Arsip Kategori: Humaniora

“Kita Sesama Pendosa” Refleksi Atas Perikop Injil Yohanes 8:1—11

248 Views

Oleh: Fernando Mau, Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira

Dalam perikop Injil Yohanes 8:1—11 ditampilkan sebuah kejadian yang menggugah kita untuk memberikan tafsiran dan tanggapan kritis atas realitas saat ini. Kalau kita membaca dan merenungkan teks Kitab Suci ini, maka kita dapat menyaksikan bagaimana seorang wanita yang melakukan perbuatan zinah dibawa ke hadapan Tuhan Yesus untuk dihakimi dengan hukum rajam.

Persoalan yang menggugah penulis untuk merefleksikan perikop Injil ini terletak pada hukum rajam yang hendak dijatuhkan pada wanita yang berbuat zinah. Kalau kita melihat persoalan ini dalam konteks kita saat ini, maka dapat disamakan dengan hukuman mati yang sering dipraktikkan dalam kehidupan bernegara saat ini.

Dalam bacaan Injil Tuhan Yesus menolak untuk menghukum wanita yang berbuat zinah dengan mengatakan, “Barang siapa di antara kamu tidak berbuat dosa, hendaklah ia yang pertama melempar batu kepada perempuan itu.” Penolakan Tuhan Yesus ini sekaligus memberikan peraturan bilamana kita dapat menghakimi orang lain. Jika kita tidak berdosa, maka kita boleh menghakimi orang lain dan sebaliknya jika kita berdosa maka kita tidak boleh menghakimi orang lain. Tetapi, semua manusia di dunia ini berdosa (kecuali Bunda Maria, satu-satunya manusia yang tidak berdosa) dan dalam konteks bacaan ini__di antara orang-orang yang hadir__ hanya Tuhan Yesus yang tidak berdosa. Ia tidak menghukum perempuan itu. Ia menyelamatkan nyawanya dan mengampuni dosanya. Ia menyurunya pergi dan jangan berbuat dosa lagi.

Penjelasan di atas memberikan sebuah pemahaman, bahwa manusia secara kondisi eksistensial senantiasa mengalami keberdosaan. Memang manusia punya kecendrungan untuk berbuat baik, tetapi serentak punya kecendrungan berbuat dosa. Kalau dalam bahasa teologis dikatakan, manusia hidup dalam keadaan rahmat dan dosa. Berkaitan dengan ini, rasul Paulus mengatakan, “ Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku” (Roma 7:19—20). Dengan demikian, manusia sebenarnya tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk saling menghakimi.

Hal berikut yang perlu kita tahu, bahwa kehidupan manusia tidak boleh ditiadakan oleh siapapun termasuk oleh manusia itu sendiri, karena manusia adalah citra Allah. Dari sini, dapat kita tarik, bahwa citra Allah yang melekat dalam diri manusia menegaskan keluhuran martabatnya dan kodrat ilahinya. Jadi, bukan ditentukan oleh apa yang dicapai di luar diri Allah. Konsekuensinya adalah selain Allah, tidak ada yang berhak mencabut nyawa manusia, Allah yang mencipta, Allah yang menghembuskan nafas kehidupan, maka Allah yang berhak mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.

Pemahaman-pemahaman di atas sebenarnya menghantar orang pada sebuah tindakan cinta akan kehidupan. Tetapi fakta sering berbanding terbalik, sehingga penghilangan atas kehidupan manusia dapat kita saksikan di mana-mana, dengan berbagai alasan yang mengeliminasi keluhuran martabat manusia.

Pada zaman modern ini, seseorang bisa saja dihukum mati karena dikehendaki oleh penguasa yang otoriter atau karena melakukan pelanggaran yang digolongkan ke dalam kejahatan luar biasa. Ini sering dibenarkan dengan dalil “demi kebaikan bersama, demi sebuah keadilan, demi kepastian hukum, dan lain-lain”, namun ada hal paling fundamental yang mereka lupakan, yaitu keberadaan setiap manusia secara personal sebagai citra Allah yang mestinya dilindungi, karena darinya kehidupan bersama dan segala macam usaha untuk merawat kebersamaan itu terbentuk.

Jadi, melihat keadaan masyarakat manusia yang cendrung legalis ini, kita sebenarnya berada dalam suatu pelarian, suatu keterbiritan, suatu keterasingan, suatu alienasi dari kasih Tuhan yang tidak terbatas. Karena itu, kecendrungan kita adalah mencari kedamaian yang kita ciptakan sendiri dengan menghakimi orang-orang yang bersalah, padahal kedamaian yang hakiki itu hanya dapat ditemukan dalam Tuhan tanpa menghakimi orang lain.

Kita perlu berbalik dari keberdosaan kita, Tuhan tidak menghakimi kita. Tetapi, Ia hanya berpesan kepada kita, “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Foto utama (*/koleksi pribadi)

‘Whiskey Is Liquid Sunshine’ Wiski Adalah Sinar Mentari Cair

353 Views

Oleh: Andre Vincent Wenas

George Bernard Shaw bilang begitu. Mungkin konsep itulah yang bikin ia begitu kreatif dan produktif semasa hidupnya. Ia seorang sastrawan asal Irlandia, penulis naskah teater, kritikus dan juga aktivis politik. Tahun 1925 ia dianugerahi hadiah Nobel bidang sastra.

Lalu kita beralih ke Mississippi, salah satu negara bagian Amerika Serikat. Peristiwanya terjadi tahun 1952, dimana minuman beralkohol masih dilarang dibikin dan diperjualbelikan di negara bagian itu. Namun akibatnya, perdagangan gelap (black-market) menjadi marak.

The Whiskey Speech, pidato soal wiski yang terkenal itu.

Adalah Noah S. “Soggy” Sweat, Jr. seorang hakim, profesor bidang hukum, dan juga anggota parlemen di negara bagian Mississippi. Ia – sebagai politisi – kerap dicecar pertanyaan soal kebijakan minuman beralkohol. Saat itu isu seperti ini sama sensitifnya seperti di Indonesia saat ini.

Lalu ia jadi terkenal lantaran responsnya yang cemerlang, dengan apa yang dikenal sebagai “The Whiskey Speech”, pidato singkatnya di tahun 1952 menjawab polemik miras di negara bagian Mississippi saat itu. Isu yang selalu dihindari para politisi pragmatis ini justru dijawab oleh Noah S. Sweat.

Pidato singkat Noah ini dikenal sangat kuat argumentasi retorisnya. Begini ujarnya, (kita kutipkan lengkap sambil diterjemahkan).

My friends, I had not intended to discuss this controversial subject at this particular time. However, I want you to know that I do not shun controversy.

(Teman-teman, walau saya tidak bermaksud membahas topik kontroversial ini, khususnya pada saat ini. Namun, saya ingin kalian tahu bahwa saya tidak mau menghindar dari kontroversi.)

On the contrary, I will take a stand on any issue at any time, regardless of how fraught with controversy it might be.”

(Bahkan sebaliknya, saya akan mengambil sikap terhadap masalah apa pun dan kapan pun, tak peduli sekontroversial apa pun itu.)

You have asked me how I feel about whiskey. All right, this is how I feel about whiskey:”

(Kalian bertanya kepada saya bagaimana perasaan saya tentang wiski. Baiklah, inilah yang saya rasakan tentang wiski: )

If when you say whiskey you mean the devil’s brew, the poison scourge, the bloody monster, that defiles innocence, dethrones reason, destroys the home, creates misery and poverty, yea, literally takes the bread from the mouths of little children; if you mean the evil drink that topples the Christian man and woman from the pinnacle of righteous, gracious living into the bottomless pit of degradation, and despair, and shame and helplessness, and hopelessness, then certainly I am against it.”

(Jika ketika kalian mengatakan wiski maksudnya adalah minuman iblis, momok racun, monster berdarah, yang merusak kepolosan, mengacaukan nalar, menghancurkan rumah, menciptakan sengsara dan kemiskinan, ya, secara harafiah merebut roti dari mulut anak-anak; Jika yang kalian maksud adalah minuman jahat yang menjatuhkan pria dan wanita Kristen dari kebenaran sejati, dari hidup saleh ke jurang degradasi tanpa batas, dan putus asa, dan rasa malu dan tidak berdaya serta putus asa, maka tentu saja saya menentangnya.)

But, (Tetapi,)

“…if when you say whiskey you mean the oil of conversation, the philosophic wine, the ale that is consumed when good fellows get together, that puts a song in their hearts and laughter on their lips, and the warm glow of contentment in their eyes; if you mean Christmas cheer; if you mean the stimulating drink that puts the spring in the old gentleman’s step on a frosty, crispy morning; if you mean the drink which enables a man to magnify his joy, and his happiness, and to forget, if only for a little while, life’s great tragedies, and heartaches, and sorrows; if you mean that drink, the sale of which pours into our treasuries untold millions of dollars, which are used to provide tender care for our little crippled children, our blind, our deaf, our dumb, our pitiful aged and infirm; to build highways and hospitals and schools, then certainly I am for it.”

(Tetapi, jika kalian mengatakan wiski maksudnya adalah pelumas dalam percakapan, anggur filosofis, bir yang dikonsumsi ketika para sahabat berkumpul, yang bisa menaruh lagu di hati serta tawa di bibir mereka, dan pancaran kehangatan rasa puas di mata mereka; jika yang kalian maksud adalah keceriaan Natal; jika yang kalian maksud adalah minuman yang bisa menstimulasi orang tua untuk menempatkan musim semi pada langkahnya di pagi yang dingin; jika yang kalian maksud adalah minuman yang memungkinkan orang untuk memperbesar rasa gembiranya dan bahagianya, dan untuk melupakan, walau hanya sebentar, tragedi besar dalam hidup, dan sakit hati, serta kesedihan; jika yang kalian maksudkan adalah minuman itu, di mana penjualannya menuangkan ke dalam perbendaharaan kita jutaan dolar yang tak terhitung lagi, yang bisa digunakan untuk memberikan perawatan lembut bagi anak-anak kecil kita yang lumpuh, yang buta, yang tuli, yang bisu, yang lanjut usia, yang kondisinya menyedihkan serta lemah; untuk membangun jalan raya dan rumah sakit dan sekolah, maka tentu saja saya mendukungnya.)

This is my stand. I will not retreat from it. I will not compromise.”

(Inilah sikap saya. Saya tidak akan mundur darinya. Saya tidak akan kompromi.)

Kabarnya, Noah S. “Soggy” Sweat menghabiskan sampai 2,5 bulan untuk menyusun konsep pidatonya yang dikenal sebagai ‘The Wshiskey Speech’ ini.

Sekadar berbagi pengalaman negara yang sudah lebih dulu mengalaminya.

Baru saja hendak mengakhiri, ada teman yang mengirim via whatsapp, sebuah pesan yang cukup mengganggu pikiran. Tulisannya begini:

“Miras diklaim dapat menghancurkan generasi bangsa! Yang hobi miras tuh negara Jepang, Eropa, Amerika, Australia. Tapi kenapa yang hancur Suriah, Irak, Yaman dan Afghanistan?”

Bukankah di sana banyak sinar mentari? Mungkin kurang sinar mentari yang cair?

Benar-benar pesan yang mengganggu!

Minggu, 7 Maret 2021

Penulis merupakan Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB)

Foto utama oleh magazinvip.pl

Nyepi–Hari Suci Umat Hindu di Bali

259 Views

Nyepi adalah hari raya Umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa inti sari amerta air hidup. Untuk itu Umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.

Hari Raya Waisak, bersamaan dengan Hari Raya Nyepi, ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 3 tahun 1983 tanggal 19 Januari 1983.

Makna Nyepi

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan atau Kalender Caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis atau Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Prosesi Melasti Umat Hindu Bali, foto oleh bulelengkab.go.id

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang ke-9), Umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar).

Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak atau tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Balipengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Ogoh Ogoh di Bali, foto ilustrasi/metrobali.com

Puncak Acara Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada pinanggal pisansasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana menjadi sepi, tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi. Pada hari ini umat Hindu sama sekali tidak melakukan aktivitas mereka seperti biasa lingkungan tampak sepi, malah seperti kota mati, tidak ada lampu yang menyala, semua orang diam di rumah mereka.

Prosesi Ngambak Geni Umat Hindu Bali, foto oleh wowkeren.com

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam Tahun Baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi Umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan pada tahun yang baru.

Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada “pinanggal ping kalih” (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari ke dua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih.

Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia di seluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan. Hidup di dalam kerukunan dan damai.(*)

Sumber (*/wikipedia)

Foto utama oleh denpasarkota.go.id

Jagung dan Tradisi Makan Jagung Adat Masyarakat Timor

415 Views

Oleh : Roni Banase

Tanaman Jagung bagi masyarakat yang bermukim di daratan seluas sekitar 15.000 km (termasuk di Negara Republik Demokratik Timor Leste[RDTL]) mempunyai beragam manfaat, mulai dari sebagai makanan pokok yang dapat diolah menjadi Jagung Katemak (rebusan bulir Jagung tua beserta beragam sayur mayur, red) dan Jagung Bose (jagung yang diolah dengan cara ditimpa dalam palungan kayu hingga kulit terkelupas kemudian dimasak dengan santan dan dicampur kacang-kacangan, red) hingga dijadikan Jagung Bunga atau Popcorn.

Namun, untuk saat ini, saya ingin menyuguhkan informasi bagaimana Orang Timor khususnya di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperlakukan tanaman dengan nama ilmiah Zea Mays yang merupakan salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat terpenting di dunia, selain gandum dan padi.

Bagi warga di Desa Naiola (tempat Papa dan Mama menghabiskan masa tua mereka, red), selain sebagai ketahanan pangan, Jagung juga memiliki nilai historis adat yang sarat makna. Tak hanya asal ditanam, lalu dibiarkan tumbuh sendiri tanpa perawatan, namun sebelum di tanam Saat awal musim hujan (Oktober hingga Maret); Jagung diambil dari tempat penyimpanan selama kurang lebih setahun bahkan lebih yang mana disimpan di lumbung pangan Masyarakat Timor yakni Lopo. Di atas bubungan Lopo, atau loteng Lopo, Jagung disimpan sebagai bibit sekaligus berfungsi sebagai ketahanan pangan.

Prosesi mempersembahkan Jagung hasil panen kepada Leluhur Laki-laki di Hau Monef

Pastinya kita penasaran, mengapa harus disimpan di Lopo, bukannya tinggal membeli saja di toko bibit Pertanian? Karena bagi masyarakat Timor, bibit Jagung yang berasal dari stok yang disimpan telah melewati proses “Pemberkatan” atau telah didoakan oleh 3 (tiga) unsur yakni Allah, Alam, dan Arwah yang memiliki satu kesatuan utuh.

Bagaimana proses tersebut terjadi dan apa saja yang dilakukan oleh Masyarakat Timor? Saya pun tergelitik untuk menelusuri, meski saya lahir dari rahim seorang Ibu berdarah Rote bermarga Mooy dan Ayah asli Orang Timor bermarga Banase dan dibesarkan di Kota Kupang, namun kami telah berkunjung ke tempat kelahiran masing-masing orang tua kami sejak masih kecil dan menikmati setiap proses hidup dari hal sederhana hingga mencermati, mengamati, dan ikut melakukan prosesi upacara adat.

Harus diakui, saya pun jarang menikmati yang namanya Jagung Katemak, selain karena agak keras, makanan ini memang agak susah dicerna oleh lambung yang telah terbiasa dengan asupan nasi, jika dipaksa maka bakal berurusan saat menuju ke kamar kecil, di situ bakal membutuhkan waktu lama. Serupa dengan Jagung Bose, meski agak lunak dengan campuran santan Kelapa, namun serupa bakal berkontraksi dengan lambung.

Makan Jagung Adat Masyarakat Timor di Desa Naiola, tak ada Subordinasi antara Laki-laki dan Perempuan, duduk bersama menikmati Jagung hasil panen

Selanjutnya, saya lebih memilih menyantap Jagung Muda Rebus, seperti yang disuguhkan dalam prosesi upacara “Makan Jagung Adat” atau Tatek Pena Keluarga Banase di Desa Naiola pada Sabtu, 6 Maret 2021, saat menjenguk Papa dan Mama di sana sekaligus mengikuti prosesi tersebut. Sebagai anak sulung laki-laki, saya pun punya tanggung jawab untuk mengikuti lekuk prosesi itu, mulai dari memberikan ucapan terima kasih dengan menyembelih Ayam lalu disuguhkan dengan Jagung hasil bercocok tanam kepada 3 (tiga) unsur hingga pada proses akhir yakni menyantap secara bersama atau “Makan Jagung Adat”.

Yang membuat saya takjub dan kaget, saat “Makan Jagung Adat” kami para lelaki duduk bersama setara dengan kaum perempuan (tak ada Subordinasi), karena semua saudara dalam lingkaran pertalian kawin mawin datang untuk mengikuti prosesi tersebut. Mereka pun harus datang membawa hasil Jagung mereka yang dipotong dan diikat dengan cara beragam.

Saya pun disuguhi 5 tongkol Jagung Muda beserta potongan daging Ayam Rebus dan wajib memakan hingga habis, meski telah mencoba untuk menyantap hingga ludes, namun apa daya lambung tak bisa menyesuaikan. Namun, yang membuat saya terkesan, karena penuturan dari Bapak Tadeus Lae, beliau Ketua Badan Pemasyarakatan Desa (BPD) Desa Naiola. Menurutnya, tradisi “Makan Jagung Adat” masih terpelihara hingga kini dan dilakukan oleh setiap rumpun keluarga di setiap masa Tanaman Jagung telah masuk masa panen, biasanya pada bulan Maret setiap tahun.

Satu Aesap Jagung dan satu Pentauf Jagung diikat dan digantung di Lopo atau Ume Tobe

“Saat Jagung sudah siap panen, maka dipotong dan diikat lalu bakar lilin kepada leluhur sebagai ucapan terima kasih karena telah ikut menjaga dan merawat,” tutur Tadeus seraya menyampaikan hasil Jagung tersebut juga disimpan di Lopo atau Ume Tobe dan dipersembahkan ke Raja untuk disimpan di Lopo Tobe.

Saat menanam bibit Jagung yang diambil dari Lopo, imbuh Tadeus, Kita memberitahu Kakek dan Nenek yang telah mendahului agar ikut menjaga dan merawat tanaman Jagung. “Saat siap panen, maka kita harus memberitahu para leluhur dan memberikan masing-masing dari hasil kebun kepada Leluhur Laki-laki di Hau Monef atau Kayu Tuhan (potongan kayu bercabang tiga dengan ketinggian berbeda sebagai simbol Bapa, Putra, dan Roh Kudus), sementara untuk Leluhur Perempuan berada di dalam rumah berupa “Tatakan Batu” tempat membakar lilin dan menyuguhkan persembahan hasil kebun,” urainya.

Nah, saat panen Jagung hasil kebun, lalu diikat sebanyak 7 (tujuh) tongkol dalam satu rumpun atau disebut ‘Pentauf’ (sebagai simbol 7 hari dalam seminggu) dan diikat sebanyak 10 tongkol Jagung atau disebut ‘Aisap’ untuk digantung di Lopo dan dijadikan bibit, kemudian dimasukkan ke Ume Tobe dan Lopo Tobe, kemudian diatur untuk diserahkan ke Gereja dan Raja.

“Selanjutnya, 1 Aisap dan 1 Pentauf Jagung hasil kebun diserahkan dan disimpan di Lopo Tobe. Kita yang dapat lebih banyak hasil panen, sementara kita dapat lebih banyak hasil kebun,” urai Tadeus Lae sembari mengajak saya menikmati Jagung Muda Rebus hasil kebun Papa dan Mama sambil menelisik warga desa yang sedang melintasi jalan dengan memikul Potongan Pohon Jagung Muda untuk melakukan hal serupa yang sedang kami lakukan yakni “Tradisi Makan Jagung Adat Masyarakat Timor”.

Foto (*/koleksi pribadi)

Sejarah Isra Mi’raj – Perjalanan Nabi Muhammad SAW

175 Views

Isra Mikraj atau Isra Mi’raj (bahasa Arab: الإسراء والمعراجtranslit. al-’Isrā’ wal-Mi‘rāj‎) adalah bagian kedua dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa inilah dia mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam. Beberapa penggambaran tentang kejadian ini dapat dilihat di surah ke-17 di Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Isra.

Menurut tradisi, perjalanan ini dikaitkan dengan Lailat al-Mi’raj, sebagai salah satu tanggal paling penting dalam kalender Islam.

Kejadian Isra Mi’raj

Isra Mikraj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mikraj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mikraj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun, Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab, dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mikraj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mikraj.

Hadis tentang Isra Mikraj Nabi

Riwayat tentang perjalanan malam nabi dan diangkatnya dia ke langit untuk bertemu langsung dengan Allah dan menerima perintah kewajiban salat di lima waktu terdapat dalam Kitab Hadis Sahih milik Imam Muslim:

“…dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku telah didatangi Burak. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut burak tersebut mencapai ujungnya.” Dia bersabda lagi: “Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitulmaqdis.” Dia bersabda lagi: “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para nabi. Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan salat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar, tiba-tiba aku didatangi oleh Jibril dengan membawa semangkuk arak dan semangkuk susu, dan aku pun memilih susu. Lalu Jibril berkata, ‘Kamu telah memilih fitrah’. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril meminta agar dibukakan pintu, maka ditanyakan, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ditanyakan lagi, ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutus? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutus.’ Maka, dibukalah pintu untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Adam, dia menyambutku serta mendoakanku dengan kebaikan. Lalu, aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril lalu minta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapa yang bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik langit ketiga. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf alaihi salam, ternyata dia telah dikaruniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris alaihi salam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Allah berfirman: ‘(…dan kami telah mengangkat ke tempat yang tinggi derajatnya) ‘. Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun alaihi salam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawabnya, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim alaihi salam, dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitulmakmur. Keluasannya setiap hari bisa memasukkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi kepadanya (Baitulmakmur). Kemudian aku dibawa ke Sidratulmuntaha. Daun-daunnya besar seperti telinga gajah dan ternyata buahnya sebesar tempayan.” Dia bersabda: “Ketika dia menaikinya dengan perintah Allah, maka sidrah muntaha berubah. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya karena indahnya. Lalu, Allah memberikan wahyu kepada dia dengan mewajibkan salat lima puluh waktu sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu Nabi Musa alaihi salam, dia bertanya, ‘Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? ‘ Dia bersabda: “Salat lima puluh waktu’. Nabi Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israil dan menguji mereka’. Dia bersabda: “Aku kembali kepada Tuhan seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku’. Lalu Allah subhanahu wata’ala. mengurangkan lima waktu salat dari dia’. Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan berkata, ‘Allah telah mengurangkan lima waktu salat dariku’. Nabi Musa berkata, ‘Umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi’. Dia bersabda: “Aku masih saja bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa, sehingga Allah berfirman: ‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan lima waktu sehari semalam. Setiap salat fardu dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Maka itulah lima puluh salat fardu. Begitu juga barangsiapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya, barang siapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak dicatat baginya sesuatu pun. Lalu, jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya’. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih saja berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan’. Aku menjawab, ‘Aku terlalu banyak berulang-ulang kembali kepada Tuhanku, sehingga menyebabkanku malu kepada-Nya’.”— Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Isra’ Rasulullah ke langit, hadits nomor 234.

Perbedaan Isra dan Mi’raj

Sering kali masyarakat menggabungkan Isra Mikraj menjadi satu peristiwa yang sama. Padahal sebenarnya Isra dan Mikraj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad “diberangkatkan” oleh Allah. dari Masjidilharam hingga Masjidilaqsa. Lalu dalam Mikraj Nabi Muhammad dinaikkan ke langit sampai ke Sidratulmuntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini, Dia mendapat perintah langsung dari Allah. untuk menunaikan salat lima waktu.(*)

Sumber : (*/wikipedia)

Foto utama oleh indozone.id

Sejarah Hari Perempuan Internasional

215 Views

Pada tanggal 8 Maret setiap tahun, dirayakan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day)

Hari Perempuan Internasional pertama kali dirayakan pada tanggal 28 Februari 1909 di New York dan diselenggarakan oleh Partai Sosialis Amerika SerikatDemonstrasi pada tanggal 8 Maret 1917 yang dilakukan oleh para perempuan di Petrograd memicu terjadinya Revolusi Rusia. Hari Perempuan Internasional secara resmi dijadikan sebagai hari libur nasional di Soviet Rusia pada tahun 1917, dan dirayakan secara luas di negara sosialis maupun komunis.

Pada tahun 1977, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia

Sebuah cerita yang beredar di lingkaran internal para Kolumnis Prancis, bahwa ada seorang perempuan dari buruh pabrik tekstil melakukan demonstrasi pada 8 Maret 1857 di New York. Demonstrasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk melawan penindasan dan gaji buruh yang rendah, tetapi demonstrasi tersebut dibubarkan secara paksa oleh pihak kepolisian. Pada tanggal 8 Maret 1907, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai peringatan terhadap kasus yang terjadi 50 tahun yang lalu.

Temma Kaplan berpendapat, “peristiwa tersebut tidak pernah terjadi, tetapi banyak orang Eropa yang percaya bahwa tanggal 8 Maret 1907 merupakan awal dari terbentuknya Hari Perempuan Internasional.” (*)

Sumber (*/wikipedia)

Foto utama oleh (*/istimewa/tribunnews)

Selamat Pagi

217 Views

Oleh : Roni Banase

Hari ini, Jumat, 5 Maret 2021, pukul 06.16 WITA, saat kunikmati pagi di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Suhu berkisar 18—20 derajat Celcius dengan balutan kabut lumayan menusuk rusuk, dinginnya udara pagi ini yang membangunkan diriku dari tidur malam pada pukul 01.30 WITA.

Aku memilih duduk di Lopo (rumah adat masyarakat Timor, tempat menyimpan hasil bumi, dan menyambut sanak keluarga dan tamu, red), sambil kunikmati suguhan teh panas dan kudapan olahan Mama sambil menyimak Papa yang sibuk sejak sekira pukul 05.00 WITA.

Kunikmati sebaiknya udara pagi, seraya bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pemilik Kehidupan yang telah memberikan umur panjang bagi kedua orang tua kami yang memilih menghabiskan masa tua mereka di sini, desa yang berbatasan langsung dengan Sungai Noemuti.

Terus kusibak setiap sudut Lopo, kulihat beberapa ikat Jagung hasil panen tahun lalu (diikat dengan jumlah bervariasi, red), lalu digantung di sela dahan kayu penopang atap alang-alang Lopo, sambil mulai kunikmati teh panas…nikmat seraya ku ucap syukur dengan sukacita.

Beberapa detik berselang, kudengar sapaan, “ Selamat Pagi,” sapa seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun.

“Selamat Pagi,” jawabku sambil melihatnya berlalu memikul ikatan sedang kayu kering untuk dijadikan bahan bakar.

Lopo Adat Keluarga Banase di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten TTU

Kulanjutkan menikmati kudapan Mama Mooy (sapaan kami bagi Mama kami yang lahir dan besar di Pulau Rote, red), lalu aku disapa lagi oleh seorang Ibu yang menggandeng anak perempuannya menuju ke Sungai Noemuti untuk mengambil air bersih sambil mencuci pakaian kotor.

Lalu ku menjawab dengan sukacita,” Selamat Pagi”.

Kemudian, aku menyusuri setiap sudut rumah yang dipenuhi Pohon Jagung (makanan pokok masyarakat Timor, meski tersedia beras hasil panen sawah kerja keras Papa dan Mama), kutemukan hal unik yang dilakukan Mama, dikumpulkannya daun kering Pohon Asam dalam sebuah wadah tumpukan kayu kering berukuran sekitar 2 x 2 meter.

Saat kuamati, datanglah Mama dan berujar, “Kakak, ini Mama tampung, simpan, dan jadikan sebagai pupuk”.

Ya, terbukti. Semua bunga dan berbagai jenis pohon buah tumbuh sehat dan subur dengan tatakan batu kali di sekitar areal Rumah Tua Keluarga Banase (tempat saya, adik, dan keluarga menginap jika berkunjung ke Kabupaten TTU).

Lalu, dari arah belakang, ku dengar lagi sapaan Selamat Pagi dari seorang bapak. Kutengok ke belakang sambil melemparkan senyum dan berkata, “Selamat Pagi Bapa”.

Tampak, ada sukacita, saat kulihat senyum bahagia di antara deretan gigi yang tampak merah karena kebiasaan mengunyah Sirih Pinang.

Ya, ucapan Selamat Pagi masih akan kita jumpai di sini. Bahagia dan Sukacita mengiringi rencana kerjaku hari ini untuk terus menulis dan berkarya dengan hasrat.

Foto utama (+koleksi pribadi)

‘Cut-Off’ Vitamin D

404 Views

Oleh : Dahlan Iskan

Kenapa orang Indonesia banyak yang kekurangan Vitamin D? Padahal kita hidup di negara tropis? Yang lebih sering terkena sengatan sinar matahari?

Baru kemarin malam saya tahu jawabnya. Yakni ketika saya diminta jadi pembicara di pertemuan Zoom Diaspora Indonesia.

“Memang sinar matahari itu sumber Vitamin D. Tapi perlu protein tertentu yang bisa menjadi perantara. Agar sinar matahari itu benar-benar bisa menjadi vitamin D-3,” ujar dr. Roy Panusunan yang juga jadi salah satu pembicara.

Moderator forum Zoom ini beberapa orang. Satu di New York, Lia dan James Sundah. Satu di Austria, EA Adoracion. Satu lagi di Belanda, Sisca Hotrop dan Titiek van Houten, Lainnya di Jakarta. Pembicaranya banyak. Ada yang dari Atlanta (USA), Moskow (Rusia),  Washington DC, dan juga Shanghai.

Semua berbicara tentang pengalaman vaksinasi. Yang di Moskow mendapat vaksinasi merek Sputnik – bikinan Rusia. Tidak ada masalah. Tidak merasakan efek samping apa-apa.

Yang di Atlanta mendapat vaksin Moderna. Buatan Amerika. Juga tidak merasakan apa-apa. Hanya lengan kirinya sakit. Tidak bisa tidur miring ke kiri. Pun hari berikutnya sakit itu hilang. Padahal ia punya gula darah dan hipertensi – yang terkontrol karena disiplin minum obat.

Daniel Fu, orang Atlanta itu, juga baru menjalani operasi jantung – triple bypass. Yakni setelah ia kembali dari Jakarta. “Waktu di Jakarta saya banyak makan macam-macam,” kata Daniel.

Ia merasa tidak punya keluhan apa-apa. Olahraganya juga kuat. Menjelang kembali ke Amerika pundaknya terasa tegang –sampai ke punggung. Ketika tiba di Atlanta ia dipaksa istri untuk periksa ke dokter keluarga. Hasilnya: ia harus operasi bypass.

Intinya: vaksinasi ini aman. Pun bagi orang seperti Daniel.

Lia Sundah – moderator yang di New York – juga sudah suntik vaksin. Yakni di stadion Queen, New York. Yang melakukan penyuntikan adalah Marinir AS.

Lia mendapat vaksin Pfizer. Juga tidak mengalami masalah apa-apa.

Lia Sundah sudah 20 tahun di New York. Lia menjadi pengacara di sana. Lia memang Doktor Hukum lulusan Boston – meski lulus S-1 dari jurusan musik, juga di Boston.

Di New York Lia hidup bersama suami: James Sundah –pencipta lagu ”Lilin-Lilin Kecil” yang terkenal itu. Karena itu, di awal dan di akhir forum ini dimeriahkan oleh konser musik. Yang menampilkan lagu ciptaan James itu. Yang dinyanyikan oleh penyanyi dari banyak negara. Pemain musiknya pun dari segala macam penjuru dunia.

Lia sendiri ternyata anak tokoh pers senior saya: Aristides Katoppo – pemimpin redaksi harian Sinar Harapan. “Cita-cita awal saya memang menjadi wartawan. Ternyata jadi lawyer di New York,” ujar Lia.

Menurut dokter Roy, protein yang bisa mengubah sinar matahari menjadi Vitamin D-3 adalah yang datang dari susu, yogurt, atau mentega. “Di sinilah yang kita kurang. Mataharinya melimpah tapi minum susu atau yogurt-nya kurang,” ujar Roy.

Roy sendiri ahli hormon. Lulus S-1 dan S-2 dari Universitas Indonesia, Jakarta. Lalu mendalami hormon sampai ke Harvard Medical School, Boston.

Saat di Harvard itulah Roy tahu soal hubungan sinar matahari dengan protein dari susu. Banyak data ia pelajari. Mengejutkan. Terutama data mengenai orang Indonesia.

“Dari 1.000 orang Indonesia yang kekurangan Vitamin D sebanyak 950 orang,” katanya. Berarti hanya 50 orang yang vitamin D-nya cukup. Tentu termasuk istri saya. Yang tidak bisa minum susu. Yang level vitamin D-nya 55. Yang karena itu tidak tertular Covid dari saya.

Saya sendiri, saat terkena Covid, baru ketahuan: Vitamin D saya hanya 23,4. Bahkan anak wedok saya, Isna Iskan, payah sekali. Level vitamin D Isna hanya 16. Padahal dia itu gila sepeda. Praktis tiap hari menempuh jarak setidaknya 50 Km – kadang 150 Km.

Ternyata sinar matahari saja tidak cukup. Sinar itu harus diantarkan oleh protein susu agar bisa menjadi vitamin D.

Dokter Roy –alumnus SMAN 3 Jakarta itu– kini bekerja di RS Pertamina. Ia ingin agar suatu saat ditemukan cut-off Vitamin D khusus untuk orang Indonesia.

“Selama ini belum ada patokan berapa vitamin D minimal yang harus dimiliki orang Indonesia,” ujar dokter Roy.

“Kan minimal 40,” kata saya.

“Itu cut-off untuk orang kulit putih,” jawab dokter Roy. “Belum ditemukan berapa cut-off untuk orang Indonesia,” katanya. “Siapa tahu lebih rendah dari 40 itu,” katanya.

Tentu saya juga menunggu-nunggu laporan satu ini: apakah semua orang Indonesia yang terkena Covid itu level vitamin D-nya rendah. Kalau dibuka ke publik akan sangat membantu.

Tentu RS khusus Covid sudah menghimpun datanya.

Jam 00.00 forum Zoom ini baru ditutup. Saya sudah sangat mengantuk. Tapi yang di New York baru bangun pagi.(*)

Foto utama (*/istimewa)