Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Logika Mangkrak & Sikap Egoistis yang Bisa Bikin Negara Gagal

Logika Mangkrak & Sikap Egoistis yang Bisa Bikin Negara Gagal

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Kam, 8 Jul 2021
  • visibility 91
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Andre Vincent Wenas

Entah apa kriteria Negara Gagal versi Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), Sang Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR-RI. Dalam pemberitaan yang beredar tidak jelas disebutkan. Hanya dikatakan bahwa Ibas mengkritik cara pemerintah menangani pandemi Covid-19 yang telah berjalan hampir dua tahun.

Bahkan Ibas dikabarkan khawatir jikalau RI dianggap menjadi negara gagal atau failed nation dalam menangani Covid-19 yang kian mengganas akhir-akhir ini. Cuma itu saja.

Argumen yang terlalu sumir. Maaf. Walau pernyataan Ibas ini toh mendapat puja-puji… dari sesama politisi Partai Demokrat tentunya. Katanya sebagai bentuk kecintaan kepada rakyat. Hmm…

Karena sebetulnya, indeks negara gagal (failed states), atau yang sekarang disebut sebagai ‘fragile states’ setiap tahun ada diterbitkan oleh The Fund for Peace. Walau memang ada penurunan posisi akibat tantangan internal yang luar biasa, dalam Annual Report 2021 FFP (Fund For Peace) di sub-judul “Most Improved Countries” ada disebutkan bahwa,

“…among the ten most improved over the decade are Indonesia and Timor-Leste, tied for sixth most improved, demonstrating the success the two neighbors have had in moving past their history of conflict.”

Jadi, Indonesia termasuk dalam 10 negara yang dipantau telah melakukan perbaikan-perbaikan dalam dekade (sepuluh tahun) terakhir ini. Walau memang, sekali lagi, di tengah situasi pandemi global yang melanda seluruh dunia ini, Indonesia bersama dengan semua negara lainnya sedang bergelut keras untuk bisa keluar dengan selamat. Mengatasinya dalam spirit solidaritas mondial.

Perlu ditekankan bahwa pandemi global ini bukan perkara satu negara saja! Maka penanganannya perlu kerja sama lintas bangsa-bangsa. Sementara di dalam negerinya masing-masing juga tidak bisa terpecah-belah dalam faksionalisme egosentris yang hanya mementingkan diri sendiri atau kelompoknya masing-masing.

Ingat, virus corona ini sama sekali tidak demokratis, ia tidak punya kartu anggota Partai Demokrat atau parpol apa pun. Dia juga tidak menganut agama tertentu, dan juga tidak memuja atau memberhalakan tokoh agama mana pun. Jadi, siapa saja yang kepala batu akan dilabraknya tanpa peduli dan tanpa permisi.

Manusia-manusia egoistis yang hanya mementingkan kelompok dan dirinya sendiri inilah yang menjadi batu penghalang solidaritas penanganan pandemi Covid-19 ini.

Memang, Soren Kierkegaard pernah bilang, bahwa suatu perubahan sosial tak akan pernah terjadi dari perubahan masyarakat, tetapi dari perubahan pribadi. Dan untuk menjadi seorang pribadi adalah merupakan tugas paling sulit di antara tugas-tugas lainnya.

Knowledge and ego are directly related. The less knowledge, the greater the ego,” begitu kata Albert Einstein. Maka, kita tak bisa berhenti juga untuk terus melakukan proses penyadaran ini. Juga demi mengikis sifat egosentris yang berawal dari kebodohan itu.

Kembali ke soal indeks ‘the fragile states’. Dalam kajian tahunannya, FFP menggunakan 12 indikator yang terbagi dalam 5 bagian. Keduabelas indikator ini bisa saja kita manfaatkan sebagai acuan untuk menghindarkan diri kita dari bencana negara gagal.

Bagian pertama, Cohesion Indicators (Indikator Kohesi). Terdiri dari 3 indikator: 1) Security Apparatus, 2) Factionalized Elites, 3) Group Grievance.

Bagian kedua, Economic Indicators (Indikator Ekonomi). Terdiri dari 3 indikator juga: 4) Economic Decline, 5) Uneven Economic Development, 6) Human Flight and Brain Drain.

Bagian ketiga, Political Indicators (Indikator Politik). Terdiri dari 3 indikator: 7) State Legitimacy, 8) Public Services, 9) Human Rights and Rule of Law.

Bagian keempat, Social Indicators (Indikator Sosial). Terdiri dari 2 indikator: 10) Demographic Pressures, 11) Refugees and IDPs (Internally Displaced Persons).

Bagian kelima, Cross-Cutting Indicators (Indikator Lintas-Batas). Terdiri dari 1 indikator: 12) External Intervention.

Masing-masing dari ke-12 indikator itu dirinci lagi dengan beberapa pertanyaan yang cukup komprehensif. Intinya, metodologi ini jelas lebih tidak sumir ketimbang mengatakan bahwa administrasi suatu pemerintahan bisa gagal lantaran secara subyektif dipandang gagal menangani pandemi Covid-19.

Bagi yang tertarik untuk mendalami kajian FFP ini bisa browsing di internet dengan mudah.

Index ini adalah suatu alat kritis yang bisa menyoroti tidak hanya tekanan-tekanan yang biasa dihadapi suatu negara, tapi juga ditengarai mampu mengidentifikasi manakala tekanan-tekanan itu mengarah pada bahaya gagalnya suatu negara.

Dulu juga Noam Chomsky pernah menulis (bukunya: Failed States, The Abuse of Power and The Assault on Democracy, 2006), bahwa negara gagal “…are identified by the failure to provide security for the population, to guarantee rights at home or abroad, or to maintain functioning (not merely formal) democratic institutions.”

Jadi soal rasa aman bagi penduduk, hak-asasi manusia dan berfungsinya institusi-institusi demokrasi.

Sekadar contoh pertanyaan dalam index itu adalah di bidang ekonomi yang menyangkut soal pembangunan infrastruktur. Begini beberapa pertanyaannya,

Are roads adequate and safe? (apakah jalan raya tersedia dan aman?). Are there adequate airports for sustainable development? (Apakah bandara tersedia secara memadai untuk pembangunan yang berkelanjutan?). Are there adequate railroads for sustainable development? (Apakah rel kereta api tersedia dengan memadai untuk pembangunan yang berkelanjutan?). Is there an adequate supply of fuel? (Apakah pasokan bahan bakar tersedia secara memadai?).

Di samping tentunya banyak pertanyaan lain untuk bagian dan indikator selanjutnya.

Nah kalau begitu jelas bahwa segala upaya pembangunan infrastruktur yang signifikan itu sangat perlu. Dan bukankah itu juga yang selama ini dikejar mati-matian oleh administrasi Presiden Joko Widodo?

Justru yang mesti dihindari adalah mangkraknya pembangunan infrastruktur itu. Dan soal mangkrak ini kiranya Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan rekan-rekannya di Fraksi Partai Demokrat DPR-RI bisa memahaminya dengan mudah bukan?

Kamis, 8 Juli 2021

Penulis merupakan pemerhati ekonomi-politik

Foto utama (*/istimewa/awalilmu.com)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • PJS Siap Helat HUT Pertama dan Rapimnas di Gorontalo

    PJS Siap Helat HUT Pertama dan Rapimnas di Gorontalo

    • calendar_month Jum, 5 Mei 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Loading

    Gorontalo, Garda Indonesia | Guna memaksimalkan target kesiapan menuju kegiatan puncak Rapimnas & HUT ke-1 Pemerhati Jurnalis Siber (PJS), Ketua Umum Mahmud Marhaba bersama Ketua DPD Provinsi Gorontalo Muzamil Hasan, melakukan kunjungan resmi ke Mapolda Gorontalo dan Gubernur Gorontalo pada Kamis, 4 Mei 2023. Pada kunjungan tersebut, Ketua Umum DPP PJS Mahmud Marhaba didampingi pembina […]

  • Gubernur VBL Dapati Program Maek Bako Gagal di Belu, Plt Sekda Tuduh Warga Curi

    Gubernur VBL Dapati Program Maek Bako Gagal di Belu, Plt Sekda Tuduh Warga Curi

    • calendar_month Rab, 12 Feb 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Program Tanam Maek Bako merupakan salah satu program unggulan Bupati Belu, Wilibrodus Lay dan Wakil Bupati Belu, JT Ose Luan yang menelan anggaran 1,3 Miliar, ternyata gagal. Hal ini diketahui setelah gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) meninjau secara langsung lokasi penanaman Maek Bako (Porang) oleh pemda Belu di Hutan Jati […]

  • ‘Update Covid-19 NTT’ ODP Capai 460, Pemprov NTT Tunggu PP ‘Lockdown’ Lokal

    ‘Update Covid-19 NTT’ ODP Capai 460, Pemprov NTT Tunggu PP ‘Lockdown’ Lokal

    • calendar_month Ming, 29 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pemprov NTT meng-update perkembangan kasus Corona Virus Disease (Covid) 19 di Bumi Flobamorarata. Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT yang juga juru bicara Pemprov NTT soal Coronavirus, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si mengatakan, hingga Minggu, 29 Maret 2020 pukul 14.00 WITA, NTT masih negatif Covid-19, namun jumlah Orang Dalam Pemantauan […]

  • Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara

    • calendar_month Sab, 20 Feb 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Dahlan Iskan Pada balapan vaksin dunia ini, Indonesia bisa menyalip di tikungan. Bisa seperti pembalap Michael Schumacher atau Valentino Rossi dulu. Pembalap kita adalah: dokter cum Jenderal Terawan Putranto. Johnson & Johnson menyalip Pfizer dan AstraZeneca, dengan penemuannya: cukup satu kali suntik. Pfizer sendiri menyalip Tiongkok-Sinovac dalam hal afikasi yang lebih tinggi: 95 […]

  • Kecam Parodi Lagu Indonesia Raya, Ketua DPD: Itu Menginjak Kehormatan RI!

    Kecam Parodi Lagu Indonesia Raya, Ketua DPD: Itu Menginjak Kehormatan RI!

    • calendar_month Sen, 28 Des 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Loading

    Surabaya, Garda Indonesia | Beredar di media sosial parodi lagu “Indonesia Raya” yang diduga dibuat oleh oknum warga Malaysia. Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti meminta pemerintah segera bertindak tegas karena parodi tersebut telah menghina bangsa Indonesia. “Saya sangat mengecam video yang memarodikan lagu kebangsaan Indonesia. Sebagai anak bangsa, saya pribadi merasa sangat tersinggung […]

  • Di NTT, Bakal Didirikan Perusahaan Pakan Ternak Ayam

    Di NTT, Bakal Didirikan Perusahaan Pakan Ternak Ayam

    • calendar_month Kam, 23 Mei 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Kemarin saya lapor kepada bapak Presiden bahwa daerah ini sangat dibanjiri oleh impor ayam pedaging dan telur ayam dari Surabaya. Kami ingin bangun pabrik pakan ternak agar kami bisa pelihara ayam pedaging dan petelur”, jelas Gubernur VBL saat acara Malam Kenal Pamit Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Danlanud) El Tari Kupang […]

expand_less