Pulau Semau mengandalkan sistem hibrida antara Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 450 kWp dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas total 1.380 kW yang terdiri dari 5 unit mesin.
Semau | Memastikan keandalan pasokan listrik di wilayah kepulauan terpencil seperti Pulau Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), bukanlah tugas mudah. PT PLN (Persero) menghadapi berbagai tantangan teknis dan geografis dalam mengelola salah satu dari 65 sistem kelistrikan terisolasi (isolated system) di NTT. Hal ini terungkap dalam kunjungan media ke PLTD dan PLTS Semau pada Senin, 26 Mei 2025.
Pulau Semau mengandalkan sistem hibrida antara Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 450 kWp dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas total 1.380 kW yang terdiri dari 5 unit mesin.
Manajer Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Timor, Ismanta, menjelaskan kompleksitas pengelolaan sistem hibrid itu. “Sistemnya paralel. PLTS yang menyumbang sekitar 8% dari total produksi energi di Semau, berkontribusi maksimal pada siang hari. Namun karena intermiten dan keterbatasan baterai, PLTD yang menyumbang 92% produksi mengambil alih peran utama, terutama saat beban puncak pada malam hari,” paparnya.
Sistem kelistrikan Semau memiliki daya terpasang total 1.950 kW dan daya mampu pasok 1.380 kW, utamanya dari PLTD untuk keandalan. Beban puncak siang di Semau mencapai 400-440 KW, sementara malam hari bisa mencapai 750 KW. PLTS mampu menyuplai sekitar 100 sampai 120 KW pada siang hari. Dari daya mampu PLTS sekitar 200 KW, pemanfaatan efektif sekitar 100 KW karena sebagian daya digunakan untuk pengisian baterai.
“Baterai yang ada usianya sudah cukup tua, sejak PLTS berdiri tahun 2013. Meski sudah yang diganti, kemampuannya terbatas, hanya bisa support 2—3 jam pada malam hari,” tambah Ismanta.
Meskipun demikian, PLTS ini berhasil menghemat penggunaan bahan bakar diesel sebesar 100.330 liter per tahun, senilai Rp1,17 miliar, dan mengurangi emisi CO2 sebesar 184 ton per tahun.
Guna menjaga keandalan dengan cadangan daya 630 kW, PLN menerapkan sistem redundansi N-1. “Artinya jika ada gangguan satu unit mesin diesel, kita masih ada suplai yang bisa melayani seluruh Pulau Semau,” tegasnya. Sinkronisasi antara PLTD dan PLTS/baterai berjalan otomatis.
Yohanes Daro, yang membidangi transmisi dan distribusi di PLN UIW NTT, menambahkan tantangan di sisi jaringan yang membentang di NTT sepanjang 13.696 km untuk Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dan 13.417 km untuk Jaringan Tegangan Rendah (JTR).
“Membangun dan memelihara jaringan di daerah seperti ini penuh tantangan, mulai dari perizinan, kondisi geografis, hingga edukasi masyarakat terkait pemangkasan pohon,” jelasnya.
Kerja keras insan PLN di garda terdepan inilah yang memastikan “denyut listrik” tetap terjaga, menghidupkan aktivitas dan perekonomian di pulau-pulau terluar Nusantara.(*)
Penulis (*/Herman Nara Sura)