Arsip Kategori: Wisata dan Budaya

Festival Seni & Budaya TTS di Jakarta, Bupati Tahun Apresiasi Penyelenggara

144 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Lopo Billionaire Project menggelar Festival Seni & Budaya Timor Tengah Selatan (TTS), giat tersebut dihadiri oleh seluruh masyarakat TTS yang berada di Jabodetabek, Jawa Barat dan Banten; Bupati TTS, Egusem Piether Tahun, M.T., M.M. turut hadir dan mendukung kegiatan tersebut pada Minggu, 12 Januari 2020.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/01/10/masyarakat-timor-di-jakarta-siap-helat-festival-budaya-tts/

Festival Seni dan Budaya TTS di Jakarta berlangsung sejak pukul 09.00 WIB—Selesai, bertempat di anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Ketua umum penyelenggara Festival Seni Budaya TTS, Kolenel Simon Kamlasi dan Bupati TTS, Egusem Pieter Tahun menyambut para tamu dan undangan lainnya.

Kehadiran pengunjung dalam gelaran seni & Budaya TTS diapresiasi dengan penyambutan berciri khas Timor yakni Natoni (tutur adat) dan Tari Ma’ekat. Sebagaimana diketahui Tari Ma’ekat adalah tarian perang yang sering ditampilkan warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) untuk menyambut para tamu dengan kostum tradisional.

Foto bersama Bupati TTS dan peserta Festival Seni dan Budaya TTS di Jakarta

Ketua Umum Penyelenggara Festival Seni Budaya, Kolonel Simon Kamlasi menuturkan bahwa kegiatan yang terselenggara ini menampilkan ragam kebudayaan TTS, seperti proses pembuatan tenun ikat secara tradisional yang dikerjakan oleh putra-putri Timor Tengah Selatan yang berada di Jakarta.

“Selain itu kegiatan tersebut juga menampilkan beberapa tradisi yang biasa dilakukan dalam tradisi adat sehari-hari, seperti memakan pinang, tradisi tumbuk pinang, tumbuk jagung, menenun kain selendang dan masih banyak tradisi TTS yang lain,” ujarnya.

Kegiatan ini dilakukan sejalan dengan Program Pemerintah Provinsi NTT dan Kabupaten TTS yang terus berupaya untuk memikat wisatawan asing dan nusantara agar dapat mengetahui keindahan alam dan budaya NTT khususnya Kabupaten TTS.

Simon berharap semoga tarian-tarian tradisional TTS seperti tari perang dan tari masal ini dapat di pertontonkan dan terekspos, sehingga dapat dikenal oleh seluruh masyarakat nusantara Indonesia juga kepada manca negara sehingga bisa menarik minat wisatawan untuk datang ke TTS.

Sementara itu, Bupati TTS, Egusem Piether Tahun, M.T., M.M. menyampaikan TTS sangat kaya akan budaya dan banyak aneka ragam destinasi wisata yang menarik namun tidak dikenal oleh bangsanya sendiri apalagi dunia luar.

“Destinasi wisata di TTS sebenarnya cukup banyak, namun belum banyak dikenal oleh masyarakat luas dan dunia luar. Dengan kegiatan ini kami atas nama Pemerintah Daerah dan Masyarakat Timor Tengah Selatan (TTS) sangat mendukung dan menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia penyelenggara khususnya Kolonel Simon yang sudah memprakarsai acara Festival Budaya TTS sehingga terselenggara dengan baik,” ucapnya.

Bupati Timor Tengah Selatan ini juga mengungkapkan kegiatan seperti ini merupakan pertama kali dilakukan, ia berharap kiranya tahun depan akan dilakukan yang lebih besar lagi. “Dan tentunya agar dapat dilaksanakan secara berkesinambungan dan kami akan berkolaborasi dengan Masyarakat TTS yang ada di Jakarta,“pungkasnya (*)

Sumber berita (*/@yfi–Tim IMO Indonesia) Editor (+rony banase)

Masyarakat Timor di Jakarta Siap Helat Festival Budaya TTS

311 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Memasuki era digitalisasi 4.0 serta globalisasi, masyarakat dunia dihadapkan pada satu tantangan besar, yaitu perubahan yang sangat cepat, masif dan luar biasa yang tidak terhindarkan oleh siapa pun. Segala sesuatu mengalami perubahan yang begitu hebat, termasuk budaya dan kebiasaan-kebiasaan hidup manusia.

Hal tersebut dituturkan oleh Kolonel TNI Simon kepada media yang tergabung dalam IMO-Indonesia, pada Jumat, 10 Januari 2020 sore.

Simon juga mengatakan, salah satu bagian yang sepertinya akan tereliminasi akibat arus gerakan perubahan global adalah budaya lokal dan kearifan lokal masyarakat adat.

“Akan semakin banyak masyarakat lokal yang mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan hidup (kearifan lokal-red) masyarakat yang merupakan warisan leluhur selama ratusan tahun atau mungkin saja lebih,” ujar Simon.

“Hal tersebut berdampak kepada kemunduran atau bahkan hilangnya peminat dan pengguna bahkan pelaku pengembang produk budaya lokal pun mulai dirasakan, uniknya hal ini tidak hanya terjadi di masyarakat urban, di desa pun sudah banyak masyarakat yang mulai meninggalkan penggunaan produk budayanya apalagi kegiatan pelestarian budayanya,” imbuhnya.

Lanjut Simon, “Apabila dibiarkan Hal ini akan terus berlanjut dan ancamannya adalah mungkin saja produk budaya lokal warisan para leluhur akan hilang,” terangnya.

Peragaan Busana Adat Timor Tengah Selatan (TTS)

Maka dalam rangka mengantisipasi fenomena tersebut, jelas Simon, “Kami sebagai masyarakat diaspora asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang saat ini bermukim di wilayah Jakarta dan sekitarnya mencoba untuk memulai melakukan gerakan pengembalian budaya lokal agar mendapatkan ruang di hati masyarakat”.

Lebih lanjut Simon memaparkan, hal tersebut merupakan hasil diskusi antara para sesepuh, senior dan kalangan milenial TTS Jakarta, yang kemudian memunculkan konsep bersama agar gagasan ini dapat direalisasikan melalui kegiatan festival budaya bertajuk Festival Budaya TTS yang akan diadakan pada Minggu 12 Januari 2020 pukul 09.00 WIB—selesai bertempat di Anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Kegiatan festival tersebut merupakan manifestasi dari ide, gagasan dan konsep seluruh masyarakat diaspora di Jakarta yang rindu pada kampung halaman dan rindu pada eksistensi budaya masyarakat Dawan-TTS.

Saat ditanya maksud dan tujuan kegiatan dari fersival budaya TTS tersebut Kepada Kolonel TNI Simon, bahwa semangat dari kegiatan festival ini adalah menghadirkan budaya lokal di era global dan memperkenalkan budaya lokal TTS kepada masyarakat luas di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Serta menghadirkan spirit kecintaan pelestarian budaya pada masyarakat diaspora asal kabupaten TTS di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Festival TTS ini juga sekaligus sebagai ajang untuk memperkenalkan kembali produk-produk budaya asli TTS yang mulai terlupakan dengan membangun komitmen bersama masyarakat diaspora dalam melestarikan budaya lokal TTS.

“Jenis kegiatan yang akan disuguhkan dalam acara tersebut meliputi penayangan Video Tron Promosi wisata dan budaya TTS, penampilan aneka tarian (bonet, maekat, dansa), pameran pembuatan tenun TTS, pameran kuliner khas TTS, peragaan pakaian adat TTS, rosesi peminangan, pembuatan jagung bose, serta Tradisi Oko Mama dan seterusnya,“pungkas Simon.(*)

Sumber berita (*/@yfi–Tim IMO Indonesia) Editor (+rony banase)

Jadikan ‘Sedang’ Sebagai Daya Tarik Wisata, Lomba Bapang Barong Dihelat Lagi

51 Views

Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Lomba Bapang Barong Ket dan Barong Buntut serta Makendang Tunggal dalam ajang Sedang Barong Festival II berlangsung sangat meriah. Lomba yang dihelat Paguyuban Kandapat dibuka oleh Kepala Bidang (Kabid) Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Dinas kebudayaan Provinsi Bali, Ni Wayan Sulastriani pada Jumat, 27 Desember 2019.

Dalam lomba tersebut, tampak seniman cilik setingkat SD dan SMP lihai memainkan kendang dan piawai menari barong. Para seniman cilik dan remaja itu tampil kreatif dengan penuh kreasi, sehingga memukau pengunjung dari berbagai daerah di Bali.

Lomba seni itu dibagi menjadi tiga kategori yaitu tingkat SD diikuti 14 peserta, tingkat SMP diikuti 30 peserta dan tingkat umum diikuti 30 peserta. Lomba berlangsung selama tiga hari sejak 27—31 Desember 2019. “Festival ini memiliki visi sesuai dengan Paguyuban Kandapat yakni ikut mengajegkan dan melestarikan seni dan budaya agama Hindu Bali,” kata Putu Gede Hendrawan Ketua Panitia yang juga pendiri Paguyuban Kandapat.

Ketua Panitia yang juga pendiri Paguyuban Kandapat, Putu Gede Hendrawan

Realisasinya, jelas Gede Hendrawan melalui kegiatan festival ini untuk memberikan kesempatan kepada adik-adik, semeton yang sedang berlatih dan menekuni seni, menari barong dan makendang. Hal ini juga untuk memberikan kesempatan para generasi muda dalam menekuni kesenian Bali. “Sedang Barong Festival untuk kedua kalinya ini merupakan inspirasi dari Paguyuban untuk ikut membangkitkan seni budaya Bali,” tegasnya.

“Sangat-sangat tinggi (animo masyarakat). Peserta membludak, dan kita melakukan penolakan. Karena sudah melampaui target. Jadi kita bisa tarik kesimpulan bahwa animo generasi muda terutama anak-anak sangat tinggi terhadap seni dan budaya Bali,” ungkapnya

Salah satu pengurus Bali Villa Association (BVA) Badung mengatakan, dari total seluruh peserta untuk festival tahun ini ada 74 pasang. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya diikuti 57 peserta. “Anak-anak setingkat SD, SMP dan umum yang digelar se-Bali ini begitu bersemangat tampil dalam festival ini,” imbuhnya.

Gede Hendrawan mengatakan, kegiatan ini juga sebagai media untuk meningkatkan semangat seniman Desa Sedang dalam berkesenian. Desa Sedang memiliki banyak seniman baik seni tari, tabuh dan patung. Bahkan ikon Desa Sedang adalah seni patung. “Desa Sedang merupakan gudang seniman, maka kita angkat kegiatan seni ini untuk menjadikan Sedang sebagai daya tarik wisata. “Golnya, ke depannya astungkara, bisa meningkatkan lagi kegiatan seni budaya sehingga bisa untuk menarik kunjungan wisatawan lebih banyak ke Desa Sedang,” harapnya.

Menurutnya, semangat warga Desa Sedang juga cukup tinggi. Demikian pula sambutan hangat para pengurus desa, sehingga ajang seperti ini bisa dikembangkan di stage. Dengan demikian bisa menampung wisatawan lebih banyak. “Kegiatan ini murni swadaya anggota paguyuban. Kami berharap dukungan pemerintah kabupaten dan provinsi selalu ada, dan semoga ke depan lebih diperhatikan, karena pariwisata Bali itu cikal bakalanya adalah seni dan budaya,” harap pria kalem ini. (*)

Sumber berita (*/Rudianto—Tim IMO Indonesia)
Editor (+rony banase)

Anak Bali Gembira, Cinta Seni dan Budaya

240 Views

Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Selama 2 (dua) minggu berada di Pulau Bali, ada hal menarik dan mengusik saya menelusuri kecintaan masyarakat Bali terutama anak-anak terhadap seni dan budaya Bali.

Saat berada di Banjar Kolepekan, Desa Tumbakbayuh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali pada Rabu, 16 Oktober 2019 sekitar pukul 18.30 WITA saat prosesi odalan sedang berlangsung; saya melihat sebuah pemandangan menarik ketika sedang melakukan pemotretan terhadap para anak-anak Bali yang sedang berlatih Gamelan Bali.

Anak Bali yang berusia sekitar 6—9 tahun tersebut sedang menabuh gendang dan memainkan Gamelan Bali. Mereka tampak menikmati latihan kecil tersebut sambil ditemani orang tua mereka yang sedang menanti upacara odalan. Dengan saling memberikan dukungan terhadap satu sama lain, anak-anak Bali di Banjar Kolepekan tersebut larut dalam ritme alunan Gamelan Bali.

Sebelumnya, sekitar pukul 17.30 WITA, tak jauh dari Banjar Kolepekan, lebih tepatnya di Sanggah dekat Jembatan Kecil berlangsung odalan yang diikuti oleh masyarakat sekitar yang datang secara bergantian untuk bersembahyang memuja Sang Hyang Widhi.

Mereka berdatangan dengan pakaian adat Bali dan membawa serta anak-anak yang turut larut dalam odalan tersebut. Tampak seorang anak perempuan berusia sekitar 9 tahun kyusuk dalam doanya disamping ibu dan bapaknya.

Berselang beberapa menit, datang seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 7 (tujuh) tahun bersama ayahnya yang juga turut larut dalam sakralnya odalan yang dipimpin oleh pandita.

Anak-anak tersebut terlihat gembira dan larut dalam kekusyukan ritual odalan sambil mengamati sekeliling mereka dan berinteraksi dengan teman-teman sebaya.

Lebih menarik, saat datang seorang ibu dan anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun berpakaian adat Bali lengkap dengan sesajen. Sambil memegang tangan ibunya, anak laki-laki tersebut mengikuti setiap gerak gerik ibunya dari awal hingga berakhirnya prosesi odalan.

Wajah bahagia terpancar dari raut wajah imutnya yang menarik perhatian saya untuk memotret perilakunya. Aura bahagia yang terpancar darinya meresap ke relung kalbuku.

Anak Bali di Desa Kolepekan hanya baru secuil gambaran kebahagiaan anak-anak. Masih banyak anak-anak serupa yang sangat bahagia saat bersama orang tua mereka bersama mengikuti ritual seni dan budaya Bali.

Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Prof.Dr.I Gede Arya Sugiartha, S.Skar., M.Hum. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Seni Budaya dalam sesi Konferensi Pers Festival Bali Jani 2019 di Aula Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali pada Selasa, 22 Oktober 2019 mengatakan bahwa seni tradisi dan budaya Bali sudah dibangun sejak anak-anak.

“Dampaknya bagi anak muda Bali, mereka sangat mencintai tradisi. Kita juga memberikan ruang ekspresi bagi anak-anak dan sejak tahun 1970 Pemerintah Bali telah berfokus untuk menggarap seni tradisi agar selalu lestari dan dicintai anak-anak,” tutur Prof I Gede Arya menjawab pertanyaan Garda Indonesia mengenai apakah ada degradasi terhadap kecintaan anak Bali terhadap seni dan budaya Bali.

Penulis, editor dan foto (+Hironimus Dure Banase )

IKKON Kupang & Perajin Tenun Penkase, Hasilkan Pewarna Alam & Tenun Khas

239 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Tim Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON) Kupang melaksanakan Tanabae Festival 2019 yang merupakan wujud akuntabilitas publik dari tim IKKON kepada masyarakat Kota Kupang.

Kegiatan yang dilangsungkan di alun-alun Subasuka Cafe and Restoran, dimeriahkan oleh pameran berbagai hasil kreasi kolaborasi IKKON Kupang dengan setiap stakeholder kreatif di Kota Kupang.

Pada Tanabae Festival 2019, IKKON Kupang yang berkolaborasi dengan Perajin tenun dari Penkase Oeleta, memamerkan hasil tenun dengan warna yang berbeda dari tenun sebelumnya.

Desainer Produksi IKKON Kupang, Wisnu Purbandaru yang ditemui media ini di stan pameran hasil tenun Mama-mama dari Penkase mengatakan bahwa tim IKKON Kupang memberikan workshop kepada para perajin tenun pada beberapa bulan lalu, terutama terkait penggunaan warna alami.

“Sebenarnya mereka (perajin tenun), sudah tahu warna-warna alami itu, tapi mereka berpikir bahwa itu mahal dan akhirnya ditinggalkan. Mereka memilih menggunakan benang yang dijual di toko,” jelas Wisnu.

Setelah bertemu dan bertukar pikiran, lanjut Wisnu akhirnya masyarakat perajin tenun kembali menggunakan pewarna alam yang sudah ada dan membuat beberapa motif baru.

“Setelah workshop, kita sama-sama membuat pewarna alam tersebut lalu kita gunakan serta kita buat motif baru yaitu daun sepe,” ujarnya.

Deretan tenun khas yang dipamerkan dalam Festival Tanabae 2019

Sebelum bertemu Tim IKKON Kupang, para penenun menggunakan benang-benang yang dijual di toko-toko dengan berbagai warna. Dan harga jual untuk 1 selendang yang dibuat itu berkisar antara Rp.30.000—40.000,- saja.

“Pewarna alam itu digunakan pada benang katun. Jadi dari hasilnya, bisa dijual 1 selendang seharga Rp.100.000—200.000,-saja,” tutur Wisnu.

Bahkan hasil tenun kolaborasi tersebut, sudah dibawa dan dipamerkan pada Festival Bekraf di Solo dan animo pengunjung saat itu sangat tinggi serta hasil tenunan tersebut banyak menuai pujian.

Sementara itu, Elizabeth Selly selaku desainer tekstil tim IKKON Kupang, di sela-sela kesibukannya menjelaskan kepada para pengunjung yang melihat hasil kreasi tersebut mengatakan bahwa ada kurang lebih 8 (delapan) warna alam yang mereka hasilkan.

“Warna alam yang ditemukan dari tanaman sekitar 8 warna, yaitu merah sepe, lembayung, biru langit, coklat, kuning, hitam, warna gading sama warna krem,” jelas Elizabeth.

Elizabeth menjelaskan bahwa dari satu tanaman bisa menghasilkan beberapa warna tergantung campuran yang diberikan. “Tanaman yang digunakan yang itu-itu saja, seperti kulit pohon mahoni dan kulit pohon burung atau pohon secang. Warnanya tergantung dicampur dengan apa. Kalau dicampur dengan tawas itu akan menghasilkan satu warna, kalau dengan kapur itu warnanya berbeda lagi,” ujarnya.

Selain tanaman-tanaman tersebut, untuk pewarna alami digunakan bisa menggunakan kunyit dan pohon kersen. Elizabeth menjelaskan bahwa pihaknya dalam memilih warna selalu menyesuaikan dengan bahan alam yang ada, sehingga yang tidak bisa ditemukan tidak digunakan.

“Warna yang sulit ditemukan adalah warna biru, tapi akhirnya kami berhasil mendapat warna biru langit,” tuturnya.

Dirinya pun mengungkapkan adanya kemungkinan muncul lapangan pekerjaan baru serta mampu mendongkrak perekonomian masyarakat, yaitu dengan produksi pewarna alam tersebut. “Bisa jadi. Karena dari Dekranasda juga memberikan bimbingan terkait pembuatan warna juga. Dan instruktur warna dekranasda pastinya banyak memberikan ilmu bagi masyarakat, “ jelas perempuan cantik asal Denpasar itu.

Elizabeth juga berterima kasih karena melalui kolaborasi tersebut dirinya juga belajar banyak hal dari Mama-mama perajin tenun di Penkase terkait warna alam dari bahan-bahan alam. “Saya memberikan ilmu desain, tapi saya juga belajar ilmu pewarna dari mama-mama di Penkase. Kita saling bertukar, itulah proses kolaborasi kita, “ pungkas Elizabeth.

Nama festival ‘Tanabae’ merupakan bahasa Kupang, dalam bahasa Indonesia baku ‘Tanah baik’, yang sebenarnya ingin disampaikan oleh tim IKKON Kupang bahwa Kupang adalah daerah yang penuh potensi. Biasanya orang-orang Kupang mengatakan ‘bae sonde bae tanah Kupang lebe bae’. Biar tanah lain lebih baik, tanah Kupang tetap lebih baik. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Wisatawan Mancanegara & Domestik Kagum Pesona Kelabba Maja

262 Views

Sabu Raijua-NTT, Garda Indonesia | Pesona Kelabba Maja, obyek wisata di Kecamatan Mesara Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengusik perhatian dunia melalui pagelaran even Festival Jelajah Pesona Kelabba Maja yang dihelat pada 9—12 September 2019.

Tak hanya penduduk asli Sabu Raijua, wisatawan domestik dan mancanegara turut mengambil bagian menyaksikan pesona Kelabba Maja yang dipercaya oleh masyarakat Sabu sebagai tempat bersemayam para dewa dan tempat pemujaan bagi penganut aliran kepercayaan.

3 (tiga) batu mazbah utama di Kelabba Maja Sabu Raijua

Sepintas pengamatan Garda Indonesia saat berada di lokasi, terdapat 3 (tiga) buah mazbah (*meja tinggi dari kayu, batu; dan sebagainya tempat mempersembahkan kurban, KBBI V versi Luring), seperti yang masih dilakukan oleh penganut aliran kepercayaan Jingitiu (*Sumber https://saburaijuakab.go.id/halaman/agama) ; yang mana beberapa norma kepercayaan asli masih tetap dipertahankan, antara lain penggunaan kalender adat saat menentukan waktu bertanam dan waktu yang tepat untuk melaksanakan upacara. Selain itu, beberapa masyarakat juga masih menerapkan ketentuan hidup adat atau Uku yang konon dipercaya mengatur seluruh kehidupan manusia dan berasal dari leluhur mereka.

Wisatawan Domestik asal Ternate, Deby Coralia Toni (24 tahun)

Seorang wisatawan domestik asal Ternate, Deby Coralia Toni (24 tahun) menyampaikan bahwa NTT sangat cantik dan memperoleh informasi dari teman tentang Festival Kelabba Maja.

“Saya penasaran dan ingin melihat langsung karena saya suka eksplorasi tempat wisata yang belum banyak orang tahu dan saya suka jalan di NTT,” ujar Alumni Universitas Khairun Ternate tahun 2018.

Penyuka traveling ini juga mengatakan akan membuat sebuah video tentang keindahan Sabu Raijua dan membagikan ke chanel youtube dan instagram miliknya.

Selain itu, Deby juga menyampaikan niat untuk mengunjungi Pulau Raijua namun tidak terdapat dalam jadwal (schedule) Festival Jelajah Pesona Kelabba Maja.

Berbeda dengan wisatawan mancanegara asal Perancis, Juliette yang mengunjungi Kelabba Maja bersama suami dan anaknya, Guillaume, Jo dan Elodie. Kepada media ini Juliette mengatakan bahwa suaminya seorang koki (chef) yang sering berkunjung ke Sabu menggunakan perahu layar (sail boat) dari Perancis.

“Kami sekeluarga menggunakan perahu layar dari Perancis, ke Australia kemudian ke Indonesia, Sabu Raijua,” ujarnya pada Kamis, 12 September 2019

“Kami sangat beruntung bisa mengikuti Festival Pesona Jelajah Kelabba dan kami akan menulis tentang pengalaman terbaik kami di sini dan menulis tentang Sabu Raijua di portal berita (website) di http://www.travelthe7seas.com, “ tandas Juliette.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Pengukuhan Keluarga Besar Maumere, Gubernur NTT Pinta Olah Narasi Budaya

207 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengharapkan agar Kerukunan Keluarga Besar Maumere (KKBM) mampu bernarasi tentang budaya yang ada di Kabupaten Sikka.

Pinta Gubernur Viktor disampaikannya saat mengikuti acara Pengukuhan Badan Pengurus Kerukunan Keluarga Besar Maumere di GOR Oepoi Kupang, pada Sabtu, 28 September 2019.

“Jangan kita buatkan program yang banyak tetapi tidak berjalan baik, lebih baik kita buat satu program saja yang dampaknya sangat baik kedepannya. Saya minta pengurus KKBM yang akan dikukuhkan ini, untuk cukup membuat satu program unggulan, yakni membuat Narasi tentang seluruh budaya yang berasal dari Kabupaten Sikka. Karena dengan Narasi yang baik akan membuat orang lain semakin mengagumi setiap budaya yang ada. Karena sebagai Gubernur saya berprinsip bahwa hidup tanpa narasi sama dengan kering dan hambar,” pinta Gubernur Viktor Laiskodat.

“Saya sangat yakin orang Sikka itu hebat menulis. Lagu saja ditulis dan saat ini sudah mendunia. Contohnya lagu Gemu Famire yang baru saja dinyanyikan oleh penyanyi aslinya. Sehingga sangat disayangkan kalau budaya yang merupakan warisan dari nenek moyang kita dahulu kala, tidak mampu diceritakan kembali saat ini. Urusan benar atau salah bukan menjadi soal, namanya juga cerita, bisa benar bisa juga salah,” sambung Gubernur NTT.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat saat menyampaikan arahannya usai pengukuhan Kerukunan Keluarga Besar Maumere (KKBM)

Tampil dengan pakaian adat Sikka, Gubernur Viktor Laiskodat kembali menyerukan keyakinannya bahwa kedepan NTT akan mampu bangkit dan melompat mengejar ketertinggalannya.

“Saya tidak sedang berkampanye saat ini. Tetapi saya yakin NTT akan berkembang pesat dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama lagi. Selagi anak mudanya mau dengan penuh percaya diri bekerja, selagi kita tidak tertarik dengan perdebatan yang penuh kebodohan dan ketidakyakinan, maka sebagai Gubernur saya pastikan NTT akan bangkit dan menjadi hebat,” ungkap orang nomor satu di NTT ini.

“Saat ini sedang ramai di media sosial yang mengatakan bahwa pemerintah saat ini anti terhadap kritikan. Sebagai Gubernur saya sama sekali tidak anti terhadap kritikan. Sepanjang kritikan itu untuk membangun, dan tentunya dengan pengetahuan yang baik dan mampu membuat saya tercengang, maka saya pasti akan menerimanya. Tetapi kalau orang yang mengkritisi itu tujuannya untuk memecahbelah pemerintahan dengan pengetahuan yang rendah, maka saya tidak akan pernah menerimanya. Oleh karena itu saya minta pihak KKBM untuk silakan mengkritik pemerintah saat ini dengan pendapat atau argumen yang baik, untuk kemajuan NTT kedepannya,” tandas Viktor.

“Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya minta pihak KKBM untuk mampu bekerja sama dengan pihak Pemerintah Kabupaten Sikka agar kedepannya juga mampu membuat masyarakat dari luar daerah berdecak kagum. Darah muda yang dimiliki oleh Bupati saat ini, tentu membawa nilai positif bagi kemajuan Nian Tana kedepannya,” ungkap Laiskodat.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Ketua terpilih Kerukunan Keluarga Besar Maumere , Theo da Cunha mengucapkan terima kasih atas kehadiran Gubernur saat ini.

“Suatu kehormatan bagi kami, karena bapak Gubernur berkenan hadir saat ini. Dan tentunya hal ini menjadi motivasi bagi kami untuk kedepannya bekerja lebih baik lagi,” kata Theo.

Turut hadir dalam kesempatan ini, Bupati Sikka, Robby Idong, Ketua DPRD Provinsi NTT, Emilia Nomleni, mantan ketua KKBM, Kristo Blasin dan pengurus KKBM serta undangan lainnya. (*)

Sumber berita (*/Sam Babys/Staf Biro Humas dan Protokol NTT)
Editor (+rony banase)