Arsip Kategori: Humaniora

Ketika VBL Bangkitkan Optimisme Rakyat Flores

157 Views

Oleh : Valeri Guru

Satu pekan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) bersama sejumlah pejabat penting bersafari keliling ke kabupaten-kabupaten di Pulau Flores bagian barat, mulai dari Labuan Bajo hingga berakhir di Kota Pancasila, Ende. Ada spirit besar yang digelorakan VBL di setiap titik pertemuan bersama rakyat.

Ia mau membangkitkan rasa optimisme rakyatnya di Flores Barat, untuk tetap bersinergi dan bersatu dalam spirit NTT Bangkit, NTT Sejahtera.

Senin, 22 Juni 2020, Gubernur VBL memulai safari pembangunan yang dikemas dalam kunjungan kerja di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Dari bumi Komodo itu, VBL kembali mempertegas komitmennya untuk menjadikan pariwisata sebagai prime mover pembangunan NTT. Dalam spirit Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium, Gubernur VBL perlahan membenahi Labuan Bajo.

Hal pertama yang dilakukan adalah menertibkan tanah milik Pemerintah Provinsi NTT di Pantai Pede, yang akan dijadikan hotel dan area publik. Semua itu harus dikelola berbasis ekologis yakni, membangun disesuaikan dengan lingkungan. Tidak boleh ada pohon yang dirusak. VBL malah mengingatkan agar bangunan hotel di bibir Pantai Pede, harus jauh lebih bagus dan representatif, dari bangunan hotel lain di kawasan tersebut. Tentu, desain pun harus lebih wah, sehingga wisatawan pun akan merasa at home dan nyaman. Prinsipnya, pembangunan pariwisata harus berbasis masyarakat.

Dari Pantai Pede, VBL berkeliling melihat Pulau Padar dengan speed boat untuk memastikan bahwa kawasan itu kembali menggeliat dan sudah bisa dikunjungi wisatawan di era normal baru setelah tiga bulan sepi karena pandemi corona. Menariknya, dari Labuan Bajo pula VBL mengingatkan semua stakeholder bahwa untuk membangun NTT harus dimulai dengan riset; harus dengan perencanaan yang matang-baik.

Sebab, mengutip para pakar, bahwa kalau perencanaan baik dan benar, maka laba 50 persen sudah ada di tangan. Karena itu, dalam pelaksanaannya pun harus benar dan konsisten, sehingga VBL meyakini akan terjadi loncatan-loncatan besar dan signifikan untuk kemajuan pembangunan di NTT. Setiap pemimpin, menurut VBL, harus bisa meninggalkan karya besar dan karsa yang akan selalu dikenang oleh masyarakat.

Di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Gubernur VBL “bersilaturahmi” dengan Mgr. Siprianus Hormat, Pr. Di hadapan Mgr. Sipri, VBL menegaskan kehadirannya dalam konteks pelayanan kepada masyarakat. Bagi VBL, kehadiran Mgr. Sipri membawa energi baru dalam membangun NTT.

Dalam konteks ini, VBL mengingatkan bahwa masalah serius di Provinsi NTT selama ini adalah seolah-olah kita bekerja; seolah-olah kita orang baik. Kita kerja seolah-olah kita pintar. Padahal, masyarakat terjebak di dalam keterbatasan pengetahuan. Karena itu, butuh perencanaan yang baik untuk membangun NTT. Butuh energi bersama untuk membangun NTT. Pun, perlu desain bersama antara gereja dengan pemerintah.

Gayung pun bersambut. Mgr. Sipri tegas menyatakan bahwa Keuskupan Ruteng senantiasa mendukung pembangunan manusia NTT yang utuh dan menyeluruh meliputi penguatan aspek mental dan kerohanian. Artinya, menurut Uskup Ruteng, gereja berkontribusi secara khas untuk menguatkan dan mengembangkan aspek etis spiritual dari kehidupan manusia dan masyarakat NTT. Gereja selalu siap membantu dan mendoakan Bapak Gubernur VBL dalam mewujudkan NTT Bangkit NTT Sejahtera.

Di Lawara, Kecamatan Reok TPI Reo, Kabupaten Manggarai, pada Rabu 24 Juni 2020, VBL lagi-lagi berkata tegas bahwa tugasnya sebagai gubernur adalah membawa kesejahteraan rakyat NTT.

Tidak pernah ada kata takut dalam diri VBL. Kalau ada kinerja yang baik dan positif di masa pandemi corona, pantas diapresiasi.

Sebab, VBL optimis bahwa kehadirannya atas perintah Tuhan dan rakyat NTT untuk membawa kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ia tidak ada urusan dengan yang berbeda pendapat, termasuk demo sekalipun. Yang mau demo, ya silakan, ia tidak pernah takut.

Kunker VBL kali ini lebih bernuansa wisata. Dari Labuan Bajo, VBL menyisir pantai utara Flores yang memiliki panorama yang indah, untuk memastikan bahwa infrastruktur di wilayah itu bisa dikebut untuk mendukung pariwisata. Manggarai Raya pun mendukung penuh pariwisata sebagai prime mover pembangunan NTT.

“Kami dukung program pariwisata dengan memanfaatkan sumber daya lokal sehingga masyarakat bisa dapat manfaat dari pengembangan pariwisata khususnya di Wae Rebo,” tutur Bupati Manggarai Kamilus Deno. Khusus di Wae Rebo. Menurut Deno, masyarakat telah menyediakan tanah untuk membangun home stay. “Masyarakat sudah siap tanah dan pemerintah akan bangun home stay,” kata Deno.

Tak cuma itu, VBL pun masuk sawah di Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Di sini, VBL membangkitkan optimisme petani bahwa sawah itu simbol kesejahteraan dan kehidupan. Karena itu, jika masyarakat di desa atau daerah persawahan tidak bekerja, maka hanya menunggu waktu untuk orang-orang di kota tidak berdaya atau menunggu waktu untuk mati.

Lalu, di tengah pro kontra pembangunan pabrik semen dan batu gamping di Manggarai Timur (Matim), Gubernur VBL tak bergeser dari posisi dasar; melanjutkan pembangunan itu. Bahkan, meminta Bupati Manggarai Timur Ande Agas untuk melanjutkan rencana tersebut, sembari menunggu proses Amdal-nya. Bagi VBL, jika ada pabrik semen, maka Matim akan bertumbuh luas biasa.

VBL pun amat menghargai perbedaan pandangan dalam masyarakat terkait rencana pendirian pabrik semen di Matim. “Kita semua yang pro dan kontra ikut terlibat menjaga agar Amdalnya itu bisa berjalan baik. Setelah semuanya selesai, saya harapkan pabrik semen ini bisa berjalan. Sebagai gubernur saya sudah bertemu dengan pihak-pihak dan saya sudah pergi lihat masyarakat di sekitar sana; mereka hidup selama ini dari menjual kayu api. Tapi dengan industri itu masuk dengan tetap menjaga lingkungan hidup dan pembangunan yang inklusif, kita berharap agar pembangunan pabrik semen dapat tetap menjaga lingkungan agar tidak rusak,” urai Gubernur VBL.

Di Ngada, Gubernur VBL memberi perhatian ekstra ke sektor perikanan dan kelautan. VBL melihat dari dekat budi daya sejuta Ikan Kerapu di Wae Kelambu, Desa Sambi Rasa Barat, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Ada prospek menjanjikan. Asumsinya, dari satu juta ikan kerapu di Wae Kelambu, yang gagal atau mati sekitar 300 ribu ekor, maka masih ada 700 ribu. Nah, 700 ribu ini dianggap paling murah, dijual Rp.100.000 per ekor. Itu berarti di sini ada sekitar Rp.70 miliar; hari ini, di sini. Ada optimisme.

Di Mbay, Kabupaten Nagekeo, di tengah jaringan irigasi persawahan 1 km Mbay Kanan, 27 Juni, VBL kembali mengingatkan bahwa tugas utama pemerintah adalah membebaskan rakyat NTT dari kemiskinan. Pemerintah bekerja menyejahterakan rakyatnya. Apalagi, menyelamatkan rakyat merupakan tugas mulia seorang pemimpin.

Pemimpin [versi VBL] yang bodoh dan malas tidak mungkin sanggup keluar dari box atau kotak yang mengungkung. Karena itu, dalam memimpin mulailah berpikir dan bertindak out of the box; yang penuh inovasi dan kreatif. Jangan bosan berkreasi. Karena pemimpin punya wewenang dan kekuasaan yang besar dalam berkreasi untuk membawa rakyatnya mencapai kesejahteraan.

Dalam perspektif VBL, Kabupaten Nagekeo merupakan destinasi wisata yang sangat indah dan menarik. Karena itu, benahi semua infrastruktur, sarana prasarana, dan lain sebagainya.

Di bidang pendidikan, anak-anak NTT harus memperkuat kemampuan di aspek literasi dan numerik. Harus memperkuat kemampuan anak-anak terhadap mata pelajaran bahasa (Bahasa Indonesia dan Inggris), logika dan matematika. Anak-anak NTT pun harus mengikuti berbagai kompetisi untuk meningkatkan aspek kognisi, psikomotorik dan afeksi. Sebab, di kemudian hari generasi NTT yang unggul ini akan menjadi kekuatan bangsa di dalam seluruh proses pembangunan.

Kunker VBL akhirnya tiba di etape terakhir, Kota Pancasila Ende. Di Kota bersejarah ini, tempat Bung Karno, Proklamator Bangsa, menggali nilai-nilai Pancasila, VBL memotivasi rakyat NTT untuk kokoh menjaga kemajemukan dan persatuan, dalam spirit patriotisme dan nasionalisme.

Salah satu caranya, terus mengemahkan Salam Kebangsaan khas NTT. (*)

Valeri Guru

*/Penulis merupakan Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum pada Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT
Editing (+rony banase)
Foto oleh facebook Valeri Guru

Percakapan terakhir Didi Kempot dengan Letjen Doni Monardo

196 Views

Catatan Egy Massadiah

Sulit percaya untuk menerima kenyataan bahwa Didi Kempot telah berpulang, Selasa pagi, 5 Mei 2020. Betapa tidak. Di tengah kesibukan menangani amuk virus corona, setidaknya dalam tiga hari terakhir, nama Didi Kempot selalu jadi salah satu topik pembicaraan Letjen Doni Monardo.

Apa pasal, nama Didi Kempot memenuhi hari-hari Doni Monardo?

Bermula dari kedatangan tim kreatif yang mengusulkan penggunaan jingle lagu bagi kepentingan sosialisasi Covid-19, termasuk imbauan untuk tidak mudik di Lebaran mendatang.

Di ruang multimedia lantai 10 Graha BNPB sore itu, bermunculan ide. Selain Doni Monardo yang antusias diskusi, wartawan senior Tommy Suryo Pratomo, serta sejumlah anggota Gugus Tugas dan tim kreatif.

Salah satu usulan adalah lagu “Garuda di Dadaku” tetapi diubah liriknya. Ada yang setuju, tapi ada yang menolak.

Yang setuju beranggapan, lagu itu sudah sangat populer. Sedang yang menolak, beralasan, itu lagu “trade mark” milik suporter sepakbola. Tidak tepat, dan terlalu dipaksakan.

Lalu, muncul gagasan untuk meminta bantuan “The Godfather of Broke Heart, Lord Didi Kempot”. Begitu muncul nama Didi Kempot, seisi ruang hening sejenak, ada yang saling pandang, semua seolah mengekspresikan kesadarannya yang baru datang setelah pergi entah ke mana.

“Oh iya…. Kenapa tidak pakai Didi Kempot saja? Bagus itu,” suara sebagian orang hampir bersamaan.

Pendek kata, diskusi pun makin seru. Nama Didi Kempot memenuhi ruang pembicaraan. Esensinya, semua pembicaraan yang mendukung pemakaian suara Didi Kempot untuk kampanye “Jangan Mudik” serta sosialisasi terkait Covid-19 lain.

Terlebih, Didi Kempot sudah berjuang sebagai relawan Covid-19. Di daerahnya, Ngawi, Jawa Tengah, Didi Kempot membagi-bagikan sembako. Bahkan, melalui salah satu stasiun televisi, dengan dukungan Presiden Joko Widodo, Didi Kempot melakukan konser dari rumah, untuk menggalang dukungan dana bagi korban Covid-19. Tak kurang dari Rp 7 miliar dana terkumpul.

Info kiprah Didi di atas meluncur kembali dari WA Tommy ke saya. Saya segera menyampaikan ke Ketua Gugus Tugas. Sebagai rasa terima kasih kepada Didi Kempot, Letjen TNI Doni Monardo membuat video pendek pada hari Sabtu sore, 2 Mei 2020. Begini narasi video berdurasi 1,5 menit itu yang saya rekam menggunakan hape saya:

“Mas Didi, saya Doni Monardo, Ketua Gugus Tugas menyampaikan ucapan terima kasih kepada mas Didi yang telah ikut berpartisipasi dalam membantu masyarakat kita. Para pahlawan bukan hanya mereka yang berjuang mengangkat senjata, atau para pahlawan kemanusiaan seperti dokter yang membantu mereka yang menderita akibat serangan virus corona, tetapi juga orang-orang seperti mas Didi, para budayawan, para seniman yang telah mengajak masyarakat untuk ikut meningkatkan disiplin, agar tidak terpapar virus corona. Termasuk upaya dan langkah-langkah mas Didi yang telah membantu meringankan saudara-saudara kita baik yang terpapar virus corona, maupun yang terkapar karena kehilangan pekerjaan. Lanjutkan perjuangan mas, semoga Tuhan selalu bersama kita semua. Salam tangguh. Salam kemanusiaan.”

Tak hanya itu. Hari selanjutnya, esok hari Minggu, Didi Kempot sempat melakukan video call dengan Tomy Suryo. Tentu saja membicarakan rencana memakai jasa mas Didi Kempot untuk kampanye “Jangan Mudik” dan sosialisasi Covid-19.

Kemasannya bahkan direncanakan melalui sebuah konser dari rumah dalam skala yang lebih besar dari konser dari rumah sebelumnya.

Tommy pun segera mengarahkan video call itu ke Doni Monardo. Saat itu, Doni baru saja meninggalkan ruang multimedia di lantai 10 Graha BNPB untuk persiapan sholat ashar. Tommy segera mendatangi ruang Doni. Ia menjumpai Doni baru selesai wudhu.

Gagang HP diserahkan Tommy ke Doni. Doni pun melakukan video call dengan Didi Kempot. Dengan senyum lebar, Doni dan Didi saling sapa. Tak lupa, Doni mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah dilakukan Didi Kempot sebagai relawan membantu penanganan Covid-19.

Syahdan. Kesepakatan sudah bulat. Tim teknis pun sudah mempersiapkan rencana konser Didi Kempot bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Innalilahi wa inaillaihi roji’un…. Selasa pagi, 5 Mei 2020, bak petir menyambar, demi mendengar berita kabar Didi Kempot meninggal dunia. Ambyar hati Doni Monardo. Ambyar semua hati orang-orang Gugus Tugas, terlebih yang sedang intens membicarakan konsep kerja kemanusiaan bareng-bareng. Ambyar perasaan bangsa Indonesia.

Begitulah Tuhan sudah menunjukkan kebesaran dan kekuasaanNya. Dengan perasaan remuk, suara yang tersekat di leher, Doni Monardo pun berusaha tegar saat mengucapkan bela sungkawa melalui video pendek.

Katanya, “Kami segenap keluarga besar Gugus Tugas menyampaikan rasa duka cita yang mendalam, atas wafatnya sahabat, seniman nasional, dan relawan kemanusiaan, almarhum Didi Kempot. Semoga almarhum Didi Kempot mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Diterima semua amal kebaikannya, diampuni segala kesalahannya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, keikhlasan, dan ketabahan.”

Sejurus berkelebat sebuah bayangan melintas di benaknya… Lelaki berambut gondrong, bersurjan hitam dan mengenakan blangkon, dengan senyum yang tersungging di bibir berseru, “Saya pamit, jenderal..” ***

Foto utama (*Instagram Didi Kempot)

Didi Kempot, ‘Sosok yang Mengangkat Budaya Jawa Kembali Dicintai’

150 Views

Oleh R. Ay. Febri Dipokusumo

Mengenal seniman besar ini, seperti bertemu kebanyakan orang Jawa yang apa adanya, ramah dan sederhana. Awalnya saya hanya tahu lagu Stasiun Balapan yang cukup populer dan selebihnya saya tidak terlalu menaruh perhatian, namun sejalan dengan waktu, ketika saya banyak berkumpul dengan anak-anak muda, saya mendengar mereka menyanyikan beragam lagu langgam campur sari dengan bahasa Jawa yang sangat fasih dan saya pun menjadi terhibur dan menikmati lagu-lagu tersebut yang sangat ringan didengar sambil melafalkan bahasa Jawa yang sehari-hari sudah tidak lagi maksimal dipakai.

Hingga ada kesempatan, saya menyaksikan konser terakhirnya secara langsung saat Ulang Tahun keponakan saya putra dari Raja Karaton Surakarta Pakubuwono XIII.

Saya takjub dengan sosok rendah hati ini, karena mampu memikat penonton yang 90% anak muda seusia SMA.

Didi Kempot mampu membuat anak-anak muda ini bergembira sambil melafalkan lagu berbahasa Jawa yang tak jauh beda dengan pamor bila anak-anak muda ini menyaksikan konser berbahasa Inggris.

Tak lama berselang di bulan Desember 2019, saat Ulang Tahun pemilik Danarhadi, Bapak Santosa Doellah di Gedung Colomadu, saya kembali dibuat takjub dengan konser Didi Kempot. Kali ini, penonton sebagian besar para tokoh masyarakat di Kota Solo dan ibu-ibu berbagai kalangan dari para pembatik, pengusaha hingga pejabat.

Kenangan saya (duduk paling ujung kanan) bersama Mas Didi Kempot (duduki paling ujung kiri)

Semua seolah terhipnotis tak beranjak dari duduknya dan berjoget bersama mendekati panggung seolah tidak mengenal perbedaan latar belakang. Sungguh luar biasa, 90% penonton hafal lagunya dan semua tampak bahagia. Selesai acara pun, Didi Kempot tidak enggan untuk diminta berfoto, mengobrol bahkan berbagi nomor telepon dengan siapa pun.

Terakhir dalam konser live KOMPAS TV, saya dibuat lebih takjub lagi karena jumlah donasi terus bergerak hingga mencapai angka lebih dari 7 Miliar dalam sekejap, bahkan membuat saya pun juga tergerak ikut berdonasi.

Magnetnya sungguh luar biasa, menggerakkan orang melakukan kebaikan tanpa dipaksa. Lebih luar biasanya lagi, busana batik motif Jawa, bahkan busana adat Jawa dan latar Wayang selalu menjadi bagian dari setiap penampilannya.

Didi Kempot membawa budaya Jawa menjadi kembali dicintai dan membuat budaya bangsa kita ini menjadi mendunia. Indonesia butuh sosok seperti ini yang mampu membawa pesan moral kebaikan tanpa paksaan, yang membuat orang seakan terhipnotis tanpa sadar bahkan yang bukan orang Jawa pun ikut melafalkan lagu berbahasa Jawa ini dengan fasih.

Semoga ke depan semakin banyak muncul seniman-seniman daerah yang akan mengajarkan pada kita betapa indahnya budaya bangsa ini.

Selamat jalan “Sang Maestro” kau tidak hanya menghibur dengan lagumu, tapi kau mengajarkan banyak hal tentang budaya dan kearifan lokal di mana masyarakat Indonesia dikenal ramah, rendah hati dan berjiwa memberi.

Semoga kau kembali dalam kedamaian-Nya.

*/Penulis merupakan District Governor Rotary D3420 Indonesia
Foto utama (Koleksi Instagram Didi Kempot)

Cerita Singkat Istri El Asamau, ‘Menyingkap Efek Psikologis Pasien 01 Covid-19 NTT’

1.025 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pasien 01 Corona Virus Disease (Covid-19) di Provinsi NTT, El Asamau, kini telah dinyatakan negatif Covid-19 setelah menerima hasil swab PCR Test pada Jumat, 24 April 2020. Saat ini, El Asamau sedang menjalani isolasi mandiri di rumah atas anjuran pihak RSUD Prof. Dr. W. Z. Yohanes Kupang.

Sebelumnya, Pemilik nama lengkap Elyas Y. Asamau, S.IP., MPP. dikarantina dan menjalani perawatan sejak Jumat, 10 April 2020 oleh tenaga medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) W. Z. Yohanes Kupang usai ditetapkan sebagai Pasien 01 positif Corona oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional pada Kamis, 9 April 2020.

Bagaimana efek psikologis yang dirasakan oleh keluarga El Asamau, terutama istri tercintanya, Wany Here Wila?

Secara eksklusif, Portal Berita Daring Garda Indonesia melakukan wawancara via telepon pada Selasa, 28 April 2020 pukul 12.14—13.02 WITA.

Simak petikan wawancara antara Garda Indonesia dan Wany Here Wila,

Garda Indonesia, Sebelum membuat video pertama apakah El menyampaikan pada Ibu Wany ?

Wany Here Wila: Ia membuat video sewaktu berada di ruang isolasi. Sebelum membuat video, El tidak menyampaikan, tetapi karena sejak dinyatakan bahwa di NTT satu orang sudah positif covid-19, banyak orang yang mengontak saya dan menanyakan keadaan kami. Ini sebenarnya rahasia, tetapi kemudian El membuat video di channel Youtube-nya agar orang-orang tidak panik dan khawatir, karena dirinya sedang baik-baik saja. Pembuatan video itu, untuk menyampaikan kepada keluarga, kenalan dan kerabat di Mata Garuda, sehingga jadilah video pertama tersebut. (Simak di youtube  https://youtu.be/uw1b9YvJwjo)

Garda Indonesia, Apakah ada larangan dari pihak rumah sakit untuk tidak menggunakan handphone:

Wany Here Wila: Tidak ada larangan dari pihak rumah sakit bagi El untuk tidak menggunakan handphone. El diberikan keleluasaan dan kemudahan berkomunikasi dengan kami. Hal ini dilakukan agar selama masa isolasi di rumah sakit, El tidak merasa stres. Selain membawa handphone El juga dibawakan perlengkapan kampusnya (Karena masih berkuliah online) seperti beberapa buku, laptop, termasuk hp diboyong ke rumah sakit karena K El hobi menulis, membuat dan mengedit video.

Momen indah bersama, El Asamau dan Wany Here Wila saat menimbah ilmu di Amerika Serikat

Garda Indonesia, Adanya komentar bahwa video dibuat sekadar mencari sensasi dan menaikkan subscriber dan apa dampak psikologi buat El ?

Wany Here Wila: Channel Youtube dibuat sudah sangat lama. Ia membuat video hanya untuk pengalaman-pengalaman yang membuatnya senang. Berbeda dengan kejadian kali ini, ia berpikir untuk membuat video dan dimasukkan dalam Youtube sebagai pengalaman bahwa ia pernah mengalami kejadian ini sebelumnya dan ke depan telah ada file pengalaman. Kami tidak terlalu mengubris bully dan komentar-komentar yang mengatakan bahwa kami hanya mencari sensasi dan menaikkan subscriber, K El bukan Youtuber, tetapi mengelola komunitas Mata Garuda bagi alumni penerima beasiswa LPDP dan mengelola Yayasan Dola Koyakoya (Dola : Gunung Koyakoya di Pulau Alor). Jadi, ia tidak memiliki niat untuk mencari sensasi seperti yang dikatakan oleh orang-orang dan tidak terpikir hingga video tersebut bakal viral.

Garda Indonesia, Apakah kondisi tersebut berdampak secara psikologis bagi anak ?

Wany Here Wila: Kami sangat terbuka kepada anak-anak. Anak pertama kami El Sadah yang biasanya disapa Mone atau Eta sangat dekat dengan bapaknya. Kami sudah memberitahu kepadanya mengenai apa itu virus korona dan keberadaan bapaknya di rumah sakit.

Garda Indonesia, Bagaimana respons keluarga dan tetangga?

Wany Here Wila : Awalnya keluarga cukup kaget, namun El menyampaikan kepada saya bahwa apa pun hasilnya kami harus tetap tenang. Sebelum hasil tes keluar, saya yang saat itu berada di rumah bersama anak-anak berdoa dan minta kekuatan kepada Tuhan. Setelah El menelepon, respons saya hanya bisa berserah. Mama kami yang berada di Kupang dan Alor serta kakak saya di Solo menelepon dan merasa sangat khawatir, hanya oma yang sedikit syok, namun saya menyampaikan kepada mereka bahwa keadaan El tidak seperti yang disampaikan oleh orang-orang di luar sana. (Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/04/11/hikmah-di-balik-orang-ntt-pertama-positif-covid-19/)

Garda Indonesia, Apa saja bentuk dukungan moral dan riil untuk El selama diisolasi di RS W Z Yohanes Kupang ?

Wany Here Wila : Dukungan yang saya berikan sebagai istri yaitu menanyakan keadaannya, terus berdoa, mengantarkan makanan dan minuman ke rumah sakit dan mengirimkan video lucu saat bersama anak-anak di rumah yang sehat-sehat sehingga tidak membuatnya bertambah khawatir. Saya tetap memberinya kekuatan dan tidak menghiraukan tetapi berusaha mengerti perkataan orang lain tentang kami, karena pasti mereka juga takut terhadap virus corona.

Garda Indonesia, Selama masa isolasi di rumah sakit apakah El pernah jujur terpengaruh secara psikologis ?

Wany Here Wila: Pernah. Sewaktu rentang waktu dua hari ia tidak berkomunikasi dengan kami. Setelah hari ketiganya ia menelepon dan jujur pada saya bahwa ia merasa sangat depresi. Ia merasakan seperti itu bukan karena bully yang diterimanya tetapi karena akumulasi beban yang ia simpan bersamaan dengan kondisi yang berdampak pada bapak di LP. El pribadi yang tertutup saat ada masalah dan tidak ingin membuat saya khawatir. Ia merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menangis dan tidak mau makan selama dua hari itu, tetapi dokter dan tenaga media selalu memberikan semangat padanya. Ia berkata bahwa ada satu buku berjudul ‘Filsafat Teras’ oleh Dr.Mery Mauko yang diberikan oleh dokter yang membuka pikiran dan menyadarkannya. Setelah dua hari tersebut, Puji Tuhan, K El kembali pulih.

Garda Indonesia, Apakah pembuatan video El yang kedua sebagai bentuk akumulasi beban yang ia tanggung?

Wany Here Wila: Iya, kalau ada orang yang ingin mem-bully dirinya tidak apa-apa tetapi jangan orang-orang di sekitarnya. Saya juga sempat menelepon untuk menegur oknum yang menyebarkan berita hoaks mengenai kami di laman Facebook Viktor Lerik Bebas Bicara dengan menggunakan akun palsu, tetapi orang itu malah membantah. Saya akhirnya berkata padanya kalau ia tidak tahu apa-apa mengenai kejadian yang terjadi sebenarnya pada kami.

El Asamau bersama Istri tercinta, Wany Here Wila dan buah hati mereka, Mone

Garda Indonesia, Kapan El dinyatakan sembuh dan bagaimana reaksi keluarga?

Wany Here Wila: El dinyatakan negatif pada Jumat, 24 April sekitar pukul 15.00 WITA ( 3 sore). Ia sebenarnya sudah mendapat hasilnya terlebih dahulu tetapi ia menunggu hasil tes saya dan adik Dinda, karena dia khawatir virus corona kena ke kami. Setelah kami dinyatakan negatif, ia akhirnya terbuka bahwa ia juga negatif, kami senang sekali, Puji Tuhan. Akhirnya pada Sabtu, 25 April 2020 pukul 16.30 WITA (setengah lima sore) ia menelepon untuk dijemput di rumah sakit dan langsung menuju ke rumah.

Garda Indonesia, Adakah imbauan dari pihak rumah sakit untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari ?

Wany Here Wila: Iya, langsung pisah kamar. Setelah pulang di rumah langsung melakukan isolasi mandiri dan menggunakan kamar yang berbeda. Tidak ada kontak fisik di antara kami, komunikasi kami menggunakan telepon atau melalui pesan Whatsapp. Terkadang, jika ingin makan, K El menyampaikan melalui telepon atau pesan Whatsapp, terkadang saya juga memanggil untuk makan jika telah tepat jadwalnya dan terkadang ke luar kamar untuk olahraga.

Garda Indonesia, Apakah selama isolasi mandiri di rumah melakukan kontak fisik dengan El?

Wany Here Wila: Oh tidak ada! K El tetap menjaga jarak dengan saya dan anak.

Garda Indonesia, Apakah ada penelusuran atau contact tracing dari Gugus Tugas dengan mendatangi rumah untuk wawancara ?

Wany Here Wila: Hanya dari Babinsa memberikan informasi untuk menjaga jarak (physical distancing) maupun social distancing. Pihak Babinsa juga melakukan penyemprotan disinfektan di rumah.

Garda Indonesia, Bagaimana pandangan Ibu Wany terhadap dampak penyebaran Covid-19?

Wany Here Wila: Menurut saya pandangan masyarakat khususnya kaum awam memiliki image yang buruk terhadap covid-19, sehingga banyak orang yang memiliki gejala tetapi takut memeriksakan diri ke rumah sakit. Dampak covid-19 ini juga akan mempengaruhi psikologis seseorang apalagi jika lingkungan tidak menerima.

Padahal menurut pandangan saya sebaiknya langsung periksa di rumah sakit. Sewaktu hal ini menimpa kami, dari Dinas terus melakukan pemantauan hingga ketika saya dan keluarga hendak melakukan swap test dijemput langsung oleh ambulans dan Gugus Tugas bekerja dengan sangat cepat dalam melayani kami.

Garda Indonesia, Bagaimana me-manage beban psikologis jika kita atau keluarga kita terpapar Covid-19?

Wany Here Wila: Sebaiknya jangan terlalu pikiran atau stres karena akan mempengaruhi kondisi fisik. Saya dan mama ketika panik dan stres sempat merasa mual dan muntah-muntah, tapi kemudian kami menyingkirkan pemikiran tersebut dan ingin tetap berpikir positif ditambah dukungan dari orang-orang terdekat kami.

Penulis (+rony banase)
Editor (*_Danya Banase)
Foto (*/ facebook koleksi pribadi Wany Here Wila)

Kisah Rotary Youth Exchange Program di Perancis dalam Pandemi Covid-19

582 Views

Oleh Kusuma Maharani

Perkenalkan nama saya BRA Kusuma Maharani, pelajar Indonesia berumur 17 tahun yang sedang mengikuti Rotary Youth Exchange Program di Perancis (*baca https://id.m.wikipedia.org/wiki/Rotary_Youth_Exchange) Saat ini saya tinggal di daerah Alsace, Perancis dan bersekolah di Lycée Louis Armand Mulhouse. Selama kurang lebih 8 bulan di sini, saya tinggal bersama Host Family (keluarga angkat).

Wilayah di mana saya menetap termasuk yang memiliki banyak kasus Covid-19. Sekolah sudah diberhentikan sejak 10 Maret 2020 dan akhirnya dibuat keputusan oleh pemerintah setempat bahwa diadakan lockdown nasional sejak 16 Maret 2020.

Peraturan mengenai lockdown di sini cukup tegas, karena diberlakukannya denda jika keluar rumah tanpa ada alasan penting. Dengan adanya pandemi ini, tentu saja ekonomi sangat terdampak. Banyak usaha yang harus tutup dan kantor yang harus diberhentikan.

Kusuma Maharani dengan balutan busana Rotary Youth Exchange plus perpaduan batik Indonesia

Tentu saja, ini tidak mudah bagi semua orang, karena pemasukan banyak orang berhenti begitu saja dengan kebutuhan pokok yang terus menerus harus dipenuhi.

Penerapan Work From Home juga dilakukan di sini, namun ada banyak pekerjaan yang tidak bisa dilakukan secara daring. Ini merupakan waktu yang sangat sulit bagi banyak orang di berbagai tempat di dunia dan memang telah menimbulkan frustrasi kepada banyak orang.

Ada banyak orang yang keberatan dengan peraturan lockdown ini, namun karena ketatnya peraturan, sedikit demi sedikit mulai tertib. Saya sendiri tidak keluar rumah sejak 10 Maret 2020 kecuali untuk pindah ke host family ketiga satu pekan yang lalu. Untungnya, saya mendapatkan banyak support selama lockdown. Mulai dari Komite Rotary Youth Exchange Perancis maupun Indonesia.

Adanya dukungan dan perhatian penuh dari KBRI Paris dan PPI Alsace juga membuat saya lebih tenang. Orang tua dan keluarga di Indonesia pun selalu menjalin komunikasi dan memberi perhatian kepada saya. Keberadaan host family yang kooperatif juga memberi saya kenyamanan.

“Mengapa kakak tak pulang ke Indonesia dan memutuskan untuk tetap tinggal?” tanya beberapa kerabat dan teman dekat

Banyak yang berkata bahwa ini bukan tahun yang tepat untuk melakukan pertukaran pelajar. Namun, menurut saya setiap murid pertukaran pelajar memiliki ceritanya masing-masing dan bagi saya, inilah bagian dari cerita saya.

Memang benar, banyak acara dan kegiatan yang ditunda atau bahkan di batalkan. Namun, yang saya rasakan adalah walaupun ada rasa kecewa tapi saya tetap bersyukur masih bisa menjalani program exchange dengan cara lain yang tidak kalah menyenangkan.

Saya harus menyelesaikan apa dimulai dan untuk tetap bersyukur dan melihat sisi positif yang ada di depan mata. Meskipun tidak sekolah, banyak manfaat yang tetap saya dapatkan. Saya belajar bahwa tidak semua hal harus dipelajari di ruang kelas.

Kusuma Maharani dengan topi hasil kreasinya

Di situasi seperti ini, justru saya mempelajari banyak hal seperti bercocok tanam, membuat topi dan masker, memasak makanan khas Perancis, bahkan memulai untuk belajar bahasa baru dan lain-lain. Hal ini melatih saya untuk bersikap lebih mandiri dan untuk tetap melakukan hal hal positif dan bermanfaat walaupun dalam kondisi seperti ini.

Saya juga bisa lebih membuka pikiran dan wawasan tentang bedanya masyarakat mengatasi masalah di sini dan di Indonesia. Banyak orang yang sadar dan lebih waspada, banyak juga yang masih lalai. Namun, menurut saya dalam kondisi apa pun, kalau kita bisa menyikapinya dengan baik, pasti hal hal positif akan berada di sekitar kita dan jangan lupa untuk bersyukur untuk hal-hal kecil karena banyak hal kecil yang akan terasa lebih berarti kalau kita mulai mensyukurinya.

Saran saya bagi teman-teman di Indonesia, jangan anggap remeh apa pun. Tetap jaga kebersihan dan tetap waspada. Usahakan untuk mulai menjalani gaya hidup sehat dengan memperhatikan asupan makanan dan vitamin dan juga terus melakukan aktivitas yang menggerakkan tubuh walaupun hanya di rumah.

Pose Kusuma Maharani (kanan) dengan teman-teman Program Rotary Youth Exchange

Walaupun belum diberlakukan lockdown nasional di Indonesia, ada baiknya dimulai dari diri sendiri, karena lebih baik untuk mencegah terlebih dahulu. Berpikirlah dengan positif namun tetap waspada, banyak hal yang bisa dipelajari dan banyak hal yang mungkin tidak disangka bisa dilakukan pada hari-hari biasa. Kebiasaan ini nanti pasti akan terbawa walaupun pandemi sudah selesai dan jangan lupa untuk bersyukur dan mengapresiasi orang-orang yang telah membantu Indonesia dalam pandemi ini.(*)

*/Penulis merupakan pelajar asal Indonesia yang mengikuti pertukaran pelajar, salah satu Program Unggulan dari Rotary International
Foto (_ koleksi pribadi penulis)
Editor (+rony banase)

‘Kartini Zaman Now’ di Tengah Pandemik Corona

269 Views

Oleh Helmy Tukan

Kartini muda belia meninggal di usia muda, namun karya-karyanya menginspirasi kaum wanita maupun kaum pria di seantero jagad. Ada beberapa karyanya yang selalu kupegang hingga kini, yang selalu membuatku semangat dalam menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga dan wanita karier.

Tahun ini, kita merayakan hari Kartini dalam suasana yang berbeda dan mungkin sangatlah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kita yang kini mengalami masa di mana muncul wabah virus Corona yang semakin menggerogoti seisi warga dunia. Tak ada kegiatan peringatan hari Kartini di luar rumah, tak ada nyanyian Kartini di sekolah-sekolah, tak terdengar pula puisi-puisi Kartini yang dibawakan oleh siswa-siswi ku di tempat mengajarku di SD Inpres Waibalun, ya.. semua ini karena Corona.

Hari ini, 141 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 21 April 1879, Raden Ajeng Kartini lahir di Rembang, Jawa Tengah. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Kartini.

Selamat Ulang tahun, Ibu Kartini.

Sosok pejuang sejati yang memperjuangkan nasib kaum wanita seluruh Indonesia. Beliau berasal dari turunan ningrat, seorang wanita cerdas namun mempunyai nasib kurang beruntung. Di usia 12 tahun, Kartini terpaksa dikurung dan dijodohkan oleh sang ayah dan harus menikah dengan pria yang lebih tua darinya. Selama masa kurungan, Kartini banyak menulis dan karyanya selalu dikenang sepanjang masa.

Kita pada masa ini, tak boleh mengalah dengan keadaan, tak boleh menyerah dalam situasi yang sesulit apapun persoalan hidup kita. Sebagai wanita masa kini yang memiliki berbagai peran di segala bidang kehidupan, patut kita berterima kasih pada Ibu Kartini atas segala jasanya memperjuangkan hak kaum wanita Indonesia.

Banyak peran yang dilakonkan oleh kaum wanita sebagai ibu rumah tangga, petani, penjual sayur, guru, pegawai, polisi, anggota DPR, menteri bahkan presiden. Sebagai wanita, kita patut berbangga akan hal ini, karena telah mengambil bagian dalam pembangunan, istilah kerennya disebut emansipasi wanita.

Aku bangga padamu, hai Ibu Kartini . Ini kuucapkan dalam hati setelah aku tersadar telah berada di kantor Dinas PKO Kabupaten Flores Timur. Kutemui banyak kaumku yang menyapa para pegawai yang melintasi lorong-lorong kantor ini. Teringat dalam tas ada tersimpan beberapa lembar masker kain kiriman dari Kupang, dari seorang Kartini Zaman Now, Kaka An Kolin, seorang wanita cerdas, politisi sejati dan pejuang suara kaum terpinggirkan dan juga tentunya pejuang hak-hak perempuan dan anak.

Aku mendapat kiriman masker tadi pagi, dan langsung kubagikan kepada teman-teman kerja juga beberapa pedagang yang aku temui di pasar.

Kartini muda belia, jasamu tak kulupakan, meski kini kami pun dalam kurungan, terisolasi dan menjalani social distancing karena pandemik covid 19, namun kami tetap dan selalu menjadi Kartini sejati; menjalankan peran ganda sebagai istri dan sebagai wanita karier; menjalani tugas rumah tangga, melayani suami dan anak-anak termasuk rutinitas kami sebagai pencari nafkah membantu suami, sebagai guru, dosen, penjual ikan, pedagang, petani, penjual kue.

Ibu Penjual Ikan, Kartini di tengah Pamdemik Corona

Itulah kami, sesama kaummu yang telah merdeka menjalani berbagai profesi seturut bakat dan kemampuan kami. Kini, kami di rumah saja merayakan harimu bersama keluarga tercinta meski sunyi, tapi kami bahagia.

Kartini mudaku, biarlah kutulis lagi kutipan cerita inspirasimu bagi kaummu. Bahwa, hidup cuma sekali jangan disia-siakan:

Penyebab utama kejatuhan kita adalah diri kita sendiri. sikap kita sendiri yang membuat kita jatuh, jadi jangan salahkan orang lain.

Jangan mengeluh; Jangan suka mengeluh akan setiap kepahitan hidup.hadapi dengan senyum karena itu adalah cara Tuhan menguji imanku;

Teruslah bermimpi, Teruslah bermimpi dan raihlah citamu;

Berani mengambil keputusan dan menghadapi segala rintangan hidup,

Menjadi wanita cerdas dengan belajar tekun di rumah maupun di sekolah bahkan di mana dan kapan pun itu, Menghadapi kesulitan dengan tabah karena akan datang kebahagiaan sempurna;

Jangan menyerah, Jika ingin maju jangan menyerah, jangan biarkan penyesalan datang karena selangkah lagi kamu akan menang;

Harus mandiri, ”Adakah yang lebih hina daripada bergantung pada orang lain?”

Kehidupan akan berubah, Tiada awan di langit yang tetap selamanya, tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita akan lahir pagi yang membawa keindahan. Itulah kehidupan manusia yang serupa dengan alam;

Angan-angan yang sempurna, Karena ada bunga yang mati, maka banyaklah buah yang tumbuh, karena ada angan-angan muda mati, kadang muncullah angan -angan lain yang lebih sempurna.

Terima Kasih Ibu Kartini, terima kasih Ibu An Kolin atas donasi masker bagi kami warga kota Larantuka. Mari kita bersama menjadi Kartini-Kartini Zaman Now, yang semakin tangguh menghadapi hidup yang penuh tantangan ini. Semoga. (*)

*/Penulis merupakan pegiat literasi dan pendidik di SD Inpres Waibalun Flores Timur

Masker Kain Penuh Makna di Hari Kartini 2020

172 Views

Oleh RAy. Febri H Dipokusumo

Tahun ini kita merayakan Hari Kartini dengan cara yang berbeda namun justru yang penuh makna. Kali ini, kita para Kartini terkondisikan untuk kembali beraktivitas lebih banyak di rumah.

Kita belajar banyak hal. Di tahun ini, saya belajar dari sosok seorang Kartini dari Kendal, bernama ‘Bu Sri, yang sehari-harinya bekerja serabutan. Mulai dari menyetrika, mencuci baju, dan melakukan pekerjaan kasar lainnya guna menopang kehidupan ekonomi keluarga dan membiayai 5 (lima) anaknya.

Dalam kondisi Pandemi Covid 19 ini, mengharuskan semua orang bekerja di rumah, ‘Bu Sri juga terkena imbasnya. Pekerjaan mencuci, menyetrika dan serabutan lainnya banyak berkurang, karena hampir semua keluarga hidup berhemat.

Suatu saat, Rotary datang menemuinya dan bertanya ”Bu Sri, bisa bantu kami menjahit masker? ” Serta merta ia menjawab, Bisa..! dan beliau tampak bersemangat menyambut tawaran kerja sama dari Rotary.

Maka, sejak saat itu, sekitar seminggu yang lalu, ‘Bu Sri bekerja siang dan malam membuat masker dan ia berupaya dengan tekun menyelesaikan masker spesial dari kain dengan pewarna alam untuk dikirimkan ke saya di Solo.

‘Bu Sri penjahit masker kain berwarna alam dari Kendal

‘Bu Sri berharap dengan membuat masker kain ini, ada kekuatan untuk bisa menjalani hidup. Terima kasih untuk Sahabat Rotary dari Semarang, Ibu Lina dan Ibu Nina yang memprakarsai Gerakan Sejuta Masker kain ini dan membantu memberi penghidupan bagi banyak Kartini.

Hari ini, di saat peringatan Hari Kartini, ketika RRI Surakarta mewawancarai saya, sejenak saya tertegun dan bersyukur, karena tersadar, di tahun ini dalam peringatan Hari Kartini, saya mendapat hadiah istimewa sebuah masker kain dari tangan seorang Kartini di Kendal.

Ia mengajarkan pada saya bahwa seorang Kartini harus mampu hidup fleksibel di zamannya, tetap semangat menyambut harapan baru dan menjadikan momentum ini sebagai energi baru untuk lebih kreatif dan tetap bijak.

Melalui masker kain ini, seolah ada energi alam semesta yang dikirimkan untuk kita Perempuan Indonesia bahwa semangat Kartini akan selalu hidup menyesuaikan jiwa dan zamannya.

Wahai ! para Kartini, jangan biarkan hidupmu ini hanya nafasmu yang berembus & jantungmu yang berdetak, tapi hidupkan kehidupanmu dan berilah arti sebagai sumbangsihmu bagi Ibu Pertiwi. (*)

Salam hangat dan Salam Sehat

*/Penulis merupakan District Governor Rotary 3420 Indonesia

Aksi Kecil Bripka Robert Larimanu bagi Pedagang Asong & Buruh Tenau Kupang

748 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pelabuhan Laut Tenau Kupang sejak resmi ditutup pada 13 April—30 Mei 2020, menyebabkan para pedagang asong dan buruh pelabuhan kehilangan ladang penghasilan, yang mana selalu mengandalkan rezeki dari para penumpang kapal.

Karena kondisi tersebut, mereka tak dapat lagi mengais rezeki seperti biasa akibat dampak penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) yang merebak hingga berdampak pada penutupan jalur pelayaran laut oleh Pemprov NTT untuk memutus mata rantai penyebaran Corona Virus.

Melihat kondisi di depan mata, tergeraklah hati dari salah satu anggota Kepolisian KP3 Pelabuhan Laut Tenau Kupang bernama Bripka Robert Larimanu untuk sedikit meringankan beban para pedagang asong dan buruh pelabuhan yang sehari-hari mengais rezeki dari kapal penumpang yang hilir mudik di pelabuhan.

Istri Bripka Robert Larimanu, Adriana Nawa saat menyerahkan bingkisan kecil bagi 10 Pedagang Asong Pelabuhan Tenau Kupang

Aksi simpatik Bripka Robert untuk sekadar meringankan beban mereka dengan memberikan kado kecil berupa sembako dan masker kepada 10 orang pedagang asong di Pelabuhan Laut Tenau pada Jumat, 17 April 2020 sekitar pukul 16.00 WITA. Aksi tersebut dilakukan bersama istri tercintanya, Adriana Nawa, Amd.

Terpantau oleh Garda Indonesia, mantan Anggota Polres Lembata yang pindah bertugas ke KP3 Pelabuhan Laut Tenau Kupang pada September 2016 ini menyampaikan alasannya membantu para pedagang asong dan buruh di sana.

Bripka Robert Larimanu saat memasang masker bagi ibu-ibu pedagang asong

Alasan sederhana namun terkesan sangat membantu dan mengedukasi para pedagang asongan dan buruh pelabuhan tersebut, menurut Bripka Robert, karena dari pengamatannya saat bertugas melakukan pengamanan kapal di Pelabuhan Tenau; ke-10 orang pedagang asongan tersebut hanya bergantung kepada Kapal Pelni yang masuk di pelabuhan.

“Saat ini mereka tidak bisa berjualan karena pelayaran ditutup akibat adanya Pandemi Covid-19,” ungkap Bripka Robert.

Kebersamaan Bripka Robert Larimanu, istri dan ibu-ibu pedagang asong di Pelabuhan Tenau Kupang

Alasan logis lain, imbuh Bripka Robert, membagi sembako dan masker kepada para pedagang asong tersebut karena mereka semua merupakan tulang punggung keluarga. “Mereka perlu masker untuk menyokong kesehatan mereka dan agar terhindar dari penyebaran Covid-19,” katanya serta menyampaikan bakal membantu beberapa buruh pelabuhan pada Sabtu, 18 April 2020.

Selain itu, ucap Bripka Robert lirih, “Rata-rata mereka berstatus janda berusia di atas 50 tahun, mereka tulang punggung bagi anak-anak di rumah.”

Lanjutnya, masih dengan aksen lirih, Bripka Robert berkata, “Kakak, semoga dengan kado kecil dari saya dan istri bisa mendorong orang lain untuk lebih peka dengan keadaan di sekitar tempat tinggal atau tempat kerja mereka,” ujarnya kepada media ini dan diaminkan istrinya.

Semoga aksi kecil Bripka Robert Larimanu dapat mengusik nurani pribadi bersahaja lain, untuk melakukan hal serupa yang dilakukan oleh Bripka Robert dan istri.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto Istimewa (*Jetz)