Penulis Kucing

Loading

Oleh : Ramli Lahaping

Kesepian telah menyita kebahagiaanku. Jauh dari keluarga dan menyendiri di kamar kos-kosan, sungguh membuat hidupku begitu menjemuhkan. Tetapi kemuraman itu cukup teratasi dengan kehadiran Boni. Dia adalah kucing jantan yang ku adopsi tiga bulan yang lalu. Seekor kucing yang banyak tingkah dan selalu mampu membuatku terhibur.

Bersama Boni, aku jadi bisa melalaikan hampanya sendiri. Kamarku seolah menjadi taman wisata yang riuh atas laku genitnya. Tetapi bagaimanapun, ia hanyalah hewan yang tidak benar-benar mengerti keadaan hidupku. Sungguh, aku butuh juga seorang manusia sebagai teman dekat dan kawan bercerita, yang kalau bisa, juga menyenangi kucing.

Sampai akhirnya, aku menyaksikan kehadiran sosok lelaki istimewa yang tinggal di lantai dua kos-kosan sebelah kos-kosanku. Seketika pula, aku merasa mendapatkan keajaiban, sebab ia adalah seorang penulis blog yang ku kagumi. Karena itu, aku kerap mengintipnya dari balik jendela kamarku, sembari membayangkan kalau-kalau aku jadi inspirasi untuk puisi atau cerpennya.

Nama lelaki itu adalah Jodi. Ia cukup terkenal sebagai pengarang, khususnya di kampusku. Karya fisiknya tidak hanya mewarnai terbitan mahasiswa, tetapi juga merambah halaman sastra koran ternama. Ia pun kerap tampil di forum penulisan yang bergengsi. Untuk itu, ia menjadi panutan dan idola banyak orang, terutama mahasiswi di kampusku.

Sebagai seorang pengagumnya, aku telah lama membaca tulisan-tulisannya. Aku suka bertualang ke dalam dunia imajinasinya yang indah setiap kali mengeja kata-katanya. Tetapi pada akhirnya, aku tetap berusaha untuk sadar diri bahwa tokoh-tokoh tulisannya adalah orang yang lain, bukan aku. Apalagi, jelas-jelas ia tak mengenalku, sehingga ia tak mungkin menulis tentangku.

Meski begitu, aku tetap berhak dan berkuasa atas khayalanku sendiri. Karena itu, aku kerap menuliskan perasaanku tentangnya di blog pribadiku. Dengan begitu saja, aku berharap ia mengejanya, lantas jatuh hati kepadaku, sebab kukira akan sangat menyenangkan jika dunia aksara akhirnya menyatukan kami.

Namun sayang. Belakangan ini, aku kehilangan daya untuk menulis. Apalagi setelah pengisi daya laptopku bermasalah. Karena itu, aku hanya terus bermalas-malasan, sembari memikirkan untuk berkenalan dan dekat dengannya, agar aku berhasil menjadi bahan tulisannya. Bagaimanapun, setiap penulis juga ingin hidup di dalam tulisan orang yang istimewa, termasuk aku.

Dan akhirnya, aku menemukan jalan terbaik untuk memulai perkenalan dengannya. Dari beberapa karya fiksinya, aku pun tahu bahwa ia kerap menghadirkan pencinta kucing sebagai tokoh utama ceritanya. Karena itu, aku yakin bahwa ia adalah pencinta kucing. Sebab itu pula, aku jadi terpikir kalau Boni bisa menjembatani hubungan kami, hingga kami bisa bersatu karena kucing.

Sungguh, atas kecintaan ku pada kucing, aku selalu berharap bahwa kelak aku akan berjodoh dengan seorang yang juga mencintai kucing. Aku senang membayangkan bahwa kelak rumah kami akan diramaikan banyak kucing. Dan untuk itu, Jodi adalah orang yang akhirnya senantiasa ku harapkan di dalam doa-doa ku.

Demi cita-cita besar itu, belakangan waktu, aku pun mulai melancarkan rencana ku. Dengan setengah tega, aku melepasliarkan Boni untuk menjelajah ke mana-mana. Aku berharap, Jodi akan terkagum setelah melihat keimutannya, lantas mulai menjalin persahabatan dengannya. Kalau sudah begitu, aku akan muncul dan memperkenalkan diri sebagai sang pemilik Boni.

Beberapa hari kemudian, rencana ku tampak berjalan baik. Boni mulai bertualang ke lingkungan kos-kosan Jodi. Hingga akhirnya, dari sudut intip ku, seminggu yang lalu, aku pun melihat Boni masuk begitu saja ke dalam kamar Jodi yang terbuka. Sekian lama, Boni mendekam di sana, seolah-olah mereka berkenalan dan saling berbagi kesan.

Sayangnya, aku tak punya indra keenam untuk menyaksikan kebersamaan mereka. Tetapi aku bisa menerka bahwa Boni akan berlaku manis, dan Jodi akan memanjakannya, sebagaimana perlakuan tokoh fisiknya terhadap kucing. Dan benar saja, Boni keluar dari kamar Jodi sembari membawa sepotong ikan yang tampak sebagai kado perkenalan mereka.

Atas peristiwa itu, aku yakin kalau Joni telah jatuh hati kepada Boni. Aku pun menduga-duga kalau Joni akan tergerak untuk menulis cerpen tentang Boni, sembari menyinggung sang pemilik yang tiada lain adalah aku. Barangkali dengan menceritakan bahwa sang tokoh cerita yang mencerminkan dirinya, sangat ingin bertemu dan berkenalan dengan sang pemilik kucing. Kalau begitu, aku akan punya keberanian lebih untuk mengambil langkah perkenalan.

Angan-angan ku itu makin berdasar, sebab hubungannya dengan Boni tetap terjalin. Buktinya, lima hari yang lalu, aku kembali melihat Boni menyusup ke dalam kamarnya. Boni pun kembali mendekam beberapa lama, meski tak selama dua hari sebelumnya. Boni pergi setelah Jodi menggenggam sisi belakang lehernya, kemudian menempatkannya di teras.

Menyaksikan kenyataan tersebut, aku sedikit khawatir kalau Boni telah berlaku kurang ajar. Aku tentu tak ingin kalau Joni membencinya. Tetapi aku lekas menyangkal sendiri dugaan itu. Aku lebih meyakini bahwa Jodi tengah sibuk mengerjakan sesuatu, barangkali sedang menulis cerita pendek, dan ia tidak mau terusik dengan kemanjaan Boni untuk sementara waktu.

Tetapi sayangnya, aku tak juga menemukan cerita baru Joni di blog pribadinya ataupun di media lain. Ia tak juga menuliskan kesannya tentang Boni. Tetapi aku tak mati harapan karena itu. Aku menduga saja kalau naskahnya soal itu memang belum selesai, meski aku sedikit was-was kalau-kalau ia memang tak terkesan atas kehadiran Boni.

Untuk menemukan jawaban atas kerisauanku, tiga hari yang lalu, aku melakukan pengujian dengan kembali melepasliarkan Boni. Ia pun kembali menuju ke kamar Jodi dan menemukan kamar tersebut tertutup. Ia lalu berjuang mencari jalan masuk, hingga ia melompat dan menyusup melalui sibakan daun jendela.

Seketika, aku pun menduga-duga kalau mereka kembali saling berbagi kasih setelah kebersamaan mereka yang singkat sebelumnya. Boni mungkin mengusap kaki Jodi, hingga ia mendapatkan makanan. Tetapi kemudian, aku malah mendengar Boni mengeong-ngeong keras, seolah ia tidak merasa nyaman. Hingga akhirnya, Joni keluar dengan menenteng Boni, lantas membuangnya ke bawah, ke lantai dasar.

Seketika pula, anggapanku terhadap Jodi berubah drastis. Aku meragukan kalau ia adalah seorang pencinta kucing. Aku mulai membaca kalau sikapnya terhadap kucing berbeda dengan sikap tokoh-tokoh fisiknya. Hingga akhirnya, dakwaan ku itu berubah menjadi keyakinan setelah Boni kembali ke kamarku. Pasalnya, secara jelas, aku bisa memindai tanda-tandanya kalau ia telah mendapatkan perlakuan yang kasar.

Di tengah perasaan yang keruh, tiba-tiba, aku menemukan segulung kertas yang terikat di kalung Boni. Aku lantas mengambil kertas tersebut dan menyibaknya dengan rasa penasaran. Aku lalu membacanya: Kepada pemilik kucing ini, aku minta agar Anda menjaga kucing Anda baik-baik agar tidak berkeliaran dan merugikan orang lain.

Tanpa menerangkan perihal pokok permasalahannya, aku pun tak tahu alasan Joni membenci Boni. Yang pasti, aku telah mengetahui bahwa hubungan mereka sangatlah buruk, dan kenyataan tersebut sungguh membuatku patah hati. Karena itu, aku jadi sangat berhasrat untuk berkisah. Aku ingin menuliskan kegalauanku, entah dalam siratan cerpen atau puisi, lantas mengunggahnya di blog pribadiku, seperti yang kerap kulakukan untuk meredakan kekalutanku.

Demi kepentingan itu, siang ini, aku berkunjung ke sebuah kios perbaikan barang elektronik yang tak jauh dari kos-kosanku. Aku ingin memperbaiki perangkat pengisi daya laptopku agar aku bisa segera menulis. Hingga akhirnya, aku terkejut hebat setelah mendapati Joni duduk di kursi tunggu, tepat di sampingku. Aku pun jadi segan, meski kukira aku seharusnya geram sebab ia telah memperlakukan Boni dengan tidak pantas. Aku pun memilih diam saja dengan perasaan yang kacau.

Namun akhirnya, ia menyapa, “Hai, sepertinya kita pernah bertemu, tetapi di mana, ya?”

Aku lantas menolehkan senyuman kaku. “Mungkin kita pernah berpapasan di kampus. Kita satu universitas, Kak, tetapi beda fakultas.”

“Oh. Iya. Sepertinya begitu,” timpalnya, lantas merekah senyuman.

Sontak, perasaanku berubah setelah menyaksikan lesung pipinya yang dalam dan sorot matanya yang teduh. Kekesalanku kepadanya seolah-olah mereda seketika. Aku pun jadi merasa enteng untuk berbagi kata-kata. “Atau barangkali, kita pernah berpapasan di sekitar sini. Kebetulan, aku kos di kos-kosan yang bersebelahan dengan bangunan kos-kosan Kakak,” kataku, tanpa sadar telah membongkar setengah dari rahasiaku sendiri.

Ia lantas mengangguk-angguk. “Oh. Bisa jadi juga begitu.”

Tak pelak, aku merasa bersyukur sebab ia tidak menyelidik perihal pengetahuanku tentang kos-kosannya.

Hening beberapa lama. Kami seolah merasa tidak punya kepentingan bersama yang patut untuk diperbincangkan.

Tetapi akhirnya, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya, “Ada masalah apa Kakak ke sini?”

Ia pun tersenyum simpul, kemudian mendengus lesu. “Laptopku rusak.”

Diam-diam, aku jadi mengerti sebabnya sehingga ia tak lagi menulis akhir-akhir ini. “Kenapa bisa, Kak?” tanyaku, untuk sekadar memperpanjang percakapan.

“Seekor kucing telah bertamu ke kamarku. Karena aku suka kucing, aku pun membiarkan ia bermain-main sesuka hatinya. Tetapi akhirnya, ia malah mengencingi laptopku yang sedang terbuka dan menyala,” jelasnya, lantas mengembuskan napas yang panjang.

Sontak saja, aku terkejut. Aku pun mulai curiga. “Ciri-ciri kucing itu bagaimana, Kak?”

“Warnanya putih dengan bercak-bercak hitam. Ekornya pendek. Belakangan waktu, ia memang kerap berkeliaran di sekitar lingkungan kos-kosan, entah dari mana,” terangnya.

Tanpa keraguan lagi, aku yakin kalau yang ia maksud adalah Boni. Karena itu, aku pun memahami penyebab keretakan hubungan di antara mereka.

“Apa barangkali kau tahu pemiliknya?” tanyanya, dengan tatapan yang tajam.

Aku lekas berpaling dan menggeleng, tanpa membalas dengan kata-kata.

Akhirnya, aku jadi mati kutu atas rasa bersalahku kepadanya akibat tingkah Boni. Aku pun berharap urusanku cepat selesai, sehingga aku bisa segera pergi dari sampingnya. (*)

Penulis Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi http://sarubanglahaping.blogspot.com  Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping)