Arsip Kategori: Anak & Perempuan

Kak Seto Ajak Orang Tua Saat WFH Jadi Guru Bagi Anak Perangi Covid-19

58 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Psikolog Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si. atau akrab disapa Kak Seto mengajak orang tua menjadi guru bagi anak-anak menggantikan peran tenaga pendidik di sekolah saat mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap berada di rumah atau Work From Home (WFH), sebagai upaya memutus rantai penyebaran dan penularan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Orang tua dapat mengisi waktu luang bersama anak dengan aktivitas seperti membaca dongeng atau mengajarkan mereka menyanyikan tentang lagu yang berisi tentang edukasi mengenai corona.

“Untuk menghargai anak-anak, tetap harus bisa sediakan kekuatan sabar yang melimpah dan kreativitas. Mengajar bisa sambil menyanyi atau dongeng bisa dengan boneka,” ujar Dr. Seto Mulyadi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, pada Sabtu, 4 April 2020.

Kak Seto mendorong orang tua untuk menjadi guru sesuai dengan tren kekinian yakni penuh dengan kreativitas dan menciptakan suasana yang nyaman dalam belajar. Hal itu bertujuan agar anak-anak tidak stres saat belajar di rumah karena cara mengajar orang tua yang kemungkinan kurang sabar.

Selain ikut mengajarkan anak-anak mata pelajaran di sekolah selama masa Covid-19 ini, orang tua juga didorong agar tidak henti mengedukasi anak-anaknya terkait etika batuk dan bersin serta menjaga kesehatan.

Kemudian anak-anak juga harus diedukasi untuk menjaga jarak satu hingga dua meter dari orang lain jika terpaksa harus keluar rumah. “Saat bersin, menutup dengan siku bagian dalam. Tentu juga diajarkan cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir. Kita harus tetap produktif di rumah baik bagi ayah dan bunda termasuk bekerja dan beribadah dari rumah,” imbuhnya.

Dengan cara edukatif dan kreatif itu, penularan virus Corona dapat ditekan, yang diawali sinergi dari keluarga. “Ayah, bunda dan anak-anak dengan potensinya, bersinergi menjadi satu untuk bisa memenangkan upaya melawan Corona ini. Mari bersama menang melawan Covid-19 dan Indonesia bisa,” ujar Kak Seto.

Kak Seto hadir di Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tak lain adalah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat cara-cara menumbuhkan energi positif di kalangan keluarga khususnya saat berada di dalam rumah menghindari penyebaran Covid-19.

Ia mengajak para orang tua menerapkan cara GEMBIRA kepada anak-anak yang merupakan kepanjangan dari gerak, emosi cerdas, makan dan minum sehat, beribadah di rumah, istirahat, rukun dan aktif berkarya. (*)

Sumber berita dan foto (*/Agus Wibowo–Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)
Editor (+rony banase)

Dituding Selingkuh, Anggota DPRD Bali Ni Luh Dwi Yustiawati Angkat Bicara

544 Views

Denpasar, Garda Indonesia | Anggota DPRD Bali Ni Luh Dwi Yustiawati angkat bicara mengenai kasus yang membelitnya, di mana sebelumnya heboh diberitakan ia telah digerebek dan dipergoki berselingkuh dengan seorang lelaki di kamar nomor 323 lantai 3 Four Star by Trans Hotel yang berlokasi di Jalan Raya Puputan Renon Denpasar, pada Sabtu, 14 Maret 2020 dini hari sekitar pukul 00.30 WITA.

“Saya benar-benar syok dengan pemberitaan liar pada Minggu, 15 Maret 2020 kemarin. Di mana diberitakan kalau saya berselingkuh dan telah digerebek di hotel, seolah tertangkap basah. Padahal kenyataannya saya menginap seorang diri di hotel itu,” ujar Dwi Yustiawati ketika memberikan keterangan kepada sejumlah awak media di Denpasar, pada Senin, 16 Maret 2020 pagi.

Dia melanjutkan, sama sekali tidak ada kejadian penggerebekan atau sweeping pada Sabtu dini hari itu. “Malah manajer hotel yang mengantar suami saya ke kamar, terus kami lama di kamar itu. Memang sempat antara kami ada kesalahpahaman, hingga terjadi cekcok mulut,” ucapnya.

Jadi, lanjut Dwi, ketika suami datang ke kamar itu, dirinya sedang tidur sendiri. Ketika kamar diperiksa, memang tidak ada siapa-siapa. Sama sekali tidak ada laki-laki atau manusia lain di kamar tersebut.

“Saya menginap seorang diri kok. Lantas bagaimana ceritanya kok kemudian malah muncul pemberitaan yang menyebutkan ada penggerebekan, yang seolah-olah memergoki saya sedang selingkuh bersama laki-laki lain ?. Ini fitnah luar biasa keji. Ini sudah pencemaran nama baik,” ujar politisi wanita asal Jimbaran, Kabupaten Badung itu.

Rasa syok lain, kata Dwi, ketika ada pemberitaan bahwa pihak DPD partai yang menaunginya telah memutuskan untuk mengusulkan dirinya dipecat, baik dari keanggotaan partai maupun sebagai Anggota DPRD Bali.

“Ya Tuhan, kenapa tidak ada pemanggilan dan klarifikasi, kok tiba-tiba vonis dijatuhkan?. Ini kan ketidakadilan namanya. Saya sekarang harus berjuang untuk menegakkan nama baik, serta atas ketidakadilan yang kini dialamatkan kepada saya,” katanya dengan suara bergetar.(*)

Sumber berita dan foto (*/Tim IMO Indonesia)

‘Perempuan adalah Pahlawan’ bagi Wakil Wali Kota Kupang, dr. Herman Man

170 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Perspektif seorang Wakil Wali Kota Kupang, dr. Hermanus Man terhadap peran seorang perempuan sangat menyentuh dan menggugah. Bagi Bapak dari dua putra dan dua putri ini menggambarkan sosok seorang perempuan sebagai pahlawan. Pernyataan ini disampaikannya saat peringatan Hari Perempuan Internasional ke-110 yang dihelat oleh KPPI dan Dinas PPPA Provinsi NTT pada Sabtu, 7 Maret 2020.

Menurutnya, perempuan adalah pahlawan. “Karena kalau mama saya tidak melahirkan dan mendidik, maka saya tak bisa menjadi ‘orang’ seperti saat ini,” ujar dr Herman Man. Pandangan wakil wali kota kupang 2 (dua) periode ini, emansipasi sebaiknya jangan hanya sebatas kata-kata, seperti program terkait perempuan di Kota Kupang sangat diakui.

dr. Herman Man saat foto bersama Anggota Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi NTT di areal CFD

Ingin menelisik lebih jauh tentang bagaimana orang nomor dua di Pemerintah Kota Kupang tersebut memperlakukan perempuan di dalam rumah tangganya, maka media ini membuat janji bertemu dengan istri Wakil Wali Kota Kupang, Ibu Elizabeth Rengka pada Sabtu, 7 Maret 2020 pukul 18.00 WITA (6 sore), namun karena masih ada acara keluarga sehingga disepakati janji bertemu pada Senin, 9 Maret 2020 pukul 11.30 WITA.

Pada pertemuan dalam suasana keakraban dan santai di rumah jabatan Wakil Wali Kota Kupang tersebut, Istri dari dr. Herman Man (sapaan akrab Wakil Wali Kota Kupang), media ini menelusuri liku kehidupan interpersonal ayah, Ibu, dan anak dan mendengar langsung bagaimana Ibu Elizabeth Rengka menjalin relasi selama kurang lebih 44 tahun dan bagaimana sosok suaminya itu memperlakukan dirinya dan empat orang anaknya.

Foto bersama Wakil Wali Kota Kupang, dr. Herman Man dan Istri, Ibu Elizabeth Rengka saat peringatan Hari Perempuan Internasional ke-110 pada Sabtu, 7 Maret 2020

Berikut petikan wawancara dan dialog akrab antara Garda Indonesia dan Ibu Elizabeth Rengka :

Garda Indonesia : Bagaimana Bapak Herman Man memperlakukan Mama (Ibu Elizabeth Rengka,red) ?
Elizabet Rengka: Saya merasakan bahwa saya tidak diremehkan dan segala sesuatu selalu dibicarakan bersama ‘tanjeng’ (Bahasa Daerah Manggarai) dan pendapat saya didengar.

Garda Indonesia : Saya ingin menarik kenangan masa muda, Mama bertemu Bapa di mana dan kapan?
Elizabeth Rengka : Pertemuan pertama saat saya bersekolah di SMP Putri dan Bapa di SMA Syuradikara Ende pada tahun 1968. Selanjutnya usai menamatkan SMA, Bapa melanjutkan kuliah kedokteran di Surabaya dan saya melanjutkan sekolah ke Carolus. Kemudian, pertemuan yang lebih intens terjadi pada tahun 1976 saat saya bekerja sebagai perawat di Jopu, Kabupaten Ende dan akhirnya memutuskan menikah.

Garda Indonesia : Anak Mama yang pertama lahir pada tahun berapa?
Elizabeth Rengka : Anak pertama lahir pada tahun 1979 di Jopu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Garda Indonesia : Bagaimana Bapa dan Mama membangun komunikasi saat ada konflik dalam rumah tangga?
Elizabeth Rengka : Kami mempunyai budaya untuk menyelesaikan masalah saat kami makan bersama di meja makan.

Garda Indonesia: Bagaimana Bapa dan Mama memperlakukan anak perempuan saat mereka masih kecil hingga dewasa dan saat mempunyai masalah?
Elizabeth Rengka : Biasa praduga (feeling) seorang Mama lebih tajam dan saya berupaya membangun komunikasi dengan anak perempuan kami dan Bapa selalu mendukung.

Garda Indonesia : Bagaimana Bapa memperlakukan pekerja perempuan di dalam rumah?
Elizabeth Rengka : Biasanya melalui saya, jadi kalau mereka membutuhkan sesuatu, menyampaikan ke saya secara pribadi lalu saya sampaikan ke Bapa.

Garda Indonesia : Apa pandangan Bapa terkait kesibukan Mama dalam bidang sosial kemanusiaan? (Saat ini Ibu Elizabeth Rengka menjabat sebagai Ketua Forkomwil PUSPA (Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) Provinsi NTT
Elizabeth Rengka : Bapa sangat mendukung saya melakukan hal positif. Sebelumnya saya sempat menjadi dosen dan ketua program studi di salah satu perguruan tinggi di Kota Kupang, namun kemudian saya memutuskan berhenti dan fokus mengurus PKK.

Garda Indonesia : Untuk selalu menjaga hubungan interpersonal, apa saja selalu dilakukan Bapa dan Mama?
Elizabeth Rengka : Biasanya kami melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki bersama di areal Car Free Day (CFD) di Jalan El Tari Kota Kupang.

Garda Indonesia : Pertanyaan terakhir, bagaimana Mama mendukung langkah dan karier politik Bapa selanjutnya?
Elizabeth Rengka : Yang terutama Bapa harus sehat, sehingga saya selaku istri selalu memperhatikan asupan makanan yang disantap setiap hari dan Bapa selalu menyempatkan diri untuk makan siang di rumah.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Perempuan dalam Problematik

166 Views

Perempuan dalam Problematik

Oleh Yufengki Bria

Tubuhmu merupakan bagian terlarang yang sepatutnya dilindungi

Namun engkau selalu di jelma dengan berbagai rayuan hingga kesucian itu egkau relakan demi memuaskan hasrat laki-laki

Tenagamu dikuras habis-habisan di sebuah industri besar, bahkan juga dalam urusan domestik

Waktu belajar dan perjuanganmu sangat sekali dibatasi oleh sistem yang selalu mengharuskan engkau kerja, kerja, dan kerja

Suara manismu tak pernah didengar, walau itu merupakan tanda curhatan isi hatimu

Wajah cantikmu selalu dijadikan objek untuk mempromosikan hasil produksinya tuan kapitalis

Apakah engkau sadar akan hal itu?

Ya, patutlah engkau sadar, bahwa sistem semakin mengeksploitasi tubuh, tenaga, jam kerja, dan suaramu

Bangkitlah kawan untuk berjuang, agar derajatmu sama dengan laki-laki. (*)

*(Penulis puisi merupakan aktivitas pada LMND-DN Ek Kota Kupang [Departemen Koran dan Bacaan])

Putri Indonesia 2020 Diharapkan Promosikan Pariwisata & Ekonomi Kreatif

79 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengapresiasi terpilihnya Rr. Ayu Maulida sebagai Putri Indonesia 2020 yang diharapkan promosikan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.

Wishnutama Kusubandio usai menjadi juri di malam final Putri Indonesia 2020 pada Jumat, 6 Maret 2020 di JCC Senayan, Jakarta mengatakan, terpilihnya Rr. Ayu Maulida, wakil dari provinsi Jawa Timur sebagai Puteri Indonesia 2020 akan melanjutkan tongkat estafet dari Puteri Indonesia 2019, Frederika Alexis Cull.

Puteri Indonesia selama ini adalah representasi Indonesia yang akan memperkenalkan kekayaan alam dan budaya yang jadi kekuatan pariwisata tanah air serta ekonomi kreatif ke dunia internasional.

Selain Menparekraf turut hadir sebagai juri di acara tersebut, adalah Puteri Indonesia 2018 Sonia Fergina Citra, Komisaris Utama Garuda Indonesia Triawan Munaf, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga, serta Miss Universe 2015 Pia Alonso Wurtzbach.

Rr. Ayu Maulida (21) sebagai Putri Indonesia 2020

“Puteri Indonesia tidak sekadar sebagai ajang kecantikan, lebih dari itu, Puteri Indonesia secara konsisten menghadirkan wakil-wakilnya menunjukkan Indonesia sebagai bangsa yang besar dengan kekayaan alam, budaya dan ragam kekuatan produk kreatifnya,” kata Wishnutama.

Wishnutama mengatakan, tidak hanya pemenang, seluruh finalis Puteri Indonesia lewat tiga kekuatan utama yakni brain, beauty, dan behaviour diajak untuk terus menanamkan akar yang kuat terhadap generasi muda Indonesia untuk mencintai budaya nusantara.

“Sehingga nantinya bersama pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mereka bisa terus memperkenalkan berbagai keindahan seni dan budaya tanah air ke dunia internasional. Serta tidak ketinggalan mendorong masyarakat untuk mencintai produk ekonomi kreatif lokal sehingga terciptanya ekosistem yang baik dalam perkembangan ekonomi kreatif tanah air,” kata Wishnutama.(*)

Sumber berita (*/Agustini Rahayu–Kepala Biro Komunikasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)
Editor (+rony banase)

HPI ke-110, KPPI Provinsi NTT dan Dinas PPPA Gelar Baksos dan Zumba Bersama

173 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pada Hari Perempuan Internasional ke-110, Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghelat kegiatan bakti sosial berupa pengobatan gratis, senam zumba bersama di areal Car Free Day (CFD) pada Sabtu, 7 Maret 2020 pukul 06.00 WITA—selesai.

Pada kesempatan tersebut, turut hadir Anggota DPD RI dr. Asyera Wundalero yang juga merupakan anggota KPPI, dr.Asyera menyempatkan diri menyerahkan setangkai bunga kepada salah satu perempuan di lokasi kegiatan. Tak ketinggalan, Wakil Wali Kota Kupang, dr. Herman Man dan Nyonya Elizabeth Rengka menyambangi dan berpartisipasi.

Senam zumba bersama dalam rangka Hari Perempuan Internasional ke-110

Dalam baksos dan zumba bersama yang melibatkan semua perempuan dari berbagai elemen organisasi tersebut, menurut Ketua KPPI Provinsi NTT, Ana Waha Kolin, merasa terpanggil untuk melakukan kerja sama dengan DPPPA Provinsi NTT. “Ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan seperti senam Zumba, pemeriksaan tensi, gula darah, dan berat badan secara gratis,” ungkapnya.

Ucapan terima kasih disampaikan Ana Waha Kolin kepada semua pihak yang mendukung (Keluarga Besar KPPI Provinsi NTT, DPPPA Provinsi NTT, teman-teman zumba).

Foto bersama KPPI dan Dinas PPPA Provinsi NTT

Masih menurut Ana, KPPI Provinsi NTT merasa berbicara tentang politik ansia ‘membumi’ karena setiap keputusan politik amat berhubungan dengan masyarakat. “Berbicara tentang politik, kami ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa kami tidak berbicara politik ansia, namun dalam politik elegan berbentuk keadilan dan kesetaraan gender di masyarakat,” tegas Ana Waha Kolin.

Sementara, Sekretaris KPPI Provinsi NTT Renny Marlina Un, menyampaikan ke depan bakal menyelenggarakan edukasi kepada kaum milenial bagaimana perempuan hadir dalam politik. “Bilamana perempuan diberikan ruang dan dapat memanfaatkan ruang tersebut untuk hal positif,” ujar Renny seraya menyampaikan bahwa saat ini perempuan menempati posisi ketua dan wakil ketua DPRD Provinsi NTT.

Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) didirikan di Jakarta pada 2004 oleh 7 (tujuh) partai politik yakni PDIP, PKB, Golkar, Demokrat, PPP, PAN, PBB, dan PKS yang merupakan tempat bersemayam para aktivis perempuan partai politik, sedangkan KPPI Provinsi NTT dibentuk pada 7 Mei 2006. Struktur kepemimpinan KPPI Provinsi NTT terdiri dari Ketua KPPI, Ana Waha Kolin (Anggota DPRD Provinsi NTT Komisi V Fraksi PKB), Sekretaris Renny Marlina Un, Anggota DPRD Provinsi NTT Komisi III Fraksi Partai Demokrat), dan Bendahara Anatji Ratu Kitu Yan (Anggota DPRD Kota Kupang Fraksi PKB).

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

HPI ke-110, Kesetaraan Peran & Komunikasi Jadi Kunci Utama dalam Keluarga

175 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional (HPI) ke-110 (International Women’s Day) dirayakan pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya, maka Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghelat sosialisasi Kepedulian terhadap Perempuan dengan tema “Kesetaraan dalam Keluarga, Sumber Daya, dan Kepemimpinan” pada Jumat, 6 Maret 2020.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/03/06/hari-perempuan-internasional-ke-109-dpppa-ntt-helat-aksi-kemanusiaan/

Mengambil lokasi di Kantor DPPPA Provinsi NTT Jalan Basuki Rachmat Kupang, kegiatan sosialisasi menghadirkan 3 (tiga) narasumber yakni Pater Yulius Yasinto, Akademisi Unwira Kupang; Pdt. Yandi Manobe, Sinode GMIT; dan Dani Manu dari LBH Apik , serta melibatkan peserta dari Polda NTT, Lanudal El Tari Kupang, Lantamal VII Kupang, Korem 161/WS, Kejaksaan Tinggi NTT, PHDI NTT, WALUBI NTT, MUI NTT, Keuskupan Agung Kupang, Sinode GMIT, Garda Indonesia, International Organization for Migran (IOM) NTT, Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi NTT, Forkomwil PUSPA NTT, P2TP2A Provinsi NTT, PIA Ardnya Garini Cabang 5/D III Lanud El Tari Kupang, Korcab VII Daerah Jalasenastri Armada (DJA) II, Kartika Chandra Kirana Koorcab Ren 161/Pd IX Udayana, Bhayangkari Daerah NTT, DPD GOPTKI NTT, Dharma Wanita Persatuan Provinsi NTT, dan PKK Provinsi NTT.

Foto bersama Dinas PPPA NTT, Narasumber, dan para peserta kegiatan sosialisasi Kepedulian terhadap Perempuan

Kabid Perlindungan Hak Perempuan DPPPA NTT, Dra. Ita Boekan kepada media ini menyampaikan, tujuan yang ingin menyampaikan kepada kaum laki-laki bahwa peran perempuan saat ini setara dan perlu dilibatkan dalam peran politik, pemerintahan, pendidikan, kesehatan. “Saat ini telah banyak perempuan yang duduk dan berperan dalam legislatif, yudikatif dan eksekutif,” ungkapnya.

Pdt. Yandi Manobe dalam pemaparannya menyampaikan perlu adanya kesetaraan terkait peran yang dimaksimalkan bersama, harus ada ruang komunikasi untuk kehidupan bersama yang baik antara laki-laki ‘suami’ dan perempuan ‘istri’ dalam lingkungan keluarga. “Konteks saat ini kita sedang berbicara tentang kesetaraan dan bukan kesamaan, karena perempuan akan tetap menjadi perempuan dan laki-laki tetap menjadi laki-laki,” urai Pdt Yandi.

Pdt. Yandi Manobe

Menurut Sekretaris Bidang Hubungan Fungsional dan Profesional Majelis Sinode GMIT, saat ini kita harus memperjuangkan kesetaraan terkait peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan yang dimaksimalkan bersama. “Dalam konteks bekerja dengan risiko besar diambil alih oleh laki-laki, sedangkan pekerjaan dengan risiko kecil dilakukan oleh perempuan, sehingga kondisi ini terus berlangsung hingga saat ini,”ungkapnya.

Sebagai contoh, urai Pdt Yandi, di Sabu Raijua, yang mengiris pohon tuak ‘nira’ adalah laki-laki, sedangkan yang memikul tuak ke rumah adalah perempuan. Contoh lain, sebutnya, yang memasak di rumah adalah perempuan, namun di restoran besar yang memasak adalah laki-laki.

Kondisi ini terus berkembang, dan dalam perspektif agama, laki-laki ‘bapak’ adalah kepala keluarga ‘rumah tangga’. “Lantas sebutan kepala, ketua, pemimpin tak bisa lagi digeser, namun kondisi ini hanyalah administratif dan seharusnya ada ruang komunikasi dan kesepakatan untuk mengelola perbedaan-perbedaan tersebut,” beber Pdt. Yandi dengan ulasan kocak dan rasional sehingga memantik reaksi antusias para peserta sosialisasi Hari Perempuan Internasional ke-110.

Suasana Sosialisasi Kepedulian terhadap Perempuan dengan tema “Kesetaraan dalam Keluarga, Sumber Daya, dan Kepemimpinan” pada Jumat, 6 Maret 2020.

Menurut Pdt Yandi, ada 4 (empat) pola yang dibiarkan berbeda agar laki-laki dan perempuan dapat melihat perbedaan antara lain :

Pertama, Pola Pikir, laki-laki dengan pola pikir dan perempuan menggunakan perasaan sehingga kondisi ini seharusnya mampu menghubungkan apa yang dipikirkan laki-laki dan yang dirasakan perempuan;

Kedua, Pola Kerja, laki-laki dengan pola bekerja tunggal dan perempuan dengan pola kerja jamak; sebagai contoh urusan menjaga dan merawat bayi lebih banyak dikerjakan perempuan ‘Ibu’ dan laki-laki ‘bapak’ cenderung hanya membantu seadanya;

Ketiga, Pola Komunikasi, Laki-laki ‘bapak’ cenderung pendiam, sedangkan perempuan ‘ibu’ lebih banyak berbicara. Sebuah penelitian menyebutkan laki-laki berbicara sebanyak 7.000 kata perhari, sedangkan perempuan berbicara sebanyak 21.000 kata sehari. Terkadang komunikasi yang buruk di dalam keluarga yang menyebabkan keluarga membangun komunikasi di media sosial;

Keempat, Pola Ingatan, Laki-laki ‘bapak’ cenderung cepat lupa, sedangkan perempuan ‘ibu’ ingatan sangat tajam.

Pola-pola berbeda di atas, seharusnya dapat dikelola, ujar Pdt. Yandi, karena jika kita mencintai setiap perbedaan, maka hidup ini lebih indah dan berwarna.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Menteri PPPA Bintang Puspayoga Dukung Kampung Ramah Anak

39 Views

Kota Batu, Garda Indonesia | Menciptakan lingkungan yang ramah anak bisa jadi solusi bagi kasus kekerasan pada anak yang marak terjadi. Pandangan tersebut diutarakan Menteri PPPA, Bintang Puspayoga usai meninjau Kampung Ramah Anak di dua lokasi berbeda, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji dan Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur.

“Konsep (kampung ramah anak) ini hal luar biasa. Perhatian diberikan kepada anak-anak dimulai dari tingkat grassroot (akar rumput) dan yang paling luar biasa itu partisipasi masyarakat. Rumah mereka dibuka selebar-lebarnya untuk aktifitas anak-anak. Kalau seperti ini dilakukan di seantero nusantara, kasus kekerasan terhadap anak dan perundungan tidak akan terjadi,” ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga pada Kamis, 27 Februari 2020.

Menteri Bintang menuturkan dengan konsep kampung ramah anak, waktu luang anak banyak dihabiskan dengan hal positif karena disediakan ruang serta didukung pemerintah daerah dan perangkat desa. “Saya mengapresiasi Pak Kades, Pak Camat, dan Wakil Walikota, serta seluruh masyarakatnya,” tambah Menteri Bintang.

Foto bersama Menteri Bintang Puspayoga dan anak-anak saat meninjau kampung ramah anak

Menteri Bintang menambahkan anak-anak bisa diahlikan perhatiannya dari hal-hal negatif dan kecanduan gawai dengan melibatkan mereka dalam aktivitas menyenangkan sekaligus mengedukasi sesuai dengan kearifan lokal.

“Di sini tidak ada paksaan dan ini yang penting. Memberikan ruang edukasi kepada anak-anak, mereka harus belajar tapi dilakukan dengan senang sesuai dengan usia anak dan tentunya disesuaikan dengan kearifan lokal, situasi, dan kondisi daerah tersebut. Saya harap konsep ini bisa menginspirasi desa lain,” tutur Menteri Bintang.

Desa Punten telah mengembangkan konsep kampung ramah anak sejak lima tahun lalu dengan menghidupkan aktivitas forum anak. Anak rutin melakukan aktivitas membaca karena tersedia pojok baca, olahraga, berkesenian, hingga budidaya ikan yang dikelola oleh forum anak. Sedikit berbeda di Desa Junrejo, desa ini ramah terhadap anak-anak disabilitas dengan melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan forum anak, seperti membaca puisi dan belajar bahasa isyarat.

“Ini upaya menjaga anak sekampung. Walaupun gang sempit tetapi kalau melibatkan anak dan masyarakat, gang itu bisa jadi ramah anak. Ini juga upaya mengalihkan anak dari ketergantungan gadget dengan kegiatan-kegiatan lokal. Anak diberikan kebebasan bermain dan berekspresi,” jelas Arist Merdeka Sirait yang sejak awal turut membina ke-dua desa menjadi kampung ramah anak.

Dalam kunjungannya, Menteri Bintang didampingi Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nahar, Walikota Kota Batu, Punjul Santoso, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Pusat, Arist Merdeka Sirait, para camat, dan kepala desa Punten, Bumi Aji dan Junrejo.(*)

Sumber berita (*/Publikasi dan Media Kementerian PPPA)
Editor (+rony banase)