Arsip Tag: bank ntt

Inisiasi Pemulihan Ekonomi Daerah, Gubernur NTT : Harus Kerja Ekstra

314 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sebagai upaya untuk memulihkan perekonomian daerah di tengah pandemi, maka Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat meminta semua pihak mulai dari pemerintah provinsi, kabupaten, masyarakat, perbankan, lembaga keuangan, hingga pelaku usaha dan UMKM untuk bekerja keras dan bersama-sama dalam pemulihan ekonomi Provinsi NTT.

Hal tersebut disampaikannya dalam pertemuan Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan (FKLJK) yang mendiskusikan ‘Strategi Percepatan Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi Di Provinsi Nusa Tenggara Timur’ yang dilaksanakan di Aula Fernandez Kantor Gubernur NTT pada Rabu, 26 Agustus 2020. Turut hadir Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja; Kepala OJK Perwakilan NTT, Robert HP. Sianipar; Bupati Kupang, Korinus Masneno; dan moderator diskusi, Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho selaku Ketua Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan (FKLJK).

“Kondisi saat ini pada pemulihan ekonomi di daerah kita tentunya kita harus benahi semuanya. Kinerja kita masih dalam perencanaan program. Belum kita kontrol hingga sampai pelaksanaan di lapangan. Walaupun pemerintah merencanakan desain program pemulihan dengan baik, tapi bila SDM pengelola di lapangan masih timbul masalah; ini harus kita tangani bersama,” ujar Gubernur VBL.

Lanjutnya sambil berpinta, “Saya mau dalam dua minggu ke depan, kita rapat bersama antara UMKM dan pihak industri dengan melibatkan OJK, dan Perbankan. Kita cari tahu setiap UMKM masalahnya pada apa, kita lihat produknya apa, masalah apa yang dihadapi pada masa pandemi Covid-19 ini, apakah ada kendala dalam pemasarannya?”

Jadi, imbuh Gubernur VBL, “Kita bisa tahu langsung masalahnya di lapangan. Dengan demikian, maka kita kerja bersama dengan percepatan kredit-kredit yang diberikan pada UMKM ataupun relaksasi dan solusi lainnya.”

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat memberikan proyeksi pemulihan ekonomi NTT

Ia juga meminta agar penanganan ekonomi daerah harus punya target tertentu untuk bisa mencapai hasil maksimal, maka menurutnya juga harus dikelola dengan cara kerja yang luar biasa untuk menuju pada pemulihan aktivitas ekonomi. Ia pun meminta agar dalam menunjang pemulihan ekonomi maka perlu ada suplay chain yang turut memberikan dampak dalam pengelolaan atau pengembangan pariwisata.

“Bila kita berbicara untuk sektor pariwisata, maka kita lihat juga supply chain yang turut mendukung. Bila kita pergi ke Lelogama dan Bokong, setiap akhir pekan banyak orang yang berkunjung ke sana, namun belum ada restoran. Ini harus diperhatikan. Harus ada restorannya dan saya juga mau makanan yang disediakan juga harus dari sektor-sektor pendukung di Kabupaten Kupang mulai dari pertanian, perkebunan, dan perikanan yang di antaranya beras, ikan, daging, bawang dan lain-lain. Dengan demikian ada dukungan untuk pariwisata dengan restorannya di sana,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Bank Indonesia NTT I Nyoman Ariawan Atmaja mengatakan pemulihan ekonomi akan didukung dengan biaya-biaya perbankan untuk mendorong pengembangan potensi yang ada di NTT. “Peluang kita untuk memulihkan ekonomi ini ada pada UMKM dan juga potensi yang ada di NTT. UMKM kita sangat banyak dan berpengaruh besar pada ekonomi kita. Total anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk pemulihan ekonomi tahun 2020 ini adalah 677 Triliun dan 356 triliun untuk tahun 2021. Kita harus ambil peluang ini untuk pemulihan ekonomi kita dengan potensi produksi garam, kopi, jambu mete, dan sapi,” jelasnya.

Bupati Kupang Korinus Masneno mengatakan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Kupang pada pemulihan ekonomi daerah Provinsi NTT dimulai pada sektor-sektor pertanian, perkebunan dan perikanan. “Dalam kondisi seperti ini, kita harus bisa bangkit kembali. Pemulihan kita mulai dari pertanian, perkebunan dan perikanan. Khusus untuk pertanian tahun ini, kami akan panen jagung untuk juga mendukung Program Tanam Jagung Panen Sapi dan saat ini kami akan panen 1.000 hektar. Kita kerja bersama mulai dari pengelolaan lahan, air, pengelolaan jagung hingga menghasilkan produksi sapi. Lokasi kami yang dekat dengan Provinsi dan tentunya sangat membantu dan memudahkan kami untuk masuk dalam pasar,” terangnya.

Ketua FKLJK, Harry Alexander Riwu Kaho mengatakan, diskusi tersebut adalah wujud nyata dari spirit untuk menterjemahkan program kerja agar akselerasi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi di NTT lebih cepat.

“Dalam diskusi yang kami lakukan, ada spirit untuk kerja bersama, dan sama-sama bekerja,” ujar Alex Riwu Kaho dalam seraya menyampaikan sesuai arahan dari Gubernur NTT sebagai keynote speaker dalam diskusi bisa menjadi landasan bagi bupati dan wali kota untuk membangun sinergitas guna menekan angka kemiskinan di NTT.

“Sesuai dengan mapping Bapak Gubernur NTTT yaitu upaya ini akan dimulai dari Pulau Sumba dan Timor,” urai Plt. Dirut Bank NTT ini sembari mengatakan, dibutuhkan spirit untuk membangkitkan semangat bersama pemerintah, pemangku kepentingan dan juga kolaborasi antar berbagai pihak untuk mendukung pemulihan ekonomi di berbagai sektor.

Sejalan dengan itu, Kepala OJK NTT Robert HP. Sianipar mengatakan sektor jasa keuangan sangat ingin mendorong pemulihan ekonomi NTT dengan pola memadukan sektor real dengan sektor keuangan dan juga relaksasi terutama bagi UMKM yang memiliki kapasitas besar dalam pemulihan ekonomi.(*)

Sumber berita dan foto (*/Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Modal Inti Bank NTT Kurang 1,23 Triliun, Perlu Partisipasi Pemda Se-NTT

512 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) menghelat Rapat Pembahasan Rencana Penyertaan Modal pada Kamis, 6 Agustus 2020 di Aula Fernandes Gedung Sasando. Difasilitasi oleh Pemprov NTT, rapat menghadirkan para Sekda, Ketua DPRD, dan Kabag Keuangan dari pemda/pemkot se-NTT. Hadir pada kesempatan tersebut Kepala OJK NTT, Robert Sianipar; Asisten III Setda NTT, Johanna Lisapaly; dan Sekda NTT, Benediktus Polo Maing.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/05/16/dua-langkah-bank-ntt-pemprov-ntt-pemkot-pemda-gapai-modal-inti-3-triliun/

Tujuannya untuk mendorong peran aktif pemda/pemkot untuk menyertakan modal disetor dalam rangka memenuhi modal inti sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengerek syarat minimal modal inti pada bank umum dari saat ini sebesar Rp.100 miliar menjadi Rp.3 triliun. Ketentuan ini diharapkan akan mempercepat proses penggabungan atau konsolidasi pada industri perbankan. Jika tak juga mampu memenuhi syarat modal tersebut, maka bank tersebut harus bersiap turun kelas menjadi Bank Perkreditan Rakyat atau BPR.

Terkait penetapan regulasi OJK tersebut, Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) pun diwajibkan mengikuti regulasi usaha perbankan saat ini berdasarkan modal inti tercantum dalam Peraturan OJK Nomor 6/POJK.03/2016 tentang kegiatan usaha dan jaringan kantor bank berdasarkan modal inti bank dengan perubahan regulasi pada tahun 2020.

Kepala OJK NTT, Robert Sianipar mengungkapkan bahwa saat ini Bank NTT berada di urutan 12 dalam segi modal disetor. “Hingga Juli kemarin (tahun 2020, red) baru mengumpulkan modal disetor mencapai Rp.1,4 triliun, namun jika dilihat perkembangan 5 tahun terakhir, booking fee terus meningkat,” urainya.

Sekda NTT, Benediktus Polo Maing saat memimpin Rapat Pembahasan Rencana Penyertaan Modal didampingi oleh Plt. Dirut Bank NTT, Alex Riwu Kaho; Asisten III Setda NTT, Johanna Lisapaly dan Kepala OJK NTT, Robert Sianipar

Namun, imbuh Robert, rata-rata peningkatan relatif kecil. “Jadi, 22 kabupaten/kota rata-rata penyertaan modal disetor sekitar 60 miliar, harus diupayakan agar modal inti terus meningkat dengan penyertaan modal disetor,” pintanya sembari menyampaikan berdasarkan data yang dihimpun OJK menunjukkan bahwa laba yang diperoleh telah disetor menjadi dividen yang mana rata-rata laba per tahun Bank NTT sekitar 300 miliar.

Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho mengatakan bahwa berdasarkan perhatian dari OJK NTT, maka manajemen Bank NTT perlu membeberkan tingkat keyakinan sebagai dasar pendorong penambahan modal inti minimum dengan kekuatan modal disetor Bank NTT hingga Desember 2019 sebesar Rp.1,383 miliar dan modal inti Bank NTT sebesar 1,7 triliun.

Alex Riwu Kaho pun membeberkan pertumbuhan modal disetor dari tahun 2016—2020. “ Modal disetor pada tahun 2016 Rp.291 miliar (36,77%), 2017 Rp.204 miliar (18,82%), 2018 Rp.45 miliar (3,54%), 2019 Rp.53 miliar (4,01%), dan tahun 2020 Rp.209 miliar (15,13%),” bebernya.

Terkait Dividen Bank NTT dalam 9 tahun terakhir, Alex Riwu Kaho menyampaikan bahwa dividen yang diberikan kepada para pemegang saham pada tahun 2010 sebesar Rp.114 miliar, sedangkan tahun 2019, dari laba yang dicapai, dividen yang diberikan kepada pemegang saham sebesar Rp.207 miliar. “Sehingga dari total penyertaan modal dari seluruh pemegang saham, maka total dividen yang telah dibayarkan oleh Bank NTT sebesar Rp.1,906 triliun,” tandasnya.

Sehingga, imbuh Alex, berdasarkan Keputusan RUPS Tahunan pada 6 Mei 2020, diputuskan pemotongan 50% untuk penyetoran modal inti, namun putusan tersebut belum sesuai dengan ketentuan pencatatan keuangan pemda, maka akan ditinjau kembali, sehingga seluruh dividen akan disetor tahun buku 2019 secara penuh kepada pemerintah daerah.

Jajaran Direksi Bank NTT, (dari kiri ke kanan); Direktur Umum, Umbu Landu Praing; Direktur Pemasaran Dana, Absalom Sine; dan Direktur Kepatuhan, Hilarius Minggu saat mengikuti rapat pembahasan

Sementara itu, Sekda NTT Benediktus Polo Maing menyampaikan bahwa Bank NTT harus bekerja secara optimal dengan dukungan penuh dari pemprov, pemkot/pemkab untuk menunjang struktur modal agar dapat berkontribusi terhadap pembangunan, sehingga diperlukan pemenuhan modal inti sebesar Rp.3 triliun.

“Saat ini, modal inti Bank NTT sebesar Rp.1,7 triliun dan perlu penambahan sebesar Rp.1,3 triliun dan untuk pemenuhan tersebut dilakukan dengan skema internal atau pun eksternal,” jelasnya.

Skema pemenuhan internal, urai Sekda, melalui pemenuhan dividen sesuai RUPS di Labuan Bajo langsung dipotong 50 persen, namun sesuai regulasi diperlukan perda dan telah diprogramkan dividen yang diterima oleh pemda sebagai pendapatan jadi harus masuk ke rekening baru kemudian dipotong. “Jadi, tidak bisa langsung dipotong dan untuk menganulir keputusan RUPS, maka harus dilakukan RUPS, namun pihak Bank NTT meminta waktu hingga 2 minggu ke depan,” terangnya.

Sekda NTT pun menyampaikan jika menempuh jalur eksternal, dengan menggunakan investor, maka prosesnya pun tidak mudah karena harus melalui tahapan panjang dan tidak mudah. “Terkait hal ini, maka yang diperlukan adalah kepastian dan kesediaan penyertaan modal dan berapa besar nilai modal yang akan disetor oleh masing-masing pemda. Jadi, kita segera melakukan langkah-langkah untuk memastikan setiap kabupaten/kota untuk segera menyiapkan perda dan nilai minimal modal yang akan disetor,” pungkasnya.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto oleh Humas Bank NTT

HUT ke-58 Bank NTT dalam Pandemi Mencapai Kinerja Positif

446 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-58 Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) pada Jumat, 17 Juli 2020, dilaksanakan di halaman Kantor Pusat Bank NTT di Jalan W. J. Lalamentik; dihelat dalam suasana tatanan normal baru atau new normal dengan mengedepankan protokol kesehatan.

Pantauan Garda Indonesia, acara yang dimulai pada pukul 17.00 WITA—selesai ini, para tamu undangan yang akan memasuki lokasi acara, diwajibkan mencuci tangan, dicek suhu tubuh dengan thermal gun dan wajib menggunakan masker.

Mengusung tema “Momentum Bangkit, Bertumbuh dan Berubah” 58 tahun Bank NTT yang telah menempuh perjalanan setengah abad ini dihadiri oleh Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi; Sekda Provinsi NTT, Benediktus Polo Maing; Anggota DPD RI, Abraham Paul Liyanto; Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kupang; Ketua OJK Provinsi NTT, para mitra usaha, dan tamu undangan lain.

Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho dalam sambutannya menyampaikan bahwa Bank NTT menunjukkan komitmen yang telah dibangun dan menumbuhkan kepercayaan dari para mitra Bank NTT dan sebagai wujud nyata disampaikan dalam kinerja Bank NTT dalam kurun waktu semester pertama tahun 2020.

Suasana Perayaan HUT ke-58 Bank NTT di Kantor Pusat Jalan W J Lalamentik

Pemberitaan juga menjadi energi positif terhadap perkembangan Bank NTT dan pencapaian Dana Pihak Ketiga (DPK) 11,8 Triliun. “DPK yang dicapai memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan Bank NTT yang mana dalam kondisi pandemi,” urainya sembari mengungkapkan posisi kredit per akhir Juni mencapai 10,3 Triliun.

Momentum terus dilakukan perbaikan secara nyata dengan merevitalisasi pejabat dan memasuki era normal baru dengan melakukan kualitas layanan berupa Customer on Boarding.

“Selain itu, bekerja sama dengan DPD REI NTT dengan menciptakan SKIM Rumah Layak Huni dengan harga murah. Dan dilakukan penandatanganan kerja sama Bank NTT, Bank Indonesia, dan Bit Link,” beber Alex Riwu Kaho.

Di samping itu, tandas Alex Riwu Kaho, ke depan administrasi Bank NTT mengutamakan paperless dengan sistem E-Office.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

HUT Ke-58 Bank NTT, Manajemen Keliling Bantu APD & Helat Donor Darah

162 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pada Jumat, 17 Juli 2020, Bank NTT berulang tahun ke 58, beberapa kegiatan telah dilakukan jelang HUT Bank NTT di antaranya ada aksi sosial dengan memberikan CSR kepada pihak rumah sakit dalam bentuk Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan face shield, yang diharapkan dapat membantu para petugas medis untuk pelayanan dalam kondisi pandemi Covid-19.

Penyerahan CSR pertama pada Rabu, 24 Juni 2020, sebanyak 1.250 Masker dan 25 face shield diberikan kepada RS.St.Carolus Borromeus Kupang oleh seluruh Direksi Bank NTT yang diterima langsung oleh direktur beserta pengurus.

Selanjutnya, CSR yang kedua berupa 1.500 Masker dan 25 face shield, diserahkan oleh Komisaris Independen Bank NTT didampingi Plt.Direktur Utama dan Direktur Umum kepada Direktur RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang beserta para Wakil Direktur, kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 25 Juni 2020.

CSR berikutnya berupa 1.500 Masker dan 25 face shield diberikan kepada RSUD S.K.Lerik Kota Kupang pada Minggu, 29 Juni 2020, diterima langsung oleh Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore dan didampingi Direktur RSUD S.K.Lerik Kota Kupang dan Kadis Kesehatan Kota Kupang. Penyerahan dilakukan oleh Plt.Direktur Utama Bank NTT,, Harry Alexander Riwu Kaho.

Aksi sosial HUT ke-58 Bank NTT selanjutnya yaitu Aksi Donor Darah yang akan diadakan pada Jumat, 3 Juli 2020 di Kantor PMI pada pukul 09.00—12.00 WITA, diharapkan kepada warga masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini, karena setitik darah yang kita sumbangkan dapat menyelamatkan banyak nyawa banyak orang. Untuk para pendonor akan diberikan suvenir.

Aksi sosial lainnya dari Bank NTT yakni berpartisipasi dalam Gerakan Kupang Hijau (GKH) yang merupakan program Pemerintahan Kota Kupang., dengan menyumbang 5 Pohon Trambesi, 5 Pohon Ketapang Kencana dan 5 Pohon Flamboyan atau sepe [bahasa Melayu Kupang].(*)

Sumber berita (*/Humas Bank NTT)
Foto utama oleh PKP Kota Kupang
Editor (+rony banase)

Terobosan Edukasi Stop Narkoba oleh Bank NTT, Kerja Sama dengan BNNP NTT

125 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Tak hanya mengejar target laba, Bank NTT turut mendukung program pemerintah untuk meminimalkan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dengan diseminasi Informasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) melalui ATM, Internet dan Mobile Banking Bank NTT.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/06/26/puncak-hani-2020-di-tengah-pandemi-diperingati-secara-virtual-se-indonesia/

Per hari Jumat, 26 Juni 2020, masyarakat yang mengakses layanan Internet dan Mobile Banking Bank NTT atau melakukan transaksi via ATM Bank NTT, bakal memperoleh informasi mengenai P4GN. Demikian penyampaian Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho kepada awak media usai melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) mewakili Bank NTT dan BNN Provinsi NTT yang diwakili oleh Brigjen Pol. Teguh Imam Wahyudi, S.H., M.M.

Turut mendampingi Plt. Direktur Utama Bank NTT, Umbu Landu Praing selaku Direktur Utama Bank NTT dan Direktur Kepatuhan, Hilarius Minggu.

Penandatanganan MoU dilaksanakan dalam sesi rapat virtual saat Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) pada Jumat, 26 Juni 2020 yang mengusung tema “Hidup 100% di Era New Normal, Sadar, Sehat Produktif & Bahagia Tanpa Narkoba”

Di samping itu, urai Harry, Bank NTT mendukung upaya BNNP NTT untuk memberikan imbauan tentang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba di seluruh gerai dan layanan Bank NTT.

“Bank NTT juga turut mendukung program pencegahan dan pemberantasan narkotika di wilayah Provinsi NTT dan Bank NTT tidak mengambil fee dari BNNP NTT,” ungkap Harry seraya menandaskan bahwa kerja sama ini sebagai komitmen Bank NTT untuk mendukung pembangunan Manusia NTT Bebas Narkotika.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto utama dan video oleh Humas Bank NTT

‘Kredit Macet Bank NTT’ Direksi PHK 4 Pegawai & Tagih Tunggakan 25,2 Miliar

1.049 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Komisaris dan Direksi Bank NTT memenuhi undangan Rapat Dengar Pendapat dengan DPRD Provinsi NTT pada Rabu, 10 Juni 2020 sesuai surat yang ditandatangani oleh Wakil Ketua DPRD NTT, dengan agenda pembahasan mengenai “Kredit Macet” yang terjadi di Bank NTT.

Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho didampingi Komisaris Utama Bank NTT, Juvenile Jodjana; dalam Rapat Dengan Pendapat (RDP) bersama DPRD Provinsi NTT, menguraikan bahwa terkait kredit bermasalah di Bank NTT telah disampaikan dan dilaporkan kepada para pemegang saham dalam RUPS Tahunan dan RUPS Luar Biasa pada 6 Mei 2020 yang dipimpin langsung oleh Gubernur NTT selaku Pemegang Saham Pengendali PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur.

Ada pun langkah penyelesaian yang ditempuh Bank NTT, urai Harry yakni dari upaya penagihan oleh Bank telah berhasil tertagih kurang lebih Rp.25.264.236.096,- (Dua puluh lima milliar dua ratus enam puluh empat juta dua ratus tiga puluh enam ribu sembilan puluh enam rupiah [dari total kredit macet sebesar Rp.300 Miliar lebih]) dan telah melaporkan ke Kejaksaan Tinggi NTT untuk penyelesaian kredit bermasalah tersebut.

“Langkah penyelesaian yang kami tempuh berhasil menagih kredit macet mencapai Rp.25 miliar lebih,” urai Harry sembari berkata dengan tertagihnya kredit macet Rp.25 miliar lebih, maka kredit macet Bank NTT tersisa sebesar Rp.300 miliar lebih yang terus diupayakan untuk ditagih.

Plt. Direktur Utama dan Komisaris Utama Bank NTT saat RDP bersama DPRD Provinsi NTT pada Rabu, 10 Juni 2020

Selain itu, imbuh Harry, pihaknya juga telah melaporkan ke Polres Kupang dan saat ini sudah berstatus Tersangka, melakukan gugatan sederhana, somasi, pelelangan agunan melalui Lembaga Lelang, dan upaya–upaya penyelesaian lainnya sesuai teknis Perbankan.

Sanksi lain yang diterapkan manajemen, beber Harry yaitu dengan memberlakukan tindakan tegas kepada para pejabat dan pegawai yang terbukti melanggar ketentuan internal maka sejak tanggal 7 Mei—9 Juni 2020 telah dilakukan pengenaan sanksi tegas berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebanyak 4 orang, Demosi dalam jabatan sebanyak 5 orang, Demosi Penurunan Pangkat sebanyak 9 orang, Hukuman Administratif kepegawaian lainnya sebanyak 5 orang dan potensi pemberian sanksi kepegawaian terhadap pegawai yang melanggar ketentuan dalam perkreditan yaitu sebanyak 14 orang [untuk beberapa cabang].

“Perlu disampaikan bahwa pemberian sanksi ini bukan merupakan tujuan tetapi merupakan komitmen Direksi agar terciptanya kegiatan usaha Bank sesuai tata kelola perusahaan yang baik di semua tingkatan organisasi dan tingkatan usaha Bank,” tegas mantan Direktur Pemasaran Dana Bank NTT ini menimpali.

Bank NTT Berkomitmen Menurunkan NPL, Penerapan Manajemen Risiko, dan Menjaga CAR Tetap Terkontrol

Direksi Bank NTT, ujar Plt. Direktur Utama Bank NTT, berkomitmen penuh terhadap rekomendasi RUPS Luar Biasa telah dilakukan upaya-upaya nyata penurunan Non Profit Loan (NPL) dengan langkah-langkah penyelesaian NPL yang terukur sehingga adanya penurunan Rasio NPL dari April 2020 ke Mei 2020, dengan hasil mengalami Penurunan dan Ratio dari 4,34% menjadi 4,21%.

“Pada saat kredit direalisasikan, Bank wajib memitigasi risiko Inherent atau risiko yang melekat pada kredit tersebut yaitu yang dapat berdampak pada terjadinya kredit macet,” tegas Harry.

Suasana RDP Bank NTT dan DPRD Provinsi NTT terkait Kredit Macet di Bank NTT

Namun yang perlu diperhatikan untuk memitigasi risiko itu, urai Harry, yaitu kualitas penerapan manajemen risiko sebagai Risk Control System (RCS) yang terdiri dari 4 (empat) pilar utama yaitu:

Pertama, Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi dengan perlakuan pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi yaitu dalam bentuk jumlah rapat yang dilakukan secara intensif dan secara terus menerus setiap bulannya untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang ada dan juga rapat yang dilakukan oleh Direksi, Kepala Divisi dan Pemimpin Cabang baik yang dilakukan secara langsung maupun daring.

“Dewan Komisaris sejak RUPS LB pada tanggal 25 Oktober 2019 telah aktif meminta pertanggungjawaban Direksi untuk penyelesaian kredit-kredit bermasalah tersebut,”ungkap Harry.

Kedua, Kecukupan kebijakan prosedur dan penetapan limit. Bahwa keputusan kredit dengan limit tertentu wajib dilakukan melalui kajian dan keputusan kredit komite yang mana dilibatkan pula Direktorat lain yaitu Kepatuhan maupun Manajemen Risiko dalam pengambilan keputusan kredit serta dilakukan Four Eyes Principles termasuk di dalamnya Revitalisasi SDM Bidang Kredit.

Ketiga, Kecukupan proses Identifikasi, Pengukuran, Pemantauan dan Pengendalian Risiko. Bahwa rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank NTT masih terjaga dengan baik per akhir April yaitu sebesar 20,73%.

“Bank NTT dengan profil Risiko Composite 3 CAR minimal yang harus dibentuk yaitu 11% berarti masih terdapat 9.73% modal yang dapat meng-cover risiko yang ada,” tegas Harry membeberkan.

Dan keempat, tandas Harry, Sistem Pengendalian Intern yang menyeluruh dengan membangun sinergisitas yang menyeluruh antara pemberian kredit sebagai Risk Taking Unit dan fungsi Second Line of Defence dari Manajemen Risiko dan Kepatuhan serta Divisi Pengawasan dan SKAI sebagai Third Line of Defence.(*)

Sumber berita dan foto pendukung (*/Humas Bank NTT)
Editor dan foto utama (+rony banase)

Bank NTT Jadi Pengelola Kas Titipan BI Terbanyak di Seluruh Indonesia

457 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Kami bersyukur memiliki para pemegang saham yang memiliki komitmen yang sangat luar biasa untuk terus mengawal bank ini bisa menjadi hebat dan besar bagi pembangunan di Nusa Tenggara Timur ini. Kesanggupan dan perhatian dari pemegang saham sangat besar sehingga ada tiga sampai empat langkah yang sudah dilakukan,” ujar Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat jumpa media Bank NTT bersama para awak media pada Kamis, 14 Mei 2020 di lantai 5 Bank NTT Pusat di Jalan W. J. Lalamentik Kota Kupang.

Kas Titipan BI yang dikelola Bank NTT Cabang Atambua

Kami dipercaya oleh Bank Indonesia (BI), urai Alex (sapaan akrabnya, red), menjadi pengelola delapan kantor kas titipan bank yang terbanyak. Bank NTT terus berupaya melakukan pencegahan terhadap penyebaran Covid-19.

“Terima kasih kepada Bank Indonesia atas penunjukan dan kepercayaan bank NTT sebagai pengelola kas titipan bank Indonesia terbanyak di seluruh Indonesia yang berada di Atambua, Alor, Lembata, Maumere, Ende, Ruteng, Lewoleba, dan Labuan Bajo,” ucapnya.

Seperti yang dilakukan oleh Kas Titipan Bank NTT Cabang Lewoleba di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kas titipan BI ini melayani penukaran uang dengan nominal kecil, fungsi utamanya untuk menyediakan kas Bank Indonesia yang dipindahkan ke pelayanan untuk masyarakat.

Demikian penyampaian Wakil Kepala Cabang (Wakacab) Bank NTT Lewoleba, Lorenso Andri Bere Mau kepada Garda Indonesia melalui sambungan telepon pada Jumat, 22 Mei 2020 pukul 12.02 WITA—selesai.

Kas Titipan Bank NTT Lewoleba melayani pedagang

Menurut Andi Bere Mau (sapaan akrabnya, red) pelayanannya bukan hanya Bank NTT saja, tetapi semua bank peserta yang ada dalam daerah yang ada kas titipan. “Menjelang lebaran, kita operasinya ke pasar yang ada pedagang-pedagang kecil hingga ke toko-toko,” ucapnya.

Karena Covid-19, imbuh Andi, Pelayanan Kas Titipan Bank NTT Cabang Lewoleba tetap memakai standar protokol kesehatan. “Kas Titipan BI di Lewoleba ada satu yang melayani tiga bank termasuk penukaran uang kecil. Uang lusuh juga ditukar selama nomor serinya masih dapat dibaca, dan uang tersebut masih bisa dipakai,” tandas Wakacab Bank NTT Lewoleba.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto (*/ istimewa Bank NTT)

‘Pemegang Saham Kecewa’, Komut Bank NTT : Perlu Orang Tepat di Posisi Tepat

411 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Usai mendampingi Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menyampaikan keterangan pers pada awak media terkait hasil pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) luar biasa dan RUPS tahunan pada Rabu,6 Mei 2020 di Gedung Sasando Kantor Gubernur NTT; Komisaris Utama (Komut) Bank NTT Juvenile Jodjana, menyampaikan RUPS berjalan dengan baik, hanya dari pemegang saham tentunya kecewa dengan pencapaian yang di bawah target.

Untuk itu, imbuh Juvenile, perlu dilakukan penyegaran. “Menaruh orang yang tepat di posisi yang tepat. Sehingga diputuskan oleh pemegang saham khususnya Pemegang Saham Pengendali (PSP) untuk melakukan rolling, artinya memberi kesempatan kepada semua direksi untuk bekerja lebih solid dan lebih keras,” ujarnya.

Putusan pertama, beber Juvenile, untuk posisi Direktur Utama (Dirut) sementara dirangkap oleh Pak Alex (Harry Alexander Riwu Kaho, red) yang akan merangkap sebagai Direktur Kredit. Direktur Kredit saat ini ditempati oleh Pak Abe (Absalom Sine, red) pindah sebagai Direktur Dana. Pak Hila (Hilarius Minggu, red) dan Pak Umbu (Yohanis Landu Praing, red) masih stay di posisi yang sama, karena untuk menjadi seorang dirut harus melalui proses uji kelayakan di OJK.

“Untuk itu, nanti Pak Frans Gana sebagai Ketua KRN akan memproses administrasi secepatnya, walaupun dalam kondisi Covid ini kita akan cari supaya cepat,” ungkapnya sembari menyampaikan jika Pak Alex bisa lolos fit and proper, tentunya dia akan dilantik sebagai dirut dan Pak Izhak (Izhak Eduard Rihi, red) akan kembali aktif, tetapi dengan posisi sebagai Direktur Kepatuhan.

Lebih lanjut Juveline menyampaikan, “Pak Hila (Hilarius Minggu, red) dan Pak Umbu (Yohanis Landu Praing, red) akan bergeser juga. Pak Hila direncanakan di posisi Direktur Umum dan Pak Umbu akan di Direktur Kredit. Kira-kira itu, yang sekarang dalam program kerja kita. Kita percaya bahwa keputusan ini merupakan keputusan yang terbaik. Karena pemegang saham ingin menaruh orang yang tepat di posisi yang tepat,” terangnya.

Dewan komisaris, ujar Juvenile, sekarang juga bisa memetakan kemampuan dari masing-masing direksi. “Kami menjamin bahwa semua direksi profesional. Semua direksi bekerja dengan luar biasa. Kita berharap dengan ini lebih solid lagi Bank NTT ke depannya, apalagi kita sekarang menghadapi era covid di mana banyak terjadi restrukturisasi kredit dan sebagainya,” tegasnya.

Selain itu, tambah Juveline, Tentunya kami harus tetap bertumbuh. Tadi PSP juga menekankan hal-hal yang penting khususnya kepada Plt Dirut untuk segara memperbaiki NPL, karena NPL kita sudah mencapai angka 4. “Itu menjadi tugas Plt Dirut merangkap Direktur kredit untuk segera menyelesaikan NPL ini secara tidak segan-segan lagi. Tidak tanggung-tanggung lagi. Karena beliau fresh dari posisi Direktur dana yang dianggap sukses. Jadi kalau NPL itu bisa kita recover, tentunya laba kita di 2020 bisa lebih baik lagi,” kata Juvenile yakin.

Terkait penyumbang NPL 4 untuk Bank NTT, Juvenile mengakui bahwa dewan komisaris terus berusaha agar satu tahun terakhir ini bagaimana terus melakukan pengawasan dan mitigasi. Jadi, ada beberapa cabang yang memberi kontribusi NPL terbesar seperti cabang Surabaya.

“Kami sudah ambil tindakan, contohnya sekarang cabang Surabaya tidak boleh member kredit, hanya funding saja. Kantornya kami sudah minta dikecilkan. Itu salah satu yang dewan komisaris sangat serius untuk melakukan punishment. Bahkan, karyawan-karyawan disana ada yang sebagian besar berhenti dengan sendirinya, ada yang sudah dirumahkan, ada yang dirotasi dan sebagainya,” tegasnya.

“Bahkan tadi Pak PSB sudah minta, kalau dirasakan kurang tegas maka harus diberikan punishment lebih tegas lagi. NPL Surabaya itu kurang lebih 2 digit,” pungkas Komisaris Utama Bank NTT.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)