Arsip Kategori: Daerah

Gubernur VBL Pinta Petani TJPS di TTU Dapat Jadi Penyuluh Bagi Petani Lain

78 Views

Insana-TTU, Garda Indonesia | “Sebagai Gubernur, saya mengucapkan terima kasih buat para pendamping yang dengan penuh semangat, tetap setia mendampingi petani di sini, sehingga kualitas jagung yang dipanen sangat memuaskan. Meski saat ini dunia sedang dilanda Virus Corona yang sangat meresahkan, tetapi semangat para pendamping dan juga para petani di tempat ini tidak surut sedikit pun. Sekali lagi terima kasih buat semuanya,” tutur Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL).

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/04/02/ikut-program-tjps-gubernur-vbl-apresiasi-kinerja-kelompok-tani-fajar-pagi/

Pesan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) tersebut disampaikannya kepada para petani yang mengikuti Program TJPS (Tanam Jagung Panen Sapi); saat melakukan panen jagung jenis Komposit Lamuru secara simbolis di Desa Letneo, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, pada Selasa, 7 April 2020.

“Ke depan saya minta agar program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) ini melibatkan seluruh komponen yang ada di Kabupaten, termasuk juga TNI dan POLRI. Tentunya saya akan berkoordinasi dengan Kapolda dan Danrem agar dapat mengerahkan seluruh perangkatnya untuk terlibat secara aktif di lapangan,” sambung Gubernur.

Gubernur VBL saat memanen jagung di lahan sebelah embung

Bermodalkan sebuah embung yang ada di dekat lokasi panen jagung ini, membuat mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem ini kembali mengajak para petani dan juga pendamping yang ada untuk kembali melakukan proses penanaman jagung. “Tadi ketika melakukan panen, saya lihat ada sebuah embung besar. Jadi setelah panen kali ini saya ajak semua untuk kembali melakukan penanaman. Nanti pemerintah akan bantu Dinamo Air untuk menyedot air yang ada di embung untuk proses penyiraman. Jadi walaupun musim panas, jagungnya akan tetap berhasil,” pinta Gubernur Viktor.

Lanjutnya,” Dan para petani tidak perlu khawatir tentang proses penjualannya, karena berapa pun hasi panennya, pemerintah melalui PT Flobamor akan langsung datang ke lokasi untuk membelinya. Saat ini pihak PT Flobamor juga ada di sini untuk proses pembeliannya”.

Gubernur VBL mencuci tangan untuk antisipasi penyebaran Virus Corona,

Gubernur VBL meminta agar seluruh petani ketika selesai memanen jagung, batangnya jangan dibuang atau dibakar, karena batang jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. “Nanti pemerintah akan siapkan ahlinya agar dapat mengajarkan ke para petani. Tentunya hal ini sejalan dengan program TJPS ini. Tanam jagung, hasil panennya dijual pada pasar (market) yang sudah ada, uang hasil jualan dipakai untuk membeli sapi, dan sapinya bisa makan batang jagung hasil panen yang telah diolah menjadi pakan ternak, ini yang dinamakan kerja secara terencana,” urai Gubernur.

Gubernur juga meminta agar proses pendampingan dari Dinas Pertanian ini cukup 2 kali, setelah itu para petani sudah harus mandiri. “Yang paling penting, ilmu yang telah didapat harus diajarkan kepada para petani lainnya, sehingga mereka juga bisa melakukan hal yang sama di tempat mereka,” tandas Gubernur VBL mengakhiri sambutannya.

Pada tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Yohanis Oktovianus mengatakan bahwa jumlah tenaga pendamping sebanyak 11 orang, pendampingan yang dilakukan terhadap para petani di tempat ini, sampai kepada proses penukaran dengan sapi.

Untuk diketahui, Kabupaten TTU memiliki lahan yang telah ditanami jagung jenis Komposit Lamuru di lahan seluas 350 hektar, yang terletak di Kecamatan Insana Barat dan Kecamatan Insana Tengah yang memiliki luas yang sama 175 hektar, dengan total jumlah petani sebanyak 350 orang, dengan alokasi satu orang petani menggarap satu hektar lahan. Sedangkan untuk kualitas jagung sendiri, dipastikan bahwa satu hektar mampu menghasilkan jagung sebanyak 6—7 ton dengan kadar air 14 persen.

Turut hadir pada kesempatan ini, Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes, Anggota DPR RI Kristina Mukin, Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT Kristian Mbuik dan juga Staf Khusus Gubernur NTT Imanuel Blegur.(*)

Sumber berita dan foto (*/Sam Babys–Staf Biro Humas dan Protokol)
Editor (+rony banase)

Jasa Raharja NTT Hibah Ambulans kepada RSUD TC Hillers Maumere

80 Views

Maumere, Garda Indonesia | PT Jasa Raharja (Persero) Cabang NTT menghibahkan 1 (satu) unit ambulans kepada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr TC Hillers Maumere, pada Senin, 16 Maret 2020, bertujuan untuk meminimalisir fatalitas korban kecelakaan dan memberikan pelayanan kepada korban kecelakaan lalu lintas dan angkutan jalan yang ada di wilayah Kabupaten Sikka.

Acara hibah Mobil Ambulans berlangsung di Kantor Bupati Sikka, diterima langsung oleh Bupati Sikka, Fransiskus R. Diogo, dan dihadiri oleh Sekda Kabupaten Sikka, Direktur RSUD dr TC Hillers dan ASN Kabupaten Sikka.

Bupati Sikka dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Jasa Raharja (Persero) karena telah memberikan perhatian bagi Pemda Kabupaten Sikka dengan menghibahkan Mobil Ambulans yang selanjutnya akan digunakan Rumah Sakit TC Hillers sebagai Kendaraan Operasional pelayanan bagi korban kecelakaan lalu lintas.

“Tadi disampaikan bapak Pahlevi bahwa ada 19 Provinsi yang mendapatkan Hibah Ambulans dan kami bersyukur karena di NTT, hanya Pemda Sikka yang mendapatkan Hibah Ambulans, ini merupakan wujud kepedulian yang nyata bagi Masyarakat Kabupaten Sikka dan kami juga harus memberikan feed back kerja sama yang konstruktif kepada Jasa Raharja,” ujar Bupati Sikka.

Penyerahan 1 (satu) unit Mobil Ambulans dari Jasa Raharja NTT kepada RSUD TC Hillers Maumere yang diterima langsung oleh Bupati Sikka, Fransiskus R. Diogo

Sementara itu, Pahlevi B. Syarif, Kepala Cabang PT Jasa Raharja (Persero) Nusa Tenggara Timur dalam kesempatan yang sama berharap mobil ambulans yang dihibahkan dapat mempercepat penanganan korban kecelakaan lalu lintas, baik pertolongan pertama maupun korban yang membutuhkan ambulans ketika pulang ke rumah.

“Mobil ambulans ini dilengkapi berbagai fasilitas seperti P3K, tandu, dan peralatan untuk mengevakuasi korban lainnya. Semoga peralatan tersebut dapat membantu petugas medis yang akan memberikan pertolongan pertama kepada korban kecelakaan,” terang Pahlevi.

Alasan RSUD dr. TC Hillers Maumere dipilih sebagai penerima hibah ambulans, terang Pahlevi, karena selama kurun waktu 5 tahun ini, paling banyak menangani korban kecelakaan lalu lintas.

Pahlevi juga menambahkan, PT Jasa Raharja merupakan perusahaan yang diberikan tugas memberikan santunan kepada korban kecelakaan lalu lintas dan angkutan jalan. Selain itu, Jasa Raharja juga menghimpun dana dari masyarakat yang mempunyai kendaraan bermotor dan angkutan umum.

Direktur RSUD dr TC Hillers Maumere dr. Marietha L. Dua Weni mengatakan mobil ambulans hibah dari Jasa Raharja sangat bermanfaat bagi pelayanan rumah sakit.

“Ambulans ini nantinya akan difungsikan untuk mendukung tim medis yang bertugas memberikan pertolongan kepada korban kecelakaan,” ucapnya.(*)

Sumber berita (*/Yanto—Jasa Raharja NTT)
Editor (+rony banase)

Program Tanam Jagung Panen Sapi Berjalan, Kab. SBD Panen Perdana

222 Views

Sumba Barat Daya, Garda Indonesia | Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan diinisiasi para peneliti handal yang dijalankan di 7 (tujuh) kabupaten yakni di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Belu, Malaka, Sumba Timur, dan Sumba Barat Daya (SBD) berjalan dan mulai membuahkan hasil.

Panen Perdana Program TJPS dilaksanakan di Desa Weekombak, Kecamatan Webar, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) pada Sabtu, 14 Maret 2020, dihadiri oleh Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Yohanes Oktavianus.

Untuk mengenal lebih detail tentang tujuan Program TJPS dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi NTT, maka pada Sabtu, 14 Maret 2020 Sekitar pukul 15.11 WITA, Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Miqdont Abola kepada media ini mengatakan bahwa Program TJPS dilaksanakan sejak tahun 2019 yang menyasar lahan kering seluas 2.400 hektar dan untuk meminimalkan angka kemiskinan.

“Konsep TJPS dilakukan sebagai implementasi atas hasil kajian tim ahli dari Balai Penelitian Terpadu Pertanian (BPTP) Provinsi NTT, Fakta di lapangan membuktikan bahwa saat petani mengikuti pendekatan TJPS maka hasil panen berbeda dengan pendekatan tradisional,” ungkap Miqdont.

Jagung Varietas Baru dan Unggul yang ditanam dalam Program TJPS

Mengenai tata kelola program TJPS, urai Miqdont, per petani harus mengelola luas lahan kering seluas 1 hektare (tak meski harus di satu lokasi) dengan menggunakan teknologi. “Secara manual, petani miskin di kantong-kantong kemiskinan hanya mengolah lahan kering maksimal seluas 20—25 are setahun. Dengan luas lahan tersebut maka hasil produksi jagung hanya berkisar 900 kg—1 ton saja, dan dengan kondisi tersebut (asumsi 1 rumah tangga terdapat 5 orang), data kita menunjukkan ketahanan pangan masih diragukan (tidak termasuk pendapatan yang harus disisihkan). Dari kondisi tersebut, maka diinisiasi konsep untuk mengintegrasikan produksi jagung dan sapi,” beber Miqdont.

Lanjut Miqdont, Mengapa Sapi? Karena Sapi merupakan bagian dari budaya petani Timor dan Sumba dan dari sisi ekonomi mempunyai peranan sangat penting untuk membangun ekonomi. Provinsi NTT memiliki banyak sapi, namun populasi dan distribusi kepemilikan hanya berada pada segelintir orang. “Sebagian besar petani memiliki banyak ternak sapi, namun semu, karena sapi tersebut kepunyaan orang lain,” ungkap Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT.

Bulir Jagung dari Varietas Baru dan Unggul

Tentang konsep TJPS, secara gamblang Miqdont menjelaskan, dalam 1 (satu) siklus panen, 1 Kepala Keluarga (KK) mengelola 1 (satu) hektar lahan kering yang mana biaya pengolahan tanah dari anggaran pemerintah dan menjadi tanggung jawab pemerintah untuk meringankan beban petani. “Kita patok produksi jagung harus sebanyak 5 (lima) ton per hektar. Dari 5 ton jagung, dialokasikan 1—1,5 ton untuk ketahanan pangan selama setahun, 3,5—4 ton dialokasikan untuk dijual kemudian dibelikan 1 (satu) ekor sapi dan masih menyisihkan dana tunai untuk simpanan petani,” urai Miqdont.

Dari kondisi tersebut, jelas Miqdont, dalam 1 (satu) siklus produksi, kita bisa merubah petani dari yang tidak aman pangan menjadi memiliki keamanan pangan, dan petani yang tidak memiliki sapi akhirnya memiliki sapi. “Ini yang mau terus kita lakukan, sehingga secara bertahap distribusi kepemilikan sapi bisa menjadi merata di tingkat masyarakat karena tidak mungkin pemerintah dapat membelikan sapi untuk masing-masing petani. Itulah konsep Tanam Jagung Panen Sapi,” ujar Miqdont seraya berkata jika lahan kering yang dimiliki petani memiliki sumber air, maka pemerintah membantu pompa air.

Foto bersama Pendamping dan Petani Program TJPS bersama hasil panen jagung

Sementara itu, Ketua Tim Ahli TJPS, Dr. Ir. Tony Basuki, M.Si. menyampaikan bahwa tahapan penanaman jagung di Kabupaten Sumba Barat Daya dimulai pada November 2019 sehingga dapat memanen jagung pada Maret 2020. “Saat ini, di Kabupaten SBD melakukan panen perdana oleh Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, namun sebelumnya dilaksanakan persiapan lahan, olah tanah termasuk pendampingan dan pelatihan, jadi harus ada internalisasi kepada petani sehingga petani paham tentang Program TJPS,” terang Tony Basuki.

Adi Rekrut Pendamping Program TJPS, jelas Tony, direkrut 800 orang pada Desember 2019 oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, dan terjaring 99 pendamping lalu dilatih dan mulai bekerja dengan langkah utama yakni “Calon Petani Calon Lahan (CPCL)” yang diarahkan oleh Dinas termasuk pendampingan non teknis termasuk dilatih ulang oleh Tim Ahli TJPS.

Adapun Tim ahli TJPS terdiri dari Ketua Tim dari BPTP NTT/Ahli Pertanian, Dr. Ir. Tony Basuki, M.Si.; anggota, Dr. Ir. Evert Y. Hosang, M.Si (BPTP NTT/,Ahli Pertanian); Dr. Marten Mulik (Fapet Undana/ahli Peternakan); Dr. Ir. Twen Dami Dato (Fapet Undana/Ahli Ternak); Dr. Ir. Yohanis Ngongo, M.Sc (BPTP NTT/Ahli Sosial Ekonomi); Dr. Herry Kotta (Undana/Ahli Lingkungan); Ir. Debora KanaHau, M.Si (BPTP NTT/Ahli Peternakan); Ir. Bambang Permana, M.Si (Dinas Peternakan NTT); dan Dr. Bernard de Rosari, S.P., M.P. (BPTP NTT, Ahli Ekonomi Pertanian).

Hasil panen jagung varietas baru dan unggul dari Program TJPS di Kabupaten Sumba Barat Daya

“Kabupaten SBD dan Sumba Timur mulai menanam jagung pada November 2019, sedangkan sebagian besar kabupaten lain menanam pada awal Januari 2020 dan bakal memanen pada awal April 2020,” tutur Tony Basuki seraya berharap agar Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dapat hadir saat panen pada di Kabupaten berikutnya karena merupakan salah satu program andalannya.

Sekitar 70 desa dilibatkan dalam Program TJPS di 7 (tujuh) kabupaten di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, urai Tony, merupakan komoditas kebanggaan orang NTT yakni jagung dan ternak sapi, namun saat ini bukan lagi menjadi komoditas komersial, namun hanya sekadar keamanan pangan (food security) petani NTT.

“Kondisi saat ini yang mana petani hanya asal tanam jagung saja dan tidak punya kebanggaan akan ternak sapi, maka kami membuat komitmen dengan petani yang mau menjalankan Program TJPS karena harus memproduksi 5 (lima) ton jagung hasil panen per 1 (satu) hektar lahan kering dengan menyiasati pola tanam sistem double track dan menggunakan varietas unggul baru yang dapat meningkatkan produksi di atas 30 persen,” ungkapnya.

“Awalnya banyak orang ragu terhadap Program TJPS, namun saat ini mulai menampakkan hasil layaknya panen di Kabupaten SBD,” pungkas Tony Basuki, Ketua Tim Ahli TJPS.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Wakil Bupati Kupang Titip ‘Nasib Guru Honorer’ kepada Anita Jacoba Gah

218 Views

Kab Kupang, Garda Indonesia | Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe menitipkan nasib Guru Honorer yang mengabdikan diri untuk memajukan pendidikan di wilayah yang merupakan kabupaten terluas di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/03/12/46-bangunan-sekolah-di-kupang-rusak-anita-gah-upaya-dorong-dana-pusat/

Permintaan Jerry Manafe tersebut disampaikannya saat kunjungan Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Demokrat, Anita Jacoba Gah di ruang kerjanya pada Kamis, 12 Maret 2020 pukul 10.30 WITA.

“Saya punya pengalaman saat bertemu 2 (dua) orang Guru Honorer di Amfoang (salah satu kecamatan, red). Mereka mengatakan upah honor hanya Rp.150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah) dan mereka menetap di rumah warga. Saya mohon agar Ibu Anita dapat berbicara dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar dapat mengangkat tenaga honorer, terlebih tolonglah lihat guru honorer,” ungkap Wakil Bupati Kupang yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kupang 2 (dua) periode ini dengan sangat miris.

Lanjut Wakil Bupati Kupang, “Tenaga Honorer kita ibarat seperti layang-layang putus talinya, kasihan nasib guru honor, mereka sangat susah. Saya mohon, jika dapat dibantu agar dapat memprioritaskan tenaga guru honorer yang telah lama bekerja karena mereka menganggap profesi sebagai panggilan untuk mengabdi dengan ketulusan.”

Pertemuan Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe dan Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Demokrat, Anita Jacoba Gah

Saat ini, ujar Jerry Manafe, wajah Kabupaten Kupang agak berbeda!, Kabupaten Kupang merupakan kabupaten yang telah melahirkan Kota Kupang, Kabupaten Rote Ndao, dan Kabupaten Sabu Raijua. Dana Alokasi Umum (DAU) untuk pendidikan di Kabupaten Kupang sangat terbatas sekitar 30 Miliar per tahun.

“Saya tidak suka lihat wajah Kabupaten Kupang dengan kondisi saat ini!,” tegas Jerry Manafe seraya berkata bahwa cara kerja kepala dinas dan kabid di sini tidak mempunyai rasa memiliki dan mencintai kabupaten ini. Penegasan ini langsung ditujukan kepada Kadis Pemuda dan Olahraga, Sepri Klau, Kadis Pariwisata, Pieter Sabaneno; Sekretaris Dinas Arsip, Mariana Damaledo; Kadis Pendidikan Imanuel Buan, dan beberapa kabid dari dinas terkait yang turut serta menerima kunjungan reses Anita Jacoba Gah.

Foto bersama Anita Jacoba Gah, Wakil Bupati Kupang, Kadis dan kabid terkait bidang kerja Komisi X DPR RI

Menanggapi permintaan Wakil Bupati Kupang, Anita Jacoba Gah menanyakan berapa banyak tenaga guru honorer yang hendak diangkat di Kabupaten Kupang?

“Kami sebagai wakil rakyat di DPR RI dengan kondisi seperti anak kecil berebut makanan. Saya akan sangat kecewa sekali jika apa yang telah kami perjuangkan sia-sia, seperti masalah penyaluran dana PIP (Program Indonesia Pintar),” beber Anita.

Untuk itu, imbuh Anita, dirinya meminta laporan dan data dari Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang. “Saya juga melihat dengan mata kepala sendiri, mereka (Guru Honorer, red) menerima upah Rp.150.000,- oleh karena itu, saya meminta kepada Wakil Bupati Kupang untuk memberikan informasi berapa banyak tenaga Guru Honorer yang mau diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk Tahun Anggaran 2020,” pinta Anita Jacoba Gah.

Anita Gah juga menyampaikan bahwa perjuangannya saat ini berfokus untuk Kabupaten Kupang tak hanya pada bidang pendidikan, namun juga untuk pariwisata, ekonomi kreatif, pemuda dan olahraga.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

46% Bangunan Sekolah di Kupang Rusak, Anita Gah Upaya Dorong Dana Pusat

152 Views

Kab Kupang, Garda Indonesia | Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) periode 2018—2019 sebesar Rp.16.067.911.754,- (16,067 Miliar,[*Data Dirjen Dikti]) yang telah digelontorkan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemda Kabupaten Kupang melalui perjuangan Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Demokrat, Anita Jacoba Gah, untuk membantu membenahi sarpras (sarana dan prasarana) pendidikan di wilayah Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/03/10/anita-gah-bakal-perjuangkan-sarana-prasarana-sekolah-di-kabupaten-kupang/

Namun, masih banyak bangunan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kerusakan fisik bangunan dan malah terdapat sekolah yang beratap daun dan pelepah lontar.

Kondisi ini yang menggugah Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Demokrat, Anita Jacoba Gah untuk berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan berupaya mendorong dana APBN agar dapat dialokasikan bagi rehab bangunan dan pembangunan gedung sekolah baru. Termasuk melakukan kunjungan dalam rangkaian reses dan bertatap muka dengan Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe pada Kamis, 12 Maret 2020 pukul 10.30 WITA—selesai.

Pernyataan empati Anita Gah disampaikannya saat bertemu dengan Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe di ruang kerjanya. Kunjungan Anita dalam masa reses pertamanya tersebut sebagai bentuk perhatian nyata bagi kemajuan proses belajar mengajar dan pendidikan di wilayah yang memiliki 24 kecamatan, berluas sekitar 5.898 km2 dan merupakan kabupaten terluas di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

“Data yang saya peroleh dari Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang bahwa terdapat sekitar 46 persen sekolah (SD dan SMP) yang harus direhabilitasi dan semoga minimal 20 persen kita perjuangkan untuk dapat direalisasikan pada APBN tahun 2020,” ujar Anita kepada Jerry Manafe.

Kunjungan Anita untuk periode 2020, dengan melakukan belanja masalah ke lini bawah. “Saya ingin mendengar dan bertemu langsung dengan para kepala sekolah dari 5 (lima) kecamatan (Kecamatan Kupang Barat, Kupang Timur, Kupang Tengah, Amarasi Barat dan Amarasi Timur),” tuturnya sembari menyampaikan untuk mencoba mendorong dana APBN agar dapat menyelesaikan 20 persen yang dapat dipergunakan untuk rehab sekolah.

“Selain saya akan memperjuangkan anggaran 2020, saya harus memperoleh realisasi penggunaan dana APBN 2019 berdasar data paling lambat Senin, 16 Maret 2020 dan jika tidak ada masalah, maka saya akan dukung, namun jika terdapat masalah maka saya akan menghubungi KPK untuk menyelesaikan masalah tersebut,” tegas Anita Gah sambil berujar bahwa mitra kerja Komisi X adalah dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Adapun perincian realisasi Dana APBN untuk pendidikan pada 2018—2019 di Kabupaten Kupang berupa rehab 2 ruang belajar senilai Rp.128 juta, Renovasi SD Inpres Lili sebesar Rp.1,565 Miliar, Peralatan Pendidikan untuk 54 sekolah Rp.4,777 Miliar, dan untuk 7 sekolah Rp.1,218 Miliar, 14 Ruang Kelas Baru senilai Rp.2,732 Miliar, Pembangunan 13 Laboratorium Rp.3,500 Miliar, dan Pembangunan 10 unit Ruang Perpustakaan Rp.2,144 Miliar.

Kabupaten Kupang juga memperoleh Dana PIP untuk periode 2018—2019 sebesar Rp.63,766 Miliar (2018 sebesar Rp.31,802 Miliar dan 2019 sebesar Rp.31,964 Miliar).

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/03/11/banyak-siswa-di-kabupaten-kupang-belum-dapat-dana-pip-anita-gah-singkap/

Sementara itu, Wakil Bupati Kupang Jerry Manafe merasa bersyukur atas kehadiran Anita Jacoba Gah. “Saya tahu lama dengan Ibu Anita, namun hari ini bisa bertemu. Saya juga bangga ada orang NTT yang begitu eksis di pusat dan sangat membantu kita,” ungkap Jerry.

Selain itu, ujar Jerry, saya senang sekali belum kita minta Ibu Anita sudah memberikan perhatian dan dengan kecerdasan dapat melihat berbagai kebutuhan.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Banyak Siswa di Kabupaten Kupang Belum Dapat Dana PIP, Anita Gah Singkap

234 Views

Kab.Kupang, Garda Indonesia | Sebanyak 58.398 siswa dari total 67.000 siswa di Kabupaten Kupang menerima beasiswa hingga pada tahun 2019 dengan kisaran anggaran Dana Program Indonesia Pintar (PIP) sebesar Rp.31.800.000.000,- (Tiga Puluh Satu Miliar Delapan Ratus Juta Rupiah).

Kepastian penerimaan beasiswa tersebut disampaikan oleh Anita Jacoba Gah, Anggota Komisi X DPR RI saat melakukan reses dengan Kepala Sekolah SD, SMP, dan Pengawas Sekolah dari Kecamatan Amarasi Barat dan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu, 11 Maret 2020 di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang.

Data penerima Dana PIP yang disampaikan oleh Anita Jacoba Gah dari Dirjen Dikti tersebut disinyalir tak selaras dengan kondisi di lapangan dengan data yang disodorkan Anita Gah. Hasil pantauan media ini, saat beberapa kepala sekolah menyampaikan data dan terkuak masih banyak siswa yang belum menerima Dana PIP.

Anita Jacoba Gah saat menyerap aspirasi Kepala Sekolah dari Kecamatan Amarasi Barat dan Amarasi Timur di Kabupaten Kupang

Seperti disampaikan oleh Kepala Sekolah SD Inpres Nunbaus 1 Leminabus Noti mengatakan, pada tahun 2019 mengusulkan 129 anak penerima beasiswa PIP, namun hanya 37 siswa yang menerima. Begitu pun dengan yang disampaikan oleh Dominggus Bilaut, Kepala SD Inpres Bismarak menyampaikan hanya 36 siswa yang menerima dana PIP dari pengajuan 76 siswa.

Anita dengan optimis menyampaikan bahwa dirinya akan melihat dan memperjuangkan kebutuhan sekolah termasuk Dana PIP di Amarasi Barat dan Amarasi Timur dari Senayan melalui Pemda Kabupaten Kupang dan dinas terkait.

“Bagaimana dengan kondisi sekolah dan proses penerimaan beasiswa PIP?” tanya Anita Gah kepada para kepala sekolah seraya menyampaikan bahwa pada 2019 hampir sekitar 59.000 siswa menerima dana PIP hasil perjuangan anggota DPR yang telah tiga kali menjabat sebagai wakil rakyat di Senayan.

“Hari ini saya sebagai Anggota DPR RI Komisi X melalui Rumah Aspirasi saya ingin aspirasi kongkret dari Bapak/Ibu Kepala Sekolah dan perjuangan seperti masih akan terus berlanjut karena beruntung ada wakil NTT di Komisi X dan saat ini saya ingin belanja masalah serta menyerap aspirasi dari Bapak/Ibu Kepala Sekolah dari Kecamatan Amarasi Barat dan Amarasi Timur,” ujar Anita Jacoba Gah yang didampingi oleh Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang, Imanuel Buan.

Anita Gah juga memberikan opsi kepada para kepala sekolah untuk mengajukan penerima Dana PIP melalui Dinas Pendidikan atau Rumah Aspirasi Anita Jacoba Gah yang terletak di Kabupaten Kupang.

Selain itu, Anita meminta para kepala sekolah untuk memperhatikan data Dapodik untuk kelancaran input nama penerima Dana PIP. “Tolong perhatikan data Dapodik agar jelas seperti nama orang tua kandung ‘nama ibu kandung’ dan penulisan nama tidak boleh kurang huruf maka bakal ditolak saat pengiriman data ke pusat,” ungkap Anita.

Menurut peraturan, ujar Anita, seharusnya dana PIP sudah ada di rekening siswa, namun yang terjadi saat siswa itu datang ke Bank penyalur baru buku tabungan dicetak dan dengan tegas Anita mengatakan bahwa mekanisme penyaluran dana PIP dari Kementerian Pendidikan ke Dinas Pendidikan lalu ke Kepala Sekolah.

“Terjadi persoalan jika Kepala Dinas dan Kepala Sekolah tidak tahu, jadi tolong bapak/Ibu kepala sekolah perhatikan mekanisme penyaluran dana PIP agar tepat sasaran,” pintanya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

RD Gusty Nesi: “Orang Muda Katolik ‘OMK’ Harus Berani Bersakit-Sakit Dahulu!”

158 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | “Berakit- rakit dahulu, berenang- renang kemudian. Bersakit- sakit dahulu bersenang- senang kemudian. Artinya, untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan, orang harus berani menderita dulu, orang harus berani sengsara dulu. Orang harus berani pikul salib dulu, orang harus kerja keras dulu baru kemudian merasakan kebahagiaan,” demikian penggalan kotbah RD Agustinus D. Nesi.

Kotbah RD Agustinus D. Nesi di atas disampaikannya saat pelantikan 40 anggota Orang Muda Katolik (OMK) Stasi St. Yoseph Freinademetz Translok, Wilayah Paroki Roh Kudus Halilulik, Keuskupan Atambua di Dusun Wesanteas, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu, 8 Maret 2020 sore.

Jika seorang petani ingin mendapatkan hasil kerja yang berlimpah dan memuaskan, RD Gusty Nesi mencontohkan, tangan harus sakit, berani menghadapi teriknya matahari, keringat harus keluar bahkan air mata harus tumpah pada saat mengolah tanah dan merawat tanaman.

Penanaman pohon beringin secara simbolis oleh RD Gusty Nesi di depan Kapela St. Yoseph Freinademetz Translok, Wilayah Paroki Roh Kudus Halilulik, Keuskupan Atambua di Dusun Wesanteas, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat

“Tidak bisa enak-enak saja, tidak bisa hanya bermalas-malasan, tidak bisa hanya suka yang gampang- gampang. Karena, kebahagiaan harus berawal dengan sengsara. Itulah hukum kehidupan, itulah prinsip kebahagiaan yang sejati,”ungkap pastor pembantu paroki Roh Kudus Halilulik itu.

Gusty Nesi yang juga adalah moderator OMK paroki itu menandaskan bahwa menjadi Orang Muda Katolik itu tidak mudah mengeluh, tidak suka manja dan apalagi pemalas. “OMK itu bukan orang- orang yang manja! Hujan sedikit manja, banjir sedikit manja, kerja sedikit manja. Orang-orang muda tidak sembarang mengeluh,” tegasnya lagi.

RD Gusty Nesi saat mengukuhkan OMK Stasi St. Yoseph Freinademetz Translok

RD Nesi juga menekankan beberapa poin penting dalam menjalani kehidupan yang serba keras antara lain :

Pertama, Prinsip Kehidupan. Kita diajak untuk berani menghadapi hidup ini secara keras, dan tidak hanya dengan sekadar bermain- main;

Kedua, Sabda Tuhan sebagai petunjuk jalan. Orang yang mau menjadi baik harus banyak mendengar ‘Sabda Tuhan’. Mendengar itu tanda ketaatan, mendengar itu tanda kesetiaan dan mendengar itu tanda kerendahan hati;

Ketiga, Masa Prapaskah. Masa ini membantu kita untuk mencapai kebangkitan dan kemuliaan. Bangkit dari keterpurukan hidup.

Masa prapaskah ini adalah masa yang istimewa, agar kita sedapat mungkin bertobat. Kita perlu bertobat dari tiga dosa pokok, terutama dalam diri OMK, yakni Dosa Sok Benar; Dosa Sok Pintar; dan Dosa Sok Suci.

“Semoga masa prapaskah ini membantu menyadarkan diri kita masing-masing tentang tiga dosa pokok ini. Sebab, habis prapaskah pasti ada paskah. Habis derita pasti ada kebahagiaan. Habis malam gelap pasti ada siang terang. Sengsara, selalu datang membawa nikmat. Selamat dan proficiat,” tuturnya mengakhiri.

Acara pelantikan yang mengusung tema ‘Sengsara Membawa Nikmat’ itu berlangsung meriah dan dihadiri oleh ketua OMK Paroki Roh Kudus Halilulik, Rogasianus R. Nahak dan sejumlah ketua OMK tingkat lingkungan se-Paroki Roh Kudus Halilulik.(*)

Penulis (*/HH)
Editor (+rony banase)

KUB Sta.Theresia dari Avilla & Santo Polikarpus Dikukuhkan, Ini Pesan Pastor

129 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Gereja masa depan ada di tangan anak muda ‘Orang Muda Katolik (OMK)’ yang dapat mendampingi orang muda untuk berorganisasi dan jangan lupa untuk menyelesaikan kuliah,” pesan Pastor Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui Kupang, Romo Kristinus Saku kepada OMK yang turut dilantik dalam rangkaian Pengukuhan Badan Pengurus Kelompok Umat Basis (KUB) Sta. Theresia dari Avilla dan KUB Santo Polikarpus (pemekaran KUB) di Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT (NTT).

Misa Ekaristi Pengukuhan Pengurus KUB Sta Theresia dari Avila dan Santo Polikarpus (prosesi komuni suci)

Misa Ekaristi Pengukuhan KUB Sta Theresia dari Avila dan Santo Polikarpus diiringi oleh kor ‘paduan suara’ Santo Polikarpus berlangsung di kediaman Ketua KUB Santo Polikarpus periode 2020—2023, Eduardus Taito pada Sabtu, 7 Maret 2020 pukul 19.00 WITA—selesai. Lokasi Misa Ekaristi merupakan areal pemukiman para mahasiswa yang menempuh pendidikan di Universitas Katolik (Unika) Widya Mandira Kupang.

Pastor Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui Kupang, Romo Kristinus Saku

Selain itu, pesan Pastor Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui Kupang kepada para pengurus KUB yang dilantik agar dapat melayani dengan persekutuan dan persaudaraan dan dapat memobilisasi umat ke paroki. “Sekarang ini masing-masing kampung memiliki pastor termasuk dari Paroki Santo Yoseph Pekerja Penfui, karena kebutuhan umat maka dimekarkan KUB dari Santa Theresia dari Avila ke Santo Polikarpus,” ujar Romo Kristinus Saku.

Romo Kristinus Saku juga berharap agar sebelum Paskah 2020, renovasi Gereja Santo Yoseph Pekerja Penfui dapat diselesaikan. “Kita di paroki memang sedang membangun, doa dan harapan kita sebelum paskah dapat selesai agar kita dapat masuk dalam gereja yang dapat menampung semua umat, itu yang diharapkan,” pintanya.

Pengurus KUB Santo Polikarpus dan Santa Theresia dari Avila saat diambil sumpah dalam Misa Ekaristi

Dalam urusan dana solidaritas yang dikelola oleh masing-masing KUB, Romo Kristinus Saku meminta agar dana tersebut dapat dikelola dengan baik dan dapat digulirkan ke umat. “Dana solidaritas itu dari, oleh, dan dikembalikan ke umat dan KUB yang telah menerima agar dapat disosialisasikan bahwa telah menerima dana solidaritas lalu digulirkan ke KUB yang membutuhkan karena dana itu tak ada sangkut pautnya dengan paroki,” tegas Romo Kristinus Saku sembari mengatakan sesuai dengan tema Paskah 2020, Membangun Ekonomi Keluarga, Romo Kristinus Saku, usai pembangun gereja bakal dilakukan pemberdayaan ekonomi umat.

Sementara itu, Ketua KUB Sta Theresia dari Avila periode 2017—2020, Aloysius Kamil menyampaikan pemekaran KUB Santo Polikarpus berawal dari pembentukan KUB Yohanes dari Salib kemudian dimekarkan ke Santa Theresia dari Avila lalu dimekarkan ke Santo Nobertus, lagi dimekarkan ke Santo Polikarpus. “KUB Sta. Theresia dari Avilla memiliki 28 KK dan Santo Polikarpus mempunyai 20 KK dengan total jiwa 1.046 orang dengan total 58 pondok kos,” ungkapnya.

“Banyak hal yang dilakukan bersama KUB Santa Theresia dari Avila dapat meraih piala sebanyak 19 buah dan memiliki arisan simpan pinjam dan mempunyai solidaritas untuk orang sakit,” beber mantan Ketua KUB Sta Theresia dari Avila.

Penyerahan dokumen dan aset KUB dari Pengurus KUB Sta Theresia dari Avila ke Pengurus KUB Santo Polikarpus

Sedangkan, Wilhemus Seminar selaku Ketua KUB Sta Theresia dari Avila periode 2020—2023 menyampaikan bahwa aspirasi pemekaran telah muncul sejak tahun lalu dan disalurkan ke Pastor Paroki dengan berproses cukup lama dan merupakan sebuah tantangan. “Begitu banyak potensi yang dapat dimanfaatkan untuk pelayanan iman dan doa di Sta Theresia Avila,” katanya.

Ketua KUB Santo Polikarpus periode 2020—2023, Eduardus Taito saat sambutan menyampaikan bahwa pada 1997—1999 hanya terdapat 4 (empat) kepala keluarga. “Saat itu, kami masih dalam pelayanan KUB Santo Norbertus lalu datang Alm. Bapak Simon Seran bermukim di sini dan kemudian berproses pemekaran dengan 20 Kepala Keluarga dengan jumlah jiwa berkisar 400—500 orang,” ujarnya menggambarkan kondisi awal hingga pemekaran dan pelantikan KUB Santo Polikarpus.

“Memang perpisahan ini terasa pahit karena selama bertahun-tahun berseteru dan silang pendapat namun tak sampai pada bentrok fisik. Kami bersebelahan rumah dan hidup bersama dan pada malam ini kami harus berpisah dari KUB Santa Theresia dari Avila,” tandasnya sambil mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga proses pemekaran dapat berjalan sampai pada pengukuhan Badan Pengurus KUB Santo Polikarpus.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)