Arsip Kategori: Daerah

Sekolah Perempuan Bifemeto di TTS, Wujud Sinergi Pemberdayaan Perempuan

111 Views

SoE-TTS, Garda Indonesia | Masih dalam rangkaian kunjungan kerja perdana di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga meresmikan Sekolah Perempuan Bifemeto di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada Kamis siang, 7 November 2019.

“Perempuan tidak boleh lagi ada di belakang laki-laki melainkan harus setara di samping laki-laki, sebab mereka akan menjadi aktor penting untuk meningkatkan perekonomian perempuan guna mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan,” tegas Menteri Bintang dalam sambutannya.

Menteri PPPA, Bintang Puspayoga

Menteri Bintang menambahkan sinergi dalam upaya peningkatan pemberdayaan perempuan merupakan kunci keberhasilan pembangunan sebuah negara, ”Melihat masih maraknya praktik diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan di masyarakat maka Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) terus berupaya meningkatkan pemberdayaan ekonomi perempuan di pedesaan melalui pendidikan. Salah satunya melalui Sekolah Perempuan, yang diharapkan menjadi upaya konkret dalam rangka pemberdayaan perempuan salah satunya di bidang ekonomi dari akar rumput,” ungkap Menteri Bintang.

Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kemen PPPA, Agustina Erni menuturkan sekolah perempuan yang menjadi salah satu program dari Kemen PPPA merupakan wadah untuk membantu meningkatkan dan mengenali kemampuan mereka, menggali potensi alam sekitarnya, mengenali masalah yang mereka hadapi, mengetahui hak-hak mereka dalam program pembangunan, mekanisme pembangunan, serta cara mereka dapat ikut dan mendapatkan manfaat dan cara membangun gotong royong agar dapat menyatukan kemampuan mereka untuk masyarakat.

”Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari sekolah perempuan menjadi modal awal untuk membangun kepercayaan diri mereka sehingga berani dan dapat memaksimalkan akses sumber daya alam guna peningkatan pemberdayaan ekonomi perempuan,” tambah Erni.

Saat ini, Kemen PPPA tengah menggali potensi kerja sama dengan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM yang memungkinkan untuk dapat menciptakan sinergi bersama PNM Mekaar dalam upaya pemberdayaan ibu rumah tangga melalui wirausaha. Salah satu program yang ditawarkan adalah Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) yang diprakarsai oleh PNM. Program unggulan Mekaar ini memberikan akses permodalan, pendampingan, dan program peningkatan kapasitas para pelaku usaha terutama perempuan ibu rumah tangga.

Perempuan TTS yang tergabung dalam Sekolah Perempuan Bifemeto

Direktur Utama PNM Mekaar, Arief Mulyadi menuturkan PNM Mekaar merupakan salah satu produk yang memberikan layanan khusus bagi perempuan prasejahtera pelaku usaha ultramikro, baik yang ingin memulai usaha maupun mengembangkan usaha. PNM Mekaar dikuatkan dengan aktivitas pendampingan usaha dan dilakukan secara berkelompok. Terbatasnya akses pembiayaan modal kerja menjadi salah satu penyebab keterampilan berusaha mereka kurang dimanfaatkan dengan maksimal. Beberapa alasan keterbatasan akses tersebut meliputi kendala formalitas, skala usaha, dan ketiadaan agunan.

”Untuk di Kabupaten Timor Tengah Selatan sendiri PNM Mekaar hadir sejak 2016 dan hingga saat ini nasabahnya sudah mencapai 11.050 ibu-ibu yang tergabung dalam Mekaar. Program PNM Mekaar tentunya tidak terlepas dari dukungan Bapak Presiden Jokowi, sehingga saat ini Mekaar sudah mempunyai 5.668.000 nasabah yang tersebar di 34 provinsi se-Indonesia. Ke depan, Mekaar akan terus berusaha meningkatkan akses peminjaman modal bagi perempuan ibu rumah tangga, hal ini tentunya sejalan dengan sekolah perempuan, ibu-ibu yang tergabung dalam Mekaar juga merupakan ibu-ibu yang hebat di mana mereka juga ikut berperan dalam rangka peningkatan ekonomi keluarga,” ujar Arief.

”Untuk ibu-ibu yang sudah menjadi nasabah PNM Mekaar, saya bangga dengan ibu-ibu semua terus tingkatkan peran kalian dalam peningkatan ekonomi keluarga. Namun, yang tidak boleh lupa adalah prinsip 3 Sukses yakni; sukses peminjaman, sukses kemanfaatan, dan sukses pengembaliannya. Besar harapan agar Sekolah Perempuan Bifemeto di Kabupaten TTS mampu menjadi mesin penggerak untuk kemajuan perempuan khususnya dan masyarakat pada umumnya menuju masyarakat yang sejahtera dan setara,” tutup Menteri Bintang. (*)

Sumber berita (*/Publikasi dan Media Kementerian PPPA)
Editor (+rony banase)

Anak TTS Sehari Belajar di Luar Kelas Bersama Menteri Bintang

51 Views

Soe-NTT, Garda Indonesia | Dalam rangkaian kunjungan kerja perdana di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Menteri PPPA Bintang Puspayoga turut dan larut dalam kebersamaan Sehari Belajar di Luar Kelas bersama anak-anak di SMP Kristen Harapan, Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada Kamis, 7 November 2019.

Sehari Belajar di Luar Kelas bersama anak-anak merupakan rangkaian peringatan Hari Anak Internasional pada 20 November, di tingkat global setiap tahunnya dilakukan suatu gerakan yang diberi nama Outdoor Classroom Day (OCD) atau Sehari Belajar di Luar Kelas (SBLK).

Indonesia telah berpartisipasi dalam SBLK sejak 2017. Pelaksanaan SBLK di Indonesia diintegrasikan ke dalam program Sekolah Ramah Anak (SRA). Hal ini selaras dengan arahan Presiden yang meminta agar sekolah melakukan lebih banyak proses pembelajaran di luar kelas dari pada belajar di dalam kelas.

“Melalui kegiatan SBLK, saya berharap anak Indonesia yang berada di semua satuan pendidikan dapat merasakan proses belajar yang menyenangkan. Kegiatan ini tetap sebuah proses belajar namun dilakukan di luar kelas dengan banyak sekali kegiatan yang lebih baik dalam membentuk karakter dan perilaku serta pembiasaan yang positif bahkan termasuk mendukung kebudayaan dalam bentuk permainan tradisional,” ujar Menteri Bintang.

Ia menambahkan dalam kegiatan ini anak melakukan kegiatan fisik yang menyenangkan, belajar sportivitas dalam permainan tradisional. “Saya berharap agar permainan tradisional ini dapat terus dilakukan oleh anak-anak sehingga mereka dapat terhindar dari ketergantungan pada gawai dan anak akan jauh lebih sehat,” pinta Menteri Bintang.

Foto bersama anak Timor Tengah Selatan (TTS) dan Menteri Bintang Puspayoga

Pelaksanaan SBLK 2019 diikuti oleh seluruh satuan pendidikan, terutama yang telah berkomitmen menuju SRA sebanyak 33 provinsi, 356 kabupaten/kota, 15.588 sekolah dari semua jejang pendidikan, dan 4.042.536 murid se-Indonesia yang dilakukan sekitar 3 jam di masing-masing sekolah.

Fokus pelaksanaan SBLK 2019 di 9 titik pantau, yaitu; Sulawesi Selatan (Kab. Bantaeng), Jawa Timur (Kab. Bojonegoro dan Kab. Tuban), Lampung (Kab. Pringsewu), Sulawesi Utara (Kab. Minahasa), Maluku Utara (Kota Ternate), Nusa Tenggara Timur (Kab. TTS), DI Yogyakarta (Kab. Kulon Progo), dan Jawa Barat (Kota Bandung).

“Pelaksanaan SBLK tahun ini akan lebih semarak dari tahun sebelumnya, dimana ada 10 nilai yang ditanamkan pada setiap murid selama 3 jam tersebut, yaitu; pendidikan karakter, kesehatan, iman dan taqwa, gemar membaca, adaptasi perubahan iklim, peduli dan cinta lingkungan, melestarikan budaya, cinta tanah air, sadar bencana, dan mau dan berkomitmen mendukung SRA,” ujar Menteri Bintang.

“Semoga dengan kegiatan SBLK tahun ini akan semakin mendorong sekolah untuk melaksanakan kegiatan belajar yang lebih menyenangkan dan porsi belajar diluar kelas dapat lebih diperbanyak lagi sesuai dengan himbauan Presiden. Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung pemenuhan hak-hak anak terutama melindungi anak selama berada di sekolah. Keberhasilan SRA mendukung terwujudnya Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) menuju Indonesia Layak Anak (IDOLA) yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030,” tutup Menteri Bintang.

Sementara itu, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, Lenny N Rossalin mengungkapkan Indonesia pertama kali mengikuti SBLK pada 2017 dan menjadi terbaik kedua setelah Inggris berdasarkan jumlah sekolah yang mengikuti SBLK dan beragam tema yang dilakukan dalam pelaksanaannya.

“Untuk pelaksanaan SBLK tahun 2019 Indonesia telah memiliki aplikasi sendiri untuk pendaftaran kegiatan SBLK yaitu melalui aplikasi “Pentas Anak” yang dapat diunduh melalui Google Play Store. Ke depan, diharapkan kegiatan SBLK dapat diikuti lebih banyak lagi satuan pendidikan dari semua jenjang. Tentunya hal ini sebagai upaya mewujudkan pemerataan SRA di Indonesia sekaligus meningkatkan nilai-nilai yang ditanamkan pada setiap murid. Setiap sekolah juga dapat melakukan SBLK tidak hanya pada tanggal 7 November tetapi bisa setiap minggu, atau setiap bulan, karena dampaknya sangat positif bagi murid,” tutur Lenny. (*)

Sumber berita (*/Publikasi dan Media Kementerian PPPA)
Editor (+rony banase)

Jembatan Noebunu Rusak, Viktor Soinbala Pinta Pemkab TTS Siapkan Strategi

133 Views

SoE-TTS, Garda Indonesia | Kondisi Jembatan Noebunu yang menghubungkan Kecamatan Amanuban Timur, Fatukopa, Amanatun Utara, Toianas, Kokbaun, Santian, Boking saat ini sangat memprihatinkan karena sejak bulan Januari 2019 hingga saat ini belum diperbaiki.

Jembatan Neobunu yang roboh diantisipasi dengan 4 buah besi baja untuk dapat dilalui oleh kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Namun sambungan tersebut hanya dapat menahan beban 1.000 Kg.

Jembatan tersebut terancam roboh lagi pada musim hujan ini karena sambungan tersebut dimuat di atas tanah yang kondisinya sangat tidak menjanjikan untuk bertahan. Ditambah lagi satu besi baja yang dipasang sudah bengkok akibat dilalui oleh kendaraan yang mengangkut alat berat.

Viktor Soinbala, anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang dikonfirmasi pada Jumat, 18 Oktober 2019 mengatakan bahwa jembatan Noebunu belum masuk dalam rencana pembangunan sehingga pihaknya akan memperjuangkan hal tersebut dalam pembahasan APBD tahun 2020.

“Saya lihat belum ada rencana untuk pembangunan. Dalam pembahasan APBD 2020 saya bersama teman-teman dari daerah pemilihan (dapil) 3 akan memperjuangkan untuk bisa diperbaiki,” ujar Viktor via telepon.

Dengan belum adanya perencanaan maka dipastikan bahwa dalam tahun ini belum dapat diperbaiki. Kondisi ini bisa membuat arus transportasi dari beberapa Kecamatan yang harus melalui jembatan tersebut bisa terputus jika jembatan tersebut kembali ambruk lagi.

Viktor meminta kepada Pemerintah TTS untuk segera mengambil tindakan untuk mengantisipasi putusnya transportasi dari beberapa Kecamatan tersebut karena akan menghambat aktivitas masyarakat.

“Saya berharap Pemerintah tidak tinggal diam. Walaupun belum ada perencanaan, Pemerintah harus mengambil tindakan yang dapat memungkinkan masyarakat untuk bisa melalui jembatan tersebut, karena jembatan tersebut merupakan jalur yang selama ini dilalui masyarakat menuju Ibukota Kabupaten dan Ibukota Provinsi,” jelas Viktor.

Permintaan tersebut disampaikan lantaran pada musim hujan air di kali tersebut akan meluap dan jalan alternatif yang dibuat melalui kali pun tidak bisa dilewati sehingga dibutuhkan langkah strategis untuk dapat menyiasati jembatan tersebut jika terjadi longsor lagi.

Selain itu, dirinya yang merupakan perwakilan rakyat yang sering berkunjung ke desa dan melihat secara langsung pekerjaan yang dilakukan di desa, mengharapkan kepada inspektorat daerah agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap setiap proyek yang dikerjakan agar benar-benar rampung dikerjakan.

“Saya berkunjung ke desa-desa dan melihat perencanaan yang dilakukan sudah tepat sasaran untuk penggunaan dana desa. Tapi sayang ada pekerjaan yang tidak rampung sehingga hasilnya tidak maksimal,” imbuh Viktor.

Ia pun berharap ke depan inspektorat lebih intensif dalam melakukan pengawasan, karena menurut pengamatannya, pendamping desa pun kurang mengawasi pelaksanaan pekerjaan sehingga masih terdapat kekurangan.

Viktor juga meminta kepada pihak desa agar lebih cermat lagi dalam melakukan perhitungan anggaran pekerjaan. Dirinya memberikan contoh pembangunan rumah layak huni bagi warga, yang seharusnya bisa dibangun tembok penuh, hanya dibangun bangun setengah tembok saja.

“Saya juga melakukan perhitungan, bukan hanya asal bicara saja. Jadi menurut perhitungan saya, pembangunan rumah bagi masyarakat itu bisa tembok penuh, tapi hanya dibuat setengah tembok saja,” ungkapnya.

Dirinya meminta kepada pihak desa untuk bisa melakukan perhitungan yang matang terkait anggaran sehingga penyerapan anggaran bisa maksimal dan manfaatnya juga maksimal, sehingga dampak pembangunan itu dapat dirasakan. Hal tersebut diminta untuk dilakukan untuk semua pekerjaan yang direncanakan oleh desa. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Edukasi Literasi ala FKIP UPG 45 NTT Bagi Anak SD dalam Festival Li Ngae

177 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kehadiran mahasiswa dan dosen FKIP Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT dalam kegiatan Festival Li Ngae pada 17—25 Oktober 2019 di Pulau Semau, Kabupaten Kupang – Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam rangka memberikan edukasi literasi.

Adapun bentuk edukasi literasi yang diberikan Mahasiswa dan Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UPG 1945 NTT berupa pengajaran Bahasa Inggris bagi anak-anak Sekolah Dasar (SD). Kehadiran para mahasiswa dan dosen FKIP UPG 1945 NTT adalah untuk memotivasi anak-anak sekolah tentang pentingnya Bahasa Inggris.

Wakil Dekan 1 FKIP UPG 1945 NTT, Rudy Isu. S.Pd., M.Hum. melalui pesan Whatsapp kepada media ini pada Sabtu, 19 Oktober 2019 pukul 07.07 WITA mengatakan bahwa kehadiran UPG 1945 NTT, khususnya Program Studi Bahasa Inggris untuk memotivasi anak-anak SD dan masyarakat umum di Pulau Semau tentang pentingnya Bahasa Inggris.

“Kami ingin mendorong dan mengedukasi anak-anak SD bahwa belajar menggunakan bahasa Inggris sederhana seperti sapaan salam, permainan (games). Kami juga berupaya menepis stigma bahwa belajar Bahasa Inggris itu susah dan terbukti anak-anak sangat semangat dan senang hingga mereka meminta untuk terus diajarkan”, ujar Rudy.

Selain itu, ujar Rudy, semua Dosen dan Mahasiswa dari Program Studi Bahasa Inggris melakukan aksi sosial membersikan sampah plastik di area Festival Li Ngae.

Mahasiswa dan Dosen FKIP Prodi Pendidikan Bahasa Inggris saat melatih anak-anak SD berbahas Inggris

Senada, Ketua Prodi Bahasa Inggris, Yanrini M. Anabokay menyampaikan bahwa partisipasi mahasiswa UPG 1945 NTT dalam mengajarkan anak-anak belajar Bahasa Inggris dalam bentuk komunikasi sehari-hari, table manner dan hospitatlity untuk mendorong geliat pariwisata di Pulau Semau.

“Kami melihat antusiasme anak-anak Pulau Semau yang begitu besar bakal mendorong kami untuk melakukan kegiatan serupa dalam kurun waktu beberapa bulan atau di lokasi lain dengan tema serupa,” jelas Yanrini.

Disamping itu, anak-anak Pulau Semau diedukasi untuk mengolah kain perca tenun untuk dijadikan anting-anting, gelang, kalung. “Yang melatih anak-anak adalah mahasiswa yang memiliki ketrampilan dan merupakan inisiasi dari mahasiswa Prodi Bahasa Inggris,” tandas Ketua Prodi Bahasa Inggris UPG 1945 NTT.

Festival Li Ngae merupakan festival yang digagas oleh Pemerintah Desa Otan, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang dan didukung oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT. Dalam festival itu, akan diisi dengan sejumlah kegiatan, diantaranya pameran tenun ikat, atraksi massal dan lomba Tarian Li Ngae, lomba tutur adat Bahasa Helong, lomba paduan suara, lomba tarian kreatif dan tenun ikat.

Selain itu ada juga lomba dayung perahu, lomba catur, kunjungan ke Pantai Otan dan Pantai Liman yang terkenal sangat indah dan sudah banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto oleh tim UPG 1945 NTT

Ikan Paus Terdampar di Pulau Sabu, Penyebab & Jadi Objek Wisata Dadakan

142 Views

Oleh Yumi Ke Lele 

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Hari ini Kamis, 10-10-2019 laman facebook saya dipenuhi oleh 2 (dua) peristiwa yang menurut saya penting, yang terjadi di negara Indonesia tercinta. Peristiwa rencana penikaman terhadap seorang Jenderal penjaga NKRI dan peristiwa terdamparnya sekelompok Ikan Paus di Pantai Kolouju, Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tetapi karena saya sadar, saya hanyalah seorang kaum minoritas, tidak punya pengaruh apa-apa, dan juga buta tentang hukum, maka saya tidak ingin berkomentar tentang rencana penikaman.

Yang bisa saya lakukan hanyalah mendoakan Bapak Presiden Joko Widodo sebagai pucuk pimpinan NKRI, agar diberi kekuatan, kesehatan dan kebijaksanaan dalam memimpin negara demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang damai sejahtera.

Saya tertarik, dengan peristiwa langka yang terjadi di Kabupaten Sabu Raijua, yang sangat jarang terjadi. Di mana hari ini, ada sekelompok ekor ikan Paus berjumlah 17 ekor, yang terdampar. 10 ekor, bisa diselamatkan warga dengan mendorong kembali ke laut, sedangkan 7 ekor tidak bisa diselamatkan.

Beberapa foto saya ambil dari beberapa teman yang menyebarkannya, baik lewat Whatsapp maupun facebook. Ada banyak komentar terkait penyebab terdamparnya sekelompok ikan paus ini. Dan diantara banyaknya komentar tersebut, ada yang sangat disayangkan, karena menurut saya sangat tidak masuk akal.

Paus Terdampar di Pantai Kolouju

Karena rasa penasaran saya, saya pun mencari tahu pada beberapa artikel Daring (online) terkait penyebab Lumba-Lumba dan Paus terdampar.

Dan inilah beberapa alasan yang saya temukan :

Pertama, Sakit atau Terluka
Mungkin ikan itu sedang diburu oleh predator ataupun sedang berkelahi, sehingga ketika ikan ini kalah mereka akan berlindung mencari tempat yang aman yaitu menuju pesisir dengan kondisi tempat yang dangkal. Kemudian ikan paus/hiu atau lumba-lumba terseret arus serta ditambah dengan surutnya air laut kemudian mereka terdampar.

Kedua, Ditinggal Gerombolan
Ditinggal oleh gerombolan sehingga mereka sendirian. Biasanya pada ikan lumba – lumba. Tetapi jika paus, sering terdampar secara gerombolan. Hewan yang sering terdampar secara masal adalah tipikal hewan yang memiliki pemimpin dalam kelompoknya dan memiliki ikatan sosial juga kesetiaan yang tinggi. Paus pilot adalah contohnya. Inilah kenapa paus pilot lebih sering terdampar dari pada hewan laut lainnya.

Biasanya alasan mereka terdampar karena pemimpin kelompok telah membuat kesalahan navigasi. Atau karena salah satu dari mereka sakit maupun terluka kemudian mencari perairan yang lebih dangkal sehingga lebih mudah bernafas ke permukaan dan membuat yang lainnya untuk mengikutinya. Melihat ciri paus yang terdampar di sabu, cirinya seperti Paus Pilot, yang sering diburu.

Ketiga, Sistem Navigasi Paus Terganggu
Hewan laut seperti paus dan lumba-lumba memiliki sistem navigasinya sendiri sebagai penunjuk arah. Ketika penunjuk arah ini mengalami gangguan atau tidak berfungsi, ini menyebabkan kesalahan navigasi dan pada akhirnya membuat mereka sampai ke perairan dangkal dan terdampar di pantai.

Gangguan navigasi ini disebabkan oleh beberapa hal. Efek sonar adalah hal umum penyebab dari gangguan ini. Penggunaan gelombang suara berfrekuensi tinggi yang dipancarkan di dalam laut untuk mencari kapal selam atau benda-benda lain yang tidak kelihatan oleh Angkatan Laut, mengakibatkan kerusakan pada otak dan sistem pendengaran paus dan lumba-lumba.

Keempat, Gejala alam
Gejala Alam ini bisa karena Gempa bumi akibat gunung meletus, sehingga terjadi aktivitas seismik bawah laut (Gempa bawah laut) atau undersea quake. Hewan laut juga memiliki insting seperti hewan darat, ketika akan terjadi sesuatu yang bahaya mereka akan mencari tempat aman untuk berlindung.

Kelima, Oksigen Menipis
Oksigen bawah laut yang rendah bisa jadi pemicu karena oksigen adalah sumber udara bersih untuk makhluk hidup. Penyebab dari oksigen rendah karena kenaikan suhu bawah air laut sehingga kualitas air yang terangkat memiliki oksigen rendah.

Keenam, Kondisi perairan, ada perubahan secara kimiawi maupun fisik, kemudian bisa saja dia mencari tempat yang lebih aman jadi terdampar. Pencemaran laut, perubahan suhu didasar laut dll, dapat menyebabkan paus/lumba – lumba terdampar.

Peristiwa terdamparnya 17 ekor paus ini, membuat Pantai Kolouju, seketika menjadi ramai. Karena begitu banyak saudara-saudara dan teman – teman saya, yang ingin menyaksikannya. Saya bersyukur, semua punya rasa belas kasihan yang tinggi, sehingga melakukan upaya penyelamatan paus dengan cara mendorong Paus yang terdampar ke laut. Meskipun upaya tersebut, berhasil dilakukan pada 10 ekor saja. Sedangkan 7 ekor lainnya mati.

Kita tidak tahu persis, apa alasan terdamparnya 17 ekor ikan paus ini?. Apakah merupakan gejala alam sebagai tanda akan terjadinya bencana alam atau karena faktor apa? Saya berharap, terdamparnya Paus ini, adalah karena salah satu mengalami gangguan navigasi, sedangkan lainnya ikut terdampar karena faktor kesetiaan terhadap kawan.

Dan ada hal menarik yang sangat berarti bagi saya, di mana Ikan Paus yang merupakan kelompok hewan mamalia air saja, bisa punya sifat kesetiaan yang tinggi terhadap kelompoknya.

Tetapi sayang sekali, kita manusia. Yang katanya makhluk sosial, makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna karena diberi hikmat dan kebijaksanaan, justru sering kali tidak punya sifat kesetiaan seperti kelompok ikan Paus. Justru sering kita temui di mana saling menjual antar teman, saling menjatuhkan antar teman hanya untuk kesenangan pribadi.

Marilah kita belajar pada Paus. Kita tiru semangat kesetiaannya. Masa Paus saja, bisa setia, kita manusia tidak. Tugas kita semua, marilah kita mendoakan NKRI tercinta, khususnya NTT terlebih khusus Pulau Sabu tercinta agar diluputkan dari bencana. (*)

Penulis merupakan salah satu ASN di Pemkot Kupang
Editor (+rony banase)

Gempa Bumi Tektonik M 3.4 Guncang Kalabahi Kabupaten Alor

95 Views

Alor-NTT, Garda Indonesia | Selasa, 8 Oktober 2019 gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Kalabahi. Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi terjadi pada pukul 23:03:08 WITA dengan kekuatan M=3.4 Skala Richter.

Kepala Stasiun Geofisika Kampung Baru – Kupang, Robert Owen Wahyu, S.Si. mengatakan bahwa episenter gempa bumi terletak pada koordinat 7.96 LS dan 124.50 BT atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 37 km BaratLaut Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan kedalaman 10 km.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempa bumi dangkal ini terjadi akibat aktivitas sesar Flores Back Arc Thrust,” jelas Robert.

Lanjut Robert, Dampak gempa bumi berdasarkan laporan masyarakat berupa guncangan dirasakan di wilayah Kalabahi sebesar II- III MMI.

Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi tsunami

Hingga pukul 23:28 WITA, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).

“Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” pinta Robert. (*)

Sumber berita (*/BMKG El Tari Kupang)
Editor (+rony banase)

Korban Angin Puting Beliung di Belu Belum Dibantu, Ini Tanggapan Bupati

139 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Angin Puting Beliung yang menerjang 4 (empat) desa di Kecamatan Lakmanen Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu, 2 Oktober 2019 pukul 08.00—18.00 WITA mengakibatkan ratusan rumah rusak dan 1 (satu) korban patah tulang.

Informasi yang dihimpun media Ini, 4 (empat) desa yang diterjang angin puting beliung yakni Desa Makir banyak rumah rusak parah dan 1 (satu) korban patah tulang; Desa Mahuitas sekitar 60 rumah rusak; Desa Lamaksemulu, dan Desa Kewar sekitar 40 rumah rusak.

Konradus Koli Asa, salah satu keluarga korban angin puting beliung di Desa Makir mengatakan hingga saat ini mereka belum memperoleh bantuan dari pemerintah setempat meski peristiwa angin puting beliung telah terjadi seminggu lalu.

“Saya berdomisili di Kupang namun orang tua di Desa Makir tertimpa musibah makanya saya telah berada di sini sejak Minggu, 5 Oktober 2019,” ujar Konradus.

Lanjutnya, Khusus di Desa Makir terdapat 1 (satu) korban bernama Maria Bui (60 tahun) yang mengalami patah tulang di seluruh tubuh dan tidak bisa bergerak sama sekali.

Yosep Mau Lau, suami dari Maria Bui korban patah tulang akibat angin puting beliung

“Kami sesalkan dan kecewa dengan aparat Pemerintah Desa maupun Pemkab Belu belum ada respon dan tidak ada perhatian sama sekali dan banyak warga yang mengungsi ke rumah keluarga karena rumah mereka rusak parah,” ungkap Konradus.

Konradus juga telah berkoordinasi dengan salah satu LSM dan menyampaikan bahwa seharusnya pemdes maupun pemerintah kecamatan segera mengambil inisiatif bantuan yang bersifat darurat seperti bantuan medis, makan minum, terpal dan bantuan lain yang sangat dibutuhkan warga.

“Para aparat pemerintah dari desa, BPBD, Koramil dan Kepolisian sempat berkunjung pascabencana untuk sekadar mengambil data jumlah korban dan dokumentasi namun tidak ada kelanjutan untuk memberikan bantuan kepada warga yang terdampak musibah,” ujar Konradus kesal sambil menyampaikan bahwa orang tuanya juga terdampak bencana angin puting beliung.

Hingga saat ini, terang Konradus, banyak warga yang masih mengungsi karena rumah mereka rusak parah, terpaksa mereka menginap di rumah keluarga dan tempat yang dirasa aman.

Terpisah, Bupati Belu, Wilibrodus Lay, S.H. saat dikonfirmasi media Garda Indonesia melalui pesan Whatsapp pada Senin, 7 Oktober 2019 pukul 12.10 WITA lalu memberikan tanggapan pada Selasa, 8 Oktober 2019 pukul 08:49 WITA menyampaikan Pemkab Belu sedang mencari regulasi yang sesuai untuk membantu para korban angin puting beliung.

“Saya sudah data terkait korban kerusakan dan sementara masih dicari regulasinya untuk bantuan, kalau sesuai petunjuk teknis hanya bantuan ala kadarnya saja,” jelas Bupati Willy.

“Untuk rusak ringan hari ini (Selasa, 8 Oktober 2019) kita bantu seng, dan rusak berat masih cari solusi,” pungkasnya.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto oleh Konradus Koli Asa