Presiden Jokowi Tunjuk 7 Staf Khusus dari Kaum Milenial

44 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk 7 (tujuh) staf khusus milenial atau dari kalangan anak muda. Jokowi berharap staf khususnya yang baru ini bisa memberi kesegaran ide-ide pembangunan Indonesia lima tahun ke depan.

“Ketujuh anak muda ini akan menjadi teman diskusi saya, harian, mingguan, bulanan, memberikan gagasan segar yang inovatif,” kata Jokowi di Istana Merdeka, pada Kamis, 21 November 2019.

Pertama, langsung saja saya perkenalkan. Saudara Adamas Belva Syah Devara, umur 29 tahun, S2 ganda lulusan Harvard dan Stanford di Amerika Serikat. Kita kenal Mas Belva adalah pendiri dan CEO Ruang Guru. Masuk ke Forbes 30 di umur di bawah 30 tahun. Juga dapat medali emas dari Lee Kuan Yew saat lulus NTU Singapura.

Kedua, Putri Indahsari Tanjung umur sangat muda 23, saya juga kaget. Ini lulusan di Academy of Arts di San Fransisco. Kita sering dengar sebagai CEO Creativepreneur dan Chief Business Officer Kreavi.

Ketiga, Andi Taufan Garuda Putra umur 32 tahun. Lulusan Harvard di dunia entrepreneur banyak meraih penghargaan atas inovasinya dan kepeduliannya sektor-sektor UMKM. Menjadi CEO Amartha Mikro fintech. Saya kenal beliau saat urusan fintech.

Keempat, Ayu Kartika Dewi, 36 tahun, tapi kelihatannya masih 25 tahun. Adalah salah satu anak muda yang punya misi mulia untuk merekatkan persatuan di tengah kebinekaan. Menjadi pendiri dan mentor lembaga Sabang Merauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali). Meraih Gelar MBA di Duke University di Amerika.

Kelima, Gracia Billy Mambrasar umur 31 tahun. Ini putra tanah Papua, lulusan Australia National University (ANU) S2, sekarang sebentar lagi selesai di Oxford dan nanti Oktober juga akan masuk Harvard untuk S3. Billy talenta hebat tanah Papua yang kita harapkan banyak berkontribusi dengan gagasan inovatif dalam membangun tanah Papua. Menjadi CEO Kitong Bisa.

Keenam, Angkie Yudistia, umur juga masih muda 32 tahun. Anak muda penyandang disabilitas yang aktif bergerak sociopreneur melalui ThisAble Enterprise yang didirikan. Saya minta Angkie jadi jubir presiden di bidang sosial.

Ketujuh, Aminuddin Ma’ruf, umur 33 tahun, pernah jadi ketum PB PMII, saya minta keliling ke santri, pesantren, untuk menebar gagasan inovasi baru. Saya yakin santri bisa lahirkan talenta-talenta yang hebat memajukan bangsa ini.

“Tujuh anak muda ini akan menjadi teman diskusi saya harian, mingguan, bulanan, memberikan gagasan segar yang inovatif. Sehingga kita bisa mencari cara baru, cara yang out of the box, yang melompat mengejar kemajuan negara kita,” jelas Presiden Jokowi.

“Saya juga minta mereka untuk menjadi jembatan saya dengan anak-anak muda, santri, diaspora yang tersebar di berbagai tempat, dan saya yakin dengan gagasan segar kreatif untuk membangun negara ini. Kita akan lihat nanti gagasan itu apakah bisa diterapkan dalam pemerintahan,”tandas Jokowi. (*)

Sumber berita (*/idn/imk)
Editor (+rony banase)

UMP NTT Tahun 2020 Sebesar Rp.1.95 Juta

110 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Upah Minimum Provinsi (UMP) Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2020 telah ditetapkan dan tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur NTT Nomor 367/Kep/HK/2019 tanggal 1 November 2019.

Sesuai dengan UMP NTT tahun 2020 maka kenaikan UMP (Upah Minimum Provinsi) tahun 2020 sebesar 8,64 persen menjadi Rp 1.950.000,- (satu juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah) dan jika dibandingkan dengan UMP tahun 2019 sebesar Rp.1.795.000,- maka ada penambahan sebesar Rp 155.000,- (seratus lima puluh lima ribu rupiah).

Demikian penjelasan Kepala Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Diskopnakertrans) Provinsi NTT, Sisilia Sona kepada awak pada Selasa, 19 November 2019 di pelataran Gedung Sasando Kantor Gubernur NTT, usai mengikuti penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Daftar Alokasi Transfer Ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) Lingkup Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun Anggaran 2020.

“Upah Minimum telah kami umumkan berlaku mulai tanggal 1 Januari—Desember 2020. Kami berharap agar perusahaan dapat menjadikan upah yang telah ditetapkan harus dilaksanakan,” jelas Sisilia.

Lanjut Sisilia, pihaknya telah berdialog dan berkoordinasi dengan Apindo dan serikat pekerja agar upah minimum yang telah ditetapkan dapat dilaksanakan dan jika tidak dilaksanakan maka bakal ada sanksi.

“Upah minimum berlaku bagi semua perusahaan yang memperkerjakan karyawan dan dari semua sektor,” tegasnya. (*)

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Kapal Pesiar Aqua Blu Diluncurkan di Labuan Bajo, Tawarkan Wisata Bahari

153 Views

Labuan Bajo, Garda Indonesia | Kapal pesiar mewah berlambung baja Aqua Blu resmi diluncurkan di Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan siap menawarkan wisata bahari di perairan kawasan tersebut.

Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) Shana Fatina pada Selasa, 19 November 2019 mengatakan diluncurkannya Aqua Blu menambah alternatif baru bagi wisatawan yang ingin berlibur di Destinasi Super Prioritas Labuan Bajo dengan menggunakan kapal pesiar.

“Kehadiran Aqua Blu memberikan pilihan baru untuk aktivitas wisata bahari di Labuan Bajo dan Flores. Nantinya perjalanan wisata bahari ini akan dikombinasikan dengan beragam atraksi di daratan. Hal itu akan menjaga pariwisata berkelanjutan, khususnya manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal,” ungkap Shana.

Aqua Blu menjadi kapal eksplorasi Indonesia pertama dengan lambung baja yang menawarkan wisata bahari di Labuan Bajo. Kapal itu dioperasikan oleh 25 kru lokal yang sudah mendapatkan pelatihan khusus sesuai standar keselamatan dan keramahan.

Aqua Blu juga sudah menyiapkan rute menarik, yaitu Bali, Labuan Bajo, Maumere, Banda Neira, Ambon, Sorong, dan Waisai.

Shana menilai, kehadiran Aqua Blu akan bisa menghidupkan perekonomian pada tiap destinasi yang disinggahi. Aliran ekonomi berpotensi diberikan melalui beragam pembiayaan pelabuhan dan permintaan jasa lainnya. Untuk pemintaan jasa di antaranya, penyimpanan, persediaan makanan, transportasi lokal, dan penyediaan lain.

Fasilitas Kapal Pesiar Aqua Blu

Shana menambahkan, kehadiran Aqua Blu membuat industri pariwisata berdenyut cepat dan merata. “Industri pariwisata di lintasan Aqua Blu akan berdenyut cepat. Ada economy value besar yang bisa dinikmati langsung masyarakat. Sebarannya juga merata di banyak destinasi yang disinggahi kapal ini. Sebab, Aqua Blu membuat perjalanan melalui laut semakin kompetitif,” lanjut Shana.

Aqua Blu dikonsep sebagai Luxurious Yacht. Kapal mewah ini dilengkapi dengan sun deck, lounge dan bar, jacuzzi, hingga fasilitas spa. Aktivitas wisata airnya juga lengkap. Ada perlengkapan penyelaman, snorkling, kayak, juga stand-up paddleboards.

“Fasilitas yang dimiliki Aqua Blu sangat lengkap. Semuanya serba yang terbaik. Bagaimanapun, Aqua Blu ini dikonsep oleh pakar perancang yacht terkemuka. Story kapal ini sendiri sebenarnya sangat unik, apalagi konsepnya sekarang,” jelas Shana lagi.

Konseptor Aqua Blu adalah Perancang Yacht Dunia Cor D Rover. Aqua Blu sendiri sejatinya eks kapal perang Inggris HMS Beagle. Di tangan Rover dan tim, karakter penjelajah HMS Beagle diubah menjadi Ocean-Sea Expedition Yacht pada 2006. Kapal ini lalu didesain ulang pada 2019 hingga menjadi Aqua Blu.

“Kami menyambut gembira kehadiran Aqua Blu. Kapal ini berpotensi menaikkan pergerakan wisatawan di Labuan Bajo dan destinasi lainnya. Kami yakin, pergerakan wisatawan pada poros lintas Aqua Blu akan terus naik. Apalagi, pergerakan wisatawan di Labuan Bajo positif pada 3 tahun terakhir,” jelas Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Muh. Ricky Fauziyani.

Pergerakan wisatawan di Labuan Bajo dalam 3 tahun terakhir terkoreksi naik. Mengacu data Disparbud Manggarai Barat, pergerakan wisman sepanjang 2018 berjumlah 80.683 orang. Jumlah tersebut pun naik 17,45% dari tahun sebelumnya. Arus wisman pada 2017 sendiri berjumlah 66.601 orang. Angka tersebut naik 18,42% dari 2016. Sepanjang 2016, pergerakan wismannya sekitar 54.335 nama.

“Wisatawan di destinasi Labuan Bajo akan semakin positif di masa depan. Aqua Blu akan memberikan pengaruh besar dalam memobilisasi wisatawan. Lalu, bagi wisatawan yang ingin menikmati pengalaman berwisata bahari dan wisata di darat sekaligus silakan bergabung bersama Aqua Blu. Segera pesan tiketnya. Harganya ditawarkan kompetitif,” tutup Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenparekraf Rizki Handayani. (*)

Sumber berita (*/Guntur Sakti–Plt. Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpakeraf)
Editor (+rony banase)

Terima Rumah Musik Siloam, Ini Masukan dari Gubernur Viktor Laiskodat

214 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Saat menerima kunjungan dari pengurus Rumah Musik Siloam Kupang yang dipimpin oleh Aki Kala pada Selasa, 19 November 2019, bertempat di ruang kerjanya, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menyampaikan beberapa pesan dan masukan.

Dalam pertemuan yang berlangsung kurang lebih 20 menit tersebut, Gubernur Viktor Laiskodat banyak memberikan masukan demi memajukan musik di Nusa Tenggara Timur.

“Kalau kita ke negara – negara di Eropa, maka kita akan menemukan banyak sekali para penyanyi di setiap sudut jalanan yang menampilkan kreasi mereka. Mereka seakan tidak peduli ada yang menonton atau tidak, karena bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana mereka bernyanyi secara baik. Coba kita lihat penyanyi terkenal sekarang ini, hampir sebagian besar berasal dari jalanan,” ujar Gubernur NTT.

“Hal ini yang seharusnya dicontoh oleh anak muda NTT. Banyak tempat di kota ini yang kalau sore sampai malam selalu menjadi pusat tongkrongan masyarakat. Taman Nostalgia, Bundaran Tirosa, bahkan Gedung Sasando kantor Gubernur ini dapat menjadi alternatif bagi kaum muda untuk berkreasi, khususnya dalam bermusik. Silakan bekerja sama dengan Dekranasda maupun UKM – UKM sehingga di tempat kalian berkreasi dijajakan pula kopi, teh dan juga makanan ringan khas NTT. Khusus Gedung Sasando Kantor Gubernur ini, kalian bisa pakai di hari Jumat dan Sabtu malam, nanti dari Pemerintah Provinsi menyiapkan sound system untuk dipakai,” sambung Viktor Laiskodat.

Foto bersama Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dan Pengurus Rumah Musik Siloam

“Saat ini sektor pariwisata menjadi sektor utama penggerak ekonomi rakyat. Akan ada banyak wisatawan yang datang ke Nusa Tenggara Timur. Di sini musik juga dapat memegang peranan penting dalam mendukung sektor ini, karena bagi saya musik itu sesuatu yang indah sehingga dapat dicintai oleh semua orang. Anak – anak muda akan kita arahkan ke lokasi wisata yang ada agar para wisatawan yang datang juga dapat menikmati alunan musik yang baik,” tandas Gubernur Viktor Laiskodat.

Sementara itu, Ketua Rumah Musik Siloam, Aki Kala mengucapkan terima kasih kepada Gubernur yang sangat mendukung anak-anak NTT dalam bermusik.

“Baru kali ini ada Gubernur yang mengizinkan gedung kantor ini dipakai oleh kaum muda dalam berkreasi menyalurkan bakat mereka dalam bermusik. Hari Jumat, 29 November 2019  kami sudah mulai perform di kantor ini. Semoga dukungan dari bapak Gubernur dapat kami manfaatkan sebaik mungkin demi menyalurkan bakat bermusik dari kaum muda di NTT,” ujar Aki Kala dengan antusias.(*)

Sumber berita (*/Sam Babys–Staf Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Tolok Ukur Pariwisata NTT Lewat Urusan Toilet

134 Views

Oleh Karolus Ngambut

Memperingati Hari Toilet Sedunia pada 19 November tahun 2019

Saya menduga tidak banyak yang tahu bahwa tanggal 19 November adalah Hari Toilet Internasional (World Toilet Day) disingkat ‘WTD’. Toilet bagi banyak orang mungkin identik dengan jamban atau kakus, tapi sebenarnya toilet itu merupakan satu bangunan yang terdiri atas jamban, dan dilengkapi dengan tempat cuci tangan, namun dalam ulasan selanjutnya tulisan ini saya lebih banyak menggunakan toilet yang berarti jamban atau kakus.

Peringatan WTD telah dicanangkan oleh PBB pada tahun 2013 yang bertujuan untuk mengampanyekan, memotivasi dan menggerakkan masyarakat tentang pentingnya sanitasi. Mengapa kampanye toilet penting? Data dan fakta menunjukkan masih banyak masyarakat belum mepunyai akses yang layak terhadap urusan sanitasi atau toilet, meskipun pemerintah telah berhasil meningkatkan akses sanitasi yang layak di masyarakat dalam kurun waktu belakangan ini.

Akses sanitasi layak merupakan salah satu target pembangunan berkelanjutan (Sustainable development Goals / SDGs), juga menjadi target pembangunan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014—2019. RPJMN 2019 bahkan telah menetapkan target universal sanitasi dan buang air besar sembarangan sebesar nol persen pada tahun 2019. Target tersebut belum tercapai, buktinya data pada situs online STBM SMART, akses sanitasi layak baru di Indonesia baru mencapai 77,91%.

Badan Pusat Statistik merilis data nasional pada tahun 2018 yaitu sebanyak 69,27% rumah yang mempunyai akses sanitasi yang layak. BPS NTT juga merilis data akses sanitasi masyarakat di NTT, yaitu 12,3% masyarakat NTT menggunakan jamban cemplung, 5,35% menggunakan jamban plengsengan dengan tutup dan 12,67% menggunakan jamban plengsengan tanpa tutup. Indikator akses sanitasi layak adalah jika rumah tangga memiliki jamban berjenis leher angsa. Dengan menggunakan kriteria tersebut, maka kelompok masyarakat yang menggunakan jamban cemplung dan plengsengan termasuk kategori akses sanitasi yang tidak layak.

Tahun 2018, Bank Dunia merilis laporan kerugian ekonomi di Indonesia akibat sanitasi yang buruk sebesar Rp.56 Triliun atau sekitar 2,3% dari PDB Indonesia akibat dari hilangnya hari produktif masyarakat karena sakit yang berhubungan dengan sanitasi misalnya diare. Sanitasi layak juga berhubungan dengan kejadian stunting (balita pendek di banding dengan umurnya). Beberapa kajian ilmiah menyimpulkan bahwa sanitasi mempunyai kontribusi positif terhadap kejadian stunting di beberapa negara di dunia. kontribusi sanitasi cukup besar yang saat ini menjadi prioritas nasional yang buruk juga berdampak pada bidang pariwisata yang sangat berpotensi menghambat upaya mendongkrak pariwisata.

Sebagaimana dikatahui bahwa pemerintah provinsi NTT menetapkan sektor pariwisata sebagai sebagai penggerak utama (Pime Mover) pembangunan menuju NTT Bangkit dan Pemerintah NTT telah menetapkan beberapa tempat destinasi wisata unggulan di Provinsi NTT.

Hasil pengamatan lapangan, kondisi toilet umum di tempat pariwisata di NTT belum dikelola dengan baik sehingga timbul bau dan kotor. Hal ini terjadi karena pentingnya menjaga kebersihan toilet masih diabaikan. Padahal toilet merupakan kebutuhan pokok manusia. Diperlukan kesadaran dari berbagai pihak untuk menjaga kebersihan toilet. Banyak penyakit yang bisa ditimbulkan akibat toilet kotor, kondisi toilet umum menciptakan citra positif destinasi, dan menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan daya saing pariwisata. Sehingga Toilet memang bagian tak terpisahkan dari higienitas dan hospitality (keramahtamahan dalam menerima tamu).

Toilet yang kotor tentu memberi kesan buruk pada destinasi wisata kita. Dampaknya, wisatawan dan pengunjung enggan datang ke lokasi yang sama. Dampak lebih mencelakakan adalah para wisatawan yang telah datang kemudian tidak akan merekomendasikan teman dan handai taulannya untuk datang ke destinasi wisata.

Contoh Toilet Higienis

Pemerintah Provinsi NTT terus berusaha meningkatkan daya saing pariwisata di NTT. Kegiatan strategis yang akan di lakukan adalah menggelar ‘Festival Toilet Umum Bersih”. Ajang ini diharapkan dapat mendorong para pengelola pariwisata dan pemerintah senantiasa merawat dan menjaga kebersihan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan, khususnya kebersihan serta mendorong masyarakat untuk lebih peduli dalam menggunakan toilet umum.

Meningkatnya mutu pelayanan pengelolaan toilet di tempat wisata tentu menjadi cerminan budaya dan jati diri masyarakat NTT, yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing pariwisata di NTT di tingkat nasional nasional maupun internasional.

Peningkatan Akses Toilet melalui Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

Konsep pendekatan STBM sejalan dengan model pembangunan yang melibatkan partisipasi masyarakat secara utuh sejak persiapan sampai pada evaluasi (deklarasi). Konsep pendekatan STBM yang merupakan upaya mendorong masyarakat untuk mengubah perilaku dalam bidang sanitasi dan menyediakan sarana sanitasi yang difasilitasi oleh para tenaga sanitarian.

Konsep pendekatan pembangunan sanitasi melalui pendekatan STBM berhasil mengubah perilaku masyarakat dalam bidang sanitasi, dengan tag line ‘tanpa subsidi’, saat ini menurut pandangan saya, masyarakat diserang dengan berbagai nilai – nilai pembangunan ‘value attack’ yang juga membuat masyarakat menjadi bingung karena beberapa skema kegiatan yang dijalankan oleh pemerintah maupun lembaga lainnya kerap kali menawarkan bantuan langsung yang diberikan kepada masyarakat, meskipun bantuan tersebut di bungkus dengan kata stimulus.

Hasil kajian yang dilakukan pokja AMPL dengan Pengda HAKLI Provinsi NTT yang didukung oleh UNICEF tentang hambatan pelaksanaan air minum dan sanitasi di NTT adalah :

Pertama, Dasi sisi kebijakan, ditemukan bahwa belum bersinerginya peraturan yang terkait dengan sanitasi pada setiap perangkat daerah di tingkat provinsi, selain itu belum tersedianya kebijakan dan strategi tentang layanan sanitasi aman, Visi penghapusan Buang Air Besar (BAB) sembarangan belum selaras dengan perilaku individu, belum adanya kebijakan yang mengatur dan mendorong layanan sanitasi yang berkelanjutan;

Kedua, Dari sisi kelembagaan ditemukan bahwa peran dan akuntabilitas kelembagaan yang bertanggungjawab terhadap upaya sanitasi di NTT belum didefinisikan dan dioperasionalkan dengan jelas, belum adanya pendampingan yang optimal kelembagaan pokja AMPL di tingkat kabupaten, dan koordinasi antara pemangku kepentingan belum dilakukan secara optimal;

Ketiga, Dari sisi ketersediaan anggaran, ditemukan bahwa anggaran sanitasi yang ada di beberapa perangkat daerah belum optimal, dana kampanye dan sosialisasi tentang sanitasi masih terbatas. Perhatian pada prioritas pendanaan juga penting untuk perhatikan. Hasil kajian yang di lakukan Pokja AMPL menunjukkan bahwa Rerata belanja pemerintah untuk memenuh kebutuhan air minum dan sanitasi di NTT hanya kurang lebih Rp.16.000,- per jiwa per tahun, lebih kecil dari tahun 2013 yang mencapai Rp.66.000,-. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap isu air bersih dan sanitasi masih perlu mendapat perhatian;

Keempat, Dari sisi perencanaan juga masih kurang, antara lain koordinasi untuk memaksimalkan penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) masih terbatas.

Kelima, Dari sisi monitoring , evaluasi dan pembelajaran juga masih terdapat kekurangan yakni koordinasi pelaksanaan monitoring masih terbatas, baik terbatas pada evaluasi program juga pihak yang terlibat dalam melakukan evaluasi.

Keenam, Terkait pengembangan kapasitas SDM, ditemukan bahwa pengembangan SDM khususnya sanitarian di lini depan layanan sanitasi belum maksimal, masih ada puskesmas yang belum memiliki sanitarian. Di tempat lain, suksesnya program sanitasi didukung juga oleh ketersediaan tenaga sanitasi, bahkan sampai ke desa-desa.

Ketujuh, Dari sisi kepemimpinan lokal, belum optimalnya keterlibatan tokoh kunci dan tokoh lokal di masyarakat, misalnya pimpinan umat komunitas.

Kedelapan, Dari sisi penciptaan norma sosial tentang sanitasi menunjukkan peran media massa masih terbatas untuk mengampanyekan isu sanitasi.

Jalan keluar yang perlu dilakukan adalah

(1). Perlunya koordinasi kebijakan serta komunikasi kebijakan terkait dengan sanitasi sampai ke level paling bawah di masyarakat;

(2). Pelibatan masyarakat dalam urusan sanitasi menjadi sangat penting, masyarakat tidak dianggap sebagai ‘klien’ sebagai penerima manfaat saja, tetapi masyarakat diikutsertakan dalam pelaksanaan pembangunan sanitasi. Konsep pendekatan pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai pelanggan atau klien terbukti telah gagal mencapai tujuan pembangunan, karena itu pendekatan yang melibatkan masyarakat penerima manfaat menjadi strategi yang tepat untuk mencapai kesuksesan dan keberlanjutan program sanitasi. Pelibatan kelompok masyarakat lokal dalam tatanan sosial kemasyarakatan misalnya kelompok gereja menjadi amunisi yang sangat kuat dalam mencapai tujuan pembangunan sanitasi.

(3). Pembangunan yang berorientasi pada pendekatan ekonomi dan politik ternyata tidak cukup memberikan manfaat terhadap capaian pembangunan. Para ahli menekankan pendekatan pembangunan dengan memperhatikan aspek psikologis masyarakat termasuk di dalamnya adalah aspek sosial budaya. Sebab dari beberapa pengalaman juga menunjukkan bahwa beberapa fasilitas sanitasi yang dibangun dari dana pemerintah maupun bantuan LSM tidak dipelihara dan dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.

(4). Peluang penggunaan dana desa untuk pembangunan sanitasi telah terbuka lebar, melalui Peraturan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 11 tahun 2019 merupakan salah satu momentum terbaik dalam upaya peningkatan akses sanitasi dan air bersih di masyarakat.

Walaupun sanitasi adalah ‘urusan belakang’ namun pembangunan sanitasi akan berdampak pada pembangunan Pariwisata NTT dalam mewujudkan kualitas manusia di Provinsi NTT. Manfaat dari investasi dalam bidang sanitasi berdampak pada 10—20 ke depan, ketika generasi yang saat ini lahir akan tumbuh menjadi dewasa dan menjadi produktif. Karena itu menatap masa depan pariwisata kita melalui ‘urusan belakang’ perlu diperhatikan. Selamat Hari Toilet Internasional. (*)

Penulis merupakan Staf Akademik Jurusan Sanitasi Poltekkes Kemenkes Kupang

Editor (+rony banase)

Anak Bali Gembira, Cinta Seni dan Budaya

123 Views

Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Selama 2 (dua) minggu berada di Pulau Bali, ada hal menarik dan mengusik saya menelusuri kecintaan masyarakat Bali terutama anak-anak terhadap seni dan budaya Bali.

Saat berada di Banjar Kolepekan, Desa Tumbakbayuh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali pada Rabu, 16 Oktober 2019 sekitar pukul 18.30 WITA saat prosesi odalan sedang berlangsung; saya melihat sebuah pemandangan menarik ketika sedang melakukan pemotretan terhadap para anak-anak Bali yang sedang berlatih Gamelan Bali.

Anak Bali yang berusia sekitar 6—9 tahun tersebut sedang menabuh gendang dan memainkan Gamelan Bali. Mereka tampak menikmati latihan kecil tersebut sambil ditemani orang tua mereka yang sedang menanti upacara odalan. Dengan saling memberikan dukungan terhadap satu sama lain, anak-anak Bali di Banjar Kolepekan tersebut larut dalam ritme alunan Gamelan Bali.

Sebelumnya, sekitar pukul 17.30 WITA, tak jauh dari Banjar Kolepekan, lebih tepatnya di Sanggah dekat Jembatan Kecil berlangsung odalan yang diikuti oleh masyarakat sekitar yang datang secara bergantian untuk bersembahyang memuja Sang Hyang Widhi.

Mereka berdatangan dengan pakaian adat Bali dan membawa serta anak-anak yang turut larut dalam odalan tersebut. Tampak seorang anak perempuan berusia sekitar 9 tahun kyusuk dalam doanya disamping ibu dan bapaknya.

Berselang beberapa menit, datang seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 7 (tujuh) tahun bersama ayahnya yang juga turut larut dalam sakralnya odalan yang dipimpin oleh pandita.

Anak-anak tersebut terlihat gembira dan larut dalam kekusyukan ritual odalan sambil mengamati sekeliling mereka dan berinteraksi dengan teman-teman sebaya.

Lebih menarik, saat datang seorang ibu dan anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun berpakaian adat Bali lengkap dengan sesajen. Sambil memegang tangan ibunya, anak laki-laki tersebut mengikuti setiap gerak gerik ibunya dari awal hingga berakhirnya prosesi odalan.

Wajah bahagia terpancar dari raut wajah imutnya yang menarik perhatian saya untuk memotret perilakunya. Aura bahagia yang terpancar darinya meresap ke relung kalbuku.

Anak Bali di Desa Kolepekan hanya baru secuil gambaran kebahagiaan anak-anak. Masih banyak anak-anak serupa yang sangat bahagia saat bersama orang tua mereka bersama mengikuti ritual seni dan budaya Bali.

Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Prof.Dr.I Gede Arya Sugiartha, S.Skar., M.Hum. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Seni Budaya dalam sesi Konferensi Pers Festival Bali Jani 2019 di Aula Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali pada Selasa, 22 Oktober 2019 mengatakan bahwa seni tradisi dan budaya Bali sudah dibangun sejak anak-anak.

“Dampaknya bagi anak muda Bali, mereka sangat mencintai tradisi. Kita juga memberikan ruang ekspresi bagi anak-anak dan sejak tahun 1970 Pemerintah Bali telah berfokus untuk menggarap seni tradisi agar selalu lestari dan dicintai anak-anak,” tutur Prof I Gede Arya menjawab pertanyaan Garda Indonesia mengenai apakah ada degradasi terhadap kecintaan anak Bali terhadap seni dan budaya Bali.

Penulis, editor dan foto (+Hironimus Dure Banase )

Penghormatan Terakhir untuk Alm. Cornelis Tapatab, Gubernur Viktor Jadi Irup

10 Views

Soe-TTS, Garda Indonesia | Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), bertindak selaku Inspektur Upacara pada prosesi pemakaman bapak Cornelis Tapatab (Mantan Bupati TTS periode 1973—1983, bertempat di Aula Mutis Kantor Bupati Timor Tengah Selatan, pada Kamis 21 November 2019.

Dalam sambutannya, Gubernur Laiskodat mengatakan bahwa Nusa Tenggara Timur sangat kehilangan sosok yang sangat luar biasa ini.

“Semenjak berpulangnya almarhum beberapa waktu lalu, tentu seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur merasa sangat kehilangan sosok yang sangat berjasa ini. Almarhum telah mendedikasikan seluruh hidupnya demi kesejahteraan masyarakat NTT. Begitu pula terhadap masyarakat di Timor Tengah Selatan ketika beliau menjabat sebagai Bupati TTS periode 1973—1983,” kata Gubernur VBL.

Lanjut Gubernur, “Banyak hal baik yang telah almarhum perbuat. Kiranya semangat kerja dari almarhum boleh menjadi teladan bagi kita semua yang masih berkarya di dunia ini, demi kemajuan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dan sudah sepatutnya kita semua yang hadir saat ini, memberikan penghormatan kepada beliau atas semua karya yang telah diperbuat bukan saja bagi masyarakat TTS, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur,” pinta Gubernur Viktor.

Karangan bunga dari Gubernur NTT Viktor Laiskodat bagi Alm. Cornelis Tapatab

Permintaan Terakhir Alm. Cornelis Tapatab

Gubernur Viktor juga mengisahkan pertemuannya dengan almarhum beberapa waktu lalu. “Ketika saya menjabat sebagai Gubernur, almarhum pernah bertemu dan berbincang dengan saya. Waktu itu almarhum mengatakan bahwa dia sangat risau dengan keadaan TTS saat ini, yang mana utang pemerintah kabupaten masih sangat banyak,” ungkap Gubernur Viktor.

“Waktu itu saya berjanji nanti setelah pelantikan Bupati dan Wakil Bupati terpilih baru dibicarakan secara baik. Selain masalah utang pemerintah kabupaten TTS, almarhum juga meminta agar memperhatikan ruas jalan Kapan – Nenas. Dan saat ini jalan itu sementara dikerjakan, dan tahun depan saya sudah anggarkan agar pekerjaan jalan tersebut boleh sampai ke Desa Nenas. Sayangnya sebelum jalan itu dikerjakan, almarhum sudah dipanggil pulang mendahului kita semua, sehingga almarhum tidak sempat melihatnya,” tandas Gubernur Viktor.

Sebelum upacara pemakaman secara Kedinasan dilakukan, didahului dengan pembacaan riwayat hidup dari almarhum, dimana almarhum pernah menjabat beberapa jabatan penting, antara lain Bupati TTS masa jabatan 1973—1983, pernah juga menjadi Anggota MPR RI, dan juga beberapa jabatan di lingkup Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tampak hadir Bupati dan Wakil Bupati TTS, unsur Forkopimda Kabupaten TTS, Tokoh adat dan Tokoh masyarakat Kabupaten TTS dan juga ASN lingkup pemerintah kabupaten TTS. (*)

Sumber berita (*/Sam Babys–Staf Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Peduli Sumber Daya Air di NTT, Politeknik Negeri Kupang Helat Seminar Nasional

105 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kondisi curah hujan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terkecil di Indonesia dengan rata-rata volume curah hujan tahunan di NTT hanya 1.000 mm dengan musim hujan hanya berkisar 3—5 bulan dan musim panas (kering) berlangsung selama 7—9 bulan yang menyebabkan kondisi sumber daya air relatif kecil dan terbatas.

Menyadari kondisi tersebut, Politeknik Negeri Kupang melalui Jurusan Teknik Sipil menggelar Seminar Nasional bertajuk ‘Penataan Ruang Berbasis Sumber Daya Air secara Terpadu (Integrated Water Resources Management)’ yang dilaksanakan pada Kamis, 21 November 2019 pukul 09.00 WITA—selesai di Auditorium Jurusan Pariwisata.

Menghadirkan Ahli Sumber Daya Air dari Universitas Brawijaya, Dr.Ir.Ussy Andayanti, MS. sebagai keynote speaker, seminar nasional ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi NTT, Maxi Menabu,S.T., M.T. mewakili Gubernur NTT, Wakil Direktur III Politeknik Negeri Kupang (PNK) Ambrosius Timo, S.T., M.T. mewakili Direktur PNK, pejabat terkait lingkup Pemprov NTT, undangan lainnya, mahasiswa-mahasiswi jurusan teknik sipil Politeknik Negeri Kupang.

Ketua Jurusan Teknik Sipil PNK, Dian Erlina Waty Johannis, S.T., M.Eng.

Ketua Jurusan Teknik Sipil PNK, Dian Erlina Waty Johannis, S.T., M.Eng. kepada media ini menyampaikan sasaran PNK melalui seminar nasional tentang penataan ruang berbasis sumber daya air dapat memberikan masukan tentang water resources management berupa debit lintasan air yang besar yang dapat berdampak pada erosi lahan sehingga diperlukan pemanfaatan penampungan atau penyimpanan air.

“Kita (kampus,red) berharap dapat bersinergi penelitian dan pengabdian dengan pemda terkait water resources management di Nusa Tenggara Timur,” ujar Dian Johannis.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi NTT, Maxi Menabu,S.T., M.T. mewakili Gubernur NTT menyampaikan apresiasi kepada Jurusan Teknik Sipil PNK yang dapat menggelar seminar nasional dan menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dalam mendukung proses pembangunan di Nusa Tenggara Timur.

Maxi Nenabu juga menyampaikan Nusa Tenggara Timur memilki suhu yang bervariasi dengan curah hujan minim yang tercatat pada tahun 2015 di stasiun meteorologi dan klimatologi yakni 600—2.700 mm kubik dengan curah hujan tertinggi di Kabupaten Manggarai dengan 160 hari hujan, Manggarai Barat dengan 125 hari hujan dan Ngada dengan 121 hari hujan. Sedangkan daerah yang memiliki hari hujan terendah berada di Sumba Tengah dengan 31 hari hujan, Timor Tengah Selatan memiliki 62 hari hujan, dan Timor Tengah Utara (TTU) dengan 68 hari hujan.

Kadis PUPR Provinsi NTT, Maxi Nenabu

“Kondisi basah atau hujan berada pada bulan Desember—Mei atau sekitar 3—4 bulan dan kondisi kering (kemarau) berada pada bulan Juni—November atau sekitar 8—9 maka hal ini menjadikan wilayah Nusa Tenggara Timur relatif kering dan hal ini menjadikan sumber daya air jadi perhatian sangat serius,” beber Maxi.

Lanjut Maxi, kondisi tersebut menyebabkan Nusa Tenggara Timur mengalami defisit air rata-rata 1,5 Miliar kubik per tahun dengan total kebutuhan air baku per tahun sebesar 10,03 Miliar kubik karena belum dapat mengelola ketersediaan air secara baik saat musim hujan sebanyak 18.257 Miliar kubik.

“Kondisi tersebut disebabkan oleh sistem pengelolaan sumber daya air yang belum maksimal dan dikelola secara baik saat musim hujan sehingga kita butuh pemikiran-pemikiran dari kampus dengan alternatif solusi,” ungkap Maxi.

Sementara itu, Dr.Ir.Ussy Andayanti, MS. dalam pemaparannya tentang Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Terpadu menyampaikan menurut wacana global bahwa proses pengolahan SDA yang memadukan antara sumber daya air dengan sumber daya terkait lainnya antar sektor, antar wilayah secara berkelanjutan tanpa harus mengorbankan lingkungan dan diselenggarakan dengan pendekatan partisipatif.

Sedangkan, menurut UU Nomor 7 Tahun 2004, proses pengolahan SDA diselenggarakan secara menyeluruh (perencanaan, pelaksanaan, monitor & evaluasi, konstruksi, pendayagunaan, pengendalian); terpadu dengan melibatkan stakeholder, antar sektor, wilayah dan berwawasan lingkungan yakni keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan (antar generasi) untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Menurut Dr.Ussy Andayanti, agar terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat diwujudkan dengan pengelolaan sumber daya air dengan 5 (lima) pilar yakni :

  1. Konservasi Sumber Daya Air (SDA), upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan SDA agar selalu tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang;
  2. Pendayagunaan SDA, upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna;
  3. Pengendalian Daya Rusak, upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air;
  4. Sistim Informasi SDA, terkait tata kelola dari pengelolaan sumber daya air untuk kemudahan akses informasi kepada masyarakat;
  5. Pemberdayaan Masyarakat, melibatkan peran serta masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam perwujudan pengelolaan SDA.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

MPR RI dan BNN Akan Bersinergi Perangi Narkoba

25 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Ketua MPR RI Bambang Soesatyo siap membangun sinergi antara MPR RI dengan Badan Narkotika Nasional (BNN). Sehingga, sosialisasi 4 Pilar MPR RI tidak hanya sekadar dilakukan dengan simposium maupun seminar saja. Melainkan juga ada aksi nyata, khususnya dengan BNN, dalam mencegah generasi muda terpapar Narkoba.

Teror Narkoba kini telah masuk menjadi salah satu teror yang membuat hancur peradaban bangsa, negara, bahkan dunia. Karenanya pencegahan harus dimulai sedini mungkin.

“MPR RI dan BNN punya semangat yang sama dalam menjaga bangsa dan negara. Semangat kebangsaan menjadikan Indonesia tetap utuh dari berbagai teror maupun tindakan yang memecah belah bangsa. Teror Narkoba yang sudah memasuki semua lini, dari mulai anak-anak sampai dewasa, pria dan wanita, tak boleh kita diamkan. Mengingat di masa kini jenis Narkoba tak hanya sekadar ganja atau sabu. Tapi sudah beragam jenisnya, bahkan ada yang sintesis seperti metamfitamin, yang kadang kala tak diketahui generasi muda sebagai salah satu varian Narkoba. Inilah pentingnya sosialisasi yang dilakukan secara simultan,” ujar Bamsoet saat menerima Kepala BNN Heru Winarko, di Ruang Kerja Ketua MPR RI pada Rabu,20 November 2019.

Turut hadir antara lain Deputi Bidang Pencegahan BNN Anjan Pramuka Putra, Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN Dunan Ismail Isja, Kepala Pusat Laboratorium Narkotika BNN Mufti Djusnir, dan Kepala Biro Humas BNN Sulistyo Pudjo Hartono.

Ketua MPR RI juga menyoroti banyaknya varian new psychoactive substances (NPS) yang kini beredar di kalangan generasi muda. Seperti tanaman Kratom yang berada di Kalimantan, yang saat ini sedang banyak mendapat perhatian dunia, lantaran efek konsumsinya menyebabkan dampak negatif pada psikologis dan medis. Layaknya orang mengonsumsi varian Narkoba.

“BNN perlu segera mengambil tindakan. Karena yang paling berbahaya adalah jika orang-orang tidak tahu tumbuhan tersebut adalah tumbuhan berbahaya bagi kesehatan. Namun demikian, tak hanya sekadar melarang masyarakat membudidayakan Kratom, BNN bersama pemerintah pusat dan daerah juga perlu memikirkan langkah taktis sebagai substitusi bagi masyarakat. Misalnya, melakukan pendampingan masyarakat untuk mengganti lahan Kratom menjadi lahan kopi, ataupun tanaman produksi lainnya. Seperti yang sudah dilakukan BNN di Aceh, dengan mengalihfungsikan lahan ganja seluas 13.000 hektar menjadi lahan pertanian jagung, kopi, dan lainnya,” jelas Bamsoet.

Foto bersama Ketua MPR RI Bambang Soesatyo , Kepala BNN RI, Heru Winarko dan jajarannya

Bamsoet tak ingin Indonesia menjadi surga Narkoba. Selain tak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan nilai luhur budaya bangsa, penggunaan Narkoba juga bisa menghambat peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. Data BNN, saat ini pengguna Narkoba di Indonesia mencapai 4,5 juta jiwa atau sekitar 1,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia. 50 persen atau sekitar 2 juta penduduk merupakan pengguna baru dari anak-anak muda.

“Sedangkan yang menjadi pecandu lebih kurang 800 ribu jiwa. Angka-angka tersebut bukanlah angka kecil, jika didiamkan bisa menjadi bola salju yang terus menggelinding dan membesar. BNN juga bisa melakukan terobosan dengan menggandeng BUMN agar pengelolaan CSR-nya bisa ditujukan untuk membina kalangan rumah tangga menjadi benteng utama bagi keluarga terbebas Narkoba,” pungkas Bamsoet. (*)

Sumber berita (*/Bamsoet—Tim IMO Indonesia)
Editor (+rony banase)

Kopilot Wings Air Tewas Diduga Bunuh Diri, Begini Penjelasan Maskapai

74 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Wings Air (kode penerbangan IW) member of Lion Air Group menyampaikan keterangan sehubungan penanganan salah satu kopilot (first officer) laki-laki bernama Nicolaus Anjar Aji Suryo Putro (29 tahun).

Dilansir dari laman kompas.com, Warga Rawa Lele, Kalideres, Jakarta Barat terkejut dengan adanya dugaan kasus bunuh diri di salah satu rumah indekos di Jalan Rawa Lele, RT 07 RW 01, Kalideres, Jakarta Barat. NA (27) yang dikenal sebagai kopilot Wings Air ditemukan tewas gantung diri di kamar indekosnya di daerah itu.

A, adik kandung korban yang tinggal dalam satu kompleks indekos itu tetapi beda kamar, kaget setelah melihat kakaknya tak beryawa pada Senin, 18 November 2019.

“Atas meninggal dunia kopilot (first officer) Nicolaus Anjar Aji Suryo Putro, segenap jajaran manajemen, kru pesawat (air crew) dan seluruh karyawan, Wings Air mengucapkan rasa duka yang mendalam dan menyampaikan turut prihatin atas kejadian tersebut,” ujar Corporate Communications Strategic of Wings Air, Danang Mandala Prihantoro pada Rabu, 20 November 2019.

Lanjut Danang, Wings Air menegaskan, bahwa penerapan aturan kerja, kedisiplinan dan pelaksanaan standar operasional prosedur berlaku kepada semua awak pesawat dalam hal ini awak kokpit. Hal ini sudah sesuai ketentuan dalam memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan (safety first).

“Wings Air sudah mengimplementasikan program pembinaan kepada seluruh karyawan, termasuk awak pesawat. Kebijakan itu berfungsi dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, integritas dan berkarakter baik, sebagai upaya peningkatan kinerja tinggi,” ungkap Danang.

Danang menambahkan bahwa Wings Air juga sudah melakukan pembinaan secara bertahap kepada awak kokpit yang melakukan tindakan tidak disiplin (indisipliner).

“Apabila dalam fase pembinaan, karyawan atau awak kokpit tidak memenuhi kualifikasi/ hasil yang diharapkan, maka perusahaan akan memberikan penindakan/ keputusan sesuai aturan,” tegasnya.

Sumber berita (*/Corporate Communications Strategic of Wings Air)
Editor (+rony banase)

Kemenparekraf & Kemenkes Sepakat Kembangkan Wisata Kesehatan

37 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sepakat mengembangkan wisata kesehatan sebagai salah satu segmen pariwisata yang potensial mendatangkan wisatawan berkualitas.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio saat peluncuran Katalog Wisata Kesehatan dan Skenario Perjalanan Wisata Kebugaran di Hotel Kempinski, Jakarta, pada Selasa, 19 November 2019 menjelaskan, saat ini tujuan orang berwisata beragam. Dan kunci untuk menarik wisatawan datang ke Indonesia adalah keunikan yang ditawarkan itu sendiri.

“Tujuan orang traveling saat ini beragam, salah satunya adalah wisata kesehatan dan kebugaran. Pemikiran semacam ini harus kita kembangkan, misalnya dengan menawarkan treatment tradisional yang kita kemas dengan baik. Dan yang paling penting adalah uniqueness. Sehingga tidak bisa dirasakan di tempat lain,” kata Menparekraf Wishnutama.

Menparekraf Wishnutama

Ia juga menjelaskan, kerja sama antara dua Kementerian ini merupakan tindak lanjut dan menjadi sasaran prioritas dalam program kerja Kabinet Indonesia Maju pada periode 2019—2024. Sebelumnya telah ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2018 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Kepariwisataan.

“Oleh karena itu tindak lanjut dan kerja sama mengenai Wellness Tourism, baik untuk pencegahan serta perbaikan bisa kita kembangkan untuk meningkatkan kualitas wisatawan. Sehingga mempunyai pengalaman yang nantinya bisa diceritakan kemana-mana. Baik pengalaman positif atau negatif,” katanya.

Peluncuran Katalog Wisata Kesehatan dan Skenario Perjalanan Wisata Kebugaran ini merupakan upaya perubahan konsep dan strategi pariwisata Indonesia ke depan dari pariwisata berbasis kuantitas menuju pariwisata berdasarkan kualitas. “Sehingga hal itulah yang benar-benar membawa devisa ke negeri ini. Dan memberi dampak yang lebih bagi negara, wisatawan juga akan lebih care untuk menjaga alam budaya di tempat yang mereka datangi,” ujarnya.

Menteri Kesehatan (Menkes), Terawan Agus Putranto

Pada kesempatan yang sama Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menegaskan kerja sama dua kementerian ini harus menghasilkan inovasi yang bisa diterima wisatawan, baik mancanegara atau nusantara. Dirinya juga meyakini, kerja sama ini menjadi jalan terbaik untuk meningkatkan jumlah wisatawan ke Indonesia.

Konsep pengembangan wisata ini, kata Terawan terbagi dalam empat klaster. Yang pertama yaitu wisata medis, wisata kebugaran dan jamu, wisata olahraga yang mendukung kesehatan, dan klaster keempat, wisata ilmiah kesehatan.

Ia juga menjelaskan yang bisa dilakukan terkait konsep pariwisata kesehatan di Indonesia yakni pertama harus ada inovasi di wisata kesehatan yakni paket-paket yang ditawarkan berbeda dengan negara lain. Kedua, pemerintah harus memikirkan cara untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat Indonesia agar tidak lagi berwisata kesehatan ke luar negeri.

“Bagaimana caranya kita merebut kepercayaan orang Indonesia agar jangan berobat ke luar negeri. Kita harus menawarkan paket yang bertanggung jawab, rasional, dan berinovasi,” kata Terawan.

Cara ketiga yang juga dipercaya Menkes bisa menarik wisatawan adalah membuat paket wisata yang bisa dinikmati berhari-hari. Dan keempat adalah mempermudah pembayaran sistem paket wisata kesehatan. “Intinya dalam paket wisata kesehatan ini harus mengacu pada kemajuan teknologi, jadi jangan ada masalah di bidang pembayaran,” ujarnya.

Sumber berita (*/Guntur Sakti–Plt. Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)
Editor (+rony banase)

Bersama Mengawal NKRI