Arsip Tag: Gubernur NTT

Hingga Kini Telah 13 Kali Jokowi Ke NTT, 5 Kali dalam Kepemimpinan VBL-JNS

1.229 Views

Labuan Bajo, Garda Indonesia | Hingga kini, terhitung telah 13 kali Presiden Jokowi mengunjungi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana kunjungan pertama dilakukan pada April 2014, saat melihat Peternakan Sapi di Kabupaten Kupang dan kunjungan ke-13 di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat pada hari ini Kamis, 1 Oktober 2020, bertepatan pada ulang tahun ke-57 Ibu Iriana Joko Widodo.

Namun, dalam masa kepemimpinan Gubernur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dan Wakil Gubernur, Josef Nae Soi (JNS); Jokowi yang telah 2 (dua) kali menjabat sebagai Presiden RI tersebut telah 5 (lima) kali mengunjungi Provinsi NTT.

Presiden Jokowi saat menuruni tangga pesawat kepresidenan di Bandar Udara Internasional Komodo, Labuan Bajo

Kali ini, saat kunjungan Presiden Joko Widodo ke Labuan Bajo, disambut oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat di tangga pesawat. Kepala Negara bersama rombongan terbatas lepas landas menuju Kabupaten Manggarai Barat dengan Pesawat Kepresidenan dan tiba di Bandar Udara Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, setelah menempuh kurang lebih dua jam perjalanan.

Presiden kemudian menuju Kampung Ujung, Waecicu dan Goa Batu Cermin untuk melakukan peninjauan.

Setelah itu, Kepala Negara diagendakan untuk turut meninjau kelanjutan proyek pembangunan terminal multi purpose atau multifungsi Labuan Bajo. Terminal tersebut sebelumnya pernah ditinjau oleh Presiden pada 20 Januari 2020 lalu, selanjutnya pada 11 September 2020 yang lalu, Menko Marves bersama Menteri PUPR turut mengunjungi proyek tersebut.

Gubernur VBL saat menyambut Presiden Jokowi di tangga pesawat kepresidenan

Di tempat yang sama, Presiden Joko Widodo juga memberikan bantuan modal kerja kepada para pelaku usaha mikro dan kecil dan langsung menuju Bandara Komodo untuk bertolak kembali menuju Jakarta.

Turut hadir dalam kunjungan kerja yakni Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono, Sekretaris Militer Presiden Mayjen TNI Suharyanto, Komandan Paspampres Mayjen TNI Maruli Simanjuntak, dan Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana.

Presiden Jokowi saat berbincang intens dengan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat

Ada pun perincian jumlah kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Provinsi NTT (berbagai sumber) sebagai berikut:

  1. April 2014, kunjungan ke Peternakan Sapi di Kabupaten Kupang;
  2. Des 2014, kunjungan ke Pos Perbatasan Motaain, di Kabupaten Belu;
  3. Juli 2015, kunjungan ke Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang.
  4. Des 2015, Natal Bersama di Kota Kupang;
  5. Juli 2016, Harganas Ke-23 di Kota Kupang;
  6. Des 2016, kunjungan ke PLBN Motaain di Kabupaten Belu;
  7. Juli 2017, kunjungan ke Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD);
  8.  Pada 8–9 Jan 2018, kunjungan di Kota Kupang, Kab. Kupang, dan Rote Ndao;
  9. 20 Mei 2019, kunjungan ke Bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu;
  10. Juli 2019, kunjungan ke Pulau Rinca di Kabupaten Manggarai Barat;
  11. Pada 26 Agustus 2019, Panen Garam di Nunkurus Kabupaten Kupang;
  12. Jan 2020, Presiden mesmikan Hotel Ina Bay di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat;
  13. Kamis, 1 Oktober 2020, Presiden Jokowi meninjau pembangunan terminal multi purpose atau multifungsi Labuan Bajo.

Sumber berita dan foto (*/Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Masalah Sampah di Kota Kupang, Gubernur VBL: Desain Penanganan Harus Jelas

370 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Masalah penanganan sampah, menjadi perhatian serius Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), ia pun meminta Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore dan jajarannya untuk memperhatikan secara serius pengelolaan sampah. Sebagai Ibu Kota Provinsi NTT, Kota Kupang harus punya desain penanganan sampah yang jelas.

“Desainnya (penanganan sampah, red) dulu harus jelas. Kita perlu armada untuk pengumpulan sampah berapa? Bagaimana para lurah dan ketua RT/RW lakukan sosialisasi manajemen sampah rumah tangga? Titik-titik sampah ditempatkan di mana, itu menjadi tanggung jawab Lurah dan RT/RW. Ini dulu harus jelas,” jelas Gubernur VBL dalam sambutannya saat lakukan Kunjungan Kerja di Kota Kupang, pada Rabu, 30 September 2020.

Acara yang dilaksanakan di Pantai Lasiana tersebut dihadiri oleh Wali Kota Kupang, Doktor Jefri Riwu Kore, Wakil Wali Kota, Dokter Herman Man, Wakil Ketua DPRD Kota Kupang, Padron A.S. Paulus, Forkompinda Kota Kupang, Pimpinan Perangkat Daerah, para camat, Lurah dan Kepala puskesmas se-Kota Kupang, para staf khusus Gubernur, Pimpinan Perangkat Daerah Lingkup Pemerintah Provinsi NTT, insan pers dan undangan lainnya.

Menurut Gubernur, sebagai ibu Kota Provinsi NTT, Kota Kupang harus menampilkan ciri khas sebuah kota. Yakni malam terang, siang bersih, parkirannya jelas dan sampahnya dikelola dengan baik. Pembangunan kota itu terutama berkaitan dengan aspek services atau pelayanan publik termasuk dalamnya manajemen pengelolaan sampah atau waste management harus didorong secara serius.

“Pungut sampah atau collecting itu hanya merupakan satu aspek dari manajemen pengelolaan sampah. Kalau soal ini saja sudah merupakan masalah berat, bagaimana kita bicara aspek lain seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan proses daur ulang. Termasuk di dalamnya bak-bak sampah harus ditempatkan di tempat yang sesuai, bukan di jalan-jalan protokol,” terang Gubernur VBL.

Lebih lanjut pria asal Semau tersebut mengungkapkan, persoalan sampah di Kota Kupang bukan hanya tanggung jawab pemerintah kota Kupang tapi juga pemerintah provinsi. Perlu ada kerja sama dan pembagian tanggung jawab yang jelas, mana yang jadi tanggung jawab provinsi dan juga termasuk pemerintah pusat. Harus dirumuskan secara tegas.

“Saya serius sekali bicara seluruh permasalahan di kota ini, bukan karena tidak suka atau punya maksud tertentu tapi karena ini kota provinsi. Yang malu kalau kota ini tidak tertata dengan baik dan kotor, bukan hanya wali kota tapi juga gubernur. Saya ingin kita menjadi pemimpin yang in charge, kerja terlibat dan sampai tuntas, tidak hanya omong saja. Hari ini saya datang bertemu pak wali (wali kota), kita bagi tugas, saya punya tugas apa dan pak wali punya apa,” ungkap Gubernur NTT.

Persoalan sampah, lanjut mantan Ketua Fraksi NasDem DPR tersebut, harus menjadi gerakan bersama seluruh komponen di Kota Kupang. Termasuk TNI/Polri, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dari SD sampai dengan SMA. Karena hal ini berkaitan dengan membangun peradaban dan mindset.

“Kalau kita bisa tanamkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya sejak anak usia SD, pengaruhnya akan sangat besar. Guru-guru juga harus latih anak-anak hal ini. Ini sosialisasi dan gerakan yang harus dilakukan secara terus-menerus untuk bangun peradaban. Tinggal tiap pagi kita bisa atur, misalnya Gubernur selama beberapa menit sosialisasi di sekolah mana, Wali Kota masuk SD mana, Dandim masuk SMP mana dan Kapolres di sekolah mana. Termasuk melibatkan pihak swasta baik itu pemilik toko, restoran dan penanggung jawab hotel. Kalau ini kita lakukan dengan baik, saya yakin dalam tempo 6 bulan, masalah sampah bisa selesai,” ungkap Gubernur VBL.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga memberikan apresiasi kepada Wali Kota Jefri yang telah memperjuangkan ke Presiden Jokowi untuk penataan trotoar di Kota Kupang. Juga untuk pembenahan taman-taman. Adanya predestrian yang baik untuk pejalan kaki menunjukkan kota makin maju.

“Presiden Jokowi sangat cinta NTT terutama Kota Kupang. Presiden sudah siapkan lagi dana tambahan untuk rapikan lagi jalan-jalan di Kota Kupang. Jadi seumpama kebutuhan air bersih direncanakan dengan baik, kita tinggal omong Kota tanggung berapa, provinsi buat apa dan minta juga di pusat mumpung Presidennya sangat perhatian dengan kita,” jelas Gubernur.

Sementara itu, Wali Kota Kupang, Doktor Jefri Riwu Kore mengakui, persoalan sampah memang menjadi momok bagi Kota Kupang. Pemerintah Kota Kupang terus berupaya untuk menangani permasalahan tersebut.

“Kami malu pak Gub (Gubernur) karena sampah masih bertebaran di mana-mana. Sampai saat ini, kami baru bisa angkut sekitar 87 persen sampah. Karena beberapa kendala seperti bin kontainer yang hanya 6 unit saja saat kami memimpin. Sejak tahun 2019, kami adakan 40 bin kontainer untuk penataan kota. Mobil sampah ada sekitar 30 unit, 23 unit sudah tua. Periode ini kita tambah 8 unit mobil baru. Dalam dua tahun terakhir kita juga adakan 2.000 unit tong sampah. Kami berterima kasih atas bantuan satu unit mobil penyapu jalan dari pemerintah provinsi,” jelas Wali Kota Jefri.

Wali Kota Kupang memberikan apresiasi atas motivasi dan perhatian dari Gubernur NTT terhadap berbagai permasalahan di Kota Kupang. Jefri berjanji akan mengambil langkah-langkah strategis dan lebih tegas untuk mengelola sampah di kota Kupang.

“Terima kasih banyak Bapak Gubernur atas semua masukan dan catatan yang luar biasa. Kasih tanggung jawab kepada kami untuk kami berubah dalam enam bulan ini khususnya dalam penataan kebersihan ini. Kita akan kerjakan dengan lebih sungguh,” pungkas Jefri Riwu Kore.(*)

Sumber berita dan foto (*/Aven Rame—Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Enam Pjs Bupati di NTT Dikukuhkan, Efektif Berlaku 26 September—5 Desember 2020

690 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Terhitung sejak tanggal Sabtu, 26 September hingga Sabtu, 5 Desember 2020; masa tugas dari 6 (enam) pejabat sementara (Pjs) Bupati di 6 (enam) kabupaten di Provinsi NTT yang dilantik oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mewakili Menteri Dalam Negeri, pada Sabtu, 26 September 2020, pukul 10.00 WITA—selesai di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT.

Pengukuhan enam Pjs Bupati tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Permendagri Nomor 74 Tahun 2016 Tentang Cuti di Luar Tanggungan Negara bagi Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota, Pjs Bupati yang akan menjalankan tugas-tugas kepala daerah yang sedang melaksanakan cuti di luar tanggungan negara selama masa kampanye. Adapun tahapan Pilkada Serentak 2020, dengan masa kampanye dimulai dari 26 September hingga 5 Desember 2020.

Foto bersama Gubernur dan Wakil Gubernur NTT dengan enam Pjs Bupati

Enam Pjs Bupati yang dikukuhkan yakni :

  1. Pjs. Bupati Sabu Raijua : Ir. Ferdi J. Kapitan, jabatan lama Staf Ahli Gubernur bidang Perekonomian dan Pembangunan;
  2. Pjs. Bupati Belu : Drs. Zakarias Moruk, M.M. jabatan lama Kepala Badan Keuangan Daerah Provinsi NTT;
  3. Pjs. Bupati Malaka : dr. Meserasi Ataupah. Jabatan lama Kadis Kesehatan Provinsi NTT;
  4. Pjs. Bupati Sumba Barat : Drs. Samuel Pakereng. Jabatan lama Staf Ahli Gubernur NTT bidang Politik dan Pemerintahan;
  5. Pjs. Bupati Ngada : Linus Lusi, S.Pd, M.Pd. jabatan lama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT;
  6. Pjs. Bupati Manggarai : Dr. Drs. Zeth Sony Libing, M.Si. jabatan lama Kepala Badan Pendapatan dan Aset Daerah.

Usai pelantikan, menjawab awak media; Gubernur VBL menegaskan agar aspek netralitas harus dilakukan dan dapat melanjutkan momen pembangunan, para pjs bupati dalam Pilkada Serentak 2020 agar tidak memihak kepada salah satu calon mana pun.

“Dalam kondisi negara sedang menghadapi Pandemi Covid-19 dan Pjs harus membangun imun tubuh yang cukup agar dapat bekerja baik sehingga cukup pangan sehingga tidak terjadi kelaparan ,” tandas VBL.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto utama (*/Kurniawan—Korem 161/WS)

“Sumba Untuk Indonesia” PJCI Dukung Pemprov Bangun Listrik Tenaga Surya

162 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) pada Jumat, 25 September 2020, mengadakan audiensi dengan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), untuk mendukung terwujudnya inisiatif Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Sumba sebesar 20.000 MW dan kabel bawah laut yang akan menghubungkan Provinsi NTT sebagai pusat pembangkitan energi surya dengan Pulau Jawa dan Bali sebagai pusat beban di Indonesia.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/09/09/pulau-sumba-bakal-jadi-pemasok-listrik-energi-terbarukan-ke-jawa-dan-sumatra/

PJCI menyambut baik keinginan Gubernur NTT untuk menjadikan Provinsi NTT, khususnya Pulau Sumba, sebagai pusat pembangkitan energi surya (matahari). Sebagai asosiasi yang telah lama bergerak di bidang energi terbarukan dan jaringan cerdas, PJCI juga melihat potensi Pulau Sumba sebagai produsen energi surya.

“Untuk Pulau Sumba, atau Provinsi NTT umumnya, PLTS mampu beroperasi sepanjang 5—6 jam sehari. Sebagai perbandingan, di DKI Jakarta operasional optimal PLTS sehari berkisar antara 3—4 jam,” ujar Eddie Widono, Pendiri dan Ketua Pembina PJCI sembari menyampaikan secara internal telah mendeklarasikan inisiatif ini dengan nama Sumba Untuk Indonesia, di mana dampak yang diberikan, baik dampak secara ketenagalistrikan, ekonomi, maupun pengembangan industri.

Lebih lanjut, Eddie Widiono menambahkan bahwa pembangunan kabel bawah laut yang menghubungkan Pulau Sumba hingga Pulau Jawa merupakan tren yang terjadi secara global, dimana lokasi yang memiliki potensi pembangkitan energi terbarukan berada jauh dari lokasi pusat beban.

Uni Eropa, imbuh Eddie, telah memiliki inisiatif European Super Grid sejak lama, dimana terjadi keterhubungan antara potensi energi terbarukan dengan pusat beban. China dengan State Grid juga melakukan hal yang serupa, di mana potensi energi surya berada di daerah gurun yang dihubungkan menggunakan jaringan interkoneksi High Voltage Direct Current (HVDC) menuju kota-kota besar sebagai pusat beban.

Pada audiensi dengan perwakilan PJCI, Gubernur NTT juga menyampaikan keinginannya supaya inisiatif PLTS Pulau Sumba dan interkoneksi bawah laut turut memberikan dampak ekonomi bagi Pulau Sumba, khususnya, dan Provinsi NTT pada umumnya. PJCI menyampaikan bahwa pembangunan pembangkitan listrik energi terbarukan skala besar telah diakui memiliki manfaat langsung terhadap pertumbuhan pekerjaan dan pengembangan ekonomi.

National Renewable Energy Lab (NREL) di Amerika Serikat, ungkap Eddie, telah menyusun model Jobs and Economic Development Impact (JEDI) model yang mencoba menguantifikasi dampak dari pembangunan pembangkit energi terbarukan. “Kami mengusulkan kepada Gubernur untuk turut bekerja sama dengan organisasi global yang berfokus kepada pembangunan ekonomi, misalnya dengan UNDP, dalam pengembangan model ekonomi dari pembangunan PLTS skala besar di Sumba,” ujarnya menutup diskusi.

Sejalan dengan nota kesepahaman yang dibuat antara PJCI dan Gubernur NTT, PJCI telah mengumpulkan tim teknis lintas disiplin yang akan bekerja menyusun dokumen dan merangkul berbagai pemangku kepentingan terkait dalam mendorong inisiatif Sumba Untuk Indonesia. (*)

Sumber berita (*/tim media)
Editor (+rony banase)
Foto utama oleh idntimes

Jejak Karya Dua Tahun Kepemimpinan Viktor Laiskodat — Josef Nae Soi

411 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sabtu, 5 September 2020, Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dan Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi (JNS) genap 2 (dua) tahun memimpin Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dua tahun sebelumnya, dua sahabat karib ini, dilantik oleh Presiden Joko Widodo, menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT pada Rabu, 5 September 2018, bertempat di Istana Negara, Jakarta.

Dua tahun, secara logika adalah waktu yang masih terlalu singkat. Tetapi, dalam siklus kepemimpinan politik lima tahunan, dua tahun tetaplah rentang waktu yang sangat menentukan.

Selain sangat bermakna bagi Viktor dan Josef, dua tahun menjadi sangat penting bagi rakyat. Bagi rakyat, dua tahun menakhodai NTT sudah sepantasnya dinilai. Sebaliknya bagi Victory-Joss, dua tahun adalah waktu yang terlalu singkat. Dua tahun berlalu begitu cepat. Dalam parade waktu, yang tersimpan hannyalah sulaman momen-momen bersejarah, dan meninggalkan jejak yang terus dikenang.

Sebagai ucapan syukur, maka dihelat acara Berbagi Informasi Jejak-jejak Karya 2 Tahun Kepemimpinan VBL – JNS pada Sabtu, 5 September 2020 di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT; melibatkan para pekerja media cetak, elektronik dan online. Dimoderatori oleh Kadis Informasi dan Komunikasi (Infokom) Provinsi NTT, Aba Maulaka dan menghadirkan Asisten I Setda NTT, Benyamin Lola; Kepala Bappelitbangda NTT, Cosmas Lanang; dan Staf Khusus Gubernur NTT, Prof. Daniel D. Kameo, S.E., M.H., Ph.D.

Pagelaran deretan kinerja Duet VBL–JNS pun disampaikan dan dibalut dengan interaksi para pekerja media.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL)

Pernyataan menggelegar yang paling dikenang dari pidato politik Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), dua tahun silam di hadapan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Provinsi NTT, pada Senin, 10 September 2018, Gubernur VBL dengan lugas menyampaikan apa yang menjadi spirit moral, yang ada di kedalaman sukma bahwa menjadi pemimpin, bukanlah tujuan utama.

“Menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur bukanlah tujuan utama kami. Tujuan utama kami adalah mewujudkan panggilan moral spiritual, untuk menolong dan mengangkat masyarakat NTT keluar dari lembah kemiskinan.” ujar VBL.

Jabatan, bagi duet pemimpin yang lebih dikenal dengan brand politik, Victory-Joss, adalah untuk mewujudkan panggilan moral-spiritual; untuk membaktikan diri secara utuh, dengan kesungguhan dan ketulusan hati, dan bekerja secara fokus. Cara-cara luar biasa yang digunakan dalam setiap gagasan dan kerja nyata akan membebaskan rakyat NTT dari belenggu kemiskinan.

Itulah spirit dan passion yang dipegang teguh, jabatan adalah jalan pengabdian. Bukan prestise, apalagi sesuatu yang luar biasa untuk dibanggakan. Kalimat yang lahir dari hasil refleksi dan permenungan mendalam, termanifestasi dalam visi “NTT bangkit, NTT Sejahtera”, dan 5 Misi, antara lain:

  1. Mewujudkan masyarakat sejahtera dan adil;
  2. Membangun NTT sebagai salah satu gerbang dan pusat pengembangan pariwisata nasional (Ring of Beauty);
  3. Meningkatkan ketersediaan dan kualitas infrastruktur untuk mempercepat pembangunan;
  4. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia;
  5. Mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Dua tahun, ibarat lukisan Tuhan tentang perjuangan siang-malam, berpikir dan bekerja keras demi mewujudkan mimpi ”NTT Bangkit, NTT Sejahtera.” Itulah konsekuensi logis sebuah kekuasaan.

Kritik dan cercaan akan tetap mewarnai masa-masa kepemimpinan VBL-JNS.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi (JNS)

Tapi, penilaian tentu harus fair. Harus dipahami bahwa, dua tahun silam, saat Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Nae Soi, mengestafet kepemimpinan NTT, kondisi NTT tidak dalam keadaan yang sangat ideal. NTT saat itu, ibarat “negeri sejuta masalah”. Secara empirik, kala itu NTT masih dibelit dengan berbagai persoalan.

NTT, provinsi termiskin nomor tiga di Indonesia dengan sejumlah masalah krusial lainnya. Berkaca pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2017, masih ada 1,1 juta jiwa atau 21,28 % masyarakat NTT yang hidup dalam kemiskinan. Kondisi ini di bawah angka kemiskinan nasional yakni 9,8 %. Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTT masih sangat rendah. IPM NTT saat itu hanya 63,72 %, berada di urutan ketiga terendah dari seluruh provinsi di Indonesia.

Sejak memimpin, duet Victory-Joss juga langsung dihadapkan pada berbagai persoalan pelik yang sudah akut dan sekian lama mencengkeram hidup masyarakat NTT. Mulai dari masalah kemiskinan yang masih tinggi, ketimpangan yang melebar, pengangguran, kelaparan, gizi buruk, stunting dan human trafficking. NTT juga dibelit masalah buruknya tingkat kesehatan ibu dan anak, DBD yang terus meneror, masalah sanitasi, serta parahnya infrastruktur jalan, jembatan, listrik dan air. Masalah Sumber Daya Manusia juga harus mendapat perhatian lebih, khusus pada tingkat literasi masyarakat NTT di beberapa wilayah yang masih rendah. Masalah-masalah pelik tersebut ibarat batu uji yang pasti dijadikan masyarakat untuk menilai reputasi mereka.

Tetapi sebagai pemimpin yang sudah mendapat kepercayaan dan legitimasi rakyat NTT, Victory-Joss sangat percaya diri. Bahwasanya, dengan garansi jam terbang yang dimiliki, baik sebagai politisi, pengusaha nasional, maupun pengalaman di berbagai bidang tugas, jejaring dan kemampuan lobi yang dimiliki. Mereka meyakini mampu membawa NTT keluar dari belit berbagai persoalan tersebut dengan dukungan semua pihak. Sudah saatnya masyarakat NTT bekerja secara sungguh-sungguh, dalam semangat kolaborasi dan saling mendukung.

Poinnya ada pada birokrasi yang kuat. Di bawah nakhoda VBL-Nae Soi, mentalitas birokrasi harus diubah. Cara kerja para pemimpin wilayah di setiap tingkatan dan masyarakat sendiri, harus berubah. Mereka harus bisa berkorban dalam semangat kolaborasi. Sebab persoalan NTT yang demikian luar biasa, hanya bisa dihadapi juga dengan cara-cara extraordinary.

Arahan Gubernur VBL

Keyakinan ini bergandengan dengan komitmen pemerintahan Victory-Joss, yakni fortiter in re et suaviter in modo, yang diwujudkan melalui pemerintahan yang bersih, berwibawa, berkarakter, dan melayani. Semua sektor wajib berkolaborasi, berbenah diri dan melakukan lompatan-lompatan besar lewat inovasi-inovasi dan terobosan baru. Tidak bisa lagi bekerja dengan cara-cara lama dan biasa-biasa saja. Harus out of the box. Sebagai pemimpin NTT, VBL dan JNS yakin, dengan keterlibatan semua pihak dan kerja keras semua stakeholders terkait di seluruh wilayah NTT, mimpi “NTT Bangkit, NTT Sejahtera” akan terwujud.

Sebagaimana kata-kata Gubernur VBL sendiri, “Kita harus berjuang secara sungguh-sungguh. Sebab, target kita adalah kehormatan. Dan kehormatan itu hanya bisa digapai dengan pengorbanan semua pihak.”

Sebagai pemimpin yang lahir dari “rahim” kemiskinan, Gubernur VBL dan Wagub Josef Nae Soi juga sangat paham tentang kemiskinan. Bagi Victory-Joss, miskin itu masalah psikologis. Kemiskinan itu menyakitkan karena merendahkan martabat seorang manusia. Miskin tidak hanya tentang kekurangan pendapatan. Menurut Viktor dan Josef, kemiskinan menimbulkan efek psikologis yang diderita seseorang, yakni perasaan rendah diri dan terhina.

“Kemiskinan telah menjadi sejarah hidup saya dan pak Josef Nae Soi. Kami pernah merasakan betapa pahit dan getirnya hidup dalam kemiskinan. Kami telah berjuang dan bertarung untuk keluar dari kemiskinan. Karena itu, ketika masyarakat telah mempercayakan tampuk kepemimpinan ini ke atas pundak kami, maka sudah tibalah saatnya kami menabuh tambur perang melawan kemiskinan. Kami berdua mau menjadi serva servorum bagi masyarakat NTT yang kami cintai.” ungkapnya dengan penuh ketegasan.

Gubernur VBL dan Wagub Josef Nae Soi saat membuka El Tari Memorial Cup (ETMC) di Kabupaten Malaka

Momentum dua tahun kepemimpinan dapat digunakan rakyat untuk mengevaluasi capaian kinerja mereka. Dua tahun adalah waktu yang krusial. Ada capaian dan tentu saja, ada juga kegagalan. Tetapi ukuran berhasil dan gagal dalam sebuah pemerintahan, akan dipotret dengan angka-angka capaian yang regi dan bersifat statistika.

Narasi capaian pembangunan NTT selama dua tahun di tangan VBL-Nae Soi akan menunjukkan pembuktian dari janji-janji politik yang disampaikan. Tujuannya adalah agar masyarakat bisa memahami dan menilai secara fair, sejauh mana kiprah duet pemimpin ini. Apakah NTT masih tetap berada pada kondisi awal ketika duet Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Nae Soi mengestafet kepemimpinan NTT di kala itu, atau kah sudah ada lompatan-lompatan hebat yang berhasil ditorehkan?

Setelah dua tahun NTT dinakhodai Victory-Joss, apa yang didesain dalam visi dan misi sudah mulai memberikan hasil. Harus diakui bahwa, NTT pasca dua tahun, sudah mulai bangkit. Minimal bangkit dari beberapa persoalan serius di masa lalu. Bangkit dari belenggu kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, kelaparan, gizi buruk, serta bangkit dari belit masalah klasik yang sudah begitu akut, yaitu masalah stunting dan human trafficking.

Berdasarkan data BPS 2019, jumlah orang miskin di NTT ternyata mulai berkurang. Kemiskinan NTT sudah berkurang sebesar 0,19% (20,43%) di tahun 2019 dari 20,62%. Inilah buah kegigihan Gubernur Viktor dan Wagub Josef dalam bekerja dengan tanpa henti berkeliling ke berbagai wilayah NTT.

Masalah stunting, gizi buruk, kematian ibu dan anak juga sudah berhasil dikendalikan peningkatannya. Ukurannya adalah, berdasarkan data e-PPGBM (elektronik Pengukuran Pencatatan Gizi Berbasis Masyarakat) tahun 2019, angka prevalensi stunting menurun dari 42,6% pada tahun 2018, menjadi 27,9% (Februari 2020) dan bahkan kondisi kasus Gizi Buruk agregat provinsi mulai berubah ke angka 2,4% (di bawah standar WHO) pada Februari 2020. Bersamaan dengan itu pula, kasus Gizi Kurang mengalami pengurangan menjadi 8,2% (di bawah standar WHO). Pencapaian penurunan kasus kematian ibu, bayi dan balita juga menunjukkan kinerja yang memuaskan.

Hal ini juga merupakan buah dari ketegasan duet kepemimpinan ini. Sejak awal, Gubernur Viktor selalu menekankan tentang pentingnya NTT memiliki pusat data yang kredibel. Karena salah satu masalah krusial yang membuat NTT tetap miskin dan salah urus adalah soal data. Gubernur Viktor selalu menggugat pemaparan kemiskinan dalam bentuk persentase. “Ke depan, saya tidak tertarik bicara persentase, baik pada level provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa. Saya lebih tertarik kalau seorang camat datang bawa laporan jumlah orang miskin berapa, keluarganya siapa dan terapinya apa. Karena yang kita terapi itu orang, bukan persentase,”. Dengan model pendekatan by name by address, program pengentasan kemiskinan, penanganan stunting dan masalah kematian ibu dan bayi, sudah mulai memberi hasil nyata.

Setelah dua tahun bekerja, angka kematian ibu menurun dari 163 orang menjadi 98 orang pada tahun 2019. Angka kematian bayi menurun dari angka 1.044 bayi menjadi 822 bayi pada tahun 2019 dan kematian balita dari 1.174 balita menjadi 83 balita pada tahun 2019. Upaya pencapaian universal health coverage (UHC) pada tahun 2019 juga sudah mencapai persentase 84,67%. Selain itu, skor indeks pembangunan gender mencapai angka 96,67% dan indeks pemberdayaan gender pada skor 97,42 pada tahun 2019.

Pencapaian tersebut semakin menggetarkan lonceng kemenangan dalam memerangi kemiskinan hingga 2023, dengan mendorong peningkatan kualitas SDM dan fasilitas kesehatan. Persoalan rumah yang tidak layak huni dan yang belum berlistrik, selama dua tahun terakhir sudah bisa ditangani dengan benar dan lebih terukur di semua wilayah dengan melibatkan pemerintah kabupaten lewat dana desa.

Kunjungan Kerja Gubernur VBL ke Kabupaten Kupang

Memasuki dua tahun kepemimpinan Victory-Joss, keyakinan mereka bahwa pariwisata akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan menggerakkan kebangkitan sektor lainnya. Pariwisata yang ditetapkan sebagai Prime Mover pembangunan dapat memicu kebangkitan sektor-sektor lainnya seperti pertanian, peternakan dan kelautan, juga sektor pendukung seperti infrastruktur, akhirnya mulai memberi hasil yang menggembirakan.

Penegasan Gubernur Viktor dan Wagub Josef sejak awal bahwa membangun pariwisata adalah membangun peradaban, menciptakan dan melayani ekspektasi imajinasi manusia. Artinya, kualitas hidup masyarakat desa dan kota harus berubah ke level yang lebih berkualitas, agar disukai para wisatawan. Pariwisata semestinya mewujudkan kualitas hidup atau quality of life masyarakat NTT melalui aspek 5 A (atraksi, akomodasi, aksesbilitas, amenitas dan awareness), agar bisa menjadi opportunity of business. Sebagai sebuah komoditas, pariwisata NTT semakin memberi dampak secara ekonomi.

Dalam dua tahun kepemimpinan Victory-Joss, geliat pembangunan pariwisata NTT yang berbasiskan pendekatan community based tourism mulai menunjukkan progres yang menggembirakan. Kualitas destinasi wisata prioritas yaitu pantai Liman, pegunungan Fatumnasi, Koanara, desa para pemburu Paus Lamalera, pantai Wolwal, pantai Praimadyta dan kawasan Mulut Seribu, berdasarkan kelima aspek tersebut mulai memberi dampak nyata bagi masyarakat. 4 (empat) destinasi yang disebut telah diresmikan Gubernur VBL yakni, Mulut Seribu (15 Juni 2020), Panti Liman (3 Juli 2020), Lamalera (28 Juli 2020) dan Wolwal (31 Juli 2020). Selanjutnya, dalam rencana, pada tanggal 8 September 2020 mendatang, Gubernur VBL akan meresmikan Cottage dan Restaurant di Praimadita, Sumba Timur.

Jika berkunjung ke Lamalera, dijamin tersedia akomodasi yang memadai. Di sana, Gubernur VBL dan Wagub JNS memberi sentuhan dengan membangun 20 unit homestay di 20 rumah penduduk. Hasil pembenahan sektor pariwisata lainnya adalah pembangunan cottage di destinasi wisata Pantai Liman, Pantai Praimadyta dan Pantai Mulut Seribu. Dukungan pengembangan pariwisata NTT di destinasi wisata prioritas melalui peningkatan akses jalan, pembangunan sumber air bersih berupa sumur bor (Pantai Liman, Fatumnasi) penyediaan PLTS (Mulut Seribu dan Fatumnasi), dan pembangunan fasilitas amenitas lainnya, seperti; restoran, lopo, toilet, gerai-gerai karya UMKM, areal parkir, dan fasilitas kesehatan sedang dalam pengerjaan. Di samping penyediaan sumber-sumber bahan pokok dari hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan yang terus digiatkan hingga saat ini.

Sebuah capaian yang luar biasa di sektor pariwisata adalah, duet kepemimpinan Victory-Joss juga berhasil melobi dan mendapat persetujuan Pemerintah Pusat untuk bersama-sama mengelola Destinasi Super Premium Labuan Bajo. Dalam pengelolaan bersama ini, sedang disiapkan sistem pengindraan digital di atas dan di dalam air di perairan Labuan Bajo demi keamanan dan keselamatan lingkungan hidup, varanus komodoensis, warga lokal dan turis dari berbagai ancaman yang merusak. Untuk mewujudkan pengindraan digital ini, Pemerintah Provinsi NTT sedang bekerja sama dengan ST Engineering, suatu perusahaan hebat dari Singapura.

Dengan pendekatan pembangunan yang terintegrasi, wajah pariwisata NTT mulai kelihatan paras cantiknya. Besarnya energi yang dikeluarkan dalam membangun Pariwisata mampu mewujudkan ekspektasi imajinasi para wisatawan. Artinya, keadaan riil dari sebuah destinasi sinkron dengan apa yang ada dalam imajinasi mereka (para wisatawan). Oleh karena itu, dalam banyak kesempatan bertemu masyarakat, Gubernur Viktor dan Wagub Josef terus mengajak masyarakat untuk membuat orang yang datang ke NTT, harus merasa betah dan nyaman, sampai melupakan lamanya waktu mereka tinggal di NTT. Ketika mereka lupa pulang dan bahkan ingin kembali lagi ke NTT, juga mengajak teman-temannya datang ke NTT, maka perwujudan ekspektasi imajinasi itu sudah sukses dilakukan.

Apalagi, dalam pandangan Gubernur Viktor, dengan pembangunan pariwisata yang berbasis masyarakat maka bukan orang luar NTT saja yang akan menikmati hasilnya, tetapi juga orang NTT sendiri. Pasalnya, wisatawan yang masuk ke NTT tidak lagi tergantung pada hotel, cafe, dan resto untuk mendapatkan pelayanan yang nyaman dan berkualitas, tetapi juga rumah-rumah warga yang sudah disiapkan secara layak dan nyaman. Oleh karena itu, adagium Victory-Joss dalam pembangunan pariwisata adalah masyarakat lokal NTT harus menjadi tuan di tanah mereka sendiri. Dengan asumsi seperti itu maka dengan adanya potensi pariwisata NTT yang saat ini masif dikembangkan hingga ke pelosok-pelosok desa, nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat lokal akan bertumbuh. Dari situlah, mimpi pemerataan ekonomi yang mampu menyentuh hingga ke level paling bawah masyarakat NTT, akan nyata dan terukur.

Gubernur VBL bersama Bupati Sikka

Untuk menciptakan pariwisata yang unggul, daya dukung dari sektor lainnya terus digenjot. Salah satunya adalah dukungan komoditas dan konektivitas kewilayaan. Program pariwisata strategis Victory-Joss akan mewujudkan Ring of Beauty. Semua kawasan pulau dan kabupaten di NTT, terus didorong selama dua tahun terakhir untuk berada dalam satu kawasan Ekonomi yang terkoneksi yaitu Masyarakat Ekonomi NTT. Saat ini, pemerintah terus berjuang menyambungkan pulau-pulau di NTT sebagai kawasan hinterland yang kaya akan High Value Agriculture Product, seperti Vanili, Rumput Laut, Kakao, Alpokat juga beras serta Garam.

Bagi Gubernur Viktor dan Wagub Josef, apa yang sedang mereka kerjakan adalah “emas”. Mengapa? Karena pada suatu waktu, perekonomian NTT akan menguat. Arus keluar uang dari NTT sudah bisa dibendung, sehingga masyarakat NTT sendiri yang menjadi pemasok semua produk yang dibutuhkan dalam konsumsi masyarakat di semua Kabupaten/Kota di NTT. Itulah kerja besar yang sedang dan terus digarap duet kepemimpinan ini di sektor pariwisata dan sektor pendukung lainnya.

Di bidang infrastruktur lompatan besar juga sedang dilakukan Victory-Joss. Sebagaimana janji keduanya dalam kampanye di masa Pilgub NTT 2018 bahwa, dalam tiga tahun, masalah buruknya infrastruktur jalan provinsi akan tuntas diselesaikan. Kini, setelah dua tahun kepemimpinan Victory-Joss, persoalan ini sudah mendapat atensi khusus dan dilakukan percepatan yang luar biasa, di mana dari total 2.650 km jalan Provinsi di seluruh NTT, dan sekitar 906,47 km yang dikategorikan dalam kondisi tidak mantap; rusak ringan dan rusak berat, kini sudah dan terus dikebut penyelesaiannya. Dalam roadmap pemerintahan ini, di tahun 2020, targetnya adalah 497,62 km ruas jalan provinsi yang sudah dan sedang diperbaiki. Selanjutnya pada tahun 2021 akan diselesaikan sisanya. Tetapi akibat pandemi Covid-19 dan masalah keterbatasan anggaran, di Tahun 2020 ini, panjang jalan provinsi yang bisa diselesaikan sampai akhir tahun nanti adalah sekitar 372,74 km. Meski meleset dari target, Victory-Joss berkomitmen untuk menuntaskannya di tahun 2021.

Sebagai solusi dalam penyelesaian jalan provinsi, pemerintah menggunakan beberapa pendekatan. Seluruh pengerjaan jalan tidak seluruhnya menggunakan konstruksi aspal hotmix atau Hot Roller Sheet (HRS) tetapi dikombinasikan dengan Grading Operation (GO). Pendekatan ini membuat lapisan berbutir dari sirtu gunung atau kali serta GO plus dengan modifikasi struktur, dicampur dengan semen dan zat adiktif. Hal tersebut setara dengan agregat dan konstruksi bina marga. Sebab jika harus menggunakan aspal seluruhnya maka dibutuhkan dana sebesar Rp.4 triliun lebih. Sementara, anggaran di bidang ini sangat terbatas. Untuk itu, mengingat anggaran yang terbatas, konstruksinya juga selalu disesuaikan dengan spesifikasi. Untuk tempat yang parah, akan digunakan GO dan GO plus, sementara untuk tanjakan atau critical point akan digunakan HRS.

Secara ringkas, untuk pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, terus dipacu pelaksanaannya dengan target meningkatnya mobilitas dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Tiap tahun anggaran pembangunan jalan dan jembatan terus meningkat sesuai kemampuan fiskal Pemerintah Provinsi NTT. Tahun 2018 Rp. 168.359.716.870 meningkat hampir 315%, dan pada tahun 2019 menjadi Rp. 529. 347.810.113,55. Tahun 2020 berdasar data nilai pagu revisi Pergub IV mencapai Rp. 731.448.801.154. Ada kenaikan hampir 450% dari tahun 2018. Dengan peningkatan anggaran, total pengerjaan jalan provinsi NTT pada tahun 2019 sepanjang 139,47 km dan pada tahun 2020 dikerjakan 357,313 km dengan rincian: 158,65 km (HRS), 14,5 km (GO+), 234,163 (GO). Paket SMI 2020, 154,1 km dan Bank NTT: 108,55 km. Kolaborasi multi pihak dalam pembangunan infrastruktur jalan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dapat ditunjukan oleh pengerjaan jalan untuk mendukung pembangunan Observatorium Timau yang merupakan pusat kajian astronomi terbesar di Asia Tenggara bahkan di Asia yaitu pengerjaan jalan sepanjang 40 km dari total 57 km panjang ruas jalan Bokong-Lelogama-Timau.

Selain masalah infrastruktur, kepiawaian duet kepemimpinan ini dalam menakhodai NTT juga terbukti ampuh dalam memerangi berbagai problem pembangunan lainnya lewat pilihan-pilihan kebijakan yang strategis. Salah satunya, dengan pelibatan semua stakeholders (perguruan tinggi dan lembaga keagamaan) dan kolaborasi dengan kabupaten/kota se-NTT. Spirit kerja sama menjadi pilihan utama VBL- Josef Nae Soi sebagaimana disentil dalam pidato VBL ketika amanah menjadi pemimpin ditempatkan di pundak kami, maka tiba saatnya untuk menabur tambur perang melawan kemiskinan. Kita harus berjuang bersama-sama memenangkan peperangan melawan kemiskinan. Itu menjadi tekad dan komitmen kami agar NTT tidak lagi dilihat sebelah mata sebagai provinsi yang terkenal dengan keterbelakangan.

Dua tahun menakhodai NTT, spirit pembangunan manusia NTT yang bermutu terus ditularkan ke anak-anak NTT. Atensi ini semakin menorehkan prestasi yang prestisius. Anak-anak NTT termotivasi dengan celoteh sang pemimpin tentang spirit kerja cerdas, dengan dukungan kualitas SDM yang mumpuni dan berdaya saing. Terbukti, kualitas pelayanan pendidikan menunjukkan kinerja positif, di antaranya; angka partisipasi sekolah penduduk usia 16—18/SMA-SMK pada tahun 2019 naik menjadi 75,04% dari tahun 2018 sebesar 74,83%. Akreditasi sekolah minimal B pada SMA telah mencapai 51,8% pada tahun 2019 dari 20,9% pada tahun 2018; SMK mencapai 32% pada tahun 2019 dari 8,5% pada tahun 2018; SLB mencapai 9,5% pada tahun dari sebelumnya 2,94%.

Gubernur VBL saat bertemu Uskup Ruteng

Mewujudkan NTT Bangkit dan Sejahtera harus terintegrasi dengan pembangunan di bidang lainnya, yaitu sektor peternakan, pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan dan perindustrian juga terus digenjot. Pembangunan sektor pertanian dan peternakan misalnya, pada tahun kedua kepemimpinan Victory-Joss ini dilakukan dengan gebrakan besar berupa program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS). Selain itu juga, pengembangan populasi ternak dan pengembangan marungga. Pemberdayaan ekonomi masyarakat dilakukan melalui kegiatan Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang merupakan konsep kolaborasi pertanian peternakan. Terbukti, hingga Agustus 2020, tersedia luas tanam sebesar 1.435,61 ha (14,35%) dari 10.000 ha. Bibit jagung yang didistribusikan antara lain jagung komposit sebanyak 31.045 kg dan jagung hibrida sebanyak 64.099 kg. Hasil panen jagung tersebut juga digunakan untuk pembelian ternak sehingga tingkat kepemilikan ternak di masyarakat meningkat.

Jumlah populasi ternak sapi hingga tahun 2019 sebanyak 1.087.761 ekor dengan tingkat realisasi sebesar 99.88%. Peningkatan populasi ini selain dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat, juga dikembangkan di 7 instalasi ternak. Untuk ternak kecil populasi yang paling mendominasi adalah ternak babi sebanyak 2.266.222 ekor, ternak kambing 835.614 ekor, ayam buras 10.984.790 ekor, ayam broiler 7.300.378 ekor, dan ayam layer sebanyak 225.389 ekor.

Pembangunan sektor kehutanan diarahkan untuk pengembangan potensi hutan dan sumber daya alam yang ada. Gagasan pembangunan pariwisata NTT di bawah nahkoda VBL-JNS menyentuh juga penataan dan pemanfaatan lingkungan kehutanan, sehingga mendorong aktivitas ekonomi. Pembangunan hutan wisata sedang dilaksanakan melalui pembuatan ekowisata dan ecogreenpark. Pengembangan hutan wisata di Kabupaten Ende, Timor Tengah Utara dan Manggarai Barat serta pengembangan Hutan Wisata pada Lokasi Mangrove di Kabupaten Rote Ndao, yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana berupa rumah pohon, kolam, panggung, spot-spot foto dan jalur untuk bersepeda serta wahana-wahana lain yang mendukung aktifitas wisata, disesuaikan dengan karakteristik lahan yang ada.

Pada prinsipnya, penataan lingkungan kehutanan dilakukan melalui kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dengan capaian yang dicapai hanya pada penanaman yang dilaksanakan pada kawasan hutan dan jenis tanaman endemik lokal. Dari luasan RHL yang dilakukan seluas 6.515 Ha hanya 6.000 Ha saja yang dilaksanakan dalam kawasan hutan dan hanya seluas 4.005,35 Ha yang dilakukan dengan menggunakan jenis endemik lokal. Luasan lahan hutan yang dapat dimanfaatkan adalah 279.087,27 Ha kawasan hutan produksi, 186.188,89 Ha kawasan hutan produksi terbatas dan 80.962,95 Ha hutan produksi konversi. Areal hutan ini dimanfaatkan untuk pengembangan kemiri, jambu mete, kopi, kakao, kenari, kelor, porang, kayu putih, madu dan komoditi kehutanan lainnya.

Peningkatan kesejahteraan masyarakat NTT di bawah nakhoda VBL-Nai Soi digerakkan juga pada sektor kelautan dan perikanan. Dengan spirit kerja keras, terbukti pada tahun 2019 produksi perikanan tangkap sebanyak 20.040 ton dan hingga Mei 2020 sebanyak 10,714 ton. Untuk pengembangan budidaya rumput laut dilakukan melalui pengembangan 5 kluster rumput laut dan penguatan kelompok serta fasilitasi pengembangan kelompok nelayan pembudidaya rumput laut dengan jumlah produksi rumput laut pada tahun 2019 sebanyak 2.395.752 ton. Hasil ini melampaui target produksi di tahun yang sama (2,381.000 ton). Pada tahun 2020 melalui fasilitasi kepada 4.000 pembudidaya yang tersebar di Kabupaten Sabu Raijua, Alor, Lembata, Flores Timur dan Sikka dengan produksi rumput laut yang ditargetkan sebanyak 2.619.000 ton dan realisasi hingga Mei 2020 sebanyak 1.309.500 ton. Peningkatan produksi perikanan melalaui pembudidayaan dengan keramba jaring apung (Kakap &Kerapu) yang telah dikembangkan di Labuan Kalambu sejumlah 1 juta ekor kerapu dan di Mulut Seribu sejumlah 500 ribu ekor kakap putih. Pengembangan ini menunjang ketersediaan pangan berbasis perikanan di lokasi pariwisata estate. Selain itu pengembangan kegiatan perikanan juga ditujukan di lokus-lokus stunting melalui pemberian sistem rantai dingin (coolbox berinsulasi) di 22 Kab/Kota dan pemberian makanan tambahan olahan berbahan dasar ikan.

Wagub Josef Nae Soi saat memberikan bantuan kepada susteran

Sektor perindustrian dan perdagangan juga mendapat atensi VBL-JNS sejak menakhodai NTT. Fokus pembangunan sektor industri dan perdagangan diarahkan untuk pembangunan industri pakan ternakdi NTT yang belum terpenuhi dengan baik sampai sekarang. Di tahun kedua menakhodai NTT, pembangunan industri pakan ternak sedang dalam proses kajian. Bagaimana dengan industri garam? Itikad baik VBL-JNS mengembangkan industri garam di NTT mendapat sambutan hangat dan positif Presiden Jokowi saat meninjau pengembangan Industri garam di NTT, khususnya di Kabupaten Kupang. Menurut Presiden Jokowi, dari total 600 hektare, sudah 10 hektar lahan garam yang dikembangkan. NTT seharusnya mampu memberikan sumbangsih besar dalam mengembangkan 21.000 hektar lahan di Indonesia. Dua tahun VBL-JNS memimpin, optimisme pembangunan industri garam terus diperjuangkan.

Di sektor bahari, sebagai provinsi kepulauan, telah digodok pembangunan dan peningkatan pelabuhan-pelabuhan NTT bertaraf internasional yang melibatkan konsultan global yang bermarkas di Singapore Seaport. Pembangunan pelabuhan ini akan membawa NTT menjadi provinsi bahari yang andal dalam kaitan konektivitas dalam daerah, nasional hingga internasional. Pembangunan pelabuhan ini akan diikuti dengan perluasan terminal yang terintegrasi dengan rencana Kawasan Industri Bolok-Tenau di lahan seluas 900 Ha.

Untuk mitigasi bencana, mengingat kondisi NTT sebagai supermarket bencana alam nasional karena berada persis di Ring of the Fire (lingkaran gunung api), gagasan dan aksi nyata pembentukan dan pengembangan Desa/kelurahan Tangguh Bencana secara bertahap digencarkan pada 22 Kabupaten/Kota NTT. Ini menjadi salah satu strategi memberdayakan masyarakat itu sendiri agar tanggap terhadap bencana.

Problem krusial lainnya yang masih mewarnai pembangunan NTT adalah pembangunan prasarana sanitasi lingkungan berupa penyediaan air bersih dan sarana pengelolaan limbah. Penyediaan air bersih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air di daerah-daerah krisis air bersih dan penyediaan air di destinasi wisata melalaui pembangunan sumur bor. Pada tahun 2019 sebanyak 35 unit sumur bor eksplorasi, 8 unit optimalisasi sumur bor dan 10 unit sumur bor produksi telah selesai dikerjakan. Sarana pengelolaan limbah yang akan disediakan adalah melalui pembangunan UPTD Pengelolaan limbah B3 dengan skala pelayanan regional yang di bangun di Kabupaten Kupang dan di Manggarai Barat.

Penyediaan prasarana energi melalui bantuan pemasangan instalasi listrik sambungan rumah bagi masyarakat tidak mampu yang direncanakan di tahun 2020 sebanyak 1.061 yang tersebar di Kabupaten Alor, TTS, TTU, Sabu Raijua, Ngada, Manggarai Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya dengan tingkat elektrifikasi yang rendah. Action pembangunan belum dikerjakan mengingat kondisi pandemi Covid-19. Untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah yang belum dilayani oleh jaringan PLN, dikembangkan sumber energi alternatif yaitu pembangunan PLTS sehen sebanyak 357 unit pada tahun 2019.

Gubernur VBL saat bersama Sekda NTT, Benediktus Polo Maing dan Staf Khusus Gubernur

Di bidang reformasi birokrasi, Gubernur Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi sangat percaya bahwa dengan menerapkan prinsip-prinsip good governance, sehingga visi besar tentang birokrasi yang andal akan tercapai. Dalam dua tahun kepemimpinan, Victory-Joss sudah berupaya menerapkan prinsip-prinsip good governance tersebut. Terbukti, beberapa perubahan fundamental dari aspek pelayanan dan penerapan teknologi dalam manajemen pemerintahan yaitu e-government telah diwujudkan. Kebijakan anggaran yang ditetapkan memprioritaskan belanja publik sebesar 70% dari total anggaran.

Dua tahun menakhodai NTT, Victory-Joss berhasil memberi pesan tegas dan positif tentang aura dan geliat pembangunan di NTT, di mata Pemerintah Pusat. Lewat berbagai pola pikir dan cara kerja inovatif yang digaungkan duet VBL-JNS, posisi daya saing NTT di skala nasional menunjukkan peningkatan luar biasa dan sungguh menggembirakan. Laporan Indeks Daya Saing Daerah Provinsi NTT tahun 2020 menggambarkan kondisi pembangunan NTT selama dua tahun terakhir pada aspek kelembagaan, ekosistem inovasi, sumber daya manusia dan ekonomi mengalami peningkatan drastis dari 0 di tahun 2018 menjadi 3,07 di tahun 2020. Hasil ini dikategorikan tinggi dan mendapat apresiasi dari Kementerian Ristek-BRIN, meski terdapat beberapa pilar pembangunan, seperti; kesigapan teknologi, kapasitas inovasi, ukuran pasar dan dinamika bisnis yang terus dibenahi. Ini menjadi konsentrasi VBL-JNS dalam mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Sedangkan untuk Indeks Inovasi Daerah, telah diikutsertakan 55 jenis Inovasi, dengan skor 5.632 dalam Innovation Government Award 2020.

Dalam urusan penataan aset daerah, VBL-JNS memiliki sikap yang tegas dan tetap memerhatikan aspek humanis dan persuasif. Di tahun kedua kepemimpinannya, beberapa aset daerah seperti renegosiasi pemanfaatan aset kawasan Lippo Plaza dan sekitarnya, Hotel Sasando (64.300 m2), tanah di Manulai II (231.524 m2) untuk pembangunan Rumah Sakit Pusat yang sedang dikerjakan, pantai Pede (31.670 m2), dan lahan Besipae (37.800.000 m2). Persoalan batas daerah (Matim-Ngada dan Sumba Barat-Sumba Barat Daya) juga telah diselesaikan lewat pendekatan kooperatif dan humanis VBL-JNS.

Pembuktian karya pembangunan VBL- JNS selama dua tahun sepatutnya diapresiasi. Tidak sebatas pada jejak karya yang ditinggalkan tetapi gagasan-gagasan brilliant pembangunan yang telah tercatat apik dalam sejarah pembangunan NTT dua tahun belakangan ini. Gagasan pemberdayaan ekonomi local community melalui produk minuman tradisional (minol) “Sophia” telah di-launching dan diproduksi. Gagasan inovasi pengembangan kelor mulai dirintis para pelaku UMKM dengan varian produk, seperti teh kelor, kue lapis kelor, kripik kelor, susu kelor dan sebagainya. Yang masih menjadi pekerjaan rumah di sisa tiga tahun terakhir adalah pengembangan industri kelor. Untuk mewujudkan pengembangan industri kelor, Pemerintah Provinsi telah menyediakan lahan dengan populasi kelor yang telah ditanam sebanyak 2.137.871 pohon. Butuh energi yang lebih besar lagi untuk mewujudkan cita-cita pembangunan kelor ini.

Gubernur VBL saat kunjungan kerja di Kabupaten Alor

Untuk mendukung pembangunan ekonomi NTT, VBL- JNS menginisiasi pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Provinsi NTT yang terdiri dari (Liman, Melolo, Teluk Kupang, Mulut Seribu, Mbay, Teluk Maumere, dan Wolwai). Ekspektasi yang diinginkan adalah terjalin perdagangan domestik di kawasan NTT dengan sumber daya yang dihasilkan dari bumi Flobamora.

Kini, sudah terlihat bahwa ada banyak karya nyata yang ditorehkan. Bukti karya VBL-JNS selama dua tahun mulai memperlihatkan kemenangan demokrasi di NTT. Sebuah kepemimpinan yang demokratis, dalam pandangan Gubernur VBL harus bisa memberi kesejahteraan. Sebab, demokrasi adalah jalan menuju kesejahteraan. Demokrasi tanpa kesejahteraan adalah sebuah kemunafikan; Sebuah dosa politik.

VBL-JNS menyudahi periode kepemimpinan NTT 2018—2023. Apakah akan ada banyak torehan keberhasilan pembangunan yang diraih di sisa tiga tahun terakhir? Masih banyak karya yang semestinya dituntaskan untuk membawa NTT menuju Bangkit dan Sejahtera. Capaian selama dua tahun ini telah membuktikan kerja keras dan kerja cerdas yang luar biasa. Narasi optimisme VBL- JNS dalam visi NTT Bangkit, NTT Sejahtera, pada waktunya terwujud. Sebagaimana kata-kata Gubernur VBL sendiri, “NTT Bangkit merupakan suatu gerakan restorasi untuk mendobrak batu penghalang kemajuan dan berani keluar dari masa lalu dan masuk ke dalam masa pengharapan”. (*)

Sumber (*/Biro Humas dan Protokol Setda NTT)  Foto-foto (*istimewa)
Editor (+rony banase)

Irjen (Pol) Lotharia Latif Jabat Kapolda NTT Ganti Irjen Hamidin, Ini Pesan VBL

1.270 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Gubernur dan Wakil Gubernur tidak bisa bergerak sendiri, harus ada bantuan dari teman-teman Forkopimda agar kita satu gerakan untuk kita membangun daerah ini melihat masa depan. NTT miliki atraksi alam yang paling bagus dan lengkap dari semua daerah lainnya,” pesan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) pada acara Malam Kenal Pamit Kapolda NTT dari Irjen (Pol) H. Hamidin kepada Irjen (Pol) Lotharia Latif di Hotel Aston Kupang, pada Rabu malam, 2 September 2020.

Selanjutnya, Irjen (Pol) Hamidin akan bertugas di Mabes Polri sebagai Analisis Kebijakan Utama Itwasdum.

Gubernur VBL pun menegaskan, kebangkitan NTT maju menuju sejahtera, tidak bisa dilakukan sendiri. Tapi harus ada sinergisitas dengan semua pemangku kepentingan termasuk Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkpimda). Semua mesti terus bergerak bersama dalam satu gerakan untuk urus NTT mencapai sejahtera.

Pose bersama Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dengan Irjen Pol Hamidin dan istri

Maka, imbuh Gubernur VBL saat menyampaikan sambutan, saya di sini akan mendesain Provinsi NTT menjadi provinsi yang terpandang.

VBL juga meminta pejabat yang akan ditempatkan di NTT tidak perlu takut dan menyesal. Karena NTT masih dikategorikan sebagai daerah termiskin ketiga. VBL mengajak semua yang ditempatkan di NTT harus sungguh-sungguh bekerja.

“Saya minta Forkopimda untuk bekerja melampaui tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) masing-masing. Harus terlibat dan turut serta secara aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di NTT,” pinta mantan Ketua Fraksi Nasdem DPR RI itu.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi memberikan selamat kepada Kapolda NTT, Irjen Pol Lotharia Latif

Sementara itu, mantan Kapolda NTT, Irjen Hamidin mengatakan, saat ini tindakan kejahatan di NTT semakin berkurang. Indeks Persepsi Korupsi di NTT meningkat tajam. Juga menjadi salah satu daerah dengan perkembangan kasus Covid-19 yang rendah di Indonesia.

“Ini merupakan tanda kerja keras yang bagus bagi kita semua” tandas Irjen (Pol) Hamidin.

Turut hadir pada kesempatan tersebut Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi , Ketua DPRD NTT, Emy Nomleni; Unsur Forkompinda NTT, Wali Kota Kupang , Bupati Belu, kepala tokoh agama, tokoh masyarakat, insan pers dan undangan lainnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/Aven Rame – Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Gubernur VBL : Pendidikan Pancasila Pembentuk Karakter Generasi Muda

319 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pendidikan Pancasila di bangku pendidikan diharapkan harus bisa membentuk dan mencetak generasi anak didik yang berkarakter dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sosial. Bukan hanya itu, melainkan juga mampu memberikan dorongan untuk mencintai keragaman dan perbedaan budaya dari seluruh pelosok tanah air.

Hal tersebut dikatakan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat audiensi bersama Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI Hariyono di ruang kerjanya pada Senin, 31 Agustus 2020.

“Pendidikan Pancasila sendiri perlu memiliki desain agar bukan hanya mentransfer knowledge (pengetahuan) tetapi juga membentuk karakter. Sekolah-sekolah harus bisa memberikah pemahaman pada siswa mengenai nilai-nilai Pancasila termasuk juga memahami lebih dalam tentang kebinekaan kita. Untuk itu karakter saya maksud di sini adalah mencintai perbedaan dan saling menghormati. Harus bisa merefleksikan dan mencintai keragaman kita,” beber Gubernur VBL.

Lanjutnya, “Maka dari itu harus bisa menyatukan perbedaan dalam setiap interaksi sosial. Bangsa kita adalah bangsa besar dengan perbedaan yang sangat banyak mulai dari suku, budaya, bahasa, hingga warna kulit. Bukan hanya soal tahu tapi harus bisa paham makna dibalik keanekaragaman itu. Harus meyakini itu adalah bagian dari kita. Toleransi kita jaga. Maka dengan itu nasionalisme kita akan tercipta dengan semangat persatuan.”

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat(VBL) saat beraudiensi dengan Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI Hariyono di ruang kerjanya pada Senin, 31 Agustus 2020

Lebih lanjut dikatakannya, NTT sendiri juga memiliki keragaman budaya dan banyak suku. “Kita di NTT ini sangat banyak sukunya. Bahkan dalam satu pulau sendiri ada banyak jenis bahasa. Saat ini, kita di birokrasi juga setiap ASN diwajibkan setiap hari Selasa dan Jumat memakai sarung tenun dari berbagai suku yang ada. Hal tersebut tidak terlepas dari rasa cinta budaya kita di NTT,” imbuh VBL.

Sementara itu, Wakil Kepala BPIP Hariyono mengatakan keragaman suku dan budaya Indonesia sebagai kekayaan. “Banyaknya suku dan budaya itu adalah kekayaan kita yang juga menjadi ciri khas. Orang mengenal Indonesia berarti mengenal suatu bangsa yang penuh dengan keragaman dan kita harus bangga dengan hal itu,” ujar Hariyono.

Dalam audiensi tersebut, Gubernur VBL bersama Wakil Kepala BPIP Hariyono juga membahas mengenai pengembangan kelor dan juga garam di Provinsi NTT. (*)

Sumber berita  (*/Meldo—Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor dan foto utama (+rony banase)

Menteri Edhy Kunjungi Lokasi Budidaya Ikan Sistem Bioflok di Desa Mata Air

135 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Menteri Kelautan dan Perikanan dan Gubernur NTT bersama rombongan mengunjungi Budidaya Ikan Sistem Bioflok di Desa Mata Air Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang pada Sabtu, 29 Agustus 2020.

Baca juga: https://gardaindonesia.id/2020/08/29/kunjungan-di-kupang-menteri-edhy-imbau-masyarakat-cerdas-kelola-perikanan/

Di hadapan kelompok masyarakat, Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Edhy Prabowo mengatakan Budidaya Ikan Sistem Bioflok ini sebagai pijakan awal dalam peningkatan ekonomi masyarakat.

“Ini baru awalan dan kita harap dengan ini maka bisa benar-benar dikelola dan dimanfaatkan untuk peningkatan ekonomi bapak dan ibu sekalian. Saya lihat bioflok ini sudah baik mulai dari pembibitan hingga perawatannya”, ujarnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo saat berada di Desa Mata Air

“Kami berkomitmen dari Kementerian Perikanan dan Kelautan atas Perintah Bapak Presiden, untuk terus membangun sektor budidaya perikanan dan juga membangun komunikasi dengan nelayan. Nelayan itu adalah kita semua yang mengurusi budidaya perikanan dan masyarakat pesisir pantai. Kami siap bantu setiap saat. Kita harus semangat, NTT punya potensi sumber daya alam yang dari laut harus kita manfaatkan sebaik-baiknya,” beber Menteri Edhy Prabowo.

Di tempat sama, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengajak Mahasiswa Prodi Perikanan Universitas Nusa Cendana yang hadir untuk bisa belajar dan paham pengelolaan ikan budidaya bioflok.

“Saya mau ilmu itu bukan hanya dipelajari sebagai teori, harus pakai ilmunya praktiknya. Turun di tengah masyarakat. Harus ada hasilnya. Kamu harus kembangkan dengan baik budidaya ikan sistem bioflok ini dan hasilnya harus bagus. Itu baru dikatakan mahasiswa yang berkompeten dan ahli dibidangnya,” pinta Gubernur VBL. (*)

Sumber berita dan foto (*/Meldo-Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)