Arsip Kategori: Humaniora

Mengaliwahanakan Tradisi Tutur Ke Tradisi Lakon ‘Kae Wae Ge’

318 Views

Oleh : Kristo Muliagan Robot

Program Studi Penciptaan Seni dan Panganiban Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (Bandung)

Generasi milenial dewasa ini hanya tidur dengan selimut ibunya, tanpa mitos, legenda, fabel atau cerita rakyat yang memberikannya karakter yang tipikal (lokal dan komunal). Anak modern dikepung teknologi informasi yang begitu meluas, akut hingga merebut pesonanya sebagai anak manusia. Kesialan sosial yang paling menakutkan ialah anak kehilangan sense of human yang lazimnya didapatkan dari kitab-kitab lisan seperti mitos, legenda, fabel, cerita rakyat, atau dari bentuk-bentuk kebudayaan lainnya.

Tesis penting yang menjadi basis pemikiran ini ialah bagaimana kekayaan rohaniah (terkandung dalam mitos, legenda, fabel, dongeng) yang menjadi rujukan nilai dan karakter mulai hilang  kedaulatannya. Misalkan, android atau aplikasi berbasis internet yang telah menggantikan status  ayah dan ibu sebagai pencerita dapat mewariskan nilai-nilai peradaban kepada generasi milenial. Dalam konteks itulah, digitalisasi (menganimasikan) cerita rakyat menjadi jalan utama revitalisasi folklor ke format lakon.

Pemilihan media drama musikal  mempunyai keunggulan, karena memadukan tiga unsur seni yakni  lakon, musik dan tari dan mudah di-upload ke dalam format aplikasi. Digitalisasi melalui aplikasi internet seperti YouTube, Line, Instagram atau jenis aplikasi lainnya lebih cepat mencapai sasaran dan lebih luas wilayah publisitasnya.

Di samping itu, pustaka digital dapat dijadikan materi muatan lokal setiap jenjang pendidikan. Dengan begitu, nilai-nilai atau ajaran hidup  yang terkandung di dalamnya dapat diakses dan diamalkan  oleh siapa pun. Sebab, pewarisan melalui buku atau teks dianggap “jadul” (zaman dulu).

Tulisan ini mencoba menggarap format tuturan cerita lisan Kae Wae Ge di Kampung Taga, Desa Golo Nderu, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Cerita ini berinti dua bersaudara,  Ase (berusia 3 tahun) dan Ka’e (berusia 5 tahun) diusir ibu tiri dari rumah dan pergi jauh melewati hutan, sungai, ngarai tanpa tujuan.

Mereka hanya dibekali segumpal benang yang diwariskan ibu mereka sebelum meninggal. Satu ujung benang itu dipegang oleh Ase dan ujung lain dipegang oleh Ka’e. Benang itu yang menuntun mereka berdua, terutama adik yang mengikutinya. Ketika benang putus, sang Ase kehilangan arah, tertatih dan terlunta di hutan. Sedangkan sang kaka (Kae) melanjutkan perjalanan entah ke mana hingga puluhan tahun tidak pernah bertemu.

Namun, benang itu pulalah yang mempersatukan keduanya, ketika mereka melakukan pertarungan sabung ayam. Ase yang miskin latah dan hidup bersama seorang janda di hutan mempunyai ayam yang sangat jago dan tak terkalahkan. Ia pun diundang Raja untuk beradu ayam di Istana. Sebab, Raja juga mempunyai ayam yang sangat jago dan tak terkalahkan oleh ayam siapa pun di penjuru kota.

Tari Caci, Manggarai. Foto koleksi pribadi

Raja itu adalah Kae (Kakak). Tapi keduanya tidak saling mengetahuinya. Ayam mereka sangat jago, karena di salah satu kakinya diikat benang hitam. Benang jimat warisan ibu kandung mereka. Ketika kedua ayam itu  saling bertemu, maka pertandingan kedua ayam itu sangat alot. Keduanya sangat kuat.

Pada akhirnya, ayam sang Raja kalah dan mati. Raja marah dan malu. Ia menyuruh prajuritnya untuk menangkap dan menyekap Ase di kandang. Tidak diberi makan dan minum. Namun, setiap kali ia lapar dan haus, ia menyanyikan lagu yang pernah dinyanyikan sejak putus benang dan ditinggalkan kakaknya (Kae) di hutan. Raja sudah sering menyiksanya karena ia menyanyikan lagu itu.

Pada suatu sore, ketika matahari terbenam, Ase menyanyikan lagu itu. Raja meminta prajuritnya menyeret dia lagi ke ruang Raja. Kali ini, Raja ingin mendapatkan jawaban dari Ase. “Mengapa kau menyanyikan lagu itu?” tanya Raja.

“Ini lagu saya dan kakak saya, ketika kami dulu jalan bersama meninggalkan rumah. Setiap kali saya haus dan lapar saya meminta air dan makan dengan lagu ini kepada kakak saya. Namun, kakak saya tidak menghiraukan. Apakah kau tahu keberadaan kakakmu sekarang?” tanya Raja.

“Tidak.” sahut Ase

“Siapa nama kakakmu?” tanya Raja lagi.

Lalu jawab Ase pendek, “Kae.”

“Apa buktinya bahwa kau bersaudara dengan Kae?” tanya Raja serius.

Ase pun mengeluarkan benang dari sakunya. Sebagian benang itu diikat pada kaki ayam sebagai jimat agar ayamnya selalu menang dalam setiap pertarungan.

“Ini benang apa?” tanya Raja.

“Benang warisan ibu kami sebelum ia meninggal. Ketika saya dan kakak meninggalkan rumah, salah satu ujung benang  saya yang pegang dan ujung yang lain dipegang oleh Kae, kakak saya.” jawab Ase.

Pinta Raja, “Coba sekali lagi menyanyikan lagu itu.”

Ase pun menyanyikan lagu itu secara sungguh-sungguh.

Raja perlahan bersedih hati, ia jatuh dari kursi kerajaan. Kemudian perlahan ia siuman memeluk Ase dan mencium kakinya.

Kae menangis penuh haru sembari berkata, “akulah Kae, kakakmu yang kau cari.”

Prajurit dan penjaga istana sangat kaget.

Raja bisa takluk dan mencium kaki rakyat jelata itu.

Raja memeluk Ase dan sambil mengatakan, “kaulah adikku dan akulah kakakmu. Saya minta maaf telah menyiksamu selama ini. Ini rumah kita, ini kerajaan kita. Kita hidup bersama lagi di sini.” kata sang raja.

Benang itulah yang memisahkan Ase dan Kae, tetapi benang itu pula yang mempersatukan keduanya.

Ilustrasi Kae dan Ase, foto koleksi pribadi

Penggarapan Drama Musikal Kae Wae Ge bertujuan merevitalisasi nilai dan pesan moral cerita rakyat Kae- Wae Ge dalam  medium yang baru yang lebih akrab dengan generasi milenial. Dengan kata lain, penggarapan Drama Musikal Kae Wae Ge sebagai cara baru untuk mewariskan cerita Kae Wae Ge dalam bentuk yang lebih hidup.

Artinya, mengubah cara pewarisan dari bertutur ke bentuk gerak atau tontonan. Hal ini lebih mudah dan lebih adaptif dengan budaya modern di mana internet  telah menyediakan aplikasi untuk menyebarkan cerita rakyat Kae Wae Ge melalui media virtual.

Selain itu, pertunjukan Drama Musikal menjadi pilihan bentuk yang tepat untuk menggarap kisah Kae Wae Ge ini, karena bagi penulis,  Drama Musikal memiliki ruang lebih luas untuk mewadahi gagasan-gagasan yang ingin disampaikan.

Drama Musikal Kae Wae Ge merupakan garapan kreatif yang memadukan unsur lakon, musik, dan tari. Drama Musikal ini menempatkan musik sebagai elemen penting dalam menjaga tensi dan tempo permainan serta menuansakan makna tertentu pada setiap scene. Elemen yang dikolaborasikan secara kreatif berasal dari tradisi Manggarai, baik folklor (cerita rakyat) Kae Wae Ge, Lagu Nenggo yang berisikan syair tua yang sarat nasihat, maupun Caci yang merupakan atraksi tradisional masyarakat Manggarai.

Kisah ini ditata dalam bentuk lakon yang memosisikan Kae sebagai tokoh antagonis dan Ase sebagai tokoh protagonis. Sikap antagonistis Kae sesungguhnya dirasakan ketika ia memaksa adiknya harus meninggalkan rumah. Cukup beralasan bagi Kae mengajak adiknya pergi meninggalkan rumah, karena diusir ibu tiri.

Ia seakan tidak mau tahu dengan keadaan adik yang masih kecil (berusia 3 tahun) untuk melakukan perjalanan jauh. Sikap antagonis berikutnya, Si Kae terus memaksa adik untuk melanjutkan perjalanan. Sedangkan Ase sudah kelelahan, haus dan lapar. Bahkan, ia meninggalkan Ase begitu saja hanya dengan mengikat benang di kakinya agar Ase bisa mengikutinya.

Sebaliknya, sikap protagonis Ase, tampak ketika ia bertahan untuk tidak meninggalkan rumah. Selanjutnya, ia selalu patuh terhadap kakaknya. Meskipun ia ditinggalkan dengan cara begitu kejam oleh Kae, Namun, Ase tetap setia mencari kakaknya hingga akhir hayat.

Benang menjadi metafora persaudaraan. Ketika benang (hubungan persaudaraan putus, maka muncullah kebencian hingga terjadi konflik. Jangan sesekali menggunting atau memutuskan benang (persaudaraan) itu. Karena ke mana pun atau  di mana pun tetap kita bersaudara. Benang (rasa bersaudara) itulah yang mempersatukan kita. Demikian, Lagu Nenggo yang berisikan syiar-syiar tua mengibaratkan perjalanan (hidup) harus dituntun oleh petuah atau nasihat-nasihat untuk membekali perjalanan.

Perjalanan di hutan diibaratkan sebagai kehidupan yang penuh tantangan, kadang menakutkan, kadang menyenangkan . Meski demikian pencarian saudara menjadi sangat penting dalam perjalanan tersebut. Itulah dimensi makna dari elemen-elemen Drama Musikal Kae Wae Ge.

Penggarapan Drama Musikal Kae Wae Ge bertujuan merevitalisasi nilai dan pesan moral cerita rakyat Kae Wae Ge dalam   bentuk lakon. Dengan kata lain, penggarapan Drama Musikal Kae Wae Ge sebagai cara baru untuk mewariskan cerita Kae Wae Ge dalam bentuk yang lebih hidup. Artinya, mengubah cara pewarisan dari bertutur ke bentuk gerak atau  tontonan. Hal ini lebih mudah dan lebih adaptif dengan budaya modern di mana internet telah menyediakan aplikasi untuk menyebarkan cerita rakyat Kae Wae Ge melalui media virtual. (*)

Foto utama (*/istimewa/koleksi pribadi)

Momen Indah, Bakti Kemenkumham NTT di Oepoli—Batas RI dan Timor Leste

499 Views

Oleh : Roni Banase

Melesitkan bayangan tentang seperti apa suasana perbatasan Republik Indonesia (RI) dan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) di beberapa titik lokasi dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah bergelayut dalam benak saya sejak dahulu, seiring dengan berbagai pemberitaan tentang aktivitas ekonomi, sosial dan budaya antara dua negara yang bertalian saudara dalam satu daratan di Pulau Timor yang memiliki luas 30.777 km2 tersebut.

Negara Timor Leste sendiri memiliki luas 15.007 km2 telah menyisihkan setengah (1/2) luas Pulau Timor yang terdapat 1 (satu) kota dan 5 (lima) kabupaten yang mana Kabupaten Kupang memiliki luas daerah terbesar yakni 5.526 km2 (1/3 luas daratan Timor tanpa Timor Leste) termasuk di dalamnya Oepoli, daerah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Saya pun memperoleh kesempatan menelisik Oepoli dari Kakanwil Kemenkumham Provinsi NTT, Marciana Dominika Jone saat kami dengan beberapa teman media ikut dalam Idul Qurban 1443 H. Sosok Kakanwil Perempuan Pertama di Kemenkumham NTT tersebut pun mengungkapkan bahwa akan melaksanakan bakti sosial pada 6—8 Agustus 2021.

Namun, memasuki akhir Juli 2021, kami diinformasikan lebih awal bahwa kegiatan yang mengusung tema “Kumham Peduli Kumham Berbagi” dilaksanakan secara serempak di seluruh perbatasan pada Kamis, 29 Juli 2021 bersama Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly.

Lalu, kami dibagi atas beberapa tim yang ditugaskan untuk melakukan bakti sosial Kemenkumham Provinsi NTT.  Awalnya saya diberikan lokasi di Napan lokasi perbatasan di Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), daerah asal mula nenek moyang atau buyut kami (ayah saya berasal dari TTU dan memiliki saudara tersebar di Bikomi dan Miomaffo). Namun, saya pun mengubah lokasi ke Oepoli dengan beberapa pertimbangan dan permintaan pindah lokasi ke Kakanwil Kemenkumham Provinsi NTT.

Dan, bersyukur permintaan saya pun diterima oleh Ibu Kakanwil Merci Jone yang bertugas di perbatasan Kabupaten Belu (sambil tak hentinya membayangkan seperti suasana di Oepoli), kami pun bertolak menuju ke Oepoli pada Rabu pagi, 28 Juli 2021 bersama Kadiv Administrasi Kemenkumham NTT, Garnadi dan tim menuju ke Desa Netemnanu Utara, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang yang kini dapat menikmati listrik 24 jam tanpa henti berkat peningkatan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) (dan berkat kerja keras dan cerdas dari GM PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko dan tim).

Anak sekolah di Oepoli berjalan kaki di terik matahari menempuh perjalanan pulang berkilo-kilo meter dari sekolah ke rumah masing-masing

Bertolak dari Kota Kupang pada pukul 09.00 WITA, dan tiba sekitar pukul 20.30 WITA (hampir 12 jam perjalanan menggunakan mobil Sport Utility Vehicles diesel, 2,7L 4-silinder, lumayan membuat saya sempat mabuk perjalanan kemudian memutuskan berhenti sejenak di Eban, Kecamatan Miomaffo Barat (perjalanan kami ke Oepoli melalui Kefa Ibu Kota Kabupaten Timor Tengah Utara).

Menyusuri jalanan perpaduan aspal dan pengerasan, berlubang, terjal, dan terdapat material batu dan pasir termasuk melintasi beberapa sungai membuat tubuh kami terguncang, meski menggunakan mobil dengan suspensi shockbreaker KYB. Namun, perjalanan panjang setengah hari membuat kami terpesona atas suguhan view ‘pemandangan alam’ dan udara sejuk saat melintasi padang sabana di Bikomi dan Miomaffo dan sempat melintas di antara dua excavator yang sementara membelah bukit.

Satu momen yang bakal tak terlupakan saat kami merasa lapar, penat, dan memutuskan mampir sejenak beristirahat dan menikmati suguhan mie rebus pakai telur di rumah Mama Ima Fallo  di Dusun 4, Desa Netemnanu Selatan, Kecamatan Kupang Timur. Kemudian momen menarik datang menghampiri saat mie rebus panas tiba dan terdapat potongan bungkus plastik bumbu di dalamnya.

Pak Garnadi pun dengan suara setengah berbisik ke saya lalu berkata, “Loh, kok ada ini di dalam mie?” lalu saya saat sementara ingin mengambil sedikit porsi mie rebus pun dengan segera mengangkat potongan plastik bumbu tersebut sambil tersenyum ke Diana (Sekretaris Kadivmin), Nanda (Humas Kemenkumham NTT) dan Maksi Bukifan dari Kanim Kupang (driver dadakan karena tahu alur perjalanan menuju ke Oepoli).

Udara dingin disertai embusan angin malam segera mendinginkan mie rebus panas tersebut, namun dengan segera kami melahapnya. Dan alam pun menyuguhkan bagi kami hamparan bintang berkilau indah di Desa Netemnanu Selatan yang belum memiliki listrik, meski masyarakat telah menyetorkan uang masing-masing senilai 1,9 juta kepada Kepala Desa sejak Maret 2021 (ungkapan Mama Mia Fallo kepada saya dan Maksi Bukifan menggunakan Bahasa Dawan Timor).

Setibanya di Oepoli, kami melewati Pos Oepoli Sungai (sungai yang menjadi sengketa batas Indonesia dan Timor Leste) kemudian langsung menuju ke Pos Oepoli Kantor Imigrasi Kelas I Kupang, di sana telah ada beberapa staf Kanim Kupang termasuk Kasubsi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian, Ketsia S. P. M. Lanoe., S.H., M.H. sementara mengemasi bingkisan bakti Kemenkumham NTT kepada masyarakat Desa Netemnanu Utara.

Kadiv Administrasi Kemenkumham Provinsi NTT, Garnadi, Maksi Bukifan (dari Kanim Kupang), dan warga Fatumnasi saat di sabana dengan ternak kuda mereka

Usai sedikit membantu persiapan giat Kumham Peduli dan Kumham Berbagi, kemudian kami menginap di beberapa rumah warga (di Oepoli belum ada penginapan apalagi hotel), saya dan beberapa staf Kanim Kupang dan Kanwil Kemenkumham mendapat tempat istirahat malam di rumah Sandri Kameo, Honorer yang menjaga dan mengurus Pos Oepoli.

Keesokan harinya pada Kamis, 29 Juli 2021 pukul 05.00 WITA saya pun terjaga dari tidur malam yang tak begitu nyenyak, lalu berjalan tanpa alas kaki menyusuri jalan batas negara Indonesia dan Timor Leste yang masih berupa jalan pengerasan, berdebu, dan berbatu hingga tiba di pos lintas batas negara (PLBN) Oepoli yang terhenti pengerjaannya terkait sengketa tapal batas.

Tepat pukul 08.00 WITA, kami beranjak menuju ke Pos Imigrasi Oepoli dan di sana sudah ada beberapa warga yang menunggu. Persiapan pun dilakukan dan pada pukul 08.30 WITA mulai melayani warga Desa Netemnanu Utara yang sekitar 90 persen berprofesi sebagai Petani. Tahapan Kumham Peduli dan Kumham Berbagi dilaksanakan dengan mengedepankan protokol kesehatan ketat, termasuk di dalam bingkisan terdapat handsanitizer dan masker.

Beberapa warga desa yang menerima bingkisan Bakti Kemenkumham di Oepoli, Perbatasan Indonesia dan Timor Leste pun menyampaikan rasa syukur dan terima kasih mereka. Seperti Bapak Vincensius Tabil yang tak mengetahui umurnya dan memiliki 6 (enam) orang anak.

“Terima kasih banyak, bantuan ini membantu kami,” ujar pria lanjut usia saat saya wawancarai.

Senada, Yakobus Lay (65 tahun) mengaturkan terima kasih, “Terima kasih,” ucapnya singkat sembari menjawab pertanyaan saya terkait hasil pertanian yang terasa kurang di tengah pandemi Covid-19.

Eforia Tim Kemenkumham Provinsi NTT saat rehat sejenak di Jembatan Aplal, usai giat Kumham Peduli dan Kumham Berbagi

Begitu pun dengan Mama Bertha Taeboko mengucapkan terima kasih. “Mama tak bisa bekerja lagi, Mama sakit,” ucap perempuan lanjut usia yang mengaku berusia di atas 60 tahun.

Termasuk Kakak Meriana Baisila (23 tahun) berprofesi sebagai Petani yang memperoleh informasi tentang Bakti Kemenkumham Provinsi NTT dari Ketua RT.10. “Kami bekerja sebagai Petani yang dapat merasakan bantuan dari Kemenkumham sangat bermanfaat dan kami mengucapkan terima kasih,” ujarnya kemudian membopong bingkisan berwadah tas plastik berwarna merah.

Foto (*/koleksi pribadi)

Teman Sejatiku Kembali Pulang Berkat AFRO Farm Ayam KUB

481 Views

Oleh : Roni Banase

Kisah sederhana, namun bermakna ini tak luput dari bayang respons naluri menulisku. Tak hanya hal luar biasa yang bisa kita torehkan dalam sebuah tulisan, namun sebuah penggalan kisah sederhana pun patutnya kita toreh lalu isi dalam ruang tulisan digital yang menghabiskan 2/3 waktu kita setiap hari (termasuk waktu tidur).

Kisah ini bermula saat saya mendapat pesan whatsapp dari saudara Henry Djowenyi pada Minggu pagi, 8 Agustus 2021 pukul 09.02 WITA yang berbunyi,

“Pagi Om, rencana bos (Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja) mau ke lokasi peternakan ayam di Baumata. Om dengan mas Gun bisa pergi ko?” tanyanya seraya mengirim peta lokasi peternakan Ayam Kampung di Desa Baumata Timur, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Jam 11 di sana om,” pinta Henry yang bertugas mengatur jadwal kunjungan kerja Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT.

Saya pun menyanggupi dengan menjawab, “Bisa, beta (Bahasa Melayu Kupang untuk saya, red) siap diri dan meluncur.” Padahal baru saja terjaga dari waktu tidur pada pukul 04.00 WITA dan waktu telah menunjukkan pukul 10.30 WITA.

Dengan sigap, saya pun berbenah diri dan menyiapkan perangkat kerja sebagai “Peternak Kata” (meminjam istilah dari Dr. Marsel Robot, meski sudah menjadi trade mark bagi diri sendiri. Karena lebih suka dapat predikat tersebut dibanding wartawan, hehehe).

Dari kamera Canon 1100D, smartphone, earphone, hingga kacamata baca, karena kalau tak ada, maka rentetan huruf dan angka di layar smartphone Samsung Galaxy J7 Prime tampak berbeda seperti hamparan pasir yang tak dapat dibedakan.

Bermodalkan peta lokasi, saya pun menuju ke daerah Penfui lalu ke Baumata menyusuri jalan yang lumayan berlubang. Meski dua kali tersesat, namun akhirnya tiba di lokasi dengan menggunakan bantuan tambahan berupa bertanya ke beberapa penduduk lokal di mana lokasi AFRO Farm, pusat peternakan Ayam Kampung Unggul Balibangtan (Ayam KUB) tersebut.

Pose bersama dari kiri ke kanan, Viktor Manek, I Nyoman Ariawan Atmaja, Kakak Making, dan Andre Asa

Di sana, telah ada Bli Guntara bersama pengelola AFRO Farm, Mardianus Epafroditus Ili jebolan Fakultas Peternakan Undana Kupang; duduk di bawah rindangnya rumpun bambu hijau di depan deretan kandang Ayam KUB berbahan bambu.

Saya pun menelisik kiprah Pemuda Lembata yang menggunakan lahan I Gusti Jelantik sejak tahun 2017 bersama PT. Sumber Unggas Indonesia. Pemuda yang memegang perspektif bahwa “NTT Tidak Miskin” tersebut pun menguraikan sistem kerja AFRO Farm yang telah mendidik mitra binaan di 20 kabupaten.

Berselang 60 menit kemudian, tibalah Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja, Kadis PMD Provinsi NTT, Viktor Manek; Hadrianus Asa selaku Manager Pengembangan UMKM beserta rombongan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, lalu meninjau dan menelisik usaha Ayam KUB yang dapat memproduksi 50 butir telur per hari.

Kemudian, kami pun menuju ke lokasi milik Kadis PMD Provinsi NTT yang sementara disiapkan menjadi lokasi pengembangan biakan Ayam KUB dan menjadi sangat produksi telur Ayam Kampung.

Selepas dari kunjungan tersebut, kami pun bersyukur mendapat suguhan makan siang berupa Ayam Kampung Bakar dan Jagung Bose khas NTT, sambil bercengkerama di bawah desiran lembut angin dari Pohon Bambu Hijau.

Tepat pukul 16.00 WITA, kami pun kembali ke rumah masing-masing. Dan di dalam perjalanan pulang, saya merasa sesuatu lenyap dari diri. Berhenti sejenak di Bundaran Patung Tirosa, lalu melongok ke dalam tas hasil kreasi Nice Handicraft dari bahan kain tenun Pulau Koja Doi (pemberian dari Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho saat kunjungan kami pada Desember 2020, red).

Ternyata benar, kacamata baca plus 1,25 bergagang hitam yang menjadi teman kerja merilis berbagai berita edukatif dan komunikatif di Portal Daring Garda Indonesia pun lenyap entah ke mana. Rasa panik membuyarkan logika berpikir, entah jatuh atau diambil orang merasuki pikiran.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja saat meninggalkan lokasi rencana lahan pengembangan biakan Ayam KUB milik Viktor Manek

Lalu, upaya menanyakan keberadaan kacamata yang menemani kerja sejak tahun 2017 tersebut saya arahkan Kakak Making dan Saudara Andre Asa dengan hasil nihil. Pikiran pun beralih ke rumah, dengan alasan apa harus meyakinkan bendahara rumah bahwa kacamata tersebut hilang entah di mana.

Dan ternyata apa yang saya bayangkan terjadi, bendahara rumah atau istri tercinta sangat marah dan mengarahkan predikat pikun dan tak konsentrasi ke diriku.

“Saat di Atambua lupa celana di hotel, lalu lupa ATM, dan sekarang kacamata,” ucapnya dengan nada kesal seraya mengurai apa saja yang telah saya tinggalkan maupun hilangkan sejak beberapa tahun silam.

Meski demikian dengan berbagai rayuan dan kesepakatan, lalu kami sepakat membeli dan membayar pesanan kacamata baru di salah satu toko kacamata di Kota Kupang Lama, Kelurahan Lai Lai Besi Kopan (LLBK). Namun, berhubung hari Minggu malam, toko tutup dan dengan terpaksa saya harus rela menggunakan kacamata plus yang dijual di beberapa pedagang kacamata di pinggir jalan.

Keesokan hari, pada Senin sore, 9 Agustus 2021, Kakak Making menelepon saya dan menyampaikan kabar gembira.

“Abang, adik menemukan kacamatanya di lahan Pak Viktor Manek,” ucapnya sembari berkata bahwa esok (Selasa, 10 Agustus) akan diantar ke rumah usai mengantar pesanan telur Ayam KUB dari Kakanwil Kemenkumham Provinsi NTT, Marciana Dominika Jone.

Bahagia pun datang silih berganti, mulai saat ini, Peternak Kata memiliki 2 (dua) teman sejati pendamping kerja melahirkan tulisan edukatif dan komunikatif.

Foto (*/koleksi pribadi)

Membangun Perbenihan Tanaman Pangan di NTT

718 Views

Oleh : Emmanuel Richardo, S.P. Pengawas Benih Tanaman Ahli Muda Anggota Ikatan Pengawas Benih Tanaman Indonesia (IPBTI)

Sektor pertanian sampai saat ini masih menempati peringkat pertama dalam menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Nusa Tenggara Timur (NTT)  selama kurun waktu 2015—2019 di mana setiap tahunnya berada di angka yang mendekati 30%, tanaman pangan menyumbang antara 8—10% dibandingkan komoditi Pertanian lainnya seperti hortikultura (2,2—2,6%),  perkebunan (2,2—2,5%), Peternakan (9,1—9,4%) dan lain-lain. (sumber data Statistik Pertanian NTT 2019).

Hal tersebut tidak terlepas dari sumbangan pertanian dalam menyerap banyak tenaga kerja, usaha kecil, menengah dan mikro yang menggunakan hasil pertanian.

Nusa Tenggara Timur dengan intensitas curah hujan minim serta sumber air terbatas  menciptakan iklim kering sehingga berbanding lurus dengan lahan pertanian yang didominasi oleh pertanian lahan kering di mana terdapat lahan pertanian bukan sawah sebanyak 3.852.725 ha sedangkan luas areal sawah di NTT tahun 2019 berjumlah 214.034 ha dengan luas areal irigasi sebesar 120.995 ha, tadah hujan 92.925 ha, pasang surut 31 ha dan lebak 83 ha. Selain itu, ditemukan areal pertanian yang merupakan daerah irigasi maupun tadah hujan dan lebak yang tidak ditanami sebanyak 22. 316 ha sedangkan yg ditanami seluas 124.239 ha hanya 1 kali tanam dan 64.479 ha yang bisa 2—3 kali tanam. (data SP NTT 2019)

Produktivitas pertanian khususnya Padi dan Jagung di NTT dalam satu dekade terakhir  masih sangat rendah yaitu untuk Padi masih di kisaran 3,851 ton/ha dan Jagung di angka 2,633 ton/ha jika dibandingkan dengan produksi nasional 5, 354 ton/ha dan jagung di angka 5,241 ton/ ha (ATAP 2018 Kementerian Pertanian RI). Salah satu faktor masih rendahnya produktivitas Padi dan Jagung di NTT adalah masih rendahnya penggunaan benih unggul bersertifikat yang sebagian besar masih didatangkan dari luar NTT khususnya benih Jagung.

Khusus untuk benih Jagung secara umum dapat dibedakan atas dua yaitu benih Jagung Komposit atau yang bersari bebas artinya terjadi persilangan bebas antara bunga jantan dan bunga betina untuk menghasilkan Benih Jagung dan Jagung Hibrida sebaliknya untuk menghasilkan benih maka tetua atau induk jantan dan betina ditanam sedemikian rupa sehingga bunga jantan yang diinginkan dan bunga betina yang dinginkan akan disilangkan dengan bantuan manusia sehingga turunan yang dihasilkan atau F1 nya adalah benih Jagung Hibrida.

Dari kedua jenis benih Jagung di atas yang saat ini dikembangkan di NTT adalah benih Jagung Komposit karena untuk memperoleh benih sumbernya atau induknya tidaklah sulit, selain karena benih sumbernya dapat diperoleh secara bebas juga harganya dapat dijangkau oleh produsen benih juga para petani di NTT. Sedangkan untuk induk jantan dan betina dari Jagung Hibrida itu semuanya punya hak paten dan harganya sangat mahal dan juga para produsen benih jagung hibrida (semuanya di Jawa dan Sumatera juga Sulawesi Selatan) baik itu milik Litbang Pertanian maupun swasta tidak menjual induknya secara bebas melainkan sudah dikontrakkan dengan produsen benih besar sebagai pemegang lisensi untuk memperbanyak F1 dari benih jagung hibrida. F1 dari benih jagung hibrida umumnya mempunyai potensi hasil tinggi akan tetapi turunan dari F1 tidak dapat dijadikan benih lagi karena hasilnya selain turun drastis juga keragaman sangat tinggi.

Melihat kondisi di atas dalam membangun perbenihan di NTT khususnya tanaman Jagung perlu digunakan strategi tepat yang mana pemerintah dapat mendorong pola tanam yang disesuaikan dengan karakter wilayah dan musim sehingga dengan lahan pertanian yang didominasi lahan kering dan curah hujan terbatas dapat menghasilkan benih unggul bersertifikat yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas Jagung terutama pada musim tanam antara bulan Oktober dan Maret (Okmar) di mana NTT biasanya mendapat curah hujan hanya 3 (tiga) bulan sekitar Desember sampai Februari.

Untuk kegiatan perbanyakan Benih Jagung Komposit bukan lagi merupakan hal baru tetapi sebenarnya ini adalah kegiatan yang selalu dilaksanakan oleh para produsen Benih Jagung yang tersebar di seluruh Flobamorata. Menjadi produsen Benih Jagung, dituntut bukan hanya mampu  dalam budidayanya saja tetapi hal terpenting justru ada pada fase pasca-panen di mana para produsen benih harus mampu melakukan pengolahan calon benih mulai dari menjelang panen, panen, penjemuran, pemipihan sampai  pengemasan di mana dalam setiap tahapan kegiatan mulai dari pra-tanam sampai pengemasan tentu harus didukung oleh pendampingan yang komprehensif dan intensif oleh para penyuluh di lapangan  dan selalu diikuti atau diawasi oleh Pengawas Benih Tanaman (PBT). Kegiatan penangkaran Benih Jagung Komposit ini biasanya dilaksanakan bulan April—September (ASEP) yaitu penanaman pada bulan April, Mei dan Juni sehingga paling lambat pada Oktober sudah tersedia benih yang masih fresh ‘segar’ dan siap ditanam pada Okmar.

Sementara untuk penangkaran Benih Jagung Hibrida memerlukan beberapa persyaratan khusus terkait dengan pemegang lisensinya di samping aspek budidaya. Untuk mengoordinasi semua produsen Benih Jagung Komposit di seluruh Flobamorata, tidak sulit bahkan dengan adanya pandemi ini memudahkan kita untuk bisa berkomunikasi secara virtual dengan biaya murah sehingga kegiatan seperti Forum Perbenihan level provinsi bisa diadakan lagi di mana kita dapat mengidentifikasi dengan jelas kebutuhan benih di musim tanam Okmar di seluruh NTT sehingga dengan sinergi antara provinsi dan kabupaten yang di dalamnya tercakup para stakeholder perbenihan (pemerintah dan swasta), maka kebutuhan benih tersebut dapat dipenuh.

Perbanyakan Benih Jagung Komposit di NTT didominasi oleh Benih Jagung varietas Lamuru yang sudah adaptif dengan iklim di NTT kurang lebih 10 tahun terakhir menganut  Alur Produksi Benih Tunggal (Single Generatiaon Flow) sebagai berikut :

Khusus untuk benih penjenisan Jagung Varietas Lamuru harus didatangkan dari Balai Penelitian Tanaman Serealia Kementerian Pertanian di Maros – Sulawesi Selatan karena milik Pemulia pada Balitsereal Maros sedangkan perbanyakan selanjutnya dapat diperbanyak di NTT mulai dari Benih Dasar, Benih Pokok maupun Benih Sebar.

Dengan potensi yang ada di pemerintahan baik itu dinas melalui balai-balai benih  maupun Litbang, seharusnya dapat memenuhi ketersediaan Benih Dasar maupun Benih Pokok di NTT juga didukung oleh beberapa produsen benih swasta sudah memiliki kompetensi dalam melakukan produksi benih Jagung varietas Lamuru untuk kelas benih dasar maupun pokok vaik Benih Penjenis, Benih Dasar maupun Benih Pokok dapat digunakan untuk menghasilkan benih sebar yang berlabel biru di mana benih sebar ini merupakan kelas terendah dalam sistem perbanyakan alur tunggal yang apabila ditanam hasilnya untuk konsumsi tidak bisa dijadikan benih lagi.

Siklus perbenihan di NTT sebenarnya sudah tertata secara baik di mana pada periode musim tanam Okmar saat banyak hujan diperbanyak Benih Pokok di Balai-balai benih dan produsen benih yang kompeten sehingga pada bulan April, Mei dan Juni para produsen benih jagung yang tersebar di seluruh NTT dapat menanam Benih Pokok tersebut dan pada bulan Agustus, September dan Oktober, sudah tersedia Benih Sebar yang kebutuhannya sudah diidentifikasi dan diinventarisasi dalam Forum Perbenihan .

Dengan melibatkan semua stakeholder perbenihan tanaman pangan khususnya jagung di NTT, maka dunia perbenihan di NTT dapat bergairah kembali dan mereka mampu menghasilkan Benih Jagung unggul dan bersertifikat yang merupakan jaminan mutu dalam produksi jagung sehingga diharapkan dengan adanya kegiatan  perbenihan yang sehat dapat mendorong peningkatan produktivitas jagung di NTT yang masih di angka 2,6 ton/ha minimal bisa ke angka 3,5 ton/ha atau mendekati produktivitas nasional.

Sedangkan untuk perbanyakan benih Jagung Hibrida, pemerintah harus membantu memfasilitasi petani produsen benih di NTT sehingga dapat bermitra dengan perusahaan benih swasta maupun pemegang lisensi F1 benih Jagung Hibrida Litbang Pertanian Kementerian Pertanian sehingga perbanyakan benih Jagung Hibrida juga Padi Hibrida dapat juga dilaksanakan di NTT yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani secara signifikan.

Dengan demikian, apabila terjadi peningkatan produktivitas pertanian di NTT dengan sendirinya akan meningkatkan pendapatan per kapita, pada akhirnya    akan mengurangi persentase penduduk miskin di NTT. Semoga!

Kupang, Medio Juli 2021

Foto utama (*/koleksi pribadi)

‘Hela Keta’ Tradisi Orang Timor Tengah Utara

1.492 Views

Oleh : Melkianus Nino

Hela Keta adalah sebutan bahasa Dawan Timor yang bermakna “buka jalan”. Hela Keta merupakan tradisi adat  istiadat orang Timor di wilayah administratif Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

‘Hela Keta’ sering diartikan oleh tua-tua adat sebagai simbol yang memiliki makna yang besar. Makna yang penting itu, sebagai lambang perkenalan dari hati ke hati. Tradisi adat yang turun – temurun dihelat dengan maksud untuk menyatukan dua insan (laki dan perempuan, red) untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.

Penyatuan ini, bermula dari satu kerja sama yang matang yakni kesepakatan di antara orang tua kedua belah pihak. Penentuan kesepakatan sudah diselenggarakan sebelum hari dan tempat perhelatan tradisi adat ‘Hela Keta’ dilangsungkan dengan satu tujuan yang sama, demi jalannya upacara adat ini.

Tradisi adat istiadat Orang Dawan yang satu ini tidak bisa ‘terlewatkan’ begitu saja karena memiliki makna adat yang sangat mendasar dan mendarah daging. Tempat berlangsung prosesi Hela Keta berada di sungai atau kali, di mana tradisi adat dilangsungkan.

Tradisi ini, sudah diawali dengan tahap perencanaan konsep pembicaraan berawal dari adat, gereja dan pemerintah. Ketiga tungku ini, diharuskan sejalan, searah sehingga penuh kesan bermakna.

Tradisi ‘Hela Keta’ akan menjadi cerita baru ketika mengingatkan pada pertemuan para tetuah adat. Konsep yang kompleks, menurut bahasa ibu masing- masing. Entah suku Dawan, Bunak, Tetun, Kemak dan daratan Flores lainnya. Tujuannya agar yang terdahulu (leluhur, red) dapat menyaksikan dari ‘Kegelapan’ serta menyetujui maksud dan tujuan.

Persetujuan yang tidak dengan kasat mata saat binatang (Babi, Ayam dan lainya, red) disembelih sebagai persembahan terlihat pada urat nadi atau ‘Lilo’ dengan sendirinya dapat diketahui oleh tua adat yang dipercaya. Pembiasaan ini, sudah menjadi satu garis  yang tidak terpisah-pisahkan.

Tradisi adat ‘Hela Keta’, sering dilangsungkan di sungai yang memiliki air mengalir, sebagai arti untuk melepas semua masa lalu sehingga jalan menjadi terbuka. Saat darah binatang yang disembelih ‘berderai’ yang pertama dan utama yakni dibuang pada air sungai yang mengalir, dengan maksud membuang semua keluh-kesah, kebimbangan, kebencian serta masa yang lalu. Biarkan terbawa arus air .

Tulisan ini, berangkat dari kehadiran pantauan jurnalis Garda Indonesia, saat menyaksikan perhelatan tradisi ‘Hela Keta’, bertempat di Sungai Ekafalo – Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Perhelatan upacara ada ‘Hela Keta’ dihadiri oleh kedua keluarga besar serta undangan lain. Beragam pertanyaan akan ‘membenak’ bakal turut keheranan mengikuti irama di tradisi adat ini.

Tradisi ‘Hela Keta’, akan menjadi satu-kesatuan yang tak dapat terpisahkan karena telah menganut satu pepatah ‘ Tak kenal maka tak sayang’. Pepatah yang  sudah menjadi populer dan tampak di situasi adat ‘Hela Keta’.

Cenderung akan menjadikan satu suasana yang hikmah, juga indah. Keindahan tampak dari selembar Selendang Tunbaba dijadikan pengalungan cinta. Niscaya kerinduan dari kedua keluarga besar akan menjadi cerita yang tak terlupakan di momen ‘Hela Keta (*)

Penulis merupakan Pegiat Literasi dan Jurnalis

Foto utama (*/istimewa koleksi pribadi)

Bahasa Tubuh Seorang Pemimpin

533 Views

Oleh : Denny Siregar

Saya tidak tahu, apakah ia pernah ditanya oleh ayahnya, “Kalau besar mau jadi apa, nak ?” Terus dijawab, “Mau jadi Presiden !” Pertanyaan khas orang tua dahulu yang kalau dengar jawaban mau jadi Presiden atau Dokter, langsung puas banget.

Tetapi yang pasti cita-cita itu mampir dalam setiap pemikiran anak kecil meskipun dia tinggal di desa dalam kehidupan yang sangat sederhana seperti dirinya. Cita-cita yang sudah pasti terkubur seiring dengan semakin menyadari realitas hidup dengan bebannya yang berat yang harus dipikul pundak pemuda berbadan kurus ini..

Mulai dari ojek payung sampai kuli panggul ia jalani untuk membantu biaya sehari-hari. Terbayang tubuh kecil, kurus, hitam dan menggigil kehujanan berlari-lari menawarkan payung dengan pendapatan hanya beberapa sen saja..

Saya pernah bertanya kepada seorang saudara dekatnya, “Apa mungkin kesenangan dirinya bagi-bagi sepeda dan peralatan sekolah adalah bagian dari ‘dendam’ masa kecilnya yang sulit mendapatkan barang-barang itu ?” Ia mengangguk.

Saya terdiam membayangkan situasi kekurangan yang pernah dialaminya. Ayahku pernah berkata, “Tidak ada seorang pun pemimpin besar yang tidak pernah ditempa oleh situasi sulit dalam hidupnya. Karena sesungguhnya kesulitan mengajarkan banyak hal pada manusia..”

Perjalanan hidup mengajarkanku bahwa ia benar..

Tidak ada yang menyangka – siapa pun tidak menyangka – jika anak kecil lusuh yang ‘bukan siapa-siapa’ itu sekarang berdiri bersama para pemimpin dunia.

Tidak ada rasa minder sedikit pun bahwa ia bukan berasal dari trah terpandang dan berada. Ia bahkan bisa dibilang ndeso dengan gaya bahasanya, tetapi pikirannya jauh melampaui pemikiran para Jenderal, para Profesor atau para Ilmuwan yang diakui Internasional.

Ia berpikir 100 tahun ke depan, ketika orang banyak masih berpikir bagaimana bisa survive dalam 10 tahun nanti..

Lihat gayanya yang tidak mau berdiri di barisan belakang para pemimpin dunia yang lebih terkenal dari dirinya. Ia ingin berada di depan, sejajar dengan mereka yang memimpin negara-negara besar.

Tidak ada rasa takut ataupun rendah diri bahwa ia seorang Presiden dari sebuah negara yang sedang berkembang. Ia selalu memesan tempat duduk maupun posisi berfoto yang paling strategis dengan pemimpin dari negara maju.

Ia bangga dengan negaranya dan membawa kebanggaan itu dalam pergaulan internasional supaya menjadi inspirasi bagi rakyatnya, bahwa kita adalah calon negara besar dan maju seperti mereka..

Bahasa tubuhnya jauh lebih besar dari fisiknya sendiri…

Seperti secangkir kopi, ia bisa berada di tempat yang paling terhormat sampai di tempat yang paling kumuh sekalipun tanpa kehilangan nilai kenikmatannya.

Ia Joko Widodo. Sebuah nama yang biasa-biasa saja dengan aura yang luar biasa.

Patutlah kita angkat secangkir kopi untuknya, dan berterima-kasih karena ia sudah menaikkan standar seorang pemimpin ke tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya..

Foto utama oleh widodo s yusuf/antara

Vaksinasi dan Nilai Kesehatan Masyarakat

313 Views

Oleh : Karolus Ngambut, Anggota HAKLI NTT

Menyaksikan berita viral di media sosial perihal antrean masyarakat untuk mendapatkan vaksin Covid-19 di Kota Kupang, yang dilaksanakan di Poltekkes Kemenkes Kupang, mengakibatkan kerusakan fasilitas pagar dan bahkan masyarakat nekat melompat pagar untuk masuk dalam lingkungan kampus tempat pelaksanaan vaksinasi Covid-19.

Menurut pengakuan sejumlah masyarakat, ada yang sudah mengantre sejak pukul 04.00 dini hari untuk mendapatkan nomor antrean yang jumlahnya terbatas hanya 250 nomor tiap hari selama 3 hari (14—16 Juli 2021). Pengakuan sejumlah masyarakat seperti yang diberitakan d salah satu berita di media online  “ Tak Dapat Antrian vaksin, Warga rusak pagar Prodi Gigi Poltekes Kupang” bahwa sebagai masyarakat yang antre vaksin, guna mendapatkan sertifikat vaksin Covid-19 sebagai syarat administrasi pendaftaran seleksi CPNS, persyaratan perjalanan atau untuk dokumen administrasi lainnya, atau ada kekhawatiran penularan Covid-19 yang sedang ganas di Kota Kupang, dan di Provinsi yang belum menunjukkan penurunan jumlah kasus mingguan atau harian.

Sebagai gambaran bahwa sejak awal Juli  2021 jumlah kasus harian Covid19  memasuki puncak penularan tertinggi dan meskipun belum dapat diprediksi kapan puncak penularannya akan turun, jika dibandingkan dengan puncak penularan Covid-19 bulan pada periode Januari–Februari yang lalu, maka kali ini puncaknya lebih tinggi atau julah kasus Covid-19 harian lebih banyak.

Perilaku antrean masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19 mempunyai koherensi dengan kebijakan pemerintah yang mensyaratkan sertifikat vaksin diunggah pada pendaftaran seleksi CPNS dan juga untuk dokumen administrasi lainnya, seperti dokumen perjalanan, selain itu, profil masyarakat yang mengantre vaksin Covid-19, terbanyak dari kaum muda atau generasi milenial.

Hipotesis bahwa masyarakat mengantre vaksin untuk mencegah penularan Covid-19, belum terbukti. Hal ini menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan, khususnya pendidik kesehatan masyarakat di berbagai tingkatan layanan bahwa kampanye pentingnya hidup sehat untuk mencegah penyakit tidak sepenuhnya dapat mengubah persepsi nilai hidup sehat yang ada di masyarkaat yang merupakan faktor pendorong perubahan perilaku masyarakat dalam bidang kesehatan.

Nilai hidup sehat dalam konteks ini dikesampingkan oleh “nilai ekonomi”. Sehingga dibutuhkan kreativitas dalam memproduksi dan mengirimkan pesan kesehatan untuk menciptakan nilai publik  yang sesuai dengan norma kesehatan masyarakat. Sosiolog Carl Marx  menjelaskan hal ini, bahwa perubahan sosial dipengaruhi oleh bangunan bawah, yaitu ekonomi akan mempengaruhi bagian atas, yaitu sistem sosial.

Selain itu, dari perspektif teori perubahan sosial (Sosial change theory) , bahwa perubahan sosial di terjadi bila adanya aturan insentif dan punishment. Sertifikat vaksin menjadi insentif bagi masyarakat untuk mendapatkan manfaat yaitu dapat memenuhi syarat pendaftaran seleksi CPNS dan dokumen administrasi lainnya.

Yang Perlu dan Harus Dilakukan

Motivasi tinggi masyarakat untuk mendapatkan vaksin Covid-19 harus direspons positif dan menjadi momentum peningkatan cakupan layanan vaksinasi Covid-19 bagi penduduk Kota Kupang  dengan menyediakan lebih banyak lagi tempat atau titik pelaksanaan vaksin Covid-19.  Atau dengan kata lain, kebijakan yang sifatnya mengatur atau membatasi masyarakat (meregulasi) harus diimbangi dengan kebijakan yang sifatnya menderegulasi (membebaskan) masyarakat untuk mendapatkan banyak pilihan lokasi layanan vaksinasi Covid-19.

Upaya ini memang tidak gampang, terkait banyak hal, seperti ketersediaan stok vaksin Covid-19, tenaga kesehatan yang memberikan layanan vaksinasi hingga  manajemen pengelolaan vaksinasi Covid19.

Covid-19 yang telah menjadi krisis multi dimensi yang ditandai dengan adanya tidak pasti kapan berakhirnya pandemi, menimbulkan ancaman terhadap lunturnya nilai-nilai fundamental masyarakat yang sudah ada selama ini, misalnya nilai kekeluargaan dan lain-lain. Diperlukan strategi  keterlibatan lintas sektor dalam konteks kolaborasi, bukan hanya sekadar melakukan koordinasi yang bersifat hierarkis struktural.

Jika menganut paradigma atau rezim kolaborasi, bahwa setiap aktor seperti pemerintah, organisasi non pemerintah, media massa, akademisi, tokoh masyarakat,  lembaga keuangan dan yang memiliki sumber daya terlibat dan mempunyai kesetaraan dalam peran untuk mengatasi masalah publik yang dihadapi saat ini. (*)

Foto utama (*/tangkapan layar)

OK Sulit Ok

603 Views

Oleh : Dahlan Iskan

Ia kaya raya. Luar biasa. Anda mungkin pernah mengisi bensin kendaraan Anda dari minyak miliknya di Singapura. Lewat Pertamina. Anda tentu tidak pernah mendoakan agar ia celaka. Ia sendirilah yang mencelakakan dirinya. Di umurnya yang kini sudah 79 tahun. Yang dulu naik Rolls-Royce dan kini harus pakai kursi roda.

Bulan lalu tuduhan kepadanya ditambah lagi dengan 105 tuduhan baru. Penggelapan, penipuan, pemalsuan, dan segala macam perkara sejenis itu. Total, ditambah tuduhan tahun lalu, ia harus menghadapi 130 tuduhan di pengadilan.

Entah berapa tahun hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya. Kalau semua hukuman itu kelak dijumlahkan. Pun kalau ia akan dihukum. Nama orang superkaya itu, rasanya, Anda sudah tahu: OK Lim. Aslinya: Lim Oon Kuin. Ia punya dua orang anak: Mr Evan Lim Chee Meng dan Mrs Lim Huey Ching.

OK Lim punya tandon minyak mentah terbesar di Asia: Hin Leong Trading Pte Ltd. Tangki-tangki raksasanya bisa memuat minyak dari dua tanker paling besar di dunia. Letaknya di sebuah pulau di jari-jari Singapura.

OK Lim memang salah satu pedagang minyak terbesar di Asia. Pendapatan setahunnya pernah mencapai Rp.450 triliun.

Media di Singapura menyebutkan OK Lim memang suka judi. Termasuk judi dalam bentuk spekulasi. Di perdagangan minyak. Harga naik diperjudikan. Harga turun diperjudikan. Ia memang suka spekulasi. Mengandalkan ketajaman intuisi bisnisnya.

Perjudian terbesarnya terjadi tahun lalu. Ketika Wuhan dalam penderitaan besar: dihantam wabah Covid-19. Sampai harga minyak mentah dunia, waktu itu, turun. Drastis. Tinggal USD 50/barel. Dari dua bulan sebelumnya yang masih USD 70.

Tempulu harga begitu rendah OK Lim memutuskan untuk memborong minyak mentah. Tanpa hedging. Ia begitu yakin apa yang terjadi di Wuhan segera teratasi. Harga minyak pun segera naik lagi.

Ia juga percaya benar kemampuan pemerintah Tiongkok. Dalam memadamkan wabah di Wuhan itu. Bahkan ia percaya wabah itu tidak akan meluas ke mana-mana.

Meleset. Salah besar.

Ups, tidak sepenuhnya salah. Bahwa Wuhan cepat teratasi, ia benar. Bahwa pemerintah Tiongkok berhasil memadamkannya, ia benar.

Selebihnya ia salah besar.

Covid-19 merajalela ke seluruh dunia. Pun sampai sekarang.

Harga minyak mentah terus mengalami kemerosotan. Tajam sekali.

Setiap kali harga minyak mentah itu turun, setiap itu juga nilai minyak yang ditimbun OK Lim turun. Padahal timbunan minyak itu menjadi jaminan untuk kredit bank. Ia mampu melakukan penimbunan dengan uang dari bank. Ia memang harus membayar bunga bank, tapi tidak akan ada artinya kalau harga minyak naik lagi.

Tapi harga minyak terus turun.

Setiap kali harga itu turun, nilai jaminan banknya menjadi tidak cukup lagi. OK Lim harus menambah jaminan. Turun lagi. Tambah jaminan lagi.

Padahal harga minyak masih turun terus. Dari 50 ke 45. Ke 40. Ke 35. Ke 30. Ke 25. OK Lim pun panik. Beberapa waktu kemudian masih turun lagi menjadi USD 20/barel. OK Lim tidak kuat lagi. Ia mulai berpikir memainkan angka-angka. Ia panggil direktur keuangan perusahaannya. Ia minta sang direktur membuat pembukuan sesuai yang ia inginkan.

“Kalau ada risikonya saya yang bertanggung jawab,” ujar OK Lim kepada bawahannya itu, seperti dilaporkan di media Singapura. Sang bawahan minta agar perintah itu tidak hanya lisan. Itulah yang kemudian jadi bukti bahwa semua yang dilakukannya atas perintah pemilik perusahaan.

Misalnya, agar perusahaan membuat buku yang tidak senyatanya. Yang mestinya rugi dibuat tetap berlaba. Labanya dibuat besar, USD 800 juta. Agar tetap bisa mendapat kepercayaan dari bank. Untuk terus menambah kredit.

Langkah besar lainnya: OK Lim menjual stok minyaknya. Dengan harga rugi. Untuk menutup cash flow yang terus memburuk. Padahal stok itu dijaminkan ke bank. Yang setiap menjualnya harus melapor ke bank. Dan uangnya harus masuk bank.

Tapi OK Lim menjualnya diam-diam. Agar bisa menggunakan hasilnya untuk tutup sana-sini. Ibarat perjudian beneran, agar OK Lim bisa terus memainkan kartunya. Tapi ia tidak kunjung punya kartu as. Dari waktu ke waktu, OK Lim terus mengalami kekalahan.

Lantas terbongkar. Sudah terlalu banyak kartu palsu yang ia mainkan. Ketahuan. Persoalannya bukan lagi di ranah hukum dagang. Tapi sudah ke ranah pidana. Singapura keras dalam hal ini. Tidak peduli siapa OK Lim. Yang bisnisnya pernah ikut membawa Singapura menjadi salah satu sentral perdagangan minyak dunia.

Awalnya begitu harum nama OK Lim di mata siapa saja. Termasuk di mata pemerintah Singapura. Kini nama itu begitu busuknya di mata perbankan dan di mata hukum.

Orang yang begitu kaya menjadi tidak bermakna. Orang yang begitu gagah langsung ke kursi roda.

Hartanya disita pengadilan. Di bawah pengelolaan independen. Perusahaannya dijalankan oleh profesional yang ditunjuk pengadilan. OK Lim sendiri tidak kuat. Ia membawa perusahaannya ke pengadilan: untuk di PKPN, dinyatakan bangkrut.

Rumah-rumahnya di Singapura dan di Australia dibekukan. Salah satunya sebuah rumah yang di Singapura disebut bungalo. Luasnya 3.000 m2. Hanya ada beberapa rumah seperti itu di sana. Yang kalau dijual hanya warga Singapura yang boleh membelinya.

Meski semua aset sudah dibekukan –senilai sekitar Rp 50 triliun– OK Lim tidak bisa terhindar dari penjara. Padahal total asetnya itu masih cukup untuk menutup ke semua kreditnya. Yakni ke 4 bank. Senilai sekitar Rp 50 triliun juga.

Asetnya yang paling berharga adalah kapal-kapal tankernya. OK Lim punya 130 buah kapal. Tapi OK Lim melakukan perbuatan pidana.

Kalau saja semua kesulitan itu murni akibat risiko bisnis, OK Lim masih bisa bernapas. Tapi urusan OK Lim sekarang ini sangat berbeda. Bahkan sisa umurnya pun tidak akan cukup untuk menjalani hukumannya.

Bisnis itu juga soal waktu. Yang mengalahkan perjudian OK Lim juga waktu. Ia tidak berhasil melewati waktu terburuknya. Padahal kalau saja semua itu terbongkar enam bulan kemudian ceritanya bisa lain. Harga minyak belakangan naik lagi. Bahkan bulan lalu sudah USD 79 barel. Sudah USD 20 di atas harga saat ia mulai menimbun.

Terlambat. OK Lim sudah telanjur jadi tersangka.

Harta dua anaknya juga dibekukan. Untuk hidupnya sehari-hari pengadilan menjatuhkan putusan bulan lalu: hanya boleh menghabiskan USD 10.000/minggu per orang. Sekitar Rp 120 juta/minggu/orang.

Yang dimaksud per orang adalah: OK Lim, istri, anak (dua orang), menantu (dua orang), dan cucu-cucu. Masing-masing boleh menghabiskan USD 10.000/minggu untuk keperluan hidup mereka.

Mereka juga masih boleh menggunakan uang untuk membayar pengacara –asal tarifnya harus wajar.

Sebenarnya masih ada satu keinginan OK Lim yang belum terpenuhi. Yakni membangun kilang BBM terbesar di Asia. Kapasitasnya 600.000 barel. Lokasinya pun sudah ia pilih: di sebelah pusat penimbunan minyak mentahnya itu. Agar efisien.

Sejak tahun 2010, OK Lim berjuang mewujudkannya: belum berhasil. Dari empat kilang yang dimiliki empat perusahaan di sana, Singapura sudah memiliki kilang 1,4 juta barel. Kalau saja kilang milik OK Lim berhasil Singapura punya kapasitas kilang 2 juta barel.

OK Lim lahir di Kabupaten Putian, Fujian. Dulunya kabupaten ini amat miskin. Letaknya di antara kota Xiamen dan Fuzhou. Ketika masih kecil ia ikut orang tua pindah ke Singapura. Waktu itu Singapura masih semiskin Indonesia.

Setelah remaja, OK Lim mengerjakan apa saja di Singapura. Terutama mengirim bahan bakar dalam jumlah kecil-kecil ke perahu-perahu yang ada di pantai Singapura. Dari situ OK Lim berkembang menjadi raja minyak. Dan kini harus mengenang semua itu dari atas kursi rodanya.

Ia susah sekali. Tapi rasanya masih lebih susah yang terkena Covid, yang tidak mendapat kamar di rumah sakit, yang tidak bisa dapat obat dan kalau pun akhirnya didapat harganya mahal sekali. (*)

Minggu, 11 Juli 2021

Foto utama oleh reuters.com