Arsip Kategori: Puisi

Perihal Penjala Ikan

25 Views

Oleh Hendrikus Arianto Ola Peduli

Ketika dilema menerpa di pagi yang dingin..antara menarik gebar membungkus raga dan menebar jala menangkap ikan
Aku berjuang melorot gebar dan menebar jala di tengah dinginnya laut pagi, menghempas ombak menantang maut.
Aku berjuang kuat
//
Sebelum mentari terbit.
Ketika embun di pagi buta masih terasa melilit raga dengan dinginnya yang tiada tara
Aku sudah menghadang ombak yang tiada tentu
//
Ketika surya terbit di atas ubun-ubun kepala.
Membakar badan cokelat gelap dan rambut kuning kusam yang masih belum terbasuh perigi setetespun
Aku masih berdiri tegap bersama sampan.
Memegang campang tua yang sesekali dikayuh
Menatap laut dengan penuh arti
//
Ketika bumi diterpa gelap gulita, lantaran ditinggal surya yang menemaniku sepanjang hari
Aku masih saja bermimpi untuk hari esok.
Laut yang menari indah, tarian ikan yang seperti air mendidih di tungku dapur dan menjaring sebak ikan untuk hidup. (*)

Pantai Wailolon, 29 Juli 2019

*Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Nusa Cendana. Pada saat liburan berprofesi sebagai Nelayan di Pulau Adonara.

Wajah-wajah dalam Cermin

136 Views

Oleh Yelinri Juana Martha Taosu

Kupang-NTT, 5 November 2019 | Di depan cermin setengah utuh, telah terpampang wajah-wajah penuh kematian.
Kaku, bisu, dan dingin.
Bersolekan diam berdandankan sepi, rupawan bak kembang di makam moyang

Wajah-wajah dalam cermin
Berbijikan dua bola mata bundar
Menyala pada remang-remang subuh lalu padam kala terik matahari membunuh keadilan di kota.

Menolak pandang saat toleransi diinjak sampai bonyok oleh dasar sepatu orang-orang yang katanya beragama.
Hingga malam memperkosa kesucian kaum minoritas, biji mata mereka memilih bercumbu dengan mimpi saja.

Muka-muka di depan cermin
Tengah melihat dirinya penuh acuh
‘Biarkan keadilan mati saja, toh masih ada uang tutup mulut’ seringai bibir-bibir pucat pasi.

Wajah-wajah dalam cermin
Mengamat-amati kematian mereka yang begitu molek
Lalu menambah gincu mati rasa untuk bibir pucat mereka.

Waktu kini menunjukkan pukul berapa saja
Gaun terseksi telah melekat di tubuh
Kini mereka siap pergi berdansa dengan kehancuran di pesta malam-malam sepanjang peradaban. (*)

Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang
Editor (+rony banase) Foto oleh idntimes.com

Pernah Dara

51 Views

Oleh Yelinri Juana Martha Taosu.

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Untaian puisi berjunta ke kisi-kisi relung ditata apik oleh Yelindri, Mahasiswi Undana Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sasta, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Semester 4. Berikut bait-bait puisinya :

Telah berpuluh peluhnya mencium bumi

Pada setiap sempat di bawah matahari
Mulai disibaknya tirai-tirai ketidakmungkinan
Yang menjuntai dari atas kepalanya

Ia mencari dara-nya yang habis dilahap penyesalan

Dalam geram-geram diamnya
Ia memekik meneriakan kehampaan
Sementara dikerumuni sepi yang hiruk pikuk

Setelah bercinta dengan bencinya
Sesal yang telah lama mengintip di balik pintu
Lalu mulai merayapi kulit dinginnya yang basah oleh matinya rasa

Ia tertawa

Matanya telah berlama menampung jutaan bulir beningnya dalam bakul-bakul waktu
Yang senantiasa

Siap dimandikan kepada jiwa perempuan itu

Sesaat sebelum ia pulang pada lupa
Sebisik kata mencium telinga kebalnya

“Setidaknya, pernah Dara”

Kupang, 27 Juni 2019

Foto : Istimewa, grup whatsapp

Warisan waktu

39 Views

Oleh Yelinri Juana Martha Taosu

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Penggalan puisi oleh Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Semester 4 Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang

Perihal menunggu Mati
Ia telah menyisipkan beberapa pucuk doa
Di saku langit
Sebelum meninggalkan tatapnya pada malam yang tengah lahap mengunyah remah-remah senja

Setibanya di petiduran, ia sempatkan menatap lekat-lekat tengkorak berbalut kulit itu di hadapan cermin
Dan tak menemui apapun selain matanya yang lelah dan penuh sesak akan diam
Sebelum akhirnya terbaring lelah pada sebuah lupa tak bernama

Taktala mentari mulai mencumbu embun di kaki langit
Ia bergegas menemui kenyataan
Mengenai perihnya beberapa luka yang menunggu waktu untuk mengering
Sembari membuat Tuhan jatuh hati akan perihnya dan memberinya sedikit lupa (lagi) untuk dikecap sebagai sarapan pagi

Sebab menunggu mati adalah berada di ruang kejam
Baginya yang terlampau rapuh dalam nanti yang hampa
Ia adalah
Warisan waktu

Bumi, 18 Juni 2019

Puisi ‘Segenggam Rindu Buat Ayah’

50 Views

AYAH

Oleh
Yufengki Yampes Bria

 

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Segenggam rindu buat ayah tercinta dilukiskan oleh Yufen; seorang aktifis kemanusiaan yang aktif mendengungkan kebenaran dan fakta yang diutarakan dalam seuntai puisi.

Inilah bait-bait puisi tersebut,

Ayah…

Disaat engkau tak kan pernah dengar suara dan jejak ku lagi

Engkau bercerita dan mencariku disetiap setapak jalan nan sunyi

Ayah…

Ketika aku mulai ada kabar engkau kembali dan bercerita bahwa aku semestinya masih hidup bersama kaum jelata

Ayah…

Tak’kan ku habiskan semua sejarah dalam langkah kakimu

Karena kebenaran akan terungkap di hari esok dan lusa

Ayah…

Aku berpikir tentang hidupku, kalau tanpa dirimu mungkin aku bagaikan debu yang tertiup angin sepoi di senja hari

Tapi aku bersyukur sudah ada engkau disisi ku, hingga aku berani bersuara lantang tentang “pembebasan”

Ayah…

Dapatkah aku menyayangimu sampai ajal menjeputku

Ah ah ah, tentunya; Ya karena Tuhan kita dan Alam kita masih bisa mendengar rintihan cerita ku dan engkau dalam Garda Perjuangan ini

Ayah…

Aku selalu berdoa agar engkau sehat selalu di atas bumi ini yang penuh dengan hiruk pikuk tangisan kaum jelata

Ayah…

Aku berpikir bagaimana cara engkau menafkaiku di negeri ini hanya dengan sebidang tanah

Dan entah bagaimana cara engkau memotivasiku hingga aku kenal dewasa

Ayah…

Aku berterimakasih karena engkau sudah cukup mengajarkan ku berbagai hal tentang carut marutnya negeri ini

Hingga aku sadar bahwa musuhku bukan kawan melainkan sistem yang membelenggu ruang gerak ku. (*)

(*/Penulis seorang Mahasiswa Undana asal Desa Honuk Kecamatan Amfoang Barat Laut – Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur)

Rintihan Hati Sosok Guru Perempuan dari Flores NTT

44 Views

Oleh : Elisabeth Wilhelmina

Jawa Tukan, S.Pd

Larantuka, gardaindonesia.id | Sebait puisi dari seorang guru perempuan tangguh dari Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur. Puisi ini melukiskan suasana hati dan mimpi para guru di pelosok negeri,

Aku melihat indonesia dari kacamata ibukota..
Lewat gedung-gedung pencakar langit dan hiruk pikuknya lalu lintas kota Jakarta..
Aku melihat indonesia, dari senyum palsu anak-anak negri di setiap sudut kota metropolitan.

Senyuman bercampur dengan peluh keringat di setiap jalanan ibukota..
Senyum tunas muda pemilik Negri;
Yang menjerit di tengah gemerlap lampu-lampu jalanan kota seribu jiwa seribu gedung bertingkat…

Wahai penguasa Negeri…
Betapa sombongnya dirimu, betapa angkuhnya dirimu. Sekali coretan tanganmu diatas kertas putih itu, saat itu pula kau hasilkan duit berjuta rupiah. Kau lupa diri, kau lupa bahwa uang yang kau dapatkan itu adalah hasil peluh keringat, bahkan tetesan air mata penuh perjuangan kaum jelata negeri ini.

Kau lupa bahwa yang kau miliki adalah milik rakyat negeri yang disebut … Nusantara.

Ahhh….Indonesia, Negeri yang kaya susu dan madu,
Ahh indonesia, dimanakah susu dan madu itu? Dimanakah keadilan itu dapat ditegakkan, sampai kapankah anak-anak Negri pemilik Bangsa bisa tersenyum lepas tanpa kepalsuan.

Kapankah Jakarta; hai…. kota metropolitanku, kau berikan setitik kebahagiaan buat kaum jelata Negeri,,
Lampu dan gedungmu tak bisa menentramkan hati dan jiwa mereka
Sombongnya dirimu; hai….kota seribu nyawa bahkan semilyar penduduk Yang menempatimu…

Wahai ibukota, kapankah kau menjadi ibu yang sesungguhnya
Bagi kami anak-anak Negri dari sabang sampai Merauke, kapankah kesombonganmu bisa dikalahkan oleh tangisan anak-anak pengemis di kolong jembatanmu

Terlampau sadis… caramu,,, hai… ibukota
Aku yang hanyalah suara tak berarti..
Mau meneriakkan, menyuarakan suara-suara kaum jelata, suara anak-anak Negeri, yang katanya negri pemilik susu dan madu
Gemerlapmu tak bisa menembus batas-batas wilayah hati kami yang masih gelap..
Gelap dan selalu gelap yang kami rasakan
Wahai ibukota, kembali aku menatapmu kini..

Aku yang hanyalah pemilik negeri bayang-bayang, negeri diatas awan kataku
Negeri yang hanya bisa kami rasakan susu dan madu dibalik kacamata para bos-bos yang sudi memberikan lembar seribu dua ribu, ketika kami selesai menjadi pengamen di tengah hiruk pikuk lalu lintasmu…
Jakarta…. kejamnya dirimu,,

Kau gagal menjadi ibu bagi anak negri pemilik susu dan madu..
Kau lupa diri bahwa diantara gemerlapmu, ada tangisan anak yang kelaparan, ada jeritan wanita-wanita malang yang sedang mengais rejeki tanpa kenal lelah.

Kau lupa bahwa di tengah kesibukanmu,ada pria-pria tangguh yang rela bekerja keras hanya untuk bisa membayar pajak keluar masuk jalan tol demi selembar kertas rupiahmu… aku kecewa kataku…

Wahai penguasa negri…
Rakyat bukan bonekamu
Semua yang bicarakan di gedung megahmu hanyalah lambang bahwa kau sudah bekerja. Semua mengatasnamakan rakyat, semua hanya demi rakyat
Yah… rakyat adalah penghasil lembaran-lembaran berjuta bahkan bermilyar rupiah bagimu
Kau gagal hai penguasaku
Dan aku sedih menatap kotamu di ujung malam ini..

Gemerlapmu niscaya memabukkanku..
Gedung pencakar langitmu seolah mau menghantarku ke langit sana yang tak bisa menampilkan pesona bintang dan bulan karena kesombonganmu
Dan aku,, diatas jembatanmu ini, hanya bisa menatapmu,ditengah geliat ibukota ,ibu negri… aku menangis…

Airmataku jatuh bersama malam tanpa bintang dan bulan
Aku kecewa bersama desiran angin yang enggan berlalu bersama geliatmu yang tiada henti

Aku sedih wahai ibu negri
Biarlah kesedihanku ini berlalu bersama sang waktu (*)

 

Penulis adalah seorang guru, berdomisili di Waibalun, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Editor (+ rony banase)