Arsip Kategori: Profil & Tokoh

Kilas Balik Ketua KPK Komisaris Jenderal Polisi Firli Bahuri

213 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Nama Komjen Pol. Firli Bahuri ramai diperbincangkan usai terpilih sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masa jabatan 2019—2023. Keberhasilan Komjen Pol. Firli dalam melewati semua tahapan seleksi tidak terlepas dari upaya serta doa yang selalu ia panjatkan kepada Allah SWT, yang kiranya memohon untuk diberikan yang terbaik baginya serta Bangsa dan Negara.

Komjen Pol. Firli Bahuri Insya Allah akan dilantik pada Jumat, 20 Desember 2019 merupakan salah satu figur penting dengan sederet prestasi luar biasa. Namun rasanya banyak yang belum tahu bagaimana dan seperti apa perjalanannya hidupnya sejak kecil yang penuh inspirasi dan patut untuk diketahui publik khususnya generasi muda Indonesia.

Dalam kesempatan silaturahmi Ketua Umum IMO-Indonesia Yakub Ismail dengan Kabaharkam Komjen Pol. Firli Bahuri di Mabes Polri pada Kamis, 28 November 2019; saat berbincang dan ditanya bagaimana dan seperti apa sehingga bisa seperti sekarang ini, Komjen Pol. Firli tersenyum sejenak seraya berkata Alhamdulilah barokah, Komjen Pol. Firli Bahuri kemudian menuturkan beberapa kisah perjalanannya.

Komjen Pol. Firli Bahuri lahir di sebuah kampung terpencil bernama Desa Lontar di Sumatra Selatan pada 8 November 1963, dari seorang Ibunda yang bernama Tamah dan Ayahanda bernama Bahuri, dan ia adalah anak bungsu dari 6 (enam) bersaudara.

Sebagaimana kehidupan di desa, Komjen Pol. Firli Bahuri tumbuh dengan keterbatasan sarana publik namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk dapat berhasil sekolah layaknya anak-anak pada umumnya.

Dalam usia 5 tahun, Sang Ayah telah meninggal dunia, dan hal tersebut menjadi masa-masa kelam bagi Komjen Pol. Firli Bahuri beserta saudara lainnya, hidup dengan seorang Ibunda dan lima saudara lainnya yang sudah tidak memiliki Ayah (Yatim -red ) menjadikan Komjen Pol. Firli Bahuri mengenal apa itu kerja keras dengan sarat perjuangan keras. Namun semangat tak pernah luntur untuk menggapai cita-citanya.

Meski baru duduk di bangku sekolah dasar, Komjen Pol. Firli Bahuri sudah harus bekerja ekstra untuk dapat membantu meringankan beban Sang Ibunda yang telah mengambil peran sebagai kepala keluarga.

Tekadnya yang sudah bulat untuk dapat bersekolah tersebut membuat masalah jarak tempat tinggal yang jauh dari sekolah tidak menyurutkan niatnya untuk belajar, dan untuk dapat sampai ke sekolah Komjen Pol. Firli Bahuri harus menempuhnya dengan berjalan kaki sejauh belasan kilometer.

Adapun pada saat Komjen Pol. Firli Bahuri hendak melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP Bhakti), hanya ada satu sekolah swasta terdekat yang ada yaitu di Kecamatan Pengandongan dengan jarak yang sangat jauh dan sulit bagi ukuran anak seusianya ( 8 km atau 16 km pulang pergi) dari kediamannya (pulang-pergi) harus ditempuh dengan berjalan kaki, namun hal itu semua tidaklah menyurutkan niat dan semangatnya untuk bisa bersekolah.

Bersekolah tidak membuat Komjen Pol. Firli Bahuri lupa untuk tetap berjuang membantu Sang Ibunda, maka untuk dapat terus mengejar cita-citanya setelah tamat SMP Komjen Pol. Firli Bahuri merantau jauh meninggalkan kampung halaman untuk dapat melanjutkan sekolahnya di SMAN 3 Palembang.

Dari penuturan kalangan rekan-rekannya bahwa tidak sulit untuk menemukan Jenderal Bintang Tiga tersebut di sekolah karena dalam kesehariannya hanya ada dua tempat yang menjadi Favorit dari Komjen Pol. Firli Bahuri yaitu Perpustakaan dan kelas belajar.(*)

Sumber berita (*/@yfi–Tim IMO Indonesia) Editor (+rony banase)

Presiden Jokowi Jadi Irup Upacara Pemakaman Alm. BJ Habibie

236 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Saat ini, Jenazah B.J Habibie disemayamkan di rumah duka, Jl. Patra Kuningan XIII/3 Jakarta Selatan.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/09/11/bj-habibie-tutup-usia-imo-indonesia-ucap-belasungkawa/

Informasi yang diterima oleh media yang tergabung dalam IMO-Indonesia dari Rubijanto (Sespri Alm. BJ Habibie-red) bahwa rencananya pada pukul 12.30 WIB di rumah duka Jl. Patra Kuningan XIII/3 Jakarta Selatan akan dilakukan upacara penyerahan jenazah dari pihak Keluarga kepada Pemerintah.

“Selanjutnya pada pukul 13.00 WIB jenazah diberangkatkan dari rumah duka Jl. Patra Kuningan XIII / 3 Jaksel menuju TMP Kalibata,” Rubijanto.

“Prosesi upacara pemakaman di TMP Kalibata akan dilakukan oleh Pemerintah dengan Presiden RI Bapak Ir. H. Joko Widodo. Sebagi Irup pada pukul 13.30 WIB,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur DKI Anies Baswedan membebaskan ganjil genap pagi ini untuk dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat yang hendak takziyah ke rumah duka alm Pak Habibie.

“Maka khusus pada Kamis pagi, Kamis, 12 September 2019, aturan ganjil-genap tidak diberlakukan,” jelas Anies melalui akun Twitter-nya, Rabu (11/9/2019).

Adapun ruas jalan yang bebas ganjil-genap pada, Kamis 12 September 2019 hanya untuk tiga kawasan, yakni Jalan HR Rasuna Said, Jalan Jenderal Gatot Subroto, dan Jalan MT Haryono.

Anies juga menegaskan aturan ganjil genap yang ditiadakan hanya untuk waktu pagi hari, yakni pada pukul 06.00—10.00 WIB. Aturan ganjil-genap di tiga kawasan untuk sore hari, yakni pukul 16.00—21.00 WIB, tetap berlaku. (*)

Sumber berita (*/Tim IMO Indonesia–@yfi)
Editor (+rony banase)

BJ Habibie Tutup Usia, IMO-Indonesia Ucap Belasungkawa

202 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Rabu, 11 September 2019, Indonesia berduka dengan wafatnya Presiden RI ke-3, B.J. Habibie. Habibie meninggal di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 83 tahun.

Dengan seketika, jagat raya ramai memperbincangkannya terlebih media sosial. Baik dari ucapan belasungkawa maupun doa untuk Tokoh Nasional yang dikenal mempunyai kecerdasan di atas rata-rata tersebut.

Satu diantara yang berbelasungkawa adalah Dewan Pengawas IMO-Indonesia, Tjandra Setiadji. Ia pun mengaku sedih dengan meninggalnya BJ Habibie.

“IMO-Indonesia secara kelembagaan maupun pribadi antar pengurus ikut berbelasungkawa atas meninggalnya B.J Habibie”, terang Andy sapaan akrabnya itu.

Bagi Andy, B.J Habibie adalah Guru Bangsa. Bukan karena pernah menjabat Presiden, tetapi karena teladan yang diberikan untuk rakyat Indonesia selama hidupnya.

“Beliau guru bangsa dan dengan ke-jeniusannya, Indonesia bisa menjadi Negara yang diperhatikan dalam kancah dunia,” tambah Andy yang juga Praktisi Hukum itu.

Kabar soal meninggalnya BJ Habibie disampaikan oleh Kepala RSPAD Dr. Terawan. “Benar, pukul 18.05 WIB,” ujarnya.

Cucu keponakan BJ Habibie, Melanie Subono, juga mem-posting soal kepergian BJ Habibie di akun medsosnya. Sehingga kabar tersebut bukanlah hoax.

Andy mengajak lapisan masyarakat untuk mendoakan Almarhum dan jasa-jasanya dapat menjadi ilmu yang terus dilanjutkan oleh generasi setelahnya.

“Semoga beliau tenang bersama-Nya,” pungkas Andy. (*)

Sumber berita (*/Tim IMO Indonesia)
Editor (+rony banase)

Peluncuran Buku Sutopo Purwo Nugroho: Contoh Baik Seorang Pejabat Publik

73 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Pelaksana tugas (Plt) Kapusdatinmas BNPB, Agus Wibowo mengatakan arahan dari Kepala BNPB, agar setiap pejabat di BNPB dapat mencontoh kinerja (alm) Sutopo Purwo Nugroho dalam bekerja.

“Meskipun semasa hidup telah divonis kanker stadium 4b. (alm) Sutopo tetap semangat kinerjanya melayani publik, terutama wartawan. Semoga juga dapat memberi contoh untuk pejabat publik di tempat lain, “ ucap Agus saat peluncuran buku Sutopo Purwo Nugroho, di Gramedia Matraman, Jakarta, pada Minggu, 1 September 2019.

Sebagai wujud terima kasih BNPB, ruangan serbaguna lantai 15 diberi nama Ruang Serbaguna Dr. Sutopo Purwo Nugroho. “Setiap konferensi pers dilakukan di ruangan tersebut, “ lanjut Agus.

Buku yang ditulis oleh Fenty Effendy ini menceritakan perjalanan hidup Sutopo. “Pak Topo merupakan sosok yang menjaga Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam bertutur kata maupun pesan WA. Sehingga memudahkan saya juga dalam menulis,” ungkapnya.

Saat awal perkenalan Najwa Shihab dan Sutopo. Najwa melihat sosok Sutopo adalah cerminan dan dedikasi untuk pejabat publik.

“Saya mendapatkan pesan berantai atas nama Pak Topo. Apakah ada penerbit yang berminat menulis tentang kisah hidupnya. Terharu rasanya. Saya kemudian mengajak sahabat saya, Fenty Effendy, dan penerbit Lentera Hati untuk bertemu Pak Topo di Narasi TV dan mulailah proses penulisan itu, “ cerita Najwa.

Buku yang bertajuk Sutopo Purwo Nugroho Terjebak Nostalgia ini, berjumlah 200 halaman. Terbagi lima bagian, yakni Juru Bicara, Siasat Hati, Tarung, Terjebak Nostalgia dan Kesempurnaan Takdir.

Pada kesempatan tersebut turut pula hadir keluarga dari Sutopo. Ayah, ibu, adik, istri dan kedua anaknya serta dihadiri ratusan pengunjung. Silakan beli bukunya di toko buku terdekat, dan selamat terjebak nostalgia, salam. (*)

Sumber berita (*/Humas BNPB)
Editor (+rony banase)

Jo Uly—Sosok Milenial Calon Wakil Bupati Sabu Raijua

241 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Johanes Uly atau akrab disapa Jo Uly merupakan sosok muda (milenial) dari Kabupaten Sabu Raijua yang menyatakan diri siap menghadapi perhelatan Pilkada Sabu Raijua pada tahun 2020.

Pria kelahiran 15 Mei 1979 di Mesara Lobohede Kabupaten Sabtu Raijua yang memiliki nama lengkap Yohanes Uly Kale, A.md. secara terbuka menyatakan kesiapan diri untuk maju sebagai wakil bupati Kabupaten Sabu Raijua

Jo Uly (tengah) berpose dengan kader PKB NTT dalam Muktamar PKB di Nusa Dua Bali

Dibawah usungan dan dukungan 2 (dua) kursi legislatif DPRD Kabupaten Sabu Raijua dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jo Uly, lulusan D3 Politeknik Undana ini siap diri mewakili daerah pemilihan terbesar yakni Kecamatan Mesara.

Dirinya meyakini peluang tersebut dengan dukungan dari keluarga, masyarakat, tokoh masyarakat dan teman-teman sepelayanan dalam gereja dan siap disandingkan dengan calon bupati dari partai apapun.

“Konsolidasi telah berjalan dan dalam proses,” ujar Jo Uly kepada Garda Indonesia yang sedang mengikuti Muktamar PKB di Nusa Dua Bali, 20—22 Agustus 2019.

“Memang ada beberapa kandidat yang sempat memberikan konfirmasi tetapi kami kembalikan kepada mekanisme partai. Kami juga sedang menunggu dan melakukan konsolidasi balik dengan mereka melalui Ketua DPC PKB Sabu Raijua,” beber Pengusaha Muda dan Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia.

Jo Uly bersama Anggota DPR RI Terpilih dari PKB, Tomy Kurniawan

Sebelumnya, dalam Rapimwil (Rapat Pimpinan Wilayah) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Jumat, 9 Agustus 2019 di Wisma Harapan Baik Kelurahan Kayu Putih Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ketua DPW PKB NTT, Yucundianus Lepa menyampaikan bahwa untuk Sabu Raijua telah ada kader untuk maju dalam perhelatan Pilkada Sabu Raijua.

“Kami telah berdiskusi dengan salah satu calon bupati yakni Penjabat Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke dan masih menunggu hasil survei dan PKB telah memiliki kader,” jelasnya.

Menurut Yucun, untuk sementara baru 1 (satu) orang yang berani maju dan tampil sebagai wakil bupati dari PKB. “Ini soal keberanian, banyak yang siap namun hanya satu yang berani. Kalau boleh disebut nama, Jo Uly siap diri,” ungkap Yucun.

“Kita mempersiapkan diri untuk maju dengan posisi nomor dua,” tandas Ketua DPW PKB NTT.

Penulis dan editor (+rony banase)

Menteri PU (1983—1988) Suyono Sosrodarsono Wafat di Jakarta

75 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Telah meninggal dunia Menteri Pekerjaan Umum (1983—1988) Dr.(H.C.) Ir. Suyono Sosrodarsono, dalam usia 93 tahun, pada hari Sabtu, 17 Agustus 2019 Pukul 15.30 di Rumah Sakit Siloam, Semanggi, Jakarta.

Segenap pimpinan dan pegawai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyampaikan turut berduka cita yang mendalam atas berpulangnya salah satu putra terbaik bangsa Indonesia yang berjasa besar dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Suyono Sosrodarsono lahir di Madiun, Jawa Timur tanggal 3 Maret 1926 dan menyelesaikan Sekolah Menengah Tinggi di Malang tahun 1947. Pada masa tersebut, beliau juga tergabung dalam Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).

Setelah menyelesaikan pendidikan teknik sipil di Bandung pada tahun 1955, beliau bergabung di Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (PUTL) dan ditempatkan di Jawatan Perumahan Rakyat. Pada masa itu, Pemerintah Indonesia tengah giat membangun proyek-proyek besar yang hingga kini masih menjadi ikon kebanggaan bangsa seperti Gelora Bung Karno, Jembatan Semanggi, Gedung Conefo (sekarang gedung DPR-MPR), Masjid Istiqlal, Monas dan lainnya.

Suyono mendapatkan kepercayaan memegang sejumlah jabatan diantaranya Proyek Irigasi di Sumatera Selatan (1959—1963), Kepala Direktorat Tata Bangunan Departemen PU (1963—1964), Pemimpin Komando Proyek Penanganan Banjir Jakarta (1964—1966), dan menjabat Direktur Jenderal Pengairan terlama (1966—1982). Pada masa jabatannya sebagai Dirjen Pengairan, bendungan yang dibangun diantaranya Bendungan Gajah Mungkur, Selorejo, dan Karangkates. Kemudian diangkat sebagai Menteri PU Kabinet Pembangunan IV (1983—1988) pada era Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah.

Suyono beruntung karena dalam rentang panjang perjalanan karirnya sempat bertemu, mengenal dan terlibat selama sebelas tahun dalam masa pemerintahan Presiden Soekarno dan dua puluh dua tahun dalam masa kepemimpinan Presiden Soeharto.

Suyono merupakan teladan bagi para insinyur muda Indonesia karena dalam melaksanakan tugasnya, Suyono dikenal sebagai pekerja keras, disiplin, sederhana dan lebih suka terjun ke lapangan.

Dalam sebuah kesempatan, Suyono pernah mengatakan “Saya melakukan observasi di lapangan dan tidur dekat proyek. Di lapanganlah para insinyur akan melihat dan terlibat dalam penanganan masalah, melaksanakan praktik ilmunya yang ada kalanya tidak sama dengan apa yang kita pelajari dalam textbook. Saya juga bekerja sambil belajar, melaksanakan perbaikan jalan. Belakangan saya semakin memahami seorang insinyur baru dapat bekerja secara mantap jika pernah bekerja di lapangan,” kata Suyono.

Suyono juga mengambil prakarsa bersama Prof. Ir. Suryono (Pada waktu itu Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya) mendirikan Jurusan Teknik Pengairan untuk mendapatkan tenaga ahli khusus dalam teknik pengairan. Teknik ini penting dalam rangka mencapai swasembada beras di Indonesia. Dalam bidang keilmuan, beliau juga terlibat sebagai penyunting beberapa buku teknik utamanya di bidang hidrologi.

Jenazah akan disemayamkan di rumah duka Jl. Hang Tuah VII/77 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pemakaman almarhum akan dilaksanakan pada hari Minggu, 18 Agustus 2019 di Taman Makam Pahlawan Kalibata sebelum sholat ashar.

Selamat jalan Pak Menteri Suyono, karya dan teladanmu akan selalu kami kenang dan menjadi semangat dalam bekerja untuk menjadikan Kementerian PUPR lebih baik lagi. (*)

Sumber berita (*/Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)
Editor (+rony banase)

Norci Nomleni–Pendiri Komunitas Penggerak Perempuan & Pecinta Tenunan

153 Views

So’e-TTS, Garda Indonesia | Arus globalisasi didukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa banyak kebudayaan luar atau mancanegara masuk dan diadopsi oleh anak-anak bangsa. Lalu penggunaan atau pelestarian kekayaan budaya mulai tersingkir secara perlahan-lahan.

Menyadari pergeseran pelestarian kebudayaan; oleh pemerintah dilakukan berbagai usaha untuk mempertahankan kebudayaan suku-suku di Tanah Air. Misalnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa waktu yang lalu diadakan pemilihan Puteri Tenun NTT. Upaya ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi ada individu-individu yang juga melalui usaha-usaha pribadi mereka berjuang untuk mempromosikan dan mempertahankan kebudayaannya.

Salah satu orang muda yang aktif mempromosikan dan me- rekondisi motif-motif daerah menjadi barang-barang yang memiliki nilai jual dan mampu bersaing di pasaran adalah Norci Nomleni. Perempuan kelahiran Niki-niki, 18 Agustus 1993 itu merupakan pendiri Komunitas Ume Kbubu di Timor Tengah Selatan (TTS).

Ume Kbubu merupakan salah satu kebudayaan Orang Timor, sebagai tempat penyimpanan makanan dan juga tempat berteduh yang menghangatkan bagi masyarakat suku Timor. Namun tulisan ini bukan tentang Ume Kbubu, tetapi tentang Ci, panggilan akrab Norci Nomleni dan Komunitasnya serta upaya melestarikan Budaya Timor khususnya Amanuban.

Kepada media Garda Indonesia, perempuan yang memiliki hobi bernyanyi ini, mengungkapkan bahwa Komunitas Ume Kbubu merupakan komunitas penggerak perempuan dengan tujuan memotivasi para perempuan untuk mencintai budaya melalui tenun yang memiliki banyak motif. Komunitas ini didirikan pada tahun 2017 atas usaha Ci panggilan akrab dari Norci sendiri.

“Komunitas ini saya dirikan pada tahun 2017, itu usaha sendiri. Tujuannya untuk memotivasi perempuan-perempuan di TTS, khususnya Amanuban untuk tetap menggunakan hasil tenunan sendiri, terutama para anak muda dan juga para ibu-ibu penenun”, ungkap alumni STAKN Kupang itu.

Setelah satu tahun berkarya, lanjut Ci dirinya mendapatkan dukungan dari Cipta Media Ekspresi. Sampai sekarang Komunitas Ume Kbubu beranggotakan 6 (enam) orang serta sudah beberapa kali diminta memberikan pelatihan di luar kota Soe tentang rekondisi barang-barang bekas dengan motif. Diantaranya kelompok perempuan GMIT Babu dan juga di Pemuda-pemudi Klasik Sulaman dalam camp Pemuda.

“Anggota kita 6 orang. Kita sudah beberapa kali diminta untuk memberikan pelatihan diluar TTS, kita terus berupaya menyebarkan virus cinta budaya ini lewat media maupun pelatihan seperti ini”, ungkap Ci ketika dihubungi via Whatsapp (Rabu, 26 Juni 2019)

Ditengah kesibukannya sebagai Penyuluh Agama di Departemen Keagamaan (Depag) TTS, dia juga menyempatkan diri untuk berbagi inspirasi melalui hobinya berfoto menggunakan kain tenun dengan berbagai motif dari Amanuban. Dirinya juga punya keinginan untuk bisa berfoto dengan berbagai motif tenunan di NTT, tapi untuk sementara dia memfokuskan diri pada motif Timor.

Kecintaan Norci terhadap budaya mendorongnya untuk berinovasi dengan motif Amanuban yang menurutnya sangat kental dengan warna dan punya banyak motif. Dirinya menjelaskan bahwa barang-barang yang di rekondisi ada berbagai macam dan tentunya sesuai dengan perkembangan zaman juga.

” Ada banyak sebenarnya. Mulai dari tas, dompet, sepatu, topi. Bahkan kita buat pakaian-pakaian sewaan dari motif dan pakaian pengantin sampel dulang-dulang dari bahan niru dan rotan yang kita rekondisi”, ungkap alumni SD Inpres Ekpulen Niki-niki itu.

Lanjut Ci, mempromosikan motif daerah dan memotivasi banyak orang khususnya anak muda untuk mempertahankan nilai-nilai budaya sebenarnya harus dilakukan oleh anak muda sendiri, karena yang mengerti selera anak muda adalah yang sebaya dengannya.

“Tujuan saya melakukan ini semua yaitu untuk mempromosikan, memotivasi dan membanggakan daerah sendiri ke publik dengan rajutan motif Timor, bahwa Timor juga tidak kalah menariknya dari daerah lain”, ujarnya.

Diatas semua maksud tersebut, ungkap Ci, bahwa perputaran roda ekonomi juga perlu didorong dengan berbagai kreatifitas, sehingga para penenun juga bersemangat dalam menenun karena kita sudah mempromosikan tenunan mereka melalui berbagai cara yang dapat mendongkrak perekonomian mereka.

“Kita perlu mendukung para penenun dengan melakukan berbagai hal kreatif sehingga bisa memotivasi mereka untuk semakin semangat dalam menenun. Dan mereka tidak bingung lagi dalam memasarkan tenunan mereka”, pungkas Norci. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Nelson Pomalingo, Sosok Sederhana Bupati Gorontalo, Rela Tinggal di Indekos

320 Views

Gorontalo, Garda Indonesia | Prof. Dr. Ir. H Nelson Pomalingo, MPd., Lahir di Limboto, 24 Desember 1962. Nelson Pomalingo berasal dari keluarga dengan latar belakang guru dan merupakan anak sulung dari pasangan Soekarno Pomalingo dan Hj Neli Tulie.

Prof. Dr. Ir. Nelson Pomalingo, MPd., adalah Rektor Universitas Negeri Gorontalo 2 (dua) periode 2002—2010, lalu menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo periode 2012—2016

Terpilih dan dilantik sejak 17 Februari 2016, Nelson Pomalingo merupakan Bupati Ke-12 dari Kabupaten Gorontalo sejak berdiri pada tahun 1959

Dilansir dari MCB.Com, Bupati petahana yang menyelesaikan studi doktoral di IKIP Negeri Jakarta ini, konon, setiap pergi keluar daerah (Jakarta) untuk mengikuti berbagai acara maupun memperjuangkan kepentingan daerah, ia lebih memilih ikhlas tinggal di indekos. Ia tidak menggunakan fasilitas hotel, meskipun halal baginya menikmati fasilitas tersebut.

Padahal, fasilitas yang disediakan telah dibebankan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Pemerintah Daerah. Juga menyangkut fasilitas pesawat, Nelson lebih memilih duduk di kelas ekonomi ketimbang mengambil tempat duduk di kelas bisnis.

Mungkin sosok pria dengan 4 (empat) orang anak ini hanya ingin pencitraan agar mengundang simpati publik. Asumsi itu bisa saja benar dan bisa juga salah. Buktinya, hingga kini sikap rendah hati Nelson tersebut tidak terpublis di media massa.

Lantas, apa alasan Nelson memilih tinggal di indekos? Suami dari Fory Naway ini sedikit memberikan alasan yang mengundang rasa empati.

“Bagi saya, jabatan ini hanya sementara yang pasti akan kita tinggalkan,” kilah Nelson

Dengan tinggal di indekos atau memilih tempat duduk (pesawat) kelas ekonomi kata Nelson, maka akan menghemat keuangan daerah. “Ketika jabatan itu kita tinggalkan, pasti kita akan terbiasa dan tidak kaget. Saya tidak mau terjadi post power syndrome,” terang Nelson sedikit tersenyum.

Deklarator pembentukan Provinsi Gorontalo ini mengurai, anggaran untuk tinggal di hotel tersebut sebesar Rp 8 juta, namun karena memilih tinggal di indekos, Nelson hanya mengeluarkan anggaran Rp 3 juta rupiah setiap bulan

“Di kos-kosan saya lebih nyaman. Semua saya kerjakan sendiri, termasuk seterika baju sendiri. Tidak ada pembantu. Walhasil, saya senang dan menikmatinya,” urai Nelson. (*)

Sumber berita (*/wikipedia & MCB.com)
Editor (+rony banase)