Dalam sebulan, air laut akan surut jauh sebanyak dua kali, dan itu semakin banyak masyarakat turun untuk Bekarang, tak jarang ada yang masuk hingga ke daerah perlindungan laut [DPL].

Peserta Flores Writers Festival (FEF) 2024 sementara menyimak diskusi terkait pelataran talud Kawasan Perlindungan Terumbu Karang Larantuka.

Di Flores Writers Festival 2024, Bekarang coba dibenturkan dengan kondisi lingkungan alam kita saat ini. Bagaimana aktivitas warga yang sebelumnya begitu melekat dengan keseharian justru kemungkinan besar menjadi salah satu variabel yang menyebabkan perubahan iklim atau climate change berlangsung masif saat ini.

Menyikapi permasalahan tersebut, FWF dalam program telusurnya, menghadirkan para penggiat Bekarang dan pemerhati lingkungan laut di pelataran talud Kawasan Perlindungan Terumbu Karang Larantuka untuk berdiskusi menyikapi hal tersebut. Yang dihadirkan di sana Kiston Diaz sebagai pegiat Bekarang kuliner lokal, serta Petrus Ignasius Diaz sebagai anggota Pokmaswas Sandominggo sekaligus anggota BERGUNA (Bergiat Untuk Nusa) yang telah berhasil mengedukasi warga dan menutup pantai dan laut dari aktivitas Bekarang.

Para peserta yang terdiri dari para undangan FWF dan anggota berbagai komunitas se-Flores – Lembata cukup antusias mengikuti acara ini, terlihat dari banyaknya pertanyaan dan masukan yang diberikan.

Mengakhiri pembicaraannya, Petrus mengucapkan terima kasih kepada FWF atas apresiasinya dan akan terus bergiat, “Terima kasih atas apresiasinya, kami akan semakin giat untuk menjaga laut dan transplantasi terumbu karang” terangnya.(*)

Sumber (*/Berguna/ Kurator FWF)

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Multi Peran Saat Pandemi, Perempuan Perlu Atur dan ‘Manage’ Waktu

    Multi Peran Saat Pandemi, Perempuan Perlu Atur dan ‘Manage’ Waktu

    • calendar_month Jum, 1 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Memiliki peran ganda yakni sebagai seorang ibu dan perempuan bekerja merupakan tantangan besar bagi perempuan selama masa pandemi Covid-19. Hal ini dirasakan betul oleh Dian Sastrowardoyo, aktris dan sutradara sekaligus ibu dari dua anak. Menurut Dian, menjadi ibu sekaligus perempuan yang bekerja dalam waktu yang bersamaan merupakan tantangan tersendiri. “Ini tantangan. […]

  • Prabowo dan Era Baru Energi Indonesia

    Prabowo dan Era Baru Energi Indonesia

    • calendar_month Rab, 25 Jun 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Yakub F. Ismail Upaya Indonesia menjawab tantangan ketahanan dan kemandirian energi nasional kini tinggal selangkah lagi. Optimisme itu muncul setelah Presiden RI, Prabowo Subianto melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, di Istana Konstantinovsky, St. Petersburg, Rusia, Kamis, 19 Juni 2025. Pada pertemuan itu ada beberapa kerja sama yang berhasil disepakati antara kedua […]

  • Pesan di Balik Tarian Hodi Deket, Tarian Sambut Pj Gubernur NTT

    Pesan di Balik Tarian Hodi Deket, Tarian Sambut Pj Gubernur NTT

    • calendar_month Sen, 11 Sep 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Karolus Kopong Medan Tarian Hodi Deket ditampilkan Sanggar Sole Oha di bawah pimpinan Daniel Lebu Raya pada penjemputan Penjabat Gubernur Provinsi NTT, Ayodhia Gehak Lakunamang Kalake pada Jumat, 8 September 2023 di aula El Tari Kupang. Lantas, apa makna dari Tarian Hodi Deket? Video : Tarian Hodi Deket, tarian penyambutan Penjabat Gubernur NTT […]

  • Semua Desa di Nagekeo Wajib Buka Rekening Bank NTT

    Semua Desa di Nagekeo Wajib Buka Rekening Bank NTT

    • calendar_month Rab, 16 Feb 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Loading

    Mbay, Garda Indonesia | Langkah berani ditunjukkan Bupati  Nagekeo, Yohanes Don Bosco Do. Melalui instruksi, Bupati Don mewajibkan semua desa di Kabupaten Nagekeo membuka rekening desa hanya di Bank NTT agar dana desa, alokasi dana desa, bagi hasil pajak dan retribusi disimpan di Bank NTT. “Kita lagi membantu Bank NTT untuk mengelola dana yang cukup […]

  • Peduli Sumber Daya Air di NTT, Politeknik Negeri Kupang Helat Seminar Nasional

    Peduli Sumber Daya Air di NTT, Politeknik Negeri Kupang Helat Seminar Nasional

    • calendar_month Kam, 21 Nov 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kondisi curah hujan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terkecil di Indonesia dengan rata-rata volume curah hujan tahunan di NTT hanya 1.000 mm dengan musim hujan hanya berkisar 3—5 bulan dan musim panas (kering) berlangsung selama 7—9 bulan yang menyebabkan kondisi sumber daya air relatif kecil dan terbatas. Menyadari kondisi tersebut, […]

  • Tujuh Spot Wisata Unggulan 2026 Alternatif Pilihan Utama Berlibur

    Tujuh Spot Wisata Unggulan 2026 Alternatif Pilihan Utama Berlibur

    • calendar_month Sab, 13 Des 2025
    • account_circle Ferdy Daud
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Loading

    Memasuki tahun 2026, sektor pariwisata diprediksi memasuki fase pertumbuhan signifikan, ditandai dengan hadirnya berbagai destinasi baru yang menawarkan pengalaman berlibur yang lebih menakjubkan. Pemerintah Indonesia secara strategis terus mendorong pengembangan destinasi wisata berkualitas, dengan fokus pada peningkatan akses transportasi, fasilitas publik, konektivitas digital, serta penerapan prinsip keberlanjutan. Hal tersebut bertujuan untuk menghadirkan pengalaman wisata yang […]

expand_less