Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel » Nalar Diserahkan Hidup Ikut Diatur

Nalar Diserahkan Hidup Ikut Diatur

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 1 Feb 2026
  • visibility 271
  • comment 0 komentar

Loading

Di banyak tempat, orang menjalani hari dengan pola yang nyaris sama. Bangun, bekerja, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya esok hari. Di sela-sela itu, muncul keluhan tentang aturan, sistem, atau orang-orang yang “berkuasa”. Anehnya, keluhan sering berhenti di sana. Jarang berlanjut menjadi pertanyaan yang lebih dalam: mengapa kita begitu mudah menerima, bahkan ketika merasa tidak sepakat?

Sebuah survei yang dirangkum dalam laporan OECD tentang literasi orang dewasa menunjukkan bahwa banyak pembaca berhenti membaca buku serius setelah usia sekolah, bukan karena tak mampu, tetapi karena merasa tidak relevan dengan hidup sehari-hari. Buku-buku pemikiran dianggap berat, padahal di sanalah latihan bernalar dilakukan. Dalam bahasa sederhana, nalar jarang dipakai bukan karena rusak, melainkan karena jarang diajak bekerja. Inilah masalah utama yang sejak lama disoroti William Godwin: ketika akal sehat tidak dilatih, manusia cenderung menyerahkan hidupnya pada kebiasaan dan otoritas.

Pelan-pelan saja. Tidak ada tuntutan untuk menjadi berbeda secara drastis. Yang penting adalah memahami beberapa gagasan dasar yang bisa membantu menata ulang cara memandang diri dan dunia.

Menyadari hak bernalar

Godwin percaya bahwa setiap orang memiliki kemampuan bernalar yang setara. Masalahnya bukan pada kecerdasan, tetapi pada keberanian menggunakan nalar itu. Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa urusan besar adalah urusan mereka yang “lebih tahu”. Akibatnya, kebiasaan berpikir mandiri jarang dipakai, seperti otot yang lama tidak digerakkan.

Pada kehidupan sehari-hari, ini tampak sederhana. Ketika mendengar aturan baru di tempat kerja, banyak yang langsung patuh tanpa bertanya tujuan atau dampaknya. Bukan karena setuju, tetapi karena merasa bertanya hanya akan menambah masalah. Padahal, bertanya bukan tanda melawan, melainkan tanda memahami. Godwin melihat kesadaran diri dimulai saat seseorang berani mengakui: aku punya nalar, dan berhak menggunakannya.

Kesadaran ini sering datang dari momen kecil. Saat membaca berita dan merasa janggal, lalu mencari sumber lain. Saat berdiskusi dan menyadari bahwa pendapat sendiri berubah setelah mendengar argumen berbeda. Proses ini tidak nyaman, tetapi justru di sanalah kebebasan berpikir tumbuh. Kesadaran diri bukan tentang merasa paling benar, melainkan tentang tidak menyerahkan pikiran begitu saja.

Kebiasaan yang meninabobokan

Setelah kesadaran muncul, tantangan berikutnya adalah kebiasaan. Godwin mengingatkan bahwa kebiasaan sosial sering lebih kuat daripada paksaan. Orang bisa hidup bertahun-tahun dalam pola yang tidak disukai, hanya karena sudah terbiasa. Kebiasaan membuat sesuatu terasa normal, meski sebenarnya merugikan.

Contohnya ada di sekitar. Banyak orang terbiasa menyebut sesuatu “sudah aturan”, tanpa pernah tahu siapa yang membuat dan mengapa. Di rumah, anak jarang diajak berdiskusi karena dianggap belum pantas. Di kantor, ide segar disimpan karena takut dianggap aneh. Kebiasaan ini tidak lahir dari niat jahat, tetapi dari rasa aman semu.

Godwin melihat bahaya kebiasaan yang tidak disadari: ia mematikan refleksi. Ketika sesuatu dilakukan otomatis, nalar berhenti bekerja. Padahal kebebasan tidak pernah tumbuh dari otomatisasi hidup. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilatih sadar, seperti membiasakan membaca argumen berbeda, atau meluangkan sepuluh menit untuk berpikir ulang sebelum menyetujui sesuatu. Kebiasaan baru ini memang terasa canggung di awal, tetapi pelan-pelan menghidupkan kembali daya pikir.

Risiko menyerahkan pikiran

Jika kebiasaan patuh terus dipelihara, risikonya tidak langsung terasa, tetapi dalam jangka panjang sangat nyata. Godwin menilai bahwa menyerahkan pikiran kepada otoritas siapa pun bentuknya membuat manusia kehilangan tanggung jawab atas pilihannya sendiri. Ketika hasilnya buruk, yang disalahkan selalu pihak luar.

Pada kehidupan sehari-hari, ini terlihat saat orang berkata, “Saya cuma ikut perintah.” Kalimat ini terdengar netral, tetapi menyimpan bahaya. Ia memutus hubungan antara tindakan dan tanggung jawab moral. Seseorang bisa melakukan hal yang tidak ia yakini, hanya karena merasa tidak punya pilihan.

Risiko terbesar dari sikap ini adalah tumpulnya empati dan penilaian moral. Ketika nalar tidak digunakan, manusia mudah terbawa arus. Godwin khawatir bukan pada kekacauan, melainkan pada kepatuhan tanpa pikir. Masyarakat seperti ini tampak tertib, tetapi rapuh. Begitu aturan berubah atau otoritas keliru, sedikit yang mampu berdiri dengan penilaian sendiri.

Solusi melalui dialog dan nalar

Bagi Godwin, solusi tidak datang dari revolusi mendadak, melainkan dari dialog rasional yang terus-menerus. Ia percaya bahwa kebenaran lebih kuat jika lahir dari pertukaran gagasan, bukan dari paksaan. Ini terdengar sederhana, tetapi jarang dipraktikkan.

Di kehidupan nyata, dialog rasional bisa dimulai dari hal kecil. Diskusi keluarga tanpa nada menggurui. Rapat kerja yang memberi ruang berbeda pendapat tanpa sanksi sosial. Lingkungan belajar yang menghargai pertanyaan, bukan hanya jawaban cepat. Semua ini membangun kepercayaan pada nalar kolektif.

Godwin menekankan bahwa perubahan yang sehat tidak membutuhkan figur sempurna. Ia membutuhkan orang biasa yang mau berpikir jujur dan mendengarkan. Ketika dialog menjadi kebiasaan, otoritas tidak lagi berdiri di atas ketakutan, melainkan di atas persetujuan yang sadar. Inilah solusi yang tidak spektakuler, tetapi berakar kuat.

Konsistensi dalam mengelola pikiran

Kesadaran, kebiasaan, risiko, dan solusi akan sia-sia tanpa konsistensi. Godwin melihat kebebasan sebagai proses panjang, bukan tujuan instan. Menggunakan nalar sekali-dua kali tidak cukup. Ia harus dilatih seperti kebiasaan harian.

Konsistensi tampak dari pilihan kecil: tetap membaca meski lelah, tetap bertanya meski tidak populer, tetap berpikir meski hasilnya belum jelas. Seperti menyisihkan waktu lima belas menit sehari untuk refleksi, atau menunda keputusan impulsif dengan berpikir ulang. Tidak heroik, tetapi nyata.

Dengan konsistensi, seseorang tidak mudah goyah oleh tekanan sesaat. Ia tahu mengapa memilih, dan siap menanggung akibatnya. Inilah kebebasan versi Godwin: tenang, rasional, dan bertanggung jawab. Bukan bebas tanpa batas, melainkan bebas dalam mengelola diri.

Pada akhirnya, hidup tidak menunggu kondisi ideal untuk berubah. Ia bergerak ketika seseorang memutuskan menggunakan nalarnya, lalu menjaganya tetap hidup dalam kebiasaan sehari-hari. Perubahan besar lahir dari pengelolaan kecil yang konsisten.

Jika selama ini banyak keputusan diambil tanpa benar-benar dipikirkan, pertanyaannya sederhana: kapan terakhir kali nalar diberi ruang untuk memimpin, bukan sekadar mengikuti? (*)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ‘Virtual Police’ Ajukan 1.042 Konten Media Sosial Bermuatan SARA

    ‘Virtual Police’ Ajukan 1.042 Konten Media Sosial Bermuatan SARA

    • calendar_month Kam, 10 Feb 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Hingga kini, terdapat 1.042 konten di media sosial yang diajukan virtual police. Demikian diungkapkan Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono dalam konferensi virtual pada Kamis, 10 Februari 2022. Ia menyebut pengunggahnya akan diedukasi dan diberi peringatan. “Sampai dengan saat ini, Polri telah mengajukan 1.042 konten untuk dihadirkan untuk diedukasi dan diberikan peringatan,” […]

  • Status WNI Helio Caetano Moniz Palsu? FKPT2 Bikin Laporan ke Polres Belu

    Status WNI Helio Caetano Moniz Palsu? FKPT2 Bikin Laporan ke Polres Belu

    • calendar_month Sab, 1 Mei 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Forum Komunikasi Pejuang Timor–Timur (FKPT2) Kabupaten Belu melaporkan Helio Caetano Moniz De Araujo atas dugaan pemalsuan status kewarganegaraan Republik Indonesia, ke Polres Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 30 April 2021. Salinan surat laporan yang diterima Garda Indonesia, menyebutkan identitas terlapor atas nama Helio Caetano Moniz De Araujo; Jenis […]

  • Pemkab Sabu, Bank NTT & Investor Kerja Sama Bangun Tangki BBM di Pulau Sabu

    Pemkab Sabu, Bank NTT & Investor Kerja Sama Bangun Tangki BBM di Pulau Sabu

    • calendar_month Jum, 11 Okt 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Impian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua untuk mewujudkan daerahnya bebas dari krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) bakal berakhir. 9 (sembilan) bulan dari Oktober 2019, bakal didirikan tangki BBBM berkapasitas 1.000—2.000 kilo liter. Kepastian pembangunan tangki BBM tersebut disampaikan oleh Bupati Sabu Raijua, Ir. Nikodemus Rihi Heke usai bertemu dengan Direktur Utama […]

  • Penguatan Keluarga dalam Mewujudkan Kabupaten/Kota Layak Anak

    Penguatan Keluarga dalam Mewujudkan Kabupaten/Kota Layak Anak

    • calendar_month Sel, 24 Jul 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Loading

    Surabaya (23/7),gardaindonesia.id-Kasus perkawinan anak yang tinggi akan berdampak pada masalah pendidikan, kesehatan, perekonomian, dan kekokohan lembaga terkecil bangsa ini : keluarga. Fakta ini menunjukkan bahwa anak sedemikian rentan menjadi korban pelanggaran Hak Asasi anak. Deretan pelanggaran tersebut serasa tak habis-habisnya : bullying, KDRT, pekerja anak, materi siaran TV yang tidak layak dikonsumsi bagi anak, kurangnya […]

  • Panglima TNI Terima Kunjungan Kapolri Idham Azis

    Panglima TNI Terima Kunjungan Kapolri Idham Azis

    • calendar_month Sab, 2 Nov 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Panglima TNI Marsekal TNI Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto, S.I.P. menerima kunjungan Kapolri Jenderal Polisi Drs. Idham Azis, M.Si, bertempat di Subden Mabes TNI, Jalan Merdeka Barat No. 2 Jakarta Pusat pada Jumat, 1 November 2019. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2019/11/02/presiden-jokowi-lantik-idham-aziz-sebagai-kapolri/ Kunjungan Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis kepada Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto […]

  • BPJS Ketenagakerjaan Diskon 50 Persen Iuran Bagi Pengemudi Ojol dan Kurir

    BPJS Ketenagakerjaan Diskon 50 Persen Iuran Bagi Pengemudi Ojol dan Kurir

    • calendar_month Jum, 16 Jan 2026
    • account_circle Penulis
    • visibility 399
    • 0Komentar

    Loading

    Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Indah Anggoro Putri, menyampaikan potongan iuran ini membuat perlindungan sosial menjadi lebih mudah diakses.   Jakarta | BPJS Ketenagakerjaan memastikan seluruh pengemudi ojek online (ojol) yang terdaftar sebagai peserta akan mendapatkan potongan iuran sebesar 50 persen. Kebijakan ini merupakan bagian dari paket […]

expand_less