Arsip Kategori: Pendidikan

Pungut Uang Saat Pandemi, Kepala Sekolah SMAN 1 Kimbana Dikritik di Facebook

1.262 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Salah satu pemilik akun facebook atas nama Bobi mengkritik Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kimbana, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Yeremias Nana di grup facebook ‘Kotak Suara’ pada Selasa, 29 September 2020 pagi.

Akun Bobi mengkritisi kebijakan sekolah memungut uang dari orang tua siswa senilai Rp.300.000 (tiga ratus ribu rupiah) per siswa di tengah pandemik Corona Virus Disease 2019 (Covid – 19). “SAYA MINTA KLARIFIKASIH BAIK DARI KEPALA SEKOLAH SMA NEGERI TASIFETO BARAT ATAU SMA KIMBANA MAUPUN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KAB BELU..TENTANG KELUHAN PARA ORANG TUA MURID DI SMA KIMBANA..Inilah hasil pertemuan para orang tua murid dengan Bapak Kepala Sekolah SMA Negeri Tasifeto Barat atau SMA Kimbana..Bapak Yerem Nana. Hari ini tanggal 29-9-2020..jam 9 pagi tadi..Jika ceritanya seperti ini lalu pertanyaan saya….DANA BOS ITU DI GUNAKAN UNTUK APA SAJA…UNTUK.LAPANGAN BOLA VOLI SAJA HARUS DIBEBANKAN KEPADA ORANG TUA MURID,APALAGI MASA PADEMI COVlD-19,SEPERTI INI… sekian dan terima kasih.

“Pagi om Bobi, saya mau tanya di masa pandemik begini, Apa boleh kepala sekolah mewajibkan orang tua murid untuk mengumpulkan uang sejumlah 300 ribu per siswa untuk alasan pembangunan lapangan bola voli dengan alasan kalau pak WiIi Lay ad los stroom untuk batu pecah/kerikil sehingga orang tua murid diwajibkan untuk mengumpulkan uang dengan nominal tadi Hanya sekedar info, anak itu kelas 10 sampai 12 total sejumlah 900 siswa Itu artinya menelan biaya yang sangat besar”, demikian isi teks hasil screenshot Garda Indonesia dari laman grup facebook Kotak Suara, dua jam setelah diposting akun Bobi.

Kepala Sekolah SMAN 1 Kimbana Yeremias Nana ketika dikonfirmasi pada Selasa petang via sambungan telepon seluler membenarkan isi postingan itu. Ia menjelaskan, bahwa pungutan itu atas inisiatif pihak sekolah melalui rapat resmi dewan guru beberapa waktu sebelumnya. Kemudian, dilanjutkan dengan rapat resmi bersama seluruh orang tua siswa dan sudah disepakati tanpa ada orang tua yang merasa keberatan.

Pertemuan itu pun, lanjut Yerem Nana (sapaannya), dilengkapi dengan notulen rapat dan tanda tangan daftar hadir orang tua siswa, pertanda telah ada kesepakatan. “Tiga tahun ini lapangan praktik untuk anak –anak tidak ada. Karena itu, kita minta persetujuan orang tua membantu kita untuk membangun lapangan serba guna berukuran 52 × 31 meter itu. Rencana ini sudah sejak tahun lalu. Kita sudah dua kali rapat dengan orang tua siswa kelas X dan XI. Nanti hari Kamis (1 Oktober 2020,red) rapat lagi dengan orang tua kelas XII. Tujuannya untuk anak – anak. Uangnya belum mulai kumpul. Kalau mau bangun yang bagus butuh anggaran empat ratus juta sekian. Tapi, kita ambil yang standar saja dengan anggaran dua ratus juta sekian. Makanya kita bagi ke anak – anak. Saya sebagai kepala sekolah juga sudah sampaikan kepada orang tua untuk ikut sumbang lima juta”, tandas Yerem Nana.

Berkaitan dengan nama Bupati Belu Wilibrodus Lay disebut dalam postingan akun Bobi itu, lebih lanjut Yerem Nana menuturkan, bahwa itu janji bupati sendiri saat menghadiri acara pesta perak sekolah tahun lalu. “Waktu pesta perak itu, beliau hadir dan menjanjikan untuk sumbang kerikil. Lapangan itu serba guna seperti bola volly putra/ putri, basket, badminton, futsal. Saya tidak mau dinilai sebagai pungutan liar, karena itu orang tua juga tanda tangan daftar hadir dan dibuatkan notulen rapat. Pembayarannya pun tidak satu kali. Kita kasih kesempatan cicil sampai dengan bulan Desember 2020”, urainya.

Ketua Komite SMAN 1 Kimbana, Fransisco Manek

Yerem Nana juga mengatakan bahwa pihak sekolah sudah memberikan keringanan bagi orang tua yang anaknya lebih dari satu bersekolah di sekolah itu. “Kalau ada orang tua yang punya dua atau tiga anak maka satu saja yang bayar, yang lain tidak boleh bayar”, tegasnya.

Yerem Nana juga menyinggung tentang dana BOS. Menurutnya, petunjuk teknis (juknis) dana BOS tidak ada untuk membangun lapangan baru. Yang ada justru rehabilitasi. “Juknis dana BOS tidak ada pos untuk bangun baru. Kalau untuk rehab ada”, tutur Yerem Nana sembari memastikan akan segera melakukan klarifikasi dengan para pejabat terkait.

Ketua Komite SMAN 1 Kimbana Fransisco Manek yang ditemui Garda Indonesia di kediamannya pada Rabu, 30 September 2020 siang menambahkan, bahwa dana komite memang ada tetapi setelah dikalkulasi, ternyata keuangan komite tidak cukup untuk pembangunan fisik seperti lapangan olah raga. Pihaknya pun telah berkoordinasi dengan Bupati Belu Willibrodus Lay untuk membantu kerikil 12 (dua belas) kubik dan uang Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah).

“Bupati sendiri mau untuk tanggulangi kerikil 12 kubik dan uang semen lima juta. Uang sudah kasih ke bendahara panitia, sedangkan kerikil belum”, ungkap ketua komite.

Frans Manek mengaku, bahwa dirinya tidak pernah hadir dalam pertemuan dewan guru dan orang tua siswa. Tetapi hasil pertemuannya selalu disampaikan kepala sekolah kepadanya. “Memang saya tidak hadir dalam rapat tapi hasil kesepakatannya, kepala sekolah selalu beritahu ke saya”, bebernya.

Manek membantah secara tegas bahwa informasi postingan akun Bobi itu sama sekali tidak benar. Karena, katanya, pungutan itu berdasarkan hasil kesepakatan bersama orang tua siswa, tidak ada paksaan. “Saya berharap kepada seluruh orang tua siswa untuk tidak percaya informasi liar yang sifatnya menghasut. Mari kita sama – sama jalankan hasil kesepakatan ini dan jangan mengingkari. Kita perlu dukung untuk kepentingan sekolah terutama untuk kepentingan anak – anak kita. Saya pastikan untuk ikut mengawasi pembangunan lapangan serba guna ini hingga selesai”, pungkasnya. (*)

Penulis + foto : (*/ Heminus Halek)
Editor : (+ rony banase)

Merdeka Belajar dari Kemendikbud dan Telkomsel Bagi 25 Ribu Pelajar Kota Kupang

264 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Sebanyak 25 ribu pelajar yang tersebar di 60 sekolah di Kota Kupang menerima paket kuota belajar 10 GB senilai Rp.10, yang bisa digunakan untuk belajar secara daring selama pandemi Covid-19. Kartu tersebut didistribusikan dalam dua tahap. Pada tahap pertama sudah disalurkan beberapa waktu lalu kepada 15 ribu siswa, mulai dari SMP hingga SMA/SMK. Distribusi kartu tahap kedua akan dimulai hari ini, pada Selasa, 8 September 2020  untuk 10 ribu siswa.

Demikian penjelasan Manager Telkomsel Cabang Kupang, Arief Maulana saat beraudiensi dengan Wali Kota Kupang di ruang kerja Wali Kota, pada Senin, 7 September 2020. Menurutnya paket kuota belajar ini merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Jarak Jauh, kerja sama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI dengan Telkomsel.

Arief yang didampingi Manager Network Service Telkomsel Kupang, I Wayan Sudan menambahkan dengan mengaktifkan paket Kuota Belajar, para pelajar dapat menikmati kemudahan akses sejumlah aplikasi belajar daring dan konferensi video yang ada di paket ilmupedia dan conference dengan harga terjangkau. Paket Kuota Belajar ini sudah dapat dinikmati mulai tanggal 21 Agustus sampai dengan 31 Desember 2020 dengan mengakses melalui aplikasi My Telkomsel atau UMB*363*844#.

Manager Telkomsel Cabang Kupang, Arief Maulana saat audiens dengan Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore

Wali Kota Kupang, Doktor Jefri Riwu Kore dalam audiensi tersebut menyampaikan terima kasih kepada Presiden Jokowi dan pemerintah pusat serta Telkomsel yang telah bersedia membantu warganya lewat cara ini. Menurutnya ini merupakan suatu program luar biasa yang sangat membantu siswa yang ekonominya terbatas dalam memperoleh pengetahuan secara daring selama pandemik Covid-19.

Wali Kota Jefri mengakui selama ini terkesan para siswa sangat sulit mengakses internet karena kendala ekonomi. Karena itu program Merdeka Belajar Jarak Jauh dinilainya sebagai kekuatan luar biasa yang membantu masyarakat yang selama ini butuh dana tambahan agar anak-anak mereka bisa belajar secara daring.

Kepada Telkomsel Wali Kota minta agar program Merdeka Belajar Jarak Jauh ini segera diinformasikan lewat sekolah dan media, agar anak-anak tidak lagi mengeluh soal tidak adanya kuota internet gratis.

Vice President Prepaid Consumer Telkomsel, Adhi Putranto dalam siaran pers yang dibagikan Telkomsel menjelaskan, dengan mengaktifkan paket kuota belajar, pelanggan Telkomsel dapat menikmati kemudahan akses sejumlah platform aplikasi belajar daring dan konferensi video yang ada di paket Ilmupedia dan Conference seperti; RumahBelajar, Zenius, Quipper, Udemy, Duolingo, Sekolah.mu, Cakap, Bahaso, Cambridge, AyoBlajar, Zoom, CloudX, UMeetMe, Microsoft Teams, Cisco Webex, Google Meet, Google Classroom, dan ratusan situs belajar daring yang dikelola kampus dan sekolah hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Paket Kuota Belajar 10GB ini sendiri dapat dinikmati pelanggan selama 30 hari sejak tanggal pengaktifan.(*)

Sumber berita dan foto (*/PKP_ans/jms/jek)
Editor (+rony banase)

Tunjang Pemasaran ‘Online’ Rumah Sasando, PNK Beri Bantuan Tahap Dua

401 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Rumah Sasando yang dirintis oleh Almarhum Maestro Yeremias Aogust Pah di Desa Oebelo, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kembali memperoleh bantuan Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) berbasis Kearifan Lokal diberikan kepada industri kerajinan Alat Musik Sasando dan Topi Ti’ilangga dari Kementerian Riset dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (Ristek BRIN) melalui Politeknik Negeri Kupang.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2019/08/28/rumah-sasando-di-oebelo-gapai-bantuan-pppud-dari-politeknik-negeri-kupang/

Kali ini, pada Sabtu, 5 September 2020 pukul 11.00 WITA—selesai, diserahkan bantuan tahap kedua berupa seperangkat alat multi media yang mencakup 1 (satu) unit laptop, 1 (satu) unit kamera, tripod, sound card, dan video card.

Sebelumnya pada Selasa, 27 Agustus 2019 lalu, Rumah Sasando menerima bantuan 10 (sepuluh) item barang pendukung aktivitas produksi berupa mesin pelubang sekrup; mesin potong sekrup; mesin pemintal senar; mesin jahit merek JUKI; mesin pemipih; mesin gergaji jigsaw; papan nama neon box; meja kerja; lemari pajangan; dan perkakas K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja).

Penyerahan bantuan PPPUD Ristek BRIN dari Tim Politeknik Negeri Kupang kepada Pengelola Rumah Sasando, Djitron Pah

Penyerahan bantuan PPPUD tersebut, sebagai bagian dari Program Pengabdian Kepada Masyarakat dari Ristek BRIN Tahun Anggaran 2020 dilaksanakan oleh tim dosen Politeknik Negeri Kupang (PNK) yang terdiri dari Fransisko Piri Niron, S.T., M.Si. Heni M Sauw, S.E., M.M. Nikson Fallo, S.T., M.Eng. Feny S. Eky, S.S., M.A. dan dibantu oleh 3 (tiga) mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Program Studi (Prodi) Teknik Komputer Jaringan yakni Bonaventura P Jemi, Stef Filmon K. Tenis, dan Chrisdea Anavida Tamimaesa Fanggi.

Ketua Tim PPUD dari Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) Politeknik Negeri Kupang, Fransisko Piri Niron S.T., M.Si. kepada Garda Indonesia mengatakan, kali ini PPPUD lebih menyentuh produk pemasaran. “Sebenarnya, awal dari proposal kami untuk merenovasi rumah produksi, ketika kami datang (saat pandemi Covid-19, red) mendata apa saja renovasi yang bakal dilakukan; Djitron Pah (pengelola Rumah Sasando, red) mengeluh terkait menurunnya penjualan,” urainya.

Oleh karena itu, imbuh Kony Niron (sapaan akrabnya, red), untuk bantuan tahun kedua, kami berembuk dan memutuskan jenis bantuan dialihkan ke perangkat multimedia. “Jenis bantuan lain untuk mendukung pemasaran Rumah Sasando, berupa website yang bakal di-launching pada Oktober 2020,” urainya.

Mengenai apakah bakal ada kelanjutan bantuan PPUD tahun ketiga, tandas Kony, jadi seperti tahun pertama dari hasil penilaian reviewer menilai baik, maka ada bantuan di tahun kedua. “Begitu pun dengan tahun ketiga, jika penilaian baik, maka bakal ada bantuan,” bebernya.

Sementara itu, Djitron Pah selaku Pengelola Rumah Sasando menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ristek BRIN melalui Politeknik Negeri Kupang yang telah memberikan bantuan. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Ristek BRIN melalui Politeknik Negeri Kupang yang telah memberikan bantuan berupa seperangkat alat multimedia dan website, bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami, di mana saat pandemi Covid-19 yang melanda semua usaha, dan melalui alat-alat sangat memudahkan kami,” ucap penerus Maestro Sasando, Yeremias Aogust Pah ini antusias.

Ia pun mengidamkan dapat melakukan pemasaran secara online dengan menggunakan perangkat multimedia bantuan dari Ristek BRIN melalui Politeknik Negeri Kupang. Menurutnya, dalam situasi pandemi ini, lebih efektif jika penjualan hasil kerajinan berupa Sasando dan Topi Ti’ilangga dapat dilakukan secara online.

Dalam bincang-bincang, usai penyerahan bantuan dan memenuhi request lagu “To Love Sombody” dari Garda Indonesia, dengan piawai memetik senar Sasandonya, Djitron Pah juga mengutarakan gagasan agar dapat lebih mudah menjual kerajinan termasuk tersedianya layanan online berupa sekolah musik dan tutorial praktis memainkan alat musik Sasando yang berasal dari Pulau Rote tersebut.

Penulis, editor dan foto (+ rony banase)
Video oleh Mahasiswa Prodi Teknik Komputer Jaringan, Politeknik Negeri Kupang

Era Normal Baru, BP PAUD dan Dikmas NTT Helat Rakor Antar-dinas Kab/Kota

231 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | BP PAUD dan Dikmas Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai perpanjangan tangan dari Dirjen PAUD dan Dikmas Kemendikbud RI bertanggungjawab dan berperan penuh dan mampu memfasilitasi setiap permasalahan PAUD dan Dikmas yang ada dalam setiap daerah di Provinsi NTT (sesuai amanat Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yang mengalihkan penyelenggaraan PAUD dan Dikmas dari provinsi ke kabupaten/kota).

Untuk memaksimalkan koordinasi antara BP PAUD dan Dikmas NTT dengan kabupaten/Kota, maka dilaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) Program PAUD dan Dikmas dengan Dinas Kabupaten/Kota Se-Nusa Tenggara Timur oleh BP PAUD dan Dikmas Provinsi NTT pada 3—5 September 2020 di Hotel Aston Kupang.

Melibatkan 22 Kabid PAUD dan Dikmas dan PNF serta mitra dari kabupaten/Kota se-NTT, rakor dilaksanakan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Kepala BP PAUD dan Dikmas NTT, Maria B. Advensia, S.H., M.Hum. saat membuka Rakor PAUD dan Dikmas

Kepala BP PAUD dan Dikmas NTT, Maria B. Advensia, S.H., M.Hum. saat membuka rakor mengatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan momentum tepat untuk membangun dan memperkuat kerja sama antara BP PAUD dan Dikmas dan dinas kabupaten/Kota serta mitra dalam melaksanakan pembinaan program sesuai Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014.

“Hari ini merupakan pertemuan perdana secara tatap muka sejak merebaknya Covid-19,” ungkapnya pada Kamis malam, 3 September 2020 seraya menyampaikan bahwa saat pandemi Covid-19, BP PAUD dan Dikmas melakukan koordinasi dan pelatihan  secara daring atau online.

Maria Advensia menyerukan untuk menerapkan protokol kesehatan di lingkungan satuan pendidikan dengan menyediakan sarana cuci tangan pakai sabun, membiasakan pola hidup sehat dan bersih, rajin berolahraga secara teratur, dan menghindari kontak fisik secara langsung seperti mencium pipi, berjabat tangan, dan berpelukan.

“Warga satuan pendidikan diharapkan agar tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut secara langsung, jika batuk atau bersin, maka harus menggunakan tisu atau ditutup dengan pangkal lengan,” pintanya.

Foto bersama Kepala BP PAUD dan Dikmas NTT, Maria Advensia dengan para Kabid PAUD dan Dikmas Kabupaten/Kota se-NTT

Maria Advensia juga mengungkapkan dengan adanya pandemi Covid-19, semua kegiatan BP PAUD dan Dikmas berubah dari tatap muka menjadi daring atau secara virtual. “Meski demikian, saya mengajak kita semua untuk tak menyurutkan hasrat kita untuk tetap melakukan aktivitas dengan kewaspadaan tinggi. Menaati protokol kesehatan dengan patuh, dengan demikian aktivitas dan kesehatan menjadi prioritas di masa new normal,” pungkasnya.

Adapun kegiatan yang dilaksanakan oleh BP PAUD dan Dikmas NTT secara daring dalam masa pandemi Covid-19 antara lain Diskusi Interaktif tentang Pengembangan Model Keaksaraan dan Kesetaraan Tahun 2020, Diskusi Interaktif Hasil Studi Pendahuluan Model PAUD Tahun 2020, Peningkatan Kapasitas Penilik dan Pamong Belajar dengan Pengusulan Angka Kredit secara online pada Masa Pandemi Covid-19, Seminar Daring Mengatasi Kejenuhan Anak Usia Dini Selama Belajar dari Rumah, Webinar Mengatasi Permasalahan Pembelajaran Pendidikan Kesetaraan di New Normal Covid-19, Webinar Kelas Orang tua Berbagi, dan Ngopi Bareng Tutor/Pendidik Bantu.

Selain itu, juga dilakukan bimtek secara daring di antaranya Bimbingan Teknis dalam Jaringan/Daring bagi Guru, Mitra dan Penilik PAUD dalam Pelaksanaan Belajar dari Rumah (BDR), Penguatan PKBM Menuju Tatanan Normal Baru, Hambatan dan Tantangan Pendidik Kesetaraan melalui Pembelajaran Daring, Bimtek Pendidikan PAUD se-NTT, Bimtek Pendidikan Keluarga se-NTT, Bimtek Penilik/Pamong Belajar se-NTT, dan Bimtek Pendidik/Tutor Bantu SNPF se-NTT.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

PPL 31 Mahasiswa FKIP Universitas San Pedro Tersebar di Kota & Kab. Kupang

262 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas San Pedro (UNISAP) melepas 31 orang mahasiswa dalam rangka praktik pengalaman lapangan (PPL). Para mahasiswa ini berasal dari 4 (empat) program studi yaitu Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan Luar Biasa, dan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, dan akan tersebar di sekolah-sekolah yang berada di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

Para mahasiswa tersebut bakal melaksanakan PPL selama 3 (tiga) bulan yakni September—November 2020. Sebelum dilepas, mahasiswa terlibat dalam kegiatan pembekalan dan pelepasan yang berlangsung selama dua hari dan dihadiri oleh Dekan FKIP Timoteus Ajito, S.Pd., M.Pd. didampingi Wakil Dekan I Agnes O. Manek, S.S., M.Hum. dan seluruh Ketua Program Studi di lingkup FKIP UNISAP.

Kegiatan pertama dilaksanakan pembekalan selama sehari dengan materi Etika Profesi Keguruan dan Penggunaan Media Daring dalam Proses Pembelajaran Selama Pandemi. Pembekalan ini bertujuan membekali mahasiswa agar beretika baik dalam menjalankan tugas profesi keguruan dan menjaga nama baik Universitas San Pedro. Dibuka oleh Dekan FKIP Timoteus Ajito,S.Pd.,M.Pd. dalam sambutannya menyampaikan kepada mahasiswa calon guru bagaimana menguasai empat kompetensi utama sebagai seorang guru yang profesional yaitu: kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan kompetensi sosial.

Penyelamatan tanda pengenal (id card) oleh pihak fakultas dan universitas kepada 31 mahasiswa PPL Universitas San Pedro

Materi kedua terkait pembelajaran menggunakan media daring adalah untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa dalam mengelola media daring untuk membantu proses pembelajaran di sekolah selama masa pandemi.

Pada hari kedua dilaksanakan pelepasan mahasiswa PPL oleh Wakil Rektor I bidang Akademik Yohanes P.S.Bataona,S.Fil.,M.Pd. dalam sambutannya mewakili Rektor Universitas San Pedro, memberikan lima pesan kepada mahasiswa PPL di antaranya fokus pada misi yang dijalankan yaitu PPL, kedua memperhatikan 9 poin kode etik guru yang sudah didapatkan selama waktu pembekalan yakni menjaga kualitas diri selama PPL, membangun relasi yang baik pihak sekolah, orang tua siswa dan masyarakat sekitar sekolah dan menjaga nama baik almamater.

Kegiatan ini ditutup dengan penyematan kartu tanda pengenal (id card) dan pemberian buku pedoman oleh pihak universitas dan fakultas.(*)

Sumber berita dan foto (*/Humas FKIP UNISAP)
Editor (+rony banase)

Guru Honorer Kota Kupang Gapai Gaji via Dana BOS, Perjuangan dari Hilda Manafe

677 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Hilda Manafe melakukan pertemuan dengan ratusan guru honorer yang dipandu langsung tenaga ahli DPD RI, Winston Neil Rondo di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, pada Kamis, 27 Agustus 2020.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Forum Guru Honorer Kota Kupang, Saka Nenosaban mengatakan bahwa Senator Hilda Manafe telah memperjuangkan NUPTK bagi 1.000 guru di Kota Kupang, sehingga dari perjuangan tersebut para guru bisa menikmati gaji dari APBN, karena pembayaran gaji bagi guru honorer dari dana BOS telah diubah regulasinya dengan terbitnya Permendikbud Nomor 8 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana BOS.

Dalam Permendikbud tersebut, disebutkan bahwa guru non ASN (guru honorer) dapat dibayar honornya jika memiliki NUPTK. ”Perjuangan mama Hilda telah dirasakan oleh sebagian besar guru di Kota Kupang, terima kasih untuk perjuangannya, sekalipun baru menjabat tapi langsung action,” ujar Saka.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Okto Naitboho, Winston Rondo selaku moderator memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi ratusan tenaga kependidikan dan guru honorer untuk menyampaikan unek-unek dan keluh kesah mereka.

Kris Salau, guru honorer di SDI Sikumana 2 mengatakan, sampai detik ini banyak pergumulan guru honorer yang belum terjawab. Aspirasi demi aspirasi hanya bermuara sampai di meja dewan, tanpa ada realisasi. “Jika tanya tentang kesejahteraan, jelas guru honorer tidak sejahtera. Tapi karena cinta dan peduli dengan masa depan anak bangsa, ada yang bisa eksis sampai 28 tahun,” ujar pria yang sudah mengabdi selama 5 tahun sebagai guru honorer.

Kris berharap, mimpi guru honorer untuk diangkat menjadi PNS, khususnya mereka yang sudah lama mengabdi, hendaknya ada batasan waktu. Jika tidak, sampai kapan pun, impian itu tak akan pernah terjawab. “Istilah pahlawan tanpa tanda jasa, bagi kami itu hanya semacam pemanis di bibir. Di satu sisi kami bangga jadi guru, tapi di sisi lain kehidupan kami sungguh memprihatinkan,” ucapnya.

Menurut Kris, tanggung jawab guru honorer di sekolah tidak jauh berbeda dengan guru PNS. Bahkan terkadang beberapa dari mereka mengalami perlakuan dianggap seperti bawahan dan tidak layak untuk duduk bersama dengan guru-guru PNS. Ruang lingkup kerja mereka sama besar dengan guru-guru PNS namun tidak setara dengan upah yang diterima. “Kami harap mama Hilda turut merasakan apa yang kami rasakan. Dan kami bangga, mama sudah berbuat untuk memperhatikan nasib guru honorer,” kata Kris.

Sementara Meri Letelai, guru honorer di SMPN 6 Kota Kupang, mengaku, para guru honorer K2 (Kategori Dua) yang sudah lama mengabdi, kini menanti untuk diangkat menjadi PNS. Mirisnya, guru-guru honorer hampir sama sekali tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat, kecuali dana BOS. Pada akhirnya mereka hanya bisa menonton ketika masyarakat menikmati bantuan seperti PKH dan bantuan lainnya.

“Mungkin orang berpikir gaji guru honorer itu besar, sehingga kami tidak layak dipertimbangkan untuk menerima bantuan,” ungkap Meri seraya menginformasikan lebih lanjut soal bantuan sosial Covid-19 dari Pemerintah Kota Kupang yang hingga hari ini belum diterima oleh tenaga kependidikan dan guru honorer.

Teresia Agustina Oliva, guru honorer di TK Sta. Maria Goreti Kupang, juga berharap agar guru honorer K2 bisa segera diangkat menjadi PNS. Sebab hanya dengan itulah, nasib mereka bisa menjadi lebih baik. “Kami harap Mama Hilda bisa menjadi perpanjangan kata dan kalimat kami ini kepada pemerintah pusat,” kata wanita yang sudah mengabdi sebagai guru honorer sejak tahun 1992 itu.

Senator Hilda Manafe (kiri) didampingi Tenaga Ahli DPD, Winston Rondo

Selanjutnya, Jusuf Daniel Pah, tenaga administrasi di SDI Lasiana, mengaku sudah mengabdi selama 4 tahun 10 bulan dan belum masuk K2. Dia berterima kasih kepada Senator Hilda Riwu Kore yang ikut memperjuangkan nasib guru-guru honorer di Kota Kupang untuk mendapatkan Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). “Saya adalah salah satu guru honorer yang baru dapat NUPTK. Terima kasih mama untuk dukungan dan bantuannya. Kami juga berharap agar dana insentif dari Pemkot Kupang tetap ada bagi kami,” katanya.

Jusuf juga mengaku belum paham soal perekrutan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Menurutnya, saat wacana perekrutan P3K gencar dibicarakan dua tahun lalu, hal itu menjadi angin segar bagi tenaga honor. Namun, informasi yang mereka dengar menyebutkan bahwa Kota Kupang tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membiayai perekrutan P3K. “Kalau P3K belum sampai ke Kota Kupang, maka kami akan terus jadi penonton. Kami mohon dukungan mama Senator agar sekiranya proses ini bisa berlangsung di Kota Kupang. Kalau honorer K2 bisa diangkat jadi PNS lewat jalur ini, artinya kami yang belum K2 bisa menanti dalam kepastian,” katanya.

Yulmi Selan, guru honorer SMPN 5 Kota Kupang yang sudah mengabdi selama 20 tahun juga mengisahkan pengalaman pahitnya. Dia mengaku lulus tes CPNS di tahun 2013, namun namanya kemudian hilang saat pemberkasan. “Semua upaya sudah saya tempuh, tapi hasilnya tidak ada. Mama, tolong titipkan suara saya ini ke pusat agar teman-teman tidak mengalami hal seperti yang saya alami,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Yulmi juga menyinggung soal pemberian dana insentif oleh Pemkot Kupang kepada guru honorer. Dia berharap pemberian dana insentif hendaknya memperhatikan juga lamanya masa kerja. Yulmi juga menyinggung soal inkonsistensi pemerintah dan sekolah dalam perekrutan guru honorer yang baru. “Pemerintah bilang tidak boleh terima guru honorer baru, faktanya tetap terima. Otomatis berdampak kepada kami honorer yang sudah tua karena sebagian gaji kami yang bersumber dari dana BOS pasti dipotong dan dibagikan ke mereka,” ungkapnya.

Selain kelima guru honorer dan tenaga kependidikan di atas, ada beberapa guru honorer lainnya yang juga menyampaikan aspirasi mereka kepada Senator Hilda Riwu Kore. Salah satunya adalah Egberia Bengu, guru honor di SDI Osmok yang mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Senator Hilda Riwu Kore sambil menangis. “Saya ucapkan terima kasih kepada mama Hilda yang sudah memperjuangkan kami untuk mendapat NUPTK. Saya menanti UNPTK cukup lama dan baru terbit di tahun 2020. Saya percaya, suara hati yang sudah disampaikan teman-teman pasti akan diperjuangkan mama. Dengan dukungan doa, pasti Tuhan akan buka jalan bagi kami,” katanya.

Ungkapan terima kasih kepada Hilda Riwu Kore juga disampaikan Kabid Dikdas, Okto Naitboho. Menurutnya, pada awal tahun 2020 terbit Permendikbud Nomor 8 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana BOS. Dalam Permendikbud tersebut, disebutkan bahwa guru non ASN (guru honorer) dapat dibayar honornya jika memiliki NUPTK. Saat divalidasi, guru honor di Kota Kupang per Juni 2020 sebanyak 2.048 orang. Dari jumlah tersebut, yang memiliki NUPTK kurang lebih 30 persen.

“Saat kita audiensi dengan ibu Hilda, kita titipkan pergumulan besar ini. Sebulan kemudian Permendikbud Nomor 8 direvisi dengan Permendikbud Nomor 19/2020. Jadi kami ucapkan terima kasih karena berkat perjuangan ibu Hilda, teman-teman yang belum punya NUPTK juga bisa dapat menikmati biaya APBN melalui dana BOS,” ungkapnya.

Menanggapi keluh kesah yang disampaikan para guru honorer, Senator Hilda Manafe mengatakan, penyelesaian pergumulan guru honorer di negeri ini memang tidak mudah. Namun sebagai Senator, juga sebagai seorang ibu, dia akan berusaha memperjuangkan itu semua sehingga pergumulan guru honorer bisa teratasi. “Dalam meeting dengan menteri, dirjen dan pejabat-pejabat yang lain, saya selalu bilang daerah kami butuh perhatian yang serius. Daerah kami di bagian timur harus diperhatikan sama seperti daerah lainnya di bagian barat,” kata Hilda yang juga adalah istri Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore.

“Aspirasi yang bapa mama sampaikan memberikan semangat bagi saya untuk memperjuangkannya. Ini betul-betul beban yang berat, tapi akan terus saya perjuangkan dalam paripurna di komite III, juga dalam meeting dengan menteri. Saya yakin Tuhan pasti dengar. Seperti apa hasil pertemuan dengan menteri, saya akan sampaikan kepada bapa mama,” sambung Hilda.

Hilda mengaku terharu karena beberapa perjuangannya bersama rekan-rekan di DPD dan DPR untuk kepentingan tenaga kependidikan dan guru honorer bisa terjawab. Salah satunya adalah terkait dengan revisi Permendikbud Nomor 8/2020. “Puji Tuhan karena bapa mama punya pergumulan boleh terjawab. Banyak hal yang kita perjuangkan, sampai saya lupa kalau pergumulan itu sudah terjawab. Saya juga kaget saat diberi tahu kalau apa yang diperjuangkan itu akhirnya terjawab. Aspirasi bapa mama hari ini sudah saya catat. Tolong beri datanya dan siapkan surat pengantar dari wali kota. Saya akan berusaha perjuangkan,” tandasnya.

Terkait hal-hal yang menjadi kewenangan Pemkot Kupang, Hilda mengaku akan menginformasikan langsung kepada Wali Kota Kupang sehingga pergumulan guru honorer bisa secepatnya diselesaikan. “Mengenai bantuan covid bagi guru honor, habis pertemuan ini saya akan ketemu pak wali kota. Jadi kita selesaikan hal yang cepat untuk selesaikan. Mama bapa harus berdoa supaya semua pergumulan cepat terjawab,” ungkapnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/sny—Prokompim Setda Kota Kupang)
Editor (+rony banase)

Kedepankan Protokol Kesehatan, FIKP Unika St. Paulus Ruteng Helat PKKMB

118 Views

Ruteng, Garda Indonesia | Pengenalan Kegiatan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Kesehatan dan Pertanian Unika St. Paulus Ruteng secara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas, David Djerubu, S.Fil,.MA di lapangan sepak bola Unika St. Paulus ruteng, pada Senin, 24 Agustus 2020.

Dalam sambutan pembuka, David Djerubu, S.Fil,.MA mengungkapkan terima kasih kepada seluruh mahasiswa baru dan orang tua mahasiswa yang telah mempercayakan lembaga Unika St. Paulus untuk menjadi tempat belajar dan tempat mereka menempuh ilmu.

“Atas nama lembaga, kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa dan orang tua yang telah memilih lembaga Unika St. Paulus untuk menjadi tempat belajar dan tempat mengais ilmu menuju pribadi yang berbakti bagi bangsa dan gereja,” papar Pater David.

Hal lain, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Pertanian itu mengimbau kepada peserta PKKMB agar tetap mengikuti instruksi protokol kesehatan. Sebagai penanggung jawab orientasi PKKMB, David Djerubu, S.Fil.,MA juga meminta kepada peserta untuk tetap mengikuti kegiatan PKKMB ini dengan kesadaran penuh dan tanggung jawab.

Ketua Panitia PKKMB, Ns. Lidwina Dewianti Wea, M.Kep kepada media ini menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tetap menerapkan protokol kesehatan dengan melaksanakan screening dan mengarahkan mahasiswa untuk mencuci tangan sebelum memasuki ruangan kegiatan. Panitia juga menginstruksikan kepada mahasiswa baru untuk tetap menjaga jarak.

“Para peserta PKKMB dalam mengikuti kegiatan tersebut tetap menjaga jarak, mencuci tangan dan menggunakan masker,” tutur Dewi Wea.

Peserta  yang mengikuti Pengenalan Kegiatan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Kesehatan dan Pertanian Unika St. Paulus Ruteng diwajibkan mencuci tangan 

Sementara itu, salah seorang mahasiswa baru Program studi Sarjana Keperawatan, Agustinus Pranda saat ditemui media ini di sela-sela kegiatan mengungkapkan rasa bangganya ketika mengikuti kegiatan pengenalan kampus.

“Saya berterima kasih karena sudah diterima di Universitas Katolik St. Paulus Ruteng. Di sini, saya menemukan sesuatu yang baru tentang pendidikan. Karena di masa awal-awal begini kami sudah disuguhkan dengan berbagai aturan dan informasi tentang kampus,” terang Pranda.

Diketahui bahwa kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan dan pertanian ini dilaksanakan dalam tiga hari ke depan. Kegiatan ini dijadwalkan masing-masing prodi setiap hari.

Kepada media ini, ketua panitia PKKMB FIKP menginformasikan jumlah peserta yang ikut kegiatan sebanyak 550 orang. Prodi Sarjana Keperawatan berjumlah 113 orang, Prodi D3 Kebidanan berjumlah 93 orang, Prodi Agronomi berjumlah 140 orang dan Prodi Sosial Ekonomi Pertanian berjumlah 192 orang.(*)

Sumber berita dan foto (*/jivan)
Editor (+rony banase)

Ubah Lahan Kering Jadi Produktif, LP2M Undana Bantu Petani di Kupang Barat

363 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sekitar 85 persen lahan kering berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan masih digarap secara sub sistim atau tradisional dan hanya mengandalkan curah hujan minimal yang berkisar sekitar 4—5 bulan dalam setahun, menjadi tantangan bagi para petani. Kondisi ini, harus dikelola secara profesional oleh petani, agar dapat memaksimalkan potensi yang terbatas agar memperoleh hasil.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2019/06/26/faperta-undana-edukasi-latih-petani-sayur-mayur-di-kupang-barat/

Seperti yang dialami oleh para petani sayur di Kelurahan Batakte dan Kelurahan Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Garda Indonesia pada Sabtu, 15 Agustus 2020, meninjau langsung kondisi petani di sana; saat mereka memperoleh pendampingan oleh Tim PKM Fakultas Pertanian (Faperta), Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

Sejauh mata memandang hanya hutan belukar dan hamparan lahan kering dan gersang, namun di tengah hamparan tersebut, terdapat lahan pertanian berupa sayur-sayuran dan buah yang dikelola secara tradisional dan mengandalkan air sumur.

Lahan kering di Kelurahan Batakte yang diolah oleh Kelompok Tani Moen Feu

Ketua Kelompok Tani Moen Feu (Hidup Baru) Marthen Liutani di Kelurahan Batakte mengungkapkan, dari 3 (tiga) hektar lahan kering, pihaknya baru menggarap 50 are atau setengah hektar. “Per masing-masing lahan seluas 25 are dikelola oleh 10 petani dan ditanam sayur brokoli, sayur bunga kol, dan semangka,” urainya.

Ia pun menyampaikan, saat ini para petani mengandalkan kerja manual dengan menggunakan air tanah menggunakan mesin. “Saat ini, hanya tersedia air tanah dari sumur dengan menggunakan pompa. Kami sangat berharap, tersedia sumur bor agar dapat memaksimalkan kerja dan dapat meningkatkan produktivitas petani,” bebernya.

Terkait, distribusi hasil pertanian, imbuh Marthen, saat ini pihaknya telah memperoleh pendampingan dari LP2M Undana yang memberikan pelatihan mengenai kalender pasar. “Kelemahan kami tidak mengetahui kalender pasar, oleh karena itu, pihak LP2M Undana memberikan kami pemahaman tentang kalender pasar, terkadang kami hanya ikut saja menjual hasil pertanian di pasar tanpa memperhatikan kalender pasar,” tandasnya.

Ketua Ketua Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Pemberdayaan Petani Sayur, Drs. Ignatius Sinu,MA (berbaju hijau dan berjaket) bersama kelompok tani Moen Feu

Serupa, dilakukan oleh Kelompok Tani Uimatkuli (Air Hidup), di Kelurahan Oenesu. Para petani di sana, mengelola lahan kering menjadi areal pertanian sub sistim dengan mengandalkan air tanah. Di lokasi ini, para petani menanam tomat, sayur brokoli, pepaya California, dan jagung.

Seprianus M Poto, selaku Ketua kelompok menyampaikan harga tomat menurun usai pandemi Covid-19. “Harga semula, per ember Rp.40.000,- namun saat ini hanya dapat dijual 25 ribu per ember,” ungkapnya seraya menyampaikan usai memperoleh pendampingan dari LP2M Undana, agar dapat memahami perencanaan usaha tani.

Penyerahan bantuan dari LP2M Undana kepada Kelompok Tani Binaan oleh Dosen Faperta Undana Jurusan Agribisnis, Santhy Chamdra, SP., M.Si.

Sementara itu, Ketua Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Pemberdayaan Petani Sayur, Drs. Ignatius Sinu,MA., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program pengembangan desa mitra menuju desa sentra holtikultura. “Kegiatan ini sebagai sosialisasi dari teman-teman dosen Faperta Undana kepada masyarakat yang merupakan tahap kedua, sebelumnya berupa pelatihan pembuatan pupuk bokashi padat dan cair, namun tak dilanjutkan,” ujarnya.

Saat ini, imbuh Ignas yang berprofesi sebagai peternak Babi ini, menyampaikan pihak Undana membawa teknologi kepada para petani. “Ini merupakan tahapan kedua berupa pelatihan manajemen usaha tani dengan melakukan pendampingan, agar petani dapat mencatat dan membukukan setiap kegiatan pertanian mereka,” urainya.

Selain itu, para petani juga diedukasi oleh Dosen Faperta Undana Jurusan Agribisnis, Santhy Chamdra, SP., M.Si. tentang pembukuan usaha tani. Mewakili LP2M Undana, Santhy menyerahkan bantuan berupa selang air dan terpal kepada dua kelompok tani yang menjadi binaan.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)