Arsip Kategori: Daerah

Jhon Bentanone Raih ‘Cashback’ Mobil Toyota Fortuner dari Bank NTT Sabu

320 Views

Sabu Raijua, Garda Indonesia | “Senang dan terima kasih kepada Bank NTT, kami telah menjadi nasabah sejak tahun 2004 dan kehadiran Bank NTT sangat membantu kami masyarakat Sabu,” ujar Jhon Tarius Bentanone usai menerima hadiah cashback mobil Fortuner 2.4 M/T tahun 2020 pada Sabtu sore, 24 Oktober 2020 di halaman Kantor Bank NTT Sabu.

Mudah-mudahan, imbuh Jhon, masyarakat Sabu dapat memberikan kepercayaan untuk menyimpan uang mereka di Bank NTT. “Banyak hadiah cashback di sini yang merupakan apresiasi dari Bank NTT kepada para penabung,” ungkapnya bersemangat.

Terkait pelayanan Bank NTT di Sabu Raijua, ungkap Jhon penerima hadiah yang berprofesi sebagai pengusaha minyak dan sembako ini menyampaikan bahwa keberadaan Bank NTT di Sabu sangat membantu para pengusaha kecil. “Apalagi Pak Romi (pemimpin cabang Bank NTT Sabu, red) sangat respek dengan masyarakat dan mendorong pelaku usaha kecil,” bebernya dengan wajah bahagia.

Pemimpin cabang Bank NTT Sabu, Romi Radjalangu menyampaikan, hadiah yang diberikan dalam program hadiah bertajuk program cashback. “Hadiah diberikan kepada nasabah kami yang loyal dan selalu membantu Bank NTT Sabu,” urainya.

Adapun nasabah menyimpan uang dalam jumlah tertentu dan dapat memilih barang yang diinginkan, tandas Romi, tabungan tersebut tetap memperoleh bunga dan jenis hadiah disesuaikan dengan jumlah simpanan di Bank NTT.

Sementara itu, Direktur Utama Bank NTT Alex Riwu Kaho, usai mengikuti rangkaian kunjungan kerja Gubernur NTT dan menunaikan prosesi adat di Kampung Adat Namata, berkesempatan menyerahkan secara langsung hadiah cashback, menyampaikan Bank NTT tetap berkontribusi terhadap perkembangan usaha kecil di Sabu Raijua.

“Bank NTT berperan dalam fungsi intermediasi dan pembiayaan dengan skema yang berlaku dengan industri perbankan,” jelasnya kepada awak media yang meliput acara penyerahan cashback Bank NTT Sabu tersebut.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto utama oleh Sandro—Humas Bank NTT

Pengacara Santi Taolin Sebut Harta Lain, Ini Tanggapan Kristina Lazakar

439 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Kristina Lazakar merasa geram terhadap Pengacara Santi Taolin, Helio Caetano Moniz (HCM). Pasalnya, HCM menyebut dalam pemberitaan Garda Indonesia terdahulu tentang masih adanya harta–harta lain di luar harta yang disengketakan.

“Khusus HCM, kau pergi sekolah tambah lagi dulu. Kau tetap masih mengotot (tentang) penolakan hak waris. Kau baca baikkah tidak itu putusan-putusan? Menanggapi komentar kami, kau pengacaranya Santi Taolin. Dan cukup kau sebut apa yang jadi sengketa,” demikian sepenggal penegasan Kristina Lazakar pada kolom komentar facebook yang disalin Garda Indonesia pada Minggu, 11 Oktober 2020.

Baca juga: https://gardaindonesia.id/2020/10/09/gaspar-meda-pinta-pengacara-santi-taolin-tak-pisahkan-hubungan-mama-anak/

Menurut Lazakar, seharusnya HCM bersama kliennya Santi Taolin merasa malu dan tidak pantas untuk menyebut harta–harta kepemilikannya yang lain. “Karena harta yang saya miliki kamu harus tahu, harus bisa pilah, pilih mana yang harus disebut dan mana yang tidak boleh kalian sebut, paham!! Apa yang kau tahu tentang Toko Gloria? Apa yang kau tahu tentang rumah Surabaya?”, tandasnya mengingatkan.

Selaku pengacaranya Santi Taolin, tulis Lazakar lebih lanjut, seharusnya memberikan saran dan dukungan bagi kliennya untuk semangat bekerja mencari uang, karena hidup ini menuntut lebih berharga dan bernilai dari hasil keringat sendiri. “Bukan kau tunjuk harta saya di mana–mana yang bukan haknya kalian. Mata menyala di harta orang tua saja. Kenapa kau tidak sebut, sudah berapa banyak harta orang tua yang sudah klien kamu kasih ludes? Mungkin kau tidak tahu atau kau sengaja tidak mau tahu. HCM, kecuali kau tidak kenal siapa saya. Kita saling tahu, mau sampai di mana?”, kesal Kristina Lazakar.

Untuk diketahui, diberitakan Garda Indonesia sebelumnya, HCM meminta kepada khalayak untuk menghargai keputusan hukum. Bahwa, hukum itu keadilan dan hukum itu memeriksa keabsahan kepemilikan. Peralihan hak kepada Santi itu sah. Hakim juga sudah mempertimbangkan tentang masih ada harta–harta lain, yang bisa dimiliki oleh mama maupun kedua adik. Ada rumah di Surabaya, ada Toko Glory, ada tanah di wilayah Kabupaten T.T.U dan beberapa tempat lagi.

Santi itu, ujar HCM, stres karena mamanya mengeluh di luar soal suami Santi tidak bisa bekerja. Makanya, setelah selesai di pengadilan, Santi dan suaminya mau buka cafe di depan rumah itu. Ketika mau buka, mamanya datang usir. Santi sendiri tidak mau bagi tiga karena mamanya tunjukkan bagian kiri dan kanan. Santi mau bagi dua, supaya ada akses di depan jalan itu untuk buka warung dan cafe.

“Nah, karena semua itu tidak bisa, makanya saya juga kasihan Santi, saya mau masalah ini cepat selesai supaya anak–anak bisa bekerja dan cari hidup. Itu saja keinginan kita. Pak Gaspar Meda omong itu betul semua. Tapi ingat, waktu bapaknya masih hidup tidak hanya miliki satu rumah itu. Masih ada Toko Glory, rumah di Surabaya, kolam ikan di T.T.U, Santi tidak mungkin mau ambil lagi karena dia sudah dapat hak,” urainya.(*)

Penulis: (*/Herminus Halek)
Foto utama (*/istimewa)
Editor: (+rony banase)

Gaspar Meda Pinta Pengacara Santi Taolin Tak Pisahkan Hubungan Mama Anak

1.327 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Gaspar Meda, saksi historis kepemilikan tanah warisan bersertifikat atas nama mendiang Dominggus Taolin, meminta ketiga orang pengacara Santi Taolin untuk tidak memisahkan hubungan darah sebagai mama – anak kandung, Kristina Lazakar dan Santi Taolin. Demikian dikatakan Gaspar Meda kepada Garda Indonesia saat dihubungi pada Rabu, 7 Oktober 2020.

Sebagai pengacara, tegas mantan Kapolsek Kota Suai dan Fatumea (Timor Leste) itu, bisa mencampuri urusan mama anak hanya sejauh mempersatukan dengan membantu mencarikan jalan keluar, bukannya memisahkan. “Jangan orang lain mencampuri urusan mama anak itu. Yang bantu mengurus itu, manusia tidak tahu diri, tidak tahu berterima kasih kepada seorang ibu. Boleh, tapi cari solusi. Jangan membuat mama anak kandung pisah begitu. Pengacaranya pergi seolah – olah atur, lapor dia punya mama kandung ke polisi. Makanya, saya omong sama polisi, kamu tolong cari tahu sebab akibat ini”, ungkapnya.

Menurut Meda, sikap Santi Taolin terhadap mama kandungnya Kristina Lazakar merupakan sebuah kesombongan dan kedurhakaan. “Kok sombong sekali sama orang tua kandung itu. Saya tidak memihak, tetapi saya tahu persis. Saya takut berdosa, saya takut durhaka, kalau saya berpihak. Biar saya omong apa adanya. Saat bangun itu bangunan Santi belum tahu pakai celana. Saya yang ngomong! Dan saya bertanggung jawab itu. Jangan begitu, itu mama kandung”, tandasnya.

Berkaitan dengan balik nama sertifikat atas nama Santi Taolin oleh BPN Belu, Meda menilai bahwa itu tidak sah. “Keputusan Pengadilan Negeri (PN) NO, berarti tidak jelas. Itu, tidak sah! Itu, ada kolusi di dalam itu! Masa, mama kandung masih hidup kok, bisa balik nama dari mana? Kecuali mama tiri, saya bisa bela Santi. Di BPN itu kolusi, tidak pakai prosedur. Harusnya panggil mama kandung, ini mau balik nama ini bagaimana? Bukan balik nama diam – diam. Ini perlu selidiki baik – baik. Siapa di balik putar balik semua ini?” tegasnya.

Hukum ini, alas Meda, bisa putar balik juga. Kita bicara logika saja. Bapak meninggal, mama masih hidup, anak menguasai sertifikat atas nama bapak, masuk akal tidak? Mama kandung saja tidak dipandang, apalagi adik kandung?

“Ini manusia serakah, manusia yang tidak tahu diri. Kalau mama tiri, ceritanya lain. Ini mama kandung yang melahirkan, yang membesarkan. Kok kau tidak menganggap dia sebagai mama? Ini anak setan atau anak apa? Mama yang bangun, kok renovasi tidak boleh?”, kesal Meda.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/08/26/bpn-belu-blokir-sertifikat-atas-nama-santy-taolin/

Gaspar Meda pun berharap, agar para pengacara yang mendampingi Santi Taolin untuk bekerja dengan tidak mengabaikan hati nurani. “Tolong sampaikan kepada pengacaranya. Pengacara punya hati nurani atau tidak? Kalau mamanya merasa bukan dia punya, dia pasti malu untuk bongkar. Menjadi pengacara itu, profesional sedikitlah. Lihat dulu latar belakang yang sebenarnya. Santi punya suami itu, datang jalan kosong, tidak bawa apa – apa, saya tahu. Anak mantu itu jangan kurang ajar. Harusnya anak mantu itu ajar istri, supaya jangan sambung mulut dengan mamanya,” pinta Gaspar.

Lanjutnya, saya lihat video itu anak mantu cakar pinggang. Anak mantu biadab, anak mantu tidak tahu diri. Kalau saya ada di situ, saya usir anak mantu tidak tahu diri seperti dia. “Polisi tidak bodoh. Semua ada sebab akibat, ada asal – usul. Bukan karena ada laporan, asal terima dan menerima kamu punya usul saran yang hanya mau merusak hubungan mama anak,” tegas mantan Kasubag Hukum Polres Belu tersebut.

Gaspar Meda pun menyampaikan salam hormat kepada bapak – bapak pengacara yang terlalu pintar itu. “Jangan terlalu pintar, sampai lupa hak dan kewajiban. Kanwil BPN sudah blokir itu sertifikat. Atap bocor saja, mama yang perbaiki, mama yang renovasi, kau hanya tahu tinggal saja. Apa kau tidak malu? Itu, durhaka kalau tiga pengacara itu pakai cara demikian. Pengacara sukses itu, pengacara yang menyatukan kembali hubungan mama dan anak. Kalau kau tidak lahir dari seorang ibu, ya silakan. Mungkin pengacara itu tidak lahir dari rahim seorang ibu”, tandasnya kesal.

Terpisah, Santi Taolin melalui pengacaranya Helio Caetano Moniz mengakui, bahwa pihaknya sudah melaporkan Kristina Lazakar ke polisi dengan materi laporan dugaan perusakan barang milik kliennya. “Kami sudah laporkan sejak tanggal 1 September 2020. Tetapi, kami tidak pernah mendesak pihak kepolisian untuk segera proses, karena mungkin polisi punya pertimbangan, melihat hubungan mama anak”, sebut pria yang kerap disapa HCM itu.

HCM mengakui bahwa apa yang dikatakan Gaspar Meda itu benar. Akan tetapi, tanah dan bangunan itu sudah diserahkan ke Santi Taolin. Surat penolakan hak warisnya ada. Pengadilan sudah periksa dan sudah putuskan itu, dan sudah dikasih kepada Santi dan sekarang menjadi milik Santi Taolin . “Kita bicara fakta hukumnya, rumah itu sudah milik Santi berdasarkan dokumen. Waktu mereka menyerahkan itu pun, dengan penuh kesadaran dan penuh pertimbangan. Putusannya mengatakan penyerahan itu sudah sah dan sekarang sudah menjadi milik Santi. Orang tua sudah hibahkan kepada anak. Itu hukumnya jelas,” bebernya.

Pandangan dari luar, lanjut HCM, seolah-olah dirinya bersama kedua teman pengacara lainnya (Kornelius Talok dan Ferdinandus Ba’e), itu jahat. Sebenarnya, setelah putusan pengadilan, pihaknya mendorong Santi untuk berbaikan dengan mamanya, bahkan sudah dua kali kliennya berdamai dengan mamanya. Menurutnya, sudah pernah ada kesepakatan untuk bagi dua, Santi dan mamanya. Tetapi, mamanya mau bagi tiga. Dan, Santi tidak mau.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/10/08/santi-taolin-diduga-mendurhakai-mama-kandung-ini-kesaksian-gaspar-meda/

HCM meminta kepada khalayak untuk menghargai keputusan hukum. Bahwa, hukum itu keadilan dan hukum itu memeriksa keabsahan kepemilikan. Peralihan hak kepada Santi itu sah. Hakim juga sudah mempertimbangkan tentang masih ada harta – harta lain, yang bisa dimiliki oleh mama maupun kedua adik. Ada rumah di Surabaya, ada Toko Glory, ada tanah di wilayah Kabupaten T.T.U dan beberapa tempat lagi.

Santi itu, ujar HCM, stres karena mamanya mengeluh di luar soal suami Santi tidak bisa bekerja. Makanya, setelah selesai di pengadilan, Santi dan suaminya mau buka cafe di depan rumah itu. Ketika mau buka, mamanya datang usir. Santi sendiri tidak mau bagi tiga karena mamanya tunjukkan bagian kiri dan kanan. Santi mau bagi dua, supaya ada akses di depan jalan itu untuk buka warung dan cafe.

“Nah, karena semua itu tidak bisa, makanya saya juga kasihan Santi, saya mau masalah ini cepat selesai supaya anak – anak bisa bekerja dan cari hidup. Itu saja keinginan kita. Pak Gaspar Meda omong itu betul semua. Tapi ingat, waktu bapaknya masih hidup tidak hanya miliki satu rumah itu. Masih ada Toko Glory, rumah di Surabaya, kolam ikan di T.T.U, Santi tidak mungkin mau ambil lagi karena dia sudah dapat hak,” urainya.

Terkait permintaan Gaspar Meda, agar ketiga pengacara Santi Taolin membantu mempersatukan hubungan antara mama dan anak, HCM menuturkan bahwa, pihaknya sudah cukup berusaha selama ini. Pertama, yang membawa masalah ini ke hukum, bukan pengacara dan bukan Santi. Kedua, selama dua tahun sudah berusaha mengembalikan hubungan baik antara mama dan anak. Ketiga, meskipun kita sudah melapor, tapi tidak mendesak pihak kepolisian untuk proses. Jika tidak ada kesadaran dari mama dan kedua adiknya, maka proses itu dengan sendirinya harus berjalan karena negara ini negara hukum.

“Jadi, semua ini dilaporkan sesuai dengan hukum untuk bisa dibuktikan kepada mama dan kedua adiknya, bahwa hukum itu menjamin Santi. Ini, masih ada kesempatan terakhir. Tetapi kalau penyelesaiannya, semua orang ikut menghujat Santi seperti itu juga, ya rasanya tidak adil hanya karena memandang dari luar dan dari jauh,” tuturnya.

“Santi dan suaminya juga merasa terganggu. ‘Kan mama dan kedua adiknya yang menggugat ke pengadilan. Awalnya tidak ada keinginan untuk balik nama. Tapi karena mereka sudah bawa ke hukum, menggugat untuk mengambil semua, akhirnya kita tampil untuk membela hak – hak Santi. Mamanya ‘kan punya banyak tanah di tempat – tempat lain. Tapi, orang hanya melihat ke rumah Santi,” tambah pengacara kondang itu. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)
Editor: (+ronny banase)

Santi Taolin Diduga Mendurhakai Mama Kandung, Ini Kesaksian Gaspar Meda

4.907 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | “Tanah itu dibeli oleh aci Kristin dan mendiang suaminya sebelum pindah ke Suai (Timor Leste). Waktu di Suai, saya dan almarhum setiap minggu turun Atambua untuk mulai rencana membangun rumah. Jadi, bangun dari fondasi sampai selesai itu, saya tahu persis karena saya sangat dekat dengan mereka,” urai Gaspar Meda, pensiunan Polisi 2017 lalu saat dihubungi Garda Indonesia via sambungan telepon, pada Rabu sore, 7 Oktober 2020.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/08/24/diduga-seorang-anak-di-belu-gelapkan-sertifikat-tanah-warisan-ayahnya/

Waktu itu, Gaspar mengisahkan, anak–anak masih kecil semua. “Hubungan saya dengan mereka seperti saudara kandung. Setiap hari Sabtu atau hari libur, saya dan almarhum pakai mobil pick-up hitam selalu turun Atambua,” ungkapnya.

“Jadi, kalau mau omong kasar, Santi itu belum tahu pakai celana! Rumah itu dia punya bapak mama yang bangun”, kisah Gaspar Meda, pensiunan Polisi 2017 lalu itu secara gamblang terkait kasus perebutan lahan antara anak dan mama kandung di Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Mantan KBO Lantas Polres Belu itu menceritakan, bahwa saat eksodus tahun 1999, rumah itu sudah siap dihuni. “Jadi, tanah dan rumah itu bukan Santi punya. Itu hasil usaha bapak dan mamanya. Saya heran, masa Santi bilang ada surat wasiat dari bapaknya. Kalau ada surat wasiat kenapa tidak tunjukkan, sampai mama dan adik – adiknya tidak tahu? Sampai harus sembunyikan sertifikat dan balik nama. Mamanya masih hidup, kok ini anak bisa balik nama, dasarnya dari mana? Anak – anak itu, semua kenal saya, saya siapa? Waktu di Suai juga, saya yang cari tanah untuk mereka buka toko”, ungkap mantan Danpos Pasar Baru Atambua dan Motaain itu.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/08/26/bpn-belu-blokir-sertifikat-atas-nama-santy-taolin/

Meda yang adalah mantan KBO Intel itu pun sangat sesalkan sikap Santi Taolin terhadap mama kandungnya sendiri. “Ini, anak durhaka betul! Santi dan adik – adiknya itu punya hak yang sama. Itu, hasil keringat orang tuanya mulai dari buka kios kecil di Kaubele (wilayah Kabupaten T.T.U) sampai buka toko di Suai. Waktu di Suai, mereka anggap saya saudara. Ini, saya harus jujur sampaikan. Bahkan, oto (mobil) Rocky yang Santi dan suaminya pakai seperti milik pribadi itu, dia punya bapak kredit di Dili. Saya dan bapaknya yang pergi kredit di Mahkota Timor Diak. Beli oto saya tahu, beli bus saya tahu. Makanya saya bilang Santi, kau tidak kelirukah? Kau buat mama kandung model begitu? Saya menyesal itu. Saya sampai datang di Santi, saya bilang kalau kau berani, di atas tanah ini kita buat sumpah. Supaya kita lihat, tanah ini Santi punya atau mama punya? Termasuk itu bangunan. Kalau mama tiri, saya masih bisa telan ludah. Tapi, ini mama kandung, mama yang melahirkan dari rahim, kok bisa buat mama sampai model begini. Kita orang Timor, kalau sumpah itu tidak matikah? Kalau dia punya mama peras dia punya air susu, titi (ketok) di atas batu, dia tidak mati berdirikah? Jangan hanya karena harta mulia, kita jual supaya hidup senang – senang. Kasihan, itu mama kandung yang melahirkan. Saya tahu persis itu,” tegasnya.

Coba.., tandas Gaspar Meda, saya ada di situ, saya omong, Santi berani jawab saya?, tidak akan dia jawab saya satu kata pun!.

“Kau anak kemarin!, kau keringat berapa ada di situ? Makanya saya bilang, harus dibagi merata ketiga anak, karena itu bapak dan mama punya”, kesal mantan Kasat Bimas dan Kasubag Hukum Polres Belu itu. (*)

Penulis + foto: (*/Herminus Halek)
Editor: (+ ronny banase)

Selundup 200 Kg Kayu Cendana dari Timor Leste, Dua Warga Diperiksa di Polres Belu

162 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Dua oknum warga berinisial SEL dan EK, yang diduga menyelundupkan kayu Cendana dari Timor Leste ke Indonesia, sudah ditangani dan sedang diperiksa oleh penyidik Polres Belu. Demikian diungkapkan Kapolres Belu, AKBP Chairul Saleh di ruang kerjanya ketika dikonfirmasi awak media pada Selasa, 6 Oktober 2020.

Sesuai informasi yang dihimpun, pemeriksaan terhadap SEL dan EK oleh tim penyidik, berlangsung di ruangan Satreskrim Polres Belu sejak diserahkan Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif Raider 744/SYB pasca diamankan di Salore, Kecamatan Tasifeto Timur.

Selain dua oknum warga berinisial SEL dan EK, diserahkan juga barang bukti berupa kayu Cendana kurang lebih 200 kg dan satu unit kendaraan pengangkut.

Seperti diberitakan sebelumnya oleh nttonlinenow.com pada Minggu, 4 Oktober 2020, Personel Pos Salore Satgas Pamtas RI-RDTL Yonif RK 744/SYB berhasil mengamankan Kayu Cendana sebanyak tujuh karung atau seberat kurang lebih 200 kilogram yang diduga dari Timor Leste ke Indonesia. Kayu Cendana yang dikemas dalam tujuh karung tersebut, digagalkan personil Satgas Yonif RK 744/SYB di wilayah Pos Salore setelah melintas masuk ke Indonesia pada Sabtu malam, 3 Oktober 2020.

Hal tersebut disampaikan Dansatgas Yonif RK 744/SYB Letkol. Inf. Alfat Denny Andrian, dalam keterangan tertulisnya, pada Minggu pagi, 4 Oktober 2020.

Menurut Alfat, pengamanan kayu Cendana dipimpin oleh Wadanpos Salore, Sertu Firman Wahyu bersama personel Pos Salore Kipur 1 Satgas Yonif RK 744/SYB bersama staf Intel pada Sabtu, 3 Oktober 2020, pukul 20.45 WITA.

Saat melaksanakan sweeping yang bertempat di CO.1210 – 9930 untuk jarak kurang lebih 1 Km dari Pos Salore di jalur utama Desa Tulakadi, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, berhasil menangkap dua orang yang mengangkut kayu Cendana menggunakan mobil Avanza bernomor polisi, DH 1362 AM.

Jelas dia, Wadanpos Salore mendapat telepon dari anggota Staf Intel Satgas Serka Lalu Hamzanwandi yang memberikan informasi, di mana informasi tersebut bersumber dari salah seorang warga Motaain berinisial AN yang tidak ingin disebutkan identitasnya, bahwa akan ada mobil yang melintas membawa Kayu Cendana dari perbatasan Mota’ain ke arah Atambua. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)
Foto utama oleh nttonline.com
Editor: (+ ronny banase)

Pjs. Bupati Belu Ambil Sumpah dan Lantik Penjabat Sekda Belu

696 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Penjabat Sementara (Pjs.) Bupati Belu, Zakarias Moruk mengambil sumpah dan melantik Frans Manafe sebagai Penjabat Sekretaris Daerah (Pj. Sekda) Belu di Lantai 1 Kantor Bupati Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin siang, 5 Oktober 2020.

Pengambilan sumpah dan pelantikan itu berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Nomor: 816.2.1/187/BKD.3.1, tentang pengangkatan penjabat pimpinan tinggi pratama sebagai Pj. Sekda Kabupaten Belu selama tiga bulan ke depan, terhitung sejak penetapan keputusan ini sampai tanggal pelantikan Sekda definitif.

Tugas Pj. Sekda sebagaimana tertuang dalam SK Gubernur itu, untuk membantu kepala daerah dalam penyusunan kebijakan, pengoordinasian, dan pelayanan administratif terhadap pelaksanaan tugas perangkat daerah.

Pj. Sekda Belu, Frans Manafe berpose bersama Forkopimda

Selain itu, Frans Manafe juga ditugaskan untuk mempersiapkan proses pengisian jabatan Sekda definitif dalam jangka waktu paling lama tiga bulan. Dalam pelaksanaan tugasnya pun, Pj. Sekda Belu bertanggung jawab kepada Pjs. Bupati Belu.

Dalam sambutannya, Pjs. Bupati Belu menuturkan, bahwa pelantikan Pj. Sekda ini merupakan salah satu tugas gubernur yang dipercayakan kepada pihaknya untuk melakukan pelantikan. “Profisiat kepada pak Frans yang dipercayakan oleh bapak gubernur sebagai Sekda Belu,” ucap Zaka Moruk.

“Kita sebagai ASN siap melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh pak gubernur, yaitu salah satunya menyiapkan Sekda definitif sehingga Kabupaten Belu, pemerintahnya tidak ada lagi kekosongan Sekda definitif. Segala regulasi akan kita pelajari, dan kita akan segera berkoordinasi baik di tingkat kabupaten, provinsi maupun tingkat kementerian dalam negeri,” ungkap Pj. Sekda terlantik ketika diwawancarai wartawan usai acara pengambilan sumpah dan pelantikan. (*)

Penulis + foto (*/Herminus Halek)
Editor : (+ ronny banase)

Jika Presiden Jokowi ke Sabu Raijua, Niko Rihi Heke: Kami Siapkan Nama Sabu

353 Views

Sabu-NTT, Garda Indonesia | Beragam respons bermunculan dari beberapa warga Sabu Raijua di platform media sosial (grup facebook) usai publikasi berita telah 13 kali kunjungan Presiden Jokowi ke Provinsi NTT (simak https://gardaindonesia.id/2020/10/01/hingga-kini-telah-13-kali-jokowi-ke-ntt-5-kali-dalam-kepemimpinan-vbl-jns/

Menanggapi kondisi tersebut, Nikodemus Rihi Heke pada Jumat, 2 Oktober 2020, menyampaikan bahwa Pemda Sabu Raijua telah bersurat ke Gubernur NTT, dan Sekretaris Negara agar Presiden Jokowi dapat mengunjungi Sabu.

“Jika Presiden Jokowi berkenan mengunjungi Pulau Sabu, maka kami bersama Mone Ama telah menyiapkan sebuah nama Sabu,” ungkap Niko Rihi Heke sembari mengungkapkan saat pidato kenegaraan Bupati Sabu Raijua pada 17 Agustus 2020 telah meneguhkan sebuah nama Sabu kepada Presiden Jokowi.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/08/14/berbusana-adat-sabu-presiden-jokowi-pidato-di-sidang-tahunan-mpr-ri/

Nama Sabu atau Ngara Waje merupakan sebuah panggilan kesayangan yang diberikan oleh pemangku adat atau Mone Ama kepada orang terhormat yang telah menginjakkan kaki di Pulau Seribu Lontar tersebut.

“Nama Sabu bagi Presiden Jokowi merupakan bentuk penghargaan atau bentuk penghormatan masyarakat Sabu Raijua kepada Presiden Jokowi,” terang Niko Rihi Heke.

Ada pun nama Sabu, tandas Niko Rihi Heke, yang bakal diberikan kepada Presiden Jokowi ialah Marihi Jaka yang mempunyai harmoni makna dari Ama Rihi Joko Widodo.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto utama oleh BPMI Setpres

Wini Jadi Atensi Pemda TTU Sejak 2010, IRCI Dorong Jadi Kawasan Ekonomi Khusus

398 Views

Kefa-TTU, Garda Indonesia | Kawasan Wini di wilayah pantai utara (pantura) TTU berbatasan langsung dengan Timor Leste wajib dijadikan Program Prioritas Calon Kepala Daerah (Cakada) TTU 2020 untuk diusulkan ke pusat dijadikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011 pasal 1 ayat 1 menyebutkan Kawasan Ekonomi Khusus yang selanjutnya disebut KEK adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu.

Terkait kondisi tersebut, maka Direktur IRCI (Institute for Research, Consultation and Information of International Investment), Gabriel de Sola melalui rilisnya yang diterima Garda Indonesia pada Selasa, 29 September 2020, menyebutkan bahwa, berdasarkan hasil survei; pertama, Kawasan Wini bisa dipersiapkan menjadi Pelabuhan Samudera di Utara Pulau Timor berbatasan langsung dengan Timor Leste. “Karena di Oecussi sudah ada Bandara Internasional yang dikelola oleh Badan Otorita Khusus kerja sama dengan Portugal,” ungkap Gabriel.

Kedua, kawasan Wini bisa dikembangkan Destinasi Pariwisata Terintegrasi dengan investasi Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Garam.

Ketiga, imbuh Gabriel, Kawasan Wini bisa dijadikan Kawasan Olahraga bertaraf nasional dan internasional seperti Pacuan Kuda, Paralayang, Tinju, Bola kaki, Voli pantai dan Atletik.

Menurut Gabriel, Hasil survei IRCI sudah disampaikan kepada Bupati TTU Ray Sau Fernandez dan beliau sangat mendukung agar Wini bisa dijadikan sebagai pusat Kawasan Ekonomi Khusus di pantura TTU berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Gabriel de Sola, Direktur IRCI bersama Mgr. Filipe Carlos Belo SDB Peraih Hadiah Nobel Perdamaian

Hal ini sejalan dengan masuknya NTT menjadi Daerah Destinasi Wisata Nomor Satu di dunia dan sesuai program unggulan dari kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dan Josef Nae Soi (JNS) yang menjadikan pariwisata sebagai prime mover pembangunan NTT.

“TTU sudah waktunya bangkit dan bersama mewujudkan Wini menjadi Kawasan Ekonomi Khusus,” tegas Gabriel de Sola, Direktur IRCI.

Terpisah, Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes saat dihubungi pada Kamis, 1 Oktober 2020 mengatakan, kawasan Wini hingga Motadik masuk dalam pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). “Kawasan tersebut telah masuk dalam agenda pemerintah sejak saya menjadi Bupati (awal pemerintahan Raymundus Sau Fernandes sejak 2010, red), namun belum mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat,” ungkapnya.

Dukungan yang dibutuhkan Pemda TTU, jelas Ray, adalah infrastruktur jalan, listrik, dan perluasan pelabuhan. “Kawasan Wini, tak bisa dipaksakan sebagai areal pertanian karena curah hujan di wilayah tersebut sangat minim (diukur 10 tahun terakhir, red), sehingga cocok dijadikan kawasan industri berupa pembangunan gudang, dan tambak garam,” terangnya.

Selain itu, ungkap Ray, awalnya Pelabuhan Wini hanya manual, sekarang telah memakai kontainer dan diupayakan menjadi pelabuhan peti kemas. “Kalau itu dijawab pemerintah pusat, maka barang yang akan masuk ke Timor Leste dapat bongkar muat di Pelabuhan Wini, karena tidak bisa dipaksakan di Pelabuhan Atapupu sebab dangkal, yang mana harus dilakukan pengerukan setiap tahun dengan biaya operasional tinggi,” urainya seraya membeberkan jika kedalaman laut ditambah lagi sekitar 20 meter, maka dapat mencapai 80 meter.

Lahan di Kawasan Wini pun, terang Bupati Raymundus Sau Fernandes, telah dibebaskan oleh pemerintah kabupaten sejak dirinya menjadi Bupati TTU sejak periode pertama. “Karena program tersebut berkelanjutan, maka akan didorong kepada pemimpin TTU selanjutnya (Bupati TTU periode 2021—2026,red), dan kami menyadari betul bahwa peluang lain di bidang pertanian dan peternakan di kawasan Wini tak bisa dipaksakan, maka didorong sebagai Kawasan Ekonomi Khusus untuk industri dan mendorong masuknya investor,” tandasnya.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto utama oleh genpi.co