Arsip Kategori: Wisata dan Budaya

Prosesi Adat ‘Neka Tana’ Sokong PLN Melistriki Desa Reka di Ende

72 Views

Ende-NTT, Garda Indonesia | Beragam adat istiadat terdapat di setiap kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satunya adalah Desa Reka yang terletak di Kecamatan Ndona Kabupaten Ende. Adat istiadat tersebut digunakan dalam melaksanakan pekerjaan pembangunan jaringan listrik pedesaan.

Di Desa Reka, sebelum pembangunan jaringan listrik harus diawali dengan acara adat yang oleh masyarakat sekitar disebut “Neka Tana” atau dapat diartikan sebagai upacara meminta restu dari leluhur sehingga pekerjaan bisa berjalan aman dan lancar.

Dengan perjalanan sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Ende, medan yang harus ditempuh untuk sampai ke Desa Reka terbilang cukup menantang. Berangkat dari Kota Ende sekitar pukul 08.00 WITA, teman-teman PLN UP2K Flores harus melalui medan yang cukup sulit untuk sampai ke Desa Reka. Setelah sekitar 2 jam perjalanan akhirnya teman-teman PLN UP2K Flores tiba di lokasi.

Setelah tiba di lokasi, teman-teman UP2K (Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan) Flores langsung disambut oleh Mosalaki (Ketua Adat dalam kebudayaan orang Ende) dan mengucapkan terima kasih kepada teman-teman PLN UP2K Flores karena sudah meluangkan waktu untuk hadir bersama mereka dan membawa terang bagi mereka.

Setelah mendapat sambutan yang begitu hangat dari masyarakat desa, acara “Neka Tana” dilaksanakan. Upacara diawali dengan Mosalaki setempat meminta restu kepada leluhur dengan menggunakan bahasa adat, kemudian dilanjutkan dengan penyembelihan hewan di titik yang akan ditanam tiang pada akhir Mei 2020.

Warga Desa Reka bahu-membahu dan membantu PLN UP2K Flores Melistriki desa mereka

Kepala Desa Reka, Nobertus Kondrat Yosef Lana mengatakan Ia dan warga sangat gembira dengan hadirnya listrik di desa mereka.“ Kami sangat senang karena desa kami akan segera menikmati listrik. Kami siap mendukung seluruh rangkaian pekerjaan pembangunan jaringan listrik, salah satunya merelakan pohon dipotong agar tiang listrik dapat didirikan,” ungkapnya.

Secara terpisah, Manager UP2K Flores, Simi Eduard Lapebesi mengatakan warga desa sangat antusias membantu pekerjaan. “Warga desa sangat antusias karena mereka akan segera menikmati listrik. Kerinduan mereka akan hadirnya listrik kini telah terjawab” ungkapnya seraya menyampaikan bahwa Progres Pekerjaan listrik desa ini membutuhkan JTM (Jaringan Tegangan Menengah) sepanjang 2.91 kms (kilo meter sirkuit), JTR (Jaringan Tegangan Rendah) sepanjang 0.86 kms dan 1 Gardu dengan daya sebesar 50kVa.

Simi optimis pekerjaan akan selesai dan menjadi kado Hari Kemerdekaan untuk masyarakat. “Kami targetkan pekerjaan di Desa Reka selesai pada bulan Agustus 2020 sehingga pada Hari Kemerdekaan nanti warga Desa Reka juga merdeka dari kegelapan” tandasnya.

Semoga warga Desa Reka yang sudah 74 tahun merindukan listrik dan juga dengan desa-desa lain yang belum menikmati listrik agar segera merdeka dari kegelapan.(*)

Sumber berita dan foto (Humas PLN UIW NTT)
Editor (+rony banase)

Folemako—Tradisi Makan Adat dari Kabupaten Timor Tengah Utara

464 Views

Naiola-T.T.U, Garda Indonesia | Begitu banyak tradisi makan adat [budaya tradisional] yang menjadi budaya daerah di 22 kab./kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); salah satunya adalah tradisi makan bersama secara adat di Kabupaten Timor Tengah Utara (T.T.U).

Folemako (dibaca Fole’ Mako’) merupakan tradisi turun temurun masyarakat adat dari semua suku yang berada di bawah tiga wilayah kerajaan/swapraja yaitu swaraja Miomaffo, Insana dan Biboki yang terbagi atas 18 kefetoran dan 176 temungkung, yakni Swapraja Miomaffo (Kepala Swapraja : G. A. Kono) memiliki 8 kefetoran masing-masing kefetoran Tunbaba, Manamas, Bikomi, Noemuti, Nilulat, Noeltoko, Naktimun dan Aplal. Sedangkan Swapraja Insana (Kepala Swapraja : L. A. N. Taolin) memiliki 5 kefetoran masing-masing kefetoran Oelolok, Ainan, Maubesi, Subun dan Fafinesu; dan Swapraja Biboki (Kepala Swapraja L. T. Manlea) memiliki 5 kefetoran masing-masing kefetoran Ustetu, Oetasi, Bukifan, Taitoh dan Harneno [kutipan https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Timor_Tengah_Utara ].

Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes (mengancungi jempol) dalam Tradisi Folemako di Desa Naiola pada Sabtu, 20 Juni 2020

Tradisi Folemako tetap dipelihara oleh masyarakat adat sejak awal pembentukan Kabupaten T.T.U yang diresmikan pada 9 Agustus 1958 berdasarkan Undang-undang No. 69/1958; hingga saat ini tradisi unik ini tetap dihelat dalam rangkaian upacara adat masyarakat Timor seperti dalam gelaran upacara Ume Tobe (peresmian [Rumah Adat Utama Funan] dan Lopo Tobe [Lopo Adat Utama Funan] di Desa Naiola), Kecamatan Bikomi Selatan pada Sabtu, 20 Juni 2020.

Rumah Adat Tobe Funan di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (T.T.U)

Pemangku Adat [Tobe’] Funan-Oetpah sebagai suku utama merupakan bagian dari Kefetoran Bikomi dan memiliki 10 suku pendamping [Nifuhala’] yaitu Kobi, Oetkuni, Kosat, Arit, Taeko, Sopbanae, Romer Kosat, Kefi, Kollo; menghelat Folemako sebagai rangkaian dari Upacara Adat Kasu Siki.

Pantauan Garda Indonesia, usai dilaksanakan Kasu Siki, dilanjutkan dengan Tradisi Folemako yakni mengonsumsi dan menghabiskan makanan adat [sepiring nasi putih porsi besar dan sepiring daging yang sudah diolah hanya dengan garam] dalam porsi besar sebagai ketentuan khusus bagi tamu undangan yang sudah “Naik Hala” atau sudah duduk di depan meja kayu berukuran panjang [1 meja Hala dapat menampung 50 orang] tempat makanan adat disajikan dan/atau jika makanan yang disediakan tidak sanggup dihabiskan, wajib hukumnya dibawa pulang untuk dihabiskan lagi di rumah dengan keluarga atau teman yang diundang.

Para tamu undangan sudah “Naik Hala” dalam Tradisi Folemako di Desa Naiola

Yang menarik dari Tradisi Folemako, para tamu undangan yang sudah Naik Hala akan disesuaikan dengan makanan adat yang tersedia. Jika masih ada makanan adat yang belum ditempati, maka akan diberikan tanda berupa pemasangan sendok dengan cara ditusuk terbalik dari gagang, sehingga yang muncul hanya kepala sendok.

Sendok makan ditancapkan ke dalam nasi dalam Tradisi Folemako sebagai tanda bahwa belum disantap dan/atau tak boleh disantap [bakal disantap oleh para undangan di sesi berikut]
Satu hal menarik, sebelum menyantap makanan adat bakal dilakukan Natoni [tutur adat Timor]; sesudah menyantap, tamu undangan tak diperkenankan bangun dari tempat duduk meski sudah selesai makan ataupun tak menghabiskan makanan adat yang telah tersaji [Jika bangun dari tempat duduk, bakal didenda adat]. Para tamu undangan bakal bangun serempak usai dilakukan Natoni.

Sebagian besar tamu undangan tidak sanggup menghabiskan makanan adat yang tersaji, hanya Raymundus Sau Fernandes selaku Bupati T.T.U yang diundang sebagai Tobe Fios dari Kefetoran Noemuti. Beberapa tamu undangan, bahkan menggeleng kepala menyatakan tidak sanggup menghabiskan makanan adat dalam Tradisi Folemako.

Hal menarik lainnya, bahan makanan adat berupa beras dan hewan yang dijadikan daging diperoleh dengan cara dikumpulkan secara adat [masing-masing Nifuhala’ diberikan tanggung jawab] yang didasarkan atas kesepakatan bersama. Dalam Tradisi Folemako yang dihelat di Desa Naiola, menghabiskan 800 kg [dari 1 ton beras yang terkumpul] dan disembelih 13 ekor babi dan 2 ekor sapi.

Penulis, editor, foto dan video (+rony banase)

Hingga Tahun 2020, Tercatat 72 Bahasa Daerah di Provinsi NTT

199 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kantor Bahasa Nusa Tenggara Timur adalah Unit Pelaksana Teknis di bawah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menjalankan tugas dan fungsi pelindungan, pengembangan, dan pembinaan bahasa.

Dalam fungsinya untuk pengembangan, pembinaan, pelindungan terhadap bahasa dan sastra yakni bahasa daerah, Kantor Bahasa Provinsi NTT terus pembaharuan terhadap khazanah bahasa daerah yang masih terpelihara dan digunakan sebagai komunikasi di berbagai daerah di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd., M.Hum. kepada Garda Indonesia, pada Kamis siang, 28 Mei 2020, mengatakan bahwa terdapat perubahan dan penambahan jumlah bahasa daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Kondisi saat ini, tercatat 72 bahasa daerah di Provinsi NTT,” ungkap Valentina seraya menyampaikan sebelumnya pada tahun 2019 tercatat 68 bahasa daerah.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd., M.Hum.

Proses pemutakhiran data jumlah bahasa daerah di Provinsi NTT, ujar Valentina, dilakukan berdasarkan pemetaan terhadap beberapa kabupaten dalam satu tahun. “Untuk tahun 2020, Kantor Bahasa NTT melakukan pemetaan di tiga kabupaten yakni di Ende, Sikka, dan Kabupaten Ngada,” urainya.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2019/02/05/68-bahasa-daerah-di-ntt-ayo-pelihara-lestarikan/

Senada, Peneliti Kebahasaan Kantor Bahasa Provinsi NTT, Salimulloh Tegar Sanubarianto menyampaikan bahwa tercatat penambahan empat bahasa yang telah teridentifikasi yakni bahasa Kodi di Sumba Barat Daya, bahasa Kafoa di Alor, bahasa Lona di Alor, dan bahasa Sar di Alor.

“Sementara, bahasa Loli di Sumba Barat merupakan bahasa daerah yang biasa digunakan di sana (sebelumnya, tercatat bahasa Sumba Barat),” ungkap Salim sapaan akrabnya.

Keempat bahasa tersebut, tandas Salim, bukanlah bahasa yang baru muncul, namun merupakan bahasa yang baru berhasil dipetakan oleh Badan Bahasa dan dimasukkan dalam Peta Bahasa di Indonesia.

Adapun 72 bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur dengan perincian sebagai berikut:

  1. Bahasa Abui;
  2. Bahasa Adang;
  3. Bahasa Alor;
  4. Bahasa Anakalang;
  5. Bahasa Bajo;
  6. Bahasa Bajo Delang;
  7. Bahasa Batu;
  8. Bahasa Blagar;
  9. Bahasa Buna (Bunak);
  10. Bahasa Dawan;
  11. Bahasa Deing;
  12. Bahasa Dulolong;
  13. Bahasa Gaura;
  14. Bahasa Hamap;
  15. Bahasa Helong;
  16. Bahasa Hewa;
  17. Bahasa Kabola;
  18. Bahasa Kaera;
  19. Bahasa Kafoa di Alor;
  20. Bahasa Kalela (Kawela);
  21. Bahasa Kamang;
  22. Bahasa Kambera;
  23. Bahasa Kambera Pandawai;
  24. Bahasa Kedang;
  25. Bahasa Kemak;
  26. Bahasa Kiraman;
  27. Bahasa Klamu;
  28. Bahasa Klon;
  29. Bahasa Kodi di Sumba Barat;
  30. Bahasa Kolama;
  31. Bahasa Komodo;
  32. Bahasa Kui;
  33. Bahasa Kulatera;
  34. Bahasa Lababa;
  35. Bahasa Lamaholot;
  36. Bahasa Lamatuka;
  37. Bahasa Lamboya;
  38. Bahasa Lewuka;
  39. Bahasa Lio;
  40. Bahasa Lona di Alor;
  41. Bahasa Loli di Sumba Barat;
  42. Bahasa Lura;
  43. Bahasa Mambora;
  44. Bahasa Manggarai;
  45. Bahasa Manulea;
  46. Bahasa Melayu;
  47. Bahasa Nage;
  48. Bahasa Namut;
  49. Bahasa Ndao;
  50. Bahasa Ndora;
  51. Bahasa Nedebeng;
  52. Bahasa Ngada;
  53. Bahasa Omesuri;
  54. Bahasa Palu’e;
  55. Bahasa Pura;
  56. Bahasa Raijua;
  57. Bahasa Retta;
  58. Bahasa Riung;
  59. Bahasa Rongga;
  60. Bahasa Rote;
  61. Bahasa Sabu;
  62. Bahasa Sar di Alor;
  63. Bahasa Sawila;
  64. Bahasa Sikka;
  65. Bahasa So’a;
  66. Bahasa Tabundung;
  67. Bahasa Teiwa;
  68. Bahasa Tetun;
  69. Bahasa Tewa;
  70. Bahasa Wanukaka (Wanokaka);
  71. Bahasa Wersing (Wirasina);
  72. Bahasa Wewewa (Wejewa).

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto utama oleh imujio.com

Festival Seni & Budaya TTS di Jakarta, Bupati Tahun Apresiasi Penyelenggara

176 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Lopo Billionaire Project menggelar Festival Seni & Budaya Timor Tengah Selatan (TTS), giat tersebut dihadiri oleh seluruh masyarakat TTS yang berada di Jabodetabek, Jawa Barat dan Banten; Bupati TTS, Egusem Piether Tahun, M.T., M.M. turut hadir dan mendukung kegiatan tersebut pada Minggu, 12 Januari 2020.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/01/10/masyarakat-timor-di-jakarta-siap-helat-festival-budaya-tts/

Festival Seni dan Budaya TTS di Jakarta berlangsung sejak pukul 09.00 WIB—Selesai, bertempat di anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Ketua umum penyelenggara Festival Seni Budaya TTS, Kolenel Simon Kamlasi dan Bupati TTS, Egusem Pieter Tahun menyambut para tamu dan undangan lainnya.

Kehadiran pengunjung dalam gelaran seni & Budaya TTS diapresiasi dengan penyambutan berciri khas Timor yakni Natoni (tutur adat) dan Tari Ma’ekat. Sebagaimana diketahui Tari Ma’ekat adalah tarian perang yang sering ditampilkan warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) untuk menyambut para tamu dengan kostum tradisional.

Foto bersama Bupati TTS dan peserta Festival Seni dan Budaya TTS di Jakarta

Ketua Umum Penyelenggara Festival Seni Budaya, Kolonel Simon Kamlasi menuturkan bahwa kegiatan yang terselenggara ini menampilkan ragam kebudayaan TTS, seperti proses pembuatan tenun ikat secara tradisional yang dikerjakan oleh putra-putri Timor Tengah Selatan yang berada di Jakarta.

“Selain itu kegiatan tersebut juga menampilkan beberapa tradisi yang biasa dilakukan dalam tradisi adat sehari-hari, seperti memakan pinang, tradisi tumbuk pinang, tumbuk jagung, menenun kain selendang dan masih banyak tradisi TTS yang lain,” ujarnya.

Kegiatan ini dilakukan sejalan dengan Program Pemerintah Provinsi NTT dan Kabupaten TTS yang terus berupaya untuk memikat wisatawan asing dan nusantara agar dapat mengetahui keindahan alam dan budaya NTT khususnya Kabupaten TTS.

Simon berharap semoga tarian-tarian tradisional TTS seperti tari perang dan tari masal ini dapat di pertontonkan dan terekspos, sehingga dapat dikenal oleh seluruh masyarakat nusantara Indonesia juga kepada manca negara sehingga bisa menarik minat wisatawan untuk datang ke TTS.

Sementara itu, Bupati TTS, Egusem Piether Tahun, M.T., M.M. menyampaikan TTS sangat kaya akan budaya dan banyak aneka ragam destinasi wisata yang menarik namun tidak dikenal oleh bangsanya sendiri apalagi dunia luar.

“Destinasi wisata di TTS sebenarnya cukup banyak, namun belum banyak dikenal oleh masyarakat luas dan dunia luar. Dengan kegiatan ini kami atas nama Pemerintah Daerah dan Masyarakat Timor Tengah Selatan (TTS) sangat mendukung dan menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia penyelenggara khususnya Kolonel Simon yang sudah memprakarsai acara Festival Budaya TTS sehingga terselenggara dengan baik,” ucapnya.

Bupati Timor Tengah Selatan ini juga mengungkapkan kegiatan seperti ini merupakan pertama kali dilakukan, ia berharap kiranya tahun depan akan dilakukan yang lebih besar lagi. “Dan tentunya agar dapat dilaksanakan secara berkesinambungan dan kami akan berkolaborasi dengan Masyarakat TTS yang ada di Jakarta,“pungkasnya (*)

Sumber berita (*/@yfi–Tim IMO Indonesia) Editor (+rony banase)

Masyarakat Timor di Jakarta Siap Helat Festival Budaya TTS

347 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Memasuki era digitalisasi 4.0 serta globalisasi, masyarakat dunia dihadapkan pada satu tantangan besar, yaitu perubahan yang sangat cepat, masif dan luar biasa yang tidak terhindarkan oleh siapa pun. Segala sesuatu mengalami perubahan yang begitu hebat, termasuk budaya dan kebiasaan-kebiasaan hidup manusia.

Hal tersebut dituturkan oleh Kolonel TNI Simon kepada media yang tergabung dalam IMO-Indonesia, pada Jumat, 10 Januari 2020 sore.

Simon juga mengatakan, salah satu bagian yang sepertinya akan tereliminasi akibat arus gerakan perubahan global adalah budaya lokal dan kearifan lokal masyarakat adat.

“Akan semakin banyak masyarakat lokal yang mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan hidup (kearifan lokal-red) masyarakat yang merupakan warisan leluhur selama ratusan tahun atau mungkin saja lebih,” ujar Simon.

“Hal tersebut berdampak kepada kemunduran atau bahkan hilangnya peminat dan pengguna bahkan pelaku pengembang produk budaya lokal pun mulai dirasakan, uniknya hal ini tidak hanya terjadi di masyarakat urban, di desa pun sudah banyak masyarakat yang mulai meninggalkan penggunaan produk budayanya apalagi kegiatan pelestarian budayanya,” imbuhnya.

Lanjut Simon, “Apabila dibiarkan Hal ini akan terus berlanjut dan ancamannya adalah mungkin saja produk budaya lokal warisan para leluhur akan hilang,” terangnya.

Peragaan Busana Adat Timor Tengah Selatan (TTS)

Maka dalam rangka mengantisipasi fenomena tersebut, jelas Simon, “Kami sebagai masyarakat diaspora asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang saat ini bermukim di wilayah Jakarta dan sekitarnya mencoba untuk memulai melakukan gerakan pengembalian budaya lokal agar mendapatkan ruang di hati masyarakat”.

Lebih lanjut Simon memaparkan, hal tersebut merupakan hasil diskusi antara para sesepuh, senior dan kalangan milenial TTS Jakarta, yang kemudian memunculkan konsep bersama agar gagasan ini dapat direalisasikan melalui kegiatan festival budaya bertajuk Festival Budaya TTS yang akan diadakan pada Minggu 12 Januari 2020 pukul 09.00 WIB—selesai bertempat di Anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Kegiatan festival tersebut merupakan manifestasi dari ide, gagasan dan konsep seluruh masyarakat diaspora di Jakarta yang rindu pada kampung halaman dan rindu pada eksistensi budaya masyarakat Dawan-TTS.

Saat ditanya maksud dan tujuan kegiatan dari fersival budaya TTS tersebut Kepada Kolonel TNI Simon, bahwa semangat dari kegiatan festival ini adalah menghadirkan budaya lokal di era global dan memperkenalkan budaya lokal TTS kepada masyarakat luas di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Serta menghadirkan spirit kecintaan pelestarian budaya pada masyarakat diaspora asal kabupaten TTS di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Festival TTS ini juga sekaligus sebagai ajang untuk memperkenalkan kembali produk-produk budaya asli TTS yang mulai terlupakan dengan membangun komitmen bersama masyarakat diaspora dalam melestarikan budaya lokal TTS.

“Jenis kegiatan yang akan disuguhkan dalam acara tersebut meliputi penayangan Video Tron Promosi wisata dan budaya TTS, penampilan aneka tarian (bonet, maekat, dansa), pameran pembuatan tenun TTS, pameran kuliner khas TTS, peragaan pakaian adat TTS, rosesi peminangan, pembuatan jagung bose, serta Tradisi Oko Mama dan seterusnya,“pungkas Simon.(*)

Sumber berita (*/@yfi–Tim IMO Indonesia) Editor (+rony banase)

Jadikan ‘Sedang’ Sebagai Daya Tarik Wisata, Lomba Bapang Barong Dihelat Lagi

84 Views

Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Lomba Bapang Barong Ket dan Barong Buntut serta Makendang Tunggal dalam ajang Sedang Barong Festival II berlangsung sangat meriah. Lomba yang dihelat Paguyuban Kandapat dibuka oleh Kepala Bidang (Kabid) Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Dinas kebudayaan Provinsi Bali, Ni Wayan Sulastriani pada Jumat, 27 Desember 2019.

Dalam lomba tersebut, tampak seniman cilik setingkat SD dan SMP lihai memainkan kendang dan piawai menari barong. Para seniman cilik dan remaja itu tampil kreatif dengan penuh kreasi, sehingga memukau pengunjung dari berbagai daerah di Bali.

Lomba seni itu dibagi menjadi tiga kategori yaitu tingkat SD diikuti 14 peserta, tingkat SMP diikuti 30 peserta dan tingkat umum diikuti 30 peserta. Lomba berlangsung selama tiga hari sejak 27—31 Desember 2019. “Festival ini memiliki visi sesuai dengan Paguyuban Kandapat yakni ikut mengajegkan dan melestarikan seni dan budaya agama Hindu Bali,” kata Putu Gede Hendrawan Ketua Panitia yang juga pendiri Paguyuban Kandapat.

Ketua Panitia yang juga pendiri Paguyuban Kandapat, Putu Gede Hendrawan

Realisasinya, jelas Gede Hendrawan melalui kegiatan festival ini untuk memberikan kesempatan kepada adik-adik, semeton yang sedang berlatih dan menekuni seni, menari barong dan makendang. Hal ini juga untuk memberikan kesempatan para generasi muda dalam menekuni kesenian Bali. “Sedang Barong Festival untuk kedua kalinya ini merupakan inspirasi dari Paguyuban untuk ikut membangkitkan seni budaya Bali,” tegasnya.

“Sangat-sangat tinggi (animo masyarakat). Peserta membludak, dan kita melakukan penolakan. Karena sudah melampaui target. Jadi kita bisa tarik kesimpulan bahwa animo generasi muda terutama anak-anak sangat tinggi terhadap seni dan budaya Bali,” ungkapnya

Salah satu pengurus Bali Villa Association (BVA) Badung mengatakan, dari total seluruh peserta untuk festival tahun ini ada 74 pasang. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya diikuti 57 peserta. “Anak-anak setingkat SD, SMP dan umum yang digelar se-Bali ini begitu bersemangat tampil dalam festival ini,” imbuhnya.

Gede Hendrawan mengatakan, kegiatan ini juga sebagai media untuk meningkatkan semangat seniman Desa Sedang dalam berkesenian. Desa Sedang memiliki banyak seniman baik seni tari, tabuh dan patung. Bahkan ikon Desa Sedang adalah seni patung. “Desa Sedang merupakan gudang seniman, maka kita angkat kegiatan seni ini untuk menjadikan Sedang sebagai daya tarik wisata. “Golnya, ke depannya astungkara, bisa meningkatkan lagi kegiatan seni budaya sehingga bisa untuk menarik kunjungan wisatawan lebih banyak ke Desa Sedang,” harapnya.

Menurutnya, semangat warga Desa Sedang juga cukup tinggi. Demikian pula sambutan hangat para pengurus desa, sehingga ajang seperti ini bisa dikembangkan di stage. Dengan demikian bisa menampung wisatawan lebih banyak. “Kegiatan ini murni swadaya anggota paguyuban. Kami berharap dukungan pemerintah kabupaten dan provinsi selalu ada, dan semoga ke depan lebih diperhatikan, karena pariwisata Bali itu cikal bakalanya adalah seni dan budaya,” harap pria kalem ini. (*)

Sumber berita (*/Rudianto—Tim IMO Indonesia)
Editor (+rony banase)

Anak Bali Gembira, Cinta Seni dan Budaya

290 Views

Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Selama 2 (dua) minggu berada di Pulau Bali, ada hal menarik dan mengusik saya menelusuri kecintaan masyarakat Bali terutama anak-anak terhadap seni dan budaya Bali.

Saat berada di Banjar Kolepekan, Desa Tumbakbayuh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali pada Rabu, 16 Oktober 2019 sekitar pukul 18.30 WITA saat prosesi odalan sedang berlangsung; saya melihat sebuah pemandangan menarik ketika sedang melakukan pemotretan terhadap para anak-anak Bali yang sedang berlatih Gamelan Bali.

Anak Bali yang berusia sekitar 6—9 tahun tersebut sedang menabuh gendang dan memainkan Gamelan Bali. Mereka tampak menikmati latihan kecil tersebut sambil ditemani orang tua mereka yang sedang menanti upacara odalan. Dengan saling memberikan dukungan terhadap satu sama lain, anak-anak Bali di Banjar Kolepekan tersebut larut dalam ritme alunan Gamelan Bali.

Sebelumnya, sekitar pukul 17.30 WITA, tak jauh dari Banjar Kolepekan, lebih tepatnya di Sanggah dekat Jembatan Kecil berlangsung odalan yang diikuti oleh masyarakat sekitar yang datang secara bergantian untuk bersembahyang memuja Sang Hyang Widhi.

Mereka berdatangan dengan pakaian adat Bali dan membawa serta anak-anak yang turut larut dalam odalan tersebut. Tampak seorang anak perempuan berusia sekitar 9 tahun kyusuk dalam doanya disamping ibu dan bapaknya.

Berselang beberapa menit, datang seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 7 (tujuh) tahun bersama ayahnya yang juga turut larut dalam sakralnya odalan yang dipimpin oleh pandita.

Anak-anak tersebut terlihat gembira dan larut dalam kekusyukan ritual odalan sambil mengamati sekeliling mereka dan berinteraksi dengan teman-teman sebaya.

Lebih menarik, saat datang seorang ibu dan anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun berpakaian adat Bali lengkap dengan sesajen. Sambil memegang tangan ibunya, anak laki-laki tersebut mengikuti setiap gerak gerik ibunya dari awal hingga berakhirnya prosesi odalan.

Wajah bahagia terpancar dari raut wajah imutnya yang menarik perhatian saya untuk memotret perilakunya. Aura bahagia yang terpancar darinya meresap ke relung kalbuku.

Anak Bali di Desa Kolepekan hanya baru secuil gambaran kebahagiaan anak-anak. Masih banyak anak-anak serupa yang sangat bahagia saat bersama orang tua mereka bersama mengikuti ritual seni dan budaya Bali.

Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Prof.Dr.I Gede Arya Sugiartha, S.Skar., M.Hum. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Seni Budaya dalam sesi Konferensi Pers Festival Bali Jani 2019 di Aula Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali pada Selasa, 22 Oktober 2019 mengatakan bahwa seni tradisi dan budaya Bali sudah dibangun sejak anak-anak.

“Dampaknya bagi anak muda Bali, mereka sangat mencintai tradisi. Kita juga memberikan ruang ekspresi bagi anak-anak dan sejak tahun 1970 Pemerintah Bali telah berfokus untuk menggarap seni tradisi agar selalu lestari dan dicintai anak-anak,” tutur Prof I Gede Arya menjawab pertanyaan Garda Indonesia mengenai apakah ada degradasi terhadap kecintaan anak Bali terhadap seni dan budaya Bali.

Penulis, editor dan foto (+Hironimus Dure Banase )

IKKON Kupang & Perajin Tenun Penkase, Hasilkan Pewarna Alam & Tenun Khas

271 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Tim Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON) Kupang melaksanakan Tanabae Festival 2019 yang merupakan wujud akuntabilitas publik dari tim IKKON kepada masyarakat Kota Kupang.

Kegiatan yang dilangsungkan di alun-alun Subasuka Cafe and Restoran, dimeriahkan oleh pameran berbagai hasil kreasi kolaborasi IKKON Kupang dengan setiap stakeholder kreatif di Kota Kupang.

Pada Tanabae Festival 2019, IKKON Kupang yang berkolaborasi dengan Perajin tenun dari Penkase Oeleta, memamerkan hasil tenun dengan warna yang berbeda dari tenun sebelumnya.

Desainer Produksi IKKON Kupang, Wisnu Purbandaru yang ditemui media ini di stan pameran hasil tenun Mama-mama dari Penkase mengatakan bahwa tim IKKON Kupang memberikan workshop kepada para perajin tenun pada beberapa bulan lalu, terutama terkait penggunaan warna alami.

“Sebenarnya mereka (perajin tenun), sudah tahu warna-warna alami itu, tapi mereka berpikir bahwa itu mahal dan akhirnya ditinggalkan. Mereka memilih menggunakan benang yang dijual di toko,” jelas Wisnu.

Setelah bertemu dan bertukar pikiran, lanjut Wisnu akhirnya masyarakat perajin tenun kembali menggunakan pewarna alam yang sudah ada dan membuat beberapa motif baru.

“Setelah workshop, kita sama-sama membuat pewarna alam tersebut lalu kita gunakan serta kita buat motif baru yaitu daun sepe,” ujarnya.

Deretan tenun khas yang dipamerkan dalam Festival Tanabae 2019

Sebelum bertemu Tim IKKON Kupang, para penenun menggunakan benang-benang yang dijual di toko-toko dengan berbagai warna. Dan harga jual untuk 1 selendang yang dibuat itu berkisar antara Rp.30.000—40.000,- saja.

“Pewarna alam itu digunakan pada benang katun. Jadi dari hasilnya, bisa dijual 1 selendang seharga Rp.100.000—200.000,-saja,” tutur Wisnu.

Bahkan hasil tenun kolaborasi tersebut, sudah dibawa dan dipamerkan pada Festival Bekraf di Solo dan animo pengunjung saat itu sangat tinggi serta hasil tenunan tersebut banyak menuai pujian.

Sementara itu, Elizabeth Selly selaku desainer tekstil tim IKKON Kupang, di sela-sela kesibukannya menjelaskan kepada para pengunjung yang melihat hasil kreasi tersebut mengatakan bahwa ada kurang lebih 8 (delapan) warna alam yang mereka hasilkan.

“Warna alam yang ditemukan dari tanaman sekitar 8 warna, yaitu merah sepe, lembayung, biru langit, coklat, kuning, hitam, warna gading sama warna krem,” jelas Elizabeth.

Elizabeth menjelaskan bahwa dari satu tanaman bisa menghasilkan beberapa warna tergantung campuran yang diberikan. “Tanaman yang digunakan yang itu-itu saja, seperti kulit pohon mahoni dan kulit pohon burung atau pohon secang. Warnanya tergantung dicampur dengan apa. Kalau dicampur dengan tawas itu akan menghasilkan satu warna, kalau dengan kapur itu warnanya berbeda lagi,” ujarnya.

Selain tanaman-tanaman tersebut, untuk pewarna alami digunakan bisa menggunakan kunyit dan pohon kersen. Elizabeth menjelaskan bahwa pihaknya dalam memilih warna selalu menyesuaikan dengan bahan alam yang ada, sehingga yang tidak bisa ditemukan tidak digunakan.

“Warna yang sulit ditemukan adalah warna biru, tapi akhirnya kami berhasil mendapat warna biru langit,” tuturnya.

Dirinya pun mengungkapkan adanya kemungkinan muncul lapangan pekerjaan baru serta mampu mendongkrak perekonomian masyarakat, yaitu dengan produksi pewarna alam tersebut. “Bisa jadi. Karena dari Dekranasda juga memberikan bimbingan terkait pembuatan warna juga. Dan instruktur warna dekranasda pastinya banyak memberikan ilmu bagi masyarakat, “ jelas perempuan cantik asal Denpasar itu.

Elizabeth juga berterima kasih karena melalui kolaborasi tersebut dirinya juga belajar banyak hal dari Mama-mama perajin tenun di Penkase terkait warna alam dari bahan-bahan alam. “Saya memberikan ilmu desain, tapi saya juga belajar ilmu pewarna dari mama-mama di Penkase. Kita saling bertukar, itulah proses kolaborasi kita, “ pungkas Elizabeth.

Nama festival ‘Tanabae’ merupakan bahasa Kupang, dalam bahasa Indonesia baku ‘Tanah baik’, yang sebenarnya ingin disampaikan oleh tim IKKON Kupang bahwa Kupang adalah daerah yang penuh potensi. Biasanya orang-orang Kupang mengatakan ‘bae sonde bae tanah Kupang lebe bae’. Biar tanah lain lebih baik, tanah Kupang tetap lebih baik. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)