Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Merenungkan Kematian

Merenungkan Kematian

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 12 Mei 2024
  • visibility 82
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Novilus Uropmabin, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura, Jayapura, Papua

Ziarah hidup manusia tidak lengkap jika tidak menyentuh topik yang sering dihindari oleh kebanyakan orang yaitu kematian. Hal ini sangat sensitif dan kontras dengan kehidupan manusia sehingga tidak ambil pusing untuk memikirkan atau merenungkannya, tetapi toh tidak mengubah keniscayaan kematian.

Merenungkan kematian atau kefanaan, para filsuf stoa merefleksikan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan dan mengerikan tetapi ia adalah bagian dari hukum alam (nature). Sehingga kita dianjurkan untuk hidup selaras dengan alam agar bisa hidup bahagia, karena kematian sebagai bagian dari alam bukanlah sesuatu yang menakutkan, bahkan seharusnya bisa membahagiakan.

Pada pemahaman di atas memberikan kita suatu pencerahan untuk tidak harus takut pada kematian tetapi menerimanya sebagai bagian dari hidup kita sekaligus hukum alam yang tidak bisa diintervensi oleh manusia.

Segala ketakutan kita akan kematian disebabkan bukan karena kematian itu sendiri tetapi anggapan atau gambaran dan konsep kita tentang kematian membuat takut. Jika pemahaman kita mengenai kematian adalah sesuatu yang menakutkan, maka reaksi kita pun menjadi negatif dan ingin menghindari untuk merenungkan kematian. Namun sebaliknya, jika pemikiran kita akan kematian bukanlah sesuatu yang menyeramkan, menakutkan dan ancaman akan kehidupan kita, maka kita pun akan lebih tenang dan positif untuk menghadapinya.

Jadi, para filsuf stoa memahami hal ini bahwa takut akan kematian dibentuk oleh interpretasi kita manusia, bukan kematian itu sendiri.

Merenungkan Kefanaan

Merenungkan kematian atau kefanaan tidak dapat membuat kehidupan ini tak bermakna melainkan sebaliknya bahwa merenungkan kematian membuat kita memiliki tujuan hidup.

Saat yang demikian kita bisa bercermin dari pengalaman seorang bangsawan Prancis Michael de Montaigne sebagai korban meninggal setelah terlempar dari kuda yang berlari kencang. Saat teman-temannya membawa pulang tubuh Montaigne yang lemas dan berdarah, Montaigne melihat bagaimana hidupnya menyelinap pergi dari tubuh fisiknya bagaikan tarian roh di ujung bibirnya hanya untuk kembali ke tubuhnya di detik-detik terakhir.

Demikian pun dalam kehidupan setiap kita memiliki pengalaman masing-masing atas kejadian yang di luar dari kendali kita membuat hidup ini tak memiliki tujuan, arti, makna dan tidak adil.

Persepsi membawa kita terlampau jauh untuk membenci terhadap apa yang kita alami, namun kita secara positif menanggapi peristiwa hidup yang sedang alami menyadarkan kita untuk kembali merenungkan kefanaan dan menjadikan sebuah momen untuk merefleksikan eksistensi diri serta sesuatu yang menggembirakan dan berdaya guna bagi kelangsungan hidup.

Pada kehidupan ini, mesti mengikatkan diri bahwa kita adalah makhluk yang fana. Kita berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengatakannya tetapi di lubuk hati terdalam kita bertindak dan bersikap seakan-akan tak terkalahkan atas kefanaan kita. Jika tidak mengakui kefanaan diri kita sendiri, maka kita akan  menghabiskan begitu banyak waktu dengan memikirkan hal-hal yang sepele.

Oleh karena itu, ingatlah bahwa jika sesuatu yang berada di bawah kendali kita, hal itu layak menerima setiap upaya dan energi kita. Tetapi sesuatu yang terjadi di luar dalam diri kita, maut atau kematian bukanlah salah satu yang tidak dapat mengendalikan berapa lama kita akan hidup atau apa yang akan datang dan mengambil kehidupan kita. Namun memikirkan dan menyadari kefanaan kita untuk menciptakan perspektif serta urgensi yang nyata karena hal ini juga justru menyadarkan kita sekaligus menghidupkan.

Kita bisa belajar menyesuaikan diri, merenungkan kematian kita setiap saat untuk berdamai dengan maut agar tetap kreatif, inovatif, produktif dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebab kematian inilah fakta kehidupan yang final dan membuat kita rendah hati untuk merenungkan  serta merefleksikan perjalanan eksistensi kita sambil menabur benih-benih kebaikan kepada dunia dan segala isinya. Karena kematian menyadarkan setiap kita untuk berbuat sesuatu yang bermakna di dunia nyata ini.

Kematian kita sebagai bagian dari hukum alam

Maut atau kematian bagaikan manajer panggung yang menurunkan tirai dan di protes oleh sang aktor. Ya, ini akan menjadi 3 (tiga) babak dan panjangnya drama hidup ini ditetapkan oleh Sang Kuasa di balik penciptaanmu, dan yang sekarang sedang mengarahkan kepulanganmu. Baik kedatanganmu maupun kepulanganmu tidaklah ditetapkan oleh dirimu sendiri. Maka, pergilah kamu dari hidup ini dengan penuh keikhlasan (Marcus Aurelius).

Jika kita hidup dalam konsep pikir di atas maka keberadaan kita di dunia ini atas dasar kehendak dan keinginan kita sendiri. Kita bukan sebuah makhluk yang memutuskan untuk suka  mengembara ke mana saja, misalnya saya mau ke sebarang sana di sini saja bosan dan kemudian tiba-tiba menjadi bayi namun kita semua lahir di luar dari kemauan kita. Maka, para filsuf stoa menyebutnya sebagai alam yang mengundang kita masuk ke dalam hidup dan poinnya tidak berubah yaitu kehadiran kita di kehidupan ini terjadi di luar kendali kita.

Jadi, dalam hal ini Marcus Aurelius memberikan suatu penekanan bahwa kita bisa meninggalkan dunia ini dengan ikhlas apabila kita menjalani hidup yang selaras dengan alam. Kehidupan yang terbebas dari emosi negatif misalnya ketakutan akan kematian, kecemasan, kemarahan, dendam, iri hati, dengki, dendam, awa nafsu, keserakahan dan lain sebagainya. Kemudian hidup atas dasar keutamaan yakni keberanian, keadilan, kedamaian, kemampuan untuk menahan diri, dan kebijaksanaan dalam memilih pilihan hidup.

Hidup yang tidak berlebihan dan selalu siap menghadapi keadaan apa pun serta hidup yang penuh perikemanusiaan kepada sesama, tanpa mendiskriminasi orang lain atas dasar apa pun adalah hidup selaras dengan alam dan para filsuf stoa percaya bahwa kapan pun hidup kita harus berakhir dengan baik serta sesungguhnya kita sudah menjalani hidup yang baik, dan kita akan menghadapi kematian dengan penuh ikhlas.(*)

Sumber. Manampiring Henry. 2018. Filosofis Teras, Filsafat Yunani-Romawi kuno untuk mental tangguh masa kini. Jakarta. Kompas

Holiday Ryan: 2023. Rintangan adalah jalan, filosofi tak lekang zaman untuk mu mengubah usaha coba-coba menjadi kemenangan. Jakarta. Gramedia

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lantik 15 Pejabat Eselon II Pemprov NTT, Ini Ketegasan & Imbauan Gubernur Viktor

    Lantik 15 Pejabat Eselon II Pemprov NTT, Ini Ketegasan & Imbauan Gubernur Viktor

    • calendar_month Ming, 28 Jul 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Saya dan Pak Josef tidak sedang melantik orang-orang pintar dan rakus. Kami tidak mau lantik orang yang datang hanya untuk jabatan. Kami butuh orang-orang berintegritas, tanpa pandang suku dan agama.” tegas Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) Pernyataan tegas Gubernur NTT tersebut disampaikannya saat hadir bersama Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi […]

  • Berpikir Positif dan Aksi Nyata Hadapi Kehidupan di Tengah Pandemi

    Berpikir Positif dan Aksi Nyata Hadapi Kehidupan di Tengah Pandemi

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Pandemi Covid-19 berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Masyarakat merasakan dampak kompleks pandemi tak hanya di sektor ekonomi tetapi sosial dan budaya. Pada saat ini, masyarakat dapat menumbuhkan dalam dirinya berpikir positif dan aksi nyata terhadap kebiasaan baru. Motivator Merry Riana menyampaikan bahwa berpikir positif dan aksi nyata dibutuhkan dalam menghadapi kebiasaan baru. […]

  • Didemo, Konsolidasi Kader Partai Demokrat NTT Tetap Berjalan

    Didemo, Konsolidasi Kader Partai Demokrat NTT Tetap Berjalan

    • calendar_month Sab, 5 Feb 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Dewan pimpinan daerah (DPD) Partai Demokrat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghelat konsolidasi kader periode 2021—2026 pada Sabtu, 5 Februari 2022, pukul 10.00 WITA—selesai di Grand Mutiara. Konsolidasi kader di bawah kepemimpinan Leo Lelo tersebut dihadiri seluruh pengurus baru dan seluruh dewan pimpinan cabang (DPC) se-NTT. Tampak hadir Wakil Ketua Umum […]

  • Ramadan 2024, PLN IP UBP Bukittinggi Salur Zakat Harta Pegawai

    Ramadan 2024, PLN IP UBP Bukittinggi Salur Zakat Harta Pegawai

    • calendar_month Kam, 14 Mar 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Loading

    Bukittinggi, Garda Indonesia | PLN Indonesia Power UBP Bukittinggi bekerja sama dengan Baznas Kabupaten Solok dan Basnaz Kabupaten Tanah Datar, menyalurkan zakat di Nagari Selingkar Danau Singkarak. Total zakat yang akan didistribusikan senilai 76 juta rupiah untuk Mustahik di 13 Nagari Salingka Danau Singkarak, yakni Nagari Paninggahan, Muaro Pinggai, Sumani, Singkarak, Kacang, Tikalak yang berada […]

  • Meutya Hafid Ajak Wartawan Peduli Keselamatan Diri

    Meutya Hafid Ajak Wartawan Peduli Keselamatan Diri

    • calendar_month Jum, 10 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid mengajak wartawan lebih peduli akan keselamatan diri saat mewartakan informasi di lapangan terutama informasi yang berhubungan dengan Covid-19. Meutya mengaku risau saat mendapat kabar adanya sejumlah wartawan yang dinyatakan positif Covid-19 karena masih harus bertugas di lapangan. “Kepada para wartawan yang menjadi garda terdepan […]

  • HUT Ke-113 Ebenhaezer Oeba, George Hadjoh Ajak Peduli Sampah

    HUT Ke-113 Ebenhaezer Oeba, George Hadjoh Ajak Peduli Sampah

    • calendar_month Sen, 3 Apr 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Penjabat Wali Kota Kupang, George M. Hadjoh, S.H. melepas peserta jalan sehat dan peduli sampah yang dihelat GMIT Ebenhaezer Oeba pada Sabtu pagi, 1 April 2023. Jalan sehat dan aksi pungut sampah bersama jemaat dilaksanakan dalam rangka menyongsong Paskah 2023 dan memperingati HUT ke-113 Gereja GMIT Ebenhaezer Oeba. Jalan sehat […]

expand_less