Pertamina Kembangkan Bahan Bakar Pesawat dari Minyak Jelantah

Loading

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menegaskan dukungan Pemerintah terhadap langkah ini sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo.

 

Jakarta | PT Pertamina (Persero) sementara mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan berupa Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak jelantah atau minyak goreng bekas yang diproduksi di Kilang Cilacap dengan kapasitas 8.700 barel per hari.

Selain dipakai untuk penerbangan maskapai Pelita Air, Pertamina juga menargetkan ekspor ke pasar internasional dengan mempertimbangkan harga yang kompetitif di kawasan Asia Tenggara.

Kilang Cilacap dipilih karena berdekatan dengan bandara internasional seperti Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai, sehingga memudahkan distribusi bahan bakar penerbangan berstandar global ini.

Upaya ini menjadi bagian dari transisi energi nasional sekaligus langkah strategis Pertamina dalam memperluas produksi SAF di kilang lain, termasuk Dumai dan Balongan.

Penerbangan komersial perdana Jakarta–Denpasar menggunakan PertaminaSAF telah dilakukan, menandai tonggak penting bagi industri penerbangan Indonesia dalam mendukung keberlanjutan energi.

Berbekal inovasi ini, Pertamina menempatkan Indonesia sebagai pelopor di ASEAN dalam mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan.

Sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menegaskan dukungan Pemerintah terhadap langkah ini sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo.

“Ini adalah program Pak Presiden, Asta Cita harus terus kita laksanakan. Ketahanan energi, dan untuk yang ini tidak hanya ketahanan energinya, tapi juga swasembadanya. Jadi kemandiriannya juga semakin kuat,” ujar Dadan di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat, 22 Agustus 2025.

Pertamina menyatakan SAF berbahan baku UCO ini mampu memangkas emisi karbon hingga 84 persen dibandingkan avtur fosil. Hal ini menjadi salah satu daya tarik utama dari inovasi yang dikembangkan di Kilang RU IV Cilacap, karena menawarkan peluang konkret bagi industri penerbangan untuk menurunkan jejak karbonnya tanpa mengorbankan standar keselamatan dan performa.

Secara teknis, bioavtur yang diproduksi di RU IV Cilacap telah memenuhi standar kualitas nasional melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 70 Tahun 2025, serta standar internasional ASTM D1655 dan Defstan 91-091, syarat penting agar bahan bakar tersebut dapat dipakai aman pada pesawat terbang.

Guna memastikan pasokan bahan baku yang stabil, Pertamina merangkul masyarakat lewat program pengumpulan minyak jelantah. Saat ini 35 titik pengumpulan telah didirikan di lokasi-lokasi strategis, memberi kemudahan bagi warga mengelola limbah rumah tangga sekaligus menerima saldo rupiah sebagai insentif.(*)

Sumber (*/Goodnews+ CNBC)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *