Arsip Kategori: Opini

MRS Kalah di Praperadilan: Tanda Rontoknya Dukungan Sang Dalang

1.062 Views

Oleh : Rudi S Kamri

Melihat nasib Muhammad Rizieq Shihab (MRS) saat ini dibanding dua bulan lalu seperti bumi dan langit atau perbandingan yang sangat mencolok 180 derajat. Saat tanggal 10 November 2020 lalu dia pulang dielu-elukan bak pahlawan. Konon katanya hari kepulangannya pun sengaja ‘di-setting’ bertepatan dengan Hari Pahlawan.

Alih-alih seperti Ayatullah Khomeini yang pulang dari pengungsian dari Perancis untuk memimpin revolusi Iran, “keperkasaan” Rizieq Shihab ternyata hanya bertahan beberapa hari.

Tanggal 10—14 November 2020 kejemawaan MRS seperti over dosis. Dia liar tak terkendali. Presiden dihina, TNI dan Polri dilecehkan, malah mengancam memenggal kepala segala. Dia merajalela karena merasa dilindungi oleh “kelompok” bandar yang menjamin kebebasan dia untuk berbuat apa saja.

Tapi sang Bandar atau sang Dalang mulai kehilangan nyali saat negara yang direpresentasikan di awal oleh Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurrachman tampil garang menggergaji MRS dan FPl. Setelah itu, kewibawaan negara mulai berangsur bangkit pulih saat Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mohammad Fadil Imran juga tampil menggebrak.

Duet maut Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya yang kompak membuat MRS dan FPl ciut nyali. Bahkan terkesan sang Dalang malah kabur mengumpet tinggal gelanggang meninggalkan RS dan kelompoknya. Skenario menggunakan RS sebagai proxy untuk menekan Pemerintah Pusat dan menebarkan bibit politik identitas dalam Pilkada Serentak 9 Desember 2020 gagal total. Bahkan RS berhasil tunduk takluk masuk meringkuk dalam tahanan. Dan tidak lama kemudian FPl sudah diumumkan sebagai ormas yang terlarang di negeri ini. Pengumuman pelarangan FPl adalah tanda kuat Negara hadir kembali melawan arogansi kelompok yang selama ini semena-mena.

Upaya MRS untuk mengajukan gugatan pra-peradilan atas status penahanan dan kasusnya pun pada Selasa, 12 Januari 2021 kandas di tangan hakim tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Hal ini bisa dimaknai dengan kemenangan Negara atas angkara murka yang merajalela. Polri pun seolah di atas angin untuk semakin lebih percaya diri memorak-porandakan kekuatan RS dan kelompoknya.

Dengan nafas yang megap-megap, MRS masih berupaya menggugat Pemerintah melalui Mahkamah Konstitusi. Entah kaitannya apa. Tapi biarkan saja, bagi saya apa yang akan dilakukan RS dan kelompoknya hanya gertak sambal belaka. Mereka sudah tidak punya kekuatan lagi. Bahkan rekening mereka diblokir negara untuk pro yustisia pun mereka tidak mampu mencegah. Mereka hanya teriak tertinggal serak di media. Tapi seperti berteriak di ruang hampa. Tidak ada yang peduli.

Kini, MRS dan kelompoknya sudah menjadi barang rongsokan di mata Sang Dalang. Sudah tidak ada nilai lagi. Sudah dianggap tidak bisa digunakan sebagai kuda pacu untuk keperluan sang Dalang. Inilah politik. Saat masih punya potensi kekuatan, dipuja-puji dengan sebutan setinggi langit. Namun, pada saat sudah lunglai tak berdaya meringkuk dalam tahanan dan kekuatannya pun sudah ambyar hancur lebur, RS dan kelompoknya ditinggal begitu saja. Inilah ironi dalam realitas perpolitikan kita.

MRS dan kelompoknya sudah pernah saya bahas memang bukan kelompok berideologi terlalu tinggi. Mereka hanya kelompok pragmatis. Mereka hanya digunakan sebagai centeng atau kelompok penekan. Mereka hanya bergerak atas kehendak Sang Dalang.

Kini, ibaratnya mereka seperti wayang kulit yang kehilangan gapitnya, lunglai tak berdaya. Berserak ke sana kemari. Tapi, saya yakini mereka hanya sedang tiarap. Pada saat tersedia amunisi untuk menggerakkan mereka lagi, mereka bisa bangkit kembali dan bisa bergerak lagi. Entah kapan.

Negara harus waspada. Bukan hanya waspada kepada para wayang yang tengah menjadi gelandangan, tapi juga harus waspada terhadap kiprah Sang Dalang. Negara harus berani mematikan gerak Sang Dalang. Agar jangan kembali membuat kerusuhan dan kerusakan.(*)

*/Penulis merupakan pegiat media sosial

Foto utama (*/istimewa)

Terorisme dan Media Massa

263 Views

Oleh: Warsito hadi – APN Kemhan

Suksesnya Satgas Tinombala menewaskan Santoso beberapa waktu lalu, belum menyurutkan kelompok radikal di Indonesia untuk berhenti menjadi teroris. Terorisme terjadi karena adanya  akibat dari adanya paham radikal yang sudah tertanam dalam pikiran bertemu dengan lingkungan, pelatihan, logistik, keuangan, pemimpin/tokoh, senjata, dan momentum untuk melakukan sebuah gerakan yang kemudian berujung pada sebuah aksi teror.

Pemahaman Terorisme.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV, teror adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik. Terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan.

Terorisme merupakan kejahatan luar biasa, bahkan tergolong sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan serta kejahatan transnasional. Terorisme merupakan tindakan yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara luas, atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, yang mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas umum, fasilitas internasional.

Menurut PBB, terorisme adalah sebuah metode yang menimbulkan keresahan dengan menggunakan tindakan kekerasan yang berulang-ulang, dilaksanakan secara semi klandestin oleh individu, kelompok maupun Negara, dengan tujuan kriminal atau politik yang unik, dimana berlawanan dengan pembunuhan – sasaran langsung tindakan kekerasan bukanlah sasaran utama.

Terorisme memliki jaringan yang luas dan merupakan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan nasional serta merugikan kesejahteraan masyarakat sehingga perlu dilakukan pemberantasan yang berencana dan berkesinambungan.

Sedangkan menurut UU No 5 Tahun 2018 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, di mana Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, Iingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.

Media Massa dan Terorisme

Media  massa merupakan sarana dan saluran alat komunikasi dalam menyebarkan berita dan informasi kepada masyarakat, di mana media massa memiliki peran yang penting dalam berbagai aspek kehidupan, mengingat fungsinya untuk menyebarkan informasi bagi masyarakat.

Media massa khususnya media sosial (medsos) memiliki kekuatan kuat dalam mempengaruhi pesan-pesan kepada masyarakat, yang mana informasi dan berita dapat mendikte dan mengarahkan masyarakat apa yang harus dilakukan sehingga dampak ini tidak hanya berlaku pada individu, namun juga menimpa kepada masyarakat secara keseluruhan yang mengakses media sosial tersebut.

Dari berbagai perbincangan berkaitan dengan radikalisme di medsos dapat dikatakan bahwa awal tumbuhnya radikalisme antara lain dikarenakan adanya sistem demokrasi yang buruk, kaum kafir adalah musuh yang akan menghancurkan umat beragama dan sebagainya.   Disadari adanya framing yang sengaja  dibentuk dalam medsos antara lain adanya umat beragama tertentu ditindas, didzolimi dan diperlakukan tidak adil dan sebagainya, dan inilah sebenarnya narasi besar yang dapat menumbuhkan paham radikalisme dan esktrimisme dalam masyarakat.

Menurut beberapa pakar medsos, nalar narasi sangat berperan dalam seseorang untuk melakukan ataupun meyakini sesuatu itu atau tafsir atas teks, dan dalam radikalisme yang dilakukan tafsir dalam realitas. Oleh karena itu, interpretasi media sosial tidak pernah memberikan realitas yang sebenarnya sehingga orang sangat mudah percaya medsos tanpa klarifikasi atas narasi-narasi radikal yang tertuang dalam medsos tersebut.

Teror dapat muncul karena tersumbatnya atau tidak lancarnya aliran komunikasi antara pemerintah dan rakyat,  selain itu peran media juga bisa memunculkan teror di mana media kadang memunculkan berita yang tidak baik, tokoh agama dalam menyampaikan khotbah dan  berdakwah yang kurang mendidik dan juga peran aparat penegak hukum yang tidak adil dapat menyebabkan timbulnya aksi teror dan sebagainya.

Pelibatan media massa sebagai sarana yang sangat efektif dalam penanggulangan terorisme, hal ini tidak dapat dilepaskan bahwa media massa merupakan salah satu elemen terpenting “pihak ketiga” yang selalu diperebutkan oleh pihak teroris di satu sisi untuk mempengaruhi dan mengajak masyarakat untuk mengikuti faham radikal mereka melalui berbagai konsten dan doktrin yang menyentuh emosional setiap pembaca, dan di sisi lain pemerintah dengan upayanya melalui media massa menangkal penyebaran faham teroris.

Posisi media massa yang strategis dalam penanggulangan terorisme dikemukakan oleh Paul Wilkinson yang mengatakan, pengaruh media massa pada dasarnya memiliki peran penting dalam menentukan pengetahuan dan persepsi publik untuk mengubah yang salah menjadi benar. Di samping itu, jurnalis harus terus menyadari bahwa dirinya sedang mengemban misi menyampaikan informasi yang bertujuan mengedukasi publik. Bagi kalangan teroris, keberadaan media massa dianggap sangat penting dalam rangka propaganda, sehingga aksi yang dilakukan teroris dapat direkam dan disuarakan oleh media massa.

Akhirnya pemerintah didorong harus bekerja keras dan intensif untuk selalu melakukan pendekatan dan menjalin kerja sama dalam rangka penggalangan terhadap media massa baik cetak, elektronik dan online, termasuk pendekatan terhadap kelompok blogger dan netizen di dunia media sosial.  Selain itu, pemerintah harus juga melakukan edukasi dan literasi kepada pengguna media sosial, karena mereka menjadi titik rentan terutama kelompok milenial yang disasar oleh kelompok radikal dalam mengampanyekan ideologi mereka yang salah satunya melalui jalur media massa yang terus berkembang pesat di Indonesia. (*)

Foto utama oleh kriminalitas.com

Kalahnya Perusuh di Tangan Komandan yang Teguh

300 Views

Oleh: Rudi S Kamri

Sehari sebelum Aksi 1812 FPI, saya mengirim teks via whatsapp kepada Komandan Aparat Keamanan Jakarta: “Untuk antisipasi demo besok, apa yang akan dilakukan, Jenderal?”, tanya saya

Jenderal yang satu langsung merespons: “Siap, kami sudah antisipasi semua yang akan terjadi, Mas Rudi,” tegasnya.

Selang beberapa saat Jenderal yang satu lagi membalas whatsapp saya: “Kami akan laksanakan ops kemanusiaan dan ops penegakkan hukum pelanggar protokol kesehatan, Mas,” ujarnya.

Setelah menerima dua teks di atas saya langsung tidur pulas. Tanpa rasa khawatir sedikit pun. Meskipun saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh kedua Jenderal hebat itu, saya sangat percaya beliau berdua akan melakukan yang terbaik untuk bangsa ini.

Dan ternyata dugaan saya terbukti. Demonstrasi yang digembar-gemborkan akan lebih besar dari aksi 212 empat tahun lalu, ternyata gagal total. Pasukan perusuh yang sudah dipersiapkan oleh panitia dibuat kocar-kacir oleh strategi jitu aparat Polda Metro Jaya yang di-back-up penuh aparat Kodam Jaya.

Mereka dibuat layu sebelum masuk Jakarta. Strategi mereka berantakan. Mereka dilucuti tak berdaya. Kegiatan wajib rapid test dan yang terbukti positif Covid-19 langsung ke Wisma Atlet Kemayoran Jakarta, membuat mereka lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Yang terjadi kerumunan massa yang bisa mencapai seberang Istana Negara hanya beberapa gelintir. Mereka pun seperti orang gagu, teriak tanpa suara karena mobil komando yang akan digunakan orasi diamankan oleh Petugas Keamanan.

Kehadiran Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mohammad Fadil Imran di tengah-tengah prajurit Polri dan TNI mengangkat moral aparat keamanan di lapangan. Suara tegas keras Sang Kapolda, membuat para perusuh pendukung Rizieq Shihab ciut nyali dan akhirnya membubarkan diri. Tidak sampai sore, para perusuh sudah hilang menyelamatkan diri.

Ini langkah tegas dan cerdas Kapolda Metro Jaya dan Pangdam Jaya. Negara seolah hadir kembali di tangan sang komandan yang tegas bersuara dan bersikap. Sedangkan panglima dan para pentolan FPI lenyap tidak berani kelihatan batang hidungnya. Mereka hanya berani berkoar-koar di media milik mereka, tapi membiarkan pasukan unyil di lapangan hilang kendali ambyar terpencar-pencar.

Akhirnya Aksi 1812 tidak bisa beraksi. Ini kekalahan telak agitator FPI dan PA 212. Mereka bertekuk lutut di bawah kaki sang komandan aparat negara yang tegas dan berwibawa. Meskipun ada korban luka dari pihak Polri, hal ini justru membuat belang FPI terbongkar. Ujaran mereka bahwa pasukan unyil FPI tidak bersenjata tajam dan hanya bertangan kosong ternyata hanya bohong. Kebohongan yang terbongkar karena kebodohan.

Selamat atas kerja keras dan cerdas Kapolda Metro Jaya dan Pangdam Jaya serta jajarannya. Terima kasih tak terhingga karena telah menjaga marwah negara dan menciptakan rasa aman dan rasa tidak terancam bagi semua anak bangsa khususnya yang tinggal di Jakarta.

Ke mana Sang Gubernur?  Paparan corona bisa digunakan alasan untuk bersembunyi. Jadi, sedang isolasi mandiri atau melarikan diri, Pak Gub?

Lalu Sang Dalang pun kehilangan peluang

Foto utama (*/beritasatu.com )

Vaksin Gratis

370 Views

Oleh : Dahlan Iskan

Yang gratis memang menyenangkan. Apalagi yang bilang gratis seorang presiden: Pak Jokowi. Beliau menegaskan vaksin Covid-19 nanti gratis. Untuk seluruh rakyat Indonesia. Kita, kelihatannya, tidak mau kalah dengan Singapura.

Dulu, saya pikir, akan ada dua jalur vaksin: gratis dan berbayar. Yang gratis adalah untuk yang tidak mampu. Sedang yang mampu harus membeli sendiri. Saya pun sempat membayangkan: yang gratis itu harus lewat BPJS kesehatan. Sekaligus membangun sistem agar BPJS kita mendapat momentum untuk memperkukuh diri.

Untuk itu BPJS harus bekerja sama dengan Biofarma Bandung –sebagai produsennya. Kita memimpikan BPJS harus semakin kuat. Sebagai andalan kita untuk menangani sistem kesehatan nasional yang kuat. Sedang untuk yang berbayar saya membayangkan akan diserahkan ke Kimia Farma dan perusahaan farmasi swasta. Pemerintah tinggal mengatur impornya dan menetapkan harga jual tertingginya.

Saya mengikuti apa yang terjadi di Tiongkok. Di sana juga ada jalur berbayar. Harganya, dua kali suntik, 65 USD. Atau sekitar Rp.800.000. Kalau di Indonesia disediakan jalur berbayar rasanya harga Rp 1 juta masih akan laris. Setidaknya, dari 300 juta rakyat kita, 50 juta orang mampu untuk membayar Rp.1 juta itu. Negara hemat Rp.50 triliun.

Tapi pikiran saya itu bubar. Presiden sudah menegaskan semuanya gratis.

Maka pertanyaan yang muncul setelah itu adalah: bagaimana cara menggilir yang gratis itu. Semua kita rela kalau tenaga medis dan pendukungnya mendapat giliran pertama. Setelah itu akan muncul problem keadilan. Saya membayangkan pemerintah lagi sibuk mengatur pengelompokan masyarakat yang begitu banyak.

Memang persoalan terbesar bukan itu. Yang paling sulit adalah bagaimana Indonesia bisa dapat membeli vaksin itu dalam jumlah yang cukup. Kapasitas pabrik vaksin tentu terbatas –dibanding kebutuhan. Apalagi yang sudah pasti mendapat izin baru Pfizer, Amerika yang memiliki dua pabrik: di Michigan dan Belgia.

Sedang Moderna, Sinovac, dan Sinopharm segera menyusul –hampir pasti.

Yang made in Rusia kelihatannya hanya untuk di sana. Sementara yang buatan Australia –dari University of Queensland– sudah resmi tidak diizinkan. Program vaksinnya sudah dibatalkan tiga minggu lalu. Yakni setelah diuji coba ternyata menimbulkan efek samping yang berbahaya. Yakni justru muncul seperti penyakit HIV.

Padahal saat ditemukan universitas itu sudah gegap gempita. Sebagai universitas yang terdepan dalam upaya penyelamatan umat manusia.

Kita sendiri masih menunggu hasil uji coba tahap 3 vaksin Sinovac di Bandung, yang laporannya akan selesai dikerjakan akhir bulan ini. Laporan itu tidak bisa dilekaskan. Bisa lebih 10.000 lembar. Laporan mengenai satu orang relawan saja bisa lima sampai 10 lembar. Padahal relawannya 1.600 orang.

Karena itu, ketika akhir bulan ini laporan itu dikirim ke BPOM, instansi ini harus mengkajinya. Sebelum memberikan izinnya.

Berapa lama BPOM mempelajari ribuan lembar laporan hasil uji coba itu?

Di Amerika, juga sama. Laporan hasil uji coba Pfizer dimasukkan ke FDA menjelang liburan ”hari raya kalkun” (Thanksgiving). Orang-orang FDA tidak libur. Mereka, tulis Huffington Post, makan daging kalkun sambil membaca laporan uji coba vaksin. Itulah yang membuat izin di Amerika begitu cepat keluar. Senin kemarin para perawat di semua negara bagian sudah mulai vaksinasi. Demikian juga perawat di rumah-rumah jompo.

Akhirnya tetap Inggris dan Amerika yang jadi pelopor vaksinasi.

Inilah vaksinasi tercepat dalam sejarah manusia. Kurang dari setahun setelah pandemi mulai terjadi. Itu karena pandemi ini memang dahsyat. Semua daya dikerahkan habis-habisan.

Juga karena ada orang bernama Donald Trump. Yang sedang menjabat presiden Amerika. Yang membentuk operasi khusus: Operation Warp Speed. Ia memutuskan memberi uang Rp.150 triliun kepada pabrik-pabrik obat yang sanggup menemukan vaksin.

Tapi, yang terpenting adalah para ilmuwan: mereka tidak harus bekerja mulai dari nol.

Saat SARS meledak di Tiongkok, mereka sudah giat melakukan penelitian. Bahkan sudah menemukan kuncinya. Hanya saja penelitian itu berhenti di tengah jalan. SARS dengan cepat dipadamkan. Tiongkok, waktu itu, di-lockdown total.

Untungnya SARS belum menjalar secara luas. Di Amerika hanya ditemukan 8 orang yang terkena SARS. Ketika MERS meledak di Timur Tengah juga cepat diatasi.

Maka urgensi memproduksi vaksin virus corona tidak ada lagi. Kalau perusahaan obat memaksakan diri untuk memproduksinya, siapa yang membeli. Mereka dibayangi kerugian besar. Lebih baik tidak jadi diproduksi.

Tapi para ilmuwan sudah menemukan RNA messenger. Mereka juga sudah tahu virus corona hanya bergerak di protein DNA. Bahkan mereka sudah menemukan bagaimana membuat ”virus tiruan” yang bisa ”dipakukan” di protein DNA.

Dengan demikian RNA messenger bisa ”mengajar” cell untuk melahirkan imun sebagai senjata untuk melumpuhkan ”virus tiruan” itu.

Sudah begitu jauh ilmuwan memetakan virus korona. Maka ketika muncul virus korona baru (Covid-19) mereka sudah punya dasar melangkah. Memang virus korona kali ini jenis baru, tapi jenisnya tetap korona. Yang hanya hidup di protein DNA.

Hebatnya, RNA messenger tadi tidak sampai menyentuh DNA. Itulah yang membuat para ahli menegaskan bahwa vaksin Pfizer tidak bisa disebut modifikasi DNA.

Zaman lama hanya mengenal vaksin itu dibuat dari virus yang dilemahkan. Seperti yang diproduksi Sinovac. Covid-19 membuat penemuan baru itu menjadi kenyataan.

Kini tinggal seberapa besar pabrik mampu memproduksinya. Pasti laku. Bahkan rebutan.

Tanpa SARS dan MERS, tidak mungkin vaksin Covid-19 bisa ditemukan dengan begitu cepatnya.(*)

Foto utama oleh klikdokter.com

Rizieq Shihab Serahkan Diri? Dijepit Ketat dan Ditinggal Bohir

1.051 Views

Oleh : Ninoy N Karundeng

Muhammad Rizieq Shihab (MRS) dijepit dari segala penjuru oleh Polri, Densus 88, TNI, Brimob, dan tim khusus pemburu. Dengan muka penuh ketakutan MRS berniat untuk datang ke Polda Metro Jaya pada Sabtu, 12 Desember 2020. Peristiwa ini disebabkan oleh sikap tegas Polda Metro Jaya. Ketika pengacara datang, dengan gagahnya minta surat pemanggilan.

Yang didapatkan pengacara pentolan ormas radikal FPI jawaban tegas. Polda tidak akan mengeluarkan surat. Rizieq Shihab akan ditangkap. Karena sudah dua kali mangkir, menghalangi, berusaha kabur, dan membangkang. Pamer kekuatan dan terus menyebarkan fitnah ketika dia lari.

Penyerahan diri MRS ini serta-merta tak dipercaya oleh Polri. Aparat keamanan tetap siaga-1. Tetap pada posisi full of force untuk membekuknya. Polda Metro Jaya tentu tidak mau kecolongan, karena kekuatan MRS bukan pada dirinya: dia hanya tukang obat dan teri proxy.

Kewaspadaan tingkat tinggi harus dilakukan oleh Polda Metro dan Polri. Karena target, tujuan, strategi MRS dengan seluruh gerakannya selain pro Khilafah, adalah menjadi kaki tangan pedagang politik. MRS adalah proxy tepat untuk jualan jargon agama, surga, neraka, dan sentimen SARA. Kedok tepat untuk menutupi target dasar yakni melindungi para koruptor (Bohir). Karena pemerintahan Jokowi menghancurkan seluruh bisnis orang-orang yang culas.

Konspirasi tingkat tinggi kasus pornografi Rizieq Firza saja dia bohong. Pejabat tinggi mana pun telah dia bohongi terkait high political deal (kesepakatan politik tingkat tinggi). Meski sejatinya Rizieq Shihab ini bahlul juga. Karena dia dikendalikan oleh otak FPI: Munarman dan Sobri Lubis. Seluruh otak FPI sejatinya ada pada Munarman. Padahal Munarman belepotan kasus hukum. Dan, Polri akan melihat lebih jernih.

FPI pun bukan lembaga agama. FPI adalah alat mencari makan. Maka punya bohir. Seperti yang dikatakan oleh Buni Yani. “Jual agama itu paling gampang, maklum rakyatnya masih bego2 gampang ditipu,” begitulah bunyi cuitan @BuniYani.

Artinya, hanya yang bego yang termakan propaganda Rizieq Shihab, yang kaya raya karena propaganda agama. Senyatanya dia pembangkang. Pelanggar hukum. Pun dia mengeruk untung, termasuk para pentolan seperti Sobri Lubis dan tentu Munarman. Maka para pengikutnya pun seperti kerbau dicucuh hidungnya.

Penyerahan diri ini tidak akan menghentikan Polri untuk menelisik lebih dalam keberadaan Markas Syariah. Kompleks tempat tinggal Rizieq selain di Sentul harus disterilkan dari penyalahgunaan. Karena BIN, Densus 88 pun tidak bisa masuk. Mirip Negara dalam Negara. Selain di Megamendung yang mau lihat kemewahan rumah Rizieq di Sentul saya kasih alamatnya ya.

Nah, lalu apa alasan Rizieq mau menyerahkan diri? Karena Rizieq Shihab akan menutup lokasi Megamendung dan seluruh tempat tinggalnya dari pemeriksaan. Namun, Polri tetap akan memeriksa terkait upaya pelarian diri pekan lalu. Yang menewaskan 6 orang teroris penyerang aparat negara.

Selain itu, Rizieq tengah mengatur skenario baru. Pura-pura kooperatif. Polri, TNI dan pemerintahan Jokowi solid. Tegas. Rizieq dan FPI harus tamat. Tidak akan ada political nor legal deal. Deal politik dan hukum tidak akan ada dan Rizieq Shihab akan ditahan. Tidak akan diberi tempat sama sekali untuk berteriak-teriak mengawur provokatif. (*)

Selamat datang di sel dingin Polda Metro!

(*Penulis merupakan pegiat media sosial)
Foto utama (*/cnnindonesia)

Jangan Jadi Beban Bapakmu ya Mas !

202 Views

Oleh: Rudi S Kamri

Meskipun belum ada pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) pusat maupun daerah, sudah hampir dapat dipastikan putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka akan menjadi Wali Kota Surakarta (Solo). Begitu pun sang menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution juga akan menjadi Wali Kota Medan. Hasil Quick Count Gibran telak memenangi kontestasi dengan meraup suara 87,16%. Sedangkan Bobby hanya menang tipis dari pasangan AMAN dengan meraup suara 54,29%.

Kemenangan mereka sebetulnya tidak terlalu mengagetkan. Dalam pepatah Jawa ada ucapan pas buat mereka: “Menang ora kondang, Kalah bakal wirang” (menang tidak menjadi hebat atau populer, tapi kalau kalah akan menjadi aib yang memalukan). Ini realitas yang harus dihadapi oleh Gibran-Bobby. Keberadaan mereka di kancah perpolitikan lokal dan nasional yang sangat instan tidak bisa dilepaskan dengan status mereka sebagai anak-menantu Presiden Jokowi. Keberhasilan mereka mendapatkan rekomendasi dari partai pun tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Bapak atau mertuanya. Ini realitas juga yang harus diakui.

Saya yakin kemenangan mereka di daerah masing-masing pun juga ada pengaruh dari nama besar dari Presiden Jokowi. Tanpa embel-embel anak-menantu Presiden, saya meyakini mereka akan tidak mudah mendapatkan kemampuan untuk memenangi kontestasi Pilkada kali ini. Itu suatu kenyataan yang harus diakui sekaligus menjadi beban yang cukup berat bagi keduanya.

Tugas sejarah mereka dalam menjalani tugas negara menjadi wali kota akan menjadi tantangan yang tidak mudah bagi keduanya. Di bawah bayang-bayang kesuksesan seorang Joko Widodo yang mengukir sejarah fenomenal saat menjadi kepala daerah di negeri ini, adalah beban yang maha berat bagi Gibran-Bobby ke depannya. Ini beban sekaligus menjadi tantangan bagi keduanya, apakah mereka mampu keluar dari bayang-bayang besar seorang Jokowi dan mampu menulis tinta emas sejarah atas prestasi sendiri, waktu yang akan membuktikan. Kita lihat saja nanti.

Namun sejatinya tugas mereka tidak berat-berat amat. Kalau keduanya mau dan mampu meng-copy paste plus memodifikasi langkah brilian Jokowi saat menjadi kepala daerah, itu sudah menjadi ‘guide-line‘ yang meringankan langkah kerja mereka ke depannya. Apalagi mereka juga mempunyai mentor yang super andal yaitu Presiden Jokowi. Seharusnya jalan mereka jauh lebih mudah untuk menjadi pejabat publik.

Saya hanya berharap keberadaan mereka dalam pusaran pemerintahan di negeri ini tidak menjadi beban Presiden Jokowi. Mereka harus lebih bersih, tidak koruptif dan mampu membuat gebrakan ala milenial di kota masing-masing. Kemampuan mereka membuat inovasi untuk membangun daerahnya adalah salah kunci mereka untuk keluar dari bayang-bayang besar Bapak-Mertuanya. Tanpa ada inovasi spektakuler, mereka sudah pasti tetap terjerat apologi hanya anak-menantu Presiden.

Saya berharap mereka mampu membangun monumen sejarah atas prestasi sendiri, bukan monumen politik dinasti yang sudah pasti akan tetap berembus kencang menerpa mereka sepanjang tugas kepemimpinan mereka.

Semoga bisa dan kita lihat saja nanti.

Foto (*/istimewa)

Tebang Pilih Kasus Ala Komnas HAM Dan Komisi III, Ada Apa atau Apa Ada?

279 Views

Oleh: Rudi S Kamri

Hanya dalam hitungan jam Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) dan Komisi III DPR RI langsung merespons kejadian tewasnya enam orang laskar khusus FPI pasca mereka menyerang dan akhirnya dilumpuhkan oleh Polisi. Sesuatu yang kelihatannya begitu mulia dan responsif yang dilakukan oleh kedua lembaga negara tersebut.

Pertanyaannya, boleh dan pantaskan Komnas HAM dan Komisi III membentuk Tim Investigasi untuk mengusut kasus tersebut?

Tentu saja boleh dan pantas-pantas saja mereka melakukan hal tersebut. Namun pertanyaannya, mengapa dalam kasus pembantaian empat orang secara keji dan biadab di Kabupaten Sigi, Sulteng, Komnas HAM dan Komisi III DPR RI tidak bereaksi apa-apa? Apakah pengertian pembelaan HAM di sini hanya menyasar kelompok masyarakat sipil versus aparat keamanan negara? Bagaimana dengan HAM masyarakat sipil yang tidak berdaya yang dibantai kelompok masyarakat bersenjata? Apakah di sini tidak perlu keterlibatan negara untuk melindungi HAM masyarakat sipil yang tidak berdaya?

Apakah aparat keamanan negara yang terancam oleh penyerangan gerombolan yang bersenjata, tidak berhak melindungi keselamatan jiwanya? Petugas keamanan baik berpakaian dinas maupun pakaian biasa adalah representasi negara dalam menegakkan marwah hukum di negeri ini. Di samping itu, terlepas bahwa mereka aparat negara, mereka pun juga manusia yang mempunyai hak asasi yang selayaknya mendapat perlindungan negara juga.

Yang jelas tebang pilih kasus oleh Komnas HAM dan Komisi III DPR RI, sangat melukai rasa keadilan. Kita sebagai masyarakat sipil yang merupakan pemegang saham terbesar di negeri ini berhak memprotes perlakuan diskriminasi ini. Dana operasional yang dipergunakan oleh Komnas HAM dan Komisi III bukan uang dari nenek moyang mereka, tapi uang rakyat hasil pembayaran pajak kita kepada negara. Dus artinya, kita berhak menuntut kedua lembaga negara itu untuk tidak semena-mena menggunakan uang rakyat.

Komnas HAM dan Komisi III seharusnya juga tahu, tewasnya enam orang pengikut MRS, disambut suka cita oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Ketegasan aparat keamanan negara seperti inilah yang dirindukan oleh masyarakat saat ini. Mengingat selama ini gerombolan pengikut MRS begitu bebas berkeliaran dan merajalela menyebarkan ancaman dan ketakutan kepada masyarakat luas yang berseberangan pandangan dengan mereka.

Bukankah kebebasan dari rasa takut dan terancam juga merupakan hak dasar yang paling asasi dari manusia? Negara punya tanggung jawab harus melindungi hak dasar masyarakat. Pada saat aparat negara melaksanakan tanggung jawabnya untuk melindungi hak dasar masyarakat dari ancaman kelompok bersenjata, mengapa harus dipolitisasi dan dizalimi?

Sejatinya Komnas HAM tugasnya melindungi hak asasi siapa? Masyarakat luas atau kelompok kriminal bersenjata? Komisi III DPR RI, mewakili kepentingan rakyat yang mana? Rakyat yang taat aturan negara atau kelompok sipil bersenjata yang sering bertindak semena-mena?

Saya sangat tidak berharap Komnas HAM dan Komisi III bekerja atas dasar pesanan. Tapi pesanan siapa? Kalau memang benar mereka bekerja berdasarkan pesanan. Tentu saja pesanan dari orang atau kelompok yang berkuasa atas sejumlah harta yang berasal dari rampokan uang negara.

Kita tunggu saja hasil investigasi kedua lembaga negara itu. Mudah-mudahan sesuai dan menguatkan penjelasan dari Kapolda Metro Jaya.

Sebelum mereka bekerja, saya hanya ingin bertanya sekali lagi, bagaimana kasus Sigi? Mudah-mudahan mereka masih punya rasa malu karena telah melakukan diskriminasi.

Jangan-jangan karena korban di Sigi bukan anggota FPI, membuat Komnas HAM dan Komisi III menjadi buta tuli nurani.

Pilih, pilih, tebang pilih
Pansos, panjat sosial membela berandal.

Foto utama (*/istimewa)

Ponirah Terpidana

306 Views

Oleh : Dra. Bernadeta M. Usboko, M.si.
Staf Ahli Gubernur Bidang Kesejahteraan Rakyat Provinsi NTT

Refleksi Memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Ponirah, nama seorang gadis desa blasteran Jawa dan Timor. Berleher jenjang, berparas cantik dengan kulit sawo matang dan memiliki bola mata yang indah. Sayangnya tidak ditunjang dengan pendidikan dan keterampilan yang memadai. Waktu terus berganti, gadis manis ini tumbuh begitu cepat dan menjadi kembang manis di desa tersebut.

Di suatu senja, di kala mentari akan kembali keperaduaan, datanglah lelaki ganteng berkulit sawo matang bertandang, niatnya mengajak Nira nama akrab Ponirah untuk bergabung dalam suatu komunitas tugas kemanusiaan. Tergeraklah hati Ponirah, dengan berbekal kasih dan untuk mendapat pahala, maka bergabunglah Ponirah.

Giatlah gadis-gadis dan pemuda di komunitas tersebut, penuh canda tawa dan riang gembira. Kegembiraan Ponirah semakin bertambah, tatkala pemuda ganteng tadi ingin mempersunting Ponirah. Merasa seperjuangan dan sudah cukup lama bergabung dalam komunitas tanpa berpikir panjang, setujulah orang tua Ponirah dengan harapan akan melindungi dan kehidupan secara ekonomi dapat berubah, serta giat kemanusiaan lebih terkonsentrasi.

Suatu waktu, ketika komunitas tersebut sudah semakin mandiri dalam tugas pelayanannya, pemuda itu atas restu orang tua mengajak istrinya Ponirah ke luar NTT, ke tanah Jawa untuk mengaduh nasib bersama 2 orang anak yang telah dikaruniakan Tuhan bagi mereka. Hidup mereka diberkati, namun suatu waktu perusahan tempat suami Ponirah bekerja kolaps, resesi ekonomi melanda kantor tempat suami Ponirah bekerja, sementara kebutuhan keluarga terus mendesak.

Seperti layaknya ayah-ibu saling percaya dan mendukung untuk masa depan anak-anak, maka atas kesepakatan untuk mengubah nasib, membuat Ponirah rela terpisah jauh dari anak-anak demi masa depan mereka dan suami. Ponirah harus menyeberangi benua di antara lautan luas untuk meraih impian itu. Hidup layak dan memiliki status sosial di masyarakat, menyekolahkan anak, membuka usaha di negeri sendiri, menyimpan pundi-pundi hasil jerih payah selama bekerja di luar negeri dan pulang dengan banyak membawa duit.

Ternyata, impian Ponirah tidak membuahkan hasil. Impian Ponirah menjadi kandas karena keterbatasan skill. Ponirah menjadi bulan-bulanan majikan dan nyaris menjadi budak seks, sementara suaminya karena stress akhirnya jatuh sakit dan hal ini semakin memberi tekanan berat bagi Ponirah. Dalam situasi tidak menentu, dengan masa kontrak periode kedua yang belum habis Ponirah nekat melarikan diri dari tempat majikan, dan dalam keadaan kebingungan Nira ditabrak truk pengangkut barang dan nyaris kehilanganan nyawa, namun karena pertolongan Tuhanlah Ponirah selamat dan kembali ke tanah air, kampung halamannya walaupun dalam kondisi cacat.

Kini, impian meraih sukses di negeri orang tinggallah kenangan, namun perjuangan untuk masa depan anak-anaknya tidak pernah surut, dengan tenaga tersisa Ponirah tetap berjuang melalui usaha kuliner bersama para perempuan setempat.

Ponirah terbelenggu karena kondisi, kebodohan dan keterbatasan. Ponirah juga berkisah bahwa di negeri seberang banyak gadis-gadis desa menjajahkan diri karena terlilit hutang, menjadi kurir narkoba bahkan sampai menjadi pengguna, miris lagi melahirkan anak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ingat semua masalah, dada terasa sesak, sedih, tak terasa air matanya menetes, mengalir semakin deras, sambil menarik nafas panjang….Nira berujar…hidup… demi hidup, ingin ku berlari menembus batas tapi tak berdaya, berteriak sekuat tenaga tapi tak ada yang mendengar hanya pantulan suara yang kembali bergema.

Nira terbelenggu dengan kenestapaan dan terpidana dengan impian yang tak dapat digapainya secara nyata. Ponirah lanjut menceritakan kisah perjalanan hidupnya di tanah rantau tentang sesama pekerja yang juga meninggalkan anak anak, suami serta orang tua yang dikasihinya, di antara mereka ada yang mengalami penderitaan secara fisik, hingga kondisi kian menurun seiring dengan sakit yang tidak tertangani secara medis hingga akhirnya menghadap Sang Pencipta.

Anak-anak, suami, orang tua dan keluarga di kampung halaman hanya bisa pasrah dan menitikan air mata manakala mendengar berita duka tentang kisah pilu yang dialami anak perempuan mereka serta menerima sang pahlawan keluarga yang pulang dalam kondisi tak bernyawa. Kisah lain, sang anak yang masih belia harus menyaksikan bundanya terkapar lemah penuh luka. Tak jarang pula, sebagian dari mereka kembali ke Tanah Air dengan tidak bisa mengenali dirinya sendiri alias hilang ingatan karena tekanan psikologis luar biasa yang dialaminya.

Sadisnya, penyiksaan yang diderita, merontokkan kesadaran sebagai manusia. Stres, gangguan jiwa, suatu pengorbanan dan harga mahal yang harus mereka terima. Misalnya, seperti kisah Sumiati, berangkat ke Arab Saudi demi mengumpulkan uang agar cita-citanya menjadi guru terwujud. Sedianya, gaji sebagai PMI (Pekerja Migran Indonesia, red) digunakan kelak untuk membayar biaya kuliah. Namun, belum sampai cita-citanya itu justru tubuhnya harus meregang sakit dihajar majikan. Bibir sumbing karena digunting, kulit kepala terkelupas, tubuh disetrika, wajah rusak, kaki lumpuh dan berbagai penderitaan lain, karena kejamnya perilaku majikan.

Belum reda tragedi Sumiati, muncul lagi kasus yang tak kalah sadis. Kikim Komalasari, TKI asal Cianjur, Jawa Barat, ditemukan meninggal di sebuah tong sampah di Arab Saudi setelah dianiaya majikannya. Harga diri anak bangsa ini diinjak-injak dengan kasus penyiksaan PMI di luar negeri. Hanya sebagian kecil kisah pilu pahalwan devisa ini yang terekspos media massa. Entah, siapa lagi yang akan menjadi korban berikutnya. Dibunuh, diperkosa, digunting, disetrika, dipukul dan ditusuk oleh majikan asing. Kenapa tujuan mulia itu harus dibayar dengan perlakuan sadis?…., Ponirah menarik nafas panjang…. dan berguman…. lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang.

Saudara-saudaraku, mari giatlah bekerja, isi kemerdekaan dengan menggunakan sumber daya manusia (SDM) yang ada untuk mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam (SDA). Penuh kesadaran, bersepakat mengakhiri kekerasan dalam bentuk apa saja mulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Perbudakan dan perlakukan seperti digambarkan diatas sesungguhnya telah ada sejak zaman lampau, tentu dengan situasi dan sebab yang berbeda. Hal ini terjadi karena iri hati, cemburu pada kelebihan orang lain dan hal lainnya atas ketidakpuasan dan terbelenggu dalam kemufakatan licik yang berdampak pada darah menuntut darah. Simak bacaan kitab suci (Kejadiaan 37 : 12-36) cerita Yusuf yang dijual saudaranya sendiri ke tanah Mesir. Juga kisah Kain dan Habel dalam Kejadian 4 : 1-16.

Kini, Ponirah berada di usia senja bahkan hampir tenggelam bersama sang waktu. Dalam rintihannya, Ponirah berteriak keras pada kaumnya perempuan, wahai rahim yang terkoyak… kecantikan dan kemolekan bukan sesuatu yang dapat diandalkan dalam kehidupan, begitu pula kemalasan dan pesta pora. Jantung kehidupan, jendela untuk mengapai impian adalah pendidikan yang berlandaskan iman. Teruslah belajar sampai ajal menjemputmu. Ayo kerja… kerja… dan kerja. Gantunglah impian mu setinggi mungkin dan berkacalah pada peradaban, maju terus pantang mundur, bersatu, saling mengasihi, menjaga, menghormati dan mendukung untuk mengapai impian suci itu.

Hari ini, bahkan sejak tanggal 25 November merupakan permulaan permenungan kita selama 16 hari kedepan, Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (HAKTP). 16 HAKTP atau 16 (Sixteendays of Activism Against Gender Violence Campaign yang dilaksanakan setiap tanggal 25 November hingga 10 Desember yakni 25 November diperingati untuk penghormatan atas meninggalnya Mirabal bersaudara (Patria Minerva, dan Maria Teresa) akibat pembunuhan keji yang dilakukan oleh pengusasa diktator Republik Dominika pada waktu itu, yaitu Rafael Trujillo; dan 1 Desember Hari diperingati sebagai hari AIDS Sedunia, untuk pencegahan penyebaran HIV/AIDS, dan juga pendidikan dan penyadaran akan isu-isu seputar permasalahan AIDS; 3.

Sementara, tanggal 2 Desember diperingati sebagai Hari Penghapusan Perbudakan. Konvensi ini merupakan salah satu tonggak perjalanan dalam upaya memberikan perlindungan bagi korban, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak, atas kejahatan perdagangan manusia; 3 Desember, diperingati sebagai Hari bagi Penyandang Cacat. Hari ini merupakan peringatan lahirnya Program Aksi Sedunia bagi Penyandang Cacat (The World Programme of Action concerning Disabled Persons), untuk meningkatkan pemahaman publik akan isu tentang penyandang cacat;

Tanggal 5 Desember diperingati sebagai hari Sukarelawan, di mana PBB mengajak organisasi-organisasi dan negara-negara di dunia untuk menyelenggarakan aktivitas bersama; 6 Desember diperingati sebagai Hari Tidak Ada Toleransi Bagi Kekerasan terhadap Perempuan. Pada tanggal ini di tahun 1989, terjadi pembunuhan massal di Universitas Montreal Kanada yang menewaskan 14 mahasiswi dan melukai 3 lainnya (13 di antaranya perempuan) dengan menggunakan senapan semi otomatis kaliber 223. Pelaku melakukan tindakan tersebut karena percaya bahwa kehadiran para mahasiswi itulah yang menyebabkan dirinya tidak diterima di universitas tersebut. Sebelum pada akhirnya bunuh diri, lelaki ini meninggalkan sepucuk surat yang berisikan kemarahan amat sangat pada para feminis dan juga daftar 19 perempuan terkemuka yang sangat dibencinya;

Dan Tanggal 10 Desember, diperingati sebagai hak Asasi Manusia, yang dimulai oleh PBB pada tahun 1948 yaitu Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights).

Dari serpihan kisah pilu tentang kekerasan, simak catatan khusus persoalan tenaga kerja Indonesia yang bersumber dari Bank Indonesia dan BNP2TKI tahun 2019 antara lain jumlah TKI tahun 2013 berjumlah 4.016.000 orang; 3.944 orang pada tahun 2014; 3.686.000 orang pada tahun 2015; 3.511.000 pada tahun 2016; 3.549.000 pada tahun 2017; 3.651.000 orang pada tahun 2018 dan masih dalam angka yang sama 3.651.000 orang pada tahun 2019.

Kementerian Luar Negeri menyebutkan, jumlah TKI yang meninggal di luar negeri sepanjang 2009 mencapai 1.107 jiwa. Angka itu menunjukkan kenaikkan 124 persen ketimbang angka kematian TKI tahun sebelumnya, 494 jiwa. Sementara itu, angka kematian TKI pada 2007 mencapai 2.081 jiwa. Adapun sepanjang 2010, LSM Migrant Care mencatat 908 kasus penyiksaan terhadap TKI hingga meninggal. Direktur Migrant Care Anis Hidayah mengatakan untuk jumlah total dari berbagai jenis masalah yang dialami buruh migran mencapai 45.845 kasus. Tidak hanya itu saja, kasus PHK sepihak dan tidak digaji mencapai 8.080, ABK yang disiksa oleh pengusaha perkapalan asing 13 orang dan hilang kontak 17 orang. Sementara itu, ABK Indonesia yang tengah menghadapi persoalan hukum di Australia ada 328 orang, penganiayaan 1.187 orang, sakit saat bekerja 3.568 orang, pelecehan seksual 874 orang, disiksa di penjara 281 orang, underpayment 631 orang.

Bagaimana dengan NTT? catatan dari Gugus Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) NTT Tahun 2020, yakni tahun 2019 TKI yang meninggal berjumlah 233 orang; hingga Oktober 2020 berjumlah 73 orang. Secara umum jumlah TKI perempuan dua kali lebih banyak dari TKI laki-laki (BNPTKI tahun 2015).

Dari cerita dan data yang digambarkan, maka dalam perayaan peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HKTP) yang dilaksanakan banyak pihak dalam berbagai bentuk antara lain seminar, lokakarya, talk show, Focus Group Diskusi (FGD), pawai dan sebagainya memiliki sarat makna yakni mengakhiri kekeraasan terhadap perempuan. 16 HAKTP merupakan cacatan waktu bersejarah yang perlu direnungkan dan disikapi serius untuk bersama mengakhiri kekerasan terhadap perempuan, memberi perlindungan bagi perempuan dan kesempatan untuk mengakses semua informasi, turut berpartisipasi dalam pembangunan, mengontrol lajunya pembangunan, siap memberi dan menerima usul saran serta menikmati manfaat dari pembangunan.

Sebuah pepatah klasik mengatakan adalah ketimpangan jika berjalan dengan 1 (satu) kaki dan alangkah indahnya dan cepat sampai tujuan jika berjalan dengan 2 (dua) kaki, ibarat laki-laki dan perempuan dengan posisi masing-masing mengisi pembangunan dengan bekerja bersama dan sama-sama bekerja untuk mencapai tujuan bersama NTT Bangkit Masyarakat Sejahtera.

Mengakhir permenungan ini, sebagai Staf Ahli Gubernur Bidang Kesejahteraan Rakyat, juga pemerhati perempuan dan anak, saya mengajak kita semua untuk seia sekata, searah setujuan mendorong semua orang baik laki-laki maupun perempuan untuk mengakhiri kekerasan dan perlakuan salah terhadap perempuan dan anak baik di ranah privasi maupun publik, berpihak pada kepentingan perempuan dan anak dalam pengambilan keputusan, beri yang terbaik bagi mereka, saling menjaga, melindungi, menghormati dan mendukung.

Berilah perhatian bagi perempuan dan anak yang berada pada situasi kristis karena bencana, penyakit dan derita lainya terlebih bagi mereka yang tak terjangkau dan tak terlayani, bagi mereka sangat berarti. Hindari kekerasan. Mari lakukanlah dengan hati seolah-oleh untuk Tuhan, ku cari wajah Mu Tuhan dan ku temukan pada mereka yang sederhana dan tertindas .

Lakukanlah sebagai persembahan terindah, semoga perempuan dan anak mendapat ruang partisipasi yang aman dan nyaman, menikmati kemanfaatannya bersama serta terhindar dari kekerasan dan perlakukan salah.

Mari hentikan kekerasan pada perempuan dan anak., bersama kita berkomitmen untuk mengatakan “Tidak pada Kekerasan……… Stop ! kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak”. Selamat memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang ke 39. Tuhan berkati/Uis Neno Nokan Kit.(*)