Arsip Kategori: Teknologi

Kupang Smart City—Perlu SDM dan Infrastruktur yang Memadai

58 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Pemerintah Kota Kupang dibawah pimpinan Jefri Riwu Kore dan Hermanus Man, terus berupaya menjadikan Kota Kupang sebagai Kota yang bersih, cerdas,aman dan juga nyaman. Salah satunya melalui program Kupang Smart City.

Bertempat di Neo Hotel Kupang, melalui Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Pemerintah Kota Kupang mengadakan “Gerakan Menuju Kupang Smart City”, pada Kamis 10 Juli 2019 yang diikuti oleh semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Kupang, Camat se-Kota Kupang dan semua Lurah.

Dalam sambutannya, Pj. Sekda Kota Kupang, Ir. Elvianus Wirata, M. Si., mengatakan bahwa program ini merupakan program yang dicanangkan oleh Wali Kota Kupang, sehingga dirinya meminta kepada semua elemen untuk mendukung program ini.

“Program ini dicanangkan oleh Pak Wali Kota sendiri, sehingga kepada semua OPD, camat dan juga Lurah harus mendukung program ini”, ujar Elvianus.

Guna mencapai Smart City, jelas Wairata, bahwa yang perlu dipersiapkan adalah berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM) dan juga infrastruktur yang memadai.

“Persiapan ini berkaitan dengan pengelolaan dan pemanfaatan smart city tersebut”, tutur Elvianus.

Gerakan menuju 100 Smart City, lanjut Elvianus, merupakan inisiatif dari pemerintah pusat guna menciptakan kota cerdas atau smart city. Kota Kupang merupakan salah satu dari 100 kota yang disiapkan untuk dijadikan kota cerdas di Indonesia.

Elvianus berharap bahwa semua kegiatan yang akan dilaksanakan selama 2 (dua) hari, para peserta yang merupakan delegasi dari setiap OPD, Kecamatan, maupun Kelurahan dapat mengikutinya dengan baik sehingga para delegasi ini menjadi agen perubahan untuk menjadikan Kupang Smart City.

“Sesuai laporan panitia bahwa ada 4 tahapan yang akan dilakukan dalam kegiatan ini, saya berharap semua yang ada dapat mengikuti dengan baik dari awal. Jangan ini hari ikut besok tidak ikut. Karena kita berharap para peserta nantinya akan menjadi agen of change guna menjadikan Kupang Smart City “, tegas Wairata.

Sementara itu, Ketua Panitia Wildrian Ronald Otta, SSTP., MM., dalam laporannya mengatakan bahwa Kupang Smart City ini merupakan program yang sudah dicanangkan sejak tahun 2017. Dan Bimbingan Teknis (Bimtek) ini merupakan langkah menuju Kupang Smart City.

“Bimtek hari ini akan bermuara pada penyusunan buku saku Kupang Smart City”, ujar Ronald.

Bimtek yang dilakukan selama 2 (dua) hari dibimbing secara langsung oleh tenaga ahli dari Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia yang telah mencanangkan dan menerapkan Gerakan Menuju 100 Smart City di Indonesia.

Perlu diketahui bahwa program ini sudah berlangsung selama tiga tahun, yaitu pada tahun 2017 terdapat 25 Kota yang dipersiapkan menuju Smart City, pada tahun 2018 dengan jumlah kota terbanyak yaitu 50 kota dan pada tahun 2019,terdapat 25 kota yang menjadi sasaran program Smart City.

Untuk Kota Kupang sendiri, Gerakan Menuju Kupang Smart City, uang berlangsung selama 2 hari akan melakukan beberapa agenda besar yaitu Bimtek 1, Penyusunan Master Plan Kupang Smart City, dilanjutkan dengan Launching Hotspot Kupang Smart City. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

BP2LHK Kupang Teliti Pohon Faloak Sejak 2011, Kini; Hasilkan Teh Faloak

30 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Kupang, Institusi yang berafiliasi dengan Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi (BLI) dan berada di bawah binaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah meneliti potensi dan manfaat dari Pohon Faloak (Sterculia quadrifida R.Br.) yang telah digunakan oleh masyarakat NTT secara turun temurun sebagai obat tradisional.

Sebagai institusi yang telah meneliti dan mengembangkan species endemic NTT ini, BP2LHK Kupang telah melakukan penelitian secara mendalam tentang Pohon Faloak sejak tahun 2011; Tim Penelitian Faloak BP2LHK Kupang diketuai oleh Siswadi dan beranggotakan Heny Rianawati, S.Hut., M.Ag.Sc (Peneliti); Budiyanto Dwi Prasetyo, S.Sos., M.A. (Peneliti); dan Retno Setyowati, S.Hut (Peneliti).

Ditemui di Kantor Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Kupang di Jalan Alfons Nisnoni No. 7B (Belakang) Airnona, Kota Raja, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Jumat/15 Maret 2019; Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan / BP2LHK), Sumitra Gunawan, S.Hut., M.Sc., didampingi oleh para peneliti dan Kepala Seksi Data Informasi dan Sarana Penelitian, Hendra Priatna, S.T., menyampaikan lika liku perjalanan penelitian Pohon Faloak sejak tahun 2011 hingga sekarang.

Kepala BP2LHK Kupang, Sumitra Gunawan, mengatakan bahwa penelitian Faloak telah dilakukan sejak tahun 2011—2014 dengan melaksanakan Etnobotani Pohon Faloak (=studi terhadap masyarakat dan tanaman); Budidaya Faloak; dan Pembangunan Plot Konservasi ex-situ Faloak (=di luar dari habitat aslinya dengan koleksi Pohon Faloak dari berbagai daerah asal) di Stasiun Penelitian Banamlaat Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Provinsi NTT

“Sedangkan sejak tahun 2015—sekarang dilakukan inovasi membuat Produk Teh Faloak”, terang Sumitra Gunawan

Disamping itu, Mewakili Tim Peneliti Faloak, Heny Rianawati, S.Hut., M.Ag.Sc., menjabarkan secara gamblang mengenai penelitian terhadap Pohon Faloak dimulai dari konservasi dan Domestifikasi Pohon Faloak, teknik silvikultur, sebaran habitat, pembuatan kebun koleksi dan sumber benih, sampai berinovasi membuat produk teh/serbuk faloak agar mudah dikonsumsi masyarakat.

“Untuk inovasi teknis pengemasan serbuk faloak menjadi kemasan (seperti teh celup) ini sudah kami ajukan hak patennya ke Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) dan sudah didaftarkan dengan nomor pendaftaran P00201804328 tanggal 8 Juni 2018 dengan masa pengumuman 6 bulan sejak 8 Desember 2018”, ujar Heny

☆Foto Istimewa oleh BP2LHK Kupang

Lanjut Heny, Sedangkan Pendaftaran Paten untuk Komposisi Teh Celup Kulit Batang Faloak (Sterculia quadrifida R.Br.) dan Daun Stevia (Stevia rebaundina Bertoni) bernomor pendaftaran P00201804326 tanggal 8 Juni 2018 dengan masa pengumuman 6 bulan sejak 8 Desember 2018

“Kami Tim Peneliti Faloak di BP2LHK Kupang sangat membuka ruang seluas-luasnya untuk berdiskusi dan memberikan informasi lebih lanjut terkait faloak ataupun penelitian-penelitian lain di NTT”, pungkas Heny Rianawati.

Penulis dan editor (+rony banase)

Teknologi Geocaching, Upaya Mendongkrak Wisata Sejarah Bung Karno di Ende

58 Views

“Aku Melihat Indonesia”
Puisi Bung Karno

Denpasar, gardaindonesia.id | Setiap daerah pasti memiliki sejarah yang memiliki arti penting hingga saat ini. Sejarah merupakan tolok ukur yang dapat mengkaji segala hal, baik yang sudah terjadi beberapa masa lampau maupun memprediksi masa yang akan datang. Dengan adanya sejarah, maka bangunan atau peristiwa tertentu dapat diketahui asal-muasalnya. Sangatlah penting menjaga dan melestarikan sejarah. Adapun cara yang tepat untuk menyajikan sejarah agar tak terlupakan adalah dengan mengkaitkannya dengan pariwisata.

Kabupaten Ende terletak di daratan Pulau Flores merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur; cukup lama dikenal oleh dunia internasional. Hal ini dapat dilihat dalam majalah Belanda BKI jilid ketiga yang terbit tahun 1854, Salah satu artikelnya berupa laporan tertulis Predicant (pendeta) Justus Heurnius yang menceritakan keadaan daerah Ende pada masa awal perkembangan agama Kristen dan tentang keadaan di Bali tahun 1638.

Ende menyimpan pesona alam berupa Danau Tiga Warna di Gunung Kelimutu tetapi siapa sangka pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Bung Karno pernah diasingkan ke Ende pada tahun 1934—1938. Selama pengasingan di Ende, Bung Karno banyak melakukan kegiatan dengan masyarakat ende hingga melahirkan club tonil kelimutu yang salah satu tonilnya yang berjudul “Dokter Syaitan” memberikan sarat symbol penuh makna yang mana angka dalam tonil menunjukkan waktu proklamasi kemerdekaan, yaitu 17, bulan 8, tahun 45.

Tetapi ada yang lebih memiliki arti khusus bagi rakyat Indonesia bahwa disinilah (Ende) Bung Karno merenungkan dan merumuskan Dasar Ideologi Bangsa Indonesia “PANCASILA”, tepatnya dibawah pohon sukun di Taman Rendo yang saat ini berubah menjadi Taman Renungan Bung Karno. Dilihat dari sejarahnya memang Ende memiliki nilai penting yang dimana beberapa jejak tinggalan Bung Karno masih ada dan terawat hingga kini.

Lalu bagaimana mengembangkan nilai sejarah Bung Karno selama di pengasingan di Ende, yaitu dengan cara mengembangkan pariwisata sejarah dengan kegiatan wisata mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Ada sepuluh tempat yang berkaitan dengan pengasingan Bung Karno selama di Ende, yaitu :
1. Pulau Endeh
2. Pelabuhan Ende
3. Kantor Polisi Militer Belanda, sekarang Polisi Militer AD
4. Rumah Pengasingan Bung Karno
5. Pohon Sukun di Taman Rendo, sekarang Taman Renungan Bung Karno
6. Masjid Ar-Rabithah
7. Gereja Kathedral Ende
8. Percetakan Arnoldus
9. Gedung Immaculata
10. Sungai Nifamesu

Wisata dan Teknologi Geocaching

Teknologi saat ini sudah sangat membantu di segala sendi kehidupan, apalagi di era revolusi industri 4.0 seperti ini. Para wisatawan yang dulunya selalu membeli peta di setiap kunjungannya di suatu daerah sekarang digantikan dengan teknologi gawai yang terkoneksi dengan citra satelit.

Gawai sebagai alat utama dalam memperoleh informasi secara online dan dengan memaksimalkan teknologi suatu daerah mampu medongkrak pariwisatanya. Dalam riset yang dilakukan oleh Google, 90 persen pemesanan tiket dilakukan melalui desktop sedangkan penggunaan gawai lebih banyak digunakan untuk mencari informasi mengenai tempat wisata yang dituju.

Ada yang cukup menarik dengan pemanfaatan teknologi Global Position System (GPS) yaitu Geocaching (dibaca: Geo Kashing). Pada tanggal 2 Mei 2000, 24 satelit di seluruh permukaan bumi dibuka secara bersamaan yang membuat akurasi GPS jadi lebih baik. Hari berikutnya, Dave Ulmer mencoba akurasi tersebut dengan meletakkan cache (kotak penyimpanan) di hutan dan menginformasikan koordinat lokasinya melalu internet. Sebulan kemudian Mike Teague menemukan cache itu dan mengumumkan koordinatnya. Begitulah asal-mula ide Geocaching.

Geocaching merupakan rekreasi luar ruangan dengan teknologi tinggi yang populer dikalangan wisatawan khususnya mereka yang suka dengan tantangan. Menemukan benda-benda di dalam cache yang disembunyikan oleh pemilik chace menjadi permainan yang menarik sekaligus menantang. Menurut situs Geocaching.com, belum ditemukan adanya cache yang disembunyikan di Ende hal ini memberikan peluang untuk mengembangkan Geocaching pada situs-situs Bung Karno di Ende. Menemukan Cache di area situs Bung Karno secara tidak langsung mengenalkan sejarah Indonesia di mata para wisatawan.

Penulis: I Gusti Agung Gede Artanegara – Pemerhati Teknologi dan Budaya Kemendikbud RI

Editor (+ rony banase )