Arsip Kategori: Daerah

Ketua DPRD Belu Ajak Kristo Rin Duka Bangun Keharmonisan

113 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Ketua DPRD Kabupaten Belu Jeremias Manek Seran Jr mengajak Kristo Rin Duka yang telah dilantik menjadi anggota DPRD Pengganti Antar Waktu (PAW) agar bersama menciptakan hubungan yang harmonis demokratis dalam lembaga legislatif terhormat, kemitraan dengan pemerintah dan seluruh komponen masyarakat Kabupaten Belu.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/08/08/pelantikan-anggota-dprd-belu-paw-bupati-jangan-cederai-kepercayaan-masyarakat/

Demikian ajakan yang ditekankan Manek Seran Jr dalam sambutan Rapat Paripurna Pengucapan Sumpah/Janji Anggota DPRD Kabupaten Belu Pengganti Antar Waktu (PAW), Kristoforus Rin Duka, masa Jabatan 2019—2024, di Ruang Paripurna DPRD Belu, pada Jumat, 7 Agustus 2020.

Sebagai politisi, tutur Manek Follo sapaan akrab Ketua DPRD Belu, berpolitiklah secara santun karena perbedaan pandangan dan sikap politik, seluas dan setajam apa pun adalah lumrah dan wajar. Namun, etika dan norma politik serta semangat persaudaraan dan kebersamaan di antara kita harus tetap terjaga dengan baik. “Jadikan ruang diskusi, dialog dan pertarungan gagasan besar untuk membangun ‘Rai Belu’ (Tanah Belu) sebagai ukuran kualitas kita dalam berpolitik di lembaga terhormat ini”, pintanya.

Sebagai wakil rakyat, lanjut Manek Follo, kita wajib menempatkan aspirasi dan kepentingan rakyat Kabupaten Belu sebagai simpul yang mempersatukan dan puncak perjuangan kita dalam empat tahun ke depan. Karena keberadaan kita di gedung dewan yang terhormat ini atas dukungan suara rakyat. Oleh karenanya, kerja keras dan pengabdian kita adalah prioritas utama yang menjadi penantian serta espektasi seluruh komponen masyarakat demi kesejahteraan dan kemakmuran Kabupaten Belu.

Sebelum menutup sidang paripurna, atas nama pimpinan dan seluruh anggota DPRD Kabupaten Belu, Manek Follo menyampaikan terima kasih kepada Bupati Belu bersama jajaran pemerintah Kabupaten Belu yang telah membantu seluruh proses pengambilan sumpah/janji anggota DPRD Kabupaten Belu Pengganti Antar Waktu (PAW) sampai terselenggaranya Rapat Paripurna.

Terima kasih juga disampaikan kepada Rohaniwan Katolik yang telah mendampingi Kristoforus Rin Duka dalam pengucapan sumpah/janji. Selanjutnya, terima kasih disampaikan kepada Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi NTT, Jefry Riwu Kore bersama para pengurus Demokrat tingkat Provinsi NTT.

Terima kasih kepada almarhum bapak Mauk Martinus yang telah bersama anggota DPRD Kabupaten Belu melaksanakan trifungsi selama kurun waktu 7 bulan dengan baik. Ucapan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat Kabupaten Belu, terutama partai politik yang telah memberikan dukungan kepada anggota DPRD terpilih.

“Kiranya dukungan ini tidak hanya sampai hari ini, tetapi dapat kita lanjutkan di masa – masa yang akan datang demi kemajuan masyarakat di daerah ini. Terima kasih kepada kita semua yang hadir di ruang paripurna ini, yang telah mengikuti dengan hikmah jalannya acara sumpah/janji anggota DPRD Kabupaten Belu Pengganti Antar Waktu masa jabatan 2019—2024. Semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan untuk meneruskan perjuangan sesuai tugas dan fungsi kita masing – masing dengan baik”, imbuhnya mengakhiri.

Pada awal sambutannya, Manek Follo mengajak hadirin untuk sejenak mengenang dan mendoakan keselamatan arwah almarhum Mauk Martinus yang telah meninggal dunia beberapa waktu lalu. “Sebagaimana kita tahu, saudara kita, rekan kita, sahabat kita almarhum bapak Mauk Martinus, anggota DPRD Kabupaten Belu masa jabatan 2019—2024 telah dipanggil Tuhan beberapa waktu lalu. Untuk itu, saya mengajak kita semua untuk hening sejenak, menundukkan kepala mengenang arwah beliau yang telah meninggal dunia. Kita mendoakan keselamatannya. Semoga amal baktinya menjadi teladan bagi kita semua. Dan, keluarga yang ditinggalkan senantiasa mendapat kekuatan dan penghiburan,” ajak anggota DPRD dua periode dari fraksi Demokrat itu.(*)

Penulis + foto (*/HH)
Editor (+ rony banase)

Pelantikan Anggota DPRD Belu PAW, Bupati : Jangan Cederai Kepercayaan Masyarakat

232 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | “Saya yakin dan percaya, bahwa saudara Kristoforus Rin Duka yang telah mengucapkan sumpah sebagai anggota DPRD Belu Pergantian Antar Waktu (PAW), masa jabatan tahun 2019—2024 adalah orang pilihan rakyat yang diyakini mampu menjembatani aspirasi dan kepentingan masyarakat Kabupaten Belu. Pergunakanlah kepercayaan ini dengan sebaik – baiknya, bertindak secara tulus, arif dan bijaksana sebagai anggota DPRD. Jangan sekali – sekali mencederai kepercayaan yang telah rakyat berikan karena akan menuai badai di kemudian hari. Saya juga menggarisbawahi pesan rohaniwan, yaitu menjadi pemimpin yang bijaksana”, demikian sambutan Bupati Belu Willibrodus Lay yang juga adalah Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Belu dalam Rapat Paripurna Pengucapan Sumpah/Janji Anggota DPRD Kabupaten Belu Pengganti Antar Waktu (PAW) pada Jumat, 7 Agustus 2020.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/08/07/reposisi-alm-mauk-martinus-kristo-rin-duka-jadi-anggota-dprd-belu/

Atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Belu, Willi Lay mengucapkan selamat bertugas kepada anggota DPRD Kristoforus Rin Duka. “Kiranya Tuhan senantiasa memberkati pengabdiannya”, tandas Bakal Calon Bupati Belu Sahabat Jilid II dalam pilkada serentak 2020 mendatang.

Kepada saudara Mauk Martinus, anggota DPRD masa jabatan 2019—2024 dari Partai Demokrat Daerah Pemilihan (dapil) Belu IV yang telah meninggal dunia karena sakit pada tanggal 3 Mei 2020, Bupati Willi Lay juga atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Belu menyampaikan terima kasih secara tulus dan penghargaan yang setinggi–tingginya atas jasa–jasanya dalam pengabdian, dan menjalankan tugas selama kurang lebih 7 bulan sebagai anggota DPRD Kabupaten Belu. “Selamat jalan bapak Mauk Martinus”, imbuhnya.

Mengakhiri sambutannya, Willi Lay mengajak semua pihak agar selalu memiliki pengertian yang baik dalam menjaga nilai–nilai persaudaraan, persahabatan dan kedewasaan dalam berdemokrasi. DPRD sebagai mitra dalam penyelenggaraan pemerintah daerah yang menjalankan tri fungsi, sehingga dapat mengedepankan kepentingan rakyat Kabupaten Belu.(*)

Penulis + foto (*/HH)
Editor (+rony banase)

Cabut Izin Siar TV Belu, KPID NTT Serahkan Surat Menkominfo RI ke Kominfo Belu

694 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Ketua KPID NTT, Frederikus Royanto Bau menyerahkan Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI Nomor 303 Tahun 2020 tentang Pencabutan Keputusan Menkominfo Nomor 869 Tahun 2012 Tentang Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Televisi Belu (Belu TV).

Penyerahan keputusan Menkominfo bertanggal 6 Juli 2020 tersebut, diterima langsung oleh Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Belu, Yohanes Andes Prihatin di ruang kerjanya, pada Jumat, 7 Agustus 2020. Penyerahan keputusan ini pun sebagai tindaklanjut atas surat dari Sekretaris KPI Pusat kepada Ketua KPID NTT tertanggal 8 Juli 2020.

“Kami baru terima Keputusan Menkominfo ini beberapa hari lalu, dan diminta untuk segera menyampaikan kepada LPPL TV Belu. Kebetulan kami ada keperluan di Atambua, sehingga keputusan ini langsung kami serahkan hari ini dan diterima Kadis Kominfo Belu,” ungkap Ketua KPID NTT yang akrab disapa Edy Bau.

Keputusan Menkominfo yang ditandatangani Direktur Penyiaran Kemenkominfo, Geryantika Kurnia tersebut berisi tiga hal penting terkait LPPL TV Belu antara lain:

Pertama, LPPL TV Belu tak lagi mempunyai hak untuk penyelenggaraan Jasa Penyiaran Televisi Publik Lokal;

Kedua, Penetapan terkait dengan jasa penyiaran televisi LPPL TV Belu dinyatakan tidak berlaku;

Ketiga, Pencabutan Keputusan Menkominfo ini tidak membatalkan kewajiban- kewajiban LPPL TV Belu yang merupakan piutang negara.

Berdasarkan data di KPID NTT, LPPL TV Belu adalah Lembaga Penyiaran milik Pemkab Belu yang memiliki IPP tetap dan aktif sejak 28 Desember 2012 dan akan berakhir pada 28 Desember 2022.

Ketua KPID NTT menuturkan bahwa KPID NTT sebagai lembaga negara yang berfungsi mewadahi aspirasi serta mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran, tentunya sangat menyayangkan pencabutan IPP LPPL TV Belu ini, apalagi televisi ini ada di wilayah perbatasan Negara RI-RDTL.

“Dengan adanya pencabutan izin penyiaran TV Belu, tentunya masyarakat di perbatasan negara ini kehilangan salah satu saluran informasi yang sudah lebih dari 10 tahun mereka nikmati. Untuk mendapatkan kembali IPP, tentu prosesnya harus dimulai dari awal dan membutuhkan waktu dan anggaran serta produk hukum berupa peraturan daerah sebagai dasar pendiriannya,” imbuh mantan jurnalis Pos Kupang itu.

Salah satu tugas dan kewajiban KPID NTT, lanjut Edy Bau, adalah ikut membantu pengaturan infrastruktur bidang penyiaran, tetap mendorong dan mendukung Pemkab Belu untuk memiliki kemauan baik (good will) tanpa memperhitungkan untung-rugi dalam membangun LPPL di wilayah perbatasan negara, apalagi belum ada stasiun penyiaran TVRI di wilayah ini.

Pihaknya juga mengharapkan kepada pemerintah kabupaten se-Provinsi NTT untuk membentuk LPPL, baik televisi maupun radio sebagai upaya dan komitmen pemerintah dalam rangka memenuhi Hak Asasi Manusia (HAM) di bidang informasi.

Kepala Dinas Kominfo Belu, Johanes Andes Prihatin pada kesempatan itu menyampaikan terima kasih kepada KPID NTT yang telah menyerahkan Keputusan Pencabutan Izin Penyiaran tersebut.

Menurut Prihatin, Keputusan Menkominfo itu sebagai tanggapan atas surat permohonan pencabutan IPP TV Belu yang telah diajukan pihaknya beberapa waktu lalu. (*)

Penulis + foto (*/Herminus Halek)
Editor (+rony banase)

Reposisi Alm. Mauk Martinus, Kristo Rin Duka Jadi Anggota DPRD Belu

328 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Partai Demokrat Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Ketua DPRD Belu Jeremias Manek Seran Jr melantik dan mengambil sumpah/janji Kristoforus Rin Duka sebagai anggota DPRD Belu Pergantian Antar Waktu (PAW) menggantikan anggota DPRD Belu Mauk Martinus (alm.) periode 2019—2024 di Ruang Paripurna DPRD Belu, pada Jumat, 7 Agustus 2020.

“Hari ini, saya Ketua DPRD Kabupaten Belu akan memandu pengucapan sumpah/janji anggota DPRD Kabupaten Belu Pergantian Antar Waktu (PAW) masa jabatan tahun 2019—2024. Kiranya sumpah/janji yang akan saudara ucapkan ini disaksikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa yang saudara ucapkan dan apa pula yang tersimpan dalam hati saudara,” ungkap Ketua DPRD Belu menjelang pengambilan sumpah/janji.

Ketua DPRD Belu Jeremias Manek Seran Jr saat melantik Kristoforus Rin Duka sebagai anggota DPRD Belu Pergantian Antar Waktu (PAW)

“Demi Tuhan saya berjanji,…bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguh – sungguh demi tegaknya kehidupan demokrasi serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi, seseorang dan golongan. Bahwa, saya akan memperjuangkan aspirasi untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga Tuhan menolong saya,” ucap Manek Seran Jr diikuti Rin Duka.

Turut hadir dalam acara pelantikan itu Bupati Belu Willibrodus Lay dan Wakil Bupati JT. Ose Luan, Wakil ketua I DPRD Kabupaten Belu Yohanes Jefri Nahak, Forkopimda plus Kabupaten Belu, para anggota DPRD Kabupaten Belu, perwakilan Ketua DPD Partai Demokrat NTT, pimpinan perangkat daerah Kabupaten Belu, pimpinan instansi vertikal, pimpinan partai politik dan pimpinan organisasi wanita se-Kabupaten Belu, rohaniwan pendamping dan insan pers.

Anggota DPRD Belu, Kristo Rin Duka bersama istrinya Petronela Berek

Sebelumnya, dalam pemilihan legislatif (pileg) serentak 17 April 2019, Kristo Rin Duka dari Partai Demokrat terpilih dengan jumlah suara 571, setara dengan almarhum Mauk Martinus, Daerah Pemilihan (dapil) IV: Kecamatan Tasifeto Barat; Kecamatan Nanaet Dubesi; dan Kecamatan Raimanuk. (*)

Penulis + foto (*/HH)
Editor (+ rony banase)

Rumah Adat Suku Telitae di Raimanuk – Belu Ludes Dilahap Api

614 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Keluarga besar Suku Telitae dirundung nestapa. Betapa pula, rumah adat yang terletak di wilayah RT 01/ RW 01 Dusun Subaru A, Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu ludes dilalap si jago merah, pada Rabu 5 Agustus 2020 sekitar pukul 16.30 WITA.

Disaksikan Garda Indonesia di Tempat Kejadian Perkara (TKP) bangunan tradisional yang beratap alang–alang tersebut rata dengan tanah hingga yang tersisa hanya puing–puing arang.

Informasi yang dihimpun di TKP menyebutkan bahwa kebakaran rumah adat yang diagung–agungkan para anggotanya di wilayah adat Raimanuk itu, penyebabnya tidak diketahui. Dan, bahkan sudah terjadi untuk yang ketiga kali.

“Tadi, kami sedang bersihkan sayur di pinggir rumah sebelah. Saya cium bau kabel terbakar. Kami semua ada di luar rumah adat. Asap itu muncul pertama dari bagian bubungan atap. Saya langsung lari menuju pintu rumah adat, saya buka pintu ternyata api sudah membesar. Barang–barang di dalam rumah adat itu tidak ada satu pun yang selamat”, cerita penjaga rumah adat, Aplonia Tai dalam Bahasa Tetun sembari mengatakan saat kejadian itu, suaminya Yasintus K.J. Un Atok sedang tidur lelap.

Terkait penyebab kebakaran, dugaan kuat dari sejumlah warga di lokasi kejadian bahwa sumber api itu berasal dari korsleting arus listrik.

Unit Pemadam Kebakaran berupaya memadamkan api

Pantauan media ini, mobil pemadam kebakaran (damkar) baru tiba di lokasi kurang lebih 30 menit kemudian, sekitar pukul 17.00 WITA. “Kendalanya, telepon rumah untuk jalur ini belum masuk. Sedangkan call center-nya itu hanya ada di Atambua. Tadi kami tahu ada kebakaran di sini dari teman – teman di call center via telepon genggam. Kalau bilang terlambat, ya kami juga manusia. Tadi kami datang juga injak orang punya kambing di jalan. Sirene juga sampai putus semua, “imbuh salah satu petugas damkar Paulus Pah diamini teman lainnya.

Adapun keluhan pihak korban dan warga sekitar ketika menyaksikan upaya pemadaman yang sempat terhenti lantaran persediaan air terbatas. Menanggapi hal itu, tambah Paulus Pah, bahwa jika penyemprotan air menggunakan monitor utama, maka 4000 liter air bisa habis hanya dalam tempo 30 detik. Sementara, mobil tangki penyedia air tidak bisa berbuat banyak karena air baku sumur bor di sekitar lokasi tidak ada. Aturannya kata Paulus Pah, petugas damkar bertanggung jawab apabila berkemudi tanpa bunyi sirene.

Kepala Desa Mandeu Heribertus Luan, kepada media ini di lokasi menuturkan, bahwa penyebab kejadiannya tidak diketahui. Akan tetapi, dugaan kuat sumber api itu berasal dari korsleting arus listrik.

Keterlambatan petugas damkar tiba di lokasi, Heri Luan menilai pihak damkar kurang siap dan minimnya pengawasan. “Tadi saya yang telepon langsung ke nomor utama di Atambua, baru mereka telepon lagi ke Sub Kimbana (Kecamatan Tasifeto Barat). Mereka juga datang bawa air sedikit. Kita ada sumur bor di kantor desa tetapi saat kejadian, PLN putuskan arus. Kita di sini sedot air pakai listrik, “ jelasnya.

Untuk mengantisipasi bahaya kebakaran, Heri Luan mengimbau kepada pemerintah Daerah agar memberikan petunjuk dan izin penggunaan anggaran desa/kelurahan untuk membuat papan informasi yang memuat nomor–nomor darurat dan dipajang di tempat–tempat umum. “Kami dari desa mau buat begitu tapi regulasi tidak mengizinkan kami. Anggarannya tidak seberapa kok. Di setiap simpang, lorong, gang itu harusnya ada nomor–nomor penting, sehingga kalau ada situasi darurat seperti ini orang langsung telepon,“ tandasnya.

Sebagai informasi, Call Center pemadam kebakaran untuk wilayah Kabupaten Belu: (0389) 21113. (*)

Penulis + foto (*/HH)
Editor (+rony banase)

“Catat Setiap Anak” Plan Indonesia Bantu Alat Kerja untuk Disdukcapil Nagekeo

93 Views

Mbay, Garda Indonesia | Untuk mendukung percepatan pencatatan dokumen kependudukan terutama data anak, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) memberikan bantuan satu unit laptop dan dua unit printer untuk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Nagekeo pada pada Senin, 3 Agustus 2020 di Mbay, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bantuan alat kerja oleh Plan Indonesia yang diberikan pada masa pandemik Covid-19, bertujuan untuk mempercepat pendataan identitas anak baru dan menerbitkan akta kelahiran mereka. Selain itu, Plan Indonesia mengadakan peningkatan kapasitas Dinas Dukcapil untuk menyelenggarakan pembuatan akta kelahiran kolektif di Nagekeo.

Weke Andreas, Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Nagekeo menyampaikan bahwa sekitar 11 persen anak umur 0—18 tahun anak di Nagekeo belum memiliki akta kelahiran. “Hingga bulan Desember 2020 kita memiliki target 95 persen dan saat ini sudah mencapai 89,4 persen yang memiliki akta kelahiran. Dukungan Plan Indonesia akan sangat membantu penyelenggaraan pelayanan catatan sipil yang lebih efektif dan mudah diakses oleh masyarakat,” ujar Andreas.

Kadis Dukcapil Kabupaten Nagekeo saat menandatangani berita acara serah terima bantuan dari Plan Internasional

Kontribusi Plan Indonesia tersebut merupakan bagian dari proyek Catat Setiap Anak (Count Every Child Project) yang telah berlangsung di Kabupaten Nagekeo sejak tahun 2020—2023. Melalui proyek ini, Plan Indonesia melakukan riset tentang hak atas identitas dan kebangsaan. Plan Indonesia juga memfasilitasi lokakarya tingkat lokal untuk meningkatkan kesadaran berbagai pemangku kepentingan tentang hak identitas anak, terutama pentingnya menjangkau data anak perempuan yang terpinggirkan.

Eka Hadiyanto, Program Implementation Area Manager Plan Indonesia di Kabupaten Nagekeo menjelaskan bahwa pembuatan akta kelahiran merupakan bagian dari melindungi, menghargai, dan mengakui status anak sebagai bentuk pemenuhan hak anak atas identitas dirinya. “Anak yang tidak memiliki akta kelahiran dihadapkan pada sejumlah risiko, seperti pemalsuan identitas untuk berbagai kepentingan. Risiko lainnya terutama anak-anak di pedesaan yang tak memiliki akta kelahiran adalah menjadi sasaran empuk perdagangan anak,” urai Eka.

Melalui proyek ‘Catat Setiap Anak’, Plan Indonesia berupaya mendorong perbaikan proses tata kelola layanan catatan sipil dengan partisipasi proaktif dari Kelompok Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA) melalui mekanisme perlindungan anak berbasis masyarakat di 15 desa dampingan di Kabupaten Nagekeo. (*)

Sumber berita dan foto (Publikasi Plan Internasional)
Editor (+rony banase)

Terampil ‘Digital Marketing’ & Sablon, Milenial Sumba Raih Pelatihan PLN

117 Views

Sumba-N.T.T., Garda Indonesia | Selain menghadirkan listrik di Pulau Sumba melalui program PLN Peduli, PLN juga menyelenggarakan Pelatihan Sablon dan Digital Marketing untuk Milenial Bukit Wisata Wairinding. Pelatihan tersebut digelar di Kantor Desa Pambota Njara, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, 28—30 Juli 2020.

Sebanyak 20 peserta mengikuti pelatihan hasil kerja sama PLN dengan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Anugerah Anak Sumba.

“Ini merupakan bentuk kepedulian kami. Pelatihan ini kami buat untuk meningkatkan kompetensi milenial di sekitar bukit wisata Wairinding serta bagian dalam upaya meningkatkan produktivitas dan perekonomian masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Ke depan, PLN akan melakukan monitoring dan evaluasi bersama dengan Tim LKP Anugerah Anak Sumba, yang selanjutnya kelompok UKM skala kecil ini akan menjadi mitra Binaan PLN,” ungkap  Agustinus Jatmiko selaku General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT.

Foto bersama para peserta pelatihan digital marketing dan sablon

Melalui Pelatihan ini, imbuh Jatmiko, diharapkan UKM skala kecil dapat optimal dan akan dievaluasi dan dimonitoring hingga mampu menghasilkan produk dan memasarkannya secara langsung kepada visitor pariwisata di desa masing-masing. Monitoring evaluasi akan terus dilaksanakan pihak PLN dikoordinasikan dengan Tim LKP Anugerah Anak Sumba, yang selanjutnya kelompok UKM skala kecil ini akan menjadi mitra Binaan PLN.

Selanjutnya, PLN juga akan melakukan pelatihan sejenis di Desa Wisata Ratenggaro yang terletak di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) pada tanggal 3—5 Agustus 2020.

Salah satu hasil karya pelatihan sablon

Salah satu peserta pelatihan, Cicilia Ridolf menuturkan pelatihan ini sangat berguna bagi dirinya. “Terima kasih bagi PLN yang sudah jeli dalam memperhatikan kami selaku milenial yang memang membutuhkan ketrampilan guna menopang perekonomian keluarga,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Pambotanjara Anton Radandima berharap pelatihan sablon dan digital marketing ini dapat diaplikasikan sehingga memiliki nilai bagi masyarakat Pambota Djara dan turut mengembangkan potensi-potensi masyarakat yang ada.(*)

Sumber berita dan foto (*/Humas PLN UIW NTT)
Editor (+rony banase)

Jelang HUT Ke-75 Republik Indonesia, 12 Desa di Sumba Nikmati Listrik

103 Views

Sumba-N.T.T, Garda Indonesia | Di tengah pandemi Covid-19, PLN terus bekerja untuk menghadirkan listrik ke seluruh pelosok tanah air. Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, PLN berhasil mengalirkan listrik kepada 538 Kepala Keluarga (KK) di 12 desa yang berada Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Adapun 12 Desa tersebut antara lain empat desa di Kabupaten Sumba Timur yaitu Desa Watumbelar di Kecamatan Lewa Tidahu, Desa Rakawatu, Desa Kondamara di Kecamatan Lewa, Desa Lailara di Kecamatan Katala Mahu. Kemudian, satu desa di Kabupaten Sumba Tengah yaitu Desa Jodu di Kecamatan Umbu Ratu Nggai. Sebanyak tujuh desa di Kabupaten Sumba Barat Daya yaitu Desa Watu Wona, Desa Ana Kaka, dan Desa Ana Engge di Kecamatan Kodi, Desa Hameli Ate di Kecamatan Kodi Utara Desa Menne Ate, Desa Weekombaka, Desa Lua Koba di kecamatan Wewewa Barat.

“Di tengah pandemi Covid-19 ini, kami senang bisa memberikan sesuatu yang berharga bagi masyarakat kita khususnya di Pulau Sumba. Ini menjadi hadiah untuk menyambut HUT Ke-75 RI,” tutur General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTT, Agustinus Jatmiko pada Rabu, 29 Juli 2020.

PLN juga menyampaikan terima kasihnya kepada pemerintah daerah yang telah mendukung pembangunan infrastruktur untuk melistriki desa-desa di kawasan 3T tersebut. Dirinya juga berharap, hadirnya listrik tidak hanya dimanfaatkan sebagai alat penerangan tetapi juga untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.

Berdasarkan info dari Manager UP2K (Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan) Kupang Cahyo Gunadi menyampaikan untuk melistriki 12 desa tersebut, PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 43,14 kms, Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 60,20 kms dan 13 buah gardu dengan total 600 kVA.

Made Hary Palguna selaku Manager UP3 Sumba menyebutkan Rasio Desa Berlistrik pulau Sumba saat ini 90,00% dan rasio elektrifikasi 75,12%. Untuk desa-desa yang belum berlistrik, PLN secara bertahap membangun infrastruktur kelistrikan untuk melistriki seluruh desa di Pulau Sumba, tutupnya.

Sementara itu, Camat Lewa, Drs Banju Ndakumanung mengatakan, listrik menjadi salah satu harapan. “Terima kasih kepada PLN yang telah memberikan listrik. Adanya listrik aktifitas masyarakat di malam hari lebih produktif untuk meningkatkan ekonomi,” ujarnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/Humas PLN UIW NTT)
Editor (+rony banase)