Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Sejarah Imlek—Perayaan di Indonesia Mulai Era Gus Dur dan Megawati

Sejarah Imlek—Perayaan di Indonesia Mulai Era Gus Dur dan Megawati

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sel, 17 Feb 2026
  • visibility 366
  • comment 0 komentar

Loading

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama (Hanzi: 正月; pinyin: zhēng yuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh (十五暝 元宵節) pada tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī (除夕) yang berarti “malam pergantian tahun”.

Perayaan Imlek menandai akhir musim dingin dan awal musim semi, festival ini berlangsung dari malam Tahun Baru Imlek (malam sebelum hari pertama tahun) hingga Festival Lentera, yang diadakan pada hari ke-15. Hari pertama Tahun Baru Imlek jatuh pada bulan baru yang muncul antara 21 Januari dan 20 Februari.

Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan tahun baru Imlek sangat beragam. Namun, semuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam tahun baru yang sangat beragam dan berwarna-warni, serta penyulutan kembang api, juga pembagian angpao atau sering disebut hóngbāo (红包) yang dilakukan oleh orang orang yang sudah menikah kepada yang belum menikah. Meskipun penanggalan Imlek secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok sering kali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2017 Masehi, “Tahun Tionghoa” dapat jadi tahun 4715, 4714, atau 4654.

Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873).

Puisi Tahun Baru Imlek tulisan tangan ditempel pada pintu ke rumah orang, di Lijiang, Yunnan, Tiongkok. Foto : Wikipedia

Di Daratan Tiongkok, Hongkong, Makau, Taiwan,Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi Suku Han yang signifikan, Tahun Baru Imlek juga dirayakan, dan telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.

Imlek di Indonesia

Di Indonesia, selama tahun 1968—1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.

Bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia, perayaan Imlek adalah sebuah perjalanan sejarah. Kita pernah melewati masa pembatasan selama Orde Baru. Namun, suasana berubah ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden.

Gus Dur mencabut Inpres No. 14/1967, mengembalikan kebebasan berekspresi budaya. Langkah ini kemudian disempurnakan oleh Presiden Megawati yang menetapkan Imlek sebagai Hari Libur Nasional. Kini di tahun 2026, Imlek telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Nusantara.

Lampion Tahun Baru Imlek. Foto : pexels / Hong Zhu/

Makna di balik warna merah dan suara bising

Tahun 2026 ini, kita kembali melihat dekorasi merah yang semarak. Namun, pernahkah Anda bertanya mengapa Imlek identik dengan warna merah dan suara petasan? Ternyata, ini adalah strategi pertahanan diri dari masa lalu.

Menurut legenda, dahulu kala, Nián (年) adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan (atau dalam ragam hikayat lain, dari bawah laut), yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak, dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri mereka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. Dipercaya bahwa dengan melakukan hal itu, maka Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil panen.

Pada suatu waktu, penduduk melihat Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Sejak saat itu, Nian tidak pernah datang kembali ke desa. Nian pada akhirnya ditangkap oleh 鸿钧老祖 atau 鸿钧天尊 Hongjun Laozu, dewa Taoisme dalam kisah Fengsheng Yanyi, dan dijadikan kendaraan Honjun Laozu. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengusiran Nian ini kemudian berkembang menjadi perayaan tahun baru. Guò nián (Hanzi tradisional: 過年; Hanzi: 过年), yang berarti “menyambut tahun baru”, secara harfiah berarti “mengusir Nian”.

Tradisi turun-temurun dipakai hingga saat ini..Nenek moyang masyarakat Tiongkok menemukan “titik lemah” sang monster:

  • Nian takut pada warna merah.
  • Nian benci cahaya terang (api/lampion).
  • Nian panik mendengar suara ledakan.

Apa yang dulunya adalah upaya bertahan hidup berbasis probabilitas, kini menjadi pesta budaya yang kita rayakan bersama.(*)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pembantu Rumah Tangga Asal TTS Dianiaya Penjudi Bingo di Belu

    Pembantu Rumah Tangga Asal TTS Dianiaya Penjudi Bingo di Belu

    • calendar_month Ming, 10 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Nasib nahas menimpa seorang wanita kelahiran Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nelci Manao (36), yang kesehariannya memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT). Ia dihina dan dianiaya hingga babak belur dan sempat tak sadarkan diri oleh tetangganya dan sekelompok penjudi Bingo di Lingkungan Lesepu, RT 18C/ RW […]

  • Operasi Yustisi di Malam Tahun Baru, Polres Selayar Pakai Sanksi ‘Push up’

    Operasi Yustisi di Malam Tahun Baru, Polres Selayar Pakai Sanksi ‘Push up’

    • calendar_month Sab, 2 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Loading

    Selayar, Garda Indonesia | Operasi yustisi gabungan besar-besaran di bawah kendali Kapolres Kepulauan Selayar, AKBP. Temmangngaro Machmud S.IK dihelat, tepat di malam pergantian tahun 2021. Operasi yustisi gabungan melibatkan seluruh jajaran aparat kepolisian Polres Kepulauan Selayar, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) serta gugus tugas penanganan Covid-19 dipimpin langsung oleh Kepala […]

  • Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Gus Nur Dapat Amnesti Presiden Prabowo

    Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Gus Nur Dapat Amnesti Presiden Prabowo

    • calendar_month Rab, 6 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Loading

    Pemberian amnesti ini merupakan bentuk penggunaan hak prerogatif Presiden sebagaimana diatur dalam Pasal 14 UUD 1945.   Jakarta | Presiden Prabowo Subianto memberikan amnesti kepada Sugi Nur Raharja alias Gus Nur, yang sebelumnya divonis enam tahun penjara dalam kasus pencemaran nama baik terkait tuduhan ijazah palsu Presiden Ke-6 RI Joko Widodo. Amnesti ini tertuang dalam […]

  • Tertibkan Aset Daerah, Ketua LPPKPD Apresiasi Langkah Bupati Manggarai

    Tertibkan Aset Daerah, Ketua LPPKPD Apresiasi Langkah Bupati Manggarai

    • calendar_month Kam, 18 Mar 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Loading

    Ruteng, Garda Indonesia | Menanggapi pengelolaan aset Pemda Manggarai yang bermasalah, saat hari pertama berkantor pada Senin, 1 Maret 2021, Bupati Hery Nabit sentil penertiban aset daerah. Bahkan Bupati Hery Nabit didamping Wakil Bupati Heri Ngabut, langsung melakukan pertemuan dengan para Pejabat Eselon II Pemkab Manggarai. Pertemuan perdana tersebut dalam rangka membahas pendapatan daerah, khususnya […]

  • ‘Ngemis Online’ Marak, Yakub Ismail Desak Pemerintah Terbitkan Regulasi

    ‘Ngemis Online’ Marak, Yakub Ismail Desak Pemerintah Terbitkan Regulasi

    • calendar_month Sen, 23 Jan 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Ruang maya hari-hari ini tengah dihebohkan dengan penggunaan konten yang tidak sesuai norma dan peruntukan. Hal itu terlihat dari maraknya fenomena ngemis online yang kini tengah menjadi  sorotan berbagai pihak. Tidak sedikit selebgram yang berkeluh soal pengikutnya yang meminta uang untuk melunasi utang, meminta barang atau bantuan lainnya. Selain itu, kerap […]

  • Singa Selatan—Sejarah Barongsai di Indonesia

    Singa Selatan—Sejarah Barongsai di Indonesia

    • calendar_month Sel, 17 Feb 2026
    • account_circle Penulis
    • visibility 433
    • 0Komentar

    Loading

    Barongsai, dikenal sebagai barongan Cina, Merujuk pada kamus online Kemendikbud, Barongsai adalah tarian tradisional yang kerap dipertunjukkan saat perayaan Imlek. Tarian tradisional ini berasal dari Tiongkok dan biasanya ditarikan oleh dua orang yang mengenakan kostum menyerupai singa. Populer di Indonesia, terutama di daerah dengan mayoritas masyarakat keturunan Tionghoa, Barongsai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari […]

expand_less