Arsip Kategori: Daerah

40 Hektar Lahan di Desa Manusak Digarap Jadi Lahan Program TJPS

148 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Lahan seluas sekitar 40 hektar di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur dijadikan sebagai lahan penanaman jagung jenis hibrida dan lamuru yang merupakan Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) besutan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL).

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/05/30/ini-arahan-dan-motivasi-menteri-pertanian-bagi-petani-tjps-di-desa-manusak/

Pencanangan Program TJPS dan penanaman jagung jenis hibrida dan lamuru dilakukan oleh Gubernur VBL, Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo, Kapolda NTT Irjen Pol Hamidin; dan Bupati Kupang, Kornelis Masneno pada Jumat siang, 29 Mei 2020 di Desa Manusak.

Menteri Syahrul Yasin Limpo pun memberikan arahan dan memotivasi para petani Program TJPS untuk memaksimalkan panas, air dan lahan yang tersedia.

Foto bersama Kepala Desa Manusak, Arthur Ximenes (tengah depan berbaju batik dan bermasker merah) bersama perangkat desa, perangkat dusun, dan para petani Program TJPS Desa Manusak

Lantas, seperti apakah kesediaan dan semangat para petani (kebanyakan adalah warga eks Timor Leste, red) menyongsong Program TJPS tersebut dan dapat secara maksimal mengolah lahan Desa hasil pemekaran dari Desa Pukdale pada tahun 2003 ? Simak petikan wawancara antara Garda Indonesia dan Kepala Desa Manusak, Arthur Ximenes pada Jumat, 29 Mei 2020 di Kantor Desa Manusak di bawah ini:

Garda Indonesia : Seberapa luas lahan yang digunakan di Desa Manusak?

Kepala Desa Manusak : Hampir 40 hektar, yang tadi secara simbolis dilakukan penanaman jagung oleh Pak Menteri dan Pak Bupati ada 5 hektar.

Garda Indonesia : Program TJPS yang sudah berjalan dan dilakukan panen berjalan?

Kepala Desa Manusak : Kalau panen perdana tahap pertama sudah dilakukan dan tahap kedua untuk musim kemarau. Tahap pertama sudah dilakukan oleh masyarakat secara mandiri.

Garda Indonesia : Diperoleh berapa banyak ton jagung untuk pengolahan pertama?

Kepala Desa Manusak : Kalau dari kurang lebih 40 hektar lebih banyak fokusnya untuk padi. Pengolahan pertama dilakukan oleh masyarakat dan pengolahan kedua inilah yang diintervensi oleh pemerintah untuk program TPJS. Kami dari pemerintah desa sifatnya untuk membekali, karena ini ada di wilayah kami dan yang menjadi penerima manfaat tersebut adalah kelompok tani yang ada. Sebagai kepala desa mesti ada untuk memperlancar segala program yang dicanangkan oleh pemerintah.

Garda Indonesia : Berapa banyak kelompok tani (poktan) yang dilibatkan untuk program ini?

Kepala Desa Manusak : Kali ini, kurang lebih ada 3 kelompok tani walaupun lebih fokus ke satu kelompok tani yaitu Liselik. Ada lagi dua kelompok yang lain. Secara total ada 18 kelompok tani di Manusak yang sudah memiliki SK dan yang belum memiliki SK kurang lebih ada 10 kelompok tani.

Garda Indonesia : Luas lahan yang dijadikan sebagai lahan pertanian oleh masyarakat Manusak ada berapa hektar?

Kepala Desa Manusak : Di sini untuk lahan basah kurang lebih ada 250 hektar dan petani-petani ada yang menanam bawang merah. Dua minggu lalu diadakan panen kacang hijau dari provinsi hasil olahan kelompok tani yang baru pulang dari Cina. Karena tahun ini gagal tanam karena hujan, karena musim panasnya 8 bulan dan 4 bulan sisanya musim kemarau.

Garda Indonesia : Program tanam air apakah ada di sini?

Kepala Desa Manusak : Sudah ada P2T dan teman-teman kelompok yang lain secara swadaya, tetapi yang kita harapkan adalah optimalisasi dalam mengejar target dalam penyelesaian irigasi waduk Raknamo. Ini sedang berjalan semoga sebelum 31 Desember 2020 sudah tuntas.

Garda Indonesia : Keberhasilan yang sudah ditorehkan oleh Desa Manusak?

Kepala Desa Manusak : Ada pemberdayaan yang kita lakukan dengan bantuan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pemerintah desa itu mesti mengikuti iklim yang ada. Seperti pada tahun 2020, hujan hanya sekitar 4 bulan sehingga langkah yang kita lakukan itu mendorong masyarakat melalui aparat-aparat dusun, RT/RW, BPD dan pendamping desa, kita betul-betul memanfaatkan lahan yang ada. Ada yang menanam kacang hijau, jagung, tanaman hortikultura yang lain, ada juga masuk di peternakan. Kami tentu memiliki prestasi, tetapi kami memiliki tujuan yang pasti yaitu untuk menyejahterakan masyarakat.

Garda Indonesia : Berapa banyak jumlah jiwa dan KK di Desa Manusak?

Kepala Desa Manusak : Dilihat dari sisi historis dan fakta di lapangan bahwa ada 839 KK dengan total jiwa 4.317 dengan mayoritasnya ada warga eks Timor-Timur. Itu memiliki sebuah tantangan sendiri. Dengan demikian mulai tahun 2014 sebelum ada dana desa, 2013 kita berupaya melakukan pemberdayaan yang lebih fokus pada perikanan.

Selain itu, dengan pemerintah daerah dan kementerian peternakan, kita melakukan pembagian sapi lalu tahun 2019—2024, kita akan fokuskan masyarakat untuk peternakan, jagung dan pertanian. Karena kalau peternakan melalui dana desa selalu berupaya untuk membentuk kelompok agar masyarakat secara bersama bisa menerima sapi dari pemerintah desa agar digulirkan demi perekonomian keluarga.

Garda Indonesia : Berapa banyak sapi yang dihasilkan dari program tersebut?

Kepala Desa Manusak : Tahun 2020 ada 25 ekor, kami akan membuat SK sehingga ada 25 orang yang menerima itu. dari 25 orang, tidak dikembalikan ke desa, setelah 4 tahun harus putar kepada tetangganya yang belum mendapatkan sapi. Sehingga betul-betul bukan pinjam modal lalu kembalikan dengan modal, tetapi kita mendampingi dan memberdayakan masyarakat sesuai dengan perencanaan yang ada.

Sehingga dari RI yaitu Pak Menteri berserta jajarannya, Pak Gubernur serta jajarannya, dan kami di pemerintah daerah dengan paket komplit Pak Bupati yaitu 5P. Kami di desa korelasikan program itu menjadi kekuatan untuk bisa merencanakan dan membangun bersama-sama.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

IDI Sikka Peduli, Sadarkan Warga Sikka dengan Gerakan Masker Cegah Covid-19

104 Views

Maumere-NTT, Garda Indonesia | Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Sikka melalui Gerakan Masker Cegah Covid-19 berupaya untuk menyadarkan warga Kota Maumere terutama di 4 (empat) kecamatan yakni Kecamatan Nita, Magepanda, Mego, Paga, dan Kecamatan Talibura tentang pentingnya menggunakan masker untuk mencegah penyebaran virus corona.

Data per Kamis, 28 Mei 2020, jumlah kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Sikka mencapai 27 kasus (tertinggi di Provinsi NTT, red), menyiasati kondisi tersebut, maka IDI Sikka membagikan ribuan masker dan mengedukasi pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Baca juga:

https://gardaindonesia.id/2020/05/28/4-kasus-kota-kupang-1-di-tts-total-kasus-positif-covid-19-capai-90-kasus-di-ntt/

Kecamatan Talibura menjadi kecamatan kelima yang didatangi para dokter ini dalam program besar Masker untuk Sikka. Sebelumnya IDI Sikka sudah membagikan masker dan memberikan edukasi kepada masyarakat di Kecamatan Nita, Magepanda, Mego dan Paga. Jumlah masker yang dibagikan di Kecamatan Talibura sebanyak 4.000 masker untuk warga pada 12 desa dan 2 Puskesmas di wilayah kerja Talibura, yakni Puskesmas Watubaing dan Puskesmas Boganatar.

Sejumlah dokter memaparkan berbagai materi seperti strategi pencegahan, cara penularan virus corona, dan juga penegakan protokoler kesehatan.

Dokter Asep Purnama menyinggung reaksi penolakan masyarakat akibat stigma dan diskriminasi kepada pelaku perjalanan yang baru datang atau orang dan keluarga yang diduga terpapar virus corona. “Mohon jangan melalukan stigma diskriminasi terhadap mereka, melainkan harus mengasihi dan mendukung penuh upaya memutuskan mata rantai virus corona di Kabupaten Sikka. Perangi virusnya, bukan orangnya,” pintanya.

dr. Asep Purnama juga menekankan pentingnya melaksanakan protokoler kesehatan sebagaimana yang sudah diimbau pemerintah. “Untuk melawan virus corona, hanya ada 3 kunci utama yakni jaga jarak, pakai masker, dan rajin cuci tangan. Ini senjata kita. Tolong saling mengingatkan kepada saudara-saudara kita,” imbau Pembina IDI Cabang Sikka.

Seperti apakah kondisi penerapan protokol kesehatan di Kabupaten Sikka dan respons masyarakat terhadap dampak pandemi Covid-19?, silakan simak petikan wawancara antara Garda Indonesia dan dr. Asep Purnama melalui sambungan telepon pada Senin, 25 Mei 2020 pukul 22.22—22.51 WITA di bawah ini:

Garda Indonesia : Tugas mulia apa yang sedang dr Asep emban saat ini?

dr. Asep Purnama : Saya sebagai Ketua Tim penanggulangan covid-19 di rumah sakit TC Hillers Maumere, jadi dari tiga rumah sakit yang ditujukan oleh Kemenkes yaitu RSUD.W.Z Johannes, TC Hillers dengan RSUD Komodo Labuan Bajo. Saya juga penasihat inti Ikatan Dokter Indonesia Cabang Sikka.

Garda Indonesia : Seperti apa konsep Masker bagi Sikka tersebut?

dr. Asep Purnama : Jadi ceritanya ada gerakan masker untuk Sikka itu kita gelisah karena tenaga medis ini kan seperti penjaga gawang. Tunggu di belakang, kalau kita begitu terus pasti kebobolan gawangnya. Kemudian kita bergerak untuk pencegahan, jadi sebagai penjaga gawang kita juga ikut menyerang. Kita akhirnya sebagai penjaga gawang juga ikut membagi masker. Waktu itu kita mulainya dari masker, kita cari donasi dalam bentuk uang maupun masker karena waktu medis sampai kehabisan, jadi kita membuat masker kain. Dulu rebutan makanya petugas kesehatan tidak dapat masker medis. Akhirnya saya ajak cari dana baik dalam masker kain yang sudah jadi maupun dalam bentuk uang. Kalau uangnya datang ya kita produksi masker kain. Sekarang ini kita ada 18 penjahit dan lumayan karena separuhnya sampai delapan puluhan juta padahal targetnya 150 juta. Karena kita produksi untuk Sikka 300.000, istilahnya satu orang dua. Dalam proses perjalanan, dikasih masker ternyata tidak dipakai.

Dalam pembagian masker kita masukkan pesan. Hari pertama kita bagi masker di pasar, pesannya dibuang. Akhirnya kita bergerak untuk mengedukasi. Setelah membagi, kelebihan itu, kita edukasi. Kalau yang lain kan membaginya tanpa atau kurang edukasi. Kita keliling edukasi melalui radio, mengudang para wartawan untuk buat dalam bentuk video yang melibatkan sekian dokter spesialis yang ada, kita juga meminta tolong penyanyi gemu mafire untuk membuat lagu tentang masker. Kita bergerak terus, mengedukasi dan membagi masker.

Saya mengajak dokter-dokter muda agar berjuang menjadi agen perubahan seperti Dr. Cipto Mangunkusomo. Sekarang saatnya kita bergerak dan lawan sekuat tenaga apa pun yang terjadi. Memang agak rumit karena banyak yang menolak dan ketakutannya luar biasa, tapi anehnya masih suka yang ramai seperti di pasar. Inilah perlunya edukasi.

Garda Indonesia : Bagaimana respons masyarakat dengan cara dokter-dokter di Sikka mengedukasi masyarakat terkait kasus positif terbanyak di Provinsi NTT?

dr. Asep Purnama : Memang harus menerapkan physical distancing dan social distancing. Ini agak rumit, untuk bertemu saja harus physical distancing. Kita tidak bisa memberikan penyuluhan ke banyak orang. Jadi kita minta tokoh-tokoh masyarakat supaya sebarkan lagi. Maunya kita undang wartawan. Kita ke lokasi, kita minta tolong camat, camatnya minta tolong kepala desa. Kita juga membuat video dengan kerja sama dengan Maumere Broadcasting Coorporation TV ini kita mau kerja sama dengan Maumere TV untuk membuat siaran edukasi pendek. Kita juga membuat beberapa video untuk disebarkan. Kemarin melalui zoom membuat edukasi secara online. Kalau di rumah sakit kita bikin host training yaitu perawat-perawat menyebarkan informasi untuk keluarga dan teman-teman mereka.

Garda Indonesia : Bagaimana operasional rumah sakit di Maumere?

dr. Asep Purnama : Pasien yang non-covid berkurang akan tetapi yang covid bertambah. Hunian rumah sakit di bawah 50% seluruh Indonesia tapi covidnya 27%. Rumah sakit akan bangkrut karena pasiennya berkurang, tetapi biaya untuk kebutuhan APD meningkat. Rumah sakit swasta menangis, kalau rumah sakit daerah kan disubsidi oleh pemerintah. Gaji karyawan tetap berjalan di rumah sakit daerah, kalau gaji karyawan di rumah sakit swasta 90% BPJS semua.

Garda Indonesia : Apakah kondisi mental masyarakat Sikka juga sama seperti yang lain takut memeriksakan diri ke rumah sakit, nanti dianggap ODP bahkan PDP?

dr. Asep Purnama : Kalau di sini takut tertular corona. Mereka takut ke rumah sakit karena takut tertular corona. Kebanyakan orang itu karena ketidaktahuan, kalau tidak tahu cara baiknya menghindar. Kalau transmisi lokal itu harus siap-siap untuk PDP dan ODP. Di Rumah Sakit TC Hillers kalau masuk rumah sakit dan dibilang batuk itu sudah masuk ODP dan masuk rumah sakit dengan sesak napas itu PDP. Kalau sudah itu memang karantina. Kalau sudah transmisi lokal sudah rumit karena kalau ketemu ODP kita harus pakai ADP. Kita siap-siap untuk memakai alat perlindungan paling tidak memakai masker karena lebih bahaya kalau bertemu yang OTG. Di TC Hillers harga masker normalnya Rp.14.000 sekarang turun Rp.10.000 untuk masker medis yang bedah. Dalam satu hari di rumah sakit kami, ada 500 masker yang dipakai.

Garda Indonesia : Bagaimana Ketersediaan APD di RS TC Hillers?

dr. Asep Purnama : Keadaannya kita tidak tahu sampai kapan, mungkin pertahanannya hanya sampai sebulan. Kalau ada transmisi lokal maka APD kita levelnya akan naik dan tidak sampai sebulan. Karena transmisi lokal kemungkinannya akan banyak. Kita khawatir sampai petugas kesehatan tertular maka rumah sakit akan collapse, beda dengan rumah sakit di Jakarta. Kita tidak ada korona saja petugas kesehatannya terbatas, sebetulnya PSBB di NTT tidak dapat disamakan dengan di Jakarta. Kita harus lebih waspada.

Garda Indonesia : Dampak dari memblokade akses transportasi di wilayah perbatasan?

dr. Asep Purnama : Memblokade kecuali pencurinya belum masuk, tapi ini kan sudah masuk. Di kasih blokade tapi pada saat jam malam ataupun di pasar masih banyak orang. Sebetulnya protokol kesehatannya dijalankan yaitu pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak. Virus ini bisa sampai akhir tahun seperti demam berdarah. Harus ada tim dari pemerintah untuk mengawasi tempat-tempat seperti pasar, ATM di bank ataupun toko-toko agar ada jaga jarak.

Garda Indonesia : Koordinasi dan sinergisitas sebagai dokter dan ketua tim gugus tugas?

dr. Asep Purnama : Kalau diminta pendapat, saya kasih. Yang paling penting disini PCR kayak Kupang saja. Kami di sini punya TCM ( Tes Cepat Molekuler) ada di Maumere hanya tidak bisa diperiksa karena tidak ada cartridge. Ini kirim di Kupang harus menunggu lama. OTG atau ODP itu ada karena tidak ada alat pemeriksaan, kalau ada pasti langsung tahu apakah suspect atau tidak. Alat TCM ini dipakai untuk penyakit TBC dan di NTT kalau tidak salah ada 10.

Garda Indonesia : Bagaimana ketersediaan ruang isolasi di TC Hillers?

dr. Asep Purnama : Ada 15 kamar difungsikan dengan satu kamar ada dua. Kita menyiapkan tambahan 9 kamar dan penambahan di rumah sakit swasta.

Garda Indonesia : Penanganan untuk 27 Pasien Positif Covid-19 di Sikka ?

dr. Asep Purnama : Kalau tidak ada keluhan diberi vitamin. Jadi 80% kondisi mereka akan sembuh sendiri, 20% harus dirawat, 15% dari 20% akan membaik dan 5% akan meninggal. Kalau ada infeksi bakteri diberi obat, kalau gagal nafas diberi ventilator. Kondisi dari 27 orang sudah membaik. Kemarin kita kirim 65 hasil swap ke Labuan Bajo.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto utama (*/istimewa oleh IDI Sikka)

Kini, Ada Layanan Premium PLN di Labuan Bajo

22 Views

Labuan Bajo, Garda Indonesia | Di tengah pandemi Covid-19, tidak mengurangi kualitas Layanan PLN kepada masyarakat dan hal ini dibuktikan dengan hadirnya Pelanggan Premium Pertama dan Kedua di PLN Labuan Bajo

Pelanggan Premium Pertama yang hadir di Flores yaitu, Bandar Udara Komodo yang terletak di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi NTT, di mana sesuai arahan RI 1 awal tahun 2020 memastikan bahwa Bandar Udara Komodo akan diperluas demi menunjang pengembangan sektor pariwisata lokal maupun mancanegara dan pelanggan kedua ada di Siloam Hospital.

Manager ULP Labuan Bajo Gede Ambara Natha menyampaikan selamat kepada Bandara Komodo dan Siloam Hospital Labuan Bajo sebagai Pelanggan Premium pertama dan kedua di Daratan Flores. “Semoga dengan kerja sama ini dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat Labuan Bajo dan sekitarnya,” ucapnya saat menyalakan perdana pada 4—5 Mei 2020.

Sebagai bentuk komitmen, PLN ULP Labuan Bajo telah melakukan energize menyalakan Perdana Layanan Premium untuk dua pelanggan sekaligus, yaitu Bandara Komodo dilayani dengan Layanan Premium tarif Gold daya 865KV dan Siloam Hospital dilayani dengan Layanan Premium Tarif Silver daya 690KVA.

“Semoga dengan Layanan Premium ini dapat mengoptimalkan pelayanan Bandara Komodo”, ucap Ketut Gunarsa selaku Kepala Bandara Komodo.

Senada, Direktur Siloam Hospital juga menyampaikan Layanan Premium merupakan layanan bagus yang disediakan PLN, karena di Siloam Hospital sendiri ada banyak peralatan-peralatan medis yang tentunya membutuhkan keandalan listrik yang baik untuk menunjang dalam berlangsungnya kegiatan pelayanan yang diberikan kepada pasien. “Semoga adanya Layanan Premium ini dapat meningkatkan pelayanan Siloam Hospital kepada masyarakat Labuan Bajo dan sekitarnya,” tutur dr. Hermas.

Layanan Premium merupakan Layanan prioritas yang dimiliki oleh PLN dengan tingkat keandalan lebih tinggi dengan disuplai dari 2 sumber atau lebih sehingga apabila sumber utama terjadi gangguan maka akan didukung oleh sumber lainnya untuk meminimalkan gangguan pada pelanggan.

Di samping itu, PLN juga menyediakan Account Executive yang selalu siap untuk menangani keluhan dari Pelanggan Premium.(*)

Sumber berita dan foto (*/Humas PLN UIW NTT)
Editor (+rony banase)

Selama Pandemi Covid-19, Masuk ke Kabupaten TTU Wajib Dikarantina 14 Hari

285 Views

Kefa-T.T.U, Garda Indonesia | Pemerintah Daerah (Pemda) Timor Tengah Utara (T.T.U) telah memberlakukan aturan ketat bagi semua orang yang masuk ke TTU, melalui semua pintu masuk di Pos Oeperigi, pos Napan Eban, Oepoli Noelelo dan Malaka Belu di Marobo; bakal diperiksa.

Demikian penegasan Bupati T.T.U, Raymundus Sau Fernandes dalam percakapan telepon dengan Garda Indonesia pada Rabu, 20 Mei 2020.

“Semua pelintas dari luar masuk ke T.T.U, diperiksa!,” tegas Bupati Ray.

Selanjutnya, imbuhnya, Kalau mereka melakukan perjalanan ke Kabupaten Belu dan Malaka, setelah diperiksa akan dilepas untuk melakukan perjalanan.

“Sedangkan mereka (pelaku perjalanan, red) yang menuju ke T.T.U wajib dikarantina,” ujarnya.

Pemerintah T.T.U telah menyiapkan tempat karantina sementara di Rumah Susun (Rusun) Nawa, BLK, dan RBK Dinas Sosial.

“Apabila tiga tempat ini tidak bisa menampung karena pelaku perjalanannya banyak, maka kita sudah koordinasi untuk menggunakan losmen-losmen yang ada di T.T.U,” beber Bupati T.T.U seraya menyampaikan bahwa selama mereka ditampung atau dikarantina, maka konsumsi ditanggung oleh pemerintah.

“Jadi, kebutuhan selama 14 hari karantina ditanggung oleh pemerintah,” tandas Bupati Ray Fernandes sembari mengungkapkan waktu pelaksanaan bakal hingga 30 Mei 2020 atau diperpanjang sesuai masa darurat Covid-19.

Sebelumnya, Bupati Timor Tengah Utara melalui Pengumuman Nomor: 360/57/Set/V/2020 tanggal 18 Mei 2020 yang ditujukan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara dengan isi pengumuman : mengingat semakin meningkatnya jumlah masyarakat yang terpapar Covid-19 di kabupaten/kota se-Provinsi NTT, di mana terdapat kabupaten tetangga yang sudah dinyatakan daerah terpapar Covid-19, dengan demikian perlu dilakukan berbagai upaya untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 di Kabupaten TTU.

Sehubungan dengan itu, maka diumumkan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara sebagai berikut:

  1. Seluruh masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara diimbau untuk sementara tidak melakukan perjalanan keluar dari daerah Kabupaten Timor Tengah Utara kecuali untuk urusan mendesak seperti urusan kedukaan, sakit, dan tugas dengan ketentuan wajib membawa surat tugas dan kartu kuning hasil pemeriksaan awal yang dikeluarkan oleh gugus tugas Covid-19 pada posko gugus tugas Covid-19 di Dinas Kesehatan Kabupaten T.T.U;
  2. Kepada pelaku perjalanan yang berasal dari luar Kabupaten Timor Tengah Utara yang hendak datang ke Kabupaten Timor Tengah Utara wajib dikarantina pada tempat karantina yang telah disediakan sesuai dengan aturan protokol kesehatan Covid-19 kecuali:
  • Aparatur negara dengan ketentuan menunjukan surat tugas dan dilampirkan keterangan sehat Covid-19 sesuai ketentuan yang berlaku;
  • Pengemudi kendaraan pengangkut bahan bangunan, sembako dan kebutuhan logistik lainnya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yaitu menggunakan masker, cuci tangan, dan dilakukan pemeriksaan awal di pos pintu masuk.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Klarifikasi Laporan ARAKSI, Bupati TTU : Mereka Sebar Berita Bohong & Cemarkan Nama Baik

261 Views

Kefa-T.T.U, Garda Indonesia | Bupati Timor Tengah Utara, Raymundus Sau Fernandes menyampaikan klarifikasi terkait laporan Ketua ARAKSI yang melaporkan dirinya dan istri ke Polda NTT terkait dugaan korupsi DAK Pendidikan T.A. 2007 senilai sekitar Rp.47,5 Miliar.

Kepada Garda Indonesia, melalui percakapan telepon pada Rabu, 20 Mei 2020 pukul 11.03 WITA, menyampaikan bahwa kapasitas dirinya dalam pengelolaan APBD tanggung jawab sebagai bupati pada tataran kebijakan, tetapi pelaksanaan teknis ada pada pengguna anggaran. Pengguna anggaran sudah melaksanakan pelelangan dan dinyatakan selesai.

“Yang mereka laporkan bahwa tidak ada dalam APBD itu omong kosong (tidak benar,red),” tegas Bupati T.T.U.

Lanjutnya, “Itu semua ada dalam APBD 2011 dan semua Dana SILPA sesuai dengan surat edaran dari Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan tidak boleh menumpuk Dana SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan, red). Pemerintah diminta untuk segera.”

Oleh karena itu, imbuh Bupati Ray Fernandes (sapaan akrabnya, red), DAK 2007 dan 2008 dimasukkan dalam APBD 2011 dan kemudian dilaksanakan dan dilelang seperti biasa.

“Yang mereka nyatakan bahwa tidak ada kesepakatan dengan DPRD, Itu bohong! karena semua ada di dalam Perda APBD,” ungkapnya.

Terkait Pergub yang mereka singgung di dalam laporan, urai Bupati Ray, itu adalah itu perda harus ada pergub untuk penjabaran. Kalau pergub tidak ada, maka perda tidak bisa dijalankan.

Oleh karena itu, tambah Bupati Ray, Pergub pada bulan September 2011 itu terjadi perubahan pergub penjabaran karena juknis untuk pelaksanaan DAK baru turun, maka pemerintah daerah wajib untuk melakukan perubahan pergub untuk masukkan petunjuk teknis dari kementerian terkait dengan pelaksanaan Dana Alokasi Khusus tersebut.

“Itulah kronologis seperti itu,” jelas Bupati Ray Fernandes sembari mengungkapkan melalui kuasa hukum sudah melaporkan ARAKSI ke Polres TTU terkait menyebar berita bohong dan pencemaran nama baik.

Dalam pemberitaan konferensi pers yang dilakukan oleh saudara kita ini Alfred Baun, beber Bupati Ray, bukan praduga tak bersalah, ini langsung menuding.

“Ini berhubungan dengan kepastian hukum. Maka saya menggunakan hak hukum saya melalui kuasa hukum untuk membuat laporan polisi,” pungkasnya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Banjir di Sumba Timur Hanyutkan Dua Rumah, 230 Jiwa Mengungsi

177 Views

Sumba Timur, Garda Indonesia | Banjir menghanyutkan dua rumah warga Dusun Benda, Desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu dini hari, 20 Mei 2020 sekitar pukul 02.00 WITA.

Banjir dipicu salah satunya hujan dengan intensitas tinggi sehingga debit Sungai Pahunga Lodu meluap. Selain menghanyutkan dua unit rumah, banjir juga merendam 44 unit rumah di dusun itu. BPBD setempat melaporkan 230 jiwa mengungsi di Balai Desa Kaliuda. Mereka masih bertahan di pengungsian sementara.

Salah satu rumah warga terendam banjir

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati menyampaikan bahwa penanganan darurat telah dilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Melalui BPBD Kabupaten Sumba Timur, tim reaksi cepat (TRC) diturunkan untuk melakukan kaji cepat. Menghindari jatuhnya korban jiwa, tim juga melakukan evakuasi warga menuju tempat yang aman.

“Pemerintah daerah telah membantu warga terdampak dengan bantuan logistik,” ujarnya.

Lanjut Raditya, kondisi wilayah itu masih mendung dan berpotensi hujan pada pukul 14.00 waktu setempat. Banjir yang terjadi dini hari tadi berangsur surut dengan tinggi muka air sekitar 40 cm.

Kabupaten Sumba Timur merupakan wilayah yang memiliki potensi banjir dengan kategori sedang hingga tinggi. Berdasarkan analisis InaRISK, terdapat 16 kecamatan yang berpotensi banjir dengan luas are terdampak mencapai sekitar 75 ribu hektar.

Selain luas wilayah terdampak, fasilitas publik berupa sekolah dengan jumlah 63 unit berpotensi banjir dengan kategori sedang, dan 7 lainnya pada kategori tinggi.(*)

Sumber berita dan foto (*/Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)
Editor (+rony banase)

234 Kelompok Penerima Manfaat di Belu Terima BLT Dana Desa

123 Views

Belu- NTT, Garda Indonesia | Sebanyak 234 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 11 dusun selaku Kelompok Penerima Manfaat (KPM) menerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) di Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT), pada Rabu 20 Mei 2020.

Pantauan Garda Indonesia, pembagian BLT itu didahului dengan penyerahan secara simbolis kepada sejumlah warga PKM di Dusun Asora oleh Kepala Desa Bakustulama, Raymundus Berek di Ruang Aula Kantor Desa.

“Pembayaran pagi ini dilakukan secara simbolis saja kepada warga di dusun terdekat Asora. Selanjutnya, Tim Relawan Covid-19 akan menyebar ke setiap dusun lainnya untuk menyerahkan dari rumah ke rumah. Setiap KK kita berikan Rp.600.000, sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” jelas Roy Berek, demikian sapaan karibnya.

Total pembayaran tahap I menurut Berek, sebesar Rp. 140.400.000 (Seratus empat puluh juta empat ratus ribu rupiah). “Kita lakukan pembayaran kepada semua KPM dari rumah ke rumah untuk menghindari kerumunan sebagaimana diamanatkan protokol Covid-19, dan dipastikan tuntas hari ini, dengan tidak memotong sepeser pun. ” terangnya.

Kepala Desa Bakustulama, Raymundus Berek (kedua dari kanan) bersama perwakilan PMD Kabupaten Belu saat penyerahan BLT Dana Desa di Ruang Aula Kantor Desa

Kepala desa dalam arahannya, mengajak semua warga KPM guna menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah pusat yang telah mengeluarkan kebijakan baik berupa BLT kepada semua warga negara yang terdampak Covid-19.

“Selain memberikan perhatian dari segi kesehatan, pemerintah juga membantu masyarakat dari segi ekonomi. Karena itu, patut untuk kita berikan apresiasi tinggi kepada pemerintah pusat atas kepedulian berharga ini. Saya berharap, uang yang sudah diterima, bisa dipergunakan sebaik- baiknya untuk memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga selama masa Pandemi Covid-19,” tandasnya.

Perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Belu, Ferdinandus Manek menuturkan, pihaknya hadir untuk mengecek penyaluran dana BLT, agar benar- benar tepat manfaat.

Senada, Ferdi Manek menghimbau kepada semua penerima BLT- DD agar bantuan dana yang diterima itu, bisa dipergunakan secara baik untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam rumah tangga. Apabila terdapat kekurangan atau pun kekeliruan dalam realisasi pembayaran BLT- DD, Manek meminta kepada warga KPM untuk segera melaporkan kepada ketua RT/RW setempat, sekdes dan kepala desa untuk segera diselesaikan demi menghindari salah paham.

“Uang ini digunakan untuk kebutuhan pokok. Kalau ada yang pakai beli hp baru, maka tahap berikutnya layak diberi tanda merah,” tegasnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Sekcam Kecamatan Tasifeto Barat Domingos Soares, Babhinkamtibmas Desa Bakustulama Yandri Manu dan para pendamping Dana Desa Bakustulama.(*)

Penulis : (*/HH)
Editor : (+ rony banase)

Cegah Covid-19, Plan Indonesia Distribusi 6 Juta Liter Air Bersih di Nagekeo

105 Views

Nagekeo, Garda Indonesia | Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masyarakat merupakan salah satu langkah pencegahan penyebaran Covid-19. Untuk itu, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) mendistribusikan lebih dari 6 juta liter air bersih secara gratis ke 81 dusun yang tersebar di 29 desa di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan yang dilakukan pada Mei—Juni 2020 ini juga meliputi penyediaan 122 tandon air yang terus akan terisi sehingga mempermudah masyarakat dalam mengambil air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Kabupaten Nagekeo merupakan salah satu wilayah yang masih mengalami krisis air bersih. Ketika musim kemarau tiba, warga Kabupaten Nagekeo bahkan harus mengambil air di embung/cekungan penampung air yang bercampur dengan kotoran ternak, dan sebagian warga lainnya harus membeli air bersih.

Padahal untuk mencegah penularan Covid-19, masyarakat di Nagekeo membutuhkan akses sarana cuci tangan berupa air bersih mengalir dan sabun di tempat-tempat umum.

Warga Desa di Nagekeo mengantri mengambil air distribusi dari Plan Internasional

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Provinsi NTT tahun 2007, menyebutkan bahwa hampir 50% rumah tangga mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih pada musim kemarau. Sedangkan hasil Riskesdas tahun 2010, menunjukkan bahwa 42% penduduk di Nusa Tenggara Timur hanya menggunakan 20 liter air per orang per hari. Rendahnya pemakaian air di wilayah NTT, menempatkan provinsi ini pada urutan pertama dalam hal pemanfaatan air yang rendah di Indonesia.

Plan Indonesia menyadari bahwa air bersih merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi untuk menyokong seluruh aktivitas anak dan kaum muda beserta keluarganya. Eka Hadiyanto, Program Implementation Area Manager Plan Indonesia di Flores menyampaikan bahwa penting bagi anak dan kaum muda untuk mengerti dan menjaga kebersihan sehari-hari, bukan hanya untuk melindungi diri mereka melainkan orang tua yang lebih rentan terpapar Covid-19.

Melalui kegiatan pemenuhan kebutuhan air bersih, Plan Indonesia ingin menunjukkan dukungan kepada pemerintah dan masyarakat Kabupaten Nagekeo dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Eka menjelaskan bahwa bantuan distribusi air bersih merujuk pada Standard Operating Procedure (SOP) dari fase pendataan penerima manfaat, persiapan distribusi, pelaksaan distribusi hingga evaluasi setelah distribusi. Alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan juga wajib dikenakan oleh tim distribusi di lapangan.

“Keselamatan dan keamanan staf dan relawan di wilayah dampingan Plan Indonesia adalah prioritas kami. Karenanya seluruh tim respons telah diberikan pelatihan terkait distribusi sesuai dengan SOP situasi pandemik COVID-19 dan kode etik Plan Indonesia,” tegas Eka.

Dukungan Plan Indonesia terhadap PHBS merupakan bagian dari rangkaian upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Nusa Tenggara Timur. April lalu, Plan Indonesia telah mendistribusikan 31.556 paket kebersihan diri (hygiene kits) dan 25.128 poster informasi tentang pencegahan Covid-19 di tiga kabupaten dampingan di NTT yang meliputi Timor Tengah Selatan (TTS), Lembata, dan Nagekeo. (*)

Sumber berita dan foto (*PR Plan International Indonesia)
Editor (+rony banase)