Arsip Kategori: Humaniora

Dian Lenggu, Staf Kemenkumham NTT Enggan Divaksin Covid, Kenapa ?

828 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Meski telah diterbitkannya izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) terkait vaksin Covid-19 oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pada Senin, 11 Januari 2021, belum dapat memberikan rasa yakin dan nyaman kepada masyarakat tentang kepastian aman dan tak berefek samping bagi tubuh penerima vaksin.

Apalagi vaksin produksi Sinovac dengan kerja sama antara Universitas Padjadjaran Bandung dan Bio Farma tersebut, telah dinyatakan berlaku gratis bagi seluruh warga negara Indonesia oleh Presiden Jokowi pada Desember 2020 dan proses vaksinasi massal akan dilakukan pada sekitar awal Maret 2021, usai pelatihan vaksinator Covid-19 dan pemberian vaksin bagi tenaga kesehatan.

Dian Lenggu, staf Divisi Administrasi, Sub Bagian Humas, Reformasi Birokrasi dan Teknologi Informasi, Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Provinsi NTT ini pun enggan dan masih memiliki keraguan untuk memperoleh vaksinasi Covid-19, meski itu juga berlaku gratis bagi dirinya.

“Pada dasarnya, sebagai masyarakat awam, jelas banyak tanda tanya di kepala, apalagi ini menyangkut kesehatan,” ujar Dian Lenggu kepada Garda Indonesia dalam percakapan singkat pada Selasa, 12 Januari 2021.

Menurut Ibu dari tiga anak perempuan ini pun mengungkapkan bahwa hingga saat ini, dirinya belum tahu jelas efek samping dari vaksin Covid-19 tersebut. “Sampai saat ini, beta (saya, red) belum terlalu tahu dengan jelas efek samping dari vaksin, walaupun beta banyak dengar dan baca berita kalau vaksin Sinovac ini minim efek samping,” ungkapnya.

Tapi mungkin, lanjut perempuan yang juga berprofesi sebagai Penyiar TVRI NTT ini, akan lebih yakin kalau telah orang ada telah divaksi, lalu melihat sendiri proses vaksinasi Covid-19 tersebut.  “Terutama testimoni dari orang yang telah  divaksin,” ucapnya sembari dengan yakin mengungkapkan bahwa dirinya tak takut terhadap jarum suntik.

Istri dari Yonathan Laifoi, pegawai Kanwil Kemenkumham Provinsi NTT yang bertugas di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) Kupang ini juga menyampaikan bahwa ada keraguan dalam dirinya. “Ya, hanya ada keraguan saja, karena ini hal baru, harus lihat reaksi vaksin covid gratis tersebut, apalagi bayi dan balita saja, kalau imunisasi bakal ada efek samping berupa ruam dan demam,” urainya.

Saat disampaikan bawah Vaksin Covid-19 produksi Sinovac telah memperoleh izin BPOM, pemilik nama lengkap Dian Lestary Raynilda Lenggu ini juga memberikan respons meskipun ada izin BPOM.

“Bukan beta (saya, red) meragukan BPOM, namun efek samping pasti ada,” ucapnya lepas.

Namun, pegawai Kanwil Kemenkumham Provinsi NTT angkatan 2010 ini berharap, semoga Vaksinasi Covid-19 bisa jadi peluru paling akhir untuk menuntaskan pandemi yang telah berlangsung sejak Maret 2020.

“Capek ruang gerak ketong (bahasa Melayu Kupang untuk “kita”) dibatasi karena corona. Semoga beta punk (saya punya, red) keraguan jangan jadi kenyataan,” tandasnya mengakhiri percakapan kami.

Simak video imbauan dari Ketua ITAGI : https://youtu.be/qEcAMgIgMT8

Prof. Dr. Sri Rezeki Hadinegoro, dr., SpA (K), Ketua Indonesian Technical Advisory Group for Immunization (ITAGI) melalui video yang ditayangkan oleh Kementerian Kesehatan, mengatakan bahwa vaksinasi menjadi momentum penting untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Selain itu, vaksinasi sendiri tidak bisa menjadi upaya pencegahan karena harus menjadi kesatuan dan pelindung dari protokol kesehatan (praktik 3 M).

“Vaksinasi tidak hanya melindungi diri sendiri, namun dapat melindungi keluarga, dan masyarakat di sekitar kita,” terangnya.

Vaksinasi menjadi penting, agar masyarakat dapat mengambil bagian dalam vaksinasi Covid-19 secara bertahap. “Karena semakin banyak masyarakat yang divaksin, maka makin tinggi cakupan kekebalan kelompok atau herd immunity,” ungkapnya.

Prof. Sri Rezeki pun mengimbau masyarakat agar jangan menunggu atau memilih vaksin yang akan hadir di Indonesia karena vaksin yang ada telah dievaluasi dan direkomendasikan oleh Badan POM aman.

“Percayalah, vaksin Covid-19 ini aman,” tandasnya.

Penulis, editor, dan foto (+roni banase)

Pandemi Covid-19 dan Peran PMKRI Cabang Kupang

250 Views

Oleh: Dalmasius Amtonis

Virus wabah korona semenjak Februari 2020, sampai saat ini terus meningkat, khususnya di Indonesia. Setiap angka penduduk yang terdampak Covid-19 dan meninggal dunia terus bertambah menjadi rata-rata +4.000 pertambahan setiap hari. Jumlah kumulatif angka Covid-19 per tanggal 29 September mencapai 282.724 orang.

Angka tersebut bertambah sebanyak 4.002 kasus dari hari sebelumnya. Dari jumlah itu, sebanyak 210.437 orang dinyatakan sembuh dan 10.601 orang meninggal dunia. Data tersebut dihimpun Kementerian Kesehatan pukul 12.00 WIB. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan bagi Indonesia maupun dunia.

Untuk menanggulangi dampak Covid 19, sejak 15 Maret 2020, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan imbauan bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas di rumah, mulai dari bersekolah, bekerja dan jalan. Pemerintah mengeluarkan imbauan untuk wajib menggunakan masker, menjaga batas jarak aman, dan  social distancing. Sanksi sosial maupun materi juga diterapkan bagi yang tidak mematuhi peraturan.

Di tengah-tengah pandemi ini, pemerintah mendukung kontribusi masyarakat Indonesia untuk membantu memutus rantai penyebaran virus, salah satunya adalah dengan membatasi kegiatan offline.  Sehingga gereja-gereja di seluruh dunia sudah mulai memberlakukan ibadah secara  online , yaitu dalam bentuk  live  streaming  youtube atau penyiaran secara lansung di stasiun televisi.

Lalu, bagaimana kah hidup umat Katolik Indonesia di dalam pandemi Covid-19?

Mengutip ucapan Romo Adi dari Keuskupan Agung Jakarta, Gereja Katolik Indonesia merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia siap bersama-sama melakukan bela negara dan cinta Tanah Air.

KAJ dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) mengimbau seluruh keuskupan di Indonesia harus meniadakan misa peribadatan harian maupun mingguan dan semua ritual peribadatan yang melibatkan dan mendatangkan banyak orang, baik di tingkat paroki, lingkungan, wilayah dan lain sebagainya mulai 21 Maret 2020, selanjutnya gereja Katolik Indonesia akan sesuai kebijakan dan arahan pemerintah.

Untuk menjaga kesehatan dan memutus mata rantai pemaparan Covid-19, maka Gereja Katolik mengikuti aturan pemerintah. Gereja Katolik meniadakan misa langsung yang megumpulkan umat secara massal, dan sebagai pengguna umat yang mengikuti secara  online. Pada umumnya memanfaatkan jaringan media Youtube. Tapi beberapa kali juga saluran televisi nasional seperti Kompas TV dan TVRI.

Selain misa  online, gereja juga meniadakan kegiatan yang mengharuskan umatnya berkumpul, seperti kegiatan doa lingkungan, latihan paduan suara, latihan mazmur, kegiatan persekutuan doa, perkumpulan anak muda, dan lainnya.

Akan tetapi, hal ini tidak menurunkan semangat umat Katolik. Dalam keterbatasan, tetap mencoba melakukan kegiatan mereka, seperti melakukan doa Rosario dan rekoleksi dan lain sebagainya atau pertemuan melalui aplikasi zoom meeting, google  meet  atau  video call, dan merekam suara atau memutar lagu dari kaset / DVD / youtube untuk menggantikan koor.

Rekoleksi Iman PMKRI Cabang Kupang

Dalam kondisi seperti ini memang menjadi dilema bagi kita umat manusia yang beriman, di mana kita melewatkan adanya sosialisasi, interaksi, penerimaan tubuh Kristus (komuni) serta suasana gerejani, namun di sisi lain kemajuan teknologi ini pemakaian media online pun meningkat dan kita dapat melihat jumlah jemaat yang mengikuti misa online jauh lebih banyak dari misa offline sehingga gereja tetap dapat menjalankan misinya untuk mengajar dan mengatur Injil Tuhan.

Di sisi lain, pemakaian teknologi yang canggih juga tidak lepas dari dampak negatif, yaitu lebih banyak godaan bagi kita dalam mengikuti jalannya misa, seperti sikap dalam misa yang mungkin lebih santai, konsentrasi yang mudah terpecah belah, maka disinilah ketaatan kita kepada Tuhan diuji.

Sebagai umat Katolik, selayaknya semangat dan iman kepada Tuhan tidak dapat menghalangi kita untuk melakukan ibadah dan kegiatan gereja. Dalam momen di mana kita menghadapi cobaan dan ujian, namun kita harus tetap semangat untuk tetap melayani Tuhan meskipun dalam keterbatasan. Tentunya tidak hanya Gereja Katolik yang mengalami perubahan, ibadah umat beragama lainnya juga merasakan hal yang sama. Untuk itu penting bagi kita untuk selalu berdoa khususnya “Doa Mohon Berkat Allah dalam Masa Pandemi Covid-19”.

Di dalam situasi ini, seharusnya seluruh manusia di muka bumi ini, semakin mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Oleh karena itu, sebagai umat Katolik, kita juga terus mendekatkan diri kita kepada Tuhan Allah, dengan meminta perlindungan dari-Nya melalui doa, agar kita dijauhkan dari segala sakit penyakit dan hal-hal yang buruk. Kita juga harus mendoakan sesama, bangsa Indonesia dan seluruh umat di dunia untuk kesembuhan bagi orang-orang yang terpapar Covid-19, untuk tenaga medis yang berada di garda depan, dan agar pandemi Covid-19 ini segera dihapuskan dari muka bumi dan dapat segera ditemukannya vaksin untuk mencegah dan mengobati penyakit Covid-19.

Ruang dan gerak kita sebagai umat beriman jangan sampai terhambat. Sudah sewajarnya umat Katolik membantu berdoa juga tetap peduli dan membantu sesama, rumah sakit dan tenaga kesehatan / tenaga medis Katolik dapat mengambil bagian sebagai sukarelawan untuk membantu pemerintah melawan wabah pandemi korona.

Bagaimana PMKRI Cabang Kupang Menghadapi Natal di Tengah Pandemi

Kami segenap Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia yang sudah tergabung dalam organisasi atau ormas-ormas Katolik menyediakan diri untuk menjadi relawan mendukung pemerintah bersama-sama menghadapi wabah Covid-19. Sikap solidaritas juga sudah sepantasnya kita tunjukkan bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan tanpa mempedulikan suku, agama dan ras, seperti membantu memberikan bantuan pangan bagi yang terkena dampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), bantuan pulsa bagi anak-anak sekolah dari keluarga yang tidak mampu setiap hari harus belajar berani/ online dan sebagainya.

Oleh karena itu, Presidium Hubungan Antar Umat Beragama PMKRI Cabang Kupang, Allexander Sandros ingin menyatakan bahwa janganlah membuat kita lemah iman, egois, patah semangat dan kehilangan solidaritas. Justru saat inilah kita umat Katolik harus bangkit dengan sikap bijaksana dan tetap dapat menjadi garam dan terang bagi bangsa Indonesia serta dunia. Marilah kita senantiasa tetap berdoa agar wabah penyakit ini segera berakhir, agar kehidupan kita kembali normal seperti sebelum wabah ini melanda dan semoga iman Katolik kita tetap diteguhkan.

Foto bersama PMKRI Cabang Kupang dan Fr. Maris usai Rekoleksi Iman

Kegiatan yang dilakukan pada Rabu, 23 Desember 2020 di Biara CMF, Matani Kupang dengan mengusung tema ” Natal Itu Allah Yang Terlibat Solider ” dirujuk dari perjalanan Pergerakan dan Kaderisasi PMKRI Cabang Kupang dalam situasi pandemi, hingga kita merayakan Natal nanti, ini menjadi refleksi perjalan organisasi.

Sementara, Ketua Presidium PMKRI Cabang Kupang Alfred Saunoah, menuturkan bahwa kegiatan ini sebagai bahan refleksi akhir tahun bagi anggota perhimpunan untuk menyambut kelahiran Tuhan Yesus, perjalanan kita selama ini banyak hal yang perlu kita refleksikan pada momentum ini.

Momentum Rekoleksi ini adalah bagian dari dimana kita kembali memperbaharui iman dalam masa penantian menuju kedatangan Kristus dan juga pergantian tahun. Sebagai kader gereja dan tanah air yg terlibat dan berjuang bersama kaum tertindas, kita juga perlu kembali melihat perjalanan kita selama ini. Apalagi dengan tema ini mau mengantar kita menuju kasih secara keseluruhan (cinta agape) baik dalam perhimpunan dan di luar perhimpunan, Selain itu kita perlu mewujudnyatakan Allah itu kasih dalam ensiklik pertama paus Benediktus ke XVI yaitu Deus Caritas Est atau Allah itu kasih khususnya dalam artikel ke 29.

Kasih yang disampaikan oleh Carl Menninger adalah Cinta menyembuhkan orang, baik mereka yang memberi ataupun yang menerimanya, pada kesempatan rekoleksi yang dipimpin oleh Frater  Marsi, kita mendalami Allah adalah kasih ( 1 Yohanes 4:7-21), kasih menurut ajaran Kristus sendiri yakni kasih itu perintah, kasih itu pilihan, kasih itu tindakan dan kasih itu adalah komitmen.

Fr. Maris memaparkan, hubungan kita dengan Tuhan sangat dipengaruhi oleh hubungan kita dengan orang lain. Jikalau kita berkomitmen untuk mengasihi dan tetap mengasihi orang lain, maka kasih yang kita punya itu menyatu dengan kasihnya Tuhan. Saat itulah Tuhan akan tetap tinggal bersama dengan kita, karena Tuhan itu adalah kasih itu sendiri.

Karena Kasih itu pulalah melahirkan sebuah kedamaian, kesuksesan. Kesuksesan itu dilihat bukan dari seberapa banyak yang kita dapatkan melainkan seberapa banyak yg kita keluarkan.(*)

Foto (*/istimewa)

Sahabatku Dari Bandung, Kang Dudung

154 Views

Oleh: Rudi S Kamri

Rabu, 16 Desember 2020, saya berkesempatan bertemu Dharmawangsa-1 alias Panglima Kodam Jayakarta, Mayjen TNI Dudung Abdurrachman. Saat masuk di ruang tamunya, beliau sudah menunggu. Beliau menyapa saya dengan sangat ramah seolah kami sahabat lama, padahal ini perjumpaan pertama kami berdua.

“Saya selalu melihat penampilan Mas Rudi di Kanal Anak Bangsa TV dan selalu membaca tulisan Mas Rudi. Keren dan sangat mengedukasi masyarakat,” kata beliau membuka percakapan sambil mengacungkan jempol.

Jujur saya tersanjung dan tersipu. Apalah saya ini, sehingga tulisan dan opini saya sempat dinikmati seorang Pangdam yang paling populer se-Indonesia Raya saat ini. Lalu laiknya kawan akrab, kami mengobrol seru. Beliau bercerita tentang isu aktual yang terjadi sebulan terakhir. Mulai dari perintahnya membabat habis semua baliho di seluruh Jakarta, sampai dukungan penuh kepada Polri khususnya Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Fadil Imran yang selalu memanggilnya dengan sebutan ‘abang’.

Semua diceritakan dengan mata berbinar- binar penuh semangat plus dengan body language yang dinamis.

“Mas Rudi, Panglima Besar Jenderal Sudirman memimpin gerilya melawan tentara Belanda saat umur beliau 34 tahun, masak saya tentara umur sudah 55 tahun, nurunin baliho aja gak berani,” ujarnya dengan serius.

Saya bilang kepada beliau:
“Tahu gak Mas Jenderal, keberanian Mas Jenderal menurunkan baliho MRS, disambut suka cita seluruh masyarakat Indonesia khususnya Jakarta. Kami merasa negara kembali hadir setelah selama empat hari (10—14 November 2020) kami merasa kehilangan eksistensi negara dan hal itu secara psikologis mengangkat moral kami untuk kembali semangat menjaga NKRI,” ujar saya.

Beliau takzim mendengar

“Negara tidak boleh kalah sama ormas radikal, Mas Rudi. Memang dia siapa berani mengacak-acak peraturan negara? Memang dia siapa, merasa bebas melecehkan Presiden, TNI dan Polri serta seenaknya mengancam orang? Saya akan babat habis siapa pun yang memecahbelah bangsa ini,” ujarnya tegas sambil memperlihatkan beberapa video ujaran kasar MRS.

“Gak khawatir dianggap terlalu berani, Mas Jenderal?” tanya saya menggoda.

“Lah Mas Rudi aja berani mengecam dia, apalagi saya tentara,” ujarnya sambil tertawa.

“Saya hanya taat pada perintah pimpinan saya dalam hal ini, KSAD, Panglima TNI dan Presiden, Mas. Selama usaha saya menjaga keamanan Jakarta direstui atasan saya, saya akan terus hajar siapa saja yang mengganggu kebinekaan Indonesia, Pancasila dan NKRI,” tegasnya dengan berapi-api.

Itulah sekilas pembicaraan saya dengan sahabat baru saya Pangdam Jaya, Mayjen TNI Dudung Abdurrachman. Tidak semua pembicaraan saya dengan beliau bisa saya tulis di sini untuk konsumsi publik. Karena menyangkut strategi dan rencana aksi untuk melawan radikalisme dan intoleransi. Tapi jujur, saya menjadi sangat bangga punya pelindung NKRI seperti Mas Jenderal Dudung.

Beliau juga bercerita tentang masa kecil dan remaja yang penuh perjuangan saat menjadi tulang punggung keluarga setelah ditinggal wafat ayahanda di usia 12 tahun. Beliau harus berjualan klepon dan menjadi loper koran di Bandung sebelum berangkat ke sekolah.

“Dari pengalaman masa kecil yang penuh perjuangan itu membuat saya tergerak ingin selalu mengabdi untuk melindungi masyarakat dengan sebaik-baiknya,” pungkas Jenderal kelahiran Bandung, 19 November 1965.

Saya tertegun. “Mas Jenderal, kiprah panjenengan, menginspirasi dan mempersatukan semangat kami rakyat sipil untuk berani bersuara melawan kelompok ormas radikal yang berlindung di balik jubah agama. Dan jujur keberanian Mas Jenderal saya rasa juga memompa semangat Kapolda Metro Jaya untuk berani tegas menegakkan marwah hukum. Jadi tugas Kapolda Metro Jaya akan lebih mudah, karena didukung penuh Pangdam Jaya,” ujar saya.

“Siap Mas Rudi, saya hanya menjalankan amanah yang diberikan pimpinan kepada saya. Tapi tetap terus dibantu dengan narasi dan opini Mas Rudi ya,” kata beliau.

Siap Mas Jenderal. Selanjutnya saya dipamer video suara emas beliau saat bernyanyi. Suaranya sangat bagus dan kebetulan kami punya penyanyi favorit yang sama: Didik Kempot. Kapan-kapan kita harus nyanyi bareng Mas Jenderal, lagu “Pamer Bojo”. Dan akan lebih afdal kalau nanti saya sudah ketemu bojo yang bisa saya pamerin. Beliau tertawa tergelak…..

Pertemuan kami cukup singkat, karena beliau sudah ditunggu Kapolda Metro Jaya di ruang tamu bawah. Kami berpisah untuk segera bertemu lagi untuk wawancara lebih panjang melalui channel TV Youtube saya Kanal Anak Bangsa.

Selamat bertugas Mas Jenderal, Gusti Allah selalu menjaga dan melindungimu.(*)

Generasi Muda dan Bela Negara

287 Views

Oleh : Warsito hadi – APN Kemhan

Pesatnya kemajuan dan perkembangan Iptek mendorong cepatnya perubahan di era globalisasi sangat mempengaruhi pola dan pemikiran bagi generasi muda menghadapi setiap tantangan, hambatan dan ancaman dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan (ipoleksosbudhankam). Maka, perlu disiapkan generasi muda yang dapat menghadapi dan mengantisipasi perubahan tersebut.

Oleh karena itu, perlunya pemahaman terhadap bela negara. Di mana pemahaman bela negara bagi generasi muda diharapkan dapat meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan, baik di lingkungan pendidikan, lingkungan kerja dan maupun di lingkungan masyarakat.

Apa Itu Bela Negara ?

Bela Negara adalah tekad, sikap, dan perilaku warga negara yang dilakukan secara teratur, menyeluruh, dan terpadu serta dijiwai oleh kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Dasar hukum atau undang-undang tentang upaya bela negara yaitu: pertama, Pasal 27 ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa semua warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Kedua, Pasal 30 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.

Tujuan bela negara, di antaranya mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara; melestarikan budaya; menjalankan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945; Berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara; Menjaga identitas dan integritas bangsa/ negara. Sedangkan fungsi bela negara, yakni mempertahankan negara dari berbagai ancaman; Menjaga keutuhan wilayah negara merupakan kewajiban setiap warga negara dan sebagai panggilan sejarah.

Nilai-nilai dasar bela negara yakni; Cinta Tanah Air; Kesadaran berbangsa dan bernegara; yakin akan Pancasila sebagai ideologi negara; rela berkorban untuk bangsa dan negara; memiliki kemampuan awal bela negara. Cinta tanah air, sebagai perasaan yang timbul dalam hari sanubari seseorang warganegara untuk mengabdi, memelihara, menjaga dan melindungi tanah air Indonesia dari berbagai ancaman, dengan mewujudkan menjaga tanah serta wilayah NKRI; bangga sebagai bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman budaya, suku, agama dan adat istiadat yang tersebar seluruh wilayah Indonesia; mencintai produk dalam negeri dengan cara membeli produk lokal; menjaga nama baik bangsa dan negara Indonesia serta memberikan kontribusi pada kemajuan bangsa dan negara.

Kesadaran berbangsa dan negara di mana sikap dan perilaku harus sesuai dengan kepribadian bangsa dengan memiliki kesadaran keberagaman budaya, suku, agama, bahasa dan adat istiadat dalam wadah NKRI; menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara sesuai aturan dan undang-undang; berpikir, bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara; mengenal keragaman individu di rumah dan lingkungan dengan menyadari keragaman terdapat banyak perbedaan dalam segala bidang harus disyukuri karena sudah menjadi ketetapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Setia pada Pancasila sebagai ideologi negara di mana kebenaran Pancasila sebagai ideologi negara telah disepakati sebagai falsafah negara dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam mencapai tujuan nasional dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945, dengan cara memahami nilai-nilai dalam Pancasila yang terkandung dalam butir-butir Pancasila; mengamalkan nilai Pancasila dalam kehidupan yang tercermin dalam sikap dan perilaku; menjadikan Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan negara, di mana menekankan serta menjunjung tinggi persatuan bangsa bahwa Pancasila juga sebagai alat pemersatu bangsa; senantiasa mengembangkan nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia dan disahkan sebagai dasar negara merupakan kesatuan utuh nilai-nilai budi pekerti dan moral; setia pada Pancasila dan yakin sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Rela berkorban untuk bangsa dan negara sebagai sikap dan perilaku secara ikhlas mendahulukan kepentingan bangsa dan negara dari kepentingan pribadi, bersedia mengorbankan waktu, pikiran dan tenaga demi kemajuan bangsa dan negara; siap membela bangsa dan negara dari berbagai ancaman dan gangguan dari dalam dan luar; memiliki kepedulian keselamatan bangsa dan negara; memiliki jiwa patriotisme terhadap bangsa dan negara dengan sikap yang berani, pantang menyerah dan rela berkorban; serta mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Memiliki kemampuan awal bela negara baik fisik dan non fisik, merupakan kemampuan mental dan fisik dalam menghadapi ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan meliputi kecerdasan, pemeliharaan kesehatan jiwa dan raga, keuletan dan pantang menyerah, pembinaan jasmani dan rohani serta berkemampuan dalam keterampilan yang mengubah sesuatu menjadi lebih bermakna dan bernilai.

Generasi Muda dan Bela Negara

Sejarah dan literatur menuturkan lunturnya rasa nasionalisme/kebangsaan bagi generasi muda disebabkan beberapa faktor antara lain; faktor Internal: kinerja dari pemerintahan jauh dari harapan, sehingga membuat para generasi muda kecewa; adanya kasus korupsi, penggelapan uang negara, dan penyalahgunaan kekuasaan oleh para pejabat negara. Sikap keluarga dan lingkungan tidak mencerminkan rasa nasionalisme, sehingga para generasi muda meniru sikap tersebut. Demokratisasi yang melewati batas etika dan sopan santun dan maraknya unjuk rasa, menimbulkan frustrasi di kalangan pemuda dan hilangnya optimisme, sehingga yang ada hanya sifat malas, egois dan, emosional. Tertinggalnya Indonesia dengan negara lain dalam aspek kehidupan, membuat generasi muda tidak bangga lagi menjadi bangsa Indonesia. Timbulnya etnosentrisme menganggap sukunya lebih baik dari suku lainnya, membuat para pemuda lebih mengagungkan daerah atau sukunya daripada persatuan bangsa.

Sedangkan faktor eksternal, derasnya globalisasi berimbas pada moral generasi muda lebih suka dan bangga kebudayaan negara lain sehingga memakai batik atau baju yang sopan yang mencerminkan budaya bangsa Indonesia kurang diminati, tidak sedikit generasi muda sekarang dikuasai oleh narkoba dan minum-minuman keras, sehingga sangat merusak martabat bangsa Indonesia. Arus globalisasi memudahkan berbagai paham liberalisme, egosentris, konsumerisme dan sebagai dianut negara luar berdampak pada generasi muda seperti sikap individualisme yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan sekitar dan sikap acuh tak acuh pada pemerintahan. Paham seperti ini akan membuat rasa persatuan semakin berkurang sehingga membuat bangsa ini mudah dihancurkan dan diadu domba oleh bangsa lain.

Dalam rangka menanamkan rasa bela negara perlu pemahaman secara literasi bagi generasi muda baik dilingkungan pendidikan, lingkungan kerja dan lingkungan pemukiman melalui sosialisasi, penataran, kurikulum pendidikan serta konten media sosial (medsos) yang berisi ketahanan nasional, wawasan kebangsaan dan sebagainya yang terus menerus, sehingga dapat membawa perubahan pemikiran dan perilaku bagi generasi muda.

Manfaat didapatkan dari pemahaman bela negara bagi generasi muda antara lain memahami Bineka Tunggal Ika; menghormati simbol-simbol kenegaraan atau bangsa. Bangga dengan produk budaya sendiri, membentuk sikap disiplin, aktivitas, dan pengaturan kegiatan lain; membentuk jiwa kebersamaan dan solidaritas; membentuk mental dan fisik yang tangguh; menanamkan rasa kecintaan dan patriotisme; melatih jiwa leadership dalam memimpin diri sendiri maupun kelompok; membentuk iman dan taqwa pada agama, berbakti pada orang tua, bangsa, agama; melatih kecepatan, ketangkasan, ketepatan individu dalam melaksanakan kegiatan; menghilangkan sikap negatif seperti malas, apatis, boros, egois, tidak disiplin; dan membentuk perilaku jujur, tegas, adil, tepat, dan peduli antar sesama.

Namun yang lebih penting dilakukan pemerintah adalah memberikan keteladanan para pemimpin dan penyelenggara negara serta tokoh masyarakat dan agama dalam sikap dan perilaku yang mempunyai nilai-nilai dasar bela negara, serta melaksanakan pembangunan yang adil dan merata demi kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia.(*)

Potret Guru Perempuan dari Flores Timur, Mengenal Ibu Helmi Tukan

2.195 Views

Oleh: Juan Kromen

Sosok muda nan energik, lincah, dan murah senyum ini seperti perempuan-perempuan Lamaholot pada umumnya. Tentu saja, Ibu Helmi, demikian ia biasa disapa oleh anak-anak didiknya juga adalah seorang perempuan yang tangguh. Guru Sekolah Dasar (SD) ini lahir dari keluarga Tukan-Waibalun, pada 29 Juni 1982 dengan nama lengkap Elisabet Wilhelmina Jawa Tukan.

The more you praise and celebrate your life, the more there is in life to celebrate” (Semakin Anda memuliakan dan merayakan hidup Anda, semakin banyak pula hal yang ada dalam hidup untuk dirayakan), demikian kata Oprah Winfrey dalam suatu kesempatan. Ibu Helmi rupa-rupanya mengamini juga nukilan di atas. Betapa tidak, liku-liku dalam kehidupannya disyukuri sekaligus dirayakan sebagai bagian dari proses untuk menempa diri; menjadi pribadi yang lebih baik. Semuanya ia refleksikan dalam bingkai penyelenggaraan ilahi – In Dei Providentia!

Ibu Helmi juga pribadi yang terbuka, ekspresif, dan blak-blakan. Ia pernah merasa gagal ketika kuliahnya terhenti. Di usia yang masih muda, ia melangkah ke jenjang pernikahan. Kini, bersama sang suami tercinta, Arnold Kromen, mereka dikarunia lima orang anak. Hidup memang penuh dengan kejutan. Seiring waktu bergerak maju, pengalaman-pengalaman yang telah lewat adalah guru terbaik yang senantiasa mendewasakan.

Ibu Helmi tak patah arang dalam hal pendidikan. Ia bahkan terpacu untuk meneruskan kuliahnya yang sempat putus. Pendidikan baginya adalah sarana yang membebaskan; bebas dari belenggu kebodohan, bebas dari stereotipe/label perempuan dalam kungkungan budaya Patriarki yang masih bercokol kuat, dan yang paling penting, seorang ibu juga harus mendapat ‘asupan yang bergizi’ untuk isi kepalanya.

Pose bersama warga belajar paket kesetaraan di Desa Nayubaya, Adonara

Bagaimana seorang ibu mampu mempersiapkan anak-anaknya dengan baik jika akses pendidikannya terbatas, sedang ‘sekolah pertama’ adalah di rumah? Tanpa mengesampingkan dan mengecilkan peran ayah, seorang ibu pun wajib mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sinergi dan atau kolaborasi dari ayah dan ibu yang seimbang dalam rumah tangga, tentu membantu anak agar lebih matang dalam sosialisasinya dengan lingkungan di luar rumah. Jadi, pendidikan dari rumah merupakan formasi awal yang menjadi fondasi bagi tumbuh-kembangnya generasi bangsa.

Dua setengah tahun kuliah di Waibalun dengan mengambil program studi PGSD, Ibu Helmi lantas mengikuti seleksi CPNS dan dinyatakan lulus. Kuliahnya pun ia tuntaskan dan lulus sebagai seorang Sarjana Pendidikan di Universitas Nusa Cendana. Sungguh, semesta benar-benar bekerja – mendukung ikhtiar dan kerja kerasnya. Mestakung: semesta mendukung!

Jika ditanyai ihwal siapa sosok yang paling menginspirasi guru muda dengan segudang kegiatan dan agenda literasi di Flores Timur ini, maka jawabannya ialah sang ibunda tercinta. “Saya selalu berpegang teguh pada pesan Mama, berpikirlah yang baik tentang orang-orang, tak perlu sibuk dengan urusan (privat) orang-orang, dan doa adalah yang pertama lagi utama dalam hidup,” demikian ia menyitir nasihat sang ibunda. Barangkali amalan akan petuah sang ibunda inilah yang menjadi kompas pengarah hidupnya.

Geliat Literasi Bersama IGI

Sebagai seorang ibu dan guru Sekolah Dasar, Ibu Helmi juga terjun dan aktif dalam organisasi yang mengakomodir aspirasi para guru, yakni Ikatan Guru Indonesia (IGI) – Flores Timur. Di dalam wadah organisasi ini, pelan tapi pasti ia mulai menimba banyak pelajaran. Guru di era digital saat ini tentu saja memiliki tantangannya tersendiri. Selain kompetensi, kreativitas juga sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar, entah itu dalam pertemuan langsung di ruang kelas, maupun secara daring akibat merebaknya virus korona.

Helmi Tukan (keempat dari kiri) saat bersama teman tutor dan peserta di Desa Waibao, Tanjung Bunga

Saat ini, sumber informasi bisa diperoleh dengan sangat mudah melalui internet. Tantangannya bagi para guru ialah, bagaimana mendidik anak sedari dini agar mampu berkembang menjadi pribadi yang kritis. Para guru mau tidak mau, harus terus memacu diri untuk meng-up grade kompetensinya, selaras dengan perkembangan zaman. Selain itu, guru sejatinya tidak hanya berperan sebagai pengajar tetapi lebih dari itu sebagai pendidik. Sebagai pendidik, ia wajib menanamkan nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan pembentukan karakter dan budi pekerti kepada para peserta didik. Ini merupakan tanggung jawab besar yang diemban oleh para guru.

Di dalam wadah IGI, Ibu Helmi pelan-pelan belajar berorganisasi dan memanejemen suatu kegiatan. Seiring berproses di IGI, ia akhirnya dipercaya untuk membidani Gerakan Literasi Sekolah (GELIS). Salah satu agenda GELIS ialah melakukan sosialisasi tentang pentingnya literasi (dan numerasi) di sekolah-sekolah, baik di kota maupun di desa. Bentuk konkretnya ialah dengan melakukan latihan/bimbingan menulis, menghitung, mendongeng, dan memotivasi anak-anak didik untuk mencintai buku (membaca dan berhitung).

Literasi (dan numerasi), tentu saja tidak dimaknai sekadar sebagai aktivitas membaca/berhitung tetapi harus lebih radikal daripada itu, yakni sebagai kemampuan untuk memahami, menganalisis, menulis, dan mengkomunikasikan gagasan-gagasan substansial yang ia temukan dari aktivitas membaca/berhitung. Namun, kemampuan itu tidak datang sekonyong-konyong. Ia harus dibangun dan dilatih sejak dini. Salah satu caranya ialah menumbuh-kembangkan ekosistem membaca/berhitung. Pertama-tama dengan mencintai buku dan pelan-pelan melatih anak untuk berani berbicara tanpa merasa ditekan. Literasi juga melahirkan pribadi-pribadi berpikiran kritis. Dengan demikian, persoalan-persoalan yang dijumpai dalam realitas dapat diatasi. Jadi, tujuan dari literasi pada akhirnya adalah membentuk pribadi-pribadi berkualitas, yang di kemudian hari mampu menjadi manusia-manusia pembawa solusi atas pelbagai persoalan kehidupan.

Dua tahun belakangan, Ibu Helmi dipercaya dalam struktur kepengurusan IGI. Kurang lebih setahun yang lalu, ia juga menjadi salah satu utusan IGI Flores Timur bersama Ketua dan Sekretaris untuk menghadiri Rakernas yang diselenggarakan oleh IGI Pusat di Jakarta Convention Center. Tentu saja masih banyak kekurangan dan kendala yang dijumpai dalam geliat literasi di daerah. Beberapa di antaranya ialah akses terhadap bacaan dan infrastruktur (jaringan internet) yang belum merata di daerah. Selain itu, IGI juga mendorong Pemerintah baik Pusat maupun Daerah untuk lebih memperhatikan kesejahteraan kawan-kawan guru honorer.

Helmi Tukan bersama salah satu anggota DPRD Flores Timur membuka kegiatan perdana sekolah paket kesetaraan di Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang

PKBM Watogokok: Menerabas Hingga Pelosok

Berbekal pengalaman berorganisasi yang ia dapatkan dari IGI, Ibu Helmi kemudian menginisiasi terbentuknya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Wato Gokok, yang saat ini bersekretariat di Balai Desa – Waibalun. Inisiatif ini dilatari oleh empati dan kepedulian Ibu Helmi akan nasib orang-orang muda Flores Timur yang putus sekolah, juga warga desa yang bertekad untuk mendapatkan ijazah kesetaraan. Dari lingkaran IGI pula, Ibu Helmi membangun jejaring dan kerja kolektif bersama para Kepala Desa untuk memberikan layanan pendidikan non formal. Tenaga-tenaga guru di desa didorong untuk menjadi tutor lokal di desa mereka sendiri bagi sesama warga desa, demi menurunkan angka putus sekolah.

Selain itu, warga desa juga dibekali dengan keterampilan seperti pengolahan sampah. Pendekatan berbasis kearifan lokal pun dikedepankan. Ada beberapa bidang kerja dari PKBM Wato Gokok, di antaranya ialah: 1). Bidang Pendidikan Kesetaraan; 2). Bidang Literasi; 3). Bidang Pelestarian Kebudayaan; 4). Bidang Pengolahan Sampah. Diharapkan sinergitas antara ke-empat bidang ini agar geliat perekonomian pun bisa tumbuh dan berdampak pada kehidupan masyarakat desa.

Program-program seperti ini juga diharapkan mampu membangkitkan potensi desa dalam konteks kebudayaan (kearifan lokal). Desa-desa di Flores Timur merupakan lumbung kebudayaan yang sangat kaya, baik itu fisik dan non-fisik. Usaha-usaha kreatif dan inovatif PKBM Wato Gokok ini perlu didukung sebagai ikhtiar untuk membangun Lewotana tercinta. Sudah saatnya orang muda dengan inisiatif dan semangat berkarya seperti ini ditampilkan untuk menginspirasi lebih banyak lagi orang muda. Di mana-mana, orang-orang muda dikenal sebagai pionir perubahan dan agen perubahan (the agent of change).

Helmi Tukan bersama rekan wanita pegiat literasi mengelilingi Flores Timur

Ibu Helmi telah menunjukkan, di sela-sela tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu dan guru, ia mampu membagi waktunya bagi ata ribu ratu. Di tengah cengkeraman pandemi, perempuan hebat ini tetap berkarya untuk Lewotana. Tentu saja masih banyak kendala dan kekurangan di sana-sini. Namun demikian, semangat berbagi inilah yang patut kita timba. Semoga makin banyak anak Lamaholot yang bergerak untuk perubahan.

Menutup tulisan ini, ada sebuah kutipan menarik dari Ruth Bader Ginsburg, seorang pejuang kesetaraan gender dan hak-hak perempuan, yang juga adalah seorang Hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat. Ia meninggal beberapa hari yang lalu. Ia pernah mengatakan, “Women belong in all places where decisions are being made… It shouldn’t be that women are exception” (Perempuan berada di tempat di mana banyak keputusan dibuat… Perempuan tak seharusnya jadi pengecualian). Salut untuk kerja-kerja koraboratif Ibu Helmi Tukan bersama tim.

Tetap mendebur !

Rehula dan Lewotana merestui.

Pater Gregorius Neonbasu : “Allah, Alam, dan Arwah Itu Satu Kesatuan”

1.455 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Antropolog Budaya Pater Gregorius Neonbasu SVD, PhD. mengemukakan bahwa ia membutuhkan orang-orang untuk terlibat dan memastikan keberadaan makam Sobe Sonbai III. Dari menggunakan media mimpi dari cucu Sobe Sonbai III, bantuan para tetua adat untuk melakukan kontak supranatural hingga berujung pada tanda alam, maka pada tahun 2016; melalui prosesi ritual adat unik dan melibatkan dirinya dan Dr. Sulastri Banufinit (cucu Sobe Sonbai III sekaligus antropolog), Pusara Raja Sobe Sonbai III berhasil ditemukan.

Baca juga: https://gardaindonesia.id/2020/08/22/pusara-sobe-sonbai-iii-ditemukan-vbl-dukung-jadi-destinasi-budaya/

“Saya pikir semua itu, istilah bahu-membahu sampai menemukan itu. Tanpa mereka, itu sulit. Karena saya membutuhkan mereka,” ungkapnya kepada Garda Indonesia pada perayaan mangkatnya Raja Sobe Sonbai III ke-98 yang dilaksanakan di Sonaf Nai Me, Fontein Kota Kupang pada Sabtu, 22 Agustus 2020.

Antropolog Budaya dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang tersebut pun menegaskan kadang-kadang ada yang datang dengan visi yang berbeda, itu tidak menjadi soal intinya terlibat dalam proses menemukan makam Sobe Sonbai III.

Macam Sonbai juga punya pemikiran lain, imbuh Gregorius Neonbasu, Jadi it takes time, alam yang membuat. “Saya memang percaya kosmos kuat. Alam hadir begini yang tidak setuju jadi setuju. Kalau saya bicara semacam doa tadi, itu tadi saya belum omong lain. Kalau saya bicara lain, ini untuk kamu orang Timor,” tuturnya.

Rumah Adat (Lopo Tobe) Suku Funan di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten TTU

“Alam, Arwah dan Allah dalam teori sistem itu satu kesatuan. Ada satu istilah yang bilang ‘Extra Mundum Nulla Salus’, artinya tanpa dunia tidak ada keselamatan. Dunia ada baru Yesus datang untuk menyelamatkan manusia,” ungkap rohaniwan Katolik ini.

Tambah Pater Gregorius Neonbasu, “Arwah ini, setelah meninggal berada di sekitar Allah, mereka bantu manusia supaya hidup selaras dengan alam. Itu ada istilah latin ‘Serva Ordinem Et Servabit Te’, artinya peliharalah alam supaya alam memelihara engkau,” urainya.

Jadi, tandasnya, ekologi dan ekosistem kita sekarang ini rusak, karena kita memakai sistem lain bukannya sistem natural. “Karena itu Allah, Alam dan Arwah itu tiga serangkai yang tidak bisa dipisahkan,” tegas Pater Gregorius Neonbasu.

Lanjutnya, Sekarang kalau mau berbicara seperti itu dan bandingkan dengan tradisi kita, jangan pikir bahwa kita dulu tidak kenal Allah. “Itu tidak benar !, kita dulu sudah kenal. Itu tanda bahwa orang kita percaya bahwa Allah, Alam dan Arwah sebagai mediator.” pungkasnya.

Manifestasi Allah, Alam, dan Arwah bagi Orang Timor

Manifestasi keterkaitan antara Allah, Alam dan Arwah, diterapkan oleh masyarakat suku Timor di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dalam ritual adat dengan wadah berupa Kayu Tuhan atau Ha’u Monef. Kayu berukuran diameter relatif dengan tinggi sekitar 50—100 cm tersebut, memiliki tiga cabang dengan tinggi berbeda.

Ha’u Monef di salah satu rumah warga Desa Naiola

Satu cabang utama dari Ha’u Monef (tertinggi,red) merupakan manifestasi dari Allah, cabang kedua agak rendah sebagai manifestasi Alam, dan cabang ketiga (terendah) sebagai manifestasi Arwah, dan semua cabang tersebut berada dalam satu batang pohon sebagai simbol satu kesatuan utuh.

Seperti dituturkan oleh Tetua Adat Desa Naiola di Lopo Tobe Funan, Kecamatan Bikomi Selatan, Fransiskus Kunsaol Funan (91) pada Senin, 7 September 2020 (dengan Bahasa Daerah Timor dan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia), menguraikan Ha’u Monef merupakan kekuatan bagi orang Timor. “Tiga cabang dari Ha’u Monef itu sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” urainya seraya menyampaikan jika dalam kondisi tertentu misalnya mengalami kekurangan, Ha’u Monef sebagai media.

Serupa, Kepala Desa Naiola Gabriel Funan selaku keturunan dari Suku Funan yang mendiami Lopo Tobe Funan (rumah adat, red) kepada Garda Indonesia pada Minggu, 13 September 2020, menguraikan tentang tiga cabang Ha’u Monef sebagai manifestasi dari Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. “Di antara ketiga cabang kayu tersebut, terdapat batu sebagai wujud dari arwah nenek moyang yang bersemayam di situ,” bebernya.

Menurut Gabriel Funan, saat ini, batu tersebut digunakan sebagai wadah untuk menyalakan dan menempatkan lilin di situ. “Wujud dari seluruh nenek moyang kita di situ, dan melalui tutur adat oleh Tetua Adat ke Apinat Aklat (Allah, red), kemudian turun ke leluhur bahwa mereka yang telah meninggal yang dekat dengan Allah, menjadi pendoa bagi kita yang masih berziarah atau hidup di dunia,” urainya.

Mengenai keberadaan Ha’u Monef hanya berada dan dipasang di rumah orang tua dari suku dan atau dipasang di rumah adat (Lopo Tobe).

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Cinta dan Amarah pada Coretan Lembar Diari Terakhir

413 Views

Oleh : Lejap Yulianti Angelomestius, S. Fil.

“Anakku…. Tidak puaskah engkau dengan cintaku, tidak cukupkah engkau dengan pengorbananku? Cinta saat mengandung dan melahirkanmu. Berkorban saat merawat dan membesarkanmu.

Apakah aku terlalu jelek untuk kau pandang, dan terlalu jijik untuk kau dekati sebagai ibu? Ataukah aku terlalu rewel untuk kau dengar dan terlalu hina untuk kau kasihi sebagai mama?

Ketika engkau masih kanak, kita punya banyak pengalaman yang menggairahkan untuk di kenang. Kau anakku yang pertama, di mana aku pertama kalinya merasakan sakitnya bersalin. Sakit itu tidak ‘ku peduli tetapi justru membuat aku sangat bahagia dan mencintaimu. Bahkan karena cinta, aku seakan melawan lupa di setiap semua usilmu saat aku lelah.

Masih jelas dalam ingatanku, meski kini aku telah beruban, bahwa di setiap malam kita selalu punya waktu untuk bercerita tentang Tuhan. Dan di saat aku bercerita tentang kebaikan Tuhan itu, engkau selalu berlaku tenang dalam mendengarkan. Bahkan sambil memeluk tubuhku dengan sedikit mendongakkan kepalamu menampilkan tatapan polosmu matamu. Kau pegiat cerita tutur.

Pernah di suatu malam, aku mencoba menggantikan cerita Tuhan dengan cerita dongeng. Eh… kamu malah protes dalam tangis, memukul wajahku dengan gemas, berharap aku harus bercerita hanya tentang Tuhan. Aku terpaksa mengalah dan memulai cerita tentang Tuhan. Kau mendengar cerita itu dengan serius sampai tertidur pulas dengan wajah cantik di dadaku setelah ‘ku tutup dengan kisah pengkhianatan Yudas pada Tuhan.

Kau begitu lucu sayang, begitu manja, dan juga pintar.

Ketika engkau tumbuh dewasa, aku selalu berharap dalam doa agar kamu menjadi anak yang takut akan Tuhan: selalu patuh, dan berbakti pada orang tua. Semuanya itu terus ‘ku lakukan dalam petuah dan nasihat. Bahkan sampai ayahmu telah berpulang pada Sang Ilahi, sampai detik ini di mana kamu telah menganggap aku sampah dan tiada.

Mmmmm…. maafkan aku sayang, aku tidak ingin kita bertengkar melalui curahan ini. Aku hanya mau berbagi cerita. Apakah kamu masih mau mendengarkan aku seperti yang dulu, ketika aku bercerita tentang Tuhan? Apakah kamu masih ingin kita tertawa bersama seperti di meja makan saat kamu harus melahap lengkuas yang disangka daging di malam itu?

Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu kecewa, setelah sertifikat tanah warisan ayah kau balik nama menjadi milikmu dengan cara curang, setelah niatmu mempermalukan dan menakuti ibu dengan membawa polisi dan pengacara untuk memuluskan niat busukmu akhirnya kugagalkan. Mengapa kau gunakan polisi dan pengacara yang gila oleh status dan tumpul dalam nurani. Apakah kalian telah bersekongkol dengan dengkul dan rupiah?

Ah…. Itu terlalu murah dan tumpul dalam kecerdasan rasa dan pikiran!

Tetapi itu tidak penting sayang. Yang terpenting adalah aku ingin kita bercerita dan tertawa bersamamu seperti yang dulu. Engkau memanggil aku mama dan aku memanggil engkau sayang.

Dengan deraian air mata, dan luka yang tertusuk di hati, Glory akhirnya menghentikan coretan penanya. Perempuan separuh tua itu menengadah menatap kejauhan langit tak berbintang di Kota Atambua. Dingin, sunyi tak lagi dihiraukannya. Ia seakan tak bosan pada kegairahan menatap sang jauh.

Memang di saat itu, Tuhan seakan membiarkan dia tersakiti oleh cinta dan amarah: cinta kepada anak darahnya yang terus mengalir, dan marah terhadap sikap penghianat putri sulungnya yang berhati buntung. Masakan seorang anak rahim rela datang dengan pengacara dan polisi, meminta kepada ibu kandung mengatakan salah pada kebenaran dan menyebut tidak sebagai keluarga?

Tangannya masih memegang kuat pena, seakan menjadi pengontrol pada sisi diri yang cemburu. Hatinya seakan berusaha menggerakkan tinta di pena tuk ungkapkan rasa cinta di hati dalam diarinya. Dengan kuat hati, sekali ia menyebut nama Tuhan dan cinta, tangannya kembali lincah menoreh kata pada barisan terakhir lembaran akhir diarinya…

”Cinta itu seperti malam gelap, yang cahayanya lebih terang dari pada fajar, menuntun engkau ke tempat di mana tak seorang pun tahu. Dan di sana, di tempat itu, hanya ada damai yang utuh menjadi keyakinanmu, dan ada jiwa yang tenteram terpatri imanmu. Cinta itulah yang menuntun aku tuk memiliki walaupun di sakiti, tuk mencintai walau ditolak, dan tuk merindukan walau pun tidak dianggap. Cinta itu meninggalkan doa dan harap di jiwa pada anak darahku yang telah kehilangan cinta.”

Tuhan, seandainya memiliki dia adalah dosa biarlah aku menanggung segala kutukan, seandainya mencintai dia adalah salah izinkanlah aku menanggung segala perkara, dan seandainya merindukan dia adalah hal yang tabu, biarlah rindu ini menjadi batu.

Setelah lembaran diari terakhirnya tertulis penuh, ia akhirnya lebih kuat bangkit berdiri meninggalkan letih lesu dalam raga di ranjang. Sebuah bantal kapuk peninggalan suami dipeluknya erat, dan ia pun terlelap dalam tidur dengan jiwa yang merdeka.(*)

Foto utama oleh pixabay

Ketika VBL Bangkitkan Optimisme Rakyat Flores

292 Views

Oleh : Valeri Guru

Satu pekan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) bersama sejumlah pejabat penting bersafari keliling ke kabupaten-kabupaten di Pulau Flores bagian barat, mulai dari Labuan Bajo hingga berakhir di Kota Pancasila, Ende. Ada spirit besar yang digelorakan VBL di setiap titik pertemuan bersama rakyat.

Ia mau membangkitkan rasa optimisme rakyatnya di Flores Barat, untuk tetap bersinergi dan bersatu dalam spirit NTT Bangkit, NTT Sejahtera.

Senin, 22 Juni 2020, Gubernur VBL memulai safari pembangunan yang dikemas dalam kunjungan kerja di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Dari bumi Komodo itu, VBL kembali mempertegas komitmennya untuk menjadikan pariwisata sebagai prime mover pembangunan NTT. Dalam spirit Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium, Gubernur VBL perlahan membenahi Labuan Bajo.

Hal pertama yang dilakukan adalah menertibkan tanah milik Pemerintah Provinsi NTT di Pantai Pede, yang akan dijadikan hotel dan area publik. Semua itu harus dikelola berbasis ekologis yakni, membangun disesuaikan dengan lingkungan. Tidak boleh ada pohon yang dirusak. VBL malah mengingatkan agar bangunan hotel di bibir Pantai Pede, harus jauh lebih bagus dan representatif, dari bangunan hotel lain di kawasan tersebut. Tentu, desain pun harus lebih wah, sehingga wisatawan pun akan merasa at home dan nyaman. Prinsipnya, pembangunan pariwisata harus berbasis masyarakat.

Dari Pantai Pede, VBL berkeliling melihat Pulau Padar dengan speed boat untuk memastikan bahwa kawasan itu kembali menggeliat dan sudah bisa dikunjungi wisatawan di era normal baru setelah tiga bulan sepi karena pandemi corona. Menariknya, dari Labuan Bajo pula VBL mengingatkan semua stakeholder bahwa untuk membangun NTT harus dimulai dengan riset; harus dengan perencanaan yang matang-baik.

Sebab, mengutip para pakar, bahwa kalau perencanaan baik dan benar, maka laba 50 persen sudah ada di tangan. Karena itu, dalam pelaksanaannya pun harus benar dan konsisten, sehingga VBL meyakini akan terjadi loncatan-loncatan besar dan signifikan untuk kemajuan pembangunan di NTT. Setiap pemimpin, menurut VBL, harus bisa meninggalkan karya besar dan karsa yang akan selalu dikenang oleh masyarakat.

Di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Gubernur VBL “bersilaturahmi” dengan Mgr. Siprianus Hormat, Pr. Di hadapan Mgr. Sipri, VBL menegaskan kehadirannya dalam konteks pelayanan kepada masyarakat. Bagi VBL, kehadiran Mgr. Sipri membawa energi baru dalam membangun NTT.

Dalam konteks ini, VBL mengingatkan bahwa masalah serius di Provinsi NTT selama ini adalah seolah-olah kita bekerja; seolah-olah kita orang baik. Kita kerja seolah-olah kita pintar. Padahal, masyarakat terjebak di dalam keterbatasan pengetahuan. Karena itu, butuh perencanaan yang baik untuk membangun NTT. Butuh energi bersama untuk membangun NTT. Pun, perlu desain bersama antara gereja dengan pemerintah.

Gayung pun bersambut. Mgr. Sipri tegas menyatakan bahwa Keuskupan Ruteng senantiasa mendukung pembangunan manusia NTT yang utuh dan menyeluruh meliputi penguatan aspek mental dan kerohanian. Artinya, menurut Uskup Ruteng, gereja berkontribusi secara khas untuk menguatkan dan mengembangkan aspek etis spiritual dari kehidupan manusia dan masyarakat NTT. Gereja selalu siap membantu dan mendoakan Bapak Gubernur VBL dalam mewujudkan NTT Bangkit NTT Sejahtera.

Di Lawara, Kecamatan Reok TPI Reo, Kabupaten Manggarai, pada Rabu 24 Juni 2020, VBL lagi-lagi berkata tegas bahwa tugasnya sebagai gubernur adalah membawa kesejahteraan rakyat NTT.

Tidak pernah ada kata takut dalam diri VBL. Kalau ada kinerja yang baik dan positif di masa pandemi corona, pantas diapresiasi.

Sebab, VBL optimis bahwa kehadirannya atas perintah Tuhan dan rakyat NTT untuk membawa kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ia tidak ada urusan dengan yang berbeda pendapat, termasuk demo sekalipun. Yang mau demo, ya silakan, ia tidak pernah takut.

Kunker VBL kali ini lebih bernuansa wisata. Dari Labuan Bajo, VBL menyisir pantai utara Flores yang memiliki panorama yang indah, untuk memastikan bahwa infrastruktur di wilayah itu bisa dikebut untuk mendukung pariwisata. Manggarai Raya pun mendukung penuh pariwisata sebagai prime mover pembangunan NTT.

“Kami dukung program pariwisata dengan memanfaatkan sumber daya lokal sehingga masyarakat bisa dapat manfaat dari pengembangan pariwisata khususnya di Wae Rebo,” tutur Bupati Manggarai Kamilus Deno. Khusus di Wae Rebo. Menurut Deno, masyarakat telah menyediakan tanah untuk membangun home stay. “Masyarakat sudah siap tanah dan pemerintah akan bangun home stay,” kata Deno.

Tak cuma itu, VBL pun masuk sawah di Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Di sini, VBL membangkitkan optimisme petani bahwa sawah itu simbol kesejahteraan dan kehidupan. Karena itu, jika masyarakat di desa atau daerah persawahan tidak bekerja, maka hanya menunggu waktu untuk orang-orang di kota tidak berdaya atau menunggu waktu untuk mati.

Lalu, di tengah pro kontra pembangunan pabrik semen dan batu gamping di Manggarai Timur (Matim), Gubernur VBL tak bergeser dari posisi dasar; melanjutkan pembangunan itu. Bahkan, meminta Bupati Manggarai Timur Ande Agas untuk melanjutkan rencana tersebut, sembari menunggu proses Amdal-nya. Bagi VBL, jika ada pabrik semen, maka Matim akan bertumbuh luas biasa.

VBL pun amat menghargai perbedaan pandangan dalam masyarakat terkait rencana pendirian pabrik semen di Matim. “Kita semua yang pro dan kontra ikut terlibat menjaga agar Amdalnya itu bisa berjalan baik. Setelah semuanya selesai, saya harapkan pabrik semen ini bisa berjalan. Sebagai gubernur saya sudah bertemu dengan pihak-pihak dan saya sudah pergi lihat masyarakat di sekitar sana; mereka hidup selama ini dari menjual kayu api. Tapi dengan industri itu masuk dengan tetap menjaga lingkungan hidup dan pembangunan yang inklusif, kita berharap agar pembangunan pabrik semen dapat tetap menjaga lingkungan agar tidak rusak,” urai Gubernur VBL.

Di Ngada, Gubernur VBL memberi perhatian ekstra ke sektor perikanan dan kelautan. VBL melihat dari dekat budi daya sejuta Ikan Kerapu di Wae Kelambu, Desa Sambi Rasa Barat, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Ada prospek menjanjikan. Asumsinya, dari satu juta ikan kerapu di Wae Kelambu, yang gagal atau mati sekitar 300 ribu ekor, maka masih ada 700 ribu. Nah, 700 ribu ini dianggap paling murah, dijual Rp.100.000 per ekor. Itu berarti di sini ada sekitar Rp.70 miliar; hari ini, di sini. Ada optimisme.

Di Mbay, Kabupaten Nagekeo, di tengah jaringan irigasi persawahan 1 km Mbay Kanan, 27 Juni, VBL kembali mengingatkan bahwa tugas utama pemerintah adalah membebaskan rakyat NTT dari kemiskinan. Pemerintah bekerja menyejahterakan rakyatnya. Apalagi, menyelamatkan rakyat merupakan tugas mulia seorang pemimpin.

Pemimpin [versi VBL] yang bodoh dan malas tidak mungkin sanggup keluar dari box atau kotak yang mengungkung. Karena itu, dalam memimpin mulailah berpikir dan bertindak out of the box; yang penuh inovasi dan kreatif. Jangan bosan berkreasi. Karena pemimpin punya wewenang dan kekuasaan yang besar dalam berkreasi untuk membawa rakyatnya mencapai kesejahteraan.

Dalam perspektif VBL, Kabupaten Nagekeo merupakan destinasi wisata yang sangat indah dan menarik. Karena itu, benahi semua infrastruktur, sarana prasarana, dan lain sebagainya.

Di bidang pendidikan, anak-anak NTT harus memperkuat kemampuan di aspek literasi dan numerik. Harus memperkuat kemampuan anak-anak terhadap mata pelajaran bahasa (Bahasa Indonesia dan Inggris), logika dan matematika. Anak-anak NTT pun harus mengikuti berbagai kompetisi untuk meningkatkan aspek kognisi, psikomotorik dan afeksi. Sebab, di kemudian hari generasi NTT yang unggul ini akan menjadi kekuatan bangsa di dalam seluruh proses pembangunan.

Kunker VBL akhirnya tiba di etape terakhir, Kota Pancasila Ende. Di Kota bersejarah ini, tempat Bung Karno, Proklamator Bangsa, menggali nilai-nilai Pancasila, VBL memotivasi rakyat NTT untuk kokoh menjaga kemajemukan dan persatuan, dalam spirit patriotisme dan nasionalisme.

Salah satu caranya, terus mengemahkan Salam Kebangsaan khas NTT. (*)

Valeri Guru

*/Penulis merupakan Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum pada Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT
Editing (+rony banase)
Foto oleh facebook Valeri Guru