oleh

RD Gusty Nesi: “Orang Muda Katolik ‘OMK’ Harus Berani Bersakit-Sakit Dahulu!”

Belu-NTT, Garda Indonesia | “Berakit- rakit dahulu, berenang- renang kemudian. Bersakit- sakit dahulu bersenang- senang kemudian. Artinya, untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan, orang harus berani menderita dulu, orang harus berani sengsara dulu. Orang harus berani pikul salib dulu, orang harus kerja keras dulu baru kemudian merasakan kebahagiaan,” demikian penggalan kotbah RD Agustinus D. Nesi.

Kotbah RD Agustinus D. Nesi di atas disampaikannya saat pelantikan 40 anggota Orang Muda Katolik (OMK) Stasi St. Yoseph Freinademetz Translok, Wilayah Paroki Roh Kudus Halilulik, Keuskupan Atambua di Dusun Wesanteas, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu, 8 Maret 2020 sore.

Jika seorang petani ingin mendapatkan hasil kerja yang berlimpah dan memuaskan, RD Gusty Nesi mencontohkan, tangan harus sakit, berani menghadapi teriknya matahari, keringat harus keluar bahkan air mata harus tumpah pada saat mengolah tanah dan merawat tanaman.

Penanaman pohon beringin secara simbolis oleh RD Gusty Nesi di depan Kapela St. Yoseph Freinademetz Translok, Wilayah Paroki Roh Kudus Halilulik, Keuskupan Atambua di Dusun Wesanteas, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat

“Tidak bisa enak-enak saja, tidak bisa hanya bermalas-malasan, tidak bisa hanya suka yang gampang- gampang. Karena, kebahagiaan harus berawal dengan sengsara. Itulah hukum kehidupan, itulah prinsip kebahagiaan yang sejati,”ungkap pastor pembantu paroki Roh Kudus Halilulik itu.

Gusty Nesi yang juga adalah moderator OMK paroki itu menandaskan bahwa menjadi Orang Muda Katolik itu tidak mudah mengeluh, tidak suka manja dan apalagi pemalas. “OMK itu bukan orang- orang yang manja! Hujan sedikit manja, banjir sedikit manja, kerja sedikit manja. Orang-orang muda tidak sembarang mengeluh,” tegasnya lagi.

RD Gusty Nesi saat mengukuhkan OMK Stasi St. Yoseph Freinademetz Translok

RD Nesi juga menekankan beberapa poin penting dalam menjalani kehidupan yang serba keras antara lain :

Pertama, Prinsip Kehidupan. Kita diajak untuk berani menghadapi hidup ini secara keras, dan tidak hanya dengan sekadar bermain- main;

Kedua, Sabda Tuhan sebagai petunjuk jalan. Orang yang mau menjadi baik harus banyak mendengar ‘Sabda Tuhan’. Mendengar itu tanda ketaatan, mendengar itu tanda kesetiaan dan mendengar itu tanda kerendahan hati;

Ketiga, Masa Prapaskah. Masa ini membantu kita untuk mencapai kebangkitan dan kemuliaan. Bangkit dari keterpurukan hidup.

Masa prapaskah ini adalah masa yang istimewa, agar kita sedapat mungkin bertobat. Kita perlu bertobat dari tiga dosa pokok, terutama dalam diri OMK, yakni Dosa Sok Benar; Dosa Sok Pintar; dan Dosa Sok Suci.

“Semoga masa prapaskah ini membantu menyadarkan diri kita masing-masing tentang tiga dosa pokok ini. Sebab, habis prapaskah pasti ada paskah. Habis derita pasti ada kebahagiaan. Habis malam gelap pasti ada siang terang. Sengsara, selalu datang membawa nikmat. Selamat dan proficiat,” tuturnya mengakhiri.

Acara pelantikan yang mengusung tema ‘Sengsara Membawa Nikmat’ itu berlangsung meriah dan dihadiri oleh ketua OMK Paroki Roh Kudus Halilulik, Rogasianus R. Nahak dan sejumlah ketua OMK tingkat lingkungan se-Paroki Roh Kudus Halilulik.(*)

Penulis (*/HH)
Editor (+rony banase)

News Feed