Arsip Kategori: Puisi

Selamat Jalan ‘Mom’

194 Views

Oleh. Melkianus Nino

Redup wajah kian memburam semenjak pergantian waktu. Jelang akhir keberadaan. Raut gemulai telah memucat pasi. Tawa membungkam disinari terang neon Philips di ruang tamu. Dia telah berbaring kaku, detak nadi-jantung sudah hilang denyutan.

Kini, kedua tangan saling memegang erat, ingin memanjat syukur dan terima kasih. Terlilit untaian bulir rosario, bisu membisikan kepada-Nya.

Dia sekaligus membawa kado itu, sebagai lambang akhir dari doa.

Aku menatap dengan mengedip cepat, bola mata berkaca-kaca. Badan ini, seakan kaku dalam refleks. Mati suri badanku, Aku ingin  sebilik  bersamanya. Namun, Dia inginkan kehidupanku untuk menyelesaikan masa penciptaan.

Aku merasakan sebuah kehilangan besar dan harapan dengan kepergian saat ini. Teman cerita dan gelak tawa sudah tiada, tak penuh arti lagi.

Aku sudah terbius bisa bisu.

Yang terpaut dalam ingatan dan relung saat merenung kemarin. Hadiah pagi darinya, saat sarapan pagi jelang terjun rutinitas.

“Siapakah nantinya?”.

Bahtera diri ini, membudak oleh sebuah perjalanan yang  tak lagi kembali. Pertemuan hanya di ujung mimpi ketika Dia hadir sebagai pemberi mimpi.

Mungkin nanti, bila waktu menjemput Aku pulang. Kepastian dapat bercumbu bersama kemarin.

Kesabaran telah menjadi kemelut untuk tegar menghadapi situasi saat ini. Beban menghantuiku, lalu menjadi perkara terbesar yang sulit dikendalikan. Kekuatan saat terakhir, adalah harus menjadi pemenang.

Tepat siang, bara menusuk seisi insan-insan yang dibanjir lara. Besuk kian mengambil kesempatan menengok sang sosok yang rendah hati. Tatapan-tatapan iba itu, hanya terhadapku yang akan hidup sebatang kara.

Selama ini, semenjak sang Ayah hilang kabar digodai gadis kepang dua.

Sebentar senja akan menjauh hilang di peluk malam sembari menanti esok. Aku masih menemani kekakuan yang lelap tanpa mimpi. Sungguh-sungguh disedu kesedihan.

Aku hanya bisa berpasrah, sebab kita satu kepemilikan-Nya. Singkat cerita, adalah Ikrar Perpisahan.

Aku bagaikan sebatang lidi yang sukar menyapu daun-daun tua  yang jatuh dari rindang pohon ketapang. Sampah kian menumpuk sebab itu beban tanpa pesan. Tiada pinta sebagai bekal demi hari mendatang.

Aku terus mendiami kediaman diamku ini.

Ratap resah dari ketiadaan seorang wanita terhebat. Kelebihan amal budi telah luluh oleh kepahitan duka. Rasa manis yang dikecapi terasa pahit sukar ditelan selama ini, kian memudar.

Kepasrahan menemani langkah dan beban yang kian berat. Bahu telah tertindih, tersendat bahagia.

Aku hanya bisa berpaling pada-Nya, memohon kekuatan dengan keadaan di depan pandangan rasa. “Tuhan, berikan ketabahan di hati ini!”.

Aku tak tahu bila esok, kekakuan akan pergi menghirup aroma tanah.  Semua yang hadir akan menjadi hancur berkeping-keping, dalam selimut tanah yang membumi.

Tentunya esok.

Dentingan kian mereda. Jam dinding hasil jerih payahnya sepanjang pampangkan, sudah seumur denganku. Umur turut mendewasakan , Aku dengan sang Waktu.

Aku masih melingkari pembaringan tanpa kata. Aku tahu tentang , esok menjadi penentu akhir pelepasan raganya. Aroma-aroma tanah terus terhirup. Lilin padam ditiup angin . Irisan mawar putih telah melayu.

Kini, Aku tak bercerita tentang yang ada dan tiada.

Ketiadaan dilanda sepi. Aku hanya meminta memohon pengampunan dari-Nya. Berharap Dia menjadi pendoa bagi segenap.

Sebentar lagi, Senja berbalik ke ufuk barat tempat peraduannya. Dia pun pergi bersama waktu. Aku mengucap salam terakhir untuk Dia.

“Salam Senja, selamat jalan Mom!”. (*)

Foto utama (*/paragram.id)

Kelimut Corona

478 Views

Oleh : Mario Kali

Ka’, kau lihat ibu saat ini?
Luka di sekujur tubuhnya itu
Ditutupi selimut yang kelimut

Dan mulut-mulut menguar kutuk
“Tulah ini turun atas ulah dosa manusia”
berupa corona yang tak kasat mata

Siapa yang dapat melawan
kecemasan menjadi pembunuh
Sebab corona itu kelimut

Melilit kaki, tangan dan mulut
“Tak bisa lagi keluar rumah,
Berjabat tangan, memberi senyum pun tak boleh”

Menyelimuti ibu dalam sembunyi
“Doa ibu bukan lagi puisi di mesbah-Nya”
Membunyikan ratapan-ratapan yang dibuat-buat

Bukan demi tapi hanya untuk menutupi
Ulah pengerat duit
Membuncitkan diri dengan bansos negara atas nama pribadi. Dimanipulasi.

Ka’, kau dengar tangis ibu?
Cara memelihara tabah
Sebab siapakah di antara anak-anak yang sudi mengiba?

Corona itu kelimut
Susup mulut ibu
Dengan selimut produksi orang kaya yang tak pernah dicuci bersih.

(Inerie, 26 Juni 2020)

Foto utama oleh greatmind.id

Badai

423 Views

Oleh : Yelinri Juana Martha Taosu

Di langit yang dalam ia menderu desah.
Menggapai-gapai lengan angin di lautan yang mengombak

Di gunung ia memuncak meninggi, memanggil-manggil petir
Merayap-rayap di lembah sembab, memecah hening. Sepi berteriak menjerit

Di pepohonan, ranting-ranting berhamburan. Dedaunan pecah bertebaran.
Di tanah, suara bebatuan dibisingkannya.

Badai

Di matamu, ia menjelma deras.
Di bibirmu, ia mengutuk diam.
Di kepalamu, ia memekik. Membantaimu.
Tanpa sepotong ampun.(*)

Foto utama oleh time.com

Saputangan Kafan Buat Tuan Corona

786 Views

Oleh Marsel Robot

Tuan Corona!

Hanya saputangan dari kafan yang kumiliki
Buat membaringkan kata dan doa menjelang keberangkatan
Dan menghapus darah pada ujung tombak takdir
Terbukalah tabir, aku tak punya apa-apa
Dan tak pernah lebih dari apa-apa
Saputangan kafan menghapus belati dan di hati
Dari doa sebentuk cari muka paling klasik

Tuan Corona!

Hanya saputangan kafan yang kumiliki
Menyapu nyanyian requiem dari benua ke benua
Atas perjalanan saudaraku menuju kelam
Hari-hari ini bulan bercahaya darah dikepung tangisan
Kamboja kuburan berbunga duka
Spoi suara piano di ruang rutin ditelan pusara
Jalan pulang ke rumah lebih jauh daripada ke kuburan
Dan atas bukit, gereja kecil tergelincir oleh air mata
Mungkin suara semesta
yang sedang mengukur jarak antara dia dan kita
Kemudian menyegel takdir di pintu kintal cakrawala

Tuan Corona!
Hanya saputangan kafan yang kumiliki
Mengusap kematian sebagai keindahan sakremental
Yang begitu sentimental di atas sabda
kala semesta memulai berfirman dengan wabah
Kerlap api unggun di tengah kota menjanda

Perjalanan kembali ke dalam diri teramat terjal
Tersedak oleh lahar lendir libido beracun
Kehidupan terasa berada di atas koral
Menjadi padang nestapa mengerikan
Sebab, diriku jauh lebih jahat dari jenis wabah saja di muka bumi
Mungkin, akulah wabah ini?

Tuan Corona!
Hanya saputangan kafan yang kumiliki
Menghalau samar pada geladak kala pulang di bawah gerimis tangis
Setelah doa-doa dilarutkan demi melebutkan tanah kubur
Kutitipkan piring, gelas, senduk, dan mantra di atas pusara
Biar matahari terbenam dalam kafan basah
Sebab, Aku belum mampu pergi dengan tegar ke dalam sunyi
Atau belum mampu menjemput kelam dengan senyum
Selain mengantar mawar hitam di tepi makam yang lebam
Mengeja keberangkatan menuju bunda kesunyian (*)

*/Penulis merupakan Sastrawan dan Dosen FKIP Undana Kupang

Foto oleh boneog.com

Hidup Bermakna Bermain dengan Cinta

214 Views

Hidup Bermakna Bermain dengan Cinta

Oleh Firli Bahuri

Cinta yang paling terhormat adalah menghormati semua yang dicinta,
Kerap kali kita lupa bahwa kehancuran berwarga negara berawal dari keakraban yang berjarak, dan berbeda kutup

Cinta yang terputus dan berkabut
Malapetaka yang terulang,
Semua saling berjauhan seperti gunung dan danau,
Seperti gurun dan air,
Seperti terang dan gelap.

Padahal kita penghuni pulau-pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke,
Dari Pulau Miangas sampai ke Pulau Rote,
Melukiskan Surga Kebinekaan,
Deretan pulau-pulau yang mengajarkan kita untuk menikmati dan menjalin kerukunan

Sungguh indahnya kedamaian dan kebinekaan di negeri ini.
Tetapi suasana ini bisa hilang seketika, Jikalau anak bangsa tidak pandai merawatnya
Alam, Gunung, Sungai rusak dan tidak bisa lagi diharapkan,

Ketika nafsu dibakar dengan niat memperkaya diri dan korupsi terus bersemi di seluruh negeri,  Karenanya perlu kecintaan kepada bangsa ini

Mengapa kita harus mendahulukan cinta, keakraban sesama anak bangsa?
Agar kita terbiasa mengenali rintihan tak terucap,
Teriakan tak bersuara dan ratapan tak berair mata

Mengapa kita harus memuliakan mereka, sesama pewaris bangsa?
Karena negara harus memelihara anak yatim, fakir miskin dan anak terlantar,
Karena kita hidup di surga kebinekaan,

Saudara-saudara seirama sepenanggungan,
Kita beruntung mengeram di Surga Indonesia..
Jangan nodai keindahan yang kita miliki dengan kata-kata buruk yang tak terukur,
Dengan senyuman melayang di atas penderitaan orang banyak,

Hidup bercinta dan berbagi adalah Taman Sari Berbangsa yang Abadi,
Mari kita berubah, bercahaya dan saling mencinta.

Wahai Putra Putri Indonesia…
Bangunlah pondasi kecintaan kepada negeri ini…
Mari seluruh penghuni negeri,
Menggapai NKRI bebas dari korupsi.

(*/Penulis merupakan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019—2023)
Foto utama oleh mynurz.com

Pemuda

436 Views

Pemuda

Oleh Gregorius Bai

Bagaimana bisa anak muda berdiam, ketika mereka jadi tukang pukul kekuasaan.
Saat ruang publik ditentukan uang,
Air di kampung pun kering kerontang.
Alam berubah menjadi bencana,
atas nama investasi dikeruk dan diperkosa.

Benar salah diputarbalikkan,
tersesat pekatnya konflik kepentingan.
Dalam dunia yang penuh pura-pura,
anak muda yang akhirnya pisahkan dusta dari kata.

Pemuda yang tidak jadi anak manis, melihat kekuasaan dengan begitu sinis.
Menyeru perlawanan lewat ragam cara, karena asa tidak hanya di tangan penguasa,
maka pemuda harus benar-benar berdaya.

*/ (Penulis merupakan Ketua Keluarga Mahasiswa Matoup Mafit Noemuti [KM3N] Kefamenanu)
Foto utama oleh minanews.net

Cinta dan Bintang

242 Views

Cinta dan Bintang

Oleh Irjan Buu

Iming harap tak pelak tindak
Seia sekata dalam senada
Kalau cinta ingin merekah..
Kedip bintang merias tepian

Mula bercumbu di kaki langit
Atas nama cinta
Disaksikan bintang
Bersit cahaya berpijar kembang
Membias riang membawa cinta

Gejolak merombak masa
Tak hengkang meremas genggam
Memacu tangguh bernaung bintang

Cinta..
Bintang..
Sejoli rekatkan hasrat
Kalau cinta hendak pulang
Bintang pun turut gandeng

Cinta, Bintang..
Kakak beradik sepanjang masa.

Kupang, 5 September 2013

(*Penulis merupakan pegiat literasi, Alumni Seminari BSB Maumere)
Foto oleh bangjek.com