Arsip Kategori: Opini

Corona dan Karnaval Cinta Kembali Ke Rumah

349 Views

Corona dan Karnaval Cinta Kembali Ke Rumah

Oleh Marsel Robot 

Kala dunia lagi berlumuran duka lantaran kehidupan sedang tersedak oleh virus misterius “corona” yang mewabah sedunia dan mematikan itu, seorang teman mengirim pesan singkat begini, “Bung, apa yang sedang dunia pikirkan saat ini? Saya sedang membayangkan kota-kota menggantang sepi, berubah menjadi kuburan raksasa, rumah-rumah sakit menjadi padang mayat. Lantas, semua orang menghamburkan semacam tangisan naratif (berkisah) di atas kuburan itu tentang dunia yang kian kerdil, dekil, dan hidup mulai susut dalam gulungan kafan.”

Pesan singkat teman ini, tentu di luar logika kodokteran, ilmuwan, atau para penganut teori konspirasi. Ia hanya menaut-nautkan corona dengan keadaan dunia hari-hari ini. Tidak masuk akal, dan memang ada bagian hidup ini yang misterium, tidaklah cukup akal kita untuk menggapainya. Barangkali teman tadi berimajinasi tentang Tete Manis (Tuhan) mencicilkan hari kiamat atau sedang mengusap romantis ubun manusia yang sedang menciptakan surga rasa neraka di bumi. Atau Tete Manis sedang menyembuhkan manusia dari kesurupan yang selama ini lalai pulang rumah, lupa pulang ke dalam diri, dan lupa jalan menuju-Nya. Mungkin selama ini manusia terus keluar dan meliar di jalanan kehidupan, begitu suntuk menimbun rindu pada dirinya yang tak pernah kelar. Atau selama ini manusia terlalu berhala pada benda. Persis yang diwantikan Yuval Noah Harari (2018), “Saat revolusi saintifik, umat manusia membungkam Tuhan juga.”

Efek Domino Corona

Corona menjadi lida maut yang menjulur dari pojok kelam menyedot nyawa dan mematikan kehidupan. Tak ada virus semisterius corona sepanjang abad ini. Rutinitas manusia sebagai manusia dihentikan. Dari sanalah dirasakan efek sosial corona jauh lebih luas daripada virus corona itu sendiri. Kita diingatkan tidak berkumpul melebihi sepuluh orang. Bahkan, di mana satu dua orang berkumpul, diduga berpotensi virus corona. Itu berarti pula, virus corona menggunting konser kemanusiaan atau basa-basi sosial seperti berjabat tangan, berpelukan, berciuman, dan bentuk-bentuk kemunafikan kolektif lainnya.

Demikian pula, acara penting segenting apapun dihindari. Orang diimbau untuk beribadah di rumah, tinggalkan gereja, masjid, rumah adat, meninggalkan pasar, mall, dilarang bepergian. Kita diminta segera melakukan semacam karnaval cinta pulang ke rumah, pulang ke dalam diri, menikmati hari-hari bahagia di ruang tengah bersama keluarga tercinta. Saat jedah ini adalah waktu paling indah melakukan konser kemanusiaan dengan keluarga seraya menghela napas iman yang kian karatan. Bintang pesepak bola Barcelona, Leonal Messi menikmati masa jedah akibat corona dengan imbauan, “Sudah waktunya untuk bertanggung jawab dan tinggal di rumah, ditambah lagi ini adalah waktu yang tepat untuk bersama orang-orang yang Anda cintai, yang tidak selalu bisa Anda lakukan. Sebuah pelukan…” https://amp.kompas.com/bola/read/2020/03/15/10200068/virus-corona-lionel-messi–waktunya-bersama-dengan-orang-tercinta

Kepanikan dunia lebih krusial pula di bidang ekonomi. Perusahaan nasional atau korporasi transnasional berantakan. Perusahaan maskapai, usaha pariwisata tekor berat. Bayangkan, corona justru muncul dari China yang merupakan negara eksportir terbesar dengan ekspansi paling luas di dunia. Virus Corona menyebabkan perekonomian China memburuk dan berdampak langsung pada fluktuasi ekonomi dunia. Keadaan itu pula yang mendorong pertemuan G-20 yang berlangsung 22—23 Februari 2020. Negara-negara yang tergabung dalam G-20 Amerika, China, Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Perancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Indonesia, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, dan Uni Eropa mengehela tema pertemuan masalah corona, dan membangun solidaritas antara negara, lihat http://www.bi.go.id

Virus Hoaks

Dasar manusia. Masih saja jutek, ugal, dan bandel menimpahkan hoaks menjadi beban tambahan di atas duka dunia karena corona. Virus hoaks yang ditularkan melalui media sosial berhamburan untuk menggemburkan keadaan. Indonesia memang negara paling subur untuk membiakkan hoaks. “Sejumlah 196 hoaks yang terdeteksi. Beragam konten hoaks seperti resep penyembuhan (hoaks tentang bawang putih dapat menyembuhkan corona), tokoh terkenal, Sri Paus dan Herry Poter (Daniel Radcliffe) positif corona, Pangeran Uni Emirat Arab dikabarkan Positif Virus corona, pesan perantai pencegahan virus corona yang mengatasnamakan UNICEF, takut corona, warga tiongkok berebut Al-Quran untuk dipelajari”. Pemerintah Malaysia dan Singapura yang akan menyemprotkan racun pembasmi virus corona atau Covid-19 beredar di media sosial. Pesan berantai lewat aplikasi percakapan WhatsApp pada Minggu, 22 Maret 2020.

Setiap hari virus hoaks menular jauh lebih masif daripada virus corona. Virus hoaks memproduksi kepanikan yang sangat luas dan berdampak pada kegelisahan, dan ketakutan. Keadaan itu pula menjadi rentan (daya tahan tubuh menurun), memudahkan corona menyerbuh tubuh. Virus corona dan virus hoaks mempunyai dampak yang sama dengan cara kerja yang berbeda.

Ada dua perusahaan yang secara kasat mata meraup keuntungan besar. Pertama, perusahaan media sosial yang memproduksi video, kesaksian, pesan pendek atau narasi peristiwa. Terbayang jika ratusan jenis hoaks diproduksi setiap hari, ditularkan 30 juta penduduk, maka mudah dibayangkan keuntungan yang diperoleh dari menjual kebohongan atas kedukaan itu. Kedua, perusahaan pembuat masker yang omsetnya berlipat ganda dan mendatangkan laba yang tak pernah diperkirakan sebelumnya.

Barangkali, kita sedang diingatkan. Sebab, waktu dan ruang telah menyatu dengan eksistensi. Corona, melalui gejala yang sederhana dan menular begitu mudah, mematikan, menghentikan kehidupan. Semua orang diminta pulang ke rumah, pulang ke dalam diri meranumkan kemesrahan dengan keluarga. Sesekali memandang fajar dari serambi timur bersama keluarga, sambil membayangkan tangan pencipta-Nya. Atau bersama keluarga membuka jendela barat memandang sunset (matahari terbenam) merayap menuju peraduan tanpa kita turut ke sana. Lilin memori dinyalakan di hati dan di ruang tengah sambil bertanya siapa kita ini. Kita memang sedang membutuhkan jedah kehidupan yang pernah dikeluhkan Anthony Smith (baca Simiers, 2009), “… bahwa dunia secara keseluruhan tidak dapat menawari kita memori, mitos, dan simbol yang kita butuhkan sebagai makhluk manusia.” Atau minimal seperti terucap dalam penggalan puisi di bawah ini:

Masih punya waktu untuk sekadar mewanti
Apakah kita sedang pergi atau sedang pulang ke eksistensi?
Ketika, aku, kau, dan dia hanya bagian dari perkakas dalam kontainer
Pelabuhan teramat jauh, atau tak ada pelabuhan itu
Kaupun tahu, memori mulai mengering di ladang-ladang
Kaupun tahu, roti yang tak sempat kaubagikan bukan milik kita (Em Er)

(*/Penulis merupakan Dosen FKIP Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang)

Wanita Tangguh Penjual Singkong

136 Views

Oleh Drs. Ignatius Sinu, M.A.

Ibu Theresia, wanita penjual singkong, sebagaimana catatan yang saya miliki, bersama dengan rekan-rekan lainnya, bekerja berjualan aneka jenis produk pertanian di Pasar Semi Modern di Sektor Informal, sektor yang sulit sekali mendapatkan status formal, mendapatkan pengakuan dari negara sebagai sektor formal yang bisa mendapatkan penghargaan dari pemerintah.

Sektor ini sangat independen, sektor yang bebas bagi siapa saja untuk masuk ke dalamnya, dengan modal sekadarnya pun jadi. Para pelaku di sektor ini sesungguhnya individu-individu yang luar biasa. Catatan-catatan saya mengenai sektor informal di Jakarta tahun 1990-an memberikan gambaran mengenai peran yang luar biasa dari sektor ini terhadap pembangunan bangsa ini.

Di Jakarta, sektor informal hidup berdampingan dengan sektor-sektor formal, bahkan kehadirannya sangat dibutuhkan sektor formal. Warung Tegal (Warteg), Pedagang Kaki Lima (PKL) yang muncul jam-jam tertentu pada tempat-tempat tertentu memberikan warna tersendiri bagi dinamika kehidupan masyarakat perkotaan.

Saya teringat akan tulisan-tulasan saya mengenai Pengasong Buah di Jakarta, dengan fokus pada pengasong buah di dalam KRL Gambir-Depok, dengan tempat mangkal Kalibata. Saya tertarik dengan mereka, lantaran dagangan atau asongan mereka adalah mangga, jeruk, apel, salak, rambuatan; semuanya adalah hasil pertanian.

Statemen pokoknya adalah tanpa pengasong di dalam KRL banyak buah terbuang, dan banyak orang yang membutuhkan buah tidak mendapatkan buah. Pernyataan yang punya kaitannya dengan pembangunan di sektor pertanian dan kesehatan. Hasil pertanian yang tidak terjual menghambat pembangunan pertanian, dan manusia yang jarang mengonsumsi buah akan mengalami gangguan kesehatan karena kekurangan vitamin yang bersumber dari buah.

Para pengasong buah dalam KRL Gambir-Depok memiliki dua watak yang luar biasa, yaitu tangguh dan sederhana, yang mungkin pula sangat bertanggung jawab. Tangguh karena kemampuan mereka menjual buah hinggah habis terjual. Buah yang mereka ambil dipastikan habis terjual. Mereka menerapkan strategi-strategi penjualan yang sederhana, dari mendapatkan keuntungan yang signifikan, untuk tidak memperoleh keuntungan besar, hingga tidak mendapatkan keungtungan, atau ’seri’ dalam bahasa mereka.

Dalam hal ini mereka tidak mengenal prinsip merugi. Lebih dari itu mereka sangat bertanggung jawab atas keselamatan dan kenyamanan penumpang di dalam KRL. Ketika Jakarta sangat ditakuti lantaran pencurian, perampokan, pencopetan di tempat-tempat umum, orang-orang yang bepergian menggunakan jasa KRL Jakarta-Bogor aman dan nyaman. Aman dari pencopetan, pencurian, perampokan, dan nyaman lantaran kondisi di dalam gerbong-gerbong KRL dijaga kerbersihan oleh para pengasong. Manajemen KRL mendapaptkan jasa cuma-cuma dari para pengasong yang setiap saat membersihkan gerbong-gerbong KRL. Perusahaan Kereta Api menghemat puluhan juta rupiah dari biaya operasonal kebersihan dan keamanan.

Para pekerja di sektor informal, seperti PKL dan pengasong, lantaran jasa mereka yang tak terbilang, Presiden Soeharto memberikan penghargaan kepada mereka dengan sebutan ”Laskar Mandiri”, yang benar-benar bekerja atas kemampuan sendiri.

Layaknya Ibu Theresia dan rekan-rekannya di Pasar Inpres adalah pelaku sektor informal. Ketika para akademisi masih berkutat dengan kemungkinan-kemungkinan, seperti kemungkinan membuka lapangan kerja, Thresia dan rekan-rekannya sudah dan sedang berkutat dengan membuat bagi dirinya sendiri lapangan pekerjaan. Ibu Theresia, wanita paru baya beranak dua, yang ditinggal pergi (meninggal) suaminya, memilih menekuni pekerjaan yang diwariskan suami, yaitu berjualan aneka ubi di pasar Inpres Naikoten Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dengan lapak berukuran kecil, meja jualan dan tenda yang juga berukuran kecil dan sederhana, Ibu Theresia berjualan ubi kayu (singkong), ubi jalar, dan talas. Singkong menjadi jualan utama, atau komoditi utama. Keuntungan yang diperoleh dari menjual singkong sehari dapat mencapai Rp.75.000,-. Besar kecilnya keuntungan amat bergantung kepada volume jualan.

Singkong diambil dari langganannya yang datang dari Tarus, Oebelo, Oesao, dan juga dari Kupang Barat. Setiap hari ia mendapatkan pasokan 5—6 karung singkong, yang diambil dengan harga Rp.70.000—80.000,- per karung. Singkong di dalam karung dikeluarkan lalu diklasifikasi ke dalam dua kelas, yaitu berukuran kecil dan sedang. Lalu diikat dengan jumlah 3—4 batang per ikat. Untuk ukuran kecil dijual dengan harga Rp.10.000 dan ukuran besar dijual dengan harga Rp.15.000. Satu karung bisa diperoleh 10 ikat. Karena itu hasil bruto yang didapatkan ibu Theresia dari berjualan singkong tidak kurang dari Rp.75.000 per hari. Jika ibu Theresia berjualan singkong 20 hari dalam sebulan maka upah yang diperoleh ibu Theresia dari berjualan singkong adalah sebesar Rp.1.500.000; penghasilan yang tentunya lebih besar jika dibandingkan dengan honor seorang karyawan honorer.

Peran dan Nilai Juang

Theresia, wanita muda berparas cantik dan beranak dua, hidup tegar dalam balutan cintanya bersama kedua anaknya; sejak ditinggal suami dan ayah tercinta beberapa tahun silam. Ibu Theresia memilih hidup bersama kedua anaknya, dari bekerja melanjutkan pekerjaan warisan suaminya. Demi cintanya akan suami dan kedua anaknya, Theresia mencintai dan menekuni pekerjaan menjual aneka ubi di lapak yang sangat sederhana, lapangan pekerjaan di sektor informal.

Dari menekuni pekerjaan sebagai penjual singkong, ibu Theresia sanggup menghidupi dirinya, kedua anak, dan lebih dari itu membawa kesejahateraan di dalam keluarga kecilnya. Anaknya yang sulung sudah duduk di bangkus SMP kelas 2 dan yang kedua di bangku SD kelas 5. Semua biaya untuk pendidikan anak-anaknya adalah hasil berjualan singkong.

Dalam konteks yang lebih luas, terutama pembangunan di sektor pertanian, Theresia sesungguhnya memberikan kontribusi yang amat berarti. Sehari ia berhasil menjual 5—6 karung singkong. Jika volume satu karung 30 kilogram, maka setiap hari Theresia menjual 165 kilogram singkong; dan dalam sebulan ia menjual 3.300 kg atau 3,3 ton singkong basah.

Bayangkan apabila peran ini tidak diambil oleh Theresia, maka sebanyak 3,3 ton singkong petani tidak terjual setiap bulannya; pedagang perantara yang hidup dari mengumpulkan singkong dari petani ke petani pun kehilangan lapangan pekerjaan sebagai pengumpul dan pemasok singkong.

Peran Theresia sebagai pengecer singkong di pasar semi modern amat penting. Dalam bahasa sehari-hari, sebagai pengecer singkong, Theresia adalah ujung tombak penjualan singkong petani. Manakala ujung tombak tumpul maka tombak tidak berfungsi mematikan atau membunuh.

Untuk memahami peran Theresia, saya menyampaikan penghargaan kepada guru saya Harsya W. Bachtiar yang memberikan pendalaman kepada kami mengenari teori Struktural Fungsional yang dikembangkan Talcott Parsons. Harsya dalam perkuliahan lebih mengutamakan ”Teori Differensiasi Taclott Parsons”. Teori ini kemudian saya pahami dengan memberikan argumen bahwa ”kebahagiaan di dalam keluarga batih terletak pada menghargai peran dari setiap anggota keluarga; gagal akan pemahaman peran masing-masing berakibat pada ketidakbahagiaan”.

Parsons berpandangan bahwa tindakan manusia itu bersifat voluntaristik, karena tindakan itu didasarkan pada dorongan kemauan, dengan mengindahkan nilai, ide dan norma yang disepakati. Tindakan individu manusia memiliki kebebasan untuk memilih sarana (alat) dan tujuan yang akan dicapai itu dipengaruhi oleh lingkungan atau kondisi-kondisi, dan apa yang dipilih tersebut dikendalikan oleh nilai dan norma.

Theresia sebagai seorang perempuan berhasil mewujudkan tujuannya, yaitu berkeluarga, punya suami dan anak. Tujuan ini sudah dicapai, yang oleh Parsons disebut voluntaristik, yaitu didasarkan dorongan kemauan, yang proses pencapaiannya berdasarkan nilai, norma (urusan adat istiadat perkawinan). Selanjutnya dipilih pekerjaan di sektor informal dengan berjualan singkong di pasar Inpres. Berjualan dipilih sebagai sarana mencapai tujuan, yaitu penghasilan dan kesejahteraan.

Pasar Inpres Naikoten dipilih sebagai tempat dan pedagang pengumpul dipilih sebagai mitra jual. Dengan demikian terbangun struktur dengan unsur-unsur yang memiliki perannya masing-masing; peran-peran mana yang berfungsi berdasarkan nilai dan norma yang disepakati secara sukarela dan harus dijaga.

Peran Sederhana Bermakna Universal

Theresia wanita muda penjual singkong nan tegar hanyalah seorang wanita di sudut riak pembangunan di sektor pertanian; duduk di sudut sumpek menemani lapaknya tempat berjualan singkong merajut masa depan, yang ditaruh pada masa depan kedua anaknya.

Theresia adalah juga wanita berpendidikan rendah namun punya orientasi masa depan yang amat jauh ke depan, yang ditanamkan di dalam kerinduan akan masa depan yang lebih baik walau beralaskan basis ekonomi di sektor informal.

Theresia, wanita muda itu sudah, sedang, dan akan terus memainkan peran sederhana nan mulia; peran merawat pekerjaan di sektor informal, sektor yang kurang mendapatkan penghargaan dari negara, lembaga keagamaan, dan lembaga swadaya. Peran yang dimainkan itu dibalut dengan cinta yang universal tak ternilai, yang kadarnya ada pada dinamika pembangunan di sektor pertanian, dan dinamika pembangunan dalam arti yang lebih luas. (*)

Penulis merupakan Dosen Fakultas Pertanian dan menjabat sebagai Sekretaris LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) Universitas Nusa Cendana.

Editor (+rony banase), Foto Istimewa (*/Facebook Masyarakat Singkong Indonesia)

Ashraf Sinclair, Adjie Massaid & ‘Silent Killer’

652 Views

Oleh : Denny Siregar

“Jantungmu Kena..”

Begitu kata temanku seorang dokter spesialis jantung. Kaget ? Pasti. Karena selama ini saya sama sekali tidak merasa sakit apa-apa. Tapi sesudah melewati beberapa tes, kesimpulannya seperti itu.

Kardiovaskular sering disebut sebagai silent killer, atau pembunuh senyap. Itu karena orang yang mengidapnya tidak sadar bahwa pembuluh darahnya yang berhubungan sama jantung mampet. Seperti selang yang buntu karena kerak, keraknya harus dibersihkan supaya aliran darah ke jantung bisa lancar.

Tapi ini kan bukan selang yang mudah dibersihkan dengan bahan kimia. Ini pembuluh jantung yang sangat tipis dan kecil. Jalan terbaik adalah memasang ring, supaya melebarkan jalan aliran darah ke jantung.

Masalahnya, tidak banyak yang sadar dengan hal ini. Karena mereka merasa sehat. Dan setiap kali ada penyumbatan, mereka menganggapnya masuk angin. Karena badan kurang enak, mereka lalu olahraga dengan keras. Yang terjadi darah memompa dengan keras tapi salurannya buntu.

Akibatnya kalau gak stroke, ya lewat..

Ashraf Sinclair, suami BCL, yang baru saja meninggal dalam usia 40 tahun adalah orang yang rajin olahraga, hidup sehat dan tidak merokok. Tapi ada kemungkinan dia kena kardiovaskular.

Loh, kenapa ?

Karena, menurut seorang Profesor di bidang jantung, penyebab utama kardio adalah Gen. Jadi kalau orang tua kita punya riwayat kardio, ya anaknya kemungkinan besar juga kena.

Penyebab kardio paling utama menurutnya adalah darah tinggi, kolesterol, dan kekentalan darah yang berlebih. Gabungan ini menyebabkan kerak pada saluran pembuluh jantung. Dan obatnya hanya satu, setiap hari selama seumur hidup, minum obat untuk mengatasi itu.

Ashraf mungkin tidak menyadari itu, karena merasa sehat. Di IG nya bahkan dia bilang sesuatu tentang sit up 20 ribu kali dalam waktu 30 menit. Padahal, kalau sudah kena penyumbatan, olahraga tidak boleh terlalu keras atau kompetitif.

Ingat Adjie Massaid kan ?

Adjie juga meninggal karena masalah sama. Mungkin dia merasa badannya gak enak, sehingga main futsal. Padahal futsal itu olahraga berat banget, mirip basket. Akhirnya, dia pingsan di lapangan bola dan meninggal.

Adjie dan Ashraf punya pola yang sama. Hidup sehat, olahragawan dan tidak merokok. Mereka “dibunuh” juga secara senyap.

Jadi, kalau sudah usia 40 tahunan, lebih baik cek ke dokter jantung apakah punya risiko penyumbatan. Kalau sudah kena, ya rutin minum obat setiap hari seumur hidup. Kalau ngga, mirip Adian Napitupulu yang sudah 5 ring, tapi mungkin gak disiplin minum obatnya.

Ini semua hanya perkiraan saja. Dokter, terutama yang spesialis jantung mungkin bisa memberikan penjelasan yang lebih akurat. Saya hanya bicara berdasar pengalaman dalam sisi orang awam.

Terakhir, saya harus terima kasih kepada orang-orang yang sudah berusaha keras supaya saya baik-baik saja. Kepada seorang teman dokter wanita di Surabaya yang mengingatkan saya dan memberikan tes gratis.

Kepada dokter-dokter di Medistra yang berjibaku supaya saya masuk rumah sakit. Kepada seorang Profesor Ahli yang mengoperasi saya dan tidak mau dibayar. Dan kepada seorang tokoh besar yang memaksa saya untuk operasi, karena tahu saya bandel dan keras kepala.

Saya tidak bisa menyebut nama kalian, karena saya menghormati privacy. Saya hanya bisa menyebut kalian “para malaikat di bumi” karena bekerja dalam senyap sesenyap pembunuh di jantung saya, sehingga saya masih bisa menulis sampai kini..

Biarlah Tuhan yang membalasnya. Saya hanya bisa menyediakan secangkir kopi..

Seruput..(*)

(*/Penulis merupakan pengarang dan pegiat media sosial)
Editor (+rony banase)
Foto oleh : instagram Ashraf

Pose Perempuan Berjilbab Hitam di Antara Bunga Pluralisme

375 Views

Oleh: Marsel Robot

Dua ahad lalu (Senin, 3 Februari 2020), Kota Bandung (Jawa Barat) tersedak. Sejumlah perempuan berjilbab hitam melakukan demo di depan Balai Kota Bandung. Perempuan-perempuan itu menolak Parade Lintas Agama yang saat itu rencananya diselenggarakan pada 15 Februari 2020 oleh Pemerintah Kota Bandung.

Menurut mereka, Parade Lintas Agama mengandung pluralisme yang justru membahayakan umat Islam. Pluralisme itu berbahaya. Perempuan-perempuan itu rela meninggalkan sapu di halaman dan piring-piring di dapur untuk suatu gugatan kepada Indonesia sebagai negara bangsa.

Sesungguhnya isi isu yang mereka hela tidaklah baru. Atau aransemen kontennya masih itu-itu juga, soal politik identitas (agama). Selama ini telah lama menjadikan agama sebagai kontainer untuk mengangkut kepentingan politik.

Meski demikian, toh, demo para perempuan itu setidaknya memproduksi beberapa pesan penting kepada kita. Minimal hemat saya. Pertama, kelompok anti pluralisme (intoleran) masih hidup dan sedang dihidupkan oleh sekolompok orang di Indonesia. Itu berarti pula, komunitas-komunitas eksklusif masih eksis dan terus menegakkan klaim-klaim kebenaran agama tertentu di belantara keragaman bangsa yang indah ini. Meski kelompok ini tergolong kecil, namun, boleh jadi merupakan bunga api dari gunung berapi yang sekali waktu dapat melontarkan lahar anarkis. Tentu, perempuan-perempuan itu tidak berlagak seperti ISIS (Islamic State of Iraq dan Syiria) dalam selimut.

Pesan pertama di atas hendak mewanti pihak pemerintah untuk berusaha membuka ventilasi komunitas-komunitas eksklusif yang hidup di tengah masyarakat. Komunitas eksklusif berbentuk organisasi sosial dan organisasi keagamaan. Lembaga-lemaba itu telah menjadi pusat kegiatan belajar masyarakat seperti Majlis Ta’lim, yang diselenggarakan oleh masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan keagamaan, kelompok Yasinan, pengajian, Salfiah dan lain-lain. Materi tausiah, khotbah diharapkan merujuk pada konten atau piur ajaran agama yang mendamiakan sambil tidak menyalahkan, apalagi menista ajaran agama lain.

Kedua, menolak pluralisme berarti menolak ideologi Pancasila atau menolak Indonesia. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara sosial adalah majemuk (plural) dan telah didaulatkan secara ideologis (Pancasila). Meski para pendemo tidak secara langsung menolak Pancasila atau tidak mengakui Kebinekatunggalikaan. Karena itu, pada pesan kedua ini meminta kepada negara harus kuat terhadap dua hal. Pertama, negara harus meletakkan secara kuat perbedaan antara urusan negara dan urusan agama. Pancasila menjadi rumah bersama bangsa Indonesia yang beragam, suku, rasa, asal-usul, golongan, latar sejarah, budaya, agama, dan bahasa. Pancasila adalah kristalisasi kesadaran akan kemajemukan Indonesia.

Para pendiri bangsa ini sungguh menyadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk (plural). Perbedaan telah menjadi kesadaran yang membangun kekuatan nasionalisme. Jauh sebelum Indonesia merdeka, Soekarno dan Mohammad Natsir telah menggelar debat seru tentang pemisahan urusan negara dengan urusan agama. Soekarno berpendirian kuat bahwa pemisahan agama dan negara dilakukan agar negara menjadi kuat dan agama pun menjadi kuat. Negara dapat fokus mengurus dirinya sendiri dan agama pun fokus mengembangkan agamanya.

Memisahkan agama dari negara justru memerdekakan agama dari ikatan-ikatan pemerintah dan pemegang kekuasaan yang rakus dan berpikiran sempit. Menurut Soekarno, penyatuan agama dan negara hanya akan menyebabkan dua-duanya semakin terpuruk. Sebab, masyarakat kemudian menjadikan agama sebagai alasan untuk menyembunyikan segala keterbatasan mereka (Ramat, 2019).

Indonesia pernah mengalami petaka akibat politik identitas. Bayangkan, hampir 22 tahun negara ini dibeban oleh urusan kerusuhan dan konflik atas nama agama. Keadaan ini telah menjadi beban negara sejak runtuhnya Orde baru 1998. Sejak itu pula, agama telah menjadi kontainer yang mengangkut kepentingan politik. Di sanalah perpecahan sosial mewabah hingga muncul aliran-aliran idelogis yang berbahaya bagi persatuan bangsa.

Belajar Hidup Berbeda dalam Kebersamaan

Jika kita mencangkul lebih dalam makna di balik demo perempuan berjilbab hitam itu, tentu bukan mereka tidak paham Pancasila, atau tidak menyadari tentang eksitensi keindonesiaan sebagai negara bangsa. Sangat boleh jadi demonstrasi anti pluralisme ini sebagai gugatan kepada pemerintah.

Setidaknya, pengalaman mereka sebagai rakyat melihat sikap para pemimpin negara yang tidak mencerminkan sikap orang berakidah. Bayangkan, korupsi yang merajalela (tangkap satu timbul seribu), pemerataan ketidakadilan seluruh rakyat Indonesia, lingkungan birokrasi yang kumuh, diktum hukum yang dapat dijualbelikan. Belum lagi, hegemoni partai politik terhadap pemerintahan. Lantas memposisikan rakyat sebagai kaum peroletariat, sedangkan pemerintah menjadi kaum borjuis. Kolaborasi pemerintah dan partai politik menghasilkan kepemimpinan yang amat oligarkis. Kejahatan selalu berakar dari kemiskinan dan ketidakadilan.

Boleh jadi, demo ini juga merupakan respons khas atas cara kita belajar hidup bersama dalam perbedaan. Dengan demikian, Parade Lintas Agama yang digagas oleh Pemerintah Kota Bandung adalah ujung lain dari cara dan bentuk belajar menerima perbedaan. Demikian pula demo para perempuan berjilbab hitam terhadap Parade Litas Agama adalah juga ujung lain dari cara belajar menerima perbedaan. Yang pertama menerima perbedaan dengan cara positif, yang kedua, cara menerima perbedaan secara negatif. Namun keduanya sama, sedang belajar hidup bersama dalam perbedaan.

Proyek kebangsaan untuk meringankan beban pemerintah terhadap masalah pluralisme ialah pertama, negara harus jujur mengelola negara. Kejujuran harus menjadi kepribadian dan harga diri. Kedua, mungkin pula bangsa kita sedang merindukan satu sama lain. Karena itu, pemerintah melakukan sebanyak mungkin festival kebangsaan atau festival multikultural untuk melunasi kerinduan mereka satu dengan yang lainnya. Diperlukan pertukaran pemuda, pelajar, dan guru antardaerah untuk membuka ventilasi eksklusivitas, sehingga sesilir angin kebangsaan masuk dalam rongga kesadaran kolektif. Ketiga, dipandang perlu memperkuat peran Rukun Tetangga (RT), atau Rukun Warga (RW). Mereka menjadi bagian terpenting dari pemerintah pusat sebagai agen penguatan pluralisme pada basis massa paling riil.

Hemat saya, demo perempuan berjilbab hitam di Bandung hanya sebuah pose di tengah bunga pluralisme sebagai ekpresi kerinduan yang belum kunjung ranum terhadap saudara sebangsanya.(*)

(*/Penulis merupakan Dosen, Kepala Pusat Studi Kebudayaan dan Pariwisata Undana)

Anak dan Murid Hanya Hiasan dan Ladang Keuntungan

136 Views

Oleh : Mochammad Sinung Restendy, M.Pd.I., M.Sos.

Konflik, pertengkaran ataupun pertikaian orang tua adalah satu dari sekian banyak tekanan psikologis bagi anak, yang sangat berpengaruh dalam proses tumbuh kembang anak.

Seringnya tidak ada perhatian pada kondisi psikologis anak yang kadang dilakukan sebagian orangtua, lingkungan ataupun sekolah dapat menimbulkan anggapan dan suasana negatif bahwa anak hanyalah penghias bagi biduk rumah tangga ataupun lingkungan luar seperti sekolah, seolah memiliki seorang anak hanyalah dihadirkan sebagai objek pelengkap di rumah tangga, atau sebagai murid hanya dianggap sebagai target jumlah yang harus dipenuhi oleh sekolah agar ‘bisnis tetap berjalan’.

Mari kita merenung sejenak untuk membicarakan harapan dan pendapat anak agar bisa didengar. Mari kita kesampingkan ego sebagai orang tua ataupun lembaga yang mengabaikan kepentingan anak, terlebih lagi jika mengeksploitasi anak, apalagi menganggap anak dijadikan lahan mengeruk uang.

Kasus yang kadang sering kita dengar di lingkup sekolah yaitu adanya pungutan liar, negosiasi biaya bahkan jual beli meja kelas menunjukkan anak hanya dilihat sebagai potensi mengeruk uang di mata sebagian sekolah, sedangkan di mata sebagian orang tua anak hanya sebagai penghias rumah tangga mereka, saat tetangga, saudara tahu bahwa anak mereka berada di sekolah favorit maka imbalan yang pantas adalah kerapkali pujian-pujian bagi orangtuanya.

Lagi-lagi psikologis anak tertekan dengan harus memantaskan diri sesuai yang diharapkan orang tua. Begitupun sekolah yang dibutakan untuk melengkapi sarana prasarana juga kompetisi gedung tertinggi antar sekolah sehingga menarik iuran terus menerus dan mengorbankan hak dan prestasi siswa dalam arti sesungguhnya – malah fokus terhadap pembangunan infrastruktur bukan terhadap pembangunan karakter anak-anaknya.

Sekolah juga harus berbenah, pernahkah meminta pendapat murid di mana harus meletakkan tempat bermain, kelas, laboratorium, masjid? Pernahkah diajak duduk bersama menyusun kebutuhan-kebutuhan mereka? Pernahkah diajak duduk bersama untuk memutuskan kebijakan sekolah?

Maka disinilah sekolah harus partisipatif, karena ukuran kesuksesan bukan banyaknya gedung tinggi ataupun ruang kelas tetapi kemampuan siswa yang berkembang tanpa adanya eksploitasi juga penerapan cara penguatan siswa yang salah dengan cara sogokan-sogokan harus dihapuskan. Agar orang tua paham dan benar-benar menerima anak dengan keunikan dan kemampuannya masing masing, bukan hanya memaksa anak terus menerus berhias diri padahal hatinya menangis demi membanggakan orangtuanya masing masing!

Anak perlu ditanyakan apa minat dan bakatnya dan dukung ia agar terus berkembang.

Anak yang dipandang sebagai ziinatun hayat (perhiasan dunia) ataupun qurrota ayun (penyejuk hati) selalu dalam catatan dimana anak tersebut harus mampu berperilaku solih (baik) bukan anak yang melakukan penyimpangan-penyimpangan akibat dari pola pendidikan yang salah, dan pola pendidikan dan pengasuhan yang salah inilah yang mengakibatkan jangka panjangnya bisa saja anak menjadi aduwwun (musuh) ataupun fitnatun (ujian), oleh karenanya perlu dididik dan diajari dengan benar.

Jika menilik dari konsep Watson yang melihat bahwa belajar mengharuskan interaksi dan respon secara natural dan aktif maka sebenarnya ada yang salah dalam pola pengasuhan dan pendidikan di sebagian keluarga juga sekolah di Indonesia. Belum ada upaya secara sadar dan sukarela dari mereka sendiri murid dan anak untuk mengembangkan kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang terjadi sebaliknya yaitu penekanan sebagian orangtua ataupun lembaga.

Memaksakan persepsi orangtua kepada anak jelas tidak bisa, karena simpel saja orang tua ataupun sekolah tidak akan pernah bisa memaksa anak untuk menjadi sesuai dengan kemauan mereka (walaupun tujuan sama tetapi perlu upaya bersama bukan memaksakan). Jadi iya, visi-misi sekolah ataupun di lingkup keluarga boleh sama tetapi penerapan strategi dan metodenya jelas harus berbeda (atau tidak sama rata) pada setiap anak, karena setiap anak memiliki keunikan masing masing (murid boleh berseragam tetapi jiwa dan karakter mereka beragam, jangan selalu disamakan).

Maka dengan diskusi dan membangun konsekuensi logis bersama secara otomotis mengajarkan anak dengan logika dan kedewasaan bukan hanya hukuman-hukuman dan sogokan-sogokan yang terkesan memaksakan! Dari upaya aktif diskusi dan membangun konsekuensi logis maka akan bertahap tertanam dari dini tanggung jawab dan kedisiplinan, dan itu butuh upaya sadar secara aktif partisipatif dari sekolah dan masyarakat sehingga anak dan murid benar-benar dianggap ada dan didengar pendapatnya.

Anak akan menjadi aduwwun (musuh ) dan fitnatun (ujian) jika dibesarkan dengan sogokan-sogokan, bullying, hukuman fisik dan psikis yang bisa menyebabkan trauma panjang dan akan merubah tingkah laku anak yang cenderung menabrak norma sosial kedepannya.

Anak itu melihat figur baik di rumah ataupun sekolah, yang akan dijadikan acuan dalam setiap tahap perkembangan dan pertumbuhan kehidupannya mulai dari pembiasaan, penanaman pengertian sampai kepada bisa bijak dan menjadi guru bagi dirinya sendiri. Jika yang menjadi role model baik personal atau kelembagaan bagus, maka akan membentuk karakter kuat dan juga bagus bagi anak dan murid, tetapi jika yang muncul adalah upaya eksploitasi demi nafsu, ego pribadi orangtua dan lembaga juga mafia-mafia pendidikan maka karakter anak dan murid yang terbentuk bisa berbahaya bagi kemajuan bangsa dan negara.

Dari itulah anak bisa menjadi hiasan saat berkembang di alam bebas mereka dengan membentuk jati diri yang mandiri dengan tetap ada arahan, partisipatif dan konsultatif positif dari lingkungan, lembaga dan keluarga sehingga bermanfaat dan jadi kebanggaan masyarakat yang secara garis lurus merupakan keuntungan tersendiri bagi diri, keluarga, masyarakat dan negara. Demi SDM unggul Indonesia! (*)

(*/Penulis merupakan Dosen dan Pengamat Komunikasi Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Editor: Derry Fahrizal Ulum Foto oleh Rony Banase

Menakar Empati dan Keindonesiaan Wakil Bupati Kepulauan Natuna

47 Views

Oleh: Rudi S Kamri

Syukur alhamdulillah Puji Tuhan pada Minggu, 2 Februari  2020 pukul 08.40 WIB, saudara-saudara kita 238 WNI dari Wuhan, Hubey China telah mendarat di bandara Hang Nadim Batam. Sesaat kemudian mereka akan menuju ke hanggar kesehatan TNI di Kepulauan Natuna untuk menjalani observasi selama 14 hari untuk memastikan mereka aman dari paparan virus corona.

Kita doakan semoga mereka sehat dan bisa kembali ke keluarga yang sedang cemas menunggu.

Keputusan Pemerintah menentukan Pangkalan Militer TNI di kompleks Pangkalan Udara Raden Sajad Kepulauan Natuna untuk lokasi observasi adalah keputusan yang tepat. Pertama, fasilitas kesehatan di Pangkalan Militer tersebut sudah lengkap dan juga sudah dilengkapi fasilitas observasi sesuai dengan standar WHO. Kedua, lokasi Pangkalan Militer TNI tersebut jauh dari pemukiman penduduk. Ketiga, Kepulauan Natuna yang letaknya jauh adalah lokasi strategis untuk melokalisasi penyebaran virus apabila terjadi kasus yang tidak diinginkan.

Namun ada yang aneh dalam proses kemanusiaan yang sedang dilakukan oleh Pemerintah, yaitu komentar bodoh dari Wakil Bupati Natuna, Kepulauan Riau. Mesti bergelar Master dan sudah menjadi Pejabat Negara ternyata tidak menjamin sehatnya logika dan nurani seorang anak bangsa yang bernama Ngesti Yuni Surapti ini.

Sebagai manusia Indonesia seharusnya dia punya empati terhadap saudara-saudara yang sedang dirundung masalah serius. Dan sebagai Pejabat Negara di daerah sangat tidak elok kalau secara terbuka menyatakan penolakan terhadap keputusan atasan di Pemerintah Pusat.

Ngesti Yuni adalah contoh Pejabat yang tidak punya etika ketatanegaraan dan rasa keindonesiaan serta nurani kemanusiaan. Ujaran penolakannya secara terbuka di hadapan media telah memprovokasi sebagian masyarakat Kepulauan Natuna. Ini sangat disesalkan dan memprihatinkan. Dan perilaku Ngesti Yuni adalah salah satu dampak negatif dari produk otonomi daerah yang kebablasan. Dia merasa dipilih langsung oleh rakyat sehingga merasa bisa seenaknya melawan Pemerintah Pusat.

Syukur alhamdulillah, Pemerintah Pusat yang diwakili Panglima TNI, Menteri Kesehatan dan Menteri Luar Negeri tegas bersikap. Penolakan Wakil Bupati yang merupakan kader Golkar ini dibungkam dengan tetap menunjuk Pangkalan Militer TNI di kompleks Pangkalan Udara Raden Sajad Kepulauan Natuna sebagai lokasi observasi saudara kita dari Wuhan, China.

Saya berharap Bupati Kepulauan Natuna, Gubernur Kepulauan Riau menegur keras kurang ajarnya Wakil Bupati Ngesti Yuni. Kalau perlu Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memberikan sanksi keras kepada Ngesti Yuni. Kalau dibiarkan akan menjadi preseden buruk bagi tata laksana hubungan Pusat dan Daerah. Dalam demokrasi tetap harus ada tata aturan khususnya yang menyangkut hubungan hirarki strutural di organisasi pemerintahan. Kalau tidak, rusak negeri ini akan terpecah jalan sendiri-sendiri.

Untuk saudara kita WNI dari Wuhan China, selamat datang di tanah air. Mudah-mudahan anda semua sehat dan lolos dari paparan virus corona. Dan segera kembali ke keluarga yang sedang cemas menunggu kedatangan anda di rumah.

Untuk Tim Evakuasi, saya mengucapkan terima kasih atas kerja kerasnya. Semoga Tuhan membalas budi baik Bapak-Ibu. Dan anda semua selalu sehat walafiat.

Untuk Ngesti Yuni … Shame On You !
Salam SATU Indonesia

Penulis (*/Pegiat Media Sosial)
Editor (+rony banase)

Pentingnya Jadi Ayah Hebat untuk Dukung Tumbuh Kembang Anak

180 Views

Oleh: Derry Fahrizal Ulum

Pemberian pola asuh dan hubungan dalam rumah tangga memberikan pengaruh bagi perkembangan anak, yang pelaksanaannya dipengaruhi oleh konteks. Sebagai orang pertama yang berinteraksi dengan anak dalam keluarga, orang tua atau pengasuh memainkan peran penting dalam perkembangan anak, terutama selama masa kanak-kanak hingga usia pra-sekolah.

Banyak penelitian secara global menyatakan bahwa gaya pengasuhan dalam keluarga memiliki peran penting dalam berbagai fase perkembangan anak. Berbagai faktor telah mempengaruhi fungsi pengasuhan, yakni sistem makro (mengacu pada nilai-nilai budaya, tradisi, dan hukum) serta sistem mikro (mengacu pada hubungan dan interaksi antara orang tua/pengasuh dengan anak-anak mereka).

Indonesia adalah negara yang memperjuangkan nilai-nilai yang kuat seperti rasa kekeluargaan dan rasa memiliki yang kuat terhadap keluarga–bahkan tidak jarang keluarga di sini tidak hanya terdiri dari keluarga inti (ayah, ibu, anak), namun juga keluarga besar (ayah, ibu, anak, ditambah dengan anggota keluarga lain seperti kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, dan sebagainya) yang tinggal di satu rumah atau berdekatan, serta saling turut terlibat dalam suatu keputusan anggota keluarga.

Orang Indonesia juga cenderung menghargai kebijaksanaan, moral, dan norma masyarakat. Studi terbatas dari Bank Dunia pada tahun 2015 yang meninjau Program Pendidikan Pengasuhan di Indonesia menyarankan bahwa praktik pengasuhan saat ini perlu mengurangi – bahkan menghilangkan – praktik hukuman fisik oleh orang tua atau pengasuh untuk melindungi kesehatan dan keselamatan anak-anak.

Memahami sikap, pengetahuan, pemahaman, dan praktik pengasuhan saat ini sangat penting untuk mengidentifikasi kesenjangan serta pendorong dan hambatan agar dapat mempromosikan praktik yang baik demi peningkatan kesejahteraan, kesehatan, dan perlindungan anak.

Di Aceh misalnya, penelitian tahun 2018 yang dilakukan oleh Amani, Savitri, dan Bintari yang berjudul Pelibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak di Aceh menunjukkan bahwa banyak pengasuhan sebagian besar dilakukan oleh para ibu dengan dukungan terbatas dari ayah, karena anggapan bahwa pengasuhan anak adalah tanggung jawab ibu.

Situasi ini tentunya menjadi tantangan bagi banyak perempuan yang hidup dalam rumah tangga miskin karena kebanyakan dari mereka terlibat dalam mencari nafkah untuk memperoleh uang tambahan di samping melakukan urusan rumah tangga rutin. Dengan beban ini, para ibu mengalami keterbatasan dalam mendapatkan pengetahuan baru tentang pengasuhan anak dan mereka bergantung pada tradisi lokal tentang cara merawat bayi mereka.

Misalnya, banyak ibu di Aceh yang tidak mengerti atau memiliki pemahaman yang salah tentang pemberian ASI eksklusif kepada bayi yang baru lahir. Temuan dari suatu penelitian dari UNICEF menceritakan bahwa seorang ibu di Lhok Nga, Aceh mengatakan bahwa ia biasa memberikan pisang dan madu kepada bayinya yang berusia 3 bulan. Bagi banyak ibu di sini, ketika bayi menangis setelah disusui, ibu menganggapnya sebagai rasa lapar dan berpikir bahwa ia membutuhkan lebih banyak asupan dibandingkan hanya sekadar ASI.

Data tahun 2016 dari Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa hanya 23,5% bayi baru lahir di Aceh yang menerima pemberian ASI ekslusif selama enam bulan. Keterlibatan ayah dalam hal ini menjadi signifikan dan karena itu perlu disadari pentingnya menemukan saluran yang tepat untuk membuat ayah sadar akan perannya untuk mendukung para ibu dalam mengasuh anak-anak mereka.

Ayah seringkali kurang terwakili dalam intervensi atau program tentang pengasuhan, padahal mereka adalah target penting untuk dilibatkan. Dalam sebuah temuan jurnal, melaporkan bahwa ayah berkeyakinan intervensi atau program pengasuhan diperuntukkan bagi ibu, dan bahwa yang harus hadir utamanya adalah ibu.

Selain itu, kurangnya pengetahuan, kesadaran, dan minat dalam intervensi pengasuhan menjadi alasan lainnya. Sehingga, diperlukan penggunaan pesan yang secara khusus memang menargetkan ayah, misalnya ‘Program Menjadi Ayah Hebat’.

Hambatan lain dalam penelitian tersebut juga membahas keyakinan ayah mengenai peran gender tentang pengasuhan dan orang tua. Ayah menganggap dirinya sebagai orang tua yang ‘melindungi’ dan ‘maskulin’ (sebagai penyedia kebutuhan keluarga dan penjaga kedisiplinan anak) dibandingkan peran ibu yang berbeda (misalnya: urusan-urusan domestik). Dengan demikian, ayah yang memiliki anggapan tersebut cenderung memiliki penolakan untuk terlibat dalam intervensi.

Intervensi pengasuhan bertujuan untuk mengubah sikap dan keyakinan serta praktik pengasuhan sehingga ada kemungkinan bahwa intervensi mengubah keyakinan maskulin menjadi penting agar ibu dan ayah berbagi peran. Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa ayah yang memiliki keyakinan norma-norma maskulin menunjukkan praktik pengasuhan yang kurang positif, dan mengasuh dengan lebih keras, dan ini adalah perilaku yang perlu diubah melalui intervensi. Studi ini juga menemukan bahwa ayah yang menganut kepercayaan maskulin meminimalkan dirinya untuk terlibat dalam pengasuhan anak.

Dengan demikian, ayah dengan kepercayaan yang lebih maskulin mungkin mendapat manfaat paling besar dari program pengasuhan jika mereka pada akhirnya mau terlibat dalam intervensi, dan pesan mengenai pentingnya keterlibatan ayah mungkin sangat penting bagi ayah.

Program-program dan penelitian di masa depan perlu bertujuan untuk menargetkan ayah yang menganut kepercayaan maskulin dalam mengasuh anak, dan mengeksplorasi penggunaan strategi khusus untuk melunturkan keyakinan ini.

Mari menjadi ayah hebat yang ikut aktif mengasuh anak secara positif! (*)

(*/Penulis merupakan pegiat anak)
Editor (+rony banase) Foto oleh titikdua.net

Mimpi Kosong Naturalisasi Akhirnya Pupus oleh Program Normalisasi

164 Views

Oleh: Rudi S Kamri

Presiden Joko Widodo akhirnya memutuskan bahwa program normalisasi sungai Ciliwung dan kali Pasanggrahan serta sodetan sungai Ciliwung yang diarahkan ke Banjir Kanal Timur (BKT) harus dilanjutkan. Keputusan tegas tersebut diputuskan dalam sebuah rapat terbatas tentang pengendalian program banjir pada Jumat, 3 Januari 2020.

Keputusan yang tidak boleh ditawar dari Presiden Jokowi tersebut sangat ditunggu-tunggu oleh semua kalangan. Karena selama kepemimpinan ABas program normalisasi yang telah dilakukan oleh Jokowi dan Ahok pada kurun waktu 2013—2017 dihentikan oleh ABas.

ABas rupanya gengsi untuk meneruskan program dari pendahulunya. Seperti biasa dia ingin tampil dengan program sendiri. Sama seperti dulu dia punya program hunian vertikal, padahal sebetulnya itu hanya ganti istilah saja dari rumah susun.

ABas memang paranoid tingkat dewa. Dia tega mengorbankan rakyat Jakarta hanya untuk menjaga gengsinya. Untuk revitalisasi sungai Ciliwung dia ngotot mencanangkan program naturalisasi. Dia emoh melanjutkan program normalisasi.

ABas menjual halusinasi mimpi program naturalisasi yang katanya lebih ramah ekosistem, tapi dia tidak realistis bahwa program naturalisasi tersebut hampir mustahil dilaksanakan di wilayah perkotaan padat penduduk seperti Jakarta dan mempunyai sifat penyerapan air yang lambat. Dan celakanya dia juga tidak siap dengan konsep implementasi yang diperlukan. Alhasil program naturalisasi versi ABas hanya mimpi kosong belaka.

Dengan total target normalisasi sungai Ciliwung sepanjang 33,69 Km, yang dimulai saat Jokowi masih menjabat Gubernur DKI Jakarta yang kemudian dilanjutkan oleh Ahok baru mencapai 16,38 Km. Sisanya yang sepanjang 17,31 Km mandeg belum dikerjakan oleh ABas satu senti pun selama 2017—2019.

Ini yang saya sebut ABas dengan sengaja telah menggergaji program Pemerintah Pusat. Akibat kepekokan ABas, awal 2020 warga Jakarta harus menanggung akibatnya dengan tertimpa bencana banjir yang konon terbesar dalam kurun 24 tahun terakhir.

Cuaca ekstrem dan belum selesainya pengendalian wilayah hulu yaitu belum selesainya pembangunan waduk Ciawi dan Sukamahi selalu dijadikan kambing hitam oleh ABas. Tapi ABas lupa bahwa tugasnya untuk pengendalian di daerah hilir yaitu melakukan normalisasi sungai Ciliwung sama sekali tidak dikerjakan.

Kini ABas harus mengakui bahwa dia ternyata hanya seorang Gubernur yang harus tunduk oleh perintah atasannya yaitu Presiden. Keputusan tegas Presiden Jokowi yang disampaikan oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono telah menampar arogansi dan keangkuhannya.

Dia tidak punya pilihan kecuali harus tunduk pada keputusan Presiden Jokowi. Dia harus membunuh mimpi kosongnya tentang program naturalisasi.

Terima kasih Presiden Jokowi, Bapak telah menyelamatkan warga Jakarta dari kesombongan dan ego yang tidak ukur diri seorang Gubernur yang dipilih dengan cara yang menjijikkan.

Tugas kita selanjutnya adalah bagaimana kita menggagalkan pelaksanaan event Formula E pada Juni 2020 nanti yang telah menggerogoti uang rakyat Jakarta. Uang rakyat seharusnya untuk kepentingan rakyat, bukan untuk menyuburkan gengsi gubernurnya. Paham loe ABas ? (*)

(*/Penulis merupakan pegiat media sosial)
Editor (+rony banase)