Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Wisata dan Budaya » Regina Pacis Magetan, Gereja Katolik di Lereng Gunung Lawu Diapit Kemajemukan

Regina Pacis Magetan, Gereja Katolik di Lereng Gunung Lawu Diapit Kemajemukan

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 5 Okt 2025
  • visibility 148
  • comment 0 komentar

Loading

Gereja yang tampak agung berdiri di lereng Gunung Lawu itu menaungi sekitar 1.400 umat Katolik yang hidup di tengah kemajemukan. Perlu diketahui, mayoritas penduduk Kabupaten Magetan beragama Islam, sekitar 98,99% atau 685.786 jiwa.

 

Magetan | Pengalaman berharga bagi redaksi Portal Berita Garda Indonesia dapat mengikuti Misa Ekaristi pada Minggu, 28 September 2025 di Gereja Katolik Paroki Regina Pacis Magetan, Jawa Timur.

Gereja yang tampak agung berdiri di lereng Gunung Lawu itu menaungi sekitar 1.400 umat Katolik yang hidup di tengah kemajemukan. Perlu diketahui, mayoritas penduduk Kabupaten Magetan beragama Islam, sekitar 98,99% atau 685.786 jiwa, berdasarkan data semester 2 tahun 2024. Selain itu, terdapat juga pemeluk agama lain, yaitu Kristen dengan 4.994 jiwa, Katolik 1.400 jiwa, Buddha 515 jiwa, dan Hindu 88 jiwa. Sementara, jumlah penduduk Magetan, pada semester 1 tahun 2025 adalah 694.657 jiwa, terdiri dari 341.088 jiwa laki-laki dan 353.569 jiwa perempuan (data Dispendukcapil Magetan).

Menyusuri setiap lekuk Kota Magetan yang tampak asri dan bersih sembari mendengarkan riak deras air di selokan yang memberikan kehidupan bagi para petani yang sementara menanam jagung dan tebu (Magetan menjadi salah penyumbang surplus komoditi jagung dan tebu untuk Jawa Timur).

Dua malam melepas lelah di lokasi penyamakan kulit terbesar di Jawa Timur itu, belumlah cukup hingga dapat menyusuri setiap lekuk lingkungan industri kulit (LIK) termasuk lingkungan industri kecil yang bergelut di bidang industri pengolahan kulit hingga diversifikasi produk turunannya.

“Adakah orang yang tak bisa makan di sekitar kita?”, pertanyaan reflektif ini dilontarkan Romo Hersemedi, CM dalam Misa Ekaristi di Gereja Katolik Paroki Regina Pacis Magetan, Jawa Timur, pada Minggu, 28 September 2025.

Romo Hersemedi dalam renungan refleksi menekankan kepada umat tentang kehidupan Katolik yang seharusnya peduli kepada kehidupan sesama di sekitarnya.

Ia merefleksikan kehidupan seseorang yang tidak melakukan kejahatan fisik, namun melakukan dosa kelalaian, dosa tidak peduli, hidup untuk diri sendiri, menikmati segala sesuatu untuk diri sendiri, dan mengabaikan orang-orang di sekitarnya. Umat Katolik yang bernaung di dalam Gereja Katolik Paroki Regina Pacis Magetan yang terletak di kaki Gunung Lalwu itu pun khidmat mendengar dan merenungkan renungan refleksi.

“Ini merupakan cerminan tajam untuk kita hari ini. Kita mungkin kita tidak memiliki tempat tidur dari gading, namun terkadang kita sibuk dengan pekerjaan dan tidak peduli dengan keadaan sekitar,” tekan Romo Hersemedi sembari melecutkan ilustrasi di Flores punya gading, namun tak memiliki gajah.

Romo Hersemedi yang resmi menjadi pastor kepala Paroki Regina Pacis Magetan sejak 21 Juli 2025 ini mengisahkan kehidupan Santo Vicensius, seorang Imam ambisius karena di masanya menjadi Imam adalah lompatan, namun pengalaman bersama orang miskin mengubah sikapnya terhadap orang-orang susah di sekitarnya. Ia mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang miskin dan orang-orang terlantar lalu membentuk kelompok dan perkumpulan kongregasi

Vincentius a Paulo (Vincensius a Paulo; 24 April 1581 – 27 September 1660) adalah seorang kudus (santo) dan tokoh pembaru Gereja Katolik Prancis. Vincentius juga disebut “Bapak orang miskin” karena cinta dan pelayanannya kepada orang miskin. Oleh Paus Leo XIII, Paus pencetus Ajaran Sosial Gereja, Vincentius dideklarasikan sebagai santo pelindung (patron saint) karya amal cinta kasih Gereja Katolik (bersama Santa Luisa de Marillac pada waktu Paus Yohanes XXIII dalam suratnya Omnibus Mater).

Sejarah Gereja Katolik Paroki Regina Pacis Magetan

Umat Katolik di Magetan, Jawa Timur pada kisaran tahun 1938, waktu itu belum ada pastoran, apalagi gereja. Pastor dapat beristirahat malam di rumah keluarga-keluarga Katolik.

Lanskap dalam Gereja Katolik Paroki Regina Pacis Magetan. Foto : Roni Banase

Dilansir dari keuskupansurabaya.org, tempat ibadatnya menggunakan rumah keluarga dan berpindah pindah bahkan menggunakan ruang sidang Kantor Pengadilan Negeri pada tahun. Lalu pada 1940 tempat ibadah pindah ke rumah yang disewa di Jalan Jaksa Agung Suprapto No.1 (lokasi kapel yang sekarang dan sekaligus gereja stasi sekaligus gereja paroki yang pertama).

Tahun 1942 Saat Perang Dunia II berkobar, pelayanan di Stasi Magetan sempat mengalami kevakuman karena pada saat itu banyak Imam-imam yang di tahan oleh pemerintah Jepang. Saat itu, tempat ibadat pindah ke rumah di Jalan A. Yani (Grogol) karena gereja stasi digunakan menyimpan benda-benda suci dan berharga dari Gereja Madiun. Setelah Perang Dunia II berakhir kegiatan gerejani dimulai kembali di rumah Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Pada era revolusi fisik (1945—1959), Indonesia dilanda semangat anti-Belanda dan nasionalisasi segala yang berkaitan dengan Belanda. Akibatnya, pada tahun 1949 didatangkan lah seorang Pastor Pribumi yaitu Pastor Ig. Dwidjosoesastro,CM untuk menggantikan Pastor J.M.van Goethem,CM.

Beberapa pastor yang pernah bertugas di Stasi Magetan (meskipun tidak menetap) pada masa itu adalah RP. H. Niesen, CM, RP. W. Jansen, CM, RD. A. J. Dibjokarjono, RP. Van der Borght, CM, RP. A. J. Wignjopranata, CM, RP. N. P. J. Boonekamp, CM, RP. Abele Brunetti, CM, RP. J. Bartels, CM, RD. H. Windrich.

Pada 1 Januari 1972, Gereja Stasi Magetan diangkat menjadi paroki seiring dengan mulai menetapnya RP. Eugenio Bellini, CM di Magetan. Dengan demikian, Stasi Magetan menjadi Paroki St. Petrus dan Paulus. Paroki ini membawahi beberapa stasi, di antaranya:

• Stasi St. Vincentius Parang yang dirintis sejak tahun 1963oleh Bapak Santoso, Bapak Heribertus Tojib, Bapak Agustinus Soebani, Bapak Stefanus Roestamadji (ketua stasi yang pertama), dan lain-lain.

• Stasi St. Yusuf Plaosan dan Kwarigan yang dirintis sejak 1967 oleh RP. Abele Brunetti, CM, Bapak Wardijo, Bapak Suyitno, Bapak Petrus Suranto, Bapak, J. E. Sumarjadi, dan lain-lain.

• Stasi St. Yosef Karangrejo yang dirintis sejak 1967 oleh RP. Carlo del Gobbo, CM, RP. Abele Brunetti, CM, Bapak Y.G.V. Soeprapto, Bapak Pudjo Susanto, dan lain-lain. Awalnya stasi ini bernama Stasi St.Petrus tetapi untuk membedakan dari pelindung gereja paroki, maka diubah menjadi St. Yosef dan sekaligus disamakan dengan pelindung SMPK.

• Stasi Maospati (pada 1996 mengambil nama pelindung St. Petrus dan Paulus) yang dirintis sejak 1968 oleh Bapak Christianus Soentoro, Bapak Bernardus, Ibu Aloysia, dan lain-lain.

• Stasi St. Maria Goranggareng yang dirintis sejak 1978 oleh Bapak Miranto, Bapak Petrus Sastro Gimun, dan para calon katekis dari STKIP Widya Yuwana Madiun.

• Stasi Kerik yang dirintis sejak 1980 oleh RP. Filipo Catini, CM, Bapak Y.F.X. Soehartono, dan para calon katekis dari STKIP Widya Yuwana.

Selain enam stasi tersebut, Paroki St. Petrus dan Paulus Magetan juga mempunyai beberapa lingkungan, di antaranya adalah Lingkungan St. Thomas (Selatan), Lingkungan St. Antonius (Timur), Lingkungan St. Stefanus (Utara), Lingkungan St. Vincentius (Barat).

Pada tahun 1995, RP. Sebastiano Fornasari, CM membangun gereja baru di Jalan Panekan. Bersamaan dengan itu pula, nama paroki juga berganti menjadi Paroki Regina Pacis Magetan (atas usulan RP. Filipi Catini, CM dan disetujui oleh Mgr. J. Hadiwikarta) hingga sekarang.

Penulis (+roni banase/ragam)

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Desa Sebowuli Memanggil di Pesta Emas Desa, Panitia Helat Berbagai Lomba

    Desa Sebowuli Memanggil di Pesta Emas Desa, Panitia Helat Berbagai Lomba

    • calendar_month Sen, 19 Agu 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Loading

    Bajawa-NTT, Garda Indonesia | Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-50 Desa Sebowuli di Kecamatan Ine Rie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 27 September 2019, pihak panitia mengadakan berbagai macam kegiatan untuk menyatukan warga desa di dalam dan di luar negeri. Kegiatan-kegiatan yang bakal dihelat seperti pertandingan bola kaki, pertandingan voli putera, pertandingan […]

  • Antara Masduki dan Dumisake

    Antara Masduki dan Dumisake

    • calendar_month Jum, 11 Okt 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Drs. Mangatur Marojahan Siregar (Pemerhati Sosial) Siapa yang tidak pernah dengar nama bunglon? nama yang tidak asing di telinga kita, yang tentunya semua orang pasti kenal makhluk yang satu ini. Ia salah satu binatang yang lihai mengubah diri di mana pun ia berada untuk kenyamanan dan keselamatan diri sendiri. Warna tubuh bisa berubah-ubah setiap […]

  • Ngopi Bersama Media, Dekranasda NTT Kenalkan 19 Varian Kopi dari 11 Kabupaten

    Ngopi Bersama Media, Dekranasda NTT Kenalkan 19 Varian Kopi dari 11 Kabupaten

    • calendar_month Sab, 10 Okt 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Julie Sutrisno Laiskodat dalam sesi “Ngopi Bersama Wartawan Media Cetak, Elektronik, dan Online” pada Kamis sore, 8 Oktober 2020 di Gedung Dekranasda NTT; menyampaikan capaian kinerja Dekranasda NTT kurun waktu 2018—2020. Di hadapan wartawan yang memadati ruang pamer beraneka ragam hasil […]

  • Sokong Gerakan Kupang Hijau, Wali Kota Kupang & Plt Dirut Bank NTT Helat Rapat

    Sokong Gerakan Kupang Hijau, Wali Kota Kupang & Plt Dirut Bank NTT Helat Rapat

    • calendar_month Jum, 3 Jul 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Guna mempersiapkan Gerakan Kupang Hijau (GHK) melalui aksi tanam pohon dan gowes atau bersepeda bersama pada 11 Juli 2020, maka Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore menghelat rapat persiapan pelaksanaan GKH, pada Rabu, 1 Juli 2020 di Rumah Jabatan Walikota Kupang. Dalam arahannya, Wali Kota Jefri menyampaikan bahwa GKH merupakan […]

  • KPUD Belu Luncurkan Pemilihan Bupati/Wakil Bupati Tahun 2020

    KPUD Belu Luncurkan Pemilihan Bupati/Wakil Bupati Tahun 2020

    • calendar_month Sab, 14 Des 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan (Launching) Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Belu Tahun 2020, di Aula Graha Kirani Atambua, pada Sabtu 14 Desember 2019. Kegiatan Launching itu dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Belu, JT Ose Luan. Dalam sambutannya, Ose Luan mengatakan, peristiwa […]

  • Kadis Kominfo Belu Harap Kemitraan RRI dengan Pemda Ditingkatkan

    Kadis Kominfo Belu Harap Kemitraan RRI dengan Pemda Ditingkatkan

    • calendar_month Sab, 11 Sep 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Loading

    Belu–NTT, Garda Indonesia | Pemerintah adalah pelayan masyarakat, dan masyarakat adalah pendengar RRI. Ke depan, kemitraan antara RRI Atambua dan Pemerintah Daerah semakin ditingkatkan sehingga upaya–upaya pelayanan terhadap masyarakat dapat dilakukan secara optimal. Tentu, pemerintah siap memberi support agar konten–konten RRI lebih melibatkan masyarakat level bawah. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten […]

expand_less