Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Retret Dalam Biara Kemiskinan Rakyat

Retret Dalam Biara Kemiskinan Rakyat

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sen, 29 Sep 2025
  • visibility 209
  • comment 2 komentar

Loading

Oleh : Marsel Robot, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana

Ketika rakyat Nusa Tenggara Timur (NTT) sempoyongan memikul beban kemiskinan sekujur hidupnya sembari diancam oleh pertanyaan paling primitif: “apa hari ini ada makan?” Gubernur Lakalena dan ratusan hulubalangnya malah ugal-ugalan menghabiskan uang 1.6 miliar rupiah dengan menyemburkan diksi begitu suci, retret.

Padahal, beberapa hari sebelumnya ia menghabiskan puluhan miliar dirogo (baca diambil, red) dari brankas Anggaran Pendapatan Belanja Daerah untuk membiayai Tour De Entente. Entah kekeliruan, tetapi ini keterlaluan. Atau sebut saja kedurjanaan etis.

Padahal, retret merupakan ruang di mana sekelompok orang melakukan perjalanan ke dalam diri sambil menengadah memandang dan mengundang Yang di Atas. Lalu, menggunting koneksitas dengan rutinitas keseharian yang teramat profan, dan masuk ke ruang khusuk, berumah dalam kesunyian untuk menikmati Sang Sunyi.

Saya mengandaikan retret dilakukan dalam biara kemiskinan rakyat. Sebab, retret yang dilakukan para pejabat masuk dalam ruang kemewahan, di ruang full air conditioning (AC) dengan meja makan penuh menu premium. Karena itu, bagi saya, retret yang dilakukan oleh pejabat Provinsi NTT adalah bentuk penistaan terhadap rakyatnya.

Jikalau Anda dengan komplotan atau para berhala jabatan itu ingin melakukan ret-ret untuk membaca keadaan rakyat atau sekejap menikmati penderitaan rakyat, maka guntinglah rutinitas kantoran yang gitu-gituan. Lalu, pergilah menuju rumah reot rakyatmu, dan lihatlah penampakan mereka; bagaimana lakon melodramatik kehidupan mereka yang bernaung di bawah rindang pertanyaan: apa bisa makan hari ini? Retret kerakyatan ialah perjalanan batin menuju ke dalam biara kemiskinan rakyat bersemadi di kolong rumah mereka yang reot ditimpa nasib peot itu.

Kaum rohaniwan bertitah, retret, adalah seni berjalan ke dalam diri sendiri biar lebih intensif berdialog dengan Ilahi. Namun, para pejabat melakukan perjalanan “ke dalam” lobi hotel” sambil memutuskan koneksi dari dunia profan bukan dengan kesadaran asketis, melainkan dengan hasrat hedon. Mereka menutup akun publik. Lalu, masuk ke akun pribadi dengan password “biarkan kami bahagia tanpa dirimu”.

Rakyat di luar sana masih terseok mencoba membelokkan angin nasib sembari menggendong anaknya dengan pertanyaan yang tergantung di lehernya, adakah nasi di atas piring nasib yang kian rabun. Sementara para pejabat sibuk memilih tipe kasur: spring bed atau full latex? Lalu, mereka menundukkan kepala bukan berdoa, melainkan karena sedang menutup mata agar tidak melihat angka 1.6 miliar rupiah yang melayang seperti malaikat pemberat dosa.

Barulah saya paham, rupanya retret telah diperluas maknanya menjadi perjalanan ke dalam lobi hotel sambil karaoke dan coffee break. Di sana tak ada gua yang berlumuran sunyi seperti milik para rohaniwan, yang ada hanya ruang meeting dengan backdrop bertuliskan “Merefleksi Diri Menuju Pemerintahan Bermartabat”, walaupun yang direfleksikan adalah wajah sendiri yang tampak lebih bersinar karena terkena lampu kampus Universitas Pertahanan (Unhan).

Saya tiba-tiba membayangkan, seandainya Friedrich Nietzsche hidup hari ini dan ikut retret ke Unhan (Belu), saya yakin, ia pasti lebih memilih pensiun dini dari filsuf. Segera ia banting setir menjadi vendor retret spiritual, karena Tuhan telah mati. Sehingga, tidak perlu repot-repot lagi menanyakan “apa itu pengabdian dan kebaikan?” ‘ Cukup siapkan konsumsi prasmanan dan simfoni di beranda Unhan.

Jikalau jujur sejenak: retret bukanlah laku meninggalkan keriuhan dunia profan, melainkan seni mengganti suasana yang diongkos oleh rakyat. Yang dihapus bukan dosa, melainkan rasa bosan rutinitas kantor. Yang dilantunkan bukan lagu rohani, melainkan lagu Pance Pondaag, “Untuk Sebuah Nama”.

Sebetulnya, saya ingin ajukan satu usul kecil dari pinggir kiri sejarah; retret berikutnya janganlah di hotel atau di Unhan. Lakukanlah retret di rumah warga miskin di Lamaknen (Belu), di Molo (Soe), di Aplal (TTU) yang lantai rumahnya masih tanah, peninggalan Sang Pencipta dan atapnya masih meminjam langit. Jangan siapkan konsumsi mewah, cukup duduk di dapur sambil mendengarkan alunan saxofon dari periuk kosong dan dentingan bunyi jazz dari sendok-sendok di atas piring kosong.

Dan doa paling jujur bukan dilantunkan di aula ber-AC, melainkan di tengah panas yang tidak bisa kau stel dengan remote. Renungan paling benar bukan lahir dari kertas-kertas ceramah, melainkan dari tatapan seorang ibu yang berkata dengan tubuhnya: “Tuan-tuan, kapan engkau menikmati lapar bersamaku?”

Rakyat NTT telah lama hidup dalam kemiskinan, tempat penderitaan diterima sebagai takdir. Hampir tak cukup persediaan logika di cakrawala kesadaran untuk menalarkan keadaan itu. Kecuali, kepasrahan yang begitu mesra : Nanti Tuhan Tolong (NTT). Freire menyebut fenomena ini sebagai kebudayaan bisu — sebuah kondisi ketika rakyat hanya diberikan bahasa doa, tetapi tidak diberikan bahasa kritis untuk menggugat struktur yang menindas. Retorika religius yang pasif, dengan demikian, berfungsi sebagai “biara ideologis” tempat rakyat diam, sementara penguasa semakin bebas merayakan pesta.

Dalam tatapan Erich Fromm, keadaan ini disebut sebagai alienasi: keterasingan manusia dari makna hidupnya. Rakyat yang lapar, yang setiap hari dihadapkan pada pertanyaan sederhana — “Apakah hari ini ada makan?” — sesungguhnya tengah hidup dalam alienasi ganda. Pertama, mereka terasing dari kebutuhan dasarnya karena temperamen pejabatnya. Kedua, mereka terasing dari makna religius karena agama dijadikan tameng ideologis penguasa. Dalam kosa kata Albert Camus, inilah absurditas: penguasa merayakan hidup dengan pesta, sementara rakyat bertahan hidup dengan pasrah dan doa dengan seribu lilin di alaman kantor untuk melegasi korupsi sebagai “berkat”.

Inilah kuasa simbolik pejabat-pejabat kita: diksi suci dijadikan spanduk untuk menutup borok keserakahan. Mereka menyebutnya retret, padahal sebetulnya hanya liburan dibayar rakyat. Mereka bilang perjalanan koordinasi, tapi yang berjalan justru saldo APBD untuk menu premium di meja makan.

Seorang pemimpin yang sungguh-sungguh ingin merenung tidak membutuhkan anggaran miliaran; ia hanya butuh cukup keberanian untuk duduk di rumah warga miskin, menyentuh tangan mereka yang retak oleh tova dan kapak, dan mendengar detak lapar di wajah yang mereka sembunyikan dengan senyum. Di situlah retret paling jujur dimulai. Bukan dari aula megah dengan lampu sorot menguatkan hasrat hedonistik, melainkan dari gua-gua realitas yang sepat, amis, dan getir.(*)

  • Penulis: Penulis

Komentar (2)

  • Welhelmus Mella

    Setuju sekali dengan pikiran cerdik, tuntas, kritis dan iklas dari Bp Dr. Marcel Robot. Semoga ada pejabat yang menyimak dan meresapi pesan dalam buah pikiran ini.

    Balas30 September 2025 12:49 pm
  • Servas Lawang

    Paradoks gaya pejabat dan rakyat papah. Harus diberi pelajaran pada gaya yang demikian.

    Balas30 September 2025 7:52 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Desa Berdaya ala PLN UIP Nusra Bagi Warga Poco Leok Manggarai

    Desa Berdaya ala PLN UIP Nusra Bagi Warga Poco Leok Manggarai

    • calendar_month Rab, 18 Okt 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Loading

    Mataram, Garda Indonesia | Sejumlah kelompok tani hortikultura binaan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) melalui program Desa Berdaya memeroleh keuntungan besar dari hasil panen mereka, salah satunya Kelompok Tani Banera, Kampung Ndajang, Desa Lungar, Poco Leok, Satar Mese, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Panen perdana sayur pakcoy milik Kelompok Tani […]

  • HMJ Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang Inisiasi Bantu Mahasiswa Terdampak Covid-19

    HMJ Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang Inisiasi Bantu Mahasiswa Terdampak Covid-19

    • calendar_month Kam, 7 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang (PNK) menginisiasi untuk membantu para mahasiswa/mahasiswi yang terdampak Pandemi Covid-19, terutama mereka yang tak dapat pulang ke kampung halaman karena penutupan akses transportasi laut dan udara. Upaya empati HMJ Teknik Sipil PNK tersebut direspons oleh Ketua Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang, […]

  • Kapolri Rotasi Perwira Tinggi, Ini Daftarnya

    Kapolri Rotasi Perwira Tinggi, Ini Daftarnya

    • calendar_month Sel, 27 Jul 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 197
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo merotasi sejumlah pejabat di lingkungan Korps Bhayangkara pada Senin, 26 Juli 2021. Mutasi perwira tinggi (Pati) Polri itu tercantum dalam beberapa surat telegram yang ditandatanganip oleh Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono atas nama Kapolri. Salah satu Pati yang dirotasi ialah Kapolda Aceh, Irjen Wahyu Widada. Penugasan […]

  • Sah! DPT Pilkada Kota Kupang 2024, Linus Lusi: Jaga Netralitas

    Sah! DPT Pilkada Kota Kupang 2024, Linus Lusi: Jaga Netralitas

    • calendar_month Jum, 20 Sep 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang | KPU Kota Kupang menghelat rapat pleno terbuka rekapitulasi dan penetapan daftar pemilih tetap (DPT) pemilihan kepala daerah (Pilkada) wali kota dan wakil wali kota Kupang tahun 2024. Penetapan DPT pada Kamis, 19 September 2024 di Hotel Harper, Kupang. Ketua KPU Kota Kupang, Ismael Manoe di hadapan PJ Wali Kota Kupang Linus Lusi, […]

  • Jokowi Resmikan Penggabungan Pelindo & Pelabuhan ‘Multipurpose Wae Kelambu

    Jokowi Resmikan Penggabungan Pelindo & Pelabuhan ‘Multipurpose Wae Kelambu

    • calendar_month Kam, 14 Okt 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Loading

    Labuan Bajo, Garda Indonesia | Presiden RI, Jokowi meresmikan penggabungan PT. Pelindo I, II, III dan IV menjadi PT. Pelabuhan Indonesia sekaligus Terminal Multipurpose Wae Kelambu, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat Provinsi NTT, pada Kamis, 14 Oktober 2021; dalam rangka mewujudkan Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas. Kegiatan tersebut dilakukan dengan protokol kesehatan ketat. […]

  • PLN Kelola FABA 1,45 Juta Ton Jadi Material Batako Hingga Tanggul Laut

    PLN Kelola FABA 1,45 Juta Ton Jadi Material Batako Hingga Tanggul Laut

    • calendar_month Jum, 28 Jul 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | PT PLN (Persero) terus mendorong pemanfaatan material abu sisa proses pembakaran batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) atau fly ash and bottom ash (FABA) menjadi bahan baku keperluan berbagai sektor yang dapat membangkitkan ekonomi masyarakat. Sepanjang tahun 2023, dari pembakaran batu bara PLTU PLN menghasilkan FABA sebesar 1,43 juta […]

expand_less