Arsip Kategori: Puisi

Hidup Bermakna Bermain dengan Cinta

53 Views

Hidup Bermakna Bermain dengan Cinta

Oleh Firli Bahuri

Cinta yang paling terhormat adalah menghormati semua yang dicinta,
Kerap kali kita lupa bahwa kehancuran berwarga negara berawal dari keakraban yang berjarak, dan berbeda kutup

Cinta yang terputus dan berkabut
Malapetaka yang terulang,
Semua saling berjauhan seperti gunung dan danau,
Seperti gurun dan air,
Seperti terang dan gelap.

Padahal kita penghuni pulau-pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke,
Dari Pulau Miangas sampai ke Pulau Rote,
Melukiskan Surga Kebinekaan,
Deretan pulau-pulau yang mengajarkan kita untuk menikmati dan menjalin kerukunan

Sungguh indahnya kedamaian dan kebinekaan di negeri ini.
Tetapi suasana ini bisa hilang seketika, Jikalau anak bangsa tidak pandai merawatnya
Alam, Gunung, Sungai rusak dan tidak bisa lagi diharapkan,

Ketika nafsu dibakar dengan niat memperkaya diri dan korupsi terus bersemi di seluruh negeri,  Karenanya perlu kecintaan kepada bangsa ini

Mengapa kita harus mendahulukan cinta, keakraban sesama anak bangsa?
Agar kita terbiasa mengenali rintihan tak terucap,
Teriakan tak bersuara dan ratapan tak berair mata

Mengapa kita harus memuliakan mereka, sesama pewaris bangsa?
Karena negara harus memelihara anak yatim, fakir miskin dan anak terlantar,
Karena kita hidup di surga kebinekaan,

Saudara-saudara seirama sepenanggungan,
Kita beruntung mengeram di Surga Indonesia..
Jangan nodai keindahan yang kita miliki dengan kata-kata buruk yang tak terukur,
Dengan senyuman melayang di atas penderitaan orang banyak,

Hidup bercinta dan berbagi adalah Taman Sari Berbangsa yang Abadi,
Mari kita berubah, bercahaya dan saling mencinta.

Wahai Putra Putri Indonesia…
Bangunlah pondasi kecintaan kepada negeri ini…
Mari seluruh penghuni negeri,
Menggapai NKRI bebas dari korupsi.

(*/Penulis merupakan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019—2023)
Foto utama oleh mynurz.com

Pemuda

205 Views

Pemuda

Oleh Gregorius Bai

Bagaimana bisa anak muda berdiam, ketika mereka jadi tukang pukul kekuasaan.
Saat ruang publik ditentukan uang,
Air di kampung pun kering kerontang.
Alam berubah menjadi bencana,
atas nama investasi dikeruk dan diperkosa.

Benar salah diputarbalikkan,
tersesat pekatnya konflik kepentingan.
Dalam dunia yang penuh pura-pura,
anak muda yang akhirnya pisahkan dusta dari kata.

Pemuda yang tidak jadi anak manis, melihat kekuasaan dengan begitu sinis.
Menyeru perlawanan lewat ragam cara, karena asa tidak hanya di tangan penguasa,
maka pemuda harus benar-benar berdaya.

*/ (Penulis merupakan Ketua Keluarga Mahasiswa Matoup Mafit Noemuti [KM3N] Kefamenanu)
Foto utama oleh minanews.net

Cinta dan Bintang

86 Views

Cinta dan Bintang

Oleh Irjan Buu

Iming harap tak pelak tindak
Seia sekata dalam senada
Kalau cinta ingin merekah..
Kedip bintang merias tepian

Mula bercumbu di kaki langit
Atas nama cinta
Disaksikan bintang
Bersit cahaya berpijar kembang
Membias riang membawa cinta

Gejolak merombak masa
Tak hengkang meremas genggam
Memacu tangguh bernaung bintang

Cinta..
Bintang..
Sejoli rekatkan hasrat
Kalau cinta hendak pulang
Bintang pun turut gandeng

Cinta, Bintang..
Kakak beradik sepanjang masa.

Kupang, 5 September 2013

(*Penulis merupakan pegiat literasi, Alumni Seminari BSB Maumere)
Foto oleh bangjek.com

Perempuan dalam Problematik

165 Views

Perempuan dalam Problematik

Oleh Yufengki Bria

Tubuhmu merupakan bagian terlarang yang sepatutnya dilindungi

Namun engkau selalu di jelma dengan berbagai rayuan hingga kesucian itu egkau relakan demi memuaskan hasrat laki-laki

Tenagamu dikuras habis-habisan di sebuah industri besar, bahkan juga dalam urusan domestik

Waktu belajar dan perjuanganmu sangat sekali dibatasi oleh sistem yang selalu mengharuskan engkau kerja, kerja, dan kerja

Suara manismu tak pernah didengar, walau itu merupakan tanda curhatan isi hatimu

Wajah cantikmu selalu dijadikan objek untuk mempromosikan hasil produksinya tuan kapitalis

Apakah engkau sadar akan hal itu?

Ya, patutlah engkau sadar, bahwa sistem semakin mengeksploitasi tubuh, tenaga, jam kerja, dan suaramu

Bangkitlah kawan untuk berjuang, agar derajatmu sama dengan laki-laki. (*)

*(Penulis puisi merupakan aktivitas pada LMND-DN Ek Kota Kupang [Departemen Koran dan Bacaan])

Perihal Penjala Ikan

89 Views

Oleh Hendrikus Arianto Ola Peduli

Ketika dilema menerpa di pagi yang dingin..antara menarik gebar membungkus raga dan menebar jala menangkap ikan
Aku berjuang melorot gebar dan menebar jala di tengah dinginnya laut pagi, menghempas ombak menantang maut.
Aku berjuang kuat
//
Sebelum mentari terbit.
Ketika embun di pagi buta masih terasa melilit raga dengan dinginnya yang tiada tara
Aku sudah menghadang ombak yang tiada tentu
//
Ketika surya terbit di atas ubun-ubun kepala.
Membakar badan cokelat gelap dan rambut kuning kusam yang masih belum terbasuh perigi setetespun
Aku masih berdiri tegap bersama sampan.
Memegang campang tua yang sesekali dikayuh
Menatap laut dengan penuh arti
//
Ketika bumi diterpa gelap gulita, lantaran ditinggal surya yang menemaniku sepanjang hari
Aku masih saja bermimpi untuk hari esok.
Laut yang menari indah, tarian ikan yang seperti air mendidih di tungku dapur dan menjaring sebak ikan untuk hidup. (*)

Pantai Wailolon, 29 Juli 2019

*Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Nusa Cendana. Pada saat liburan berprofesi sebagai Nelayan di Pulau Adonara.

Wajah-wajah dalam Cermin

213 Views

Oleh Yelinri Juana Martha Taosu

Kupang-NTT, 5 November 2019 | Di depan cermin setengah utuh, telah terpampang wajah-wajah penuh kematian.
Kaku, bisu, dan dingin.
Bersolekan diam berdandankan sepi, rupawan bak kembang di makam moyang

Wajah-wajah dalam cermin
Berbijikan dua bola mata bundar
Menyala pada remang-remang subuh lalu padam kala terik matahari membunuh keadilan di kota.

Menolak pandang saat toleransi diinjak sampai bonyok oleh dasar sepatu orang-orang yang katanya beragama.
Hingga malam memperkosa kesucian kaum minoritas, biji mata mereka memilih bercumbu dengan mimpi saja.

Muka-muka di depan cermin
Tengah melihat dirinya penuh acuh
‘Biarkan keadilan mati saja, toh masih ada uang tutup mulut’ seringai bibir-bibir pucat pasi.

Wajah-wajah dalam cermin
Mengamat-amati kematian mereka yang begitu molek
Lalu menambah gincu mati rasa untuk bibir pucat mereka.

Waktu kini menunjukkan pukul berapa saja
Gaun terseksi telah melekat di tubuh
Kini mereka siap pergi berdansa dengan kehancuran di pesta malam-malam sepanjang peradaban. (*)

Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang
Editor (+rony banase) Foto oleh idntimes.com

Pernah Dara

146 Views

Oleh Yelinri Juana Martha Taosu.

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Untaian puisi berjunta ke kisi-kisi relung ditata apik oleh Yelindri, Mahasiswi Undana Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sasta, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Semester 4. Berikut bait-bait puisinya :

Telah berpuluh peluhnya mencium bumi

Pada setiap sempat di bawah matahari
Mulai disibaknya tirai-tirai ketidakmungkinan
Yang menjuntai dari atas kepalanya

Ia mencari dara-nya yang habis dilahap penyesalan

Dalam geram-geram diamnya
Ia memekik meneriakan kehampaan
Sementara dikerumuni sepi yang hiruk pikuk

Setelah bercinta dengan bencinya
Sesal yang telah lama mengintip di balik pintu
Lalu mulai merayapi kulit dinginnya yang basah oleh matinya rasa

Ia tertawa

Matanya telah berlama menampung jutaan bulir beningnya dalam bakul-bakul waktu
Yang senantiasa

Siap dimandikan kepada jiwa perempuan itu

Sesaat sebelum ia pulang pada lupa
Sebisik kata mencium telinga kebalnya

“Setidaknya, pernah Dara”

Kupang, 27 Juni 2019

Foto : Istimewa, grup whatsapp

Warisan waktu

121 Views

Oleh Yelinri Juana Martha Taosu

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Penggalan puisi oleh Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Semester 4 Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang

Perihal menunggu Mati
Ia telah menyisipkan beberapa pucuk doa
Di saku langit
Sebelum meninggalkan tatapnya pada malam yang tengah lahap mengunyah remah-remah senja

Setibanya di petiduran, ia sempatkan menatap lekat-lekat tengkorak berbalut kulit itu di hadapan cermin
Dan tak menemui apapun selain matanya yang lelah dan penuh sesak akan diam
Sebelum akhirnya terbaring lelah pada sebuah lupa tak bernama

Taktala mentari mulai mencumbu embun di kaki langit
Ia bergegas menemui kenyataan
Mengenai perihnya beberapa luka yang menunggu waktu untuk mengering
Sembari membuat Tuhan jatuh hati akan perihnya dan memberinya sedikit lupa (lagi) untuk dikecap sebagai sarapan pagi

Sebab menunggu mati adalah berada di ruang kejam
Baginya yang terlampau rapuh dalam nanti yang hampa
Ia adalah
Warisan waktu

Bumi, 18 Juni 2019