Arsip Kategori: Kisah Inspiratif

Kristo…Tanpa Kau Sadari, Kamu adalah Inspirasi Bagiku

220 Views

Oleh Laurensius Ade Suyanto, S.H.

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Ini fakta dan bukan opini. Kristo nama kecilnya, Pria Pekerja Keras dari Desa Oesusu, Kecamatan Takari Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur; Bersama Ayahnya, setiap hari mereka bergegas menjemput rejeki. Bergerak dari desa ke desa mencari sapi-sapi unggulan untuk dikirim ke Kalimantan Tengah.

Dengan rutinitas ini, Kristo telah terbiasa dengan kotoran sapi, Kristo juga sudah diajarkan cara-cara tradisional menjinakkan sapi, bahkan Kristo pernah ditendang hewan yang pernah jadi Primadona Andalan Provinsi NTT.

Bersama Ayahnya, Kristo dipercaya oleh salah satu pengusaha di Kabupaten Kupang untuk menjual sapi ke Kalimantan Tengah.

Suatu ketika di pertengahan bulan Juli, ia menelepon ibunya dan memutuskan untuk menetap di Kalimantan Tengah, dengan berat hati kedua orang tuanya pun mengizinkan keputusan singkat itu.

“Mungkin dia sudah senang tinggal di sana,” ujar Ny. Desiana Bonat, Ibunda Kristo.

Berselang sebulan, tepatnya tanggal 11 Agustus 2019, Ia mendapatkan Musibah Kecelakaan Lalu Lintas di Kalimantan Tengah. Sepeda Motor yang dikendarai oleh temannya mogok di tengah jalan karena kehabisan bensin, saat bersamaan melaju kencang Mobil Minibus dari arah yang sama dan menabraķ mereka.

Kristo saat dijenguk oleh Laurensius Ade Suyanto, Mobile Service Jasa Raharja NTT

Kristo divonis meninggal oleh Dokter. Sekujur tubuhnya sudah ditutup dengan kain kafan di Ruang UGD. Petugas medis lalu membawanya ke Ruang Jenazah. Saat di Ruang Jenazah dengan penuh keyakinan dan sekuat tenaga kain kafan itu perlahan-lahan dibukanya; Kristo kaget bukan main di sekitarnya ada banyak jenazah.

“Pak, Saya belum mati, nafas saya masih ada, tolong bawa kembali saya ke sana,” pinta Kristo.

Pasca-perawatan di rumah sakit di Kalimantan, Ia lalu dirujuk ke RS Siloam Kupang. Kaki kirinya lalu diamputasi.

Hari ini, Jumat, 25 Oktober 2019, saya mengunjungi di Desa Oesusu. Kristo tinggal bersama kedua orang tuanya dan 3 orang saudaranya di rumah sederhana.

“Kristo…Kami hadir mewakili negara, ini wujud nyata kehadiran negara saat masyarakat mengalami musibah. Semoga dana santunan cacat tetap yang diberikan PT Jasa Raharja (Persero) dapat dimanfaatkan dengan baik,” tuturku padanya.

“Pak, terima kasih…semoga Tuhan membalas kebaikan Bapak, saya tetap semangat pak. Setiap sore saya biasanya jalan-jalan ke tetangga,” ujar Kristo lirih sembari antusias.

“Luar Biasa Dek…Kaka Pulang Dulu ke Kupang. Sampai Jumpa,” tuturku sambil mohon diri.

Optimisme dan Semangat Hidupmu Luar Biasa Kristo….Mujizat Tuhan Sungguh Luar Biasa. (*)

Penulis merupakan Mobile Service di PT Jasa Raharja (Persero) Cabang NTT
Editor (+rony banase)

Silem Serang—dari Pemabuk hingga Juara Nasional Tinju Indonesia

73 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Perhelatan tinju dunia yang bertajuk ‘The Border Battle 2019’, telah usai namun masih mengisahkan banyak hal menarik yang menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kisah inspiratif ini lahir dari para petinju Indonesia yang mengambil bagian dalam event Internasional yang diselenggarakan di GOR Flobamora Kupang, pada tanggal 5—7 Juli 2019.

Silem Serang, salah satu petinju asal Nusa Tenggara Timur yang tampil pada even internasional pada partai Non Title Internasional melawan petinju asal Timor Leste, Filipe Atade. Kemenangan yang dipersembahkan Silem Serang menjadi satu kebanggaan luar biasa untuk Indonesia, khususnya Dunia Tinju NTT terutama Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS)

Penampilannya di atas ring sangat memukau para penonton namun perjuangannya untuk menjadi petinju profesional bukanlah sesuatu hal yang mudah. Silem Serang memulai kariernya di dunia tinju pada tahun 2011 di Sasana Haumeni Boxing Camp Soe. Dirinya bergabung saat berumur 22 tahun.

“Kalau kata orang itu sudah terlambat, tapi bagi saya belum terlambat. Selagi masih bisa beejuang dan mau berusaha”, ungkap pria kelahiran 25 September 1991 itu.

Sikap Silem, sapaan akrabnya merupakan contoh bagi para kaum muda. Bagaimana mungkin dia yang semasa di Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah hidup dalam pergaulan bebas, konsumsi minuman keras namun akhirnya menjadi seorang petinju profesional. Kesadarannya merubah diri perlu dicontoh.

Silem akhirnya memulai debutnya mewakili kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) di GOR Flobamora Kupang, kemudian pada even Kejuaraan Daerah se-NTT di Soe Ibu Kota Kabupaten TTS.

“Pertama kali tampil tahun 2011 bulan Desember”, kisah Silem yang dihubungi Garda Indonesia via Whatsapp.

Motivasi tinggi yang dimiliki Silem Serang untuk menjadi seorang petinju profesional membawanya keluar daerah. Meskipun itu melawan kehendak orang tuanya yang menginginkan dirinya untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi.

“Saya berangkat ke Depok karena orang tua saya paksa untuk kuliah dulu Kupang. Tapi masalahnya saya di Kupang itu pemabuk dan pergaulan tidak baik. Saya kuatir kalau saya kuliah pasti uang orang tua habis gara-gara pergaulan, makanya saya ambil keputusan menghindari kuliah di Kupang”, ujar alumni SMA Negeri 9 Kupang itu.

Ketika berada di Depok, kisah Silem, dirinya harus bekerja serabutan untuk bisa tetap bertahan hidup. Pekerjaan itu ia lakukan disela-sela waktu latihannya. Kerja keras dan dibarengi doa, itulah yang selalu dia lakukan. Walaupun dia mendapatkan tempat tinggal dari sasana tempat dia berlatih, namun dirinya bekerja untuk bisa mendapatkan biaya makan minum dan kebutuhan lain.

“Saya berangkat ke Depok diajak teman. Pertama kali di Depok saya masuk sasana Abraham Paulianto Boxing”, ujar pria asal Hoineno itu.

Kerja keras Silem di tempat rantau akhirnya membuahkan hasil. Selama 1 (satu) tahun 2 (bulan) berlatih dan bekerja akhirnya dia diberikan kesempatan untuk tampil dan menunjukkan kemampuannya sebagai seorang petinju masa depan yang patut diperhitungkan.

“1 tahun itu kehidupan saya sungguh prihatin tetapi saya bertahan hidup. Kemudian saya rebut Gelar Sabuk Kapolres Kota Bogor”, ujar Silem.

Kedua orang tuanya tidak marah dengan keputusan Silem untuk tetap bertahan sebagai seorang petinju. Tutur Silem, “Orang tua selalu mendukung dan menanyakan keadaannya, tetapi dirinya selalu mengatakan bahwa kehidupannya baik-baik saja, walaupun dia harus bekerja disela-sela waktu latihannya.”

“Orang tua sonde (tidak,red) marah karena saya selalu meyakinkan mereka bahwa saya baik-baik saja. Dan saya alasan belum ada orang yang kasih saya pertandingan. Akhirnya mereka bilang, tidak apa-apa itu mau saya jadi lanjutkan saja”, tutur Silem.

Lebih lanjut, Silem mengatakan bahwa dirinya mampu membuktikan bahwa pilihannya untuk tetap bertahan sebagai seorang petinju membuat orang tuanya bangga. Terutama ketika tampil di GOR Flobamora Kupang.

“Orang tua bangga sekali, sangat bangga. Bahkan terharu”, ungkap Silem.

Tidak ada kata terlambat bagi orang yang tekun dan bekerja keras. Itulah yang dibuktikan oleh Silem. Walaupun baru menekuni tinju di usia 22 tahun dengan latar belakang pemadat minuman keras, namun keyakinannya untuk membanggakan keluarga membawa dirinya patut diperhitungkan pada dunia tinju nasional sekarang. Dengan berbagai gelar nasional, saat ini Silem termasuk petinju yang sukses.

“Tahun 2017 saya juara nasional kelas terbang yunior 49 kg versi versi Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI), dan tahun 2019 saya rebut lagi gelar juara nasional versi Komisi Tinju Indonesia (KTI) “, jelas Silem.

Tidak berhenti di tingkat nasional, lanjut Silem, dirinya sudah balasan kali mengikuti pertandingan internasional, diantaranya di Singapura, Filipina, Thailand dan juga Jepang, termasuk di GOR Oepoi Kupang beberapa waktu lalu.

“Itu perbaikan peringkat internasional. Peringkat saya sekarang 120 dari 360 orang petinju di dunia untuk kelas terbang yunior 49 kg”, ujar anak bungsu dari 7 orang bersaudara itu.

Dengan latar belakang orang tua petani, tutur Silem, dirinya tidak ingin merasakan kesuksesan sendiri. Dirinya kini sudah memiliki sasana tinju sendiri yang didirikan di Depok tempat dimana dia berjuang dan berlatih menata kesuksesan.

“Sekarang saya buka Sasana Tinju sendiri dengan nama daerah saya yaitu Silem Amanatun Soe Boxing Camp. Itu saya buka tahun 2014”, ujar Alumni SMP Negeri 10 Kupang itu.

Aktivitas yang dijalani saat ini, lanjut Serang, yaitu tetap berlatih di sasana miliknya dan sekaligus menjadi pelatih tinju juga. Tujuannya untuk bisa melahirkan lebih banyak petinju-petinju profesional.

“Saat ini anggota saya yang aktif berjumlah 5 orang. Dan tahun 2019 ini sudah bertanding di tingkat PORDA Jawa Barat mewakili Kita Depok dan 1 orang juara 3”, tutur Silem.

Dibalik kesuksesannya, Silem punya masa lalu yang suram dan dirinya belajar dari pengalaman tersebut. Dirinya juga mengajak para kaum muda untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dimiliki untuk merubah kehidupan lewat bakat yang dimiliki. Dirinya juga berpesan kepada sesamanya yang bergelut dibidang yang sama untuk tetap berjuang karena menurutnya Tuhan selalu ada dan melihat setiap perjuangan umat-Nya

“Yang masih berusia muda, ayolah jangan sia-siakan kesempatan untuk membanggakan daerah kita, dan khusus keluarga kita serta merubah kehidupan kita melalui bakat di cabang olahraga apa saja. Khusus tinju, yang belum berhasil, jangan putus asa, tetap semangat dan berjuang, Tuhan tidak tutup mata terhadap perjuangan kita”, pungkas Silem Serang yang selalu menggunakan motif Timor disetiap penampilannya. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Cerita Jein Koten-‘Oa Pariwisata Flotim 2019 Bersama Pangan Kelor’

83 Views

Larantuka-NTT, gardaindonesia.id | Temaram tenggelamkan Sang Surya di pelukan bukit sebelah barat Kota Reinha Larantuka. Butiran titik-titik hujan masih tersisa di pucuk kelor halaman rumah penduduk Desa Mokantarak; Sebuah desa kecil nan asri di arah barat kotaku, Larantuka. Inilah Kisah dibalik suksesnya Jein Koten menjadi Oa (Putri) Pariwisata Flotim 2019.

Sore itu, aku menyempatkan diri bersepeda hingga ke desa yang berjarak 4 KM dari Kelurahan Waibalun tempat tinggalku. Dengan penuh semangat sambil bernyanyi kecil aku mengayuh sepedaku menuju ke rumah salah satu keluargaku.

Tepatnya, di rumah kakak sepupuku, Bapak Milan Koten, ayahanda dari adik Jein Koten, penerima gelar Oa Pariwisata (Putri Pariwisata) Flores Timur tahun 2019. Gadis kelahiran Waibalun 20 tahun silam yang bernama lengkap Yuliana Hingi Koten, merupakan putri ke 2 dari 4 bersaudara.

Gadis berdarah campuran Flores Timur dan Sikka ini, sejak kecil telah menunjukkan prestasi gemilang baik di sekolah maupun prestasi diluar sekolah. Berbagai perlombaan selalu diikutinya. Sosok yang energik, cerdas dan cantik tentunya dan menyukai tantangan.

Jein Koten berpose bersama Finalis Putri Indonesia,Fiona Callaghan dan Para Finalis Putri Pariwisata Flotim

Dalam memperoleh suatu hal yang dia inginkan meskipun melewati berbagai tantangan, dia selalu percaya pada kemampuan diri dan kerja keras serta selalu memperoleh dukungan dari keluarga, membuatnya mampu melewati semua tantangan yang ada.

Sore temaran, akan berlalu, ketika itu kami bertiga duduk di lopo kecil halaman rumah Ka’ Milan (Bapak Milan Koten); Aku, adik Jein dan Ka’ Koni-Ibunda dari Sang Putri Pariwisata, Ya..sedikit memberikan gelar yang pantas untuk adik tersayang dengan sebutan ‘Sang Putri’.

Mereka kaget melihat kedatanganku sore itu, sang surya sebentar lagi akan tidur di ufuk barat desa ini, para petani desa berbaris rapi meski kulihat ada gambaran kelelahan di wajah mereka. Itulah hidup yang penuh perjuangan.

Akupun mulai membuka perbincangan kecil kami, ditemani teh kelor buatan adik Jein, teh yang diolah dari bahan baku daun kelor yang dikeringkan, kata Ka’ Koni bahwa keluarga mereka sudah lama mengkonsumsi minuman dari kelor ini. Setiap pagi mengawali hari dengan Sup Motong (kelor) sebagai Teman Nasi untuk Sarapan Pagi bagi Keluarga Ka’ Milan.

Ya..Motong-lah Teman Setia Mereka. Tiada Hari Tanpa Kelor…Tiada Hari Tanpa Motong.

Itulah kebiasaan sarapan pagi dengan Sup Kelor bagi sebagian besar Penduduk Flores Timur. Bahkan untuk makan siang maupun malam selalu tersedia Sup Kelor. Karena memang pengolahannya mudah dan tentunya bergizi tinggi.

Kamipun bercerita tentang kegiatan Pemilihan Oa Pariwisata pada tanggal 30 Desember 2018 kemarin. Alur kegiatan yang begitu apik, dengan melalui beberapa tahap. Pada ajang bergengsi ini mendatangkan juri dari luar Flores Timur yakni Putri Pariwisata NTT.

Jein Koten saat mengikuti Festival Lamaholot di Lembata

Tentunya ini bukan ajang main-main. Peserta lomba berasal dari Oa-Oa (gadis) terbaik dari tiap kecamatan Se-Kabupaten Flores Timur. Kegiatan puncak Pemilihan Oa Pariwisata dimulai tepat pukul 20.00 WITA; 1 jam sebelumnya, aku sudah berada di lokasi acara tepatnya di Lapangan Lebao, Larantuka – Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sungguh merupakan malam puncak yang dinantikan dan pastinya mendebarkan jantung setiap peserta lomba; Oa-Oa Nagi menebar pesona di Malam Penghujung 2018, pesona mereka mampu mengalahkan sinar rembulan di malam itu. Bias sinarnya redup oleh Pesona Oa-Oa Lamaholot.

Penontonpun terpukau, tampak peserta lomba berlenggak-lenggok diatas panggung yang gempita dan elegan. Acara ini digelar oleh Dinas Pariwisata Flores Timur dan didukung oleh Nani Betan (anggota DPRD) sekaligus pemilik D’Rippen EO, sebuah event organizer terbaik di Flores Timur.

Jein Koten dalam Balutan Busana Adat Lamaholot

Detik demi detik berlalu, menit dan jam semakin menua di malam itu. Tibalah saat sang juri memberikan penilaian terakir; Yuliana Hingi Koten berhak meraih gelar Oa Pariwisata Flotim 2019.

Sang Putri Pariwisata NTT yang membacakan hasil keputusan juri yang tentunya tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Itulah perlombaan, ada yang meraih peringkat pertama atau juara 1 dan ada peringkat dibawahnya; tetapi yang pasti,semua peserta hebat.

Semua peserta memiliki pesona tersendiri, kekhasaan tersendiri dan tentunya semua kita berproses. ‘Hidup adalah proses’, yang mampu melewati semua tantangan dengan penuh kesabaran dialah yang akan jadi pemenangnya.

Kita semua menjadi pemenang ketika kita mampu melewati segala tantangan di hidup kita. Kita semua menjadi pemenang ketika setiap peristiwa hidup kita lalui dengan penuh syukur; baik itu peristiwa suka maupun peristiwa duka.

Akupun semakin bersemangat ketika malam mulai menjemput ragaku saat berada di lopo kecil itu, tak peduli gerimis mulai meriuh beradu bersama sepoi angin. Kami bertiga masih mau bercerita; adik Jein melanjutkan cerita masa kecilnya diselingi tawa Sang Ibunda.

Tiada hari tanpa Sup Kelor. Masa-masa indah itu ia lalui bersama keluarganya diawali saat menetap di Pulau Solor atau ‘Pulau Penuh Batu’, Aku jadi teringat sebuah slogan lama yang disampaikan oleh nenekku ‘Solor Batu Banyak Makan Batu Berak Jagung’ (Berak=Buang Hajat,red).

Disitulah Jein kecil melalui masa kanak-kanaknya. Memasuki masa remaja Jein disekolahkan di SMP Katolik Ratu Damai Waibalun. Di sekolah ini karakternya mulai dibentuk, bakat dan kemampuannya semakin bersinar di awal masa remajanya.

Guru-guru di almamaternya pun turut berbangga atas terpilihnya Jein menjadi Putri Pariwisata Flores Timur. Anak yang cerdas dan mampu berbahasa Inggris kata salah seorang gurunya di SMP Katolik Ratu Damai.

Karena sejak duduk di sekolah dasar Jein sudah mengikuti Kursus Bahasa Inggris. Ketika memasuki jenjang pendidikan SMU, Jein disekolahkan di SMA Katolik Frateran Podor, Larantuka yang merupakan sekolah menengah terbaik di Kabupaten Flores Timur yang sekarang menjadi Sekolah Rujukan K13.

Selain memiliki kemampuan akademik di sekolah, Jein juga memiliki prestasi di bidang olahraga. Bersama teman-teman sekolahnya di Frateran Podor, mereka selalu meraih juara dalam Pertandingan Voli Putri Se-kota Larantuka. Baginya olahraga adalah hal penting selain tubuh dicukupi dengan makanan bergizi dan diimbangi olahraga pasti akan memberikan efek yang baik bagi kesehatan.

Di masa SMA Jein sibuk dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Namun yang pasti prestasi akademik tetap dijaga demi impiannya agar bisa kuliah dan bekerja untuk membahagiakan orang-orang tercintanya.

Sosok Wanita Lamaholot Sang Pekerja Keras. Kebarek Lama Koten (gadis suku koten) ini tak pernah mau menyerah jika itu adalah keinginannya. Dengan niat dan usaha yang semestinya; Jein yakin, ia akan meraihnya. Seperti pada ajang pemilihan Oa Pariwisata yang baru saja ia jalani.

Di sela kesibukannya sebagai seorang Mahasiswa Pariwisata semester 7, tentunya tidaklah gampang, Ia harus pandai membagi waktu kuliah dan waktu dalam mengikuti berbagai kegiatan pengembangan bakat dan minat.

‘Si Keras Kepala’, demikian julukan yang diberikan oleh ayahnya, selalu mewakili kampusnya. Luar biasa Adikku!. Masih muda, berbakat dan tentunya berprestasi.

Satu hal yang membuat saya benar kagum dan salut akan Jein; ditengah kesibukan sebagai mahasiswa, Dia bekerja. Dia tidak mau bergantung sepenuhnya pada orang tua.

Meski hanya bekerja beberapa jam, ia bisa mengatasi kekurangan kebutuhan hariannya atau mengatasi keterlambatan jatah bulanan dari Sang Ibunda. Karena hidup di perantauan jauh dari orangtua, harus pandai menggunakan uang. Tidak boros dan tentunya bersikap layaknya anak yang berbakti.

Jein Koten – Oa Pariwisata Flotim 2019

“Biarlah orangtua berbangga memiliki anak yang baik.he…he..sedikit memuji diri bolehkan,” ucap Jein.

Hati kecilku berkata, sungguh unik anak ini. Jarang sekali kita temukan anak kuliahan seperti Jein di masa yang modern ini..bekerja paruh waktu untuk meringankan beban orangtua. Patut dijadikan contoh bagi kaum muda lain.

Malam menggenggam seisi jagad namun pikiranku semakin bersinar. Percakapan yang santai ditemani Teh Kelor yang membakar semangatku di tengah Alunan Riuh Gerimis membuatku seakan tak ingin mengakiri cerita kami kala itu.

Kelor yang dianggap sayur murahan tak berarti…ternyata menyimpan Sejuta Manfaat.

Tanaman Kelor, Milik Kami Anak-anak Lamaholot.

Kami dibesarkan ditengah tandusnya Tanah Flores Timur namun hati dan jiwa kami tidak tandus.

Otak kami disirami nasehat-nasehat berharga dari nenek moyang bahwa hidup harus selalu dalam persaudaraan biarpun kami tidak sekampung, biarpun kami tidak seagama biarpun kami terpisah pulau dan laut. Kami tetap bersaudara dalam Satu Bingkai Kabupaten Flores Timur.

Di akhir perbincangan kami, adik Jein menyampaikan beberapa hal menyangkut Visi Misinya menjadi Putri Pariwisata Flores Timur antara lain:

  • Penanaman Kelor Serentak;
  • Pengolahan Kelor Menjadi Berbagai Jenis Makanan dan Minuman;
  • Menjadikan Kegiatan Bekarang dan Menyuluh di ujung Desa Mokantarak sebagai Atraksi Wisata Menarik;
  • Menciptakan Galeri Aksesoris Khas Mokantarak (anting, gelang, jepit, kalung) dari Bahan Tradisional;
  • Mengajak Orang Muda atau ‘Kebarek Lamaholot’ untuk Mendapat Pelatihan Menenun Kain Tenun Khas (kwatek) Flores Timur; dan
  • Melatih Ketrampilan Menghasilkan Jagung Titi.

‘Sukses Jein!’, idemu begitu cemerlang. Kami Siap Mendukung Setiap Aksimu Bagi Masyarakat Flores Timur.

Menurut Ibundanya bahwa semua rencana kegiatan atau visi misi dari Jein telah mendapat restu dari PEMDA Flores Timur.

Budidaya kelor yang menjadi Program Unggulan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi tentunya disambut hangat oleh Masyarakat Desa Mokantarak pada khususnya dan Flores Timur pada umumnya.

Dan Aku, sebagai Anak tanah Lamaholot tak menyangka bahwa dengan Sang Putri Pariwisata punya pemikiran yang sama tentang kelor.

Tentang bagaimana kita bisa membuat kelor dihargai di Mata Masyarakat Indonesia, bagaimana kita memperkenalkan lebih kepada dunia luas tentang Motong atau Kelor.

Semoga Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur NTT menyempatkan diri membaca Goresan Kecil Guru Kampung ini; Tentang Kisah Perjalanan Hidup Jein dan Visi Misinya Sebagai Putri Pariwisata Flores Timur 2019 yang Bersatu Hati dengan Program Motongnisasi.

Jein,…Kami Bangga Memilikimu!.

Hidup adalah perjuangan, dan kita disini masih pada satu langit yang sama. Disini kita semua berproses karena hidup adalah bagaimana kita melalui perjuangan demi perjuangan. Jalanmu masih panjang, tetaplah menjadi kebanggaan orangtua dan tentunya kebanggaan kami masyarakat Lamaholot. Kami selalu mendukungmu!

Profil Singkat Jein 

Nama Lengkap : Yuliana Hingi Koten

TTL : Waibalun, 24  November 1998

Riwayat sekolah

  1. SDN Ongalereng Solor Barat;
  2. SMPK Ratu Damai Waibalun;
  3. SMAK frateran Podor Larantuka;
  4. Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta (STIPRAM )

Aktifitas dan Prestasi :

  1. Paskibra;
  2. Juara 1 lomba Fashion Show tingkat Kabupaten (Festival Lamaholot di Lembata);
  3. Pernah menjadi News Reader;
  4.  Juara 1 lomba Fashion Show Tingkat SMAK Frateran Podor;
  5.  Juara 1 Lomba Voli Tingkat SMA Se-Kota Larantuka (Piala Bupati);
  6.  Juara 2 Lomba Voli tingkat SMA Se-Kota Larantuka (Gabriel Cup);
  7. Mengikuti kegiatan FSC (Foreign Case Study) di Thailand, Singapura, dan Malaysia;
  8. Mengikuti kegiatan School of Leadership di Yogyakarta

 

Penulis (*/Helmy Tukan,S.Pd – Guru dan Pegiat Literasi di Flores Timur)

Editor (+rony banase)