Arsip Kategori: Ekonomi

Ekonomi NTT 2018 Tumbuh 5,13 persen

149 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Ekonomi NTT pada tahun 2018 tumbuh sebesar 5,13 persen (c-to-c atau kumulatif triwulan I—IV) sedangkan ekonomi nasional sebesar 5,17 persen; mengalami sedikit kenaikan jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2017 yang mencapai 5,11 persen.

Kondisi Pertumbuhan Ekonomi NTT 2018 disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Maritje Pattiwaellapia dalam sesi konferensi pers bersama awak media cetak, elektronik dan online dan instansi terkait di Ruang Teleconference BPS NTT, Rabu/6/2/2019 pukul 12.00 WITA—selesai.

Lebih gamblang Maritje menjabarkan bahwa Pertumbuhan Ekonomi NTT 2018 didasarkan pada catatan peristiwa sepanjang tahun 2018 yakni :

  1. Jumlah tamu menginap di Hotel Bintang mencapai 523.263 orang dengan rincian 482.786 orang tamu nusantara dan 40.477 orang tamu mancanegara. “Kondisi ini berpengaruh pada sektor akomodasi, perhotelan dan restoran”, jelas Maritje.
  2. Jumlah penumpang angkutan udara yang tiba di NTT mencapai 2.019.634 orang dan penumpang berangkat berjumlah 1.853.409 orang;
  3. Inflasi tahunan NTT pada tahun 2018 sebesar 3,07 persen(year on year) dimana kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan mengalami inflasi tertinggi sebesar 4,94 persen disusul kelompok Bahan Makanan sebesar 3,82 persen;
  4. Realisasi anggaran pemerintah di triwulan IV yang merupakan puncak daya serap. “ Mudah-mudahan kedepan bergeser ke triwulan III”, ucap Maritje;
  5. Konsumsi Rumah Tangga di triwulan IV meningkat

Besaran Produk Domestik Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sebesar 99,09 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai 65,94 triliun.

Mengenai Struktur PDRB, Maritje menjabarkan bahwa pertumbuhan ekonomi untuk 17 sektor masih didominasi oleh sektor pertanian sebesar 28,40 persen walaupun hanya tumbuh sebesar 3,08 persen.

Sebaliknya sektor Akomodasi dan Makan Minum dengan share hanya 0,76 persen namun tumbuh luar biasa 12,16 persen. Share terbesar kedua sektor administrasi pemerintahan 13,34 persen dan Perdagangan 11,16 persen.

Kepala BPS NTT, Maritje Pattiwaellapia

“Pertumbuhan ekonomi juga tumbuh besar pada pengadaan listrik dan gas sebesar 10,76 persen, cukup tinggi karena ada jumlah produksi energi listrik untuk PLN Wilayah NTT meningkat dengan adanya penambahan PJU dan PLS sebanyak 1034 unit”, ungkap Maritje

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/02/02/penduduk-miskin-berkurang-8-060-orang-ntt-peringkat-3-termiskin/

Lanjut Maritje, Sumber pertumbuhan ekonomi NTT terbesar menurut lapangan usaha berasal dari administrasi pemerintahan sebesar 0,93 persen, diikuti pertanian 0,85 persen.

“Misalnya sumber usaha Administrasi Pemerintahan kurang tumbuh maka akan mempengaruhi ekonomi NTT”, terang Maritje

Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 12,16 persen dan Transportasi dan Pergudangan sebesar 7,92 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen Konsumsi Lembaga Non Profit Yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 9,76 persen.

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV-2018 Terhadap Triwulan IV-2017 (year on year)

Ekonomi NTT triwulan IV-2018 dibandingkan dengan triwulan IV-2017 tumbuh sebesar 5,32 persen sedangkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,18 persen.

Pertumbuhan ekonomi terjadi pada seluruh lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Pengadaan Listrik dan Gas yaitu sebesar 11,22 persen, disusul lapangan usaha Perdagangan Besar-Eceran; Reparasi Mobil-Sepeda Motor sebesar 8,08 persen dan Transportasi dan Pergudangan sebesar 7,81 persen.

Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan masih mendominasi perekonomian NTT pada triwulan IV-2018 dengan kontribusi sebesar 26,97 persen, diikuti oleh lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertanahan dan Jaminan Sosial Wajib dengan kontribusi sebesar 13,76 persen dan lapangan usaha Perdagangan Besar-Eceran; Reparasi Mobil-Sepeda Motor sebesar 11,45 persen.

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV-2018 Terhadap Triwulan III-2018 (quartal to quartal)

Ekonomi NTT triwulan IV-2018 dibandingkan dengan triwulan III-2018 mengalami pertumbuhan sebesar 0,71 persen sedangkan nasional -1,69 persen.

Pada triwulan IV-2018 hampir seluruh lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif kecuali pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan serta Lapangan Usaha Real Estate. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 10,76 persen, disusul lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 6,96 persen dan lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 6,68 persen.

 

Penulis dan editor (+rony banase)

Foto (*/kabar7.com)

Penduduk Miskin Berkurang 8.060 Orang, NTT Peringkat 3 Termiskin

181 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Jumlah penduduk miskin di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada September 2018 sebanyak 1.134.011 jiwa dari jumlah penduduk NTT sebanyak 5.456.203 jiwa atau berkurang sebesar 8.060 orang (21,03 persen), namun predikat sebagai Provinsi Termiskin No 3 di Indonesia masih disandang (Posisi pertama Papua dan Kedua Papua Barat)

Data tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Maritje Pattiwaellapia dalam sesi konferensi pers bersama awak media cetak, elektronik dan online di Ruang Teleconference BPS NTT, Jumat/1/2/2019 pukul 10.00 WITA—selesai.

Kondisi Maret 2018 jumlah penduduk miskin sebesar 1.142.017 jiwa (21,35 persen)

Tapi garis kemiskinan NTT mengalami penurunan dari Maret—Sept 2018 sebesar 0,32 persen”,ungkap Maritje.

Maritje menambahkan tentang metodologi yang digunakan oleh BPS cukup lama dan tetap sama yaitu apple to apple yang diadopsi dari konsep garis kemiskinan internasional. Adapun metodologi Kemiskinan yang BPS gunakan yaitu Basic Needs Approach (Kebutuhan Dasar); dengan pendekatan ini kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan seseorang dari sisi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan dasar yakni kebutuhan makanan dan non makanan (perumahan, pendidikan )

“Jadi kalau tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar, maka seseorang itu dikatakan miskin”, kata Maritje.

Mengenai garis kemiskinan, Maritje menerangkan, “Garis kemiskinan makanan yang kita pake yaitu nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan setara 2.100 kilokalori per orang per hari. Jadi kalau kita makan atau konsumsi dibawah 2.100 kilokalori maka dikategorikan miskin. Bukan makan karena diet”, terangnya.

Baca juga : 

https://gardaindonesia.id/2019/02/01/bahan-makanan-makanan-jadi-picu-inflasi-023-persen-pada-januari-2019/

Garis kemiskinan per rumah tangga miskin di NTT sebesar Rp.360.069,- per kapita /orang per bulan (kondisi September 2018).

“Kondisi riil yang dapat dihitung dengan menjumlahkan jumlah orang yang berada di dalam sebuah keluarga, misalnya 1 rumah tangga terdapat 6 orang x Rp.360.069,- = Rp. 2.160.144,-. Kalau pendapatan dibawah 2 juta maka dikatakan miskin”, jelas Maritje

“Sedangkan per kapita kemiskinan nasional sebesar Rp. 410.000,- (empat ratus sepuluh ribu rupiah) dan per kapita masing-masing daerah berbeda, seperti garis kemiskinan per rumah tangga miskin di Provinsi DKI Jakarta diatas 3 Juta rupiah”, tutur Maritje.

Penulis dan editor (+rony banase)

Bahan Makanan & Makanan Jadi Picu Inflasi 0,23 persen pada Januari 2019

75 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 134,70 pada bulan Desember 2018 menjadi 135,00 pada Januari 2019 memicu terjadi inflasi di NTT sebesar 0,23 persen. Inflasi ini disebabkan oleh naiknya indeks harga pada 6 dari 7 kelompok pengeluaran. Kota Kupang mengalami inflasi 0,28 persen sedangkan Maumere mengalami deflasi 0,16 persen.

Indeks Harga Konsumen merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (Inflasi/Deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga.

Adapun 6 pengeluaran yang menyebabkan kenaikan indeks harga yakni indeks tertinggi dipicu oleh bahan makanan 1,62 persen dan makanan jadi; minuman; rokok dan tembakau sebesar 0,45 persen lalu diikuti oleh kenaikan pada sandang sebesar 0,31 persen, pendidikan; rekreasi dan olahraga 0,21 persen, kesehatan 0,12 persen, disusul kenaikan pada perumahan; air; listrik; gas dan bahan bakar sebesar 0,07 persen.

Perkembangan indeks harga tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, Maritje Pattiwaellapia kepada awak media massa dan perwakilan instansi terkait di Ruang Teleconference BPS NTT , Jumat (1/2/2019) pukul 10.00 WITA—selesai.

“Sedangkan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami penurunan indeks harga sebesar 1,48 persen”, ujar Maritje.

Secara gamblang, Maritje menjelaskan bahwa kondisi cuaca hujan di bulan Januari menyebabkan harga bahan makanan berupa sayuran (sawi, kangkung, bawang merah), dan ikan tongkol meningkat.

“Cuaca yang menyumbang dampak kenaikan komoditi bahan makanan”, ungkap Maritje

Mengenai penghambat inflasi yakni angkutan udara sebesar -1,48 persen, Maritje menjabarkan walaupun sudah mengalami penurunan digunakannya angkutan udara namun harga tiket masih tinggi.

Dari 82 kota sample IHK Nasional, 73 kota mengalami inflasi dan 9 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tanjung Pandan sebesar 1,23 persen, dan terendah terjadi di Kota Pemantang Siantar dengan inflasi sebesar 0,01 persen.
Deflasi terbesar terjadi di Kota Tual sebesar 0,87 persen dan terendah terjadi di Kota Merauke sebesar 0,01 persen.

Penulis dan editor (+rony banase)

Bank NTT Capem Oinlasi Buka Akses Transaksi & Pasang EDC di Kec.Boking

144 Views

Oinlasi-TTS, gardaindonesia.id | Upaya memaksimalkan pelayanan terhadap para nasabah setia dilakukan oleh Bank NTT Capem Oinlasi dengan memberikan kemudahan bertransaksi dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat di Kecamatan Boking, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS)-Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Upaya tersebut dilakukan oleh Bank NTT Capem Oinlasi dengan melakukan pemasangan mesin Electronic Data Capture(EDC) yang berfungsi sebagai ATM mini dan dapat melakukan pembelian barang, pulsa listrik, pulsa hp, tv pra bayar, penarikan tunai, transfer sesama Bank NTT,dan lain-lain.

Kepala Bank NTT Capem Oinlasi, Lorenso Bere Mau kepada media,(Selasa/29/1/2019) mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pemasangan mesin EDC Bank NTT di di Bengkel Simpang Boking milik Saudara Riko Un di Kecamatan Boking sebagai salah satu kecamatan yang belum tersedia bank dan Saudara Riko Un sebagai agen EDC pertama Bank NTT.

“Senin,28 Januari 2019; kami telah memasang mesin EDC Bank NTT di Kec. Boking,” ujarnya

Lanjut Andi, sapaan akrab Lorenzo Bere Mau, “Selama ini memang belum tersedia bank di Kec Boking Kab TTS, sehingga para ASN (Aparatur Sipil Negara) dan masyarakat yang ingin melakukan transaksi mengambil uang di Bank NTT harus ke Desa Weoe di Kab Malaka atau ke Kec. Kolbano atau ke Oinlasi di Kec. Amanatun Selatan yang jaraknya memang jauh”, paparnya.

“Kalau warga Boking memakai transportasi ojek ke Oinlasi, maka harus membayar Rp.50 ribu, jika hujan ongkos ojek naik menjadi Rp.150 ribu”, ungkap Andi.

Sementara itu, Camat Boking Albert Kobi mengucapkan terima kasih kepada Bank NTT Capem Oinlasi yang telah mendekatkan pelayanan kepada masyarakat di Kec Boking dan sekitarnya.

“Mudah-mudahan bisa ada kantor kas Bank NTT di Boking”, pinta Camat Albert.

Menanggapi permintaan Camat Boking, Andi selaku Kepala Bank NTT Capem Oinlasi menanggapi dengan meneruskannya ke Bank NTT Cabang So’E dan berharap kedepan ada agen Bank NTT lain di Kec. Boking.

“Terkait permintaan Bapa Camat Boking akan disampaikan kepada Kepala Bank NTT Cabang So’E”, pungkas Andi.

Penulis dan editor (+rony banase)

Gubernur Viktor Pinta Dana KUR 2019 Dinaikkan Hingga Rp 3 Triliun

76 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur NTT menyatakan, keberadaan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) berdaya guna untuk meningkatkan perekonomian di NTT. Kalangan perbankan diharapkan dapat menambah jumlah penyaluran KUR kepada masyarakat.

“KUR kita di NTT sekarang baru mencapai Rp. 1 triliun lebih. Jumlah ini masih tergolong kecil, belum terlalu besar. Kita ingin mendorong agar Tahun 2019 ini bisa mencapai Rp 2—3 triliun lebih,” jelas Gubernur Viktor Laiskodat saat menerima Kunjungan Kerja (Kunker) Spesifik Komisi XI DPR RI di Ruang Rapat Gubernur Kantor Gubernur Sasando, Senin (21/1).

Dipimpin oleh Ketua Tim Agun Gunanjar Sudarsa, 5 (lima) orang rombongan Komisi XI DPR melakukan kunjungan kerja selama 3 ( tiga) hari dari tanggal 21—23 Januari untuk memantau dan mengawasi penyaluran KUR di NTT. Para anggota Komisi Anggaran tersebut akan melakukan kunjungan lapangan dan bertemu dengan bebrapa perwakilan penerima KUR di Kota Kupang.

Gubernur Viktor saat menerima Ketua Tim Komisi XI DPR RI Agun Gunanjar Sudarsa

Menurut Gubernur Viktor, kehadiran dan kunjungan Komisi XI itu memberikan energi positif dalam mendorong kerjasama Pemerintah Provinsi dengan kalangan perbankan untuk meningkatkan jumlah penyaluran KUR di NTT. Kehadiran KUR turut berperanan dalam membantu perekonomian masyarakat. Terutama dalam menggali potensi-potensi yang ada menuju NTT Bangkit Menuju Sejahtera.

“Target saya, KUR di tahun 2019 ini bisa menyentuh Rp 3 triliun Karena peluang KUR untuk peningkatan kapasitas tenaga kerja sangat besar dan potensial. Terutama dalam mempersiapkan tenaga kerja, baik ke dalam maupun ke luar negeri dengan kompetensi dan kualitas kerja yang bagus,” jelas Viktor Laiskodat.

Di hadapan anggota Komisi XI tersebut, Viktor Laiskodat juga menguraikan target pemerintah Provinsi untuk menaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Rp. 1,1 triliun menjadi Rp 3 triliun di tahun 2023. Banyak orang yang menganggap target tersebut terlampau bombastis. Namun, lanjut Viktor, dengan kerja yang luar biasa dan desain yang baik, target tersebut diyakini akan tercapai. NTT punya banyak potensi-potensi hebat dan luar biasa.

“Kami sedang mendesain APBD Provinsi secara efisien. Kita sedang melakukan konsolidasi anggaran dengan cara misalnya pengadaan Alat Tulis Kantor (ATK) untuk seluruh dinas dan biro diadakan oleh Biro Pengadaan Barang dan Jasa. Kami juga melakukan perampingan perangkat daerah dari 48 menjadi 39. Begitupun misalnya dalam tender jalan. Para pengusaha di NTT tidak punya aspal, pemerintah provinsi dapat memfasilitasi dengan sediakan aspal sehingga bisa berkontribusi bagi PAD. Masih banyak cara-cara baru yang dapat kita lakukan untut tingkatkan PAD sesuai target”,pungkas Viktor Laiskodat.

Ketua Tim Komisi XI, Agung Gunanjar Sudarsa, mengapresiasi perhatian pemerintahan Presiden Jokowi untuk masyarakat di pelosok-pelosok desa. Tidak hanya kedaulatan politik yang diperhatikan tetapi juga kucuran dana yang terus meningkat baik dana transfer ke desa, program keluarga harapan dan juga KUR.

“Kami ingin mengetahui secara langsung pelaksanaan KUR di NTT. Kami akan mengunjungi para penerima manfaat untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaannya di NTT. Karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama kalangan perbankan dan non perbankan melalui KUR punya kewajiban untuk mendorong roda perekonomian masyarakat,” jelas politisi Golkar tersebut.(*)

 

Sumber berita (*/Aven Rame-Humas Pemprov NTT)

Editor (+rony banase)

Tiket Pesawat & Bahan Makanan Picu Inflasi Tertinggi di Kupang 2,09 Persen

78 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Dari 82 Kota Sample Inflasi di Indonesia, 80 kota mengalami inflasi di Desember 2018 dengan inflasi tertinggi terjadi di Kota Kupang sebesar 2,09 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Banda Aceh dengan inflasi sebesar 0,02 persen. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur terjadi inflasi sebesar 1,84 persen.

“Inflasi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur pada Desember 2018 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 134,70; terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada 6 (enam) dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran, dimana kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi tertinggi sebesar 4,94 persen yang diikuti oleh kelompok bahan makanan sebesar 3,82 persen,” jelas Kabid Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Demarce Sabuna, Rabu/2/1/2019.

Lanjut Demarce kepada para awak media cetak, elektronik dan online dalam sesi konferensi pers, Khusus kenaikan indeks harga konsumen/ andil inflasi tertinggi di Kota Kupang terjadi pada kelompok transpor,komunikasi dan jasa keuangan sebesar 5,56 persen dan pada kelompok bahan makanan sebesar 4,31 persen.

“Hampir semua penyumbang inflasi di Desember 2018 bersumber dari bahan makanan yang tergantung pada musim karena saat bulan Desember terjadi hujan deras yang menyebabkan harga sayuran dan harga ikan melonjak naik dan harga tiket pesawat melambung tinggi,” ungkap Demarce.

Selanjutnya Demarce menjabarkan penyebab utama terjadinya inflasi di Nusa Tenggara Timur didorong oleh oleh kenaikan indeks harga pada kelompok pengeluaran transport, komunikasi dan jasa keuangan. Seluruh kelompok pengeluaran selama tahun 2018 mengalami kenaikan indeks harga dan menyumbang inflasi sebesar 3,07 persen di Nusa Tenggara Timur, Kota Kupang sebesar 3,23 persen dan Kota Maumere sebesar 2,00 persen.

“Inflasi tahun kalender 2016—2018; Akumulasi Inflasi tertinggi di NTT terjadi pada tahun 2018 sebesar 3,07 persen sedangkan tahun 2017 sebesar 2,00 persen dan 2016 sebesar 2,48 persen. Khusus Kota Kupang inflasi tertinggi juga terjadi di tahun 2018 sebesar 3,32 persen, 2017 sebesar 2,05 persen dan 2016 sebesar 2,31 persen,” pungkas Demarce Sabuna.(*)

Penulis dan editor (+rony banase)

Gubernur Viktor: ‘Kita Akan Punya Perusahaan Listrik Daerah Sendiri’

110 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | “Saya baru saja di wa oleh Ibu Menteri BUMN bahwa permintaan kita selama ini telah disetujui bahwa kita akan mempunyai perusahaan listrik daerah sendiri selama energi terbaru terbarukan tersedia,” jelas Gubernur NTT Viktor Laiskodat.

Lanjut Viktor, “Saya ingin mendorong teman-teman pada sektor industri untuk bertumbuh terus. Kita akan menuju ke daerah yang punya energi yang cukup untuk membiayai dan mengatur energi untuk kepentingan industri kita,” ujarnya.

Tambah Viktor Laiskodat, Provinsi ini akan punya perusahaan listrik sendiri; Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Viktor Laiskodat saat dialog dengan pelaku usaha atau investor yang diinisiasi oleh Dinas Penanaman Modal Daerah dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMD & PTSP), Kamis,13 Des 2018 pukul 18.00—selesai di Bukit Intan Lestari (Bill’s Resto)-Tenau Kupang.

Gubernur Viktor dan Kepala DPMPSTP Provinsi NTT, Ir. Semuel Rebo berpose bersama para pelaku usaha dan investor usai menyerahkan anakan kelor dan sakura sumba

Dialog Gubernur NTT dengan para pelaku usaha atau investor tersebut dipandu oleh Kepala DPMPSTP Provinsi NTT, Ir. Semuel Rebo.

Di hadapan para pelaku usaha dan investor, Viktor Laiskodat juga menerangkan bahwa NTT masih punya banyak ruang kosong; perdagangan antar pulau belum berkembang, sehingga Viktor Laiskodat meminta ASDP untuk mengatur perhubungan laut dengan baik.

“Dua hari lalu ASDP telah menelpon saya, maksimal Maret 2019; mereka akan melayani maritim Dili, saya minta hidupkan maritim Dili dan mereka akan setuju bergerak di wilayah utara Pulau Timor khususnya Atambua, Malaka, TTU, Alor, dan Lembata dalam konektifiti yang baik dan tidak disubsidi kecuali jalur wilayah Kupang, Rote, Sabu dan Sumba Timur yang harus disubsidi oleh pemerintah karena sangat kurus,” ungkap Viktor.

Viktor Laiskodat meminta peran serta BUMN untuk membantu subsidi tersebut. Viktor juga berharap Bandar Udara El Tari akan berfungsi sebagai pintu ekspor dan berharap rantai pasok bisa dibangun dari NTT.

Penulis dan editor (+ rony banase)