Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Mengapa Praktik Oligarki & Demokrasi Semu Tumbuh Membudaya?

Mengapa Praktik Oligarki & Demokrasi Semu Tumbuh Membudaya?

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sab, 10 Jul 2021
  • visibility 58
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Sumarna, APN Ditjen Strahan Kemhan

Pesatnya kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) di era globalisasi sangat berdampak terhadap perubahan cara pandang dan pola pikir manusia, termasuk setiap WNI dalam menghadapi dinamika dan problematika kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta kehidupan politik dan berdemokrasi yang dilandasi nilai-nilai ke-Indonesia-an berbasis legitimasi negara.

Hingga saat ini  22 tahun reformasi, kita  masih dalam masa transisi demokrasi, sehingga perlu ada dorongan dan komitmen bersama, untuk membangun sistem kepartaian yang sehat dan tidak kompatibel dengan cita-cita bersama perlu  didukung dengan pembiayaan yang cukup untuk bertahan, sehingga parpol yang tidak sehat akan hilang pada masa transisi  berdemokrasi. Tak ada negara demokrasi yang sehat, tanpa adanya parpol yang sehat, negara Indonesia ini akan maju,  jika didukung oleh parpol yang sehat. Negara mewujudkan dan melindungi terhadap keberlangsungan perpolitikan yang sehat.

Pembukaan UUD 1945 merumuskan Tujuan Negara yakni: untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdakaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, dapat terwujud agar rakyat dapat merasakan kesejahteraan. Sedangkan konsep negara demokratis yang menciptakan negara hukum untuk mewujudkan negara yang adil bagi seluruh rakyat dengan peraturan tertentu dalam penegakannya, sehingga harus bersifat profesional, adil, dan bijak sesuai norma yang berlaku.  Bahkan masalah menjadi semakin kompleks, saat kepala daerah yang dipilih lahir melalui proses oligarki.

Menurut Jeffrey Winters, akademisi dari Northwestern University, dalam bukunya Oligarchy (2011), bahwa demokrasi kerap dikuasai kaum oligarki sehingga makin jauh dari cita-cita memakmurkan rakyat.  Dalam International Encyclopedia of Social Sciences, oligarki didefinisikan sebagai bentuk pemerintahan yang kekuasaannya berada di tangan minoritas. Oligarki menekankan kekuatan sumber daya material sebagai basis dan upaya pertahanan kekayaan pada diri mereka.

Secara faktual,fenomena ini kita lihat dalam praktik dinasti politik di banyak daerah atau fenomena ‘investor’ yang menjadikan kandidat sebagai pion dari beroperasinya kekayaan di daerahnya dengan penguasaan sumber daya material oleh seseorang atau sekelompok orang yang pada akhirnya melakukan penguasaan politik untuk melindungi kekayaannya. Hasil berbagai survei mengenai politik Indonesia menyimpulkan bahwa selama 13 tahun Reformasi tidak membawa perubahan mencolok di Indonesia, bahkan keadaan pada masa Orde Baru dipandang jauh lebih baik ketimbang masa Reformasi.

Menurut Jeffrey A. Winters, Direktur Buffet Institute of Global Affairs, dalam riset berjudul “Oligarchy and Democracy in Indonesia” (2013) bahwa Jokowi adalah produk oligarki. “Kemenangan luar biasa Jokowi berkat dukungan dari berbagai kalangan yang mendorong menuju kemenangan.

Pembangunan yang hanya bertumpu pada pembangunan fisik semata tidak akan membawa kemaslahatan dan kesejahteraan umum. Pembangunan mental (revolusi mental) bangsa Indonesia jauh lebih penting dan mendesak untuk dilakukan.

Menurut  Yuki Fukuoka dan Luky Djani, pada artikel yang diterbitkan dalam South East Asia Research tahun 2016 berjudul  “Revisiting the Rise of Jokowi: The Triumph of Reformasi or An Oligarchic Adaptation of Postclientelist Initiatives?” yang menganggap sejak awal Presiden Jokowi sudah bukan lagi sosok yang ia citrakan ke publik selama kampanye: mengutamakan kepentingan rakyat di atas partai.

Pemimpin negara di era Reformasi terkadang dinilai kurang tegas, dibandingkan era kekuasaan Soeharto, Pandangan itu tidak semuanya benar dan tidak semuanya salah. Kita ketahui bersama, betapa oligarki kekuasaan masih membelenggu partai-partai politik, sehingga mengganggu proses demokrasi, bahkan di dalam partai itu sendiri. Kekuatan oligarki juga tampak pada sendi-sendi kehidupan lain, jika kita lihat dari sisi penumpukan kekayaan, era Reformasi, khususnya di era Presiden SBY.  Hasil kajian Prof Jeffrey Winters dari Northwestern University,AS, mengutip data dari Capgemini and Merrill Lynch menunjukkan, pada 2004 saat SBY terpilih menjadi presiden, ada sekitar 34.000 orang Indonesia memiliki aset paling sedikit USD1 juta di luar negeri.

Demikian periode Kabinet Jokowi dengan Ma’ruf Amin, yang menambah Partai Gerindra sebagai bagian dari Kabinet Indonesia Maju. Presiden Jokowi terkesan membagi-bagi posisi pejabat negara kepada tim sukses termasuk relawan yang bergabung dalam pemenangan Pilpres 2019 untuk membangun sebuah demokrasi gotong royong. Menurutnya di Indonesia tidak ada yang namanya oposisi, demokrasi kita adalah demokrasi gotong royong.

Beberapa bulan pemerintahannya, masyarakat menaruh harapan besar untuk  bisa meningkatkan kualitas demokrasi. Seperti ditulis di awal artikelnya, Luky Djani dan Yuki Fukuoka, bahwa berkebalikan dengan  konsep ‘bersih’ dan ‘profesional’, Jokowi memberikan posisi strategis kepada kepentingan oligarki dan mengindikasikan keputusan yang dilandasi oleh partai pendukungnya, di sisi lain, politik balas budi  bisa jadi cara ampuh Jokowi memuluskan kekuasaan. Lalu bagaimana oligarki kekuasaan tunduk pada diri seorang Presiden?

Kisah demokratis ini dilakukan oleh gerakan oligarki dimana kekuasaan kaum berduit menempatkan Jokowi di hadapan para pemilihnya, sehingga Jokowi berhasil menang karena partai politik dan kaum elite memutuskan untuk mengusungnya menjadi presiden, sehingga tidak  dapat melawan kepentingan elite dan partai politik. Penggunaan UU ITE untuk masyarakat sipil, dinilai akan memunculkan permasalahan baru di masyarakat, ketika mobilisasi klientelistik menjadi kurang efektif, elite oligarki mulai selektif merangkul populisme guna mempertahankan struktur kekuasaannya.

Langkah itu untuk melumpuhkan oposisi.”sebagai bagian dari Oligarki, Wajar jika diawal kemunculannya dalam gelanggang politik nasional, Jokowi menjadi harapan kelompok sipil dan aktivis.  Ada asumsi bahwa hal ini terjadi karena kesalahan persepsi  jika terjadi pemaksaan keserentakan pada pemilu pada 2024 mendatang, sehingga akan membuat  “Demokrasi” di Indonesia semakin mundur dan kepentingan subjektif  untuk upaya penjegalan terhadap partai dan kandidat  tertentu pada Pemilu  2024 harus dihilangkan.

Bangsa Indonesia saat ini  dalam kondisi krisis kepemimpinan akibat perubahan orientasi, dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, salah satunya dalam  berdemokrasi,  yang sudah mengarah pada persimpangan jalan dari tujuan nasional. Hal itu adalah dampak dari pemimpin yang kurang responsif  memanfaatkan kondisi ini sebagai peluang, melainkan hanya dilihat sebagai ancaman.

Untuk mewujudkan keadilan diperlukan upaya pemerataan sumber daya agar kelompok masyarakat yang lemah dari kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi dapat diatasi dan dientaskan.  Terkait hal itu, pada momentum Hari Keadilan Internasional tanggal 17 Juli 2021, kita bersama masyarakat untuk  bersinergis  mensosialisasi dan menegakkan keadilan di berbagai aspek kehidupan, Hukum harus ditegakkan, sebab semua orang berkedudukan yang sama di hadapan hukum, serta pemenuhan hak rakyat dapat dilakukan dengan merata.

Penegakan hukum selama ini belum sesuai harapan dan pelaksanaannya harus berjalan selaras dengan Undang-undang yang berlaku agar tidak melahirkan masalah baru. Akibatnya, pemegang kekuasaan tidak bisa jauh dari oligarki rezim terdahulu, bedanya, dengan kemunculan kelompok buruh dan aktivis, elite politik di era pasca-Orde Baru mempertimbangkan kepentingan masyarakat kelas menengah ke bawah.

Jika langkah ini tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin pelaksanaan demokrasi di Indonesia akan semakin jauh dari harapan, sistem perpolitikan akan semakin kacau, dan warga masyarakat kalangan bawah akan semakin tersingkirkan, sehingga praktik Oligarki semakin tumbuh subur berkembang dan membudaya di kalangan  masyarakat Indonesia, sehingga Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa hanya sebagai slogan.

Pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat dan rakyat, serta stakeholder terkait perlu bersinergi untuk mengambil langkah  strategis dengan menata ulang kembali Sistem Politik, perundang-undangan, pengelolaan pertahanan dan keamanan negara, sekaligus memberikan edukasi politik kepada masyarakat Indonesia, agar seluruh warga masyarakat mengerti dan pahan akan sistem politik yang sehat, serta  perlu segera merevisi UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017 tentang Penyelanggaraan Pemilu secara efisien dan komprehensif, dalam proses kenegaraan yang berimplikasi terhadap  tumbuhnya praktik oligarki & demokrasi  yang semu  membudaya di Indonesia, serta guna memberi penguatan kesadaran berpolitik bagi  setiap WNI.

Foto utama (*/istimewa/universitas indonesia)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sanksi PAW Bagi Yezkial Loudoe? Badan Kehormatan: Jika Pelanggaran Berat

    Sanksi PAW Bagi Yezkial Loudoe? Badan Kehormatan: Jika Pelanggaran Berat

    • calendar_month Sen, 31 Mei 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kupang sedang memproses mosi tidak percaya dari 5 (lima) fraksi kepada Ketua DPRD Kota Kupang, Yezkial Loudoe dan secara administrasi (dokumen dan kartu tanda penduduk [KTP]) telah diverifikasi dan dinyatakan lengkap. Demikian dinyatakan oleh Wakil Ketua Badan Kehormatan DPRD Kota Kupang, Adolf […]

  • Sikap Etis

    Sikap Etis

    • calendar_month Sab, 3 Feb 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 41
    • 1Komentar

    Loading

    Oleh : Saidiman Ahmad Dulu pernah ada pejabat publik yang sangat jujur dan berani. Namanya Baharuddin Lopa. Sebelumnya, yang juga terkenal lurus adalah Jenderal Polisi Hoegeng, Iman Santoso. Keduanya sudah wafat. Setelah keduanya, muncul Mahfud MD dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Mahfud MD dan Ahok adalah dua pejabat publik paling berintegritas di Indonesia saat ini. Mereka […]

  • Total 320 PNS Pemprov NTT Terima Satyalancana Karya Satya

    Total 320 PNS Pemprov NTT Terima Satyalancana Karya Satya

    • calendar_month Rab, 13 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Loading

    Kepada 320 orang PNS yang menerima penghargaan, Gubernur NTT berharap agar dapat menjadi pemecah masalah (problem solver) dan bukannya pembuat masalah (problem maker) yang dapat menghambat kerja dan kinerja organisasi.   Kupang | Penganugerahan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya bagi para Pegawai Negeri Sipil (PNS) lingkup Pemerintah Provinsi NTT ini didasarkan pada Keputusan Presiden Republik […]

  • Komunikasi Hasil Kegiatan Statistik, Sebuah Refleksi

    Komunikasi Hasil Kegiatan Statistik, Sebuah Refleksi

    • calendar_month Ming, 4 Feb 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Yezua Abel, Statistisi pada BPS Provinsi NTT Komunikasi hasil kegiatan statistik menjadi jembatan antara statistisi dan pengguna data sehingga produk statistik yang dihasilkan dapat diterima, dipahami dan dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan. Dalam tahap diseminasi data, Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan manajemen rilis produk statistik kepada pengguna yakni pemerintah dan masyarakat luas mencakup semua kegiatan […]

  • Laskar SEHATI ‘Tasafoma’ Tala Songsong Agus Taolin

    Laskar SEHATI ‘Tasafoma’ Tala Songsong Agus Taolin

    • calendar_month Ming, 8 Nov 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | ”Ternyata hari ini kami datang di Tala, orang kuat Tala ada di SEHATI. Karena itu, hari ini kita klaim orang Tala milik SEHATI. Tasafoma (Tama Sala Foti Maten/ Masuk Salah Angkat Mayat), luar biasa! Hari ini, Tala dominan kuning, Golkar,” ungkap Ketua DPC Golkar Kabupaten Belu, Yohanes Jefry Nahak saat berkampanye […]

  • Turnamen Pencak Silat IV Belu, Bupati Minta Terapkan Protokol Kesehatan

    Turnamen Pencak Silat IV Belu, Bupati Minta Terapkan Protokol Kesehatan

    • calendar_month Kam, 1 Jul 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Loading

    Belu–NTT, Garda Indonesia | “Semua atlet, saya minta supaya di–rapid antigen, pelatih diperiksa antigen, terapkan protokol kesehatan, duduk jaga jarak dan dibatasi kapasitas, tidak boleh lebih dari 50 persen. Masing–masing mengawasi atletnya, wasit–wasit juga diperiksa. Yang belum diperiksa, nanti besok kita datangkan lagi tim ke sini untuk melakukan pemeriksaan. Demikian pun sesudah pertandingan,” kata Bupati […]

expand_less