Arsip Kategori: Wisata dan Budaya

Semangat Menenun Sanggar Nunupu Kuneru Diapresiasi Dekranasda Belu

186 Views

Belu – NTT, Garda Indonesia | Ketua Dekranasda/TP PKK Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dra. Freni Indriani Yanuarika dan Wakil Ketua Rinawati BR Perangin Angin, S.E., M.M. bersama rombongan berkunjung ke Sanggar Tenun Ikat Nunupu Kuneru di Kelurahan Manumutin, RT 12, RW 04, Kecamatan Kota Atambua, pada Selasa, 25 Mei 2021; memberikan apresiasi atas semangat belajar anak-anak dan para pengajar. Meskipun dalam kondisi yang serba terbatas, tetapi tetap memiliki keinginan untuk belajar tenun.

“Luar biasa, kondisi yang sangat sederhana membuat ibu-ibu guru dan anak-anak tetap semangat ingin belajar tenun. Semoga dengan sekolah tenun seperti ini, bisa menjadi inspirasi bagi anak – anak lain di Kabupaten Belu,” ungkap Ketua Dekranasda Belu, Dra. Freni Indriani Yanuarika dan Wakil Ketua Rinawati BR Perangin Angin, S.E., M.M.

Anak–anak, imbuh Freni Indriani Yanuarika (Istri Bupati Belu, red), bisa belajar untuk melestarikan dan mengembangkan warisan leluhur secara turun temurun dengan modal terbatas. “Dan saya sangat bangga atas semangat ibu-ibu yang mau membantu. Tentunya kami akan memberikan bimbingan dan pendampingan sehingga keberadaan sekolah tenun bagi anak-anak ini bisa berjalan terus, tidak hanya untuk jangka pendek tetapi jangka panjang”, tandasnya.

Ketua Dekranasda/TP PKK Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dra. Freni Indriani Yanuarika (berbusa tenun hijau) dan Wakil Ketua Rinawati BR Perangin Angin, S.E., M.M. (berbusa putih dan tenun) bersama rombongan berkunjung ke Sanggar Tenun Ikat Nunupu Kuneru di Kelurahan Manumutin, RT 12, RW 04, Kecamatan Kota Atambua, pada Selasa, 25 Mei 2021

Ketua Sanggar Tenun Ikat Nunupu, Anastasia Dorathea Mau mengemukakan, kelompok tenun ini terbentuk sejak 9 Februari 2021. Saat ini, baru berjalan selama kurang lebih empat bulan.

Kegiatan belajar tenun ini, urai Ketua Sanggar, dilakukan 2 (dua) kali seminggu, setiap hari Rabu dan Jumat mulai pukul 15.00—16.00 WITA. Peserta berjumlah 15 orang, SMA 5 orang, SMP 4 orang, dan SD 6 orang.

“Walaupun kondisi kami yang sangat terbatas, tidak mengurangi semangat anak-anak untuk belajar. Dengan adanya belajar tenun ikat yang kita tanamkan kepada anak-anak usia dini, maka anak-anak semakin mencintai budaya Indonesia, khususnya budaya orang Belu. Karena, Tenun Belu untuk mengangkat derajat kaum perempuan yang ada di Kabupaten Belu,” terang Anastasia, Ketua Sanggar Tenun Ikat Nunupu.

Foto bersama Dekranasda Belu dan Sanggar Tenun Ikat Nunupu Kuneru

Untuk mendukung proses belajar tenun anak–anak, Anastasia berharap, Pemerintah Kabupaten Belu bisa memberikan bantuan alat-alat tenun dan gedung yang memadai, sehingga semangat belajar para peserta dalam bertenun tidak terkendala.

Turut hadir dalam kunjungan tersebut, Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Belu,  Yasinta Rinjani Bria, A.Pi, M.Si., Sekretaris Dinas PP dan KB Kabupaten Belu drg. Ansila Eka Muti, Kepala Bidang Industri Dinas Perindag Kabupaten Belu, Erni Ganggas, S.H. (*)

Sumber Berita + foto: kominfobelu

Editor: Herminus Halek

Yuk, Ikut Lomba Virtual Tari Busana Tenun Ikat dari Sanggar Tari Hati Bapa

279 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sanggar Tari Hati Bapa berencana menghelat even “Lomba Tarian Berbusana Tenun Ikat” dengan berbagai jenis tarian yang bakal dilaksanakan pada Minggu kedua Juni 2021. Menggandeng Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Link Aja (LinkAja adalah layanan keuangan digital dari Telkomsel dan anggota Badan Usaha Milik Negara berupa uang elektronik).

Lomba yang digagas oleh Sandra Amalo Kadja selaku pendiri dan pengelola Sanggar Tari Hati Bapa bersama Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, I Wayan Darmawa dan Hirawan Wibisana dari Link Aja dalam sesi jumpa media pada Selasa, 18 Mei 2021 di Kantor Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, mengungkapkan kategori Lomba Tarian Berbusana Tenun Ikat dengan konsep penampilan secara virtual berlaku bagi peserta remaja hingga dewasa dengan kisaran umur 15—35 tahun.

Pendiri dan pengelola Sanggar Tari Hati Bapa, Sandra Amalo  Kajda

“Untuk saat ini hanya berlaku untuk remaja hingga dewasa, namun di lain waktu, kami akan membuka lomba bagi anak-anak. Saat ini kami belum bisa membuka segmen ke anak-anak karena penilaian ada standar khusus dengan penggunaan busa tenun NTT,” urai Sandra.

Konsep yang digagas, imbuh Sandra Amalo Kadja, dengan menampilkan berbagai jenis tarian dengan tetap mengedepankan penggunaan tenun ikat motif NTT. “Kami membuka ruang dengan menitikberatkan pada penggunaan tenun ikat saat mementaskan berbagai jenis tarian,” ujarnya seraya menyampaikan mengapa mengusung tema “Tarian Penyembahan Meminta Perlindungan dan Pemulihan untuk Provinsi NTT”, Sandra Amalo menguraikan bahwa membuka ruang besar bagi para seniman untuk berkolaborasi dengan tarian kontemporer, modern dance, tari kreasi maupun balet.

Adapun mekanisme mengikuti lomba dengan biaya pendaftaran lomba sebesar 50 ribu rupiah bagi individu dan grup dengan biaya 100 ribu rupiah yang didaftarkan melalui Link Aja dan para calon peserta bakal terhubung ke laman atau website  https://event.sthbkupang.id yang telah disediakan oleh tim panitia dengan obrolan fitur online chat dan bakal diarahkan menuju tahapan selanjutnya. Pemenang lomba bakal memperoleh piala, uang tunai, suvenir dari sponsor, dan voucher menginap di hotel.

Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, I Wayan Darmawa (kiri) dan Sandra Amalo Kadja (kanan) saat sesi jumpa media pada Selasa, 18 Mei 2021

Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), I Wayan Darmawa menandaskan bahwa konsep kegiatan virtual masih akan tetap digunakan meski pandemi telah selesai. “Ini sebuah model lomba yang terus kita dorong dalam keterbatasan anggaran dan masyarakat di pelosok pun dapat mengikuti dengan hanya bermodalkan perangkat pendukung dan internet,” urainya.

Ke depan, imbuh Wayan Darmawa, bakal ada pergeseran budaya menikmati hiburan dari tatap muka ke virtual. “Sekarang hanya dengan mengandalkan YouTube kita bisa menikmati berbagai hiburan termasuk berbagai jenis tarian,” pungkasnya.

Penulis, editor dan foto (+roni banase)

Usai Listrik Nyala, Geliat Ekonomi Koja Doi Tumbuh Bersama Bank NTT

332 Views

Koja Doi, Garda Indonesia | Menikmati listrik energi baru terbarukan dengan harga terjangkau menjadi cerita haru bagi warga Desa Kojadoi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT; usai hadirnya PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) pada Kamis, 28 November 2019, menjadi hari bersejarah bagi mereka di mana sejak Indonesia Merdeka, Desa Koja Doi tidak pernah menikmati terangnya cahaya dari energi listrik.

Dilansir dari Humas PLN UIW NTT, setelah penantian panjang tepat, PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT mulai mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk menerangi Desa Koja Doi yang merupakan PLTS Komunal dengan daya 190 kWp.

Desa Koja Doi berada di Pulau Koja Doi yang menyerupai janin bayi dan terkenal dengan Jembatan Batu ini merupakan 1 (satu) dari 10 desa di kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia; meraih penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) pada tahun 2019 oleh Kementrian Pariwisata.  Desa ini memiliki 3 dusun yakni Dusun Kojadoi, Dusun Kojagete dan Dusun Margajong.

Pendamping Lokal Desa Koja Doi, Marhaing (51) menyampaikan sebelum PLTS masuk yang jelas pertama sekali sepertinya belum Merdeka. “Dulu saat belum ada PLTS yang jelas pertama sekali sepertinya kami belum merdeka, dan setelah adanya Listrik yang terpenting ini kita punya kampung sudah terang, anak-anak bisa belajar pada malam hari, pendapatan warga ada peningkatan dan sudah masuknya informasi-informasi melalui media komunikasi ” terangnya.

Lanjutnya, “Pemakaian minyak tanah juga dulunya boros dalam sebulan pemakaiannya hampir kurang lebih 15 liter di mana 1 liter seharga Rp 10.000,- selain sebagai bahan bakar kompor mereka juga harus menyalakan lampu pelita sebagai penerangan di malam hari. Namun, sekarang dengan biaya Rp.20 ribu untuk pemakaian 1 bulan dengan daya 900VA bisa digunakan untuk Lampu, TV, dan Kipas Angin yang dinyalakan selama 24 jam.

Jaringan PLTS PLN UIW NTT di Pulau Koja Doi

Saat pembangunan PLTS di Desa Koja Doi, ungkap Marhaing, mengalami tantangan saat mobilisasi material karena jalannya yang susah untuk dilalui dan tidak adanya alat berat pengangkut material, maka warga di Desa Koja Doi bersemangat gotong royong memikul material dari pelabuhan menuju lokasi pembangunan PLTS yang jaraknya kurang lebih 3 km.

Sementara itu , Manager UP3 (Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan ) Saut Pandjaitan menyampaikan, “Kehadiran PLTS ini mampu melistriki 147 KK dan dalam pemeliharaannya dilakukan oleh 2 (dua) orang. Harapannya PLTS yang telah hadir dapat dijaga bersama dan terus mendorong kesejahteraan dan menumbuhkan ekonomi warga Koja Doi.

Perekonomian Desa Koja Doi Bertumbuh Bersama Bank NTT

Desa Koja Doi pun mendapat sentuhan dan intervensi program dari Bank NTT. Pulau yang berpenghuni 1.543 jiwa (468 kepala keluarga) dan dikenal dengan wisata Batu Purba dan Jembatan Batu tersebut telah menyiapkan diri menjadi Desa Wisata Berbasis Digital.

Bank NTT telah mendirikan Lopo Dia Bisa dan menempatkan Agen Dia Bisa yang memberlakukan pembayaran QRIS (pembayaran digital) terhadap semua transaksi Perbankan yang dilakukan oleh para wisatawan saat berkunjung ke desa tersebut.

Disaksikan Garda Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho saat membeli kerajinan masyarakat, hanya dengan melakukan scan QR, maka pembayaran dengan uang elektronik atau sistem cashless tersebut pun selesai, sehingga tak perlu membayar dengan uang tunai.

Pimpinan Cabang Bank NTT Maumere, Stefanus Tuga saat diwawancarai oleh Stenly Boimau dari Timor Express

Perhatian serius Bank NTT terhadap pengembangan konsep Desa Wisata Kajo Doi juga dilakukan terhadap pengelolaan hunian warga yang dijadikan sebagai homestay.

Disampaikan Pimpinan Cabang Bank NTT Maumere, Stefanus Tuga pada Selasa sore, 8 Desember 2020, sebanyak 8 dari 18 homestay telah menggunakan barcode QRIS Bank NTT. “Bank NTT membiayai perbaikan infrastruktur di dalam homestay (tempat tidur, sanitasi toilet sesuai standar wisatawan), kisaran kredit yang diberikan sebesar 5—15 juta rupiah,” urainya.

Sementara, Ketua BumDes Desa Wisata Koja Doi, Juaeni menyampaikan terima kasih kepada Bank NTT yang telah menyediakan dana perbaikan fasilitas homestay termasuk fasilitasnya. “Sementara dilakukan pengembangan dengan tarif per malam sebesar 100 ribu. Kita sudah difasilitasi oleh Bank NTT, maka ke depan, bakal dinaikkan menjadi 200 ribu per malam,” ungkapnya.

Pihak BumDes juga memberdayakan masyarakat lain, termasuk kelompok dasawisma yang mengurus makan minum agar semua menerima manfaat. “Kami berterima kasih kepada Bank NTT karena telah meningkatkan kapasitas homestay, meskipun dikembalikan, selama ini kami kewalahan dengan pendanaan karena penghasilan kami pas-pasan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Koja Doi, Hanawi menyampaikan kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Koja Doi berasal dari domestik dan mancanegara. “Didominasi oleh wisatawan lokal, namun wisatawan dari mancanegara dari Perancis, Italia, Venezuela, dan Inggris yang menginap di rumah warga dan banyak catatan. Oleh karena itu, kami bermitra dengan Bank NTT kemudian menyesuaikan dan mengembangkan pariwisata terkait usaha homestay dan kerajinan masyarakat,” ungkapnya.

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho membeli kerajinan Desa Wisata Koja Doi dan membayarnya menggunakan QRis Bank NTT

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho saat meresmikan Lopo Dia Dia Bisa di Desa Koja Doi menyampaikan Bank NTT merasa terpanggil untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi di sana. “Kita merasa terpanggil menjadi bagian dari penggerak ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan dukungan sumber daya manusia dan sumber daya alam di Koja Doi dapat memberikan kami (Bank NTT, red) kesempatan berada di tengah-tengah masyarakat,” ujar Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho saat meresmikan Lopo Dia Bisa di Pulau Koja Doi yang berada di gugusan pulau Kabupaten Sikka pada Selasa sore, 8 Desember 2020.

Lopo Dia Bisa di Pulau Koja Doi memajang dan menjual aneka kerajinan masyarakat yang dominan berasal dari Suku Buton tersebut, seperti tenun ikat, kerajinan Perahu Pinishi, dan meja kayu unik. “Lopo Dia bisa juga bermanfaat bagi peningkatan ekonomi rumah tangga masyarakat saat wisatawan datang menikmati panorama wisata,” terang Alex Riwu Kaho.

Selain Lopo Dia Bisa, urai Direktur Utama Bank NTT, di Desa Wisata Koja Doi yang berada di Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka; juga tersedia 2 (dua) Agen Dia Bisa Bank NTT (Digital Agen) yakni Sansa Alifa dan Atika Cell untuk membantu masyarakat menikmati layanan perbankan seperti pembelian pulsa telepon, transfer uang. “Untuk transfer, masyarakat dapat melakukan pengiriman uang hanya dengan menyebutkan nomor rekening tujuan dan jumlah ùang yang hendak dikirim, jika berhasl terkirim bakal keluar struk, kemudian menyerahkan uang sejumlah yang ditransfer,” jelas Alex Riwu Kaho.

Saat ini, tandas Alex Riwu Kaho di hadapan Kepala Desa Koja Doi, Hanawi; jika mau bayar pajak bumi dan bangunan (PBB), dan tagihan pajak kendaraan bermotor bisa melalui Lopo Dia Bisa. Selain di Koja Doi, Lopo Dia Bisa di Kabupaten Sikka juga terdapat di Sekolah Tinggi Ledelero, Daerah Kewapante, dan Cafe Rindu Lokaria.

Usai meresmikan Lopo Dia Bisa, Direktur Utama Bank NTT juga membeli kerajinan masyarakat Koja Doi berupa tenun ikat, miniatur Kapal Pinishi dan membayarnya menggunakan QRis Bank NTT. Kemudian meninjau home stay berbasis Warga Koja Doi yang memperoleh dukungan Bank NTT, melihat lebih dekat wisata Bukit Batu Purba, dan Jembatan Batu.

Saat peresmian Lopo Dia Bisa Bank NTT di Pulau Koja Doi, selain didampingi oleh Kadiv IT, Kadiv Kredit Mikro, dan Pimpinan Cabang Bank NTT Maumere, Stefanus Tuga; Alex Riwu Kaho juga memboyong para pengusaha muda antara lain Wakil Ketua Kadin NTT, Bobby Lianto; Ketua REI NTT, Bobby Pitoby; dan Direktur Utama Garda Maritim, Yusak Benu yang sebelumnya telah bertemu Bupati Sikka, Robby Idong guna membicarakan kerja sama peningkatan ekonomi.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto utama oleh PLN UIW NTT

“Empati VBL” Tari Lego-Lego Alor Hiasi Pelantikan Tiga Bupati-Wabup

268 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Empati dari Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) ditunjukkan dengan mengajak para penari dari SMA Negeri Tamalabang, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, untuk mewarnai dan turut menyukseskan pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Belu, Malaka, Sumba Barat pada Senin pagi, 26 April 2021.

Simak video penampilan Tarian Lego-Lego yang dipentaskan oleh Siswa-Siswi SMA Negeri Tamabalang di link bawah ini: https://youtu.be/2lrZd6BW8n8

Kehadiran siswa-siswi SMA Negeri Tamalabang yang juga turut menjadi korban bencana Badai Seroja yang melanda 15 Kabupaten/Kota di wilayah NTT pada tenggang waktu 3—5 April 2021, tercetus saat Gubernur VBL melakukan kunjungan kerja dan melihat dari dekat dampak bencana yang meluluhlantakkan wilayah Kabupaten Alor.

Saat melihat anak-anak SMA Negeri Tamabalang, maka terpantik empati dari VBL untuk mengajak mereka ke Kupang untuk menampilkan Tarian Lego – Lego dalam mengiringi ketiga Bupati-Wakil Bupati masuk ke Aula El Tari dan bersiap untuk dilantik.

Siswa-Siswi SMA Negeri Tamabalang saat memasuki aula El Tari usai menjalani pemeriksaan oleh Tim Obvit Polda NTT

Pantuan Garda Indonesia yang berkesempatan meliput langsung pelantikan Bupati-Wakil Bupati hasil Pilkada Serentak pada 9 Desember 2020 tersebut, saat menampilkan Tarian Lego-Lego dengan sangat antusias dan enerjik, namun anak-anak SMA Negeri Tamabalang tetap mengedepankan protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker.

Tarian Lego-Lego yang dipentaskan anak-anak korban Badai Seroja di Pulau Pantar Alor dengan ragam Sebara Buri, Buri Gor Lerang yakni sebuah bentuk ajakan untuk semua warga tani agar tetap ada dalam kebersamaan dan kesatuan yang kokoh untuk terus bersemangat dalam mengerjakan sebuah pekerjaan dan Boweli Serang Botang yakni sebuah wujud ucapan syukur atas keberhasilan yang diterima oleh warga tani yang dilakukan secara adat.

Siswa-SiswiSMA Negeri Tamabalang pose bersama Pelatih Tari Lego-Lego, Mei Waang sesaat sebelum pentas

Pelatih Tari Siswa-Siswi SMA Negeri Tamabalang, Mei Waang kepada Garda Indonesia mengungkapkan saat anak-anak mementaskan tarian di hadapan Gubernur VBL, kemudian memperoleh empati dan selanjutnya diminta untuk pentas sesaat sebelum upacara pelantikan Bupati dan Wakil Bupati terpilih Kabupaten Belu, Malaka dan Sumba Barat.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/04/26/prokes-ketat-gubernur-lantik-bupati-wabup-belu-malaka-sumba-barat/

“Beliau (Gubernur VBL, red) merupakan utusan dari Tuhan sebagai hambanya untuk datang melihat kami para korban bencana di Kecamatan Pantar Timur dan Pantar Tengah. Dan di situ kami merasa sukacita, meski kami dalam kesedihan, namun kami terus tampil semangat untuk menjemput para pemimpin kami, karena kami yakin Tuhan akan menolong melalui pemerintah, terlebih khusus Bapak Gubernur yang hadir di tengah kami,” ungkapnya.

Usai mementaskan Tarian Lego-Lego, tandas Mei Waang, Gubernur VBL langsung meminta anak-anak harus tampil dalam pelantikan Bupati-Wakil Bupati Belu, Malaka, dan Sumba Barat di Aula El Tari Kupang.

Penulis, editor dan foto (+roni banase)

Rawat Kampung Adat Maghilewa, Yayasan Arnoldus Wea Bantu ‘Sound System’

171 Views

Maghilewa, Garda Indonesia | Yayasan Arnoldus Wea Dhegha Nua menyerahkan bantuan berupa seperangkat sound system kepada Komunitas Pariwisata Kampung Adat (KOMPAK) Maghilewa, pada Sabtu 17 April 2021 pukul 13.00 WITA, di Sa’o Ine Wua, Kampung Maghilewa, Desa Inerie, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Penyerahan bantuan seperangkat sound system ini dilakukan oleh Reinard L. Meo, Yohanes E. Watu, dan Andy Lena selaku Pengurus Yayasan Arnoldus Wea Dhegha Nua disaksikan oleh Pemerintah Desa Inerie, Perangkat Dusun Maghilewa, Tokoh Masyarakat, dan sejumlah warga Kampung Adat Maghilewa. Ini merupakan salah satu program kerja Divisi AWPeduli. Co-Founder Yayasan Arnoldus Wea Dhegha Nua, Arnoldus Wea, menyebut alasan paling mendasar yang melatari penyerahan bantuan ini ialah agar Kampung Adat Maghilewa tetap lestari.

“Migrasi warga merupakan ancaman terbesar bagi keberlangsungan Kampung Adat Maghilewa ini. Upaya pencegahan sejak dini perlu terus diupayakan. Penyerahan seperangkat sound system ini bukan upaya pertama. Sudah ada berbagai upaya yang dilakukan sebelumnya, sebagai misal rehabilitasi Rumah Adat (Sa’o) dan pembentukan Komunitas Pariwisata Kampung Adat (KOMPAK) Maghilewa,” ungkap Arnoldus Wea yang biasa disapa AW kepada wartawan, pada Sabtu malam, 17 April 2021.

Menurutnya, sound system yang diserahkan, dimaksudkan untuk mendukung kerja-kerja KOMPAK, antara lain memperlancar pertemuan, sosialisasi, tonton bersama, diskusi, dan semua hal terkait pengembangan juga pelestarian Kampung Adat Maghilewa, sesuai Misi Yayasan Arnoldus Wea Dhegha Nua. “Sasaran jangka panjangnya ialah agar Kampung Maghilewa juga masuk dalam salah satu destinasi wisata di Ngada. Diharapkan juga, bantuan ini dapat berguna dan dipergunakan sebagaimana mestinya,” kata AW.

Sebagai penerima, Ketua Komunitas Pariwisata Kampung Adat (KOMPAK) Maghilewa, Pelipus Wea (58 tahun), mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Arnoldus Wea Dhegha Nua. “Seperangkat sound system yang diserahkan, sungguh amat bermanfaat demi memperlancar program dan kerja KOMPAK ke depannya dan akan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan bersama. KOMPAK menjamin keamanan sound system ini dan akan membuat peraturan agar digunakan secara tepat sasar, dirawat, sehingga bertahan untuk jangka waktu yang lama,” ucap Pelipus.

Hadir juga Kepala Desa Inerie, Benediktus Milo (65 tahun). Kades Inerie memberi pesan agar KOMPAK harus tetap kompak. Selain mengimbau agar bantuan yang diberikan oleh Yayasan Arnoldus Wea Dhegha Nua ini dijaga dan digunakan secara baik dan benar, Benediktus Milo juga menyinggung soal kebersihan Kampung Adat Maghilewa serta Jere dan Watu sebagai kampung tetangga. “Tanggung jawab menjaga kampung harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya Pengurus KOMPAK atau Yayasan Arnoldus Wea Dhegha Nua,” tegas Milo.

Daniel Tato (71 tahun) selaku Tokoh Masyarakat pun berpesan agar bantuan yang diberikan harus dijaga. “Seluruh masyarakat harus juga mendukung KOMPAK dan Yayasan Arnoldus Wea Dhegha Nua. Harus jaga, harus dukung,” ajaknya. (*)

Sumber berita dan foto (*/AWTim/MSD)

Editor (+roni banase)

Jagung dan Tradisi Makan Jagung Adat Masyarakat Timor

549 Views

Oleh : Roni Banase

Tanaman Jagung bagi masyarakat yang bermukim di daratan seluas sekitar 15.000 km (termasuk di Negara Republik Demokratik Timor Leste[RDTL]) mempunyai beragam manfaat, mulai dari sebagai makanan pokok yang dapat diolah menjadi Jagung Katemak (rebusan bulir Jagung tua beserta beragam sayur mayur, red) dan Jagung Bose (jagung yang diolah dengan cara ditimpa dalam palungan kayu hingga kulit terkelupas kemudian dimasak dengan santan dan dicampur kacang-kacangan, red) hingga dijadikan Jagung Bunga atau Popcorn.

Namun, untuk saat ini, saya ingin menyuguhkan informasi bagaimana Orang Timor khususnya di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperlakukan tanaman dengan nama ilmiah Zea Mays yang merupakan salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat terpenting di dunia, selain gandum dan padi.

Bagi warga di Desa Naiola (tempat Papa dan Mama menghabiskan masa tua mereka, red), selain sebagai ketahanan pangan, Jagung juga memiliki nilai historis adat yang sarat makna. Tak hanya asal ditanam, lalu dibiarkan tumbuh sendiri tanpa perawatan, namun sebelum di tanam Saat awal musim hujan (Oktober hingga Maret); Jagung diambil dari tempat penyimpanan selama kurang lebih setahun bahkan lebih yang mana disimpan di lumbung pangan Masyarakat Timor yakni Lopo. Di atas bubungan Lopo, atau loteng Lopo, Jagung disimpan sebagai bibit sekaligus berfungsi sebagai ketahanan pangan.

Prosesi mempersembahkan Jagung hasil panen kepada Leluhur Laki-laki di Hau Monef

Pastinya kita penasaran, mengapa harus disimpan di Lopo, bukannya tinggal membeli saja di toko bibit Pertanian? Karena bagi masyarakat Timor, bibit Jagung yang berasal dari stok yang disimpan telah melewati proses “Pemberkatan” atau telah didoakan oleh 3 (tiga) unsur yakni Allah, Alam, dan Arwah yang memiliki satu kesatuan utuh.

Bagaimana proses tersebut terjadi dan apa saja yang dilakukan oleh Masyarakat Timor? Saya pun tergelitik untuk menelusuri, meski saya lahir dari rahim seorang Ibu berdarah Rote bermarga Mooy dan Ayah asli Orang Timor bermarga Banase dan dibesarkan di Kota Kupang, namun kami telah berkunjung ke tempat kelahiran masing-masing orang tua kami sejak masih kecil dan menikmati setiap proses hidup dari hal sederhana hingga mencermati, mengamati, dan ikut melakukan prosesi upacara adat.

Harus diakui, saya pun jarang menikmati yang namanya Jagung Katemak, selain karena agak keras, makanan ini memang agak susah dicerna oleh lambung yang telah terbiasa dengan asupan nasi, jika dipaksa maka bakal berurusan saat menuju ke kamar kecil, di situ bakal membutuhkan waktu lama. Serupa dengan Jagung Bose, meski agak lunak dengan campuran santan Kelapa, namun serupa bakal berkontraksi dengan lambung.

Makan Jagung Adat Masyarakat Timor di Desa Naiola, tak ada Subordinasi antara Laki-laki dan Perempuan, duduk bersama menikmati Jagung hasil panen

Selanjutnya, saya lebih memilih menyantap Jagung Muda Rebus, seperti yang disuguhkan dalam prosesi upacara “Makan Jagung Adat” atau Tatek Pena Keluarga Banase di Desa Naiola pada Sabtu, 6 Maret 2021, saat menjenguk Papa dan Mama di sana sekaligus mengikuti prosesi tersebut. Sebagai anak sulung laki-laki, saya pun punya tanggung jawab untuk mengikuti lekuk prosesi itu, mulai dari memberikan ucapan terima kasih dengan menyembelih Ayam lalu disuguhkan dengan Jagung hasil bercocok tanam kepada 3 (tiga) unsur hingga pada proses akhir yakni menyantap secara bersama atau “Makan Jagung Adat”.

Yang membuat saya takjub dan kaget, saat “Makan Jagung Adat” kami para lelaki duduk bersama setara dengan kaum perempuan (tak ada Subordinasi), karena semua saudara dalam lingkaran pertalian kawin mawin datang untuk mengikuti prosesi tersebut. Mereka pun harus datang membawa hasil Jagung mereka yang dipotong dan diikat dengan cara beragam.

Saya pun disuguhi 5 tongkol Jagung Muda beserta potongan daging Ayam Rebus dan wajib memakan hingga habis, meski telah mencoba untuk menyantap hingga ludes, namun apa daya lambung tak bisa menyesuaikan. Namun, yang membuat saya terkesan, karena penuturan dari Bapak Tadeus Lae, beliau Ketua Badan Pemasyarakatan Desa (BPD) Desa Naiola. Menurutnya, tradisi “Makan Jagung Adat” masih terpelihara hingga kini dan dilakukan oleh setiap rumpun keluarga di setiap masa Tanaman Jagung telah masuk masa panen, biasanya pada bulan Maret setiap tahun.

Satu Aesap Jagung dan satu Pentauf Jagung diikat dan digantung di Lopo atau Ume Tobe

“Saat Jagung sudah siap panen, maka dipotong dan diikat lalu bakar lilin kepada leluhur sebagai ucapan terima kasih karena telah ikut menjaga dan merawat,” tutur Tadeus seraya menyampaikan hasil Jagung tersebut juga disimpan di Lopo atau Ume Tobe dan dipersembahkan ke Raja untuk disimpan di Lopo Tobe.

Saat menanam bibit Jagung yang diambil dari Lopo, imbuh Tadeus, Kita memberitahu Kakek dan Nenek yang telah mendahului agar ikut menjaga dan merawat tanaman Jagung. “Saat siap panen, maka kita harus memberitahu para leluhur dan memberikan masing-masing dari hasil kebun kepada Leluhur Laki-laki di Hau Monef atau Kayu Tuhan (potongan kayu bercabang tiga dengan ketinggian berbeda sebagai simbol Bapa, Putra, dan Roh Kudus), sementara untuk Leluhur Perempuan berada di dalam rumah berupa “Tatakan Batu” tempat membakar lilin dan menyuguhkan persembahan hasil kebun,” urainya.

Nah, saat panen Jagung hasil kebun, lalu diikat sebanyak 7 (tujuh) tongkol dalam satu rumpun atau disebut ‘Pentauf’ (sebagai simbol 7 hari dalam seminggu) dan diikat sebanyak 10 tongkol Jagung atau disebut ‘Aisap’ untuk digantung di Lopo dan dijadikan bibit, kemudian dimasukkan ke Ume Tobe dan Lopo Tobe, kemudian diatur untuk diserahkan ke Gereja dan Raja.

“Selanjutnya, 1 Aisap dan 1 Pentauf Jagung hasil kebun diserahkan dan disimpan di Lopo Tobe. Kita yang dapat lebih banyak hasil panen, sementara kita dapat lebih banyak hasil kebun,” urai Tadeus Lae sembari mengajak saya menikmati Jagung Muda Rebus hasil kebun Papa dan Mama sambil menelisik warga desa yang sedang melintasi jalan dengan memikul Potongan Pohon Jagung Muda untuk melakukan hal serupa yang sedang kami lakukan yakni “Tradisi Makan Jagung Adat Masyarakat Timor”.

Foto (*/koleksi pribadi)

Di Fatu Kapal Matahari Tenggelam di Hatimu, Destinasi di Ketiak Kota Kupang

4.300 Views

Oleh : Marsel Robot dan Tim Dosen PKM Undana dan Kepala Pusat Studi Kebudayaan dan Pariwisata Undana

Sensualitas Pulau Timor acap dihubungkan dengan hamparan sabana disulam lenguh sapi menerpa dinding tebing, atau onggokan pulau yang berserakan di telapak semesta. Belakangan, tidak hanya itu. Gunung Batu bercerita tentang Timor sebagai pulau yang indah. Kita mengenal beberapa bukit batu yang telah menjadi destinasi wisata, di antaranya gunung batu Fatu Le’u (Kabupaten Kupang), Fatu Kopa di Amanuban Timur (TTS), Fatu Braun (Amarasi, Kabupaten Kupang), Fatu Mnasi (Molo, TTS). Fatu Na’usus (Molo, TTS), Fatu Un (Kolbano, TTS). Bukit-bukit batu menjadi ikonik wisata alam di pulau ini. Di atas bukit batu itu, Anda menjahit serpihan kenangan yang meliar dan puisi-puisi orang kasmaran merimbun di atas karang.

Namun, masih ada bukit batu yang luput dari catatan album kenangan Anda. Bahkan, kenangan Anda tak akan ranum bila belum mencapai bukit batu yang satu ini yakni Fatu Kapal (Batu kapal). Batu yang berbentuk kapal, lengkap dengan anjungan, geladak, dan buritan.

Batu Kapal, tampak depan yang merupakan anjungan. Kiri dan kanan terdapat geladak batu. Dari atas batu ini Anda bisa menyaksikan purnama sunset paling sempurna. Fatu Kapal terletak di Kelurahan Naioni Kecamatan Alak, Kota Kupang. Tampak destinasi ini belum disentuh oleh pemerintah Kota Kupang. Keadaannya sangat alami. (Foto, dokumen Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Undana).

Panjang Fatu Kapal kurang lebih 75 meter, lebar 20 meter, dan tinggi 18 meter. Anjungan menghadap ke barat yang dibatasi rongga dengan badan kapal bagian belakang. Samping kiri dan kanan berbentuk geladak terbuka yang cukup lebar. Jika Anda berada di anjungan Batu Kapal dan menunggu purnama sunset merayap di ubun bukit barat, maka kota dan kata seakan raib di sana. Sebab, Anda hanya terkagum memergok ulah matahari membuka gerendel senja. Terasa sempurna dengan kepak burung camar di barat mendorong samar. Pun percakapan binatang malam menambah mistik di sekitar tubuh batu. Sambil memandang kedipan matahari terakhir di ujung pulau, mungkin hanya seutas kalimat yang melukiskan keadaan itu, “Fatu Kapal memagut hatimu dan terasa matahari terbenam di hatimu.”

Fatu Kapal terletak di Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Destinasi wisata ini bagai tersembunyi di ketiak Kota Kupang (dekat yang terasa jauh), karena belum dijamah oleh pemerintah Kota Kupang. Akses ke Fatu Kapal cepat dan jalan terbilang mulus. Anda hanya membutuhkan waktu 30 menit dengan sepeda motor atau mobil dari pusat Kota Kupang, Hanya 32 menit dari Bandara Internasional El Tari Kupang dan 35 menit dari Pelabuhan Tenau.

Panorama Matahari Terbenam (sunset) di Fatu Kapal

Jika Anda berangkat dari Kota Kupang, maka Anda memilih jalur jembatan Petuk, lebih sepi, hingga Gapura Fatu Koa. Dari Gapura Fatu Koa Anda hanya membutuhkan 15 menit sampai ke Fatu Kapal. Jika Anda datang dari luar Kota Kupang, menginap, maka Hotel Silvia, Hotel Sasando, atau hotel-hotel di Kota Kupang bisa menjadi pilihan. Sebab, Anda hanya membutuhkan waktu 30 menit dengan kendaraan roda dua atau roda empat untuk sampai ke Fatu Kapal. Jalan masuk sebelum kantor Kelurahan Naioni. Hanya 13 menit mengarungi jalan aspal sempit, dan 7 menit melewati jalan batu hingga Batu Kapal. Mungkin keadaan itulah yang menyebabkan Fatu Kapal terlewatkan dari intip intim warga Kota Kupang, wisatawan domestik, atau wisatawan asing.

Eksotik Fatu Kapal diperkuat oleh lima batu gunung di sekitarnya. Pada bagian samping kanan batu terdapat Batu Ike Perempuan dan Batu Ike Laki-Laki. Jarak antara Fatu Ike Laki-laki dan Fatu Ike Perempuan 20 meter. Sedangkan jarak kedua batu itu dengan batu kapal sekitar 30 meter atau tak jauh dari buritan Fatu Kapal. Raut Batu Ike Laki-laki dan Batu Ike Perempuan menghadap Fatu Kapal. Menurut Bapak Kleopas, pemilik tanah di lokasi Fatu Ike, nama Fatu Ike berasal dari kata fatu yang berarti batu dan ike adalah alat pintalan benang yang berbentuk kerucut. Posisi demikian seakan menyampaikan kisah tentang pengantar penumpang yang hendak berangkat dengan Fatu Kapal. Memang tak ada tangan melambai, tak ada bintik air mata, bahkan tak tertinggal legenda hubungan ketiga batu itu. Itulah salah satu keunikan Fatu Kapal. Bukan hanya tempat paling representatif memergok mentari tenggelam, tetapi ia memberikan kita perenungan tentang legenda batu itu. Itulah yang menyebabkan eksotik batu kapal dan batu Ike dapat di mata, jatuh di hati dan belum tiba di pikiran.

Fatu Ike Laki-laki yang tampak menjulang tinggi sekitar 21 meter. Jarak 30 meter dari Fatu Kapal. Fatu Ike berasal dari kata fatu yang berarti batu dan ike adalah alat lintingan kapas menjadi benang. Kisah ini menyimpan kuat tradisi menenun di kalangan masyarakat Timor. Tak ada konotasi lain dari segi bentuk batu ini. Ada juga yang berkisah bahwa kata ike berasal dari ika, merupakan keong laut yang juga digunakan untuk memintal kapas menjadi benang. (Foto, dokumen Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Undana).

Tidak hanya itu, 30 meter bagian kiri anjungan Fatu Kapal terdapat Fatu Biloka. Fatu ini menurut penduduk setempat dapat didaki dan di sana akan tampak purnama sunset yang tak kalah indahnya dibandingkan dengan sunset di anjungan Batu Kapal. Empat gunung batu berjejer berdekatan seakan pohon-pohon abadi yang terus berbicara dengan kebisuannya.

Jika hendak bepergian ke Fatu Kapal atau ke Fatu Ike untuk waktu yang lama, memang memerlukan persiapan. Soal akomodasi memang tak tersedia di sana. Anda membawa sendiri air minum, makanan ringan atau apa pun. Sebab, di sana belum ada lapak jualan atau pedagang, warung, atau kedai kopi. Atau jika Anda tak ingin repot dengan hal-hal seperti itu, maka siang hari Anda boleh menikmati makan siang di rumah makan Sari Pita di ujung Jembatan Petuk, rumah makan di Sikumana, atau di pusat Kota Kupang.

Juga, belum ada pondok wisata atau home stay buat bermalam di sekitar Fatu Kapal dan Fatu Ike. Maklum, destinasi ini masih amat perawan dan belum disentuh oleh pemerintah. Namun, jarak begitu dekat dari pusat Kota Kupang memudahkan semua orang untuk mengakses langsung dari hotel-hotel di Kota Kupang yang hanya ditempuh 35 menit. Mungkin itu salah satu alasan, pemerintah Kota Kupang belum menggarap wilayah destinasi Naioni secara serius.

Namun, Bapak Kleopas, salah seorang pemilik tanah di Fatu Ike mengatakan, “kami siap bekerja sama dengan pemerintah Kota Kupang untuk mengelola daerah ini sebagai destinasi wisata Kota Kupang.” Sayangnya, Dinas Pariwisata Kota Kupang belum menjamah ke sana. Berkali-kali Tim PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat Undana) meminta bermitra dengan Dinas Pariwisata Kota untuk menggarap Fatu Kapal sebagai destinasi, tak direspons.

Fatu Biloka yang juga tidak jauh dari Batu Kapal. Di atas batu ini dapat menikmati sunset secara sempurna. Terkesan pohon-pohon batu merimbun di kelilingi Fatu Kapal, suatu pemandangan yang tidak hanya indah di mata, tetapi melengket di hati dan tersisah di pikiran mengapa semesta ini begitu ajaib. (Foto, dokumen Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Undana).

Jangan percaya narasi ini sebelum Anda pergi menjadi penumpang di Fatu Kapal. Tentu menumpang bukan untuk berangkat ke mana dan tak ada pelabuhan untuk berlabuh. Tetapi, di atas Fatu Kapal itu, Anda akan memandang sunset purnama yang perlahan merebah di pangkuan senja. Pun sensasi Kota Kupang dengan kerlap-kerlip lampu kota yang manja menyapu galau. Kepak camar mempercepat senja. Laut seakan menjauh, kenangan merapat, dan matahari terbenam di hatimu.

Pater Gregorius Neonbasu : “Allah, Alam, dan Arwah Itu Satu Kesatuan”

1.780 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Antropolog Budaya Pater Gregorius Neonbasu SVD, PhD. mengemukakan bahwa ia membutuhkan orang-orang untuk terlibat dan memastikan keberadaan makam Sobe Sonbai III. Dari menggunakan media mimpi dari cucu Sobe Sonbai III, bantuan para tetua adat untuk melakukan kontak supranatural hingga berujung pada tanda alam, maka pada tahun 2016; melalui prosesi ritual adat unik dan melibatkan dirinya dan Dr. Sulastri Banufinit (cucu Sobe Sonbai III sekaligus antropolog), Pusara Raja Sobe Sonbai III berhasil ditemukan.

Baca juga: https://gardaindonesia.id/2020/08/22/pusara-sobe-sonbai-iii-ditemukan-vbl-dukung-jadi-destinasi-budaya/

“Saya pikir semua itu, istilah bahu-membahu sampai menemukan itu. Tanpa mereka, itu sulit. Karena saya membutuhkan mereka,” ungkapnya kepada Garda Indonesia pada perayaan mangkatnya Raja Sobe Sonbai III ke-98 yang dilaksanakan di Sonaf Nai Me, Fontein Kota Kupang pada Sabtu, 22 Agustus 2020.

Antropolog Budaya dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang tersebut pun menegaskan kadang-kadang ada yang datang dengan visi yang berbeda, itu tidak menjadi soal intinya terlibat dalam proses menemukan makam Sobe Sonbai III.

Macam Sonbai juga punya pemikiran lain, imbuh Gregorius Neonbasu, Jadi it takes time, alam yang membuat. “Saya memang percaya kosmos kuat. Alam hadir begini yang tidak setuju jadi setuju. Kalau saya bicara semacam doa tadi, itu tadi saya belum omong lain. Kalau saya bicara lain, ini untuk kamu orang Timor,” tuturnya.

Rumah Adat (Lopo Tobe) Suku Funan di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten TTU

“Alam, Arwah dan Allah dalam teori sistem itu satu kesatuan. Ada satu istilah yang bilang ‘Extra Mundum Nulla Salus’, artinya tanpa dunia tidak ada keselamatan. Dunia ada baru Yesus datang untuk menyelamatkan manusia,” ungkap rohaniwan Katolik ini.

Tambah Pater Gregorius Neonbasu, “Arwah ini, setelah meninggal berada di sekitar Allah, mereka bantu manusia supaya hidup selaras dengan alam. Itu ada istilah latin ‘Serva Ordinem Et Servabit Te’, artinya peliharalah alam supaya alam memelihara engkau,” urainya.

Jadi, tandasnya, ekologi dan ekosistem kita sekarang ini rusak, karena kita memakai sistem lain bukannya sistem natural. “Karena itu Allah, Alam dan Arwah itu tiga serangkai yang tidak bisa dipisahkan,” tegas Pater Gregorius Neonbasu.

Lanjutnya, Sekarang kalau mau berbicara seperti itu dan bandingkan dengan tradisi kita, jangan pikir bahwa kita dulu tidak kenal Allah. “Itu tidak benar !, kita dulu sudah kenal. Itu tanda bahwa orang kita percaya bahwa Allah, Alam dan Arwah sebagai mediator.” pungkasnya.

Manifestasi Allah, Alam, dan Arwah bagi Orang Timor

Manifestasi keterkaitan antara Allah, Alam dan Arwah, diterapkan oleh masyarakat suku Timor di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dalam ritual adat dengan wadah berupa Kayu Tuhan atau Ha’u Monef. Kayu berukuran diameter relatif dengan tinggi sekitar 50—100 cm tersebut, memiliki tiga cabang dengan tinggi berbeda.

Ha’u Monef di salah satu rumah warga Desa Naiola

Satu cabang utama dari Ha’u Monef (tertinggi,red) merupakan manifestasi dari Allah, cabang kedua agak rendah sebagai manifestasi Alam, dan cabang ketiga (terendah) sebagai manifestasi Arwah, dan semua cabang tersebut berada dalam satu batang pohon sebagai simbol satu kesatuan utuh.

Seperti dituturkan oleh Tetua Adat Desa Naiola di Lopo Tobe Funan, Kecamatan Bikomi Selatan, Fransiskus Kunsaol Funan (91) pada Senin, 7 September 2020 (dengan Bahasa Daerah Timor dan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia), menguraikan Ha’u Monef merupakan kekuatan bagi orang Timor. “Tiga cabang dari Ha’u Monef itu sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” urainya seraya menyampaikan jika dalam kondisi tertentu misalnya mengalami kekurangan, Ha’u Monef sebagai media.

Serupa, Kepala Desa Naiola Gabriel Funan selaku keturunan dari Suku Funan yang mendiami Lopo Tobe Funan (rumah adat, red) kepada Garda Indonesia pada Minggu, 13 September 2020, menguraikan tentang tiga cabang Ha’u Monef sebagai manifestasi dari Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. “Di antara ketiga cabang kayu tersebut, terdapat batu sebagai wujud dari arwah nenek moyang yang bersemayam di situ,” bebernya.

Menurut Gabriel Funan, saat ini, batu tersebut digunakan sebagai wadah untuk menyalakan dan menempatkan lilin di situ. “Wujud dari seluruh nenek moyang kita di situ, dan melalui tutur adat oleh Tetua Adat ke Apinat Aklat (Allah, red), kemudian turun ke leluhur bahwa mereka yang telah meninggal yang dekat dengan Allah, menjadi pendoa bagi kita yang masih berziarah atau hidup di dunia,” urainya.

Mengenai keberadaan Ha’u Monef hanya berada dan dipasang di rumah orang tua dari suku dan atau dipasang di rumah adat (Lopo Tobe).

Penulis, editor dan foto (+rony banase)