Arsip Kategori: Wisata dan Budaya

Anak Bali Gembira, Cinta Seni dan Budaya

123 Views

Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Selama 2 (dua) minggu berada di Pulau Bali, ada hal menarik dan mengusik saya menelusuri kecintaan masyarakat Bali terutama anak-anak terhadap seni dan budaya Bali.

Saat berada di Banjar Kolepekan, Desa Tumbakbayuh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali pada Rabu, 16 Oktober 2019 sekitar pukul 18.30 WITA saat prosesi odalan sedang berlangsung; saya melihat sebuah pemandangan menarik ketika sedang melakukan pemotretan terhadap para anak-anak Bali yang sedang berlatih Gamelan Bali.

Anak Bali yang berusia sekitar 6—9 tahun tersebut sedang menabuh gendang dan memainkan Gamelan Bali. Mereka tampak menikmati latihan kecil tersebut sambil ditemani orang tua mereka yang sedang menanti upacara odalan. Dengan saling memberikan dukungan terhadap satu sama lain, anak-anak Bali di Banjar Kolepekan tersebut larut dalam ritme alunan Gamelan Bali.

Sebelumnya, sekitar pukul 17.30 WITA, tak jauh dari Banjar Kolepekan, lebih tepatnya di Sanggah dekat Jembatan Kecil berlangsung odalan yang diikuti oleh masyarakat sekitar yang datang secara bergantian untuk bersembahyang memuja Sang Hyang Widhi.

Mereka berdatangan dengan pakaian adat Bali dan membawa serta anak-anak yang turut larut dalam odalan tersebut. Tampak seorang anak perempuan berusia sekitar 9 tahun kyusuk dalam doanya disamping ibu dan bapaknya.

Berselang beberapa menit, datang seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 7 (tujuh) tahun bersama ayahnya yang juga turut larut dalam sakralnya odalan yang dipimpin oleh pandita.

Anak-anak tersebut terlihat gembira dan larut dalam kekusyukan ritual odalan sambil mengamati sekeliling mereka dan berinteraksi dengan teman-teman sebaya.

Lebih menarik, saat datang seorang ibu dan anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun berpakaian adat Bali lengkap dengan sesajen. Sambil memegang tangan ibunya, anak laki-laki tersebut mengikuti setiap gerak gerik ibunya dari awal hingga berakhirnya prosesi odalan.

Wajah bahagia terpancar dari raut wajah imutnya yang menarik perhatian saya untuk memotret perilakunya. Aura bahagia yang terpancar darinya meresap ke relung kalbuku.

Anak Bali di Desa Kolepekan hanya baru secuil gambaran kebahagiaan anak-anak. Masih banyak anak-anak serupa yang sangat bahagia saat bersama orang tua mereka bersama mengikuti ritual seni dan budaya Bali.

Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Prof.Dr.I Gede Arya Sugiartha, S.Skar., M.Hum. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Seni Budaya dalam sesi Konferensi Pers Festival Bali Jani 2019 di Aula Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali pada Selasa, 22 Oktober 2019 mengatakan bahwa seni tradisi dan budaya Bali sudah dibangun sejak anak-anak.

“Dampaknya bagi anak muda Bali, mereka sangat mencintai tradisi. Kita juga memberikan ruang ekspresi bagi anak-anak dan sejak tahun 1970 Pemerintah Bali telah berfokus untuk menggarap seni tradisi agar selalu lestari dan dicintai anak-anak,” tutur Prof I Gede Arya menjawab pertanyaan Garda Indonesia mengenai apakah ada degradasi terhadap kecintaan anak Bali terhadap seni dan budaya Bali.

Penulis, editor dan foto (+Hironimus Dure Banase )

IKKON Kupang & Perajin Tenun Penkase, Hasilkan Pewarna Alam & Tenun Khas

147 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Tim Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON) Kupang melaksanakan Tanabae Festival 2019 yang merupakan wujud akuntabilitas publik dari tim IKKON kepada masyarakat Kota Kupang.

Kegiatan yang dilangsungkan di alun-alun Subasuka Cafe and Restoran, dimeriahkan oleh pameran berbagai hasil kreasi kolaborasi IKKON Kupang dengan setiap stakeholder kreatif di Kota Kupang.

Pada Tanabae Festival 2019, IKKON Kupang yang berkolaborasi dengan Perajin tenun dari Penkase Oeleta, memamerkan hasil tenun dengan warna yang berbeda dari tenun sebelumnya.

Desainer Produksi IKKON Kupang, Wisnu Purbandaru yang ditemui media ini di stan pameran hasil tenun Mama-mama dari Penkase mengatakan bahwa tim IKKON Kupang memberikan workshop kepada para perajin tenun pada beberapa bulan lalu, terutama terkait penggunaan warna alami.

“Sebenarnya mereka (perajin tenun), sudah tahu warna-warna alami itu, tapi mereka berpikir bahwa itu mahal dan akhirnya ditinggalkan. Mereka memilih menggunakan benang yang dijual di toko,” jelas Wisnu.

Setelah bertemu dan bertukar pikiran, lanjut Wisnu akhirnya masyarakat perajin tenun kembali menggunakan pewarna alam yang sudah ada dan membuat beberapa motif baru.

“Setelah workshop, kita sama-sama membuat pewarna alam tersebut lalu kita gunakan serta kita buat motif baru yaitu daun sepe,” ujarnya.

Deretan tenun khas yang dipamerkan dalam Festival Tanabae 2019

Sebelum bertemu Tim IKKON Kupang, para penenun menggunakan benang-benang yang dijual di toko-toko dengan berbagai warna. Dan harga jual untuk 1 selendang yang dibuat itu berkisar antara Rp.30.000—40.000,- saja.

“Pewarna alam itu digunakan pada benang katun. Jadi dari hasilnya, bisa dijual 1 selendang seharga Rp.100.000—200.000,-saja,” tutur Wisnu.

Bahkan hasil tenun kolaborasi tersebut, sudah dibawa dan dipamerkan pada Festival Bekraf di Solo dan animo pengunjung saat itu sangat tinggi serta hasil tenunan tersebut banyak menuai pujian.

Sementara itu, Elizabeth Selly selaku desainer tekstil tim IKKON Kupang, di sela-sela kesibukannya menjelaskan kepada para pengunjung yang melihat hasil kreasi tersebut mengatakan bahwa ada kurang lebih 8 (delapan) warna alam yang mereka hasilkan.

“Warna alam yang ditemukan dari tanaman sekitar 8 warna, yaitu merah sepe, lembayung, biru langit, coklat, kuning, hitam, warna gading sama warna krem,” jelas Elizabeth.

Elizabeth menjelaskan bahwa dari satu tanaman bisa menghasilkan beberapa warna tergantung campuran yang diberikan. “Tanaman yang digunakan yang itu-itu saja, seperti kulit pohon mahoni dan kulit pohon burung atau pohon secang. Warnanya tergantung dicampur dengan apa. Kalau dicampur dengan tawas itu akan menghasilkan satu warna, kalau dengan kapur itu warnanya berbeda lagi,” ujarnya.

Selain tanaman-tanaman tersebut, untuk pewarna alami digunakan bisa menggunakan kunyit dan pohon kersen. Elizabeth menjelaskan bahwa pihaknya dalam memilih warna selalu menyesuaikan dengan bahan alam yang ada, sehingga yang tidak bisa ditemukan tidak digunakan.

“Warna yang sulit ditemukan adalah warna biru, tapi akhirnya kami berhasil mendapat warna biru langit,” tuturnya.

Dirinya pun mengungkapkan adanya kemungkinan muncul lapangan pekerjaan baru serta mampu mendongkrak perekonomian masyarakat, yaitu dengan produksi pewarna alam tersebut. “Bisa jadi. Karena dari Dekranasda juga memberikan bimbingan terkait pembuatan warna juga. Dan instruktur warna dekranasda pastinya banyak memberikan ilmu bagi masyarakat, “ jelas perempuan cantik asal Denpasar itu.

Elizabeth juga berterima kasih karena melalui kolaborasi tersebut dirinya juga belajar banyak hal dari Mama-mama perajin tenun di Penkase terkait warna alam dari bahan-bahan alam. “Saya memberikan ilmu desain, tapi saya juga belajar ilmu pewarna dari mama-mama di Penkase. Kita saling bertukar, itulah proses kolaborasi kita, “ pungkas Elizabeth.

Nama festival ‘Tanabae’ merupakan bahasa Kupang, dalam bahasa Indonesia baku ‘Tanah baik’, yang sebenarnya ingin disampaikan oleh tim IKKON Kupang bahwa Kupang adalah daerah yang penuh potensi. Biasanya orang-orang Kupang mengatakan ‘bae sonde bae tanah Kupang lebe bae’. Biar tanah lain lebih baik, tanah Kupang tetap lebih baik. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Wisatawan Mancanegara & Domestik Kagum Pesona Kelabba Maja

155 Views

Sabu Raijua-NTT, Garda Indonesia | Pesona Kelabba Maja, obyek wisata di Kecamatan Mesara Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengusik perhatian dunia melalui pagelaran even Festival Jelajah Pesona Kelabba Maja yang dihelat pada 9—12 September 2019.

Tak hanya penduduk asli Sabu Raijua, wisatawan domestik dan mancanegara turut mengambil bagian menyaksikan pesona Kelabba Maja yang dipercaya oleh masyarakat Sabu sebagai tempat bersemayam para dewa dan tempat pemujaan bagi penganut aliran kepercayaan.

3 (tiga) batu mazbah utama di Kelabba Maja Sabu Raijua

Sepintas pengamatan Garda Indonesia saat berada di lokasi, terdapat 3 (tiga) buah mazbah (*meja tinggi dari kayu, batu; dan sebagainya tempat mempersembahkan kurban, KBBI V versi Luring), seperti yang masih dilakukan oleh penganut aliran kepercayaan Jingitiu (*Sumber https://saburaijuakab.go.id/halaman/agama) ; yang mana beberapa norma kepercayaan asli masih tetap dipertahankan, antara lain penggunaan kalender adat saat menentukan waktu bertanam dan waktu yang tepat untuk melaksanakan upacara. Selain itu, beberapa masyarakat juga masih menerapkan ketentuan hidup adat atau Uku yang konon dipercaya mengatur seluruh kehidupan manusia dan berasal dari leluhur mereka.

Wisatawan Domestik asal Ternate, Deby Coralia Toni (24 tahun)

Seorang wisatawan domestik asal Ternate, Deby Coralia Toni (24 tahun) menyampaikan bahwa NTT sangat cantik dan memperoleh informasi dari teman tentang Festival Kelabba Maja.

“Saya penasaran dan ingin melihat langsung karena saya suka eksplorasi tempat wisata yang belum banyak orang tahu dan saya suka jalan di NTT,” ujar Alumni Universitas Khairun Ternate tahun 2018.

Penyuka traveling ini juga mengatakan akan membuat sebuah video tentang keindahan Sabu Raijua dan membagikan ke chanel youtube dan instagram miliknya.

Selain itu, Deby juga menyampaikan niat untuk mengunjungi Pulau Raijua namun tidak terdapat dalam jadwal (schedule) Festival Jelajah Pesona Kelabba Maja.

Berbeda dengan wisatawan mancanegara asal Perancis, Juliette yang mengunjungi Kelabba Maja bersama suami dan anaknya, Guillaume, Jo dan Elodie. Kepada media ini Juliette mengatakan bahwa suaminya seorang koki (chef) yang sering berkunjung ke Sabu menggunakan perahu layar (sail boat) dari Perancis.

“Kami sekeluarga menggunakan perahu layar dari Perancis, ke Australia kemudian ke Indonesia, Sabu Raijua,” ujarnya pada Kamis, 12 September 2019

“Kami sangat beruntung bisa mengikuti Festival Pesona Jelajah Kelabba dan kami akan menulis tentang pengalaman terbaik kami di sini dan menulis tentang Sabu Raijua di portal berita (website) di http://www.travelthe7seas.com, “ tandas Juliette.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Pengukuhan Keluarga Besar Maumere, Gubernur NTT Pinta Olah Narasi Budaya

150 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengharapkan agar Kerukunan Keluarga Besar Maumere (KKBM) mampu bernarasi tentang budaya yang ada di Kabupaten Sikka.

Pinta Gubernur Viktor disampaikannya saat mengikuti acara Pengukuhan Badan Pengurus Kerukunan Keluarga Besar Maumere di GOR Oepoi Kupang, pada Sabtu, 28 September 2019.

“Jangan kita buatkan program yang banyak tetapi tidak berjalan baik, lebih baik kita buat satu program saja yang dampaknya sangat baik kedepannya. Saya minta pengurus KKBM yang akan dikukuhkan ini, untuk cukup membuat satu program unggulan, yakni membuat Narasi tentang seluruh budaya yang berasal dari Kabupaten Sikka. Karena dengan Narasi yang baik akan membuat orang lain semakin mengagumi setiap budaya yang ada. Karena sebagai Gubernur saya berprinsip bahwa hidup tanpa narasi sama dengan kering dan hambar,” pinta Gubernur Viktor Laiskodat.

“Saya sangat yakin orang Sikka itu hebat menulis. Lagu saja ditulis dan saat ini sudah mendunia. Contohnya lagu Gemu Famire yang baru saja dinyanyikan oleh penyanyi aslinya. Sehingga sangat disayangkan kalau budaya yang merupakan warisan dari nenek moyang kita dahulu kala, tidak mampu diceritakan kembali saat ini. Urusan benar atau salah bukan menjadi soal, namanya juga cerita, bisa benar bisa juga salah,” sambung Gubernur NTT.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat saat menyampaikan arahannya usai pengukuhan Kerukunan Keluarga Besar Maumere (KKBM)

Tampil dengan pakaian adat Sikka, Gubernur Viktor Laiskodat kembali menyerukan keyakinannya bahwa kedepan NTT akan mampu bangkit dan melompat mengejar ketertinggalannya.

“Saya tidak sedang berkampanye saat ini. Tetapi saya yakin NTT akan berkembang pesat dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama lagi. Selagi anak mudanya mau dengan penuh percaya diri bekerja, selagi kita tidak tertarik dengan perdebatan yang penuh kebodohan dan ketidakyakinan, maka sebagai Gubernur saya pastikan NTT akan bangkit dan menjadi hebat,” ungkap orang nomor satu di NTT ini.

“Saat ini sedang ramai di media sosial yang mengatakan bahwa pemerintah saat ini anti terhadap kritikan. Sebagai Gubernur saya sama sekali tidak anti terhadap kritikan. Sepanjang kritikan itu untuk membangun, dan tentunya dengan pengetahuan yang baik dan mampu membuat saya tercengang, maka saya pasti akan menerimanya. Tetapi kalau orang yang mengkritisi itu tujuannya untuk memecahbelah pemerintahan dengan pengetahuan yang rendah, maka saya tidak akan pernah menerimanya. Oleh karena itu saya minta pihak KKBM untuk silakan mengkritik pemerintah saat ini dengan pendapat atau argumen yang baik, untuk kemajuan NTT kedepannya,” tandas Viktor.

“Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya minta pihak KKBM untuk mampu bekerja sama dengan pihak Pemerintah Kabupaten Sikka agar kedepannya juga mampu membuat masyarakat dari luar daerah berdecak kagum. Darah muda yang dimiliki oleh Bupati saat ini, tentu membawa nilai positif bagi kemajuan Nian Tana kedepannya,” ungkap Laiskodat.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Ketua terpilih Kerukunan Keluarga Besar Maumere , Theo da Cunha mengucapkan terima kasih atas kehadiran Gubernur saat ini.

“Suatu kehormatan bagi kami, karena bapak Gubernur berkenan hadir saat ini. Dan tentunya hal ini menjadi motivasi bagi kami untuk kedepannya bekerja lebih baik lagi,” kata Theo.

Turut hadir dalam kesempatan ini, Bupati Sikka, Robby Idong, Ketua DPRD Provinsi NTT, Emilia Nomleni, mantan ketua KKBM, Kristo Blasin dan pengurus KKBM serta undangan lainnya. (*)

Sumber berita (*/Sam Babys/Staf Biro Humas dan Protokol NTT)
Editor (+rony banase)

Bangun Kembali ‘Ume Kbubu’, Dukung Observatorium Terbesar di Asia Tenggara

117 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Observatorium yang akan dibangun di Timau, Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) bakal menjadi Observatorium terbesar se Asia Tenggara.

Pembangunan tersebut akan didukung dengan pembangunan kembali ‘ume kbubu’ atau rumah bulat sebagai syarat utama sebuah observatorium yang tidak ada polusi cahaya.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Daniel Daud Kameo, S.E., M.A., Ph.d. kepada awak media seusai kuliah umum bersama para mahasiswa jurusan Pariwisata, Politeknik Negeri Kupang pada Jumat, 27 September 2019.

Prof. Daniel Daud Kameo, S.E., M.A., PH.d.

“Memang pada akhirnya kita akui bahwa apa yang kita punya dulu, itu adalah yang paling benar. Yang kita buang, kita ganti dengan seng, dengan batu, semen, akhirnya panas setengah mati,” ujar Comeo.

Lanjutnya, daun gewang dan alang-alang sangat cocok untuk kondisi kita di NTT. Selain itu, membangun kembali ‘ume kbubu’ juga mendukung sekali untuk observatorium karena cahaya dari dalam rumah tidak terpantul keluar.

Selain itu, syarat lainnya yaitu jumlah malam tempat yang dipilih sebagai tempat observatorium harus memiliki jumlah malam bersih paling banyak dalam satu tahun.

“Kalau ada hujan, ada awan itu sangat mengganggu. Kalau kita di Timau, dengan mata kosong saja kita sudah bisa melihat bentuk pulau-pulau di bulan,” jelas Cameo.

Lanjutnya, malam terang tanpa cahaya itu yang dibutuhkan untuk observatorium. Sehingga pemasangan listrik di Timau juga, semua lampu jalannya akan dipasang mengarah ke bawah.

Cameo menjelaskan bahwa pembangunan observatorium terbesar se-Asia Tenggara tersebut dimulai tahun anggaran 2019. “Pembangunannya mulai tahun ini”, pungkas Cameo. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase) Foto eksklusif

Bupati TTU Ray Fernandes: Kita Harus Hargai & Hormati Tata Busana Adat

252 Views

Kefa-T.T.U, Garda Indonesia | “Selama kurun waktu 9 (sembilan) tahun kami telah mewajibkan ASN dan masyarakat untuk mengenakan busana adat lengkap,” ujar Bupati Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) usai upacara bendera memperingati HUT ke-97 Kota Kefamenanu pada Minggu, 22 September 2019 di Kantor Bupati TTU.

“Setiap hari kamis sejak sembilan tahun lalu, seluruh aparatur mengenakan atribut adat lengkap,” ungkap Bupati Ray yang tampil elegan dengan balutan busana adat dari Insana.

Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab TTU dengan balutan busana adat lengkap

Pernyataan tersebut disampaikan Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, S.Pt. kepada para awak media cetak, elektronik dan daring (online) saat wawancara eksklusif dalam rangkaian kegiatan HUT ke-97 Kota Kefamenanu.

Bupati Ray juga menekankan pentingnya menghormati dan menghargai atribut adat. “Kalau kita tidak menghargai tata cara berbusana adat yang benar lalu siapa yang menghormati dan menghargai,” tanya Bupati Ray yang telah memimpin Kabupaten Timor Tengah Utara selama 2 (dua) periode.

Selain itu, ujar Bupati Ray, setiap pengenaan busana adat lengkap menunjukkan strata sosial yang ada di masyarakat Timor Tengah Utara. “Oleh karena itu kita mengharapkan masyarakat dapat memahami dan menggunakan secara benar sehingga tidak mengaburkan makna dan pesan dari atribut adat itu,” pinta Bupati Ray.

Murid SD dan SMP mengenakan busana adat dari daerah masing-masing

Upacara bendera yang dimulai pada pukul 10.00 WITA—selesai tersebut mewajibkan peserta upacara untuk mengenakan pakaian adat dari daerah masing-masing yang memberikan warna menarik dan unik. tak hanya busana ada TTU namun berbagai busana adat nusantara tampak dikenakan oleh murid SD, SMP, SMA/SMK/MAN, Mahasiswa, ASN, Muspida TTU, dan Forkompinda.

Pantauan Garda Indonesia, tampak hadir Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora yang mengenakan busana adat lengkap dari Insana.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Tapak Tilas Kota Kefa, Refleksi Terbentuknya Kab.Timor Tengah Utara

166 Views

Kefa-T.T.U, Garda Indonesia | 22 September 2019, Kefamenanu sebagai ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-97. Berbagai kegiatan perayaan dilaksanakan oleh Pemkab TTU seperti Pameran dan Pesta Rakyat di pelataran Kantor Bupati, Tarian Bonet massal, upacara bendera bernuansa budaya dan tapak tilas.

Tapak Tilas Kota Kefamenanu diikuti oleh 35 tim (1 tim 5 orang) dari pelajar SMA/SMK dan unsur masyarakat yang menempuh rute kurang lebih 40 km dengan rute awal di Noeltoko Kecamatan Miomafo Barat kemudian melalui beberapa etape dan berakhir di Kantor Bupati TTU. 35 tim Tapak Tilas dilepas oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten TTU, Fransiskus Tilis pada Sabtu, 21 September 2019 pukul 09.30 WITA dan akan menggapai etape akhir di Lapangan Oemanu pada Minggu sore, 22 September 2019.

Sekda Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Fransiskus Tilis

Kepada Garda Indonesia, Sekda TTU menyampaikan bahwa tapak tilas ini terjadi saat salah satu ASN Pemkab TTU, Wilibrodus Silab yang menelusuri sejarah pembentukan pemerintahan TTU.

“Penelusuran terbentuknya Kabupaten TTU merupakan proses panjang dan Noeltoko sebagai pusat pemerintahan awal namun kondisi Noeltoko dianggap pemerintah feodal (Pemerintah Hindia Belanda) tidak memadai sehingga dilakukan proses pencarian lokasi ibukota Kabupaten TTU hingga ditemukan Kefamenanu sebagai ibukota Kabupaten TTU,” jelas Frans Tilis sapaan akrabnya.

Lanjutnya, ibukota TTU sejak berdiri pada tahun 1922 terus berpindah di beberapa lokasi dan tapak tilas merupakan sebuah proses menapaki setiap proses pencarian tempat ideal untuk pusat pemerintahan.

“Tapak Tilas ini juga sebagai bentuk edukasi bagi generasi muda agar mereka dapat menghargai sejarah karena memperoleh sesuatu tidak semudah membalikkan telapak tangan dan harus melalui perjuangan panjang,” tegas Frans Tilis.

Selain itu, jelas Frans Tilis, Tapak Tilas ini juga dilombakan dan para peserta akan diberikan apresiasi saat puncak peringatan HUT Ke-97 Kota Kefamenanu.

Salah satu Tim Tapak Tilas Kota Kefamenanu

Disamping itu, Plt. Kadis Pariwisata Kabupaten TTU, Raymundus Thal menuturkan bahwa pemberangkatan 35 tim tapak tilas dilaksanakan pada Jumat, 20 September 2019 di Kantor Dinas Pariwisata kemudian menuju ke Noeltoko.

“Sebelumnya para peserta tapak tilas mengikuti pembekalan tentang kriteria penilaian kerja sama peserta, kekompakkan, pengetahuan umum dan sejarah Kota Kefamenanu,” terang Raymundus Thal.

Mengenai rute tapak tilas, Ray Thal menjabarkan, 35 tim Tapak Tilas menempuh rute dari Desa Noeltoko, Desa Oetulu, Desa Batnes, Desa Oeolo lalu menyusuri perbatasan TTU dan Timor Leste di Desa Nainaban dan Desa Inbate kemudian melalui Desa Buk dan bermalam di Desa Haumeni. Selanjutnya peserta melanjutkan tapak tilas ke Fatusuba, Fatusene, dan berakhir di Kefa.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)