Arsip Tag: alex riwu kaho

Menuju Merdeka Belajar, Bank NTT Konsisten Edukasi Literasi Keuangan

236 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho memaparkan program Bank NTT yang mendukung Literasi Keuangan dan pro kepada pelajar guna mendorong generasi muda NTT untuk dapat merdeka dalam berpikir, kreatif dan secara mandiri berekspresi. Pemaparan Alex Riwu Kaho (sapaan akrabnya, red) disampaikan dalam temu wicara atau talk show Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2021 bersama Bank NTT, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT yang dihelat pada Kamis siang, 6 Mei 2021 di salah satu hotel di Kota Kupang.

Mengedepankan protokol kesehatan ketat yang mana setiap peserta dari perwakilan siswa dan guru dari SMP/SMA/SMK dan Perguruan Tinggi se-Kota Kupang yang menjadi mitra Bank NTT, wajib mengikuti rapid test antigen dan dinyatakan negatif yang selanjutnya boleh mengikuti temu wicara yang mengusung tema “Melalui Literasi Inklusi Keuangan, NTT Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar” ini menjadikan momentum Hari Pendidikan Nasional sebagai dasar untuk membangkitkan semangat belajar di masa Pandemi Covid-19 guna mewujudkan “Merdeka Belajar”.

Temu Wicara yang berfokus membahas tentang Literasi Keuangan dan Merdeka Belajar tersebut dipandu moderator Feby Angi Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Nusa Cendana Kupang, dihelat secara tatap muka dan virtual meeting dengan pembicara atau keynote speaker yaitu Linus Lusi Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Linus Lusi; Kasubag Administrasi/Plh. Kasubag Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Perwakilan NTT, Dony Prasetyo dan Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho dan turut memberikan spesial testimoni Dinna Noach Staf Khusus Gubernur NTT Bidang Disabilitas (Juara III Lomba Karya Tulis Ilmiah Program Ramai Skali Bank NTT 2019,red).

Alex Riwu Kaho saat memaparkan program Literasi Keuangan Bank NTT dalam mendukung Program Merdeka Belajar

Bank NTT, tegas Alex Riwu Kaho, konsisten mendukung program inisiatif “Merdeka Belajar” guna mendorong generasi muda NTT agar dapat merdeka berpikir, inovatif, dan mandiri secara finansial. “Sebagai bentuk dukungan terhadap Pendidikan di Provinsi NTT, maka Bank NTT memberikan Tabungan Simpanan Pelajar (Simpel) kepada 1.000 Pelajar sesuai program OJK Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) selama bulan Inklusi keuangan Mei sampai Oktober.

Alex Riwu Kaho, ponakan dari Tokoh Pendidikan NTT, Bapak Robert Riwu Kaho (anak dari Bapak Simon Riwu Kaho mantan Kepala Cabang Bank NTT Atambua, red) ini pun menekankan 3 (tiga) komponen yang mendukung Literasi Keuangan yakni murid, guru, dan orang tua. “Bank NTT telah membangun sistem guna membangun kemerdekaan belajar, berpikir, dan berekspresi melalui produk yang dikemas oleh teman-teman dari Direktorat Dana Bank NTT yang menyelenggarakan aktivitas yang edukasi dan berharap dari setiap kegiatan dapat memicu pengetahuan Literasi Keuangan,” paparnya.

Bank NTT konsisten menghasilkan kegiatan Literasi Keuangan yang variatif dan dikemas dalam situasi sulit dapat terbantu dengan Aplikasi Pendidikan. “Tantangan ke depan bakal sangat menantang, sehingga anak harus diisi dengan pengetahuan Literasi Keuangan sehingga mampu mandiri, berpikir kreatif  dan berekspresi yang dapat menjadi pondasi,” ucapnya.

Penyerahan secara simbolis Tabungan Simpanan Pelajar (Simpel) kepada 1.000 Pelajar sesuai program OJK Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) selama bulan Inklusi keuangan Mei sampai Oktober; dari Direktur Umum Bank NTT, Yohanes Landu Praing kepada Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Linus Lusi

Bank NTT butuh sinergisitas dan kolaborasi, imbuh Alex, anak-anak mulai terlatih menggunakan aplikasi Perbankan yang sehat berupa mobile banking serta berperan serta dalam berbagai lomba yang mendorong peningkatan Literasi Keuangan.

Kenapa konsep Merdeka Belajar dimunculkan dan diterapkan di NTT?

Linus Lusi menjabarkan tentang konsep Merdeka Belajar dari Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim; ketika Pendidikan Indonesia diterapkan pada tahun 1947 banyak mengalami hambatan yang mana harus mengikuti tren gobalisasi yang bertumbuh kembang, maka Merdeka Belajar dalam konsep aplikasi oleh para guru adalah mengoptimalkan, mengeksplorasi berbagai multi-kecerdasan para siswa sehingga dapat mengerti secara jelas, berpikir kritis dari sebuah subyek dan objek pembelajaran dan siswa sebagai sentra pembelajaran.

Linus Lusi mengungkapkan bahwa dalam konteks Nusa Tenggara Timur, kemampuan literasi, numerasi, dan pendidikan karakter di sekolah menuai sorotan (dapat dilihat di rekam jejak di media sosial dan media massa). “Bagaimana seorang anak kandung bisa memperkarakan ibu kandungnya,” ungkapnya seraya berkata ketika ditanya berasal dari sekolah mana.

Merdeka Belajar, urai Linus Lusi, bukan merdeka segalanya, namun perlu variabel dan indikator sebagai bingkai di dalam desain pembelajaran. “Dalam sektor pendidikan, gaya belajar seperti membelenggu (datang, duduk, diam, catat, dan lipat tangan) karena tidak ada dialektika ketika terjun dalam berbagai sektor pendidikan sehingga kepatuhan tumbuh dan berkembang adalah kepatuhan semu. Dan dengan konsep belajar ini (Merdeka Belajar, red), anak perlu memiliki jati diri dan konsep demokrasi pembelajaran,” bebernya.

Selain itu, tegas Linus Lusi, perlu adanya perubahan gaya belajar dan ruang aktualisasi diri di dalam berbagai ragam kegiatan belajar mengajar dapat mempengaruhi indeks demokrasi pembelajaran.

Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Linus Lusi

Isu Literasi Keuangan pun, tandas Linus Lusi, harus dibumikan dengan melatih anak menabung sejak dini, misalnya pada tahun 1985 melalui gerakan menabung. “Perlu diberlakukan Kurikulum Literasi Keuangan belajar mengelola tata keuangan dan sikap konsumtif anak NTT, perlu didorong adanya minat menabung dan perlu dikaji tingkat partisipasi menabung,” pungkasnya.

Sementara itu, Dony Prasetyo, perwakilan otoritas jasa keuangan (OJK) Perwakilan NTT menandaskan peran OJK dalam mengoptimalkan gerakan Literasi Keuangan melalui “Satu Rekening Satu Pelajar” (KEJAR) pada 2019 dan gerakan Indonesia Menabung melalui Simpanan Pelajar (Simpel).

“Sebanyak 16 ribu rekening (dari total 13 ribu pelajar [data tahun 2020]) dengan total saldo tabungan sebesar Rp.500 miliar disimpan di rekening Simpel oleh pelajar NTT di seluruh bank (data per April 2021),” urainya sembari menyampaikan bertujuan meningkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan.

Tingkat Literasi Keuangan di NTT, ungkap Dony, masih di bawah nasionalis sebesar 28,82 persen lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 38 persen. “Dari 100 pelajar hanya 28 pelajar tahu dan paham tentang manfaat menabung sisanya belum tahu, dan kami berupaya untuk meningkatkan Literasi Inklusi Keuangan ke 29 persen di tahun 2024 dan akan terus berlanjut,” urainya.

Penulis, editor dan foto (+roni banase)

Usai Listrik Nyala, Geliat Ekonomi Koja Doi Tumbuh Bersama Bank NTT

244 Views

Koja Doi, Garda Indonesia | Menikmati listrik energi baru terbarukan dengan harga terjangkau menjadi cerita haru bagi warga Desa Kojadoi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT; usai hadirnya PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) pada Kamis, 28 November 2019, menjadi hari bersejarah bagi mereka di mana sejak Indonesia Merdeka, Desa Koja Doi tidak pernah menikmati terangnya cahaya dari energi listrik.

Dilansir dari Humas PLN UIW NTT, setelah penantian panjang tepat, PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT mulai mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk menerangi Desa Koja Doi yang merupakan PLTS Komunal dengan daya 190 kWp.

Desa Koja Doi berada di Pulau Koja Doi yang menyerupai janin bayi dan terkenal dengan Jembatan Batu ini merupakan 1 (satu) dari 10 desa di kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia; meraih penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) pada tahun 2019 oleh Kementrian Pariwisata.  Desa ini memiliki 3 dusun yakni Dusun Kojadoi, Dusun Kojagete dan Dusun Margajong.

Pendamping Lokal Desa Koja Doi, Marhaing (51) menyampaikan sebelum PLTS masuk yang jelas pertama sekali sepertinya belum Merdeka. “Dulu saat belum ada PLTS yang jelas pertama sekali sepertinya kami belum merdeka, dan setelah adanya Listrik yang terpenting ini kita punya kampung sudah terang, anak-anak bisa belajar pada malam hari, pendapatan warga ada peningkatan dan sudah masuknya informasi-informasi melalui media komunikasi ” terangnya.

Lanjutnya, “Pemakaian minyak tanah juga dulunya boros dalam sebulan pemakaiannya hampir kurang lebih 15 liter di mana 1 liter seharga Rp 10.000,- selain sebagai bahan bakar kompor mereka juga harus menyalakan lampu pelita sebagai penerangan di malam hari. Namun, sekarang dengan biaya Rp.20 ribu untuk pemakaian 1 bulan dengan daya 900VA bisa digunakan untuk Lampu, TV, dan Kipas Angin yang dinyalakan selama 24 jam.

Jaringan PLTS PLN UIW NTT di Pulau Koja Doi

Saat pembangunan PLTS di Desa Koja Doi, ungkap Marhaing, mengalami tantangan saat mobilisasi material karena jalannya yang susah untuk dilalui dan tidak adanya alat berat pengangkut material, maka warga di Desa Koja Doi bersemangat gotong royong memikul material dari pelabuhan menuju lokasi pembangunan PLTS yang jaraknya kurang lebih 3 km.

Sementara itu , Manager UP3 (Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan ) Saut Pandjaitan menyampaikan, “Kehadiran PLTS ini mampu melistriki 147 KK dan dalam pemeliharaannya dilakukan oleh 2 (dua) orang. Harapannya PLTS yang telah hadir dapat dijaga bersama dan terus mendorong kesejahteraan dan menumbuhkan ekonomi warga Koja Doi.

Perekonomian Desa Koja Doi Bertumbuh Bersama Bank NTT

Desa Koja Doi pun mendapat sentuhan dan intervensi program dari Bank NTT. Pulau yang berpenghuni 1.543 jiwa (468 kepala keluarga) dan dikenal dengan wisata Batu Purba dan Jembatan Batu tersebut telah menyiapkan diri menjadi Desa Wisata Berbasis Digital.

Bank NTT telah mendirikan Lopo Dia Bisa dan menempatkan Agen Dia Bisa yang memberlakukan pembayaran QRIS (pembayaran digital) terhadap semua transaksi Perbankan yang dilakukan oleh para wisatawan saat berkunjung ke desa tersebut.

Disaksikan Garda Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho saat membeli kerajinan masyarakat, hanya dengan melakukan scan QR, maka pembayaran dengan uang elektronik atau sistem cashless tersebut pun selesai, sehingga tak perlu membayar dengan uang tunai.

Pimpinan Cabang Bank NTT Maumere, Stefanus Tuga saat diwawancarai oleh Stenly Boimau dari Timor Express

Perhatian serius Bank NTT terhadap pengembangan konsep Desa Wisata Kajo Doi juga dilakukan terhadap pengelolaan hunian warga yang dijadikan sebagai homestay.

Disampaikan Pimpinan Cabang Bank NTT Maumere, Stefanus Tuga pada Selasa sore, 8 Desember 2020, sebanyak 8 dari 18 homestay telah menggunakan barcode QRIS Bank NTT. “Bank NTT membiayai perbaikan infrastruktur di dalam homestay (tempat tidur, sanitasi toilet sesuai standar wisatawan), kisaran kredit yang diberikan sebesar 5—15 juta rupiah,” urainya.

Sementara, Ketua BumDes Desa Wisata Koja Doi, Juaeni menyampaikan terima kasih kepada Bank NTT yang telah menyediakan dana perbaikan fasilitas homestay termasuk fasilitasnya. “Sementara dilakukan pengembangan dengan tarif per malam sebesar 100 ribu. Kita sudah difasilitasi oleh Bank NTT, maka ke depan, bakal dinaikkan menjadi 200 ribu per malam,” ungkapnya.

Pihak BumDes juga memberdayakan masyarakat lain, termasuk kelompok dasawisma yang mengurus makan minum agar semua menerima manfaat. “Kami berterima kasih kepada Bank NTT karena telah meningkatkan kapasitas homestay, meskipun dikembalikan, selama ini kami kewalahan dengan pendanaan karena penghasilan kami pas-pasan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Koja Doi, Hanawi menyampaikan kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Koja Doi berasal dari domestik dan mancanegara. “Didominasi oleh wisatawan lokal, namun wisatawan dari mancanegara dari Perancis, Italia, Venezuela, dan Inggris yang menginap di rumah warga dan banyak catatan. Oleh karena itu, kami bermitra dengan Bank NTT kemudian menyesuaikan dan mengembangkan pariwisata terkait usaha homestay dan kerajinan masyarakat,” ungkapnya.

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho membeli kerajinan Desa Wisata Koja Doi dan membayarnya menggunakan QRis Bank NTT

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho saat meresmikan Lopo Dia Dia Bisa di Desa Koja Doi menyampaikan Bank NTT merasa terpanggil untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi di sana. “Kita merasa terpanggil menjadi bagian dari penggerak ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan dukungan sumber daya manusia dan sumber daya alam di Koja Doi dapat memberikan kami (Bank NTT, red) kesempatan berada di tengah-tengah masyarakat,” ujar Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho saat meresmikan Lopo Dia Bisa di Pulau Koja Doi yang berada di gugusan pulau Kabupaten Sikka pada Selasa sore, 8 Desember 2020.

Lopo Dia Bisa di Pulau Koja Doi memajang dan menjual aneka kerajinan masyarakat yang dominan berasal dari Suku Buton tersebut, seperti tenun ikat, kerajinan Perahu Pinishi, dan meja kayu unik. “Lopo Dia bisa juga bermanfaat bagi peningkatan ekonomi rumah tangga masyarakat saat wisatawan datang menikmati panorama wisata,” terang Alex Riwu Kaho.

Selain Lopo Dia Bisa, urai Direktur Utama Bank NTT, di Desa Wisata Koja Doi yang berada di Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka; juga tersedia 2 (dua) Agen Dia Bisa Bank NTT (Digital Agen) yakni Sansa Alifa dan Atika Cell untuk membantu masyarakat menikmati layanan perbankan seperti pembelian pulsa telepon, transfer uang. “Untuk transfer, masyarakat dapat melakukan pengiriman uang hanya dengan menyebutkan nomor rekening tujuan dan jumlah ùang yang hendak dikirim, jika berhasl terkirim bakal keluar struk, kemudian menyerahkan uang sejumlah yang ditransfer,” jelas Alex Riwu Kaho.

Saat ini, tandas Alex Riwu Kaho di hadapan Kepala Desa Koja Doi, Hanawi; jika mau bayar pajak bumi dan bangunan (PBB), dan tagihan pajak kendaraan bermotor bisa melalui Lopo Dia Bisa. Selain di Koja Doi, Lopo Dia Bisa di Kabupaten Sikka juga terdapat di Sekolah Tinggi Ledelero, Daerah Kewapante, dan Cafe Rindu Lokaria.

Usai meresmikan Lopo Dia Bisa, Direktur Utama Bank NTT juga membeli kerajinan masyarakat Koja Doi berupa tenun ikat, miniatur Kapal Pinishi dan membayarnya menggunakan QRis Bank NTT. Kemudian meninjau home stay berbasis Warga Koja Doi yang memperoleh dukungan Bank NTT, melihat lebih dekat wisata Bukit Batu Purba, dan Jembatan Batu.

Saat peresmian Lopo Dia Bisa Bank NTT di Pulau Koja Doi, selain didampingi oleh Kadiv IT, Kadiv Kredit Mikro, dan Pimpinan Cabang Bank NTT Maumere, Stefanus Tuga; Alex Riwu Kaho juga memboyong para pengusaha muda antara lain Wakil Ketua Kadin NTT, Bobby Lianto; Ketua REI NTT, Bobby Pitoby; dan Direktur Utama Garda Maritim, Yusak Benu yang sebelumnya telah bertemu Bupati Sikka, Robby Idong guna membicarakan kerja sama peningkatan ekonomi.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto utama oleh PLN UIW NTT

Kinerja Bank NTT Semakin Profesional di Tengah Pandemi & Pasca-Badai Seroja

554 Views

Bank Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menjadi kebanggaan masyarakat NTT, menunjukkan kinerja semakin profesional dalam mendorong dan membangun potensi NTT. Sejumlah tokoh berkompeten di bidangnya. Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) NTT, Abraham Paul Liyanto, kepada Timor Express menegaskan kondisi tersebut.

“Kami dari Kadin mengamati, ada sebuah perubahan signifikan di Bank NTT. Baik dalam tata kelola organisasi, ekspansi bisnis dan juga inovasi dalam pelayanan. Ini patut diberi apresiasi,” tegas senator Paul Liyanto  sembari berharap agar Bank NTT menjadi lokomotif pembangunan ekonomi di NTT.

Menurut Paul Liyanto, Bank NTT berpusat di NTT dan dapat secara maksimal mengelola dana masyarakat. “Saya kira dengan sempurnanya direksi yang ada, kinerja mereka sudah cukup baik. Cukup bangkit. Dengan inovasi yang mereka lakukan saat ini, sangatlah tepat. Bagi saya, ini lokomotif yang sangat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT karena tanpa dorongan, saya rasa dunia usaha pun akan susah untuk bangkit,” terangnya.

Bank NTT, imbuh Ketua Kadin Provinsi NTT, memiliki team work hebat, inovatif dan cekatan dalam mendesain strategi Perbankan. “Bagi saya, ini karena kemampuan leadership membangun team work yang baik dan solid. Para direksi yang ada bekerjasama dengan para komisaris, semuanya mendukung,” ungkap Paul.

Ia melihat karakter Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho tipikal seorang pekerja keras, optimis, dan mampu membangun team work guna membawa Bank NTT menjadi Bank Devisa. “Itulah yang bagi saya, bagaimana me-manage lembaga finance yang besar, tidak bisa kita one man show. Mau pintar seperti apa, kalau mau kerja sendiri tanpa team work, saya rasa agak sulit,” ulas Paul Liyanto.

Karena itu jika mau jujur, imbuh Paul Liyanto, saya melihat ada perubahan yang sangat menyolok soal ukuran kinerja direksi. “Ini kalau kita mau evaluasi. Bagi saya evaluasinya soal inovasi, sejauh mana mereka melakukan penetrasi dan kemudian disambut publik. Salah satu, yang saya kagumi adalah kita melihat ada banyak dana CSR yang dipakai untuk menghadirkan kegiatan inovatif,” tegas Paul mencontohkan, Festival Desa Binaan Bank NTT adalah inovasi cerdas Bank NTT.

Juga ada Program Ramai Skali Bank NTT dan beberapa lainnya. “Dulu, dana CSR ini dipakai untuk dibagi-bagi. Namun sekarang, justru lain. Mereka ciptakan even, dan menghadirkan banyak kegiatan melibatkan masyarakat. Dan ini bagus,” tegas Paul.

Apalagi fokus Bank NTT, lanjutnya, ke depan itu soal digitalisasi dan elektronifikasi. Baginya, ini sangat bagus karena ini tidak sekadar tren dalam transaksi sekarang, melainkan sudah menjadi kebutuhan. “Kami melihat, industri finance akan banyak yang kolaps jika tidak memanfaatkan teknologi secara baik,” urainya.

Suasana Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2020

Ada terobosan lain yang bagi Paul, patut diberi jempol yakni keberanian Bank NTT mengumumkan debitur bermasalah. Baginya ini upaya nyata untuk menekan non profit loan (NPL) dan juga bukti bahwa ada tanggungjawab yang dilaksanakan. “Ini professional,” tegasnya singkat.

Kinerja perbankan ini, tandas Paul Liyanto, dinilai oleh OJK, dan jika ada penagihan secara terbuka terhadap debitur nakal, maka ini sebuah keberanian yang harus diapresiasi.  Terobosan berikut, adalah soal inovasi Bank NTT yang intens keliling daerah untuk menawarkan pinjaman daerah kepada Pemda. Malah, banyak Pemda sudah menyatakan kesediaannya mengajukan pinjaman ke Bank NTT.

Penegasan sama disampaikan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Provinsi NTT, Dr. James Adam. Ditemui di Kupang,  ekonom yang terkenal kritis ini menegaskan bahwa Bank NTT adalah bank milik masyarakat NTT yang harus terus dikawal. Menurutnya, harus didukung, karena sejauh ini Bank NTT terkenal kreatif dalam mendesain program untuk pengumpulan dana masyarakat. Ada Gebyar NTT, Kredit Merdeka dan sebagainya bahkan muncul Festival Desa Binaan.

“Dalam kaitan dengan pengumpulan dana masyarakat, sangat kuat. Makanya modal mereka berputar lebih cepat. Harus diakui, kreativitas dan inovasi bank ini sangat banyak dan hebat. Dia (Bank NTT,red) intens mengumpulkan dana masyarakat supaya memperkuat modalnya. Sehingga ini juga akan berimbas pada pertumbuhannya. Walaupun ada kredit macet yang jumlahnya sekian persen, namun di sisi lain, dia masih bisa melakukan ekspansi karena punya inovasi. Dan ini digarap maksimal,”tegas James serius.

Berikutnya, jika mau jujur melihat, ungkap James, Bank NTT sudah banyak berkontribusi dalam memajukan pembangunan di NTT. Seperti kegiatan Festival Desa Binaan Bank NTT yang selain menggairahkan pertumbuhan ekonomi sektor mikro, juga menciptakan satu destinasi baru dalam wisata. Karena ada histori yang didesain secara digital, dan elektronifikasi dalam transaksi. Di sisi lain, Bank NTT juga mampu menyukseskan realisasi penggunaan anggaran untuk pemulihan ekonomi nasional (PEN), dan kinerja ini diakui oleh regulator.

Strategi lain, urai James, untuk pemulihan ekonomi dengan menggerakkan belanja daerah. Karena semua kepala daerah adalah pemegang saham Bank NTT sehingga otomatis, itu sangat baik karena ikut mendorong. Apalagi ada program pemberian kredit untuk pembangunan di daerah dari Bank NTT yang dikemas dalam program pinjaman daerah. “Ini sangat bagus. Karena ini satu cara untuk ‘mengatasi’ yang macet-macet itu. Ada kekuatan secara internal untuk fungsi bank ini jalan. Bagi saya, ini cara tepat yang harus dilakukan oleh bank daerah agar tidak kalah dalam berkompetisi dengan bank nasional,” ujar James.

Penyerahan Donasi Bank NTT Peduli senilai 1,5 Miliar kepada Pemprov NTT yang diterima oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat

Sementara terkait kinerja direksi saat ini, bagi James, itu porsi OJK. Hanya secara kasat mata pihaknya melihat bahwa ada kemajuan signifikan. Bahkan luar biasa gebrakan-gebrakan yang sudah dilakukan direksi. Sehingga mengacu pada kondisi yang ada, dia berharap agar semua pihak mendukung direksi untuk mengeksekusi mimpi-mimpi di depan.

OJK: Wujudkan Modal Inti

Pesan menarik datang dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTT, mengenai dilaksanakannya Rapat Umum Pemegang Saham Tahun Buku 2020 (RUPS-TB 2020)  yang dihelat pada Senin, 26 April 2021 di kantor Gubernur NTT.

Menanggapi agenda RUPS, Kepala OJK Perwakilan NTT Robert Sianipar menyampaikan sejumlah harapan positif yang mendorong  perkembangan dan kemajuan Bank NTT ke depan. “Kami berharap agenda RUPS Bank NTT kali ini bisa  mendorong Bank NTT lebih berkembang di waktu- waktu mendatang terutama bagaimana menuju pemenuhan Modal Inti Minimum (MIM) Rp. 3 triliun,” tegas Sianipar sembari menambahkan kebutuhan mendesak saat ini bagi Bank NTT adalah bagaimana upaya  pemenuhan modal inti Rp. 3 triliun pada tahun 2024 sebagaimana yang diwajibkan dalam POJK.

“Jadi progress ini (pemenuhan modal inti-red)  juga perlu dibicarakan. Kalau ada agenda agenda lain tentu bagaimana mendorong Bank NTT semakin maju. Misalnya selain bagaimana mendorong digitalisasi pelayanan,” terang Kepala OJK Perwakilan NTT.

OJK, tandas Robert Sianipar, juga mendorong bagaimana Perbankan memenuhi tuntutan digitalisasi dan penerapan oleh Bank NTT guna mendorong perkembangan pelayanannya. Kalaupun ada catatan atau arahan dalam RUPS menurutnya, itu harus dipahami sebagai upaya untuk mendorong BPD NTT lebih berkembang. Bagi dia, satu hal yang harus diapresiasi adalah semangat manajemen untuk mewujudkan Tingkat Kesehatan Bank 2 (TKB 2) menuju Bank Divisa di tahun 2023 mendatang.

“Harapan kami agar ini menjadi perhatian tersendiri dalam RUPS. Upaya-upaya menuju ke sana kami sudah pernah sampaikan terutama penerapan tata kelola  dan management resikonya,” pungkasnya. (*)

Sumber  (*/tim timex/boy/ogi)

Editor (+roni banase)

Optimalisasi Layanan Digital Bank di Desa, Bank NTT Helat Festival Desa Binaan

388 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Bank NTT gencar berupaya mendorong potensi unggulan desa (sumber daya alam [SDM] dan sumber daya manusia [SDA]) sehingga dapat melahirkan desa binaan yang memiliki kelompok usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang menjalankan dan mengelola usahanya hingga tumbuh dan berkembang menjadi usaha mandiri dan berprestasi.

Guna melahirkan Desa Binaan yang mengoptimalkan layanan Perbankan berbasis digital dan mendorong penggunaan uang non-tunai di sentra potensi ekonomi masyarakat desa, maka Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) menghelat “Festival Desa Binaan” yang diikuti oleh 47 Desa dari total 3.026 Desa di seluruh NTT (sementara diikuti oleh desa yang memiliki Kantor Cabang Bank NTT, red).

Simak contoh video YouTube Festival Desa Binaan dari Bank NTT Cabang Bajawa di bawah : https://youtu.be/leAsFttKxG4

Festival Desa Binaan Bank NTT juga merupakan implementasi dari misi Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur yakni sebagai  “Pelopor Penggerak Ekonomi Rakyat” dan “Menggali Sumber Potensi Daerah untuk diusahakan secara Produktif bagi Kesejahteraan Masyarakat NTT” dan bertujuan meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat desa yang multiply effect, menciptakan Desa Binaan yang mandiri dan berbasis digital, sentralisasi produk Perbankan baik itu produk Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Kredit, sebagai media promosi dan pemasaran produk Bank NTT, Pilot Project pengembangan Desa Binaan Bank NTT, dan menjadi pusat informasi potensi unggulan di daerah tersebut.

Adapun persyaratan Desa Binaan Bank NTT antara lain memiliki akses jalan ke lokasi terjangkau; memiliki potensi ekonomi yang Multiply Effect pada masyarakat desa; memiliki keragaman usaha; produk yang dijual merupakan produk hasil dan produktivitas masyarakat setempat; transaksi penjualan produk dan jasa berbasis elektronifikasi dengan menggunakan produk-produk Bank NTT (menggunakan QRis); Desa Binaan atau produk yang dihasilkan ter-elektronifikasi memuat cerita atau history desa dan produk-produk yang dipasarkan (dalam bentuk barcode); dan produk yang dijual wajib dikemas dengan branding bank NTT.

Selain itu, Desa Binaan Bank NTT harus memiliki Lopo Dia Bisa yang dijadikan tempat usaha dan juga sebagai media informasi potensi unggulan; memiliki Agen Dia Bisa minimal 50% dari pelaku ekonomi yang ada di desa tersebut; bisnis yang dijalankan tidak melanggar hukum dan norma-norma yang berlaku di Negara Republik Indonesia; produk dihasilkan telah tersertifikasi oleh lembaga yang berwenang; Cabang Bank NTT di lokasi Desa Binaan wajib mengirimkan dokumen ke kantor pusat Divisi Pemasaran Kredit Mikro, Kecil dan Konsumer dalam bentuk profil Desa Binaan, foto dan video (video: cerita singkat terkait aktivitas ekonomi masyarakat setempat); dan setiap cabang wajib mengikutsertakan minimal 1 (satu) Desa.

Bank NTT menyediakan penghargaan berupa tabungan bagi pemenang Festival Desa Binaan yakni juara pertama senilai  Rp.250 juta, juara kedua Rp.150 juta, dan peringkat ketiga Rp.100 juta atau, diberikan bantuan pengembangan dan perbaikan sarana dan prasarana menjadi usaha yang mandiri (dalam bentuk CSR).

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho didampingi Direktur Pemasaran Kredit, Paul Stefen Mesakh, usai melaksanakan rapat dewan juri yang dihadiri oleh Dr. James Adam (Ketua) dan anggota antara lain Handrianus P. Asa (Regulator/Bank Indonesia), Abraham Paul Liyanto (Ketua Kadin Indonesia Provinsi NTT), Joni Lie Rohi Lodo dari Dinas Pariwisata & Ekonomi Kreatif NTT, Dony Prasetyo dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Stanley Boymau dari unsur media; menyampaikan kegiatan Festival Desa Binaan merupakan kegiatan perdana yang dihelat Bank NTT.

“Kami telah melaksanakan rapat dengan dewan juri untuk menyamakan persepsi dan menyempurnakan lagi beberapa parameter, bobot, indikator, dan beberapa sasaran yang ingin kami capai bersama,” ujar Alex Riwu Kaho pada Selasa sore, 20 April 2021 di lantai 5 Kantor Pusat Bank NTT seraya menyampaikan tujuan utama untuk memperkenalkan jasa layanan bank dan setiap desa dapat masuk dalam dunia digital dan berkompetisi secara sehat.

Festival Desa Binaan Bank NTT, imbuh Alex, diselenggarakan pada 1 April hingga 1 Juli 2021. “Puncak pengumuman Festival Desa Binaan Bank NTT disampaikan pada 17 Juli 2021,” ujarnya.

Kepada awak media, Ketua Dewan Juri Festival Desa Binaan Bank NTT, Dr. James Adam menyampaikan, peserta Festival Desa Binaan terdiri dari 23 cabang Bank NTT dengan lokus di 47 desa. “Jadi ada 1 cabang yang mengirim lebih dari satu lokus dan dari 47 lokus itu akan ada beberapa jenis usaha yang akan nilai. Dan dari 23 cabang yang mengirim dokumen, saya identifikasi, 18 cabang tersebut memiliki usaha pariwisata,” urainya.

Melalui Festival Desa Binaan Bank NTT ini, urai Dr. James Adam, memberikan dorongan agar pemulihan ekonomi daerah. “Bank NTT hadir tak hanya mengurus keuangan, namun mengurus perut (komsumsi, red) dan ekonomi masyarakat. Jadi misalnya, di sebuah desa memiliki banyak penenun, maka Bank NTT menjembatani melaui Festival Desa Binaan,” tegasnya sembari mengungkapkan bahwa hanya 5 cabang Bank NTT yang tidak mengirimkan lokus di luar dari pariwisata yakni ada pertanian, peternakan, dan perikanan.

Untuk diketahui, 23 cabang yang mengikutsertakan desa dalam Festival Desa Binaan Bank NTT di antaranya :

  1. Cabang Kota Kupang, lokasi di Lasiana
  2. Maumere, Kawasan Uma Ata
  3. Atambua, Kolam Susuk dan Fulan Fehan
  4. Ende, Kecamatan Detusoko
  5. Waingapu, Kawasan Priemadita
  6. Ruteng, Liang Bua
  7. Cabang Kefamenanu, lokus di Wini, Eban, Tanjung Bastian
  8. Soe, berlokus di kawasan Mutis, Fatumnasi, Fatukopa, dan Oetune
  9. Waikabubak, lokus di Kota Waikabubak, Lapale, Payili Dobba
  10. Lewoleba, di Lamalera
  11. Larantuka, Desa Binaan berlokus di Kota Larantuka, dan Pantai Meko Adonara
  12. Bajawa dengan 3 (tiga) lokus yakni di Kawasan Soa, Manulalu, dan Kampung Adat Bena
  13. Rote Ndao, lokus di Kawasan Mulut Seribu, Kota Ba’a, dan Kawasan Tolanamon
  14. Kabupaten Kupang, Tablololong dan Noelbaki
  15. Sabu Raijua dengan lokus di Kalabba Madja dan Kampung Adat Namata
  16. Labuan Bajo terdapat 3 (tiga) lokus yakni Kawasan Batu Cermin, Waebobok, dan Kawasan Terang
  17. Waitabula memiliki 3 lokus yaitu Kawasan Ratenggaro, Walleo, dan Kawasan Watu Maladong
  18. Mbay, Kawasan 17 Pulau Riung
  19. Kalabahi Alor di Kawasan Moru
  20. Anakalang berlokus di Kampung Adat Laitarung, Matayangu, dan Kondamaloba
  21. Cabang Oelamasi Kabupaten Kupang dengan lokus di Pantai Liman Semau dan Fatuleu
  22. Borong Ruteng di Kawasan Danau Ranamese dan Menara Padang
  23. Cabang Malaka berlokus di Motadikin, Malaka Tengah, dan Desa Fahiluka

Penulis, editor dan foto utama (+roni banase)

Pemda Sabu Raijua & Bank NTT Bantu Warga Korban Badai Seroja

194 Views

Sabu Raijua-NTT, Garda Indonesia | Penjabat Bupati Sabu Raijua, Doris Rihi bersama Ketua DPRD, Kapolres, Danramil, Sekda dan Pimpinan Bank NTT, Sabu Raijua bersama rombongan menyerahkan bantuan Bank NTT berupa Seng sebanyak 1. 500 lembar, paku seng 50 kg kepada warga di 6 (enam) kecamatan terdampak Badai Seroja yakni di Kecamatan Sabu Barat, Sabu Tengah, Sabu Timur, Sabu Liae, Hawu Mehara, dan Raijua.

Kepada Garda Indonesia, Penjabat Bupati Sabu Raijua Doris Rihi mengungkapkan, Pemda Sabu Raijua menyerahkan bantuan beras sebanyak 5,5 ton kepada 487 KK atau 1.984 jiwa di Desa Ledeke, Kecamatan Sabu Liae dan Desa Gurimonearu, Kecamatan Hawu Mehara

“Bantuan beras akan dilanjutkan besok (Selasa, 13 April 2021, red) dan seterusnya untuk membantu warga yang terdampak bencana,” tandas Doris Rihi.

Penjabat Bupati Sabu Raijua, Doris Rihi (tengah berbaju putih) bersama warga Sabu Raijua terdampak Badai Seroja

Sementara itu, Selain bantuan di Sabu Raijua, Bank NTT juga telah menyerahkan bantuan di beberapa kabupaten yakni Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Malaka, Sumba Timur, dan kabupaten terdampak lainnya.

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho kepada Garda Indonesia pada Sabtu malam, 10 April 2021, menyampaikan Bank NTT beserta partisipan berbagi kasih dengan para pengungsi korban Badai Seroja di Kota Kupang. “Kami, Bank NTT bersama partisipan mengelilingi semua posko dan memberikan bantuan kepada warga terdampak termasuk para mahasiswa,” ujarnya.

Alex pun menyampaikan Bank NTT telah mendirikan Dapur Umum di Jalan El Tari Kupang untuk membantu masyarakat Kota Kupang yang terdampak Badai Seroja.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto (*/koleksi pribadi)

Bank NTT Raih ‘Indonesia Enterprise Risk Management Award IV-2021′

387 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Bank NTT sebagai bank kebanggaan milik masyarakat NTT, mendapat pengakuan dari berbagai pihak, tentang kualitas pelayanan, yakni sebagai bank yang terus bertumbuh menjadi bank yang memiliki manajemen sehat. Kerja keras segenap manajemen, yakni Direksi, Komisaris dan seluruh karyawan, membuahkan hasil gemilang.

Pada Jumat, 9 April 2021, Bank NTT menggapai sebuah penghargaan bergengsi. “Indonesia  Enterprise Risk Management Award (IERMA) IV-2021′ adalah penghargaan yang diberikan kepada Bank NTT. Yang tak kalah membanggakan adalah pada Februari lalu, Bank NTT pun mendapatkan penghargaan yang sama, dari Economic Review. Kali ini, Bank NTT meraih award sebagai “The Big 6 Indonesia Enterprise Risk Management — IV-2021 dengan kategori: BPD Company-Buku 2 dengan nilai aset Rp.15 Triliun sampai kurang dari Rp.25 Triliun.

Penghargaan ini diberikan melalui zoominar yang mengusung tema  “Strengtheening Risk Awarenes in the Face Future Busines Disruption” dan diikuti oleh para pejabat perbankan se-Indonesia. Sementara, untuk Bank NTT, diikuti oleh Direktur Utama, Direktur Kepatuhan, Kepala Divisi Manajemen Risiko dan Kepala Divisi Perencanaan & Corporate Secretary, melalui pertemuan secara online.

Kepastian mengenai pemberian penghargaan ini, dipertegas dalam surat resmi yang ditujukan kepada Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho dan ditembuskan ke Direktur Kepatuhan, Hilarius Minggu serta sejumlah pejabat utama; bernomor 017FS/IERMA/KUM/ER/IR!III/2021 bersifat penting dan dengan perihal Surat Undangan penyerahan Penghargaan dan National Zoominar, tanggal 18 Maret 2021 dan ditandatangani oleh RAy. Hj. Irlisa Rachmadiana, SSn, M.M. selaku pemimpin umum dan Dr. Dewi Hanggraeni, S.E., MB. selaku ketua dewan juri.

Adapun dasar dari penganugerahan penghargaan tersebut, adalah penerapan manajemen risiko secara baik, sangat  penting bagi sebuah industri perbankan. Bahkan kondisi akibat pandemi Covid-19 yang sudah setahun melanda NTT, sangat berdampak buruk pada sektor usaha. Sehingga penerapan Enterprise Risk Manajemen (ERM) dalam meningkatkan value added bagi perusahaan, minimal dapat bertahan. Karena dengan melakukan mitigasi risiko yang baik, diharapkan dapat mengurangi potensi kerugian, meningkatkan daya saing yang akhirnya meningkatkan shareholders wealth.

Manajemen risiko merupakan rangkaian  prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha entitas atau perusahaan. Sedangkan tujuan manajemen risiko adalah menjaga agar aktivitas operasional perusahaan tidak menimbulkan kerugian yang melebihi kemampuannya untuk menyerap kerugian atau membahayakan kelangsungan usahanya. Sedangkan tujuan dari pemberian award ini, adalah diberikannya apresiasi tertinggi kepada dunia usaha Indonesia yang memiliki sederet keunggulan dengan menerapkan manajemen risiko dengan baik. Sedangkan visinya adalah ‘Keteladanan Perusahaan’ tersebut menjadi benchmarking bagi dunia usaha lainnya di Indonesia menuju perusahaan kelas dunia.

Misinya, memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan di Indonesia yang sukses menerapkan manajemen risiko dalam kegiatan operasional sehari-hari,” demikian Economic Review dalam suratnya kepada Bank NTT terkait landasan pemberian penghargaan tersebut. Adapun kategori yang dinilai dalam penjurian, yakni manajemen risiko yang meliputi intemal environment and objective (lingkungan internal dan sasaran), risk identification (identifikasi resiko), risk assessment (Penilaian Risiko), Risk Response (Tanggapan Risiko), Kecukupan kualitas dan kuantitas yang membawahi manajemen risiko (sertifikasi latar belakang pendidikan dan pengalaman, dan lain-lain).

Poin kedua yang dinilai yakni audit dan audit internal yang meliputi departemen audit diposisikan yang independen, melakukan perbaikan berdasarkan saran-saran yang diajukan auditor intern, kecukupan kualitas dan kuantitas yang membawahi fungsi audit (sertifikasi, latar belakang pendidikan dan pengalaman) termasuk program peningkatan kemampuan dengan melaksanakan continuing profesional education, serta secara periodik biasanya empat tahun sekali kegiatan departemen ini harus dievaluasi oleh pihak independen.

Poin ketiga yang dievaluasi adalah Hukum dan Reputasi, yakni adanya berita atau informasi negatif mengenai perusahaan dan pimpinan beserta jajarannya, adanya masalah hukum, ligitasi dan bagaimana dampaknya terhadap perusahaan, sudah membuat secara detail SOP dan kebijakan tertulis dalam menghadapi kasus seperti penyuapan, korupsi dan praktik bisnis tidak sehat, dan yang terakhir, perusahaan memberikan pendidikan dan pelatihan bagi senior manajemen, karyawan dan vendor tentang hukum, regulasi, kebijakan dan kode etik yang terkait dengan operasional perusahaan.

Tak hanya itu, melainkan juri pun melakukan dari sisi financial Finance. Validitas hasil penjurian sangat ditentukan oleh dewan juri yang berkualitas. Mereka diantaranya Prof, Roy Sembel, MBA, PhD, CSA (Dewan Pakar Keuangan, Investasi) sebagai penasihat juri, Dr. Dewi Hanggraeni, MBA, CA, CACP (Ketua Umum Perhimpunan Penggiat Tata kelola Risiko dan Kepatuhan Indonesia, Dosen FEB UI, Waketum PPI bidang Ekonomi sebagai ketua dewan juri, dan anggotanya, Alan Yazid, BBus, MBA selaku Wakil Ketua Perhimpunan Tata kelola, Risiko dan Kepatuhan Indonesia.

Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho, memberi apresiasi yang tinggi kepada semua pihak yang sudah berkontribusi secara nyata, sehingga Bank NTT, boleh dinobatkan sebagai bank yang sukses menerapkan manajemen yang mumpuni. Dari sisi mitigasi risiko, menurut Dirut Alex, Bank NTT menyadari bahwa ini prioritas untuk menuju Bank Devisa. Sehingga segenap manajemen, menetapkan sebuah program yakni GO TKB 2 atau menuju ke Tingkat Kesehatan Bank 2 pada tahun 2021.

“Dan untuk memastikan bahwa Bank NTT serius terhadap visinya ini, yakni ‘Melayani Lebih Sungguh’, maka manajemen sudah menyiapkan SOP dan diikuti dengan pengawasan ekstra ketat dalam penerapannya, sehingga saat ini, Bank NTT memperoleh predikat sebagai bank dengan mitigasi risiko terbaik,” tandas Alex Riwu Kaho. (*)

Sumber berita (*/humas Bank NTT)

Editor (+roni banase)

Listrik di Bank NTT Sudah Normal, 15 ATM Siap Layani Masyarakat

258 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja saat kunjungan hari ketiga pada Kamis siang, 8 April 2021, guna memantau layanan Perbankan (pasca-Badai Siklon Tropis Seroja, red) di Kantor Pusat Bank NTT dan disambut oleh Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho beserta jajaran direksi.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, sebanyak 23 Bank di Kota Kupang telah beroperasi secara normal pasca-Badai Siklon Tropis Seroja (Minggu, 4 April 2021 pukul 23.00 WITA hingga Senin, 5 April 2021 pukul 10.00 WITA). “Jadi, hari ini tanggal 8 April, 23 Bank di Kupang telah beroperasi secara normal, walaupun sebagian besar masih menggunakan genset karena belum dapat suplai listrik dari PLN,” ungkapnya seraya meminta Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho untuk menjelaskan perihal kondisi operasional Bank NTT pasca-badai.

Kepada Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Alex menyampaikan bahwa operasional Bank NTT telah berjalan normal sejak Selasa, 6 April 2021. “Setelah kami melakukan langkah Contingency Plan dan hasil monitoring terhadap kantor cabang pembantu, cabang pembantu, dan kantor kas. Memang beberapa unit belum bisa beroperasi normal, contohnya Unit Sabu yang diterjang badai . Namun, kantor cabang lain, seperti Kantor Cabang Pembantu Naikliu yang tetap beroperasi meski terbatas listrik dan bahan bakar,” urainya seraya mengungkapkan kondisi tersebut dilakukan dengan baik oleh Direktur Utama Bank NTT, Yohanes Landu Praing dan tim.

Di Kota Kupang, Dirut Bank NTT memastikan terdapat 15 mesin ATM telah beroperasi. Kelima belas mesin tersebut antara lain Gerai ATM di Kantor Pusat, ATM Disabilitas Kantor Pusat, di Hotel On The Rock, KCU Oebobo, SPBU Oeba, Flobamora Mall, ATM Bandara El Tari, Kas BTN, RS Kartini, KCP Wali Kota, dan Gerai ATM Kuanino.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja saat memantau progress penormalan layanan Perbankan dengan jajaran direksi Bank NTT

Hary pun menyoroti antrean penggunaan layanan mesin ATM pasca bencana. Menurutnya, momen ini jadi waktu yang tepat untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya penggunaan transaksi non tunai seperti mobile banking, juga sebagai salah satu transaksi sehat di tengah pandemi Covid-19.

Sementara itu, Bank NTT pun turut menggelar aksi donasi kemanusiaan atas bencana alam yang terjadi di NTT. Masyarakat dapat berdonasi melalui kanal yang telah disiapkan oleh Bank NTT melalui Kantor Cabang Khusus dengan nomor rekening 1000742078 atas nama BANK NTT PEDULI. Hingga 7 April 2021 , jumlah donasi yang telah terkumpul sebesar Rp.57.668.000,- (Lima puluh tujuh juta enam ratus enam puluh delapan ribu rupiah).

Selain menggalang donasi, Bank NTT juga memberi bantuan berupa 15 ton beras di Kabupaten Kupang, dan 5 ton masing-masing di Ile Ape dan Adonara,air minum, dan tandon air untuk menampung air untuk masyarakat.

Penulis, editor dan foto (+roni banase)

Suku Bunga Dasar Kredit Konsumsi di Bank NTT Turun dari 14% ke 10%

306 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sektor usaha mikro kecil dan menengah menjadi pusat perhatian pemerintah (Bank Indonesia) maupun OJK sebagai lembaga regulator dan pengawas guna menopang perekonomian negara. Di masa pandemik Covid ini kebijakan-kebijakan dari regulator dan pengawas muncul sebagai respons cepat guna memulihkan stabilitas perekonomian negara dan mengembalikan semangat usaha para pelaku usaha.

Sebagai respons kondisi tersebut, maka Bank Indonesia mengambil langkah menurunkan BI Repo Rate sebesar (BI— 7DRRR) 25 bps menjadi 3,50 persen dinilai baik untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dalam dunia usaha.

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho dalam sesi jumpa media pada Selasa malam, 9 Maret 2020 sekira pukul 19.00 WITA—selesai di aula lantai 5 Kantor Pusat Bank NTT menyampaikan bahwa Bank Pembangunan Daerah, dalam hal ini Bank NTT pun sebagai kas daerah dan motor penggerak ekonomi di daerahnya juga berupaya dan menguatkan perekonomian daerah dengan merangsang para pelaku usaha baik dari sektor industri berskala besar, kecil maupun mikro dengan menurunkan suku bunga dasar kredit untuk segala segmen.

“Suku Bunga Dasar Kredit (SDBK) berlaku efektif pun dikeluarkan per Maret 2021 menjadi simultan bagi pelaku usaha maupun masyarakat dalam mendukung usahanya,” terang Alex Riwu Kaho didampingi oleh Direktur Umum Bank NTT, Yohanes Landu Praing; Direktur Kepatutan, Hilarius Minggu; dan Direktur Pemasaran Kredit, Paulus Stefen Messakh.

Dijelaskan Alex Riwu Kaho, berdasarkan hasil rapat ALCO Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur pada Rabu, 9 Maret 2021 menetapkan : Suku Bunga Kredit Konsumsi diturunkan 400 bbs dari bunga 14% menjadi 10%. “Dengan penurunan SBDK ini masyarakat akan terdorong untuk meminjam baik untuk konsumsi maupun untuk kegiatan usaha sehingga daya beli masyarakat menjadi pulih lagi dan sektor-sektor ekonomi dapat pulih dari kelesuan di saat pandemik ini,” terangnya.

Bank NTT berharap, tandas Alex, agar masyarakat NTT tetap aktif dalam geliat perekonomian dan tetap menaruh kepercayaan setelah diluncurkan suku bunga kredit yang baru.

Selain penurunan Suku Bunga Dasar Kredit (SDBK), berdasarkan hasil keputusan rapat ALCO, adapun produk bank yang dapat dimanfaatkan nasabah atau calon nasabah antara lain:

  1. Deposito Bebas, bersifat breakable atau dapat dicairkan sewaktu-waktu dengan bunga kompetitif;
  2. Kredit dengan sumber pembiayaan dari Dana Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB—UMKM) dengan besaran bunga kredit masing-masing sebesar 12% untuk kredit mikro perseorangan, mikro kelompok, multi usaha RC, dan kredit kecil;
  3. Suku bunga pinjaman untuk Pemerintah Kabupaten Ende sebesar 7,50%;
  4. Suku bunga pinjaman konsumsi turun menjadi 10% berlaku khusus untuk ekspansi debitur baru dan existing yang baki debet kurang dari 50% serta debitur existing yang jangka waktu kreditnya sudah berjalan separuh jangka waktu (50% jangka waktu pinjaman);
  5. Biaya Buku Cek/Bilyet Giro (baru/hilang/rusak) tidak dikenakan kepada rekening Pemerintah, sedangkan bagi badan hukum dan swasta dikenakan sebesar Rp.50.000,-
  6. Biaya cetak rekening koran non-tarif untuk Pemerintah dan Agen Bank NTT, sementara untuk badan hukum dan swasta per lembar Rp.3.000,-
  7. Biaya Materai Rekening Koran dengan saldo akhir di bawah Rp.5 juta tidak dikenakan, namun dikenakan biaya materai Rp.10.000,- bagi Agen Bank NTT, badan hukum dan swasta dengan saldo akhir di atas Rp.5 juta (tak diberlakukan bagi Pemerintah).

Semua keputusan hasil rapat ALCO mulai efektif pada tanggal 17 Maret 2021.

Penulis, editor dan foto utama (+roni banase)