Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Mengenal Marsinah, Pahlawan Nasional Sejajar dengan Soeharto

Mengenal Marsinah, Pahlawan Nasional Sejajar dengan Soeharto

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Kam, 13 Nov 2025
  • visibility 198
  • comment 0 komentar

Loading

Bagi generasi Z, pasti tak kenal siapa Marsinah baru saja diangkat jadi Pahlawan Nasional oleh Prabowo. Beliau yang memperjuangkan hak-hak buruh. Ia tewas mengenaskan. Siapa dalangnya, tidak ada yang tahu. Sekarang, namanya sejajar dengan Soeharto yang juga dinobatkan hero 2025.

Di zaman Soeharto ia dibunuh. Sekarang, ia sejajar dengan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. Dunia ini memang lucu, atau mungkin semesta sedang bercanda sambil menatap kita dengan senyum getir, karena akhirnya dua nama yang dulu dipisahkan darah, kini berdampingan dalam tinta penghormatan negara.

Marsinah, buruh pabrik jam di Sidoarjo, yang dulu berjuang demi kenaikan upah seribu rupiah, kini diabadikan sejajar dengan penguasa yang dulu menindas suaranya. Barangkali sejarah memang pandai berputar seperti jarum jam yang dulu ia rakit tiap hari.

Marsinah lahir dari keluarga sederhana di Nganjuk. Tak ada pamor, tak ada trah biru, tak ada televisi yang meliput kelahirannya. Ia hanya perempuan biasa, tapi dengan nyali luar biasa. Dalam dirinya ada campuran getir kemiskinan dan bara keberanian. Ia bukan politisi, bukan orator, hanya buruh yang mencatat jam kerja dengan teliti. Tapi ketika haknya diinjak, ia bangkit, bukan dengan senjata, melainkan dengan kata. Ia bicara lantang, padahal zaman itu suara bisa berujung di liang lahat.

Tahun 1993, di bawah langit kelam Orde Baru, Marsinah menjadi juru bicara hati banyak buruh. Mereka hanya ingin upah naik sedikit, agar nasi di rumah tak cuma lauk garam. Tapi pabrik menolak, dan negara diam. Maka mogok kerja pun terjadi. Marsinah ikut memperjuangkan 12 tuntutan sederhana, tentang upah, cuti haid, lembur, hak manusiawi. Hal-hal kecil, tapi cukup besar untuk mengguncang kekuasaan yang alergi pada protes. Hingga akhirnya, 5 Mei 1993, beberapa buruh dipanggil ke Kodim dan dipaksa menandatangani pengunduran diri.

Marsinah pergi menuntut penjelasan. Ia tidak kembali.

Tiga hari kemudian, tubuhnya ditemukan di pinggir hutan jati, penuh luka, penuh tanda tanya. Luka itu bukan hanya di tubuhnya, tapi di hati bangsa. Di situ sejarah berhenti menulis dan mulai membisu. Pelaku tidak jelas, proses hukum melingkar seperti ular yang menggigit ekornya. Marsinah lenyap, tapi namanya jadi mantra. Ia menjadi lambang tentang betapa mahal harga kejujuran di negeri yang suka menulis puisi tentang keadilan tapi takut menegakkannya.

Kini, tiga dekade kemudian, negara datang membawa piagam, menyematkan bintang di dada yang dulu ditusuk duri sejarah. Marsinah diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Ironi? Tentu. Tapi juga keadilan yang datang dengan langkah sarkastik. Sebab siapa sangka, rezim yang dulu menekan gerakan buruh kini memuliakan buruh yang dulu mereka tekan.

Soeharto dan Marsinah kini sebaris dalam daftar nama pahlawan. Seolah sejarah sedang menulis satire terbesar sepanjang masa, bahwa dalam kematian sekalipun, takdir bisa berbalik.

Tapi mari kita tak tertawa dulu. Penghormatan ini bukan sekadar penghias dinding istana. Ini seharusnya cermin bagi generasi muda. Pahlawan tidak selalu berseragam, tidak selalu punya pangkat, tidak selalu duduk di kursi kekuasaan. Kadang pahlawan adalah buruh pabrik yang mati sendirian di hutan jati. Kadang perjuangan bukan soal kemenangan, tapi tentang tidak menyerah meski tahu akan kalah.

Marsinah adalah nyanyian sunyi yang menembus zaman. Ia mungkin gugur di era Soeharto, tapi hari ini ia hidup dalam kepala setiap anak muda yang menolak tunduk. Ia bukti, waktu bisa menunda keadilan, tapi tak bisa memadamkan kebenaran. Mungkin inilah happy ending paling aneh dalam sejarah bangsa. Ketika korban dan penguasa akhirnya sejajar di buku pelajaran, dan kita, para pembaca yang terlambat sadar, akhirnya mengerti, setiap darah yang tumpah punya harga yang tak bisa dibayar dengan medali.(*)

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hujan Ekstrem, Banjir Melanda Jakarta di Tahun Baru 2020

    Hujan Ekstrem, Banjir Melanda Jakarta di Tahun Baru 2020

    • calendar_month Rab, 1 Jan 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Di penghujung tahun 2019 terjadi banjir di beberapa wilayah seperti Labuhan Batu – Sumut, Lahat – Sumsel, Bandung Barat – Jabar, Jalan Tol Cipali km 136 Indramayu – Jabar dan di awal tahun baru pada 1 Januari 2020 banjir menyapa warga Jabodetabek. BMKG memberi peringatan tentang akan adanya hujan deras di […]

  • CEGAH RABIES! Pemprov NTT Imbau Hewan Penular Dikandangkan

    CEGAH RABIES! Pemprov NTT Imbau Hewan Penular Dikandangkan

    • calendar_month Jum, 23 Jun 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Hingga Juni 2023, tercatat 515 kejadian gigitan anjing (terkonfirmasi) pada 28 kecamatan di kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), wabah rabies telah menyebar di Pulau Timor dan memakan korban 3 (tiga) orang meninggal dunia. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) pun telah menghubungi Menteri Kesehatan untuk memperoleh serum antirabies. Bagi masyarakat, […]

  • Paslon Lain Bagi Uang di Amarasi, SPK Malah Tuai Dukungan

    Paslon Lain Bagi Uang di Amarasi, SPK Malah Tuai Dukungan

    • calendar_month Ming, 20 Okt 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Loading

    Amarasi | Desa Tenbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi viral beberapa pekan. Hal itu disebabkan video viral oknum Ketua DPRD Kabupaten Kupang mengatasnamakan salah kandidat calon gubernur NTT bagi-bagi berkat berupa uang tunai kepada sejumlah warga Tunbaun. Sejumlah tokoh masyarakat Kecamatan Amarasi Barat gerah dengan ulah oknum politisi tersebut. Sejumlah […]

  • BCA dan Warlami Ajak Penenun TTS Terap Konsep Ecofashion

    BCA dan Warlami Ajak Penenun TTS Terap Konsep Ecofashion

    • calendar_month Sab, 6 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Loading

    SoE, Garda Indonesia | PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) sebagai bagian dari perbankan nasional senantiasa berkontribusi bagi tanah air melalui berbagai inisiatif program. Dalam upaya perwujudan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dengan gerakan #BCAForSustainability, BCA hadir memberikan pembinaan bagi penenun di Timor Tengah Selatan (TTS) untuk menggerakkan tenun TTS diiringi dengan penerapan fashion ramah lingkungan. […]

  • WTP Beruntun 10 Kali, Kemenkumham Raih Penghargaan dari Kemenkeu

    WTP Beruntun 10 Kali, Kemenkumham Raih Penghargaan dari Kemenkeu

    • calendar_month Rab, 15 Sep 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) meraih 2 (dua) penghargaan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk perolehan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan yang telah disusun. Penghargaan diberikan untuk kategori opini WTP tahun 2020 dan kategori opini WTP minimal 10 kali berturut pada tahun 2011—2020. Sekretaris Jenderal Kemenkumham, Andap Budhi Revianto […]

  • Gaya Iriana Joko Widodo Sosialisasi Pengurangan Sampah Plastik & Sanitasi

    Gaya Iriana Joko Widodo Sosialisasi Pengurangan Sampah Plastik & Sanitasi

    • calendar_month Sel, 25 Feb 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Loading

    Banten, Garda Indonesia | Usai mencanangkan program peningkatan kesehatan dan kualitas lingkungan masyarakat, Ibu Negara Iriana Joko Widodo melakukan sosialisasi lingkungan sehat dan sanitasi. Acara sosialisasi tersebut dihelat di Aula Grup-1 Kopassus, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Provinsi Banten, pada Senin, 24 Februari 2020. Acara sosialisasi tersebut dihelat di Aula Grup-1 Kopassus, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, […]

expand_less