Arsip Kategori: Teknologi

Tim Dosen Fapet Undana Beri Diseminasi Teknologi Peternakan bagi Warga Noeltoko

211 Views

Noeltoko-TTU, Garda Indonesia | Desa Noeltoko di Kabupaten TTU memiliki nilai sejarah karena merupakan wilayah “Sonaf” atau pusat kerajaan dan ditetapkan oleh Bappenas sebagai desa percepatan dalam pengembangannya. Akhir-akhir ini Desa Noeltoko semakin terkenal dengan terungkapnya kasus “stunting” yang memiliki tingkat prevalensi cukup tinggi.

Mencermati potensi dan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Noeltoko, tim Dosen Fapet Undana dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Badan Riset Inovasi Nasional Republik Indonesia (Kemristekdikti) melalui skim Program Diseminasi Teknologi pada Masyarakat (PDTM) tahun 2019 telah dan sedang melakukan kegiatan Hilirisasi Teknologi Peternakan bagi peternak di Desa Noeltoko.

Alasan pelaksanaan kegiatan tersebut karena masyarakat Desa Noeltoko mengandalkan sektor pertanian termasuk peternakan sebagai sumber pendapatan utama dalam perekonomian rumah tangga mereka. Akan tetapi dalam pengelolaannya masih dilakukan secara tradisional, sehingga pemanfaatan berbagai sumber daya yang tersedia belum optimal dan berdampak pada rendahnya produktivitas usaha, khususnya di bidang peternakan, masyarakat (peternak) Desa Noeltoko masih dilakukan secara tradisional yang ditandai dari penyediaan pakan pada ternaknya masih tergantung pada pakan konvensional seperti hijauan untuk ternak sapi dan umbi-umbian serta biji-bijian pada ternak babi.

Foto bersama Tim Dosen Fapet Undana dan warga Desa Noeltoko Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU)

Selain itu, ternak yang diusahakan masih mengandalkan genetik lokal baik ternak babi maupun sapi. Oleh karena itu, kegiatan ini difokuskan pada kegiatan teknologi perbaikan pakan dan teknologi inseminasi buatan pada ternak babi dan sapi.

Adapun tujuan kegiatan Program Diseminasi Teknologi pada Masyarakat (PDTM) tahun 2019 antara lain:

Pertama, meningkatkan pemahaman peternak dalam memanfaatkan sumber daya lokal yang belum dimanfaatkan untuk perbaikan usaha ternak dan pentingnya perbaikan mutu genetik ternak lokal melalui introduksi genetik unggul dengan memanfaatkan teknologi inseminasi buatan;

Kedua, meningkatkan ketrampilan peternak dalam mengolah bahan pakan lokal berupa limbah pertanian terutama bonggol pisang sebagai pakan ternak babi dan sapi;

Ketiga, meningkatkan ketrampilan peternak khususnya generasi muda desa dalam penguasaan teknologi inseminasi buatan baik untuk ternak babi maupun ternak sapi.

Pakan ternak merupakan faktor penentu dalam suatu pemahaman peternakan oleh karena biaya pakan memiliki porsi terbesar dalam suatu siklus produksi. Pada tingkat peternak khususnya di pulau Timor, usaha peternakan sapi potong masih dilakukan secara tradisional memanfaatkan pakan lokal yang tersedia di tingkat peternak terutama hijauan legume dan rumput alam. Pada kondisi pemeliharaan yang demikian menyebabkan produktivitas sapi potong masih rendah, di mana pertambahan berat badan harian hanya mencapai 0.25—0.30kg/e/h jauh dari pertumbuhan optimal sapi bali yaitu 0.6—0.7kg/e/h (Sobang, 2005).

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan konsentrat Sapi Bali dapat meningkatkan pertambahan berat badan harian dapat mencapai 0.50kg/e/h. Namun penyusunan pakan konsentrat di tingkat peternak masih menghadapi kendala bahan pakan sumber energi seperti jagung giling dan dedak padi memiliki harga yang cukup mahal dan bersaing dengan kebutuhan manusia dan ternak lainnya terutama ternak babi dan unggas.

Oleh karena itu, diperlukan strategi penyediaan pakan konsentrat di tingkat peternak dengan harga yang lebih terjangkau melalui pemanfaatan bahan limbah hasil pertanian. Salah satu limbah pertanian yang cukup tersedia di tingkat peternak dan belum banyak dimanfaatkan adalah bonggol pisang. Bonggol pisang merupakan bagian umbi dari tanaman pisang yang tertinggal setelah pemanenan buah pisang.

Beberapa keunggulan bonggol pisang sebagai bahan pakan ternak adalah :
1) tanaman pisang dapat beradaptasi berbagai tipe dan topografi lahan, 2) tersedia sepanjang tahun, 3) mengandung unsur pati atau karbohidrat mudah tercerna yang tinggi sebagai unsur nutrisi penting selain protein yang dibutuhkan oleh ternak, 4) kandungan serat kasarnya yang rendah, 5) melalui fermentasi nilai nutrisi bonggol pisang dapat ditingkatkan terutama kandungan protein kasarnya.

Saat ini melalui pendanaan Kemristekdikti, Tim Peneliti Fakultas Peternakan Undana telah melakukan riset terhadap penggunaan tepung bonggol pisang sebagai bahan penyusun pakan konsentrat pada sapi potong.

Kegiatan telah dilakukan dalam kurun waktu Agustus—November 2019 dengan melakukan pertemuan bersama masyarakat untuk menyamakan persepsi tentang pelaksanaan program kegiatan. Ketua Tim Pelaksana, Ir.Grace Maranatha, M.Si. menyampaikan tentang tujuan program diseminasi teknologi bagi masyarakat dan lebih khusus pada masyarakat Noeltoko.

Grace Maranatha menjelaskan bahwa Kemenristekdikti bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana telah memfasilitasi melalui bantuan pendanaan untuk melakukan deseminasi teknologi bagi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas ternak yang selama ini masih dikelola secara tradsional.

Anggota tim pelaksana, Ir. Yohanis Umbu L. Sobang, M.Si. menyampaikan upaya penyediaan pakan ternak dengan memanfaatkan limbah pertanian yang tersedia di sekitar peternak, secara menekankan penggunaan bonggol pisang sebagai pakan sumber energi yang cukup baik dan berpotensi menggantikan porsi jagung dalam pakan konsentrat sesuai hasil riset yang dilakukannya pada sapi penggemukan di Kabupaten Kupang. Selain itu, dibahas juga pentingnya aspek perkandangan yang sehat dan nyaman bagi ternak sehingga dapat berproduksi dengan optimal.

Ir. Petrus Kune,M.Si memberikan edukasi teknologi inseminasi buatan pada ternak babi serta memberikan tips bagi peternak untuk mendeteksi birahi

Disamping itu, anggota tim yang lain, Ir. Petrus Kune,M.Si menekankan pada penerimaan teknologi inseminasi buatan baik pada ternak sapi dan babi serta memberikan tips bagi peternak untuk mendeteksi birahi ternak secara baik dan tepat, sehingga pelaksanaan IB atau perkawinan dapat dilakukan tepat waktu, menentukan kelompok sebagai mitra binaan yaitu 1 kelompok untuk ternak babi dan 1 kelompok untuk ternak sapi dengan anggota masing-masing 20 orang.

Adapun fasilitas yang diberikan kepada kelompok ternak babi adalah 1 (satu) pasang ternak babi unggul jenis Landrace (betina) dan Duroc (jantan) umur kawin, bahan untuk pembuatan kandang berupa semen, seng, dan paku, dummy untuk penampungan semen ternak babi, peralatan IB, dan 1 (satu) mesin pakan dengan fungsi chopper dan penepung. Sedangkan fasilitas yang diperoleh kelompok ternak sapi adalah bahan untuk pembuatan kandang berupa semen, seng, dan paku, peralatan IB pada sapi, dan 1 (satu) mesin pakan dengan fungsi chopper dan penepung.

Penyerahan fasilitas mesin pakan, ternak, dan peralatan telah dilakukan oleh Dr. Umbu Lily Pekuwali, S.H., M.Hum. selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat mewakili Universitas Nusa Cendana meminta para anggota kelompok untuk memelihara dan memanfaatkan semaksimal mungkin sehingga dengan fasilitas yang diterima dapat memberikan manfaat untuk peningkatan produktivitas ternaknya.

Selanjutnya dilakukan pendampingan dalam pengoperasian mesin pakan dan dalam hal pembuatan pakan yang dilakukan tim teknisi, F. D. Samba, S.Pt. dengan memberikan pendampingan dalam penampungan semen babi dan Inseminasi Buatan. Respons kelompok mitra terhadap kegiatan ini cukup tinggi, terlihat dari kesediaan mereka untuk menyediakan bahan lokal untuk pembuatan kandang secara gotong royong, dan bersedia menyediakan limbah pertanian khususnya bonggol pisang untuk digunakan sebagai pakan ternak. (*)

Sumber berita (*/Tim PDTM Fapet Undana)
Editor (+rony banase)

Kupang Smart City—Perlu SDM dan Infrastruktur yang Memadai

147 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Pemerintah Kota Kupang dibawah pimpinan Jefri Riwu Kore dan Hermanus Man, terus berupaya menjadikan Kota Kupang sebagai Kota yang bersih, cerdas,aman dan juga nyaman. Salah satunya melalui program Kupang Smart City.

Bertempat di Neo Hotel Kupang, melalui Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Pemerintah Kota Kupang mengadakan “Gerakan Menuju Kupang Smart City”, pada Kamis 10 Juli 2019 yang diikuti oleh semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Kupang, Camat se-Kota Kupang dan semua Lurah.

Dalam sambutannya, Pj. Sekda Kota Kupang, Ir. Elvianus Wirata, M. Si., mengatakan bahwa program ini merupakan program yang dicanangkan oleh Wali Kota Kupang, sehingga dirinya meminta kepada semua elemen untuk mendukung program ini.

“Program ini dicanangkan oleh Pak Wali Kota sendiri, sehingga kepada semua OPD, camat dan juga Lurah harus mendukung program ini”, ujar Elvianus.

Guna mencapai Smart City, jelas Wairata, bahwa yang perlu dipersiapkan adalah berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM) dan juga infrastruktur yang memadai.

“Persiapan ini berkaitan dengan pengelolaan dan pemanfaatan smart city tersebut”, tutur Elvianus.

Gerakan menuju 100 Smart City, lanjut Elvianus, merupakan inisiatif dari pemerintah pusat guna menciptakan kota cerdas atau smart city. Kota Kupang merupakan salah satu dari 100 kota yang disiapkan untuk dijadikan kota cerdas di Indonesia.

Elvianus berharap bahwa semua kegiatan yang akan dilaksanakan selama 2 (dua) hari, para peserta yang merupakan delegasi dari setiap OPD, Kecamatan, maupun Kelurahan dapat mengikutinya dengan baik sehingga para delegasi ini menjadi agen perubahan untuk menjadikan Kupang Smart City.

“Sesuai laporan panitia bahwa ada 4 tahapan yang akan dilakukan dalam kegiatan ini, saya berharap semua yang ada dapat mengikuti dengan baik dari awal. Jangan ini hari ikut besok tidak ikut. Karena kita berharap para peserta nantinya akan menjadi agen of change guna menjadikan Kupang Smart City “, tegas Wairata.

Sementara itu, Ketua Panitia Wildrian Ronald Otta, SSTP., MM., dalam laporannya mengatakan bahwa Kupang Smart City ini merupakan program yang sudah dicanangkan sejak tahun 2017. Dan Bimbingan Teknis (Bimtek) ini merupakan langkah menuju Kupang Smart City.

“Bimtek hari ini akan bermuara pada penyusunan buku saku Kupang Smart City”, ujar Ronald.

Bimtek yang dilakukan selama 2 (dua) hari dibimbing secara langsung oleh tenaga ahli dari Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia yang telah mencanangkan dan menerapkan Gerakan Menuju 100 Smart City di Indonesia.

Perlu diketahui bahwa program ini sudah berlangsung selama tiga tahun, yaitu pada tahun 2017 terdapat 25 Kota yang dipersiapkan menuju Smart City, pada tahun 2018 dengan jumlah kota terbanyak yaitu 50 kota dan pada tahun 2019,terdapat 25 kota yang menjadi sasaran program Smart City.

Untuk Kota Kupang sendiri, Gerakan Menuju Kupang Smart City, uang berlangsung selama 2 hari akan melakukan beberapa agenda besar yaitu Bimtek 1, Penyusunan Master Plan Kupang Smart City, dilanjutkan dengan Launching Hotspot Kupang Smart City. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

BP2LHK Kupang Teliti Pohon Faloak Sejak 2011, Kini; Hasilkan Teh Faloak

81 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Kupang, Institusi yang berafiliasi dengan Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi (BLI) dan berada di bawah binaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah meneliti potensi dan manfaat dari Pohon Faloak (Sterculia quadrifida R.Br.) yang telah digunakan oleh masyarakat NTT secara turun temurun sebagai obat tradisional.

Sebagai institusi yang telah meneliti dan mengembangkan species endemic NTT ini, BP2LHK Kupang telah melakukan penelitian secara mendalam tentang Pohon Faloak sejak tahun 2011; Tim Penelitian Faloak BP2LHK Kupang diketuai oleh Siswadi dan beranggotakan Heny Rianawati, S.Hut., M.Ag.Sc (Peneliti); Budiyanto Dwi Prasetyo, S.Sos., M.A. (Peneliti); dan Retno Setyowati, S.Hut (Peneliti).

Ditemui di Kantor Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Kupang di Jalan Alfons Nisnoni No. 7B (Belakang) Airnona, Kota Raja, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Jumat/15 Maret 2019; Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan / BP2LHK), Sumitra Gunawan, S.Hut., M.Sc., didampingi oleh para peneliti dan Kepala Seksi Data Informasi dan Sarana Penelitian, Hendra Priatna, S.T., menyampaikan lika liku perjalanan penelitian Pohon Faloak sejak tahun 2011 hingga sekarang.

Kepala BP2LHK Kupang, Sumitra Gunawan, mengatakan bahwa penelitian Faloak telah dilakukan sejak tahun 2011—2014 dengan melaksanakan Etnobotani Pohon Faloak (=studi terhadap masyarakat dan tanaman); Budidaya Faloak; dan Pembangunan Plot Konservasi ex-situ Faloak (=di luar dari habitat aslinya dengan koleksi Pohon Faloak dari berbagai daerah asal) di Stasiun Penelitian Banamlaat Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Provinsi NTT

“Sedangkan sejak tahun 2015—sekarang dilakukan inovasi membuat Produk Teh Faloak”, terang Sumitra Gunawan

Disamping itu, Mewakili Tim Peneliti Faloak, Heny Rianawati, S.Hut., M.Ag.Sc., menjabarkan secara gamblang mengenai penelitian terhadap Pohon Faloak dimulai dari konservasi dan Domestifikasi Pohon Faloak, teknik silvikultur, sebaran habitat, pembuatan kebun koleksi dan sumber benih, sampai berinovasi membuat produk teh/serbuk faloak agar mudah dikonsumsi masyarakat.

“Untuk inovasi teknis pengemasan serbuk faloak menjadi kemasan (seperti teh celup) ini sudah kami ajukan hak patennya ke Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) dan sudah didaftarkan dengan nomor pendaftaran P00201804328 tanggal 8 Juni 2018 dengan masa pengumuman 6 bulan sejak 8 Desember 2018”, ujar Heny

☆Foto Istimewa oleh BP2LHK Kupang

Lanjut Heny, Sedangkan Pendaftaran Paten untuk Komposisi Teh Celup Kulit Batang Faloak (Sterculia quadrifida R.Br.) dan Daun Stevia (Stevia rebaundina Bertoni) bernomor pendaftaran P00201804326 tanggal 8 Juni 2018 dengan masa pengumuman 6 bulan sejak 8 Desember 2018

“Kami Tim Peneliti Faloak di BP2LHK Kupang sangat membuka ruang seluas-luasnya untuk berdiskusi dan memberikan informasi lebih lanjut terkait faloak ataupun penelitian-penelitian lain di NTT”, pungkas Heny Rianawati.

Penulis dan editor (+rony banase)

Teknologi Geocaching, Upaya Mendongkrak Wisata Sejarah Bung Karno di Ende

168 Views

“Aku Melihat Indonesia”
Puisi Bung Karno

Denpasar, gardaindonesia.id | Setiap daerah pasti memiliki sejarah yang memiliki arti penting hingga saat ini. Sejarah merupakan tolok ukur yang dapat mengkaji segala hal, baik yang sudah terjadi beberapa masa lampau maupun memprediksi masa yang akan datang. Dengan adanya sejarah, maka bangunan atau peristiwa tertentu dapat diketahui asal-muasalnya. Sangatlah penting menjaga dan melestarikan sejarah. Adapun cara yang tepat untuk menyajikan sejarah agar tak terlupakan adalah dengan mengkaitkannya dengan pariwisata.

Kabupaten Ende terletak di daratan Pulau Flores merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur; cukup lama dikenal oleh dunia internasional. Hal ini dapat dilihat dalam majalah Belanda BKI jilid ketiga yang terbit tahun 1854, Salah satu artikelnya berupa laporan tertulis Predicant (pendeta) Justus Heurnius yang menceritakan keadaan daerah Ende pada masa awal perkembangan agama Kristen dan tentang keadaan di Bali tahun 1638.

Ende menyimpan pesona alam berupa Danau Tiga Warna di Gunung Kelimutu tetapi siapa sangka pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Bung Karno pernah diasingkan ke Ende pada tahun 1934—1938. Selama pengasingan di Ende, Bung Karno banyak melakukan kegiatan dengan masyarakat ende hingga melahirkan club tonil kelimutu yang salah satu tonilnya yang berjudul “Dokter Syaitan” memberikan sarat symbol penuh makna yang mana angka dalam tonil menunjukkan waktu proklamasi kemerdekaan, yaitu 17, bulan 8, tahun 45.

Tetapi ada yang lebih memiliki arti khusus bagi rakyat Indonesia bahwa disinilah (Ende) Bung Karno merenungkan dan merumuskan Dasar Ideologi Bangsa Indonesia “PANCASILA”, tepatnya dibawah pohon sukun di Taman Rendo yang saat ini berubah menjadi Taman Renungan Bung Karno. Dilihat dari sejarahnya memang Ende memiliki nilai penting yang dimana beberapa jejak tinggalan Bung Karno masih ada dan terawat hingga kini.

Lalu bagaimana mengembangkan nilai sejarah Bung Karno selama di pengasingan di Ende, yaitu dengan cara mengembangkan pariwisata sejarah dengan kegiatan wisata mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Ada sepuluh tempat yang berkaitan dengan pengasingan Bung Karno selama di Ende, yaitu :
1. Pulau Endeh
2. Pelabuhan Ende
3. Kantor Polisi Militer Belanda, sekarang Polisi Militer AD
4. Rumah Pengasingan Bung Karno
5. Pohon Sukun di Taman Rendo, sekarang Taman Renungan Bung Karno
6. Masjid Ar-Rabithah
7. Gereja Kathedral Ende
8. Percetakan Arnoldus
9. Gedung Immaculata
10. Sungai Nifamesu

Wisata dan Teknologi Geocaching

Teknologi saat ini sudah sangat membantu di segala sendi kehidupan, apalagi di era revolusi industri 4.0 seperti ini. Para wisatawan yang dulunya selalu membeli peta di setiap kunjungannya di suatu daerah sekarang digantikan dengan teknologi gawai yang terkoneksi dengan citra satelit.

Gawai sebagai alat utama dalam memperoleh informasi secara online dan dengan memaksimalkan teknologi suatu daerah mampu medongkrak pariwisatanya. Dalam riset yang dilakukan oleh Google, 90 persen pemesanan tiket dilakukan melalui desktop sedangkan penggunaan gawai lebih banyak digunakan untuk mencari informasi mengenai tempat wisata yang dituju.

Ada yang cukup menarik dengan pemanfaatan teknologi Global Position System (GPS) yaitu Geocaching (dibaca: Geo Kashing). Pada tanggal 2 Mei 2000, 24 satelit di seluruh permukaan bumi dibuka secara bersamaan yang membuat akurasi GPS jadi lebih baik. Hari berikutnya, Dave Ulmer mencoba akurasi tersebut dengan meletakkan cache (kotak penyimpanan) di hutan dan menginformasikan koordinat lokasinya melalu internet. Sebulan kemudian Mike Teague menemukan cache itu dan mengumumkan koordinatnya. Begitulah asal-mula ide Geocaching.

Geocaching merupakan rekreasi luar ruangan dengan teknologi tinggi yang populer dikalangan wisatawan khususnya mereka yang suka dengan tantangan. Menemukan benda-benda di dalam cache yang disembunyikan oleh pemilik chace menjadi permainan yang menarik sekaligus menantang. Menurut situs Geocaching.com, belum ditemukan adanya cache yang disembunyikan di Ende hal ini memberikan peluang untuk mengembangkan Geocaching pada situs-situs Bung Karno di Ende. Menemukan Cache di area situs Bung Karno secara tidak langsung mengenalkan sejarah Indonesia di mata para wisatawan.

Penulis: I Gusti Agung Gede Artanegara – Pemerhati Teknologi dan Budaya Kemendikbud RI

Editor (+ rony banase )