Arsip Kategori: Pendidikan

Ini 3 Pesan Rektor Unwira pada Lomba Musik Ansambel Prodi Pendidikan Musik

230 Views

Kupang-NTT, GardaIndonesia | Program Studi Pendidikan Musik Universitas Katolik Widya Mandira Kupang gelar Lomba Musik Ansambel antar SMA dan SMK Se–Kota Kupang di Taman Budaya Gerson Poyk pada Sabtu, 9 November 2019.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Pater Dr. Filipus Tulle, SVD sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan yang digelar oleh Prodi Pendidikan musik.

Ada 3 (tiga) hal yang disampaikan:

Pertama, Unwira bukan saja merayakan liburan dengan liburan tapi melakukan kegiatan besar dengan memperlombakan musik karena musik itu adalah alat, sarana, seni yang menjembatani semua manusia beragama apa saja. Betapa pentingnya musik , baik dinyanyikan secara pribadi maupun bersama-sama, didikan pun dengan alat musik, baik yang dimainkan secara pribadi , sendiri-sendiri, tapi juga secara bersama-sama dalam bentuk orkes ataupun dalam bentuk ansambel (*ansambel artinya bersama-sama) dan oleh sebab itu, atas nama pimpinan lembaga unwira sangat menghargai kegiatan ini, karena dengan mengadakan lomba dan mempertunjukkan berbagai kelompok pemusik kita menyalami sesama anak kerabat kita yang muslim dan muslimah yang merayakan pesta kelahiran Nabi hari ini (Maulid Nabi Muhammad SAW pada Sabtu, 9/11/2019);

Kedua, Musik yang seni, yang indah, yang menarik itu adalah bagian dari seluruh pendidikan manusia, pendidikan karakter terlebih karena apa yang terjadi dalam pendidikan musik ada seninya, seni itu bisa seni secara pribadi tapi bisa juga dipadukan bersama orang lain, latihan untuk berkolaborasi menjadi orkestra atau menjadi koor( paduan suara ), dan oleh sebab itu hari ini saya sangat bergembira dan mau menikmati, dan mau menyaksikan bagaimana peristiwa ini terjadi;

Ketiga, Unwira sangat mendukung program pendidikan musik. Oleh sebab itu ke depan, akan bekerja keras menambah dan melengkapi tenaga dosennya, melengkapi alat-alat musiknya.

Suasana pementasan SMK 3 Kupang pada Lomba Musik Ansambel Prodi Pendidikan Musik Unwira Kupang

Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Flora Ceunfin,S.Sn., M.Sn. menyampaikan bahwa kegiatan yang dilakukan ini merupakan yang ketiga bertujuan untuk mendukung program pemerintah dengan mempersiapkan anak-anak SMA dan SMK dalam menghadapi lomba FLS2N baik tingkat provinsi maupun nasional.

“Kegiatan yang dilakukan juga bermanfaat bagi mahasiswa-mahasiswi program studi pendidikan musik untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat di kampus,” imbuhnya.

Flora menambahkan, sebanyak 10 peserta SMA dan SMK yang turut berpartisipasi dalam lomba musik ansambel dan lomba ini dijuarai oleh SMA Kristen Mercusuar Kupang.

Ia berharap kegiatan ini dapat membantu mahasiswa dan siswa siswi SMA dan SMK di Kota Kupang agar dapat menyalurkan talenta yang dimiliki di sekolah-sekolah yang ada. (*)

Penulis (*/Sandro Benu)
Editor (+rony banase)

Mahasiswa & Dosen Matematika Undana Jalan Santai Sambil Pungut Sampah

72 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kehadiran mahasiswa sebagai masyarakat intelektual harus mampu memberi dampak bagi lingkungan dan juga bagi masyarakat. Hal tersebut menjadi dasar pelaksanaan perayaan Dies Natalis Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

Pada ulang tahun ke-51 tersebut, Prodi Pendidikan Matematika melakukan beberapa kegiatan yang berdampak langsung terhadap lingkungan dan juga masyarakat, seperti jalan santai sambil pungut sampah serta aksi donor darah.

Kegiatan jalan santai yang digelar pada Jumat, 8 November 2019; dilakukan di dalam lingkungan kampus Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Dengan mengambil start dari depan gedung kuliah Prodi Pendidikan Matematika, para mahasiswa dan juga dosen yang hadir melakukan long march menuju Fakultas Pertanian. Tidak berakhir di situ, para peserta melanjutkan jalan santai menuju bengkel Teknik Mesin, lalu menuju ke gedung SC baru Undana dan finis di garis start awal.

Ketua Tim Kerja (Timker), Ebenhaezer Mamo mengatakan bahwa kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa Pendidikan Matematika yang berjumlah lebih dari 100 orang dan dosen-dosen Pendidikan Matematika. Menurutnya, kegiatan pungut sampah sebagai upaya mengurangi sampah di lingkungan kampus. Kegiatan tersebut sebagai ajakan bagi mahasiswa untuk tidak membuang sampah sembarangan agar tidak mencemari lingkungan.

“Kita mau mengajak mahasiswa sebagai kaum intelektual untuk bisa memerangi masalah sampah. Dengan hal-hal sederhana seperti ini, mahasiswa dibiasakan untuk turut berkontribusi dalam menjaga lingkungan,”ujarnya.

Lanjutnya, peserta kemudian melakukan senam bersama di depan. Usai senam bersama, peserta bergeser ke Aula Rektorat lama Undana dan melakukan beberapa rangkaian kegiatan.

Pada kesempatan tersebut, para mahasiswa dan dosen diberi kesempatan menuliskan harapan-harapan dan masukan untuk perkembangan Prodi ke depan.

Terpisah, Ketua Kelompok Studi Mahasiswa Matematika (KSMM), Yohanis Putra Tama Kamuri mengatakan bahwa kegiatan jalan santai sambil pungut sampah merupakan kegiatan perdana yang dilakukan.

Lanjutnya, dengan adanya kegiatan semacam itu, mahasiswa semakin sadar akan ancaman sampah bagi lingkungan. Hal tidak hanya untuk mahasiswa Pendidikan Matematika saja tetapi untuk seluruh mahasiswa, agar bisa jadi panutan bagi masyarakat umum.

Dirinya juga menyampaikan bahwa lingkungan yang bersih akan menjadi aman dan nyaman bagi orang-orang di sekitar lingkungan tersebut.

“Sampah sangat berbahaya bagi lingkungan. Terutama sampah-sampah non organik. Sehingga mahasiswa harus menjadi panutan dalam menjaga lingkungan yakni dengan tidak membuang sampah sembarangan. Karena lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bersih,” jelasnya.

Ia pun berharap ke depan kegiatan tersebut dikemas lebih baik lagi dan bisa membuat banyak kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Kegiatan tersebut juga dapat melibatkan banyak orang lagi agar kebahagiaan mahasiswa Pendidikan Matematika dalam merayakan Dies Natalis Prodi juga dirasakan oleh banyak orang.

“Ke depan persiapannya harus lebih baik lagi agar banyak orang juga turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan mahasiswa Matematika. Dan dampaknya lebih besar lagi,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, mahasiswa Pendidikan Matematika juga melakukan aksi donor darah yang dilakukan di Aula Rektorat lama Undana Kupang. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

HUT ke-56, Fapet Undana Helat Join Seminar Nasional dan Kongres HITPI

111 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-56 Fakultas Peternakan (Fapet)  Undana Kupang sekaligus memperingati HUT ke-9 Himpunan Ilmuwan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) maka dihelat kegiatan Seminar Nasional dan Kongres HITPI.

Berlangsung di Hotel Neo Aston Kupang pada 5—6 November 2019, Join Seminar dan Kongres, Seminar Nasional Himpunan Ilmuan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) ke-8; Seminar Nasional Peternakan ke-5; Kongres Nasional HIPTI ke-3 mengusung tema Peningkatan produktivitas sistem peternakan berbasis tumbuhan pakan. Seminar dipandu oleh moderator Dr. Ir. Ludji Michael Riwukaho, M.P.

Sebanyak 91 artikel yang diplenokan secara paralel dalam rangkaian Seminar Nasional HIPTI ke-8 yang berasal dari ilmuwan Universitas Udayana (Unud) Bali, Universitas Sam Ratulangi Manado, Universitas Mataram, Universitas Jambi, Universitas Andalas, Universitas Papua, Politani, BPTP Naibonat, dan Fapet Undana.

Demikian disampaikan oleh Ketua HITPI Wilayah NTT, Dr.Ir. Twen Dami Dato, MP. kepada media ini pada Selasa, 5 November 2019. “Kegiatan ini dimulai dengan ide untuk menyatukan beberapa even yakni HUT ke-56 Fapet Undana pada 1 Oktober 2019, Seminar Nasional HITPI, dan Kongres HITPI ke-3,” jelas Dr Twen Dami Dato.

Ketua HITPI Wilayah NTT, Dr. Ir. Twen Dami Dato, MP. (Berbusa tenun Sabu) berpose bersama Moderator, Dr. Ir. Ludji Michael Riwukaho, M.P. (berbaju putih) dan dua panitia kegiatan

Keynote Speaker Seminar Nasional HITPI yakni Prof.Dr. Luki Abdullah Ketua HITPI Pusat; Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat diwakili oleh Kadis Peternakan, Ir. Dany Suhadi; Prof. Dr. J.F.Bale Therik, dosen Fapet Undana; Prof. Dr. Dahlanuddin, Dosen Fapet Universitas Mataram (Unram); Ir. Sri Widayati, MMA. Direktur Pakan Ditjen PKH (Peternakan dan Kesehatan Hewan) Kementerian Pertanian (Kementan) RI.

“Kami berharap dari pleno dan keynote speaker dapat menghasilkan rekomendasi yang dapat dikirimkan ke Pemda dan Kementerian Pertanian bagaimana kolaborasi bersama Perguruan Tinggi untuk menyejahterakan masyarakat,” beber Dr Twen.

Selain itu, jelas Dr Twen Dami Dato, juga dilakukan Gala Dinner untuk memperingati HUT ke-9 HITPI dan HUT ke-56 Fapet Undana dan pada Rabu, 6 November 2019 dilaksanakan field trip ke lokasi kelompok tani/ternak Kaifo Ingu di Babau yang sedang melaksanakan Program Kemitraan Wilayah (PKW) dengan tema ‘Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang’ yang didanai DPRM DIKTI dan PEMDA Kabupaten Kupang dan mengunjungi lokasi pelatihan Wiliam & Laura di Tilong.

“Dan pada malam hari dilaksanakan Kongres HITPI ke-3 untuk memilih pengurus baru,”pungkas Dr. Twen.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Kepala BNN RI Beri Kuliah Umum & Tanda Tangan MoU dengan Undana

95 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komjen Pol. Drs. Heru Winarko, S.H., berkunjung ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam lawatannya Kepala BNN RI berkesempatan memberikan kuliah umum di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BNN RI menandatangani nota kesepahaman bersama (MoU) bersama dengan Rektor Undana Prof. Ir. Fredik L. Benu, M.Si., Ph.D. Selain itu penandatanganan juga dilakukan oleh Kepala BNN Provinsi NTT, Brigjen Pol. Teguh Iman Wahyudi, S.H. bersama dengan Wakil Rektor Undana bidang Kemahasiswaan, Dr. Drs. Siprianus Suban Garak, M.Sc.

Kepada Rektor Undana, Heru menyerahkan gambar jenis-jenis narkoba untuk disosialisasikan kepada mahasiswa. Fred Benu pada saat menerima gambar tersebut langsung menyerahkan kepada Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dengan pesan untuk dapat menjalankan tugas tersebut.

“Ini adalah tanggung jawab Bapak, silakan dikerjakan,” ujar Benu kepada Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan Undana.

Pada saat menyampaikan materi di depan 1.000 lebih mahasiswa Undana dari 14 Fakultas, Kepala BNN RI mengatakan bahwa ada 803 jenis narkoba New Psychoactive Substances (NPS) di dunia dan untuk Indonesia terdapat 74 jenis narkoba NPS. Dari 74 jenis tersebut, sebanyak 72 jenis sudah terdaftar dalam Permenkes Nomor 20 Tahun 2018.

“Jadi ada 2 jenis yang belum terdaftar di Permenkes,” ujar Heru pada Senin, 28 Oktober 2019 di Aula Rektorat Lama Undana Kupang.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komjen Pol. Drs. Heru Winarko, S.H., saat melantunkan lagu

Di hadapan mahasiswa, Rektor, Wakil Rektor, beberapa Dekan Fakultas dan juga pegawai BNN Provinsi NTT, Heru Winarko secara tegas menyampaikan bahwa narkoba jenis NPS sangat berbahaya.

Guna membangun sinergitas dalam memberantas narkoba di NTT, Kepala BNN RI juga menyematkan PIN relawan anti narkoba kepada 22 mahasiswa secara simbolis.

Heru menyampaikan bahwa para relawan akan diberikan pemahaman terkait narkoba, bahaya dan penyalahgunaan serta tentang penanganannya untuk bisa disosialisasikan baik dalam kampus maupun di luar kampus.

Sementara itu, Rektor Undana, Fred Benu dalam sambutannya mengatakan bahwa Undana sudah secara rutin melakukan tes narkoba bagi setiap mahasiswa baru yang diterima. Dan sejauh ini belum ada mahasiswa yang dinyatakan positif menggunakan narkoba.

Lanjutnya, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan tes narkoba lagi bagi semua mahasiswa untuk mengantisipasi terjadinya penyalahgunaan narkoba. “Sejauh ini saya belum dengar mahasiswa saya menggunakan narkoba. Kalaupun ada saya belum dengar. Dan saya minta kepada Pak Kepala BNN Provinsi, kalau ada mahasiswa saya yang menggunakan narkoba tolong laporkan, saya akan keluarkan, “tegas Benu.

Di akhir kegiatan kuliah umum yang mengangkat tema ‘Menyelamatkan Generasi, Merawat Negeri dari Ancaman Kejahatan Narkoba’, Kepala BNN RI mempersembahkan satu buah lagu kepada seluruh peserta. Para peserta pun hanyut dalam lantunan kata demi kata yang dinyanyikan oleh Komisaris Jenderal Polisi Heru Winarko. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Kantor Bahasa NTT : Perlu Perda Untuk Melestarikan Bahasa Daerah

118 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kantor Bahasa NTT, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghelat Seminar Internasional Linguistik dan Sastra Austronesia-Melanesia pada 22—23 Oktober 2019 di Hotel Aston Kupang; sebagai seminar internasional pertama yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa NTT

Diharapkan seminar ini dapat menjadi awal dari seminar ilmiah rutin yang akan diselenggarakan di tahun-tahun mendatang. Seminar ini dibuka oleh Asisten II Gubernur Nusa Tenggara Timur, Ir. Samuel Rebo yang bertindak mewakili Gubernur Nusa Tenggara Timur.

Seminar ini menghadirkan pemakalah dari dalam dan luar negeri, seperti Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum. (Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan), Prof. Dr. Charles E. Grimes, Ph.D. (Australian National University), Stefan Danerek, Ph.D. (Lund University), Prof. Dr. Mahsun, M.S. (Universitas Negeri Mataram), Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. (Universitas Negeri Yogyakarta), Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. (Universitas Sanata Dharma), Asst. Prof. Dr. Phaosan Jehwae (Fatoni University), dan Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. (Universitas Negeri Malang).

Pemukulan gong tanda dibukanya Seminar Internasional Linguistik dan Sastra Austronesia-Melanesia

Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd. disela-sela kegiatan Seminar Internasional Linguistik Sastra Austronesia – Melanesia menyampaikan bahwa Nusa Tenggara Timur merupakan perjumpaan dari dua rumpun bahasa besar yakni sastra Austronesia dan Melanesia.

Menurutnya, dua rumpun besar bahasa tersebut bisa dilihat pada bahasa daerah di daerah Alor dan juga Belu, yang merupakan turunan dari rumpun bahasa Melanesia yang berasal dari Papua.

“Mungkin masyarakat NTT sendiri tidak tahu bahwa di NTT itu ada pertemuan dua rumpun besar bahasa yakni Austronesia dan Melanesia yang sebagian di Alor dan sebagian di Kabupaten Belu,” jelas Valentina.

Valentina juga menjelaskan bahwa seminar tersebut sebagai upaya perlindungan terhadap bahasa dengan menghadirkan para mahasiswa, guru besar bahasa dan juga para peneliti dalam seminar perdana bertaraf internasional.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd.

“Bahasa bukan saja di dunia pendidikan, tetapi juga bagi penelitian. (Sebagai) upaya pelindungan, wajib bagi kami untuk memberikan satu pendidikan (tentang bahasa) bagi anak-anak mahasiswa,” ujarnya.

Tidak berhenti pada titik tersebut, sebagai upaya dalam melindungi bahasa daerah dari kepunahan, pihaknya meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) untuk segera menertibkan perda tentang bahasa daerah, sebagai langkah konkret dalam menjaga dan melestarikan bahasa daerah sesuai Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009.

“Kami akan bekerja sama dengan Pemda, khususnya kami mendorong Pemda mengeluarkan regulasi terkait pelestarian dan perlindungan bahasa daerah,” tuturnya.

Sementara itu, guru besar bahasa pada Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Prof. Simon Sabon Ola, S. Pd., M. Hum. kepada media ini menyampaikan bahwa Tri Gatra Bahasa yaitu ‘Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing’, itu sudah disampaikan pada 23 tahun lalu, dan sampai saat ini masih dibicarakan lagi.

“23 tahun lalu saya sudah bicara soal Bahasa Indonesia nomor 1, Bahasa Daerah nomor 2 dan Bahasa Asing nomor 3, itu sudah 23 tahun lalu orang bicara dan hari ini dibicarakan lagi. Aksinya yang kita butuhkan,” jelasnya.

Ola menilai bahwa semua yang dilakukan saat ini masih merupakan retorika. Sehingga dibutuhkan langkah-langkah konkret, kebijakan-kebijakan nyata yang dapat menjamin penerapan bahasa di Indonesia.

“Semua orang mengatakan sikap kita harus positif terhadap bahasa. Mempertahankan bahasa daerah, perlu belajar bahasa asing. Dari dulu (orang sudah bicara). Bagaimana mempertahankan bahasa daerah? Apa langkah-langkah konkretnya, itu yang kita butuhkan,” ujar mantan Wakil Rektor 3 Undana itu.

Dirinya menyebutkan bahwa dari 548 Provinsi, Kabupaten dan Kota, hanya ada 23 Perda tentang pelestarian bahasa daerah. Hal tersebut dinilai perlu dilakukan oleh pemerintah sehingga upaya dalam melestarikan bahasa daerah bisa diimplementasikan dengan baik.

“Keberpihakan pemerintah belum ada, kalau dilihat dari kuantitas perda yang mengatur tentang penggunaan bahasa daerah. Berarti ada sekitar lima ratusan pemda tidak punya perda. Terus mau harapkan apa? ” pungkas Ola. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau + Kantor Bahasa NTT)
Editor (+rony banase)

Edukasi Literasi ala FKIP UPG 45 NTT Bagi Anak SD dalam Festival Li Ngae

177 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kehadiran mahasiswa dan dosen FKIP Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT dalam kegiatan Festival Li Ngae pada 17—25 Oktober 2019 di Pulau Semau, Kabupaten Kupang – Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam rangka memberikan edukasi literasi.

Adapun bentuk edukasi literasi yang diberikan Mahasiswa dan Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UPG 1945 NTT berupa pengajaran Bahasa Inggris bagi anak-anak Sekolah Dasar (SD). Kehadiran para mahasiswa dan dosen FKIP UPG 1945 NTT adalah untuk memotivasi anak-anak sekolah tentang pentingnya Bahasa Inggris.

Wakil Dekan 1 FKIP UPG 1945 NTT, Rudy Isu. S.Pd., M.Hum. melalui pesan Whatsapp kepada media ini pada Sabtu, 19 Oktober 2019 pukul 07.07 WITA mengatakan bahwa kehadiran UPG 1945 NTT, khususnya Program Studi Bahasa Inggris untuk memotivasi anak-anak SD dan masyarakat umum di Pulau Semau tentang pentingnya Bahasa Inggris.

“Kami ingin mendorong dan mengedukasi anak-anak SD bahwa belajar menggunakan bahasa Inggris sederhana seperti sapaan salam, permainan (games). Kami juga berupaya menepis stigma bahwa belajar Bahasa Inggris itu susah dan terbukti anak-anak sangat semangat dan senang hingga mereka meminta untuk terus diajarkan”, ujar Rudy.

Selain itu, ujar Rudy, semua Dosen dan Mahasiswa dari Program Studi Bahasa Inggris melakukan aksi sosial membersikan sampah plastik di area Festival Li Ngae.

Mahasiswa dan Dosen FKIP Prodi Pendidikan Bahasa Inggris saat melatih anak-anak SD berbahas Inggris

Senada, Ketua Prodi Bahasa Inggris, Yanrini M. Anabokay menyampaikan bahwa partisipasi mahasiswa UPG 1945 NTT dalam mengajarkan anak-anak belajar Bahasa Inggris dalam bentuk komunikasi sehari-hari, table manner dan hospitatlity untuk mendorong geliat pariwisata di Pulau Semau.

“Kami melihat antusiasme anak-anak Pulau Semau yang begitu besar bakal mendorong kami untuk melakukan kegiatan serupa dalam kurun waktu beberapa bulan atau di lokasi lain dengan tema serupa,” jelas Yanrini.

Disamping itu, anak-anak Pulau Semau diedukasi untuk mengolah kain perca tenun untuk dijadikan anting-anting, gelang, kalung. “Yang melatih anak-anak adalah mahasiswa yang memiliki ketrampilan dan merupakan inisiasi dari mahasiswa Prodi Bahasa Inggris,” tandas Ketua Prodi Bahasa Inggris UPG 1945 NTT.

Festival Li Ngae merupakan festival yang digagas oleh Pemerintah Desa Otan, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang dan didukung oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT. Dalam festival itu, akan diisi dengan sejumlah kegiatan, diantaranya pameran tenun ikat, atraksi massal dan lomba Tarian Li Ngae, lomba tutur adat Bahasa Helong, lomba paduan suara, lomba tarian kreatif dan tenun ikat.

Selain itu ada juga lomba dayung perahu, lomba catur, kunjungan ke Pantai Otan dan Pantai Liman yang terkenal sangat indah dan sudah banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto oleh tim UPG 1945 NTT

Sekolah Libur Akibat Kualitas Udara Sumatera Selatan Memburuk

69 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengganggu aktivitas masyarakarat. Salah satunya aktivitas pendidikan harus diliburkan di Kota Palembang, Sumatera Selatan pada Senin, 14 Oktober 2019. Asap akibat karhutla tersebut menyebabkan aktivitas sekolah diliburkan.

Melalui pesan digital, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang menginstruksikan kegiatan belajar mengajar di tingkat PAUD, TK, SD dan SMP negeri dan swasta diliburkan hingga batas yang belum ditentukan. “Kegiatan belajar diliburkan sejak hari ini (14/10) karena asap yang mengganggu dan membahayakan masyarakat,” ujarnya.

Pantauan BNPB, kualitas udara dilihat dari indikator PM 2,5 pagi ini di wilayah Sumatera Selatan mencapai pada tingkat berbahaya atau pada angka 921. Kualitas udara tersebut seiring dengan jumlah titik panas atau _hot spot_ di wilayah itu hingga mencapai 691 titik, atau tertinggi di antara wilayah lain, seperti Riau, Jambi dan beberapa wilayah Kalimantan.

Penanganan darurat di wilayah Sumatera Selatan masih terus berlangsung hingga kini. BNPB mengerahkan 7 helikopter untuk melakukan pengeboman air atau _water-bombing_. Air yang digunakan untuk pengeboman sudah mencapai 66 juta liter air, sedangkan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) telah mengelontorkan sekitar 14 ribu garam (NaCl). Operasi udara ini didukung juga personel darat gabungan mencapai lebih 8.000 personel.

Data BNPB per 14 Oktober 2019 pukul 09.00 WIB mencatat jumlah titik panas mencapai 1.184. Pantauan titik panas berdasarkan citra satelit modis-catalog Lapan dalam 24 jam terakhir. Dilihat dari sebaran titik panas di wilayah Sumatera, arah angin pada umumnya mengarah dari tenggara ke barat laut. Arah sebaran asap di Sumatera Selatan menyebar ke arah barat laut. Terpantau titik panas berada di wilayah-wilayah, seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin.

BMKG merilis citra sebaran asap pada hari ini tidak terdeteksi adanya _transboundary haze_ atau asap yang melewati batas negara. Data tersebut diambil dari citra satelit Himawari pada hari ini (14/10). Dari citra satelit itu, terpantau persebaran asap di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Sementara itu, KLHK mencatat kualitas udara dengan parameter PM 2,5 di beberapa wilayah menunjukkan tingkat yang memburuk. Kualitas udara Jambi menunjukkan angka 235 sangat tidak sehat, Kalimantan Tengah 102 tidak sehat, Kalimantan Selatan 174 sangat tidak sehat dan Riau 51 atau tidak sehat. Sedangkan sebaran titik panas di beberapa wilayah sebagai berikut, Sumatera Selatan berjumlah 691 titik, Kalimantan Tengah 230 titik, Jambi 117, Kalimantan Selatan 28, Riau 16 dan Kalimantan Barat 12. (*)

Sumber berita (*/Agus Wibowo–Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB)

Editor (+rony banase) Foto oleh alinea.id

Seminar Nasional BEM Undana Hadirkan Staf Kepresidenan Sebagai Pembicara

136 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang menggelar Seminar Nasional pada Sabtu, 12 Oktober 2019. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Cahaya Bapa Kota Kupang mengangkat tema ‘Mempersiapkan Pemuda yang Kompeten dan Berintegritas dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045’.

Hadir sebagai pemateri, Deputi IV Staf Kepresidenan, Eko Rahardjo, S.Sos., M.Ikom. membagikan ilmu tentang ‘Membangun Idealisme dan Integritas dalam Memperkuat Karakter Generasi Penerus Bangsa.

Erwin Fallo, selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai wujud upaya membuka wawasan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa yang dapat menunjang masa depan bangsa yang cerah dan lebih maju.

“Kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran akan tantangan dalam skala nasional maupun daerah dengan mengidentifikasi tindak preventif yang perlu dilakukan sejak dini oleh mahasiswa guna mewujudkan Indonesia Emas 2045”, ujar Erwin ketika menyampaikan laporan panitia.

Selain itu, Erwin juga mengungkapkan bahwa krisis moral yang sedang terjadi di Indonesia menjadi hal serius yang perlu diperhatikan dan perlu untuk melakukan langkah-langkah kongkrit sebagai solusi dalam menangani degradasi moral anak bangsa.

“Perlu mengidentifikasi masalah moral yang sedang terjadi di bangsa ini sebagai krisis integritas dan memperkenalkan serta memperkuat integritas sebagai karakter pada kaum muda demi terwujudnya generasi penerus bangsa yang jujur,” jelas Erwin.

Sementara itu, Ketua BEM Undana Kupang, Ridwan S. Menoh mengatakan bahwa pemuda memiliki peran vital dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

“Dalam menyambut Indonesia Emas, pemuda adalah pemegang tongkat estafet pembangunan bangsa. Peran pemuda menjadi sangat vital dalam konteks kebangsaan Indonesia. Pembangunan bangsa ini ada di tangan pemuda. Cita-citanya adalah pemuda mampu bersaing dan menyelesaikan masalah yang terjadi”, ujar mahasiswa Pendidikan Kimia itu.

Ridwan menambahkan bahwa sebagai pemegang tongkat estafet pembangunan bangsa ini, mahasiswa harus mampu menghadirkan perubahan di tengah masyarakat serta harus bersikap kritis dan peka terhadap berbagai persoalan bangsa.

“Menurut saya mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial seharusnya peduli terhadap persoalan bangsa, salah satu contoh konkret yang terjadi baru-baru ini adanya gelombang unjuk rasa di berbagai pelosok tanah air dalam upaya mengkritisi kebijakan wakil rakyat yang dinilai tidak pro rakyat dan malah menindas masyarakat. Mahasiswa harusnya peka dan terus bersuara walaupun ada upaya pembungkaman terstruktur,” pungkas Ridwan.

Seminar yang dihadiri oleh 1.224 orang mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Kupang juga menghadirkan Winston Neil Rondo, S. Pt sebagai pemateri dengan membawakan materi tentang Kontribusi Pemuda di Bidang Pembangunan Daerah dalam Upaya Mewujudkan Indonesia Emas 2024. Selain itu, hadir juga sebagai pemateri, Wakil Dekan 3 Fakultas Kedokteran Hewan Undana, drh. Yohanes T. R. M. R. Simarmata, M Sc., yang membawakan materi tentang Peran Perguruan Tinggi dalam Pembangunan Bangsa. (*)

Penulis (*/Dini Ndolu)
Editor (+rony banase)