Arsip Kategori: Bahasa & Sastra

Sejarah Hari Bahasa Ibu Internasional

272 Views

Hari Bahasa Ibu Internasional berasal dari pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh. Resolusi bahasa internasional ini disarankan oleh Rafiqul Islam, seorang Bangli yang tinggal di Vancouver, Kanada.

Ia menulis surat kepada Kofi Annan pada tanggal 9 Januari 1998, memintanya mengambil langkah untuk menyelamatkan bahasa dunia dari kepunahan dengan mendeklarasikan Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day).

Akhirnya dipilihlah tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional karena pada tanggal tersebut, Bangladesh mengalami pembunuhan pada tahun 1952 dalam memperjuangkan Bahasa Bangli di Dhaka.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2019/02/05/68-bahasa-daerah-di-ntt-ayo-pelihara-lestarikan/

Majelis Umum PBB meminta negara-negara anggotanya untuk mempromosikan semua bahasa yang digunakan oleh orang-orang di dunia pada tanggal 16 Mei 2009. Sebelumnya pada tahun 2008 Majelis Umum menyatakan 2008 sebagai Tahun Bahasa Internasional untuk mempromosikan persatuan dalam keanekaragaman dan pemahaman internasional melalui multi-bahasa dan multi-kultural.

Apa Itu Bahasa Ibu?

Bahasa Ibu dalam Bahasa Inggris disebut native language adalah bahasa pertama yang dikuasai atau diperoleh anak. Di mana pun anak itu lahir, kemudian ia memeroleh atau menguasai bahasa pertamanya maka bahasa yang dikuasai itu merupakan bahasa Ibu.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/05/28/hingga-tahun-2020-tercatat-72-bahasa-daerah-di-provinsi-ntt/

Apakah itu bahasa daerah, bahasa Nasional, hingga bahasa Internasional? Misalnya Bahasa Inggris umumnya, bahasa pertama yang dikuasai seorang anak adalah Bahasa Ibu (bahasa daerahnya) bukan bahasa Nasional atau Internasional.

Akan tetapi tidak menuntut kemungkinan bahasa pertama yang ia tahu dan gunakan adalah bahasa negaranya dan bahasa Internasional. Bergantung pada siapa, di mana, dan atas kepentingan apa bahasa tersebut dibelajarkan.

Sumber (*/wikipedia)

Foto utama oleh dekkak.com

Jelang Hari Dongeng, TBM Se-Dukuh Pakis Jaring Bibit Pendongeng via IGTV

169 Views

Surabaya, Garda Indonesia | Menjelang peringatan Hari Dongeng 28 November, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) se- Kecamatan Dukuh Pakis Surabaya di Provinsi Jawa Timur mengadakan penyaringan untuk mencari bibit-bibit pendongeng guna disiapkan ke tingkat kota.

Antusiasme peserta terlihat pada kegiatan yang dihelat pada Rabu, 4 November 2020, dalam sesi penyaringan bibit pendongeng secara virtual tersebut. Peserta lomba sangat antusias sekali karena selalu bertanya-tanya dan tidak sabar untuk mengetahui pemenangnya, sehingga panitia sering dihubungi oleh peserta.

Sekitar 30 peserta yang mendaftarkan diri dan tersebar di sekitar wilayah Dukuh Pakis; akan diseleksi 19 besar, kemudian ditetapkan 5 besar untuk menggapai juara I, II, III, harapan 1, dan harapan 2.

“Sebelum diadakan pencarian bibit pendongeng, setiap peserta diberikan bekal contoh materi dongeng yang baik oleh Pendongeng Nasional, Kak Harris,” ucap Kholifah selaku panitia pelaksana sembari menyampaikan bahwa banyak sekali bibit, ragam, dan gaya mendongeng sehingga membuat dewan juri agak kesulitan menentukan pilihannya.

Dewan juri sedang melaksanakan penilaian

Novita Rully, salah satu juri dari Dinas Perpustakaan Kota Surabaya menjelaskan dalam kegiatan pemilihan bibit dongeng kali ini sangat luar biasa persiapan yang dilakukan oleh peserta di antaranya ada yang menggunakan peraga dongeng boneka, dan keyboard.

“Dalam dongeng yang dibawakan setiap siswa di berikan materi dongeng bebas asal dongeng ada di dalam buku cerita. Dalam pencarian bibit sendiri peserta dari anak SD. Dari lomba kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena di tahun ini kita menerapkan protokol kesehatan dengan menggunakan pencarian bibit dongeng dengan menggunakan virtual media sosial IGTV,” urai Novita.

Pada kesempatan lomba kali ini, imbuh Novita, siswa sudah menyiapkan sendiri dongeng dan peraganya, kemudian mengambil gambar sendiri. Setelah pengambilan gambar, peserta bisa meng-upload sendiri dongeng melalui IG (instagram, red) pribadi atau bisa dibantu kakak petugas wilayah untuk di-upload via IG petugas.

Dari hasil upload virtual dongeng IGTV, kemudian peserta menyerahkan link IG ke panitia untuk dinilai dewan juri. Pengumuman pemenang bisa dilihat di IG @tbmdukuhpakis pada Kamis, 5 November 2020 pukul 13.00 WIB. (*)

Sumber berita dan foto (*/tim)
Editor (+rony banase)

Wali Kota Jefri Janji Bedah Rumah Tidak Layak Huni Milik Ina Djara

317 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Di tengah pandemi Covid-19, Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore tetap memperhatikan kondisi warga, di sela-sela tugas padat sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kupang.

Didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kupang, Ibu Hilda Riwu Kore – Manafe, Wali Kota Jefri menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah yang sangat tidak layak huni, milik seorang janda berusia lanjut bernama Ina Djara, di Kelurahan Fontein, pada Selasa, 19 Mei 2020.

Rumah darurat yang ditempati oleh Ina Djara (84 tahun) beserta 1 orang anak perempuan dan 1 orang cucu perempuan tersebut dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Rumah berwarna biru tersebut didirikan seadanya dengan bahan bebak (pelepah batang pohon lontar, red) dan beratap seng, sebagian lantai bercor semen kasar dan sebagian hanya berlantai tanah. Interior rumah tampak sangat minim perabotan. Ina Djara bahkan tidak memiliki dipan atau tempat tidur, sehari-hari ia hanya tidur di selembar kasur yang langsung diletakkan di atas lantai tanah.

Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore saat mengunjungi rumah tidak layak huni milik Ina Djara

Kondisi tersebut menyentuh hati Wali Kota dan ibu, sehingga dalam kunjungannya, Wali Kota berjanji akan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Kupang guna membantu meringankan beban Ina Djara dan keluarga.

“Kami akan segera koordinasikan dan follow up, jika memungkinkan Pemkot akan bantu melalui bedah rumah,” janji Wali Kota.

Ina Djara dalam kesempatan tersebut menyampaikan terima kasih atas perhatian Wali Kota Jefri dan Ibu Hilda terhadap kondisinya, “Terima kasih banyak kepada bapak Wali Kota beserta Ibu yang sudah bersedia datang meskipun kondisi kami seperti ini,” ucap Ina.

Turut hadir mendamping Wali Kota Kupang, Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Kota Kupang, Ernest S. Ludji, S.STP., M.Si. Camat Kota Raja, Achrudin Rudi Abubakar, S.Sos., M.Si. dan Lurah Fontein, Yosef Suhardin, S.Sos.(*)

Sumber berita dan foto (*/ PKP_sny/jms)
Editor (+rony banase)

Kemah Literasi NTT 2019, Wadah Interaksi & Sinergitas Pegiat Literasi

495 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Momentum Hari Guru 2019 diwujudkan dalam kegiatan Kemah Literasi 2019 oleh Pengurus Wilayah (PW) Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Provinsi Nusa Tenggara Timur dan sebuah kehormatan NTT sebagai salah satu dari 4 (empat) provinsi yang berhak menyelenggarakan Kemah Literasi 2019 dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Kesetaraan, Dirjen PAUD dan DIKMAS Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mengusung tema ‘Literasi Sebagai Kecakapan Abad 21’, Kemah Literasi NTT 2019 berlangsung pada 25—27 November 2019 di Bumi Perkemahan SPNF SKB Kelurahan Oenesu Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang; Kemah Literasi 2019 dilaksanakan dalam berbagai rangkaian kegiatan antara lain Diskusi / Sarasehan, Lokakarya, Pameran produk, Pentas seni dan budaya, Bedah buku, dan Api unggun.

Bunda Baca NTT, Julie Sutrisno Laiskodat Saat membuka dan memberikan sambutan dalam Kemah Literasi NTT 2019

Dibuka oleh Ketua TPKK Provinsi NTT, Julia Sutrisno Laiskodat (Bunda Baca NTT) pada Senin, 25 November 2019 pukul 10.00 WITA, Kemah Literasi NTT 2019 diikuti oleh Penggiat TBM dan Komunitas Penggiat Literasi dari berbagai 22 kabupaten/kota di Provinsi NTT yang turut berperan serta menyajikan tarian Gawi dari Komunitas Ende, Bonet dari Kabupaten TTS, Bidu dan Tebe oleh PKBM Bintang Flobamora, Puisi dari PKBM Harapan Bangsa, Musikalisasi Puisi dari LKP Smart Learning Center.

Selanjutnya, pada hari yang sama (25/11/19) dilaksanakan diskusi tentang pariwisata dan budaya di era digital, produk literasi satuan PNF, pelatihan menulis esai/cerita anak. Sedangkan pada hari kedua (26/11/19) dilaksanakan serasehan tentang peran satuan PNF dalam pengembangan literasi, Literasi media sosial dalam menangkal hoaks, kiprah strategis keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah dalam memajukan kecerdasan literasi di era digital, dan pelatihan membaca nyaring (Read Aloud).

Para peserta Kemah Literasi NTT 2019 berpose di depan kemah

Dan pada hari terakhir (27/11/19) dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) rekomendasi kegiatan Kemah Literasi NTT, membahas juknis 2019, Bedah Buku dan dilanjutkan dengan penutupan kegiatan Kemah Literasi NTT 2019 pada pukul 15.00—18.00 WITA.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah FTBM NTT, Polikarpus Do mengatakan bahwa literasi harus dijadikan sebagai gempa yang mengguncang agar NTT terlepas dari segala ketertinggalan dan keterbelakangan.

Ketua PW FTBM Provinsi NTT, Polikarpus Do

“NTT sangat lengket dengan image kebodohan dan kemiskinan yang keduanya itu saling mempengaruhi. Salah satu langkah solusi yang paling adalah menjadikan literasi sebagai jalan keluar menuju NTT yang cerdas dan terampil,” ujar Poli sapaan akrabnya.

Selain itu, jelas Poli, Sudah saatnya virus literasi disebarkan ke seluru penjuru Flobamorata. Dibutuhkan provokator-provokator literasi yang dapat menggerakkan dan meningkatkan minat baca masyarakat NTT , karena literasi adalah jembatan untuk mengubah pola pikir, pola tindak dan pola kerja.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Empat Media Naungan IMO NTT Raih Juara Menulis Berita oleh Kantor Bahasa NTT

272 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | 4 (empat) media yang bernaung di bawah Organisasi Media Online (IMO) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil meraih juara dalam Lomba Menulis Berita bagi Media Massa Daring se-Kota Kupang yang dihelat oleh Kantor Bahasa NTT dalam rangkaian Semarak Bulan Bahasa 2019.

Adapun media yang tergabung dalam IMO NTT yang meraih juara yakni Medika Star (http://medikastar.com), Garda Indonesia (www.gardaindonesia.id); Topnews NTT (www.topnewsntt.com); dan Indonesia Menyapa (https://indonesiamenyapa.com).
Berikut daftar lengkap pemenang dalam lomba yang digelar sejak 13—21 November 2019 dan pengumuman hasil lomba pada Jumat, 22 November 2019 :
Pemenang I Cakrawala NTT (285)
Pemenang II Medika Star (268)
Pemenang III Garda Indonesia (254)
Harapan I Teropong NTT (252)
Harapan II Berita Lima (248)
Harapan II Topnews NTT (193)
Harapan III Mahensa Express (176)
Harapan III Indonesia Menyapa (141)

Foto bersama Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate dan para pemenang lomba menulis berita di media massa daring di Kota Kupang

Selain lomba menulis berita bagi Media Massa daring (online), Kantor Bahasa NTT juga menghelat Lomba Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Majalah Dinding (Mading) Digital SMP/MTS dan SMA/SMK/MA dan Penggunaan Bahasa Indonesia pada Tata Naskah Dinas lingkup Pemprov NTT dan Pemkot Kupang.

Plt.Ketua IMO NTT, Hironimus Dure Banase menyampaikan rasa bangga dan bahagia karena dari 8 (delapan) pemenang lomba, 4 (empat) pemenang berasal dari media dibawah naungan IMO NTT yang konsisten mengikuti penyuluhan penggunaan Bahasa Indonesia yang digelar oleh Kantor Bahasa NTT.

Plt.Ketua IMO NTT, Hironimus Dure Banase (baju putih) usai menerima piala pemenang III dan di samping Medika Star saat menerima piala pemenang II

Pemilik dan pengelola Media Top News NTT, Julia Bida Rehi usai menerima penghargaan berupa piala dan uang pembinaan pada Senin, 25 November 2019 mengucapkan terima kasih kepada Kantor Bahasa yang telah mengapresiasi para pekerja media. “Walaupun masih banyak kekurangan yang kami lakukan namun melalui apresiasi lomba ini, kami para pekerja media dapat lebih memperhatikan kaidah dan lebih mencintai Bahasa Indonesia,” tutur Julie, Pemenang Harapan III dengan antusias.

Sementara itu, Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd. saat menyampaikan hasil lomba beberapa kekurangan cara penulisan tata Bahasa Indonesia. “Catatan juri secara detail menilai masih banyak penulisan tata Bahasa Indonesia pada Media Massa Daring (online) terdapat kesalahan pada penulisan gelar, penggunaan kata tidak baku, penggunaan tanda baca kalimat langsung, kalimat belum efektif dan kerap kali lupa menempatkan tanda titik pada akhir penulisan kalimat, sering kali keliru menempatkan tanda baca sebelum dan sesudah tanda petik dua, mengulang dua kata yang sama dalam satu kalimat, dan tidak menggunakan huruf miring pada bahasa asing,” ungkap Kepala Kantor Bahasa NTT.

Valentina Tanate juga mengimbau para wartawan untuk lebih sering dan rajin untuk membuka Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) yang tersedia dalam versi Daring (Dalam Jaringan) dan Luring (Luar Jaringan) untuk melihat dan memeriksa kata yang baku dan tidak baku.

“Peringkat I—III telah cermat menggunakan Bahasa Indonesia meski belum terlalu sempurna. Sementara pemenang dibawahnya masih banyak melakukan kesalahan dalam penulisan Bahasa Indonesia,” tandas Valentina.

Sebelumnya, induk semang organisasi para pemilik media online (IMO Indonesia, red) pada Sabtu siang, 16 November 2019 telah menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk “Pers Pemersatu Bangsa” di Gedung Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Jakarta dan secara aklamasi memilih Kasum TNI Letjen Joni Supriyanto sebagai Ketua Dewan Pembina IMO Indonesia.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Kantor Bahasa NTT Pinta Pihak Kampus Buka Jurusan Bahasa Daerah

335 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd. dalam sambutannya pada acara penutupan kegiatan pada Rabu, 23 Oktober 2019 meminta kepada pihak Perguruan Tinggi di Kota Kupang untuk membuka jurusan bahasa daerah.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/10/23/kantor-bahasa-ntt-perlu-perda-untuk-melestarikan-bahasa-daerah/

“Kami berharap kedepannya setiap Perguruan Tinggi, kami inginnya kalau bisa ada jurusan bahasa daerah”, pinta Valentina Lovina Tanate dalam pegelaran seminar internasional linguistik dan sastra Austronesia-Melanesia selama 2 hari pada 22—23 Oktober 2019 bertempat di Hotel Aston Kupang.

Hal tersebut disampaikan karena menurut Valentina, generasi muda saat ini kurang mencintai bahasa daerah. Dirinya mengatakan bahwa setiap tahun dalam pemilihan Duta Bahasa tingkat Provinsi, sedikit sekali dari para peserta yang memahami bahasa daerah dengan baik.

“Generasi muda di NTT kurang mencintai bahasa daerah, karena apa? Setiap kali pemilihan duta bahasa, 99 persen peserta seleksi duta bahasa tidak bisa berbahasa daerah,” ujarnya.

Lanjutnya, bahasa daerah juga membentuk kepribadian seseorang. Dirinya berpesan kepada semua mahasiswa yang hadir untuk belajar menggunakan bahasa daerah sebagai identitas diri.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd.

“Bahasa daerah membentuk setiap kepribadian kita. Anak-anak generasi muda sekarang, anak-anak mahasiswa, belajar menggunakan bahasa daerah dengan baik maka di mana pun kita berada identitas kita akan terjaga,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Valentina menyampaikan 3 rekomendasi dari kegiatan tersebut kepada pemerintah, pihak kampus dan juga para akademisi.

Kepada Pemerintah Provinsi NTT, kantor Bahasa meminta untuk mengimplementasikan Pasal 42 ayat 1 Undang-undang nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan yang berbunyi ‘Pemerintah Daerah wajib mengembangkan, membina dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia’.

“Implementasi tersebut berupa peraturan gubernur yang secara spesifik mengatur pengembangan dan perlindungan bahasa daerah di NTT,” ucap Valentina.

Rekomendasi berikutnya, ditujukan kepada Perguruan Tinggi dan institusi akademik d NTT untuk secara konsisten menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ilmiah, utamanya tentang linguistik dan sastra, agar tercipta ruang-ruang diskusi pengembangan dan perlindungan Bahasa dan sastra daerah serta terwujudnya masyarakat NTT yang lebih peduli dan bangga dengan budayanya.

Dan yang terakhir kepada segenap akademisi di NTT untuk mendokumentasikan, menelaah dan menyebarluaskan kajian-kajian Bahasa dan Sastra di NTT agar Bahasa dan Sastra di NTT mendunia dan senantiasa terjaga kelestariannya.

Valentina mengatakan bahwa rekomendasi tersebut juga akan diserahkan kepada para Rektor di masing-masing kampus di Kota Kupang yang sudah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman.

Dirinya berharap rekomendasi tersebut bisa ditindaklanjuti baik oleh Pemerintah Daerah maupun pihak kampus, sebagai upaya pengembangan dan perlindungan bahasa dan sastra di NTT, karena bahasa dan sastra di NTT merupakan pertemuan antara dua rumpun besar bahasa yakni sastra Austronesia dan Melanesia yang ditemukan pada masyarakat Pulau Alor dan juga masyarakat di Kabupaten Belu.

Sebelum menutup kegiatan tersebut, Valentina juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Ketika menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh panitia pelaksana, Valentina sempat menitik air mata.

“Kami satu tim yang sangat luar biasa, sehingga dapat melaksanakan kegiatan yang sangat besar. Dengan waktu yang singkat, peserta begini banyak, anak-anak saya bisa menghadirkan pembicara utama yang sangat bagus,” tandas Valentina ketika ditemui setelah acara penutupan. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Wow!, Ternyata Belajar Bahasa Indonesia Asyik dan Menyenangkan

415 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa pemersatu bagi 1.340 suku (sensus BPS tahun 2010) dan pemersatu dalam keberagaman dan kebhinnekaan atas 34 provinsi di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); terus ber-ubah dan menyesuaikan diri dengan pembaruan sebanyak dua kali setahun.

Tak ketinggalan, Bahasa Indonesia juga menyesuaikan diri di era digitalisasi saat ini. Melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V versi Daring (Dalam Jaringan) yang digunakan dengan jaringan internet dan KBBI V versi Luring (Luar Jaringan) yang dapat diunduh melalui aplikasi di android, kita dapat mengetahui kata baku dan tak baku, kelas kata, ragam kata, bahasa daerah, dan istilah dalam berbagai bidang.

Khusus untuk KBBI V versi Daring, kita dapat mengunduh melalui laman https://kbbi.kemdikbud.go.id/ dan dengan pembaruan secara konsisten dan kontinu, KBBI V versi Daring juga dapat digunakan sebagai wadah penyampaian kosa kata baru yang belum terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Belajar Bahasa Indonesia melalui Penyuluhan Penggunaan Bahasa Indonesia bagi Media Massa yang dihelat oleh Kantor Bahasa NTT pada 12—15 Agustus 2019; begitu banyak manfaat yang dirasakan oleh para pengelola dan wartawan media daring yang ikut dalam penyuluhan yang dilaksanakan di Aula Hotel Amaris Kupang.

Wartawan media daring berpose dengan Dr.Arie Andrasyah Isa,.S.S., M.Hum.

Sebanyak 50 wartawan media daring dengan wilayah liputan dan wilayah kerja di Kota Kupang sangat bersyukur dapat menggapai kesempatan berharga bisa menimba ilmu dari para mentor handal, Salimulloh Tegar.S dari Kantor Bahasa NTT dan Drs.S.S.T.Wisnu Sasangka, M.Pd. Dr. Luh Anik Mayani, S.S., M.Hum. Dr.Arie Andrasyah Isa, S.S., M.Hum. dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Seperti Portal Berita Daring Garda Indonesia yang berkesempatan ikut penyuluhan kedua (Penyuluhan pertama di tahun 2018), merasa bersyukur dan sangat senang menggapai berbagai informasi baru menyangkut ketatabahasaan, Ejaan Tanda Baca dalam Penulisan Berita; Bentuk dan Pilihan Kata dalam Penulisan Berita; Kalimat Aktif dalam Penulisan Berita dan Penulisan Paragraf Teks Berita.

Tanggapan senada dilontarkan oleh teman wartawan media daring lainnya, seperti Rolyn dari reportntt.com menyampaikan rasa syukur dapat mengikuti kegiatan ini. “Ternyata selama ini kita sering melakukan kesalahan. Dengan kegiatan penyuluhan ini dapat mengubah tata cara menulis kita agar semakin baik,”tuturnya saat bincang kecil kami di halaman Hotel Amaris Kupang pada Rabu, 14 Agustus 2019 pukul 17:35 WITA—selesai.

Begitupun dengan Arif dari kupangmedia.com, dirinya merasa senang dan diliputi perasaan bahagia dapat terlibat dalam penyuluhan ini. “Saya merasa senang dan ternyata asyik dapat mengetahui kosa kata baru, padanan kata dan berbagai hal baru mengenai ketatabahasaan,” ucapannya bahagia.

Euforia peserta Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi Pelaku Media Massa terasa begitu kental saat dapat saling memberikan masukan, mengoreksi dan berbagi pengalaman dalam menulis di media daring masing-masing.

“Wow!, ternyata belajar Bahasa Indonesia itu asyik dan menyenangkan,” ujar beberapa teman wartawan saat menikmati waktu senja dibawah naungan pohon flamboyan sambil duduk santai diatas empuknya rumput jepang di pelataran parkir hotel.

Penulis dan editor (+rony banase)

Kantor Bahasa NTT Helat Penyuluhan Penggunaan Bahasa Indonesia

267 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik, benar, serta tepat sangat diperlukan baik itu di lingkungan pemerintahan, di lingkungan pendidikan, maupun di media massa.

Pada lingkungan pemerintahan, penggunaannya sebagian besar adalah untuk keperluan tata naskah dinas seperti surat-menyurat dan pembuatan dokumen resmi. Pada lingkungan pendidikan, penggunaannya yang utama adalah untuk pengajaran di kelas, selain juga untuk surat-menyurat.

Berbeda dengan dua lingkup sebelumnya, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di lingkup media massa bukan untuk lingkungan internal dan bukan pula dalam format serta bentuk yang kaku. Penggunaan Bahasa Indonesia di media massa harus tetap luwes dan memiliki tingkat keberterimaan yang tinggi di masyarakat dan tetap harus baik dan benar juga yang paling utama adalah penggunaan bahasa yang praktis.

Penggunaan dan pemunculan kosakata bahasa Indonesia yang unik atau jarang digunakan/istilah-istilah atau kata-kata baru sangat diperlukan serta akan menjadi nilai tambah bagi suatu media massa dari aspek bahasa. Ini juga sebagai bentuk fungsi media massa sebagai corong terdepan dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi Pelaku Media Massa; Badan Publik; dan Penggunaan Bahasa Media di Luar Ruang oleh dihelat oleh Kantor Bahasa NTT pada 12—15 Agustus 2019.

Foto bersama Sekretaris Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Drs. M. Abdul Khak, M.Hum., Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd. dan para kepala sekolah di Hotel Neo Aston Kupang

Dilaksanakan selama empat hari, kegiatan penyuluhan dibagi dalam enam kelas, yaitu dua kelas Bahasa, dua kelas Jurnalistik, dan dua kelas Desain Grafis. Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta dari masing-masing sekolah bisa mengembangkan mading digital di sekolah masing-masing.

Dibuka oleh Sekretaris Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Drs. M. Abdul Khak, M.Hum. dan didampingi oleh Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate,S.Pd. Pembukaan dilaksanakan di Aula T-More, Hotel Sahid T-More Kupang pada 12 Agustus 2019, pukul 08.00 WITA—selesai bagi pelajar SMP dan SMA se-Kota Kupang dan pembukaan di Hotel Neo Aston Kupang yang untuk para Kepala Sekolah dan 45 Jurnalis Media Daring atau Online.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate menyampaikan dalam konteks NTT, perlu penempatan Bahasa Indonesia di tempat yang sepatutnya.

“Di kantor atau lembaga pendidikan tentu kita harus menggunakan Bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi pemersatu, sambil tetap mempelajari bahasa asing untuk menghadapi tantangan zaman,”ujar Valentina.

Atas dasar itulah, lanjut Valentina, “saya pikir penting sekali rasanya untuk menggelar penyuluhan penggunaan bahasa Indonesia pada berbagai ranah dan lingkup instansi. Selain melibatkan kawan-kawan wartawan, kami turut melibatkan pihak pemerintah & pendidik bahkan anak-anak didik sebagai peserta dengan harapan terjadi sinergi dan perubahan secara luas, tidak hanya mengandalkan satu pihak sebagai ujung tombak.,” pintanya.

“Anak-anak didik kita ini yang sekarang masih duduk di bangku SMP dan SMA suatu saat nanti juga akan menjadi pendidik, birokrat, atau jurnalis. Merekalah masa depan bangsa ini dan mereka pula yang akan menggantikan kita”, pungkas Valentina.

Penulis dan editor (+rony banase)