Arsip Kategori: Bahasa & Sastra

Kantor Bahasa NTT Pinta Pihak Kampus Buka Jurusan Bahasa Daerah

103 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd. dalam sambutannya pada acara penutupan kegiatan pada Rabu, 23 Oktober 2019 meminta kepada pihak Perguruan Tinggi di Kota Kupang untuk membuka jurusan bahasa daerah.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/10/23/kantor-bahasa-ntt-perlu-perda-untuk-melestarikan-bahasa-daerah/

“Kami berharap kedepannya setiap Perguruan Tinggi, kami inginnya kalau bisa ada jurusan bahasa daerah”, pinta Valentina Lovina Tanate dalam pegelaran seminar internasional linguistik dan sastra Austronesia-Melanesia selama 2 hari pada 22—23 Oktober 2019 bertempat di Hotel Aston Kupang.

Hal tersebut disampaikan karena menurut Valentina, generasi muda saat ini kurang mencintai bahasa daerah. Dirinya mengatakan bahwa setiap tahun dalam pemilihan Duta Bahasa tingkat Provinsi, sedikit sekali dari para peserta yang memahami bahasa daerah dengan baik.

“Generasi muda di NTT kurang mencintai bahasa daerah, karena apa? Setiap kali pemilihan duta bahasa, 99 persen peserta seleksi duta bahasa tidak bisa berbahasa daerah,” ujarnya.

Lanjutnya, bahasa daerah juga membentuk kepribadian seseorang. Dirinya berpesan kepada semua mahasiswa yang hadir untuk belajar menggunakan bahasa daerah sebagai identitas diri.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd.

“Bahasa daerah membentuk setiap kepribadian kita. Anak-anak generasi muda sekarang, anak-anak mahasiswa, belajar menggunakan bahasa daerah dengan baik maka di mana pun kita berada identitas kita akan terjaga,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Valentina menyampaikan 3 rekomendasi dari kegiatan tersebut kepada pemerintah, pihak kampus dan juga para akademisi.

Kepada Pemerintah Provinsi NTT, kantor Bahasa meminta untuk mengimplementasikan Pasal 42 ayat 1 Undang-undang nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan yang berbunyi ‘Pemerintah Daerah wajib mengembangkan, membina dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia’.

“Implementasi tersebut berupa peraturan gubernur yang secara spesifik mengatur pengembangan dan perlindungan bahasa daerah di NTT,” ucap Valentina.

Rekomendasi berikutnya, ditujukan kepada Perguruan Tinggi dan institusi akademik d NTT untuk secara konsisten menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ilmiah, utamanya tentang linguistik dan sastra, agar tercipta ruang-ruang diskusi pengembangan dan perlindungan Bahasa dan sastra daerah serta terwujudnya masyarakat NTT yang lebih peduli dan bangga dengan budayanya.

Dan yang terakhir kepada segenap akademisi di NTT untuk mendokumentasikan, menelaah dan menyebarluaskan kajian-kajian Bahasa dan Sastra di NTT agar Bahasa dan Sastra di NTT mendunia dan senantiasa terjaga kelestariannya.

Valentina mengatakan bahwa rekomendasi tersebut juga akan diserahkan kepada para Rektor di masing-masing kampus di Kota Kupang yang sudah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman.

Dirinya berharap rekomendasi tersebut bisa ditindaklanjuti baik oleh Pemerintah Daerah maupun pihak kampus, sebagai upaya pengembangan dan perlindungan bahasa dan sastra di NTT, karena bahasa dan sastra di NTT merupakan pertemuan antara dua rumpun besar bahasa yakni sastra Austronesia dan Melanesia yang ditemukan pada masyarakat Pulau Alor dan juga masyarakat di Kabupaten Belu.

Sebelum menutup kegiatan tersebut, Valentina juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Ketika menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh panitia pelaksana, Valentina sempat menitik air mata.

“Kami satu tim yang sangat luar biasa, sehingga dapat melaksanakan kegiatan yang sangat besar. Dengan waktu yang singkat, peserta begini banyak, anak-anak saya bisa menghadirkan pembicara utama yang sangat bagus,” tandas Valentina ketika ditemui setelah acara penutupan. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Wow!, Ternyata Belajar Bahasa Indonesia Asyik dan Menyenangkan

47 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa pemersatu bagi 1.340 suku (sensus BPS tahun 2010) dan pemersatu dalam keberagaman dan kebhinnekaan atas 34 provinsi di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); terus ber-ubah dan menyesuaikan diri dengan pembaruan sebanyak dua kali setahun.

Tak ketinggalan, Bahasa Indonesia juga menyesuaikan diri di era digitalisasi saat ini. Melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V versi Daring (Dalam Jaringan) yang digunakan dengan jaringan internet dan KBBI V versi Luring (Luar Jaringan) yang dapat diunduh melalui aplikasi di android, kita dapat mengetahui kata baku dan tak baku, kelas kata, ragam kata, bahasa daerah, dan istilah dalam berbagai bidang.

Khusus untuk KBBI V versi Daring, kita dapat mengunduh melalui laman https://kbbi.kemdikbud.go.id/ dan dengan pembaruan secara konsisten dan kontinu, KBBI V versi Daring juga dapat digunakan sebagai wadah penyampaian kosa kata baru yang belum terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Belajar Bahasa Indonesia melalui Penyuluhan Penggunaan Bahasa Indonesia bagi Media Massa yang dihelat oleh Kantor Bahasa NTT pada 12—15 Agustus 2019; begitu banyak manfaat yang dirasakan oleh para pengelola dan wartawan media daring yang ikut dalam penyuluhan yang dilaksanakan di Aula Hotel Amaris Kupang.

Wartawan media daring berpose dengan Dr.Arie Andrasyah Isa,.S.S., M.Hum.

Sebanyak 50 wartawan media daring dengan wilayah liputan dan wilayah kerja di Kota Kupang sangat bersyukur dapat menggapai kesempatan berharga bisa menimba ilmu dari para mentor handal, Salimulloh Tegar.S dari Kantor Bahasa NTT dan Drs.S.S.T.Wisnu Sasangka, M.Pd. Dr. Luh Anik Mayani, S.S., M.Hum. Dr.Arie Andrasyah Isa, S.S., M.Hum. dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Seperti Portal Berita Daring Garda Indonesia yang berkesempatan ikut penyuluhan kedua (Penyuluhan pertama di tahun 2018), merasa bersyukur dan sangat senang menggapai berbagai informasi baru menyangkut ketatabahasaan, Ejaan Tanda Baca dalam Penulisan Berita; Bentuk dan Pilihan Kata dalam Penulisan Berita; Kalimat Aktif dalam Penulisan Berita dan Penulisan Paragraf Teks Berita.

Tanggapan senada dilontarkan oleh teman wartawan media daring lainnya, seperti Rolyn dari reportntt.com menyampaikan rasa syukur dapat mengikuti kegiatan ini. “Ternyata selama ini kita sering melakukan kesalahan. Dengan kegiatan penyuluhan ini dapat mengubah tata cara menulis kita agar semakin baik,”tuturnya saat bincang kecil kami di halaman Hotel Amaris Kupang pada Rabu, 14 Agustus 2019 pukul 17:35 WITA—selesai.

Begitupun dengan Arif dari kupangmedia.com, dirinya merasa senang dan diliputi perasaan bahagia dapat terlibat dalam penyuluhan ini. “Saya merasa senang dan ternyata asyik dapat mengetahui kosa kata baru, padanan kata dan berbagai hal baru mengenai ketatabahasaan,” ucapannya bahagia.

Euforia peserta Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi Pelaku Media Massa terasa begitu kental saat dapat saling memberikan masukan, mengoreksi dan berbagi pengalaman dalam menulis di media daring masing-masing.

“Wow!, ternyata belajar Bahasa Indonesia itu asyik dan menyenangkan,” ujar beberapa teman wartawan saat menikmati waktu senja dibawah naungan pohon flamboyan sambil duduk santai diatas empuknya rumput jepang di pelataran parkir hotel.

Penulis dan editor (+rony banase)

Kantor Bahasa NTT Helat Penyuluhan Penggunaan Bahasa Indonesia

30 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik, benar, serta tepat sangat diperlukan baik itu di lingkungan pemerintahan, di lingkungan pendidikan, maupun di media massa.

Pada lingkungan pemerintahan, penggunaannya sebagian besar adalah untuk keperluan tata naskah dinas seperti surat-menyurat dan pembuatan dokumen resmi. Pada lingkungan pendidikan, penggunaannya yang utama adalah untuk pengajaran di kelas, selain juga untuk surat-menyurat.

Berbeda dengan dua lingkup sebelumnya, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di lingkup media massa bukan untuk lingkungan internal dan bukan pula dalam format serta bentuk yang kaku. Penggunaan Bahasa Indonesia di media massa harus tetap luwes dan memiliki tingkat keberterimaan yang tinggi di masyarakat dan tetap harus baik dan benar juga yang paling utama adalah penggunaan bahasa yang praktis.

Penggunaan dan pemunculan kosakata bahasa Indonesia yang unik atau jarang digunakan/istilah-istilah atau kata-kata baru sangat diperlukan serta akan menjadi nilai tambah bagi suatu media massa dari aspek bahasa. Ini juga sebagai bentuk fungsi media massa sebagai corong terdepan dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi Pelaku Media Massa; Badan Publik; dan Penggunaan Bahasa Media di Luar Ruang oleh dihelat oleh Kantor Bahasa NTT pada 12—15 Agustus 2019.

Foto bersama Sekretaris Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Drs. M. Abdul Khak, M.Hum., Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd. dan para kepala sekolah di Hotel Neo Aston Kupang

Dilaksanakan selama empat hari, kegiatan penyuluhan dibagi dalam enam kelas, yaitu dua kelas Bahasa, dua kelas Jurnalistik, dan dua kelas Desain Grafis. Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta dari masing-masing sekolah bisa mengembangkan mading digital di sekolah masing-masing.

Dibuka oleh Sekretaris Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Drs. M. Abdul Khak, M.Hum. dan didampingi oleh Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate,S.Pd. Pembukaan dilaksanakan di Aula T-More, Hotel Sahid T-More Kupang pada 12 Agustus 2019, pukul 08.00 WITA—selesai bagi pelajar SMP dan SMA se-Kota Kupang dan pembukaan di Hotel Neo Aston Kupang yang untuk para Kepala Sekolah dan 45 Jurnalis Media Daring atau Online.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate menyampaikan dalam konteks NTT, perlu penempatan Bahasa Indonesia di tempat yang sepatutnya.

“Di kantor atau lembaga pendidikan tentu kita harus menggunakan Bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi pemersatu, sambil tetap mempelajari bahasa asing untuk menghadapi tantangan zaman,”ujar Valentina.

Atas dasar itulah, lanjut Valentina, “saya pikir penting sekali rasanya untuk menggelar penyuluhan penggunaan bahasa Indonesia pada berbagai ranah dan lingkup instansi. Selain melibatkan kawan-kawan wartawan, kami turut melibatkan pihak pemerintah & pendidik bahkan anak-anak didik sebagai peserta dengan harapan terjadi sinergi dan perubahan secara luas, tidak hanya mengandalkan satu pihak sebagai ujung tombak.,” pintanya.

“Anak-anak didik kita ini yang sekarang masih duduk di bangku SMP dan SMA suatu saat nanti juga akan menjadi pendidik, birokrat, atau jurnalis. Merekalah masa depan bangsa ini dan mereka pula yang akan menggantikan kita”, pungkas Valentina.

Penulis dan editor (+rony banase)

Hai Perempuanku

56 Views

Waibalun-Flotim, Garda Indonesia | Seuntai refleksi perjalanan hidup sosok perempuan tangguh dengan konsistensi mempertahankan budaya tenun di Waibulan Kabupaten Flores Timur (Flotim) Provinsi Nusa Tenggara Timur. Refleksi ini ditulis oleh Helmy Tukan,S.Pd., yang berprofesi sebagai guru di SDI Waibalun, selain sebagai pendidik, Helmy aktif sebagai pegiat literasi, dan pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Flotim.

Hai perempuanku,…urailah benang, tenunlah menjadi selembar sarung gapailah segala asamu di setiap masa kehidupanmu,.sulamlah benang-benang kasih dan jalinlah untaian mutiara hidupmu agar semakin bermakna bagimu dan sesama.

Itulah sepenggal sajak lepas yang kugoreskan di awal pagi ini. Pagi kusambut dengan seulas senyum penuh harap yang membias bersama sinar mentari yang hadir dari balik jendela kamar dan rumahku yang berada di kaki Gunung Ile Mandiri. Gunung tangguh pelindung kampungku, Waibalun.

Pagi ini sedikit cerah meski semalam diguyur hujan. Aku kembali bangun memulai hari. Membereskan rumah, memasak bagi seluruh isi rumahku dan segera mengurus anak-anak ke sekolah.

Sebut saja aku adalah Ina Kewa. Aku lahir dan dibesarkan di Tanah Lamaholot, Flores Timur. Karena keterbatasan biaya, aku hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah Menengah Atas (SMA). Masa remaja yang indah tidak kudapatkan. Aku harus menelan pil pahit dan salib yang harus kutanggung karena tidak mau mendengar nasehat orang tua.

Aku hamil dan lelaki yang menghamiliku tidak mau bertanggungjawab. Lengkaplah sudah deritaku kala itu. Akupun harus pasrah menerima semua keadaan waktu itu.

Aku jatuh,…aku terpuruk. Semua temanku menertawakanku. Namun aku tak peduli. Bagiku itu adalah masa suramku kala itu.

Hari berganti tahunpun berlalu, Aku dan anakku yang kubesarkan tanpa sosok sang ayah; begitu cerianya ia melihat dunia. Tanpa tahu seperti apa deritaku.

Aku, Ina Kewa perempuan tangguh dari Flores Timur. Aku mewakili sekian ratus kaummu.

Kaum wanita Lamaholot yang sering menjadi kaum tertindas oleh kaum adam, kaum laki-laki.

Hari-hari yang melelahkan selalu aku jalani dengan penuh syukur. Menjadi wanita kepala keluarga bagi keluarga kecilku di kampung.

Berbagai pekerjaan sudah aku jalani. Mulai dari menjadi petani, penjual ikan, penjual kue, mencari kayu bakar, meniti jagung dan menenun.

Keseharian sebagai bapak dan ibu bagi anakku kujalani dengan sukacita walau kadang dihiasi dengan tangis airmata.

Hidup adalah perjuangan, itu adalah motto hidupku.

Aku tak mau menjadi beban bagi orangtuaku. Apalagi semakin hari mereka semakin tua, biarlah aku yang menjadi tulang punggung keluarga ini.
Ya… Aku, anakku, ayah dan juga ibuku. Aku harus menjadi anak yang berbakti..biar dalam perjalanan hidup ini, aku memikul salib berat karena ulahku sendiri. Memiliki anak namun tak bersuami.

Aku, Ina Kewa si perempuan tangguh. Tanah kelahiranku bukanlah tanah yang subur. Curah hujan dalam setahunpun tak sama banyak dengan yang dialami di daerah di Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Alam Flores yang kering namun menampilkan kesan eksotis. Gugusan pulau yang membentang diantara lautan membiru menambah indah panorama nusaku. Flores Island, Nusa bungaku. Biarpun kering namun Tuhan tak membiarkan kami merana, beberapa tanaman tumbuh dengan suburnya di tanah yang kering.

Jagung, kelor, kelapa, dan sorgum tumbuh dengan angkuhnya di tanah kami. Mereka seolah berlomba untuk menampilkan dan memberikan yang terbaik bagi pemilik tanah ini. Termasuk pengabdiannya padaku, Ina Kewa.

Ketika musim jagung tiba, aku dan anakku bersama dengan seisi kampung, kami beramai-ramai memetik jagung di ladang. Cukuplah buat persediaan setahun ini untuk makan dan untuk dijadikan ‘Jagung Titi’

Proses pembuatan Jagung Titi

Sejak kecil kami sudah dilatih bagaimana mengolah jagung menjadi makanan khas yang dinamai Jagung Titi; tentu kalian tahu kenapa dinamai demikian. Jagung setengah tua maupun yang tua, di sangrai terdahulu diatas tungku api dengan menggunakan tembikar dari tanah liat.
Begini proses pembuatannya…kami harus ekstra hati-hati ketika mengambil jagung yang disangrai dari dalam tembikar lalu diletakkan keatas sebuah batu yang pipih berbentuk segiempat atau setengah lingkaran. Lalu sebelah tangan kami mengambil sebuah batu lagi yang lebih kecil ukurannya dan berbentuk pipih. Batu itu yang akan memipihkan jagung titi. Tentunya dibutuhkan kesabaran dalam melakukan pekerjaan ini. Bertarung melawan bara api, dan selalu sabar agar bisa memipihkan jagung.

Peluh keringat bercucuran ketika tiba sang surya jatuh tepat diatas kepala. Waktu telah menunjukkan pukul 12.00 WITA, saatnya makan siang.

Teriknya siang ini menusuk hingga ke pori-pori namun semangat juangku tak pernah padam. Hanya demi membahagiakan anakku. Bagiku anak adalah segalanya. Permata hidupku. Meskipun kehadirannya tak diingini oleh ayahnya yang sekarang entah dimana.

Meski hadirnya menjadi bahan cemoohan dan ejekan orang-orang sekampungku. Aku iklas. Aku terima. Karena aku adalah Ina Kewa, Si Perempuan Tangguh Lamaholot.

Segala cara kulakukan demi membahagiakan anakku yang kini telah memasuki usia sekolah, kini usianya 8 tahun. Ia harus berbahagia bersama teman-teman sebayanya.

Kala itu, ketika selesai makan siang, aku harus membereskan sisa jagung yang kutiti. Sembari sang anak membantu menjemur benang yang sudah kucuci tadi, benang yang akan kupilin, kuurai dan kutenun menjadi selembar sarung khas Lamaholot yang disebut “kwatek” bagi kaum wanita dan “senai “bagi kaum pria.

Sudah 5 tahun aku menekuni pekerjaan ini. Seperti halnya meniti jagung, ternyata menenun juga butuh keuletan khusus. Tidak mudah melakukan pekerjaan ini.

Kadang aku berpikir, sehebat itukah nenek moyang kami, sehingga bisa menjadikan untaian benang asli yang diperoleh dari tanaman kapas dan mengolahnya menjadi selembar sarung khas Lamaholot?…pikiranku melayang dan terlintas ide, untuk tetap mempertahankan kearifan lokal ini.

Jagung titi dan kwatek, adalah warisan budaya yang harus kita lestarikan. Kedua kearifan lokal ini dihasilkan dengan cara yang luar biasa rumit. Perlu kesabaran, keuletan, ketelitian, dan tentunya dengan hati yang gembira ketika kita mengerjakan atau menghasilkannya.

Benang sebelum di pilin, harus dicuci sampai bersih. Benar-benar bersih agar nanti tidak luntur. Ketika mengikat motif perlu hati-hati agar dapat menghasilkan ikatan yang bagus, jika tiba saatnya dicelup kedalam zat pewarna, dapat menimbulkan motif yang indah dan kesannya sempurna.

Harus ada keseimbangan antara air dan pewarna. Agar dapat menghasilkan warna-warna yang indah seindah alam Flores Timur. Seindah pesona Nusa Bunga.

Ketika tiba saatnya, ina atau ibu penenun akan menenun untaian benang-benang indah tadi dalam keragaman warna; proses menenun tidaklah mudah.

Butuh waktu beberapa hari tergantung si penenun. Kadang saya berpikir apakah lebih baik jika ibu penenun dapat menentukan waktu yang lebih cepat, misalnya 1 atau 2 hari selesai?..Namun hal itu tidaklah mudah.

Ibu penenun masih harus membagi waktu antara menenun, meniti jagung, ke kebun dan masih harus membagi waktu untuk kegiatan solidaritas di kampung.

Itulah kami ibu atau ina Lamaholot diantara kesibukan sebagai wanita pekerja dan ibu rumah tangga, kami harus mengambil bagian dalam acara kedukaan, perkawinan, tunangan, permandian anak, pertemuan kumpo kao keluarga, pertemuan di masyarakat desa dan beberapa kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya yang harus dijalani.

Tidak mudah memang, tapi itulah kami. Itulah aku, Ina Kewa, Ian Lamaholot, Ibu Bumi Lamaholot.

Aku Ina Kewa, Ibu Kehidupan,..tanpa aku apalah artinya dirimu tanpa aku matilah segala kehidupan di muka bumi ini. Namun kaumku sering tidak dihargai. Suaraku sering tak didengar.

Dukaku menjadi bahan tertawamu…Aku selalu tegar…Aku selalu berani hadapi dunia yang sombong ini, mungkin jiwaku keras sekeras jagung titi namun pesonaku indah memabukkanmu, seindah sarung tenun yang berwarna-warni.

Aku Ina Lamaholot, mengharapkan perhatian dari kalian, agar kearifan lokal kita ini tetap terjaga. Peluh dan keringatku selalu menghiasi hari-hari hidupku. Hanya untuk memenuhi panggilan sebagai seorang ibu dan penghuni Lewotanah Lamaholot.

Aku hanya bisa berharap semoga kalian bisa mendengar segala harapku. Semoga jagung titi dan kwatek selalu menjadi kearifan lokal Kabupaten Flores Timur. Salamku, Ina Kewa Lamaholot. (*)

Penulis (*/Helmy Tukan,S.Pd)
Editor (+rony banase)

‘68 Bahasa Daerah di NTT’, Ayo Pelihara & Lestarikan!

594 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Nusa Tenggara Timur, Provinsi yang memiliki penduduk sebanyak 5,4 Juta jiwa (=Data BPS NTT 2019) dan terdapat 16 suku yang mendiami beberapa pulau besar dan kecil antara lain, antara lain Suku Helong; Dawan; Tetun; Kemak; Marae; Rote; Sabu; Sumba; Riung; Nagda; Ende Lio; Sikka-Kroweng Muhang; Lamaholot; Kedang; Labala; dan Alor Pantar. Provinsi yang biasa disebut dengan Flobamorata ini memiliki 68 Bahasa Daerah (=Data Kantor Bahasa NTT).

Provinsi yang diberi predikat sebagai Nusa Terindah Toleransi dan memperoleh penghargaan sebagai Provinsi dengan tingkat toleransi tertinggi di Indonesia ini kaya akan ragam suku dan budaya termasuk bahasa daerah.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd., kepada media ini, Senin/4/2/2019 mengatakan terdapat 68 (enam puluh delapan) bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur dengan perincian sebagai berikut:

  1. Bahasa Abui;
  2. Bahasa Adang;
  3. Bahasa Alor;
  4. Bahasa Anakalang;
  5. Bahasa Bajo;
  6. Bahasa Bajo Delang;
  7. Bahasa Batu;
  8. Bahasa Blagar;
  9. Bahasa Buna (Bunak);
  10. Bahasa Dawan;
  11. Bahasa Deing;
  12. Bahasa Dulolong;
  13. Bahasa Gaura;
  14. Bahasa Hamap;
  15. Bahasa Helong;
  16. Bahasa Hewa;
  17. Bahasa Kabola;
  18. Bahasa Kaera;
  19. Bahasa Kalela (Kawela);
  20. Bahasa Kamang;
  21. Bahasa Kambera;
  22. Bahasa Kambera Pandawai;
  23. Bahasa Kedang;
  24. Bahasa Kemak;
  25. Bahasa Kiraman;
  26. Bahasa Klamu;
  27. Bahasa Klon;
  28. Bahasa Kolama;
  29. Bahasa Komodo;
  30. Bahasa Kui;
  31. Bahasa Kulatera;
  32. Bahasa Lababa;
  33. Bahasa Lamaholot;
  34. Bahasa Lamatuka;
  35. Bahasa Lamboya;
  36. Bahasa Lewuka;
  37. Bahasa Lio;
  38. Bahasa Lura;
  39. Bahasa Mambora;
  40. Bahasa Manggarai;
  41. Bahasa Manulea;
  42. Bahasa Melayu;
  43. Bahasa Nage;
  44. Bahasa Namut;
  45. Bahasa Ndao;
  46. Bahasa Ndora;
  47. Bahasa Nedebeng;
  48. Bahasa Ngada;
  49. Bahasa Omesuri;
  50. Bahasa Palu’e;
  51. Bahasa Pura;
  52. Bahasa Raijua;
  53. Bahasa Retta;
  54. Bahasa Riung;
  55. Bahasa Rongga;
  56. Bahasa Rote;
  57. Bahasa Sabu;
  58. Bahasa Sawila;
  59. Bahasa Sikka;
  60. Bahasa So’a;
  61. Bahasa Sumba Barat;
  62. Bahasa Tabundung;
  63. Bahasa Teiwa;
  64. Bahasa Tetun;
  65. Bahasa Tewa;
  66. Bahasa Wanukaka (Wanokaka);
  67. Bahasa Wersing (Wirasina);
  68. Bahasa Wewewa (Wejewa).

Valentina menambahkan bahwa terkait jumlah bahasa, terdapat perbedaan antara Badan Bahasa Kemdikbud dan SIL (Summer Institute Linguistic)

Bahasa Daerah di NTT harus dilestarikan dengan melakukan komunikasi sehari-hari”, ujar Valentina Tenate

Lanjut Valentina, Bahasa Daerah dapat juga digunakan sebagai penunjang pariwisata. Sebagai contoh unik, terdapat 25 Bahasa Daerah di Pulau Alor.

“Generasi sekarang tidak bisa menggunakan Bahasa Daerah, karena salah satu penyebab hilangnya yakni adanya pernikahan campuran”, ungkap Valentina.

Di samping itu, tercatat setidaknya terdapat 671 bahasa daerah di Indonesia (dilansir dari kissparry.com; data Januari 2019) yang tersebar dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam hingga Provinsi Papua, 34 Provinsi, atau sering mendengar dari Sabang sampai Merauke. Khusus Papua ditulis sendiri, mengingat ada 395 (semula 384) bahasa daerah.

Dari 671 Bahasa Daerah (dari sebelumnya 655 Februari 2018) itu jika dihitung dari penuturan di semua provinsi terhitung ada 750 bahasa yang dipakai seluruh provinsi di Indonesia. Akan tetapi karena ada beberapa bahasa yang dipakai di provinsi yang sama, kemudian bahasa itu hanya dihitung satu maka akhirnya hanya ada 671 bahasa daerah, contoh bahasa Jawa di gunakan di 15 provinsi.

Penulis dan editor (+rony banase)

Foto (*/deviantART.com)

DR Ganjar Harimansa: Surat adalah Citra Diri

22 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id – “Menulis surat merupakan cerminan citra diri “, demikian penegasan DR Ganjar Harimansa, Kabid Perlindungan Pusat Pengembangan dan Perlindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI saat Penyuluhan dan Lomba Penggunaan Bahasa Indonesia pada Tata Naskah Surat Dinas bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kota Kupang, Jumat/20 Juli 2018 di Hotel Papa Jhons Kupang.
Kegiatan Penyuluhan dan Lomba Penggunaan Bahasa Indonesia pada Tata Naskah Surat Dinas diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Bahasa Nusa Tenggara Timur, diikuti oleh 35 (tiga puluh lima) Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Pemerintah Kota Kupang.

“Surat itu perwakilan kita yang tertulis, di dalamnya menggunakan bahasa, menggunakan kertas. Kenapa mewakili kita? surat mewakili kita, berupa bahasa dan bentuk tata tulisan“, tegas DR Ganjar

“Sehingga kalo surat rapi, bahasanya bagus, itu kan citra diri kita, sehingga surat sebagai duta kita berhasil. Kerapihan bahasa dan tata bahasa bisa mewakili kita “, ungkapnya.

Itulah pentingnya surat harus memiliki estetika sehingga penting untuk membuat surat tidak sembarangan. Jaman dulu saja saat menulis surat dan pemakaian kertas tidak sembarangan.

“Jangan lupa bahwa surat menjadi simbol atau doktrinasi atau otoritas tertentu”, terang DR Ganjar kepada 35 (tiga puluh lima) ASN lingkup Pemerintah Kota Kupang

Usai memberikan penyuluhan, gardaindonesia.id  bertanya terkait penggunaan media kertas yang dipakai termasuk penggunaan pena serta karakter tanda tangan, apakah bisa menunjukkan karakter? , DR Ganjar mengatakan, “Ya betul, kalo instansi kebawah sapaan lain hingga pias kiri dan pias kanan bentuknya bermacam-macam, itu kan ada aturannya. Jika aturan aturan kecil dalam tatanan naskah tidak dipedulikan, itu berarti citra diri kita antar instansi tidak dipedulikan “, jelas DR Ganjar

Saat dikonfirmasi terkait perkembangan dari peserta antar instansi? DR Ganjar mengatakan, “Ya saya melihat dari beberapa penyuluhan antara instansi sudah ada perbaikan yang bagus, terutama di daerah daerah dan setiap instansi sudah sangat peduli dengan penggunaan bahasa dan naskah dinas. (+rb)