Arsip Kategori: Wisata dan Budaya

Jagung dan Tradisi Makan Jagung Adat Masyarakat Timor

415 Views

Oleh : Roni Banase

Tanaman Jagung bagi masyarakat yang bermukim di daratan seluas sekitar 15.000 km (termasuk di Negara Republik Demokratik Timor Leste[RDTL]) mempunyai beragam manfaat, mulai dari sebagai makanan pokok yang dapat diolah menjadi Jagung Katemak (rebusan bulir Jagung tua beserta beragam sayur mayur, red) dan Jagung Bose (jagung yang diolah dengan cara ditimpa dalam palungan kayu hingga kulit terkelupas kemudian dimasak dengan santan dan dicampur kacang-kacangan, red) hingga dijadikan Jagung Bunga atau Popcorn.

Namun, untuk saat ini, saya ingin menyuguhkan informasi bagaimana Orang Timor khususnya di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperlakukan tanaman dengan nama ilmiah Zea Mays yang merupakan salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat terpenting di dunia, selain gandum dan padi.

Bagi warga di Desa Naiola (tempat Papa dan Mama menghabiskan masa tua mereka, red), selain sebagai ketahanan pangan, Jagung juga memiliki nilai historis adat yang sarat makna. Tak hanya asal ditanam, lalu dibiarkan tumbuh sendiri tanpa perawatan, namun sebelum di tanam Saat awal musim hujan (Oktober hingga Maret); Jagung diambil dari tempat penyimpanan selama kurang lebih setahun bahkan lebih yang mana disimpan di lumbung pangan Masyarakat Timor yakni Lopo. Di atas bubungan Lopo, atau loteng Lopo, Jagung disimpan sebagai bibit sekaligus berfungsi sebagai ketahanan pangan.

Prosesi mempersembahkan Jagung hasil panen kepada Leluhur Laki-laki di Hau Monef

Pastinya kita penasaran, mengapa harus disimpan di Lopo, bukannya tinggal membeli saja di toko bibit Pertanian? Karena bagi masyarakat Timor, bibit Jagung yang berasal dari stok yang disimpan telah melewati proses “Pemberkatan” atau telah didoakan oleh 3 (tiga) unsur yakni Allah, Alam, dan Arwah yang memiliki satu kesatuan utuh.

Bagaimana proses tersebut terjadi dan apa saja yang dilakukan oleh Masyarakat Timor? Saya pun tergelitik untuk menelusuri, meski saya lahir dari rahim seorang Ibu berdarah Rote bermarga Mooy dan Ayah asli Orang Timor bermarga Banase dan dibesarkan di Kota Kupang, namun kami telah berkunjung ke tempat kelahiran masing-masing orang tua kami sejak masih kecil dan menikmati setiap proses hidup dari hal sederhana hingga mencermati, mengamati, dan ikut melakukan prosesi upacara adat.

Harus diakui, saya pun jarang menikmati yang namanya Jagung Katemak, selain karena agak keras, makanan ini memang agak susah dicerna oleh lambung yang telah terbiasa dengan asupan nasi, jika dipaksa maka bakal berurusan saat menuju ke kamar kecil, di situ bakal membutuhkan waktu lama. Serupa dengan Jagung Bose, meski agak lunak dengan campuran santan Kelapa, namun serupa bakal berkontraksi dengan lambung.

Makan Jagung Adat Masyarakat Timor di Desa Naiola, tak ada Subordinasi antara Laki-laki dan Perempuan, duduk bersama menikmati Jagung hasil panen

Selanjutnya, saya lebih memilih menyantap Jagung Muda Rebus, seperti yang disuguhkan dalam prosesi upacara “Makan Jagung Adat” atau Tatek Pena Keluarga Banase di Desa Naiola pada Sabtu, 6 Maret 2021, saat menjenguk Papa dan Mama di sana sekaligus mengikuti prosesi tersebut. Sebagai anak sulung laki-laki, saya pun punya tanggung jawab untuk mengikuti lekuk prosesi itu, mulai dari memberikan ucapan terima kasih dengan menyembelih Ayam lalu disuguhkan dengan Jagung hasil bercocok tanam kepada 3 (tiga) unsur hingga pada proses akhir yakni menyantap secara bersama atau “Makan Jagung Adat”.

Yang membuat saya takjub dan kaget, saat “Makan Jagung Adat” kami para lelaki duduk bersama setara dengan kaum perempuan (tak ada Subordinasi), karena semua saudara dalam lingkaran pertalian kawin mawin datang untuk mengikuti prosesi tersebut. Mereka pun harus datang membawa hasil Jagung mereka yang dipotong dan diikat dengan cara beragam.

Saya pun disuguhi 5 tongkol Jagung Muda beserta potongan daging Ayam Rebus dan wajib memakan hingga habis, meski telah mencoba untuk menyantap hingga ludes, namun apa daya lambung tak bisa menyesuaikan. Namun, yang membuat saya terkesan, karena penuturan dari Bapak Tadeus Lae, beliau Ketua Badan Pemasyarakatan Desa (BPD) Desa Naiola. Menurutnya, tradisi “Makan Jagung Adat” masih terpelihara hingga kini dan dilakukan oleh setiap rumpun keluarga di setiap masa Tanaman Jagung telah masuk masa panen, biasanya pada bulan Maret setiap tahun.

Satu Aesap Jagung dan satu Pentauf Jagung diikat dan digantung di Lopo atau Ume Tobe

“Saat Jagung sudah siap panen, maka dipotong dan diikat lalu bakar lilin kepada leluhur sebagai ucapan terima kasih karena telah ikut menjaga dan merawat,” tutur Tadeus seraya menyampaikan hasil Jagung tersebut juga disimpan di Lopo atau Ume Tobe dan dipersembahkan ke Raja untuk disimpan di Lopo Tobe.

Saat menanam bibit Jagung yang diambil dari Lopo, imbuh Tadeus, Kita memberitahu Kakek dan Nenek yang telah mendahului agar ikut menjaga dan merawat tanaman Jagung. “Saat siap panen, maka kita harus memberitahu para leluhur dan memberikan masing-masing dari hasil kebun kepada Leluhur Laki-laki di Hau Monef atau Kayu Tuhan (potongan kayu bercabang tiga dengan ketinggian berbeda sebagai simbol Bapa, Putra, dan Roh Kudus), sementara untuk Leluhur Perempuan berada di dalam rumah berupa “Tatakan Batu” tempat membakar lilin dan menyuguhkan persembahan hasil kebun,” urainya.

Nah, saat panen Jagung hasil kebun, lalu diikat sebanyak 7 (tujuh) tongkol dalam satu rumpun atau disebut ‘Pentauf’ (sebagai simbol 7 hari dalam seminggu) dan diikat sebanyak 10 tongkol Jagung atau disebut ‘Aisap’ untuk digantung di Lopo dan dijadikan bibit, kemudian dimasukkan ke Ume Tobe dan Lopo Tobe, kemudian diatur untuk diserahkan ke Gereja dan Raja.

“Selanjutnya, 1 Aisap dan 1 Pentauf Jagung hasil kebun diserahkan dan disimpan di Lopo Tobe. Kita yang dapat lebih banyak hasil panen, sementara kita dapat lebih banyak hasil kebun,” urai Tadeus Lae sembari mengajak saya menikmati Jagung Muda Rebus hasil kebun Papa dan Mama sambil menelisik warga desa yang sedang melintasi jalan dengan memikul Potongan Pohon Jagung Muda untuk melakukan hal serupa yang sedang kami lakukan yakni “Tradisi Makan Jagung Adat Masyarakat Timor”.

Foto (*/koleksi pribadi)

Di Fatu Kapal Matahari Tenggelam di Hatimu, Destinasi di Ketiak Kota Kupang

4.197 Views

Oleh : Marsel Robot dan Tim Dosen PKM Undana dan Kepala Pusat Studi Kebudayaan dan Pariwisata Undana

Sensualitas Pulau Timor acap dihubungkan dengan hamparan sabana disulam lenguh sapi menerpa dinding tebing, atau onggokan pulau yang berserakan di telapak semesta. Belakangan, tidak hanya itu. Gunung Batu bercerita tentang Timor sebagai pulau yang indah. Kita mengenal beberapa bukit batu yang telah menjadi destinasi wisata, di antaranya gunung batu Fatu Le’u (Kabupaten Kupang), Fatu Kopa di Amanuban Timur (TTS), Fatu Braun (Amarasi, Kabupaten Kupang), Fatu Mnasi (Molo, TTS). Fatu Na’usus (Molo, TTS), Fatu Un (Kolbano, TTS). Bukit-bukit batu menjadi ikonik wisata alam di pulau ini. Di atas bukit batu itu, Anda menjahit serpihan kenangan yang meliar dan puisi-puisi orang kasmaran merimbun di atas karang.

Namun, masih ada bukit batu yang luput dari catatan album kenangan Anda. Bahkan, kenangan Anda tak akan ranum bila belum mencapai bukit batu yang satu ini yakni Fatu Kapal (Batu kapal). Batu yang berbentuk kapal, lengkap dengan anjungan, geladak, dan buritan.

Batu Kapal, tampak depan yang merupakan anjungan. Kiri dan kanan terdapat geladak batu. Dari atas batu ini Anda bisa menyaksikan purnama sunset paling sempurna. Fatu Kapal terletak di Kelurahan Naioni Kecamatan Alak, Kota Kupang. Tampak destinasi ini belum disentuh oleh pemerintah Kota Kupang. Keadaannya sangat alami. (Foto, dokumen Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Undana).

Panjang Fatu Kapal kurang lebih 75 meter, lebar 20 meter, dan tinggi 18 meter. Anjungan menghadap ke barat yang dibatasi rongga dengan badan kapal bagian belakang. Samping kiri dan kanan berbentuk geladak terbuka yang cukup lebar. Jika Anda berada di anjungan Batu Kapal dan menunggu purnama sunset merayap di ubun bukit barat, maka kota dan kata seakan raib di sana. Sebab, Anda hanya terkagum memergok ulah matahari membuka gerendel senja. Terasa sempurna dengan kepak burung camar di barat mendorong samar. Pun percakapan binatang malam menambah mistik di sekitar tubuh batu. Sambil memandang kedipan matahari terakhir di ujung pulau, mungkin hanya seutas kalimat yang melukiskan keadaan itu, “Fatu Kapal memagut hatimu dan terasa matahari terbenam di hatimu.”

Fatu Kapal terletak di Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Destinasi wisata ini bagai tersembunyi di ketiak Kota Kupang (dekat yang terasa jauh), karena belum dijamah oleh pemerintah Kota Kupang. Akses ke Fatu Kapal cepat dan jalan terbilang mulus. Anda hanya membutuhkan waktu 30 menit dengan sepeda motor atau mobil dari pusat Kota Kupang, Hanya 32 menit dari Bandara Internasional El Tari Kupang dan 35 menit dari Pelabuhan Tenau.

Panorama Matahari Terbenam (sunset) di Fatu Kapal

Jika Anda berangkat dari Kota Kupang, maka Anda memilih jalur jembatan Petuk, lebih sepi, hingga Gapura Fatu Koa. Dari Gapura Fatu Koa Anda hanya membutuhkan 15 menit sampai ke Fatu Kapal. Jika Anda datang dari luar Kota Kupang, menginap, maka Hotel Silvia, Hotel Sasando, atau hotel-hotel di Kota Kupang bisa menjadi pilihan. Sebab, Anda hanya membutuhkan waktu 30 menit dengan kendaraan roda dua atau roda empat untuk sampai ke Fatu Kapal. Jalan masuk sebelum kantor Kelurahan Naioni. Hanya 13 menit mengarungi jalan aspal sempit, dan 7 menit melewati jalan batu hingga Batu Kapal. Mungkin keadaan itulah yang menyebabkan Fatu Kapal terlewatkan dari intip intim warga Kota Kupang, wisatawan domestik, atau wisatawan asing.

Eksotik Fatu Kapal diperkuat oleh lima batu gunung di sekitarnya. Pada bagian samping kanan batu terdapat Batu Ike Perempuan dan Batu Ike Laki-Laki. Jarak antara Fatu Ike Laki-laki dan Fatu Ike Perempuan 20 meter. Sedangkan jarak kedua batu itu dengan batu kapal sekitar 30 meter atau tak jauh dari buritan Fatu Kapal. Raut Batu Ike Laki-laki dan Batu Ike Perempuan menghadap Fatu Kapal. Menurut Bapak Kleopas, pemilik tanah di lokasi Fatu Ike, nama Fatu Ike berasal dari kata fatu yang berarti batu dan ike adalah alat pintalan benang yang berbentuk kerucut. Posisi demikian seakan menyampaikan kisah tentang pengantar penumpang yang hendak berangkat dengan Fatu Kapal. Memang tak ada tangan melambai, tak ada bintik air mata, bahkan tak tertinggal legenda hubungan ketiga batu itu. Itulah salah satu keunikan Fatu Kapal. Bukan hanya tempat paling representatif memergok mentari tenggelam, tetapi ia memberikan kita perenungan tentang legenda batu itu. Itulah yang menyebabkan eksotik batu kapal dan batu Ike dapat di mata, jatuh di hati dan belum tiba di pikiran.

Fatu Ike Laki-laki yang tampak menjulang tinggi sekitar 21 meter. Jarak 30 meter dari Fatu Kapal. Fatu Ike berasal dari kata fatu yang berarti batu dan ike adalah alat lintingan kapas menjadi benang. Kisah ini menyimpan kuat tradisi menenun di kalangan masyarakat Timor. Tak ada konotasi lain dari segi bentuk batu ini. Ada juga yang berkisah bahwa kata ike berasal dari ika, merupakan keong laut yang juga digunakan untuk memintal kapas menjadi benang. (Foto, dokumen Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Undana).

Tidak hanya itu, 30 meter bagian kiri anjungan Fatu Kapal terdapat Fatu Biloka. Fatu ini menurut penduduk setempat dapat didaki dan di sana akan tampak purnama sunset yang tak kalah indahnya dibandingkan dengan sunset di anjungan Batu Kapal. Empat gunung batu berjejer berdekatan seakan pohon-pohon abadi yang terus berbicara dengan kebisuannya.

Jika hendak bepergian ke Fatu Kapal atau ke Fatu Ike untuk waktu yang lama, memang memerlukan persiapan. Soal akomodasi memang tak tersedia di sana. Anda membawa sendiri air minum, makanan ringan atau apa pun. Sebab, di sana belum ada lapak jualan atau pedagang, warung, atau kedai kopi. Atau jika Anda tak ingin repot dengan hal-hal seperti itu, maka siang hari Anda boleh menikmati makan siang di rumah makan Sari Pita di ujung Jembatan Petuk, rumah makan di Sikumana, atau di pusat Kota Kupang.

Juga, belum ada pondok wisata atau home stay buat bermalam di sekitar Fatu Kapal dan Fatu Ike. Maklum, destinasi ini masih amat perawan dan belum disentuh oleh pemerintah. Namun, jarak begitu dekat dari pusat Kota Kupang memudahkan semua orang untuk mengakses langsung dari hotel-hotel di Kota Kupang yang hanya ditempuh 35 menit. Mungkin itu salah satu alasan, pemerintah Kota Kupang belum menggarap wilayah destinasi Naioni secara serius.

Namun, Bapak Kleopas, salah seorang pemilik tanah di Fatu Ike mengatakan, “kami siap bekerja sama dengan pemerintah Kota Kupang untuk mengelola daerah ini sebagai destinasi wisata Kota Kupang.” Sayangnya, Dinas Pariwisata Kota Kupang belum menjamah ke sana. Berkali-kali Tim PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat Undana) meminta bermitra dengan Dinas Pariwisata Kota untuk menggarap Fatu Kapal sebagai destinasi, tak direspons.

Fatu Biloka yang juga tidak jauh dari Batu Kapal. Di atas batu ini dapat menikmati sunset secara sempurna. Terkesan pohon-pohon batu merimbun di kelilingi Fatu Kapal, suatu pemandangan yang tidak hanya indah di mata, tetapi melengket di hati dan tersisah di pikiran mengapa semesta ini begitu ajaib. (Foto, dokumen Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Undana).

Jangan percaya narasi ini sebelum Anda pergi menjadi penumpang di Fatu Kapal. Tentu menumpang bukan untuk berangkat ke mana dan tak ada pelabuhan untuk berlabuh. Tetapi, di atas Fatu Kapal itu, Anda akan memandang sunset purnama yang perlahan merebah di pangkuan senja. Pun sensasi Kota Kupang dengan kerlap-kerlip lampu kota yang manja menyapu galau. Kepak camar mempercepat senja. Laut seakan menjauh, kenangan merapat, dan matahari terbenam di hatimu.

Pater Gregorius Neonbasu : “Allah, Alam, dan Arwah Itu Satu Kesatuan”

1.685 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Antropolog Budaya Pater Gregorius Neonbasu SVD, PhD. mengemukakan bahwa ia membutuhkan orang-orang untuk terlibat dan memastikan keberadaan makam Sobe Sonbai III. Dari menggunakan media mimpi dari cucu Sobe Sonbai III, bantuan para tetua adat untuk melakukan kontak supranatural hingga berujung pada tanda alam, maka pada tahun 2016; melalui prosesi ritual adat unik dan melibatkan dirinya dan Dr. Sulastri Banufinit (cucu Sobe Sonbai III sekaligus antropolog), Pusara Raja Sobe Sonbai III berhasil ditemukan.

Baca juga: https://gardaindonesia.id/2020/08/22/pusara-sobe-sonbai-iii-ditemukan-vbl-dukung-jadi-destinasi-budaya/

“Saya pikir semua itu, istilah bahu-membahu sampai menemukan itu. Tanpa mereka, itu sulit. Karena saya membutuhkan mereka,” ungkapnya kepada Garda Indonesia pada perayaan mangkatnya Raja Sobe Sonbai III ke-98 yang dilaksanakan di Sonaf Nai Me, Fontein Kota Kupang pada Sabtu, 22 Agustus 2020.

Antropolog Budaya dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang tersebut pun menegaskan kadang-kadang ada yang datang dengan visi yang berbeda, itu tidak menjadi soal intinya terlibat dalam proses menemukan makam Sobe Sonbai III.

Macam Sonbai juga punya pemikiran lain, imbuh Gregorius Neonbasu, Jadi it takes time, alam yang membuat. “Saya memang percaya kosmos kuat. Alam hadir begini yang tidak setuju jadi setuju. Kalau saya bicara semacam doa tadi, itu tadi saya belum omong lain. Kalau saya bicara lain, ini untuk kamu orang Timor,” tuturnya.

Rumah Adat (Lopo Tobe) Suku Funan di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten TTU

“Alam, Arwah dan Allah dalam teori sistem itu satu kesatuan. Ada satu istilah yang bilang ‘Extra Mundum Nulla Salus’, artinya tanpa dunia tidak ada keselamatan. Dunia ada baru Yesus datang untuk menyelamatkan manusia,” ungkap rohaniwan Katolik ini.

Tambah Pater Gregorius Neonbasu, “Arwah ini, setelah meninggal berada di sekitar Allah, mereka bantu manusia supaya hidup selaras dengan alam. Itu ada istilah latin ‘Serva Ordinem Et Servabit Te’, artinya peliharalah alam supaya alam memelihara engkau,” urainya.

Jadi, tandasnya, ekologi dan ekosistem kita sekarang ini rusak, karena kita memakai sistem lain bukannya sistem natural. “Karena itu Allah, Alam dan Arwah itu tiga serangkai yang tidak bisa dipisahkan,” tegas Pater Gregorius Neonbasu.

Lanjutnya, Sekarang kalau mau berbicara seperti itu dan bandingkan dengan tradisi kita, jangan pikir bahwa kita dulu tidak kenal Allah. “Itu tidak benar !, kita dulu sudah kenal. Itu tanda bahwa orang kita percaya bahwa Allah, Alam dan Arwah sebagai mediator.” pungkasnya.

Manifestasi Allah, Alam, dan Arwah bagi Orang Timor

Manifestasi keterkaitan antara Allah, Alam dan Arwah, diterapkan oleh masyarakat suku Timor di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dalam ritual adat dengan wadah berupa Kayu Tuhan atau Ha’u Monef. Kayu berukuran diameter relatif dengan tinggi sekitar 50—100 cm tersebut, memiliki tiga cabang dengan tinggi berbeda.

Ha’u Monef di salah satu rumah warga Desa Naiola

Satu cabang utama dari Ha’u Monef (tertinggi,red) merupakan manifestasi dari Allah, cabang kedua agak rendah sebagai manifestasi Alam, dan cabang ketiga (terendah) sebagai manifestasi Arwah, dan semua cabang tersebut berada dalam satu batang pohon sebagai simbol satu kesatuan utuh.

Seperti dituturkan oleh Tetua Adat Desa Naiola di Lopo Tobe Funan, Kecamatan Bikomi Selatan, Fransiskus Kunsaol Funan (91) pada Senin, 7 September 2020 (dengan Bahasa Daerah Timor dan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia), menguraikan Ha’u Monef merupakan kekuatan bagi orang Timor. “Tiga cabang dari Ha’u Monef itu sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” urainya seraya menyampaikan jika dalam kondisi tertentu misalnya mengalami kekurangan, Ha’u Monef sebagai media.

Serupa, Kepala Desa Naiola Gabriel Funan selaku keturunan dari Suku Funan yang mendiami Lopo Tobe Funan (rumah adat, red) kepada Garda Indonesia pada Minggu, 13 September 2020, menguraikan tentang tiga cabang Ha’u Monef sebagai manifestasi dari Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. “Di antara ketiga cabang kayu tersebut, terdapat batu sebagai wujud dari arwah nenek moyang yang bersemayam di situ,” bebernya.

Menurut Gabriel Funan, saat ini, batu tersebut digunakan sebagai wadah untuk menyalakan dan menempatkan lilin di situ. “Wujud dari seluruh nenek moyang kita di situ, dan melalui tutur adat oleh Tetua Adat ke Apinat Aklat (Allah, red), kemudian turun ke leluhur bahwa mereka yang telah meninggal yang dekat dengan Allah, menjadi pendoa bagi kita yang masih berziarah atau hidup di dunia,” urainya.

Mengenai keberadaan Ha’u Monef hanya berada dan dipasang di rumah orang tua dari suku dan atau dipasang di rumah adat (Lopo Tobe).

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Selisik Makna Relief Monumen dan Kiprah Sobe Sonbai III

960 Views

Natun Lulut Ma Lekat Uis Nenoabiten Fatu Bian Ma Haube
Bian..Sin Lekat Ma Sin Lulut.. Talantia Anbi Neno Le,i Hit Ta Ekum Ta
Tef Natuin Sa Le An Fani Nu,u Mese Neu Le Sufa Ka,Uf An Bi Pahbi
Timo…
Takaf Natonon An Bi Pah Ma Nifu Bi Timo An Fani Takaf

Maknanya..
“Seperti telah ditetapkan dan dirujukkan pada awal mulanya, seizin leluhur, maka hari ini anak, cucu dari matahari terbit sampai matahari terbenam; kita dipertemukan di tempat ini untuk menggenapi dan melaksanakan semua cerita-cerita nubuat bagi anak, cucu di Tanah Timor. Tanda alam telah dinyatakan kepada kita semua anak, cucu dan generasi penerus.” (Diterjemahkan oleh Rudolof Isu–UPG 1945 NTT)

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Monumen Sonbai didirikan pada 1974 dan diresmikan pada 31 Juli 1976; sebagai peringatan bahwa penjajah telah berhasil dikalahkan dan dipulangkan dari Tanah Timor. Monumen ini menjadi destinasi yang ada di jantung Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/08/22/pusara-sobe-sonbai-iii-ditemukan-vbl-dukung-jadi-destinasi-budaya/

Relief-relief pada dinding Monumen Sonbai mengisahkan penjajahan kolonialisme dan perjuangan rakyat Timor melawan penjajah. Terdapat gambar rantai yang terputus mengandung makna perjuangan meraih kemerdekaan dari tangan penjajah.

Seorang Raja menunggang kuda mencerminkan Jiwa kesatriaan, patriotisme, yang memiliki cinta dan kasih sayang terhadap rakyat Timor, menyingsingkan lengan baju tanpa pamrih untuk membela dan mempertahankan hak-hak rakyatnya yang di rampas oleh bangsa penjajah.

Siapakah Sang Raja pahlawan berkuda itu ?Dia adalah Sobe Sonbai llI..Putra kelahiran Bikauniki sekitar tahun 1882, Ayahnya bernama Baob Sonbai dan Ibunya NN.. dia adalah Kaisar Kerajaan Oenam. Orang mengenalnya sebagai Raja hingga akhir hayatnya, Dia adalah pejuang yang konsisten menolak kolonialisme dalam bentuk apa pun, lebih tegas lagi menolak untuk berunding, tidak pernah sekalipun menandatangani perjanjian takluk kepada Belanda sehingga dengan tegas menolak bekerja sama dengan kolonialisme.

Demikian penuturan cucu ketiga puluh Sobe Sonbai III, Dr. Sulastri Banufinit tentang makna filosofi relief di dinding Monumen Sonbai dalam sesi peringatan ke-98 mangkatnya Sobe Sonbai III di Sonaf Nae Me Fontein, Kota Kupang pada Sabtu, 22 Agustus 2020.

Dr. Sulastri Banufinit

Di hadapan Bupati TTU, Ray Fernandes (cucu Sobe Sonbai III), Bupati Malaka, Stef Bria Seran, Ketua DPRD Provinsi NTT, Emelia Nomleni; Sesepuh Lembaga Adat Masyarakat Sunda, Aditya Alamsyah; Para Usif, Meo, Atoin Amaf, Tetua Adat, Tokoh Masyarakat, Kepala Suku se-daratan Timor; doktor Sulastri mengungkapkan Sobe Sonbai III bersama seluruh rakyatnya dan para Meo atau Panglima perang mereka membangun 3 (tiga) tugu atau benteng pertahanan antara lain : 1) Benteng Ektob di Desa Benu, benteng ini dijaga oleh Meo O’neno dan Taen Suan, 2) Benteng Kabun di Desa Fatukona dijaga oleh Meo Kusi Nakbena dan Beu Ebnani, 3).Benteng Fatusiki di Desa Oelnaineno dijaga oleh Meo Totosmau.

Doktor Sulastri pun menuturkan kiprah Sobe Sonbai III (sumber cerita dari Keluarga Saubaki), Sobe Sonbai lll ditangkap pada bulan Juni 1905, dan dibawa sebagai tahanan perang bersama-sama dengan Ay Sonbai, Beke Sonbai, Baob Sonbai, Neno Sonbai dan Bete Bani. Para pahlawan yang ikut berperang dan memimpin kelompok pasukan dari Oenam adalah Labi Kolnel, Tafim Kase, Atu Abanat, Neno Haki dari Usif Palaf Tefnai, Totos Smaut, Aki Aobesi, Sani Bahael dari Molo (Nun bena dan Falu Mnutu).

Perang ini dimulai di Desa Bipolo yang secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. Peristiwa itu dikenal dengan Perang Bipolo. Benteng Fatusiki akhirnya berhasil direbut oleh Belanda.

Raja Sobe Sonbai III dan Totos Smaut sang Meo gagah perkasa yang memimpin perlawanan itu, namun karena keterbatasan senjata, pihak Belanda menang. Raja berhasil ditangkap dan dibawa ke Kupang dan ditahan selama 2 bulan untuk pemeriksaan oleh Belanda, kemudian diasingkan ke Waingapu Sumba Timur selama 2 tahun 3 bulan.

Monumen Sobe Sonbai III yang dipugar oleh Pemkot Kupang dalam kepemimpinan Wali Kota Kupang, Doktor Jefri Riwu Kore dan Wakil Wali Kota Kupang, Dokter Herman Man

Setelah berakhirnya masa pembuangan, Sobe Sonbai III bersama rekan-rekannya dikembalikan ke Kupang. Setelah berada di Kupang rekan-rekanya dikembalikan ke Bikauniki. Sementara Sobe Sonbai III masih menjalani tahanan rumah di Kupang selama 6 bulan, sebab dikhawatirkan dapat melakukan pemberontakan lagi setelah dikembalikan ke Kauniki daerah asalnya.

Setelah selesai masa tahanan rumah di Kupang, Sobe Sonbai III diperkenankan untuk kembali, namun ia diwajibkan untuk berdiam di Camplong selama lima bulan dan dijaga ketat oleh pasukan Belanda. Usai 5 lima bulan, Raja Sobe Sonbai llI diperkenankan kembali ke Kauniki.

Namun, sebuah kerusuhan di Kauniki menyebabkan dia didakwa oleh seorang bernama Tboin Oematan kepada Pemerintah Belanda, yang mana dalam keputusan pengadilan Belanda, Sobe Sonbai III ditahan lagi di Kupang kurang lebih 2 tahun, akhirnya meninggal dalam penjara dalam keadaan dipasung, jenazah Raja Sobe Sonbai lII ditandu oleh NN dan dimakamkan di Sonaf Naime Fontein.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Pusara Sobe Sonbai III Ditemukan, VBL Dukung Jadi Destinasi Budaya

3.036 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Raja Sobe Sonbai III yang merupakan raja kelima belas Sonbai dan juga sebagai Raja Timor terakhir, yang sampai akhir hayatnya tidak pernah menandatangani perjanjian takluk kepada Belanda (baca : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sobe_Sonbai_III).

Perjuangan heroiknya diapresiasi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) saat pemerintahan Gubernur El Tari, dengan dibangunnya sebuah Monumen Sobe Sonbai llI terletak di jantung Kota Kupang, tepatnya di Jalan Urip Sumohardjo, monumen ini terletak di jantung Kota Kupang dibangun pada 1974 atas ide salah satu putra Timor asal Timor Tengah Selatan (T.T.S) yaitu Yapy Yapola, yang didukung oleh Suyono Hartoyo yang saat itu menjabat sebagai Sekda Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan peresmiannya pada 31 Juli 1976.

Monumen Sonbai di Jalan Urip Sumoharjo Kota Kupang

Usai ditangkap oleh Pemerintah Hindia Belanda dan berdasarkan keputusan pengadilan; Sobe Sonbai III, kemudian diasingkan ke Waingapu Sumba Timur selama setahun. Setelah itu, Sobe Sonbai III berhasil kembali ke Kauniki Kabupaten Kupang, namun ditangkap kembali dan ditawan di Kupang hingga meninggal dunia, dalam status sebagai tawanan perang. Jenazah Sobe Sonbai III dimakamkan di Fatufeto Kupang pada Agustus 1923.

Untuk menghindari pengkultusan pahlawan yang dapat membangkitkan perlawanan oleh penduduk pribumi, oleh Belanda kuburannya disamarkan agar tidak diketahui jelas keberadaan kuburan Sobe Sonbai III, seorang pahlawan dari Timor tanpa makam.

Namun, kondisi tersebut tak mengurungkan niat keluarga, anak dan cucu Sobe Sonbai III untuk menelusuri keberadaan Pusara atau Makam Raja Sobe Sonbai III. Setelah 98 tahun, mangkatnya Sobe Sonbai III, maka pada tahun 2016; melalui prosesi ritual adat unik dan melibat antropolog Pater Dr. Gregorius Neonbasu, SVD dan Dr. Sulastri Banufinit (cucu Sobe Sonbai III sekaligus antropolog), Pusara Raja Sobe Sonbai III berhasil ditemukan.

Cucu ketiga puluh Sobe Sonbai III, Doktor Sulastri Banufinit

Berlokasi di belakang Rumah Jabatan Wakil Gubernur NTT dan di Rumah Sakit Tentara (RST) Wirasakti Kupang, lokasi tersebut merupakan lahan kosong yang dipenuhi pohon Pisang dan dijadikan lokasi pembuangan sampah.

Kini, oleh keturunan Raja Sobe Sonbai III, lokasi yang diklaim merupakan lahan milik Alfons Loimau yang berukuran sekitar 800 m2 tersebut dijadikan sebagai Sonaf Naime Fontein, tempat di mana bersemayam Pusara Sobe Sonbai III.

Kepada Garda Indonesia, salah satu Cucu Sobe Sonbai III, Dr. Sulastri Banufinit mengatakan bahwa embrio pertama untuk menemukan Pusara Sobe Sonbai III telah digumuli oleh anak, cucu, dan orang tua dari garis keturunan Sobe Sonbai III yang masih hidup sejak 6 (enam) tahun lalu.

“Tak kala kami berdoa kakak/beradik, saudara bersaudara pada 2016, kami memperoleh jawaban bahwa penampakan makam dari Sobe Sonbai III dinyatakan melalui tanda-tanda alam, karena opa kami dan keturunan Sonbai itu punya kekuatan langsung dengan alam. Karena saat belum ada agama, mereka hidup, bergaul, meminta kekuatan, dan menyembah alam bahkan selalu berubah wujud,” urai Doktor Sulastri Banufinit sebagai cucu ketiga puluh dari Sobe Sonbai III saat peringatan mangkatnya Raja Sobe Sonbai III ke-98 yang dilaksanakan di Sonaf Nai Me, Fontein Kota Kupang pada Sabtu, 22 Agustus 2020.

Kemudian, imbuh Doktor Sulastri, saat itu ada tanda-tanda alam yang menyertai, seperti keluarnya buaya, ular, kucing, harimau, dan burung merpati sebagai tanda roh kudus yang menyertai. “Sehingga tahun 2016, seluruh anak, cucu diminta untuk melakukan ritual di seluruh makam Saubaki (sebagai keturunan Sonbai) yang berada di Kota Kupang, lalu mengadakan ritual adat di sini (Sonaf Naeme, red) bersama Pater Gregorius Neonbasu (ahli Antropolog senior).

Pater Dr. Gregorius Neonbasu, SVD (Ahli Antropologi Senior NTT)

Saat mengadakan ritual adat, tambah Doktor Sulastri, ada tanda alam yang menyertai di mana, muncullah 2 (dua) ekor kucing dari makam yang diperintahkan secara supranatural kepada antropolog Greg Neonbasu. “Makam itu, letaknya 6 (enam) langkah dari arah pohon asam dan ternyata betul. Ketika melangkah sebanyak enam langkah, muncul suara yang menyapa, selamat datang pastor melalui kekuatan supranatural,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Doktor Sulastri, Kami menguji kekuatan alam bahwa kosmologi bisa membuka semua tabir kehidupan selama ini. “Dan ternyata betul, saat itu ada tanda alam berupa guyuran hujan lebat karena dalam kepercayaan antropolog atau Nepameto, setiap kunjungan ke makam raja selalu ada hujan,” singkapnya.

Kemudian, pada tanggal 21 Juli 2020, kata Doktor Sulastri, kami melaporkan kepada Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) untuk melakukan ziarah pada hari ini (Sabtu, 22 Agustus 2020 sebagai hari mangkat Sobe Sonbai III). “Dan, setelah kami melaporkan kepada Bapak Gubernur NTT, muncul lagi tanda alam berupa terdamparnya ikan Paus,” pungkasnya.

Usif Welem Sonbai, Cucu dari Sobe Sonbai III (tengah berbaju hijau dan bermahkota adat)

Sementara itu, mewakili Gubernur NTT, Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi NTT Johanna E. Lisapaly mengatakan kegigihan Raja Sobe Sonbai III dalam mengusir penjajah untuk melepaskan masyarakat dalam belenggu penjajahan harus dilanjutkan demi mewujudkan rasa cinta daerah dan tanah air sebagaimana pembangunan mewujudkan kesejahteraan rakyat.

“Peringatan mangkatnya Sobe Sonbai III punya nilai historis yang sangat tinggi bukan saja bagi Timor NTT tetapi bagi bangsa kita dan dunia. Tentunya bisa menjadi sarana sebagai bentuk promosi pariwisata daerah kita dari sisi sejarah, adat dan budaya untuk dipromosikan dan dikenal dunia juga sangat mendukung Pariwisata sebagai prime mover pembangunan di Nusa Tenggara Timur,” papar Johanna di hadapan Bupati TTU, Ray Fernandes (cucu Sobe Sonbai III), Bupati Malaka, Stef Bria Seran, Ketua DPRD Provinsi NTT, Emelia Nomleni; Sesepuh Lembaga Adat Masyarakat Sunda, Aditya Alamsyah; Para Usif, Meo, Atoin Amaf, Tetua Adat, Tokoh Masyarakat, Kepala Suku se-daratan Timor.

Pemberian tanda mata Senjata Kujang dari Sesepuh Masyarakat Adat Sunda, Aba Alamsyah kepada Cucu Sobe Sonbai III, Usif Welem Sonbai di hadapan Pusara Sobe Sonbai III

“Saya atas nama Pemerintah Provinsi NTT memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya pada Keluarga besar Sonbai dan Saubaki. Kegiatan ini sangat bermanfaat dengan bukan hanya mengingat kembali bukti sejarah keberadaan Sobe Sonbai III sebagai Raja dan pahlawan tetapi juga sebagai bentuk eksistensi bahwa leluhur kita pernah bersama-sama dengan dia melakukan perjuangan heroik membela bangsa dan daerah terkhususnya kaum dan suku-suku di Timor untuk menjaga kehormatan daerah,” tandasnya Gubernur VBL melalui Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi NTT.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Prosesi Adat ‘Neka Tana’ Sokong PLN Melistriki Desa Reka di Ende

242 Views

Ende-NTT, Garda Indonesia | Beragam adat istiadat terdapat di setiap kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satunya adalah Desa Reka yang terletak di Kecamatan Ndona Kabupaten Ende. Adat istiadat tersebut digunakan dalam melaksanakan pekerjaan pembangunan jaringan listrik pedesaan.

Di Desa Reka, sebelum pembangunan jaringan listrik harus diawali dengan acara adat yang oleh masyarakat sekitar disebut “Neka Tana” atau dapat diartikan sebagai upacara meminta restu dari leluhur sehingga pekerjaan bisa berjalan aman dan lancar.

Dengan perjalanan sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Ende, medan yang harus ditempuh untuk sampai ke Desa Reka terbilang cukup menantang. Berangkat dari Kota Ende sekitar pukul 08.00 WITA, teman-teman PLN UP2K Flores harus melalui medan yang cukup sulit untuk sampai ke Desa Reka. Setelah sekitar 2 jam perjalanan akhirnya teman-teman PLN UP2K Flores tiba di lokasi.

Setelah tiba di lokasi, teman-teman UP2K (Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan) Flores langsung disambut oleh Mosalaki (Ketua Adat dalam kebudayaan orang Ende) dan mengucapkan terima kasih kepada teman-teman PLN UP2K Flores karena sudah meluangkan waktu untuk hadir bersama mereka dan membawa terang bagi mereka.

Setelah mendapat sambutan yang begitu hangat dari masyarakat desa, acara “Neka Tana” dilaksanakan. Upacara diawali dengan Mosalaki setempat meminta restu kepada leluhur dengan menggunakan bahasa adat, kemudian dilanjutkan dengan penyembelihan hewan di titik yang akan ditanam tiang pada akhir Mei 2020.

Warga Desa Reka bahu-membahu dan membantu PLN UP2K Flores Melistriki desa mereka

Kepala Desa Reka, Nobertus Kondrat Yosef Lana mengatakan Ia dan warga sangat gembira dengan hadirnya listrik di desa mereka.“ Kami sangat senang karena desa kami akan segera menikmati listrik. Kami siap mendukung seluruh rangkaian pekerjaan pembangunan jaringan listrik, salah satunya merelakan pohon dipotong agar tiang listrik dapat didirikan,” ungkapnya.

Secara terpisah, Manager UP2K Flores, Simi Eduard Lapebesi mengatakan warga desa sangat antusias membantu pekerjaan. “Warga desa sangat antusias karena mereka akan segera menikmati listrik. Kerinduan mereka akan hadirnya listrik kini telah terjawab” ungkapnya seraya menyampaikan bahwa Progres Pekerjaan listrik desa ini membutuhkan JTM (Jaringan Tegangan Menengah) sepanjang 2.91 kms (kilo meter sirkuit), JTR (Jaringan Tegangan Rendah) sepanjang 0.86 kms dan 1 Gardu dengan daya sebesar 50kVa.

Simi optimis pekerjaan akan selesai dan menjadi kado Hari Kemerdekaan untuk masyarakat. “Kami targetkan pekerjaan di Desa Reka selesai pada bulan Agustus 2020 sehingga pada Hari Kemerdekaan nanti warga Desa Reka juga merdeka dari kegelapan” tandasnya.

Semoga warga Desa Reka yang sudah 74 tahun merindukan listrik dan juga dengan desa-desa lain yang belum menikmati listrik agar segera merdeka dari kegelapan.(*)

Sumber berita dan foto (Humas PLN UIW NTT)
Editor (+rony banase)

Folemako—Tradisi Makan Adat dari Kabupaten Timor Tengah Utara

1.937 Views

Naiola-T.T.U, Garda Indonesia | Begitu banyak tradisi makan adat [budaya tradisional] yang menjadi budaya daerah di 22 kab./kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); salah satunya adalah tradisi makan bersama secara adat di Kabupaten Timor Tengah Utara (T.T.U).

Folemako (dibaca Fole’ Mako’) merupakan tradisi turun temurun masyarakat adat dari semua suku yang berada di bawah tiga wilayah kerajaan/swapraja yaitu swaraja Miomaffo, Insana dan Biboki yang terbagi atas 18 kefetoran dan 176 temungkung, yakni Swapraja Miomaffo (Kepala Swapraja : G. A. Kono) memiliki 8 kefetoran masing-masing kefetoran Tunbaba, Manamas, Bikomi, Noemuti, Nilulat, Noeltoko, Naktimun dan Aplal. Sedangkan Swapraja Insana (Kepala Swapraja : L. A. N. Taolin) memiliki 5 kefetoran masing-masing kefetoran Oelolok, Ainan, Maubesi, Subun dan Fafinesu; dan Swapraja Biboki (Kepala Swapraja L. T. Manlea) memiliki 5 kefetoran masing-masing kefetoran Ustetu, Oetasi, Bukifan, Taitoh dan Harneno [kutipan https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Timor_Tengah_Utara ].

Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes (mengancungi jempol) dalam Tradisi Folemako di Desa Naiola pada Sabtu, 20 Juni 2020

Tradisi Folemako tetap dipelihara oleh masyarakat adat sejak awal pembentukan Kabupaten T.T.U yang diresmikan pada 9 Agustus 1958 berdasarkan Undang-undang No. 69/1958; hingga saat ini tradisi unik ini tetap dihelat dalam rangkaian upacara adat masyarakat Timor seperti dalam gelaran upacara Ume Tobe (peresmian [Rumah Adat Utama Funan] dan Lopo Tobe [Lopo Adat Utama Funan] di Desa Naiola), Kecamatan Bikomi Selatan pada Sabtu, 20 Juni 2020.

Rumah Adat Tobe Funan di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (T.T.U)

Pemangku Adat [Tobe’] Funan-Oetpah sebagai suku utama merupakan bagian dari Kefetoran Bikomi dan memiliki 10 suku pendamping [Nifuhala’] yaitu Kobi, Oetkuni, Kosat, Arit, Taeko, Sopbanae, Romer Kosat, Kefi, Kollo; menghelat Folemako sebagai rangkaian dari Upacara Adat Kasu Siki.

Pantauan Garda Indonesia, usai dilaksanakan Kasu Siki, dilanjutkan dengan Tradisi Folemako yakni mengonsumsi dan menghabiskan makanan adat [sepiring nasi putih porsi besar dan sepiring daging yang sudah diolah hanya dengan garam] dalam porsi besar sebagai ketentuan khusus bagi tamu undangan yang sudah “Naik Hala” atau sudah duduk di depan meja kayu berukuran panjang [1 meja Hala dapat menampung 50 orang] tempat makanan adat disajikan dan/atau jika makanan yang disediakan tidak sanggup dihabiskan, wajib hukumnya dibawa pulang untuk dihabiskan lagi di rumah dengan keluarga atau teman yang diundang.

Para tamu undangan sudah “Naik Hala” dalam Tradisi Folemako di Desa Naiola

Yang menarik dari Tradisi Folemako, para tamu undangan yang sudah Naik Hala akan disesuaikan dengan makanan adat yang tersedia. Jika masih ada makanan adat yang belum ditempati, maka akan diberikan tanda berupa pemasangan sendok dengan cara ditusuk terbalik dari gagang, sehingga yang muncul hanya kepala sendok.

Sendok makan ditancapkan ke dalam nasi dalam Tradisi Folemako sebagai tanda bahwa belum disantap dan/atau tak boleh disantap [bakal disantap oleh para undangan di sesi berikut]
Satu hal menarik, sebelum menyantap makanan adat bakal dilakukan Natoni [tutur adat Timor]; sesudah menyantap, tamu undangan tak diperkenankan bangun dari tempat duduk meski sudah selesai makan ataupun tak menghabiskan makanan adat yang telah tersaji [Jika bangun dari tempat duduk, bakal didenda adat]. Para tamu undangan bakal bangun serempak usai dilakukan Natoni.

Sebagian besar tamu undangan tidak sanggup menghabiskan makanan adat yang tersaji, hanya Raymundus Sau Fernandes selaku Bupati T.T.U yang diundang sebagai Tobe Fios dari Kefetoran Noemuti. Beberapa tamu undangan, bahkan menggeleng kepala menyatakan tidak sanggup menghabiskan makanan adat dalam Tradisi Folemako.

Hal menarik lainnya, bahan makanan adat berupa beras dan hewan yang dijadikan daging diperoleh dengan cara dikumpulkan secara adat [masing-masing Nifuhala’ diberikan tanggung jawab] yang didasarkan atas kesepakatan bersama. Dalam Tradisi Folemako yang dihelat di Desa Naiola, menghabiskan 800 kg [dari 1 ton beras yang terkumpul] dan disembelih 13 ekor babi dan 2 ekor sapi.

Penulis, editor, foto dan video (+rony banase)

Hingga Tahun 2020, Tercatat 72 Bahasa Daerah di Provinsi NTT

1.602 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kantor Bahasa Nusa Tenggara Timur adalah Unit Pelaksana Teknis di bawah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menjalankan tugas dan fungsi pelindungan, pengembangan, dan pembinaan bahasa.

Dalam fungsinya untuk pengembangan, pembinaan, pelindungan terhadap bahasa dan sastra yakni bahasa daerah, Kantor Bahasa Provinsi NTT terus melakukan pembaharuan terhadap khazanah bahasa daerah yang masih terpelihara dan digunakan sebagai komunikasi di berbagai daerah di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd., M.Hum. kepada Garda Indonesia, pada Kamis siang, 28 Mei 2020, mengatakan bahwa terdapat perubahan dan penambahan jumlah bahasa daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Kondisi saat ini, tercatat 72 bahasa daerah di Provinsi NTT,” ungkap Valentina seraya menyampaikan sebelumnya pada tahun 2019 tercatat 68 bahasa daerah.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd., M.Hum.

Proses pemutakhiran data jumlah bahasa daerah di Provinsi NTT, ujar Valentina, dilakukan berdasarkan pemetaan terhadap beberapa kabupaten dalam satu tahun. “Untuk tahun 2020, Kantor Bahasa NTT melakukan pemetaan di tiga kabupaten yakni di Ende, Sikka, dan Kabupaten Ngada,” urainya.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2019/02/05/68-bahasa-daerah-di-ntt-ayo-pelihara-lestarikan/

Senada, Peneliti Kebahasaan Kantor Bahasa Provinsi NTT, Salimulloh Tegar Sanubarianto menyampaikan bahwa tercatat penambahan empat bahasa yang telah teridentifikasi yakni bahasa Kodi di Sumba Barat Daya, bahasa Kafoa di Alor, bahasa Lona di Alor, dan bahasa Sar di Alor.

“Sementara, bahasa Loli di Sumba Barat merupakan bahasa daerah yang biasa digunakan di sana (sebelumnya, tercatat bahasa Sumba Barat),” ungkap Salim sapaan akrabnya.

Keempat bahasa tersebut, tandas Salim, bukanlah bahasa yang baru muncul, namun merupakan bahasa yang baru berhasil dipetakan oleh Badan Bahasa dan dimasukkan dalam Peta Bahasa di Indonesia.

Adapun 72 bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur dengan perincian sebagai berikut:

  1. Bahasa Abui;
  2. Bahasa Adang;
  3. Bahasa Alor;
  4. Bahasa Anakalang;
  5. Bahasa Bajo;
  6. Bahasa Bajo Delang;
  7. Bahasa Batu;
  8. Bahasa Blagar;
  9. Bahasa Buna (Bunak);
  10. Bahasa Dawan;
  11. Bahasa Deing;
  12. Bahasa Dulolong;
  13. Bahasa Gaura;
  14. Bahasa Hamap;
  15. Bahasa Helong;
  16. Bahasa Hewa;
  17. Bahasa Kabola;
  18. Bahasa Kaera;
  19. Bahasa Kafoa di Alor;
  20. Bahasa Kalela (Kawela);
  21. Bahasa Kamang;
  22. Bahasa Kambera;
  23. Bahasa Kambera Pandawai;
  24. Bahasa Kedang;
  25. Bahasa Kemak;
  26. Bahasa Kiraman;
  27. Bahasa Klamu;
  28. Bahasa Klon;
  29. Bahasa Kodi di Sumba Barat;
  30. Bahasa Kolama;
  31. Bahasa Komodo;
  32. Bahasa Kui;
  33. Bahasa Kulatera;
  34. Bahasa Lababa;
  35. Bahasa Lamaholot;
  36. Bahasa Lamatuka;
  37. Bahasa Lamboya;
  38. Bahasa Lewuka;
  39. Bahasa Lio;
  40. Bahasa Lona di Alor;
  41. Bahasa Loli di Sumba Barat;
  42. Bahasa Lura;
  43. Bahasa Mambora;
  44. Bahasa Manggarai;
  45. Bahasa Manulea;
  46. Bahasa Melayu;
  47. Bahasa Nage;
  48. Bahasa Namut;
  49. Bahasa Ndao;
  50. Bahasa Ndora;
  51. Bahasa Nedebeng;
  52. Bahasa Ngada;
  53. Bahasa Omesuri;
  54. Bahasa Palu’e;
  55. Bahasa Pura;
  56. Bahasa Raijua;
  57. Bahasa Retta;
  58. Bahasa Riung;
  59. Bahasa Rongga;
  60. Bahasa Rote;
  61. Bahasa Sabu;
  62. Bahasa Sar di Alor;
  63. Bahasa Sawila;
  64. Bahasa Sikka;
  65. Bahasa So’a;
  66. Bahasa Tabundung;
  67. Bahasa Teiwa;
  68. Bahasa Tetun;
  69. Bahasa Tewa;
  70. Bahasa Wanukaka (Wanokaka);
  71. Bahasa Wersing (Wirasina);
  72. Bahasa Wewewa (Wejewa).

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto utama oleh imujio.com