Kesehatan Lingkungan Jadi Perhatian Utama Gereja Bait El Penfui Kupang

443 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Mewaspadai wabah demam berdarah dan memberikan edukasi tentang kesehatan lingkungan kepada masyarakat dan jemaat Gereja Bait El Kampung Baru Penfui Kupang, maka memasuki Minggu Pra Paskah Keempat, Panitia Hari Raya Gerejawi (PHRG) mengadakan senam bersama, pemeriksaan kesehatan, sosialisasi dan penyuluhan dan aksi bersih lingkungan pada Sabtu/23 Maret 2019 pukul 06.00 WITA—selesai

Bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) NTT dan Prodi Kesehatan Lingkungan (Kesling) Poltekes Kemenkes Kupang, para Jemaat dan masyarakat diedukasi mengenai peran mereka dalam meminimalisir penyebaran jentik nyamuk dan mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD) dan memelihara kesehatan lingkungan yang dilaksanakan di dalam areal Gereja Bait El Kampung Baru Kelurahan Penfui Kecamatan Maulafa Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Baca juga : 

https://gardaindonesia.id/2019/03/16/gereja-bait-el-penfui-kupang-peduli-apresiasi-para-lansia/

Kasie Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Bidang P2P, Dinkes Provinsi NTT, Joyce Tibuludji, SKM, MKes., mengatakan bahwa saat ini Aedes Aegypti jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah menyebarkan virus dengue hingga pukul 22.00 WITA (10 malam), tidak lagi waktu penyebaran terbatas hanya pada pukul 09.00—10.00 WITA dan 16.00—17.00 WITA

“Menurut laporan, daerah Kampung Baru Penfui telah menghasilkan 3 korban anak-anak penderita DBD dan telah masuk kategori endermis dan Kota Kupang telah tercatat sebagai daerah endermis DBD dengan penderita terbanyak di daerah Oesapa”, jelas Joyce Tibuludji.

Penyuluhan tentang wabah DBD oleh Kasie Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Bidang P2P, Dinkes Provinsi NTT, Joyce Tibuludji, SKM, MKes

Tambah Joyce, Tanpa kita sadari lokasi berkembang biak jentik nyamuk Aedes Aegypti berada di dalam rumah seperti tempat penampungan sisa air dispenser, tempat minum burung, bunga gelombang cinta. Karena nyamuk ini bertelur di wadah/ tempat yang mempunyai air di luar rumah seperti selokan/got, tempurung kelapa, kaleng bekas dan wadah lain

“DBD merupakan penyakit berbasis lingkungan karena kalau lingkungan tempat tinggal terpelihara dengan baik maka akan bebas dari DBD. Jika tidak terpelihara dengan baik maka akan mendukung berkembang biak sarang nyamuk demam berdarah. Nyamuk dewasa menghasilkan 100—300 butir telur maka lebih efektif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) daripada membasmi nyamuk dewasa”, terang Joyce.

Demam berdarah sebagai penyakit menular dapat menimbulkan wabah DBD seperti Kota Kupang yang ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD

“Virus DBD terdapat di dalam darah dan wajib diperiksa karena masa inkubasi DBD bervariasi dengan rentang waktu 4—7 hari dan seharusnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak sampai menyebabkan kematian jika pemeriksaan virus dalam darah diperiksa sejak dini dan diobati sehingga tidak sampai menyebabkan bintik-bintik merah pada kulit dan menghentikan penyebaran virus DBD dalam darah”, ungkap Joyce

Disamping itu, Ketua Program Studi Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Kupang, Karolus Ngambut, SKM, MKes., kepada para jemaat dan masyarakat menyampaikan bahwa selain telur nyamuk Aedes Aegypti berjumlah berkisar 100—300 telur, telur nyamuk jenis ini hidupnya lama dan jika telur nyamuk tersebut dihasilkan dari Nyamuk yang telah memiliki virus DBD maka akan menyebarkan dan menularkan jenis virus yang sama kepada manusia

Aksi bersih lingkungan oleh mahasiswa/mahasiswi Prodi Kesehatan Lingkungan Poltekes Kemenkes Kupang

“Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana caranya agar kita tidak digigit nyamuk Aedes Aegypti”, jelas Ari panggilan akrab dari Karolus Ngambut.

Selain memberikan penyuluhan dan edukasi tentang penyebaran virus DBD, Prodi Kesehatan Lingkungan Poltekes Kemenkes Kupang juga memberikan edukasi tentang pentingnya memiliki WC atau jamban tempat membuang air besar dan air kecil.

“Sekarang ini 1 dari 3 orang Indonesia melakukan buang air besar secara sembarangan karena tidak memiliki WC. Di NTT masih banyak warga yang belum memiliki WC dan cenderung buang air sembarangan”, ungkap Ari

WC sangat penting karena menurut data dari Pemerintah Provinsi NTT bahwa sekitar 68% warga yang memiliki WC. Masih sekitar 32% yang belum memiliki WC

“Bahkan, kami memberikan stimulan kepada masyarakat untuk memiliki WC, karena WC merupakan harkat dan martabat kita”, tandas Ari

Untuk diketahui beberapa tahun lalu, Prodi Kesehatan Lingkungan Poltekes Kemenkes Kupang melakukan kerja sama dengan Gereja Bait El Penfui memberikan bantuan WC atau jamban bagi jemaat dan masyarakat sekitar Kampung Baru Kelurahan Penfui

Usai memberikan edukasi, Prodi Kesehatan Lingkungan Poltekes Kemenkes Kupang beserta jemaat dan masyarakat membersihkan lingkungan sekitar areal Gereja dan lokasi rawan penyebaran nyamuk DBD.

Sementara itu, Gembala Gereja Bait El Penfui, Pdt Deciana Mooy Baok, S.Th., menyampaikan semoga usai mendengarkan penyuluhan maka masyarakat dan jemaat dapat mempunyai kesadaran untuk belajar hidup sehat karena terkadang kita tidak memperhatikan budaya hidup sehat

“Semoga hari ini masyarakat dan jemaat memperoleh pencerahan dari Dinkes NTT dan Prodi Kesehatan Lingkungan Poltekes Kemenkes Kupang”, pungkas Pdt Deciana.

Penulis dan editor (+rony banase)

(Visited 50 times, 1 visits today)