Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Partai Pendukung Mulai Berani Serang Kebijakan Prabowo

Partai Pendukung Mulai Berani Serang Kebijakan Prabowo

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Ming, 1 Mar 2026
  • visibility 492
  • comment 0 komentar

Loading

Kalau PDIP mengkritik, itu biasa. Refleks politik. Otot oposisi memang dilatih untuk itu. Namun ketika partai-partai koalisi sendiri mulai angkat suara, di situlah publik mendadak berhenti mengunyah gorengan dan menatap layar lebih serius. Kebijakan impor 105.000 unit pikap dan truk ringan senilai Rp 24,66 triliun oleh PT Agrinas Pangan Nusantara mendadak bukan cuma soal kendaraan, melainkan soal keberanian politik.

Di tengah visi Presiden Prabowo Subianto tentang kemandirian industri dan penguatan produksi dalam negeri, kontrak impor dari India yang mencakup 35.000 Mahindra Scorpio Pick-Up, 35.000 Tata Yodha Pick-Up, dan 35.000 Ultra T.7, terasa seperti adegan yang tidak sinkron dengan soundtrack nasionalisme ekonomi. Uang muka sudah dibayar 30% atau Rp 7,39 triliun. Klaim penghematan disebut mencapai Rp 46 triliun dibanding membeli produk lokal. Namun di sisi lain, ada proyeksi potensi gerusan PDB hingga Rp 39 triliun jika industri dalam negeri terdampak.

PDIP melalui Ketua Banggar DPR Said Abdullah terang-terangan meminta pembatalan. Ia menilai kebijakan ini berpotensi menggerus ekonomi nasional dan menunjukkan manajemen Agrinas belum sepenuhnya memahami arah besar presiden. Bagi oposisi, kritik semacam ini wajar. Itulah fungsi kontrol.

Yang membuat situasi berubah nada adalah suara dari partai koalisi sendiri. Dari Partai Golkar, Idrus Marham menyatakan dukungan terhadap penundaan kebijakan. Ia sejalan dengan seruan agar keputusan besar seperti ini dikaji ulang. Rekannya sesama kader Golkar di Komisi IV, Firman Soebagyo, bahkan menyindir agar pidato tentang kemandirian industri tidak berhenti sebagai slogan. Golkar bukan partai kecil dalam koalisi. Suara mereka biasanya identik dengan stabilitas dukungan.

Dari Partai Demokrat, anggota Komisi VI Herman Khaeron mengaku terkejut karena rencana impor jumbo ini tidak pernah dibahas detail dalam rapat dengar pendapat. Ia merasa DPR seperti mengetahui kabar ini justru dari media. Rasa “kecolongan” yang diungkap Demokrat menambah daftar panjang keganjilan komunikasi politik dalam kebijakan ini.

Gerindra sendiri, sebagai partai presiden, juga tidak menampilkan sikap serba membela. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad meminta agar keputusan final menunggu kepulangan presiden dari luar negeri. Pernyataan itu memang diplomatis, tetapi tetap menunjukkan bahwa kebijakan ini belum solid di lingkar dalam koalisi.

Di Komisi VI, Wakil Ketua Nurdin Halid menegaskan, impor harus sesuai UUD 1945 dan kepentingan nasional. Kalimat normatif, tetapi dalam konteks ini terasa sebagai alarm. Jika semua baik-baik saja, biasanya tidak perlu ada pengingat konstitusional.

Fakta di lapangan menambah tekanan. Sekitar 1.000 unit sudah tiba di Tanjung Priok, dengan laporan hampir 1.000 Mahindra Scorpio dan 552 unit telah keluar dari TPS setelah clearance. Barangnya sudah nyata. Jika dibatalkan, ada potensi penalti bisnis. Jika dilanjutkan, kritik politik membesar.

Inilah yang membuat judul ini terasa relevan. Partai pendukung mulai berani menyerang kebijakan presiden. Serangan itu mungkin masih dibungkus kata “evaluasi”, “penundaan”, atau “kajian ulang”, tetapi substansinya jelas, keberatan. Dalam politik koalisi, keberanian semacam ini bukan hal lumrah, terutama di awal pemerintahan yang biasanya masih dalam fase konsolidasi.

Publik kini menyaksikan dinamika yang jarang terjadi. Oposisi bersuara keras, koalisi ikut mengerem, dan kebijakan bernilai triliunan berada di persimpangan. Apakah ini pertanda koalisi yang kritis dan sehat? Atau sinyal adanya retakan komunikasi di tingkat elite? Yang pasti, kebijakan impor pikap ini telah berubah menjadi panggung ujian solidaritas politik.(*)

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kombes Pol Nelson Quintas.: Kota Kupang Relatif Terkendali dari Narkotika

    Kombes Pol Nelson Quintas.: Kota Kupang Relatif Terkendali dari Narkotika

    • calendar_month Sab, 23 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 613
    • 0Komentar

    Loading

    “Kita bangga Kota Kupang dan NTT tak seperti kota besar dan provinsi lain di Indonesia,” tekan Kepala BNN Kota Kupang, Kombes Pol Nelson Quintas yang sempat pula menangkap pengedar narkoba dari India.   Kota Kupang | Nusa Tenggara Timur (NTT) terutama Kota Kupang cenderung tak seperti beberapa kota besar di Indonesia yang masif dari bahaya […]

  • Bank NTT Bantu Dana Dukung Konas FK-PKB PGI XV di NTT

    Bank NTT Bantu Dana Dukung Konas FK-PKB PGI XV di NTT

    • calendar_month Jum, 14 Okt 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 146
    • 1Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTT menyerahkan bantuan dana mendukung kegiatan Konsultasi Nasional Forum Komunikasi Pria Kaum Bapa (FK-PKB) PGI XV. Bantuan dana sebesar 200 juta rupiah tersebut diserahkan secara simbolis kepada Panitia kegiatan di kantor pusat Bank NTT lantai 2 pada Rabu, 12 Oktober 2022. Direktur Kredit Bank NTT, Paulus Steven […]

  • Sinergi 3 Pemimpin Perempuan dalam Refleksi Pemberdayaan Perempuan 2020

    Sinergi 3 Pemimpin Perempuan dalam Refleksi Pemberdayaan Perempuan 2020

    • calendar_month Sel, 5 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Tahun 2020 menjadi tahun yang tidak mudah bagi kita semua, tak terkecuali pada pemberdayaan perempuan Indonesia. Diskriminasi dan tak berkeadilan masih menjadi tantangan pemberdayaan perempuan Indonesia bahkan sejak Kongres Wanita Indonesia I Tahun 1928. Padahal dikatakan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga, tanpa kemajuan perempuan sulit bagi Bangsa […]

  • Doni Salmanan Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Quotex

    Doni Salmanan Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Quotex

    • calendar_month Rab, 9 Mar 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Bareskrim Polri menetapkan Crazy Rich Bandung Doni Salmanan menjadi tersangka kasus dugaan penipuan dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) platform Quotex. Penetapan tersebut dilakukan usai polisi melakukan gelar perkara. “Gelar perkara menetapkan atau meningkatkan status yang bersangkutan DS (Doni Salmanan) dari status saksi menjadi tersangka,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri […]

  • Optimalkan Pelayanan, Dinas PMD Belu Diseminasi Mekar Desa

    Optimalkan Pelayanan, Dinas PMD Belu Diseminasi Mekar Desa

    • calendar_month Rab, 21 Apr 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Guna mengoptimalkan penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat pada desa–desa yang memiliki penduduk padat dan wilayahnya luas, maka Pemerintah Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan memprakarsai pembentukan/ pemekaran desa. Hal ini tertuang dalam surat pemberitahuan Sosialisasi Pembentukan/ Pemekaran Desa tanggal 9 April 2021, nomor: DPMD.010/ […]

  • 400 Warga Sumatra Barat di Wamena Minta Pulang ke Kampung Halaman

    400 Warga Sumatra Barat di Wamena Minta Pulang ke Kampung Halaman

    • calendar_month Kam, 26 Sep 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 180
    • 0Komentar

    Loading

    Padang, Garda Indonesia | Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit menyebutkan, tercatat sebanyak 400 warga asli Sumatra Barat yang berada di Wamena, minta dipulangkan ke kampung halaman. Keinginan mereka pulang, menyusul kondisi di Wamena yang sampai saat ini masih belum kondusif. “Sampai hari ini yang tercatat di Dandim Pesisir Selatan, yang sudah mendaftar untuk pulang […]

expand_less