‘Fogging’-Solusi Terakhir & Terburuk bagi Demam Berdarah Dengue

146 Views

Oleh Yumiati Ke Lele, SKM

Kota Kupang, gardaindonesia.id | Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore, mengambil satu langkah yang sungguh luar biasa, sebagai bentuk kecintaannya terhadap warga Kota Kupang. Tepatnya, Kamis/ 24 Januari 2019, beliau menetapkan telah terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Kupang.

Pada hari yang sama, saya berbahagia atas keluarnya Basuki Tjahaya Purnama (BTP) dari Mako Brimob. ‘Seorang’ yang saya idolakan, karena sampai saat ini, saya menganggap beliau punya sepak terjang yang luar biasa. Dan bukan cuma saya, di seluruh Indonesia, ada begitu banyak yang mengidolakan BTP.

Yumiati Ke Lele, SKM

Namun,…kembali lagi kita bahas tentang langkah penanggulangan Wabah Demam Berdarah di Kota Kupang Kota Kasih yang kita cintai. KLB pun secara otomatis dilakukan di Kota Kupang. Dengan cara membuka Posko di tiap Puskesmas 1 x 24 jam. Langkah lainnya adalah dengan dilakukannya abatesasi massal (pembagian bubuk abate) yang dilakukan serempak di seluruh Kota Kupang.

Proses abetasi massal juga melibatkan seluruh tenaga kesehatan di lingkup Pemkot Kupang bekerja sama dengan Sekolah Kesehatan yang ada di Kota Kupang dengan menurunkan mahasiswanya untuk membantu pelaksanaan abatesasi massal serta langkah lainnya.

Dan karena di Kota Kupang, telah ditetapkan telah terjadi Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue (KLB DBD), maka saya ingin berbagi, cara penanggulangan DBD.

Dalam penanggulangan DBD, langkahnya sama persis seperti pencegahan DBD, ditambah dengan salah satu alternatif yang menurut saya sebenarnya alternatif terakhir dan terburuk diantara semua alternatif, dalam memutuskan rantai penularan DBD.

Langkah itu bernama FOGGING..

Sebelum saya menceritakan tentang FOGGING, terlebih dahulu saya ingin berbagi tentang ciri dari nyamuk penyebab DBD.

Nyamuk Aedes Aegypti

Nyamuk penyebar DBD yaitu nyamuk Aedes aegypti dan yang mengigit manusia adalah nyamuk Aedes Aegypti betina karena membutuhkan darah agar dapat memproduksi telur.

Beberapa ciri-ciri yang khas antara lain:

  • Tubuhnya berwarna hitam dengan belang-belang putih di sekujur tubuh nyamuk;
  • Memiliki kemampuan terbang tinggi hingga 100 meter dari tempat nyamuk menetas;
  • Menghisap darah pada pagi dan sore hari;
  • Bersarang di genangan air jernih di sekitar rumah. Jadi untuk nyamuk Aedes Aegypti ini, saya menganggapnya sebagai nyamuk golongan kelas elite/golongan atas..hehehe, Mengapa? Karena dia bukan hidup di daerah genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah. Tetapi di tempat yang masuk kategori cukup bersih. Nyamuk ini lebih banyak ditemukan berkembang biak di tempat penampungan air buatan seperti bak mandi, kaleng bekas, ember dan tempat-tempat sejenis;
  • Secara umum, nyamuk Aedes aegypti menyukai tempat yang gelap dan lembab;
  • 1 nyamuk Aedes bisa menghasilkan 100-300 telur, serta telur nyamuk Aedes bisa hidup/bertahan selama 6 bulan sampai 1 tahun;
  • Nyamuk Aedes yg mengandung virus Dengue akan menghasilkan telur yang juga positif (mengandung) virus Dengue (penyebab demam berdarah);
  • 10 nyamuk Aedes positive dengue akan menghasilkan paling kurang 1000 telur positive dengue.

Mengapa FOGGING, saya katakan solusi terakhir dan terburuk?

Fogging selain biayanya mahal, tidak berpengaruh dalam memberantas jentik nyamuk. Fogging hanya mampu membunuh nyamuk dewasa, bahkan membuat nyamuk resisten atau kebal.

Dalam Jurnal Epidemiology 1992, telah diteliti mengenai hubungan antara paparan melation atau pestisida yang biasa digunakan untuk fogging dan kejadian kelainan gastrointestinal (saluran cerna).

“Ditemukan bahwa wanita hamil yang terpapar melation mempunyai risiko 2,5 kali lebih besar dari anaknya menderita kelainan saluran cerna”

Masalah lain dari paparan malation ini, mengakibatkan gagal ginjal, gangguan pada bayi baru lahir, kerusakan gen dan kromosom pada bayi dalam kandungan, kerusakan paru, dan penurunan sistem kekebalan tubuh.

Malation juga diduga mempunyai peran terhadap 28 gangguan, mulai dari gangguan gerakan sperma hingga kejadian hiperaktif pada anak.

Tidak hanya itu, masih ada bahaya penggunaan solar yang menjadi bahan pengencer malation. Hasil pembakarannya mengikat hemoglobin (Hb) dalam darah dibandingkan oksigen. “Racun hasil pembakarannya mengakibatkan radang paru-paru, penyumbatan bronchioli, serta iritasi dan produksi lendir berlebihan pada saluran napas.

“Bahaya lainnya, gangguan di perut, berupa muntah-muntah, sakit perut dan diare, serta sistem kekebalan dan keseimbangan hormon terganggu”

Dampak jangka panjang yang mungkin disebabkan oleh racun tersebut akan bersifat karsinogenik (pembentukan jaringan kanker pada tubuh), mutagenik (kerusakan genetik untuk generasi yang akan datang), teratogenik (kelahiran anak cacat dari ibu yang keracunan), dan residu sisa berbahaya bagi masyarakat. Sebab, fogging mengandung zat yang bersifat racun.

Maka, jika disemprotkan ke rumah-rumah penduduk, akan sangat berbahaya bagi seluruh anggota keluarga, terutama anak dan balita.

Pihak yang membuat bahan fogging memang telah melakukan uji keamanan, tetapi setiap warga harus tetap menyadari bahwa ada risiko yang akan ditanggung apabila terpapar bahan-bahan tersebut. Apalagi, pengasapan/fogging hanya bisa membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentiknya tidak.

Yang harus dilakukan sebelum dan sesudah penyemprotan gas fogging :

SEBELUM FOGGING 

  1. Untuk mencegah keracunan gas fogging, pastikan Anda sudah membungkus perabotan dan barang-barang di rumah yang mungkin terpapar gas fogging dengan plastik atau koran bekas;
  2. Jangan biarkan ada barang atau makanan yang terbuka di rumah, simpan semuanya ke dalam lemari;
  3. Kosongkan bak mandi atau penampungan air yang ada di rumah;
  4. Buka lebar-lebar seluruh pintu dan jendela rumah ketika penyemprotan berlangsung;
  5. Anda dan keluarga sebaiknya memakai masker dan menjauhi lokasi penyemprotan sampai gas di udara sudah berkurang, terutama bayi, balita, ibu hamil dan siapapun yang mempunyai gangguan pernapasan seperti Asma, dan lain-lain.

SETELAH FOGGING

  1. Bersihkan rumah Anda seluruhnya;
  2. Pel lantai, lap jendela dan seluruh perabotan Anda sampai tak ada sisa racun yang tertinggal di permukaan;
  3. Kuras bak mandi atau penampungan air Anda sampai bersih dan tutup rapat supaya tidak ada sisa zat yang masuk ke bak dan tercampur dalam air.

Melihat hal – hal seperti diatas, kerepotan yang ditimbulkan sebelum fogging dan setelah fogging, serta bahaya FOGGING jangka pendek dan jangka panjang, masihkah bapak/ibu dan saudara saudari mengharapkan dilakukan FOGGING di lingkungan sekitar tempat tinggal Bapak/Ibu?

Yumiati Ke Lele, SKM

Kalau di tanya ke saya, saya malas dan tak mau dilakukan Fogging. Dari pada saya repot mempersiapkan rumah sebelum dan sesudah fogging di tambah dengan memikirkan efek negatif dari Fogging,

Maka saya pribadi lebih memilih melakukan ‘PSN dengan Cara 3 M Plus’.

Karena saya sadar, Fogging yang dilakukan, hanya membunuh nyamuk dewasa. Sedangkan jentik tidak. Padahal kurang lebih 7-8 hari, setelah fogging, jentik nyamuk akan kembali berkembang menjadi nyamuk dewasa.

Jangan – jangan, jentik/telur nyamuk sudah berubah menjadi nyamuk dewasa pun, saya belum selesai membereskan rumah, efek dari Fogging.

Bagaimana dengan jentik/telur yg akan menetas jadi nyamuk?

Sekali lagi upaya untuk mencegah penyebaran DBD di masyarakat yang paling efektif adalah melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M plus.

PSN pun hendaknya rutin dilakukan minimal seminggu sekali di setiap rumah oleh pemiliknya sendiri.

Caranya adalah dengan 3M plus yaitu :

  1. Menutup tempat penampungan air;
  2. Menguras dan menyikat bak mandi;
  3. Mengubur barang bekas, seperti kaleng bekas, botol minuman, ban bekas, ataupun sampah yang memungkinkan air tergenang.

Plusnya yaitu :

  1. Gunakan bubuk larvasida seperti abate ke dalam tempat penampungan air yang sulit dikuras, seperti drum, toren, bak, atau kolam yang tidak beralaskan tanah, dengan dosis satu sendok makan untuk 100 liter air;
  2. Memelihara ikan pemakan jentik;
  3. Tidak menggantungkan pakaian;
  4. Menggunakan kawat nyamuk;
  5. Menggunakan obat nyamuk, dan memasang ovitrap;
  6. Menanam tanaman anti nyamuk disekitar rumah seperti serai, selasih, daun mint, dan lain-lain.

Bila Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dilakukan rutin oleh seluruh rumah minimal seminggu sekali, DBD bisa kita cegah bersama-sama.

Bagi masyarakat Kota Kupang, Abate selalu tersedia secara gratis di Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Puskesmas. Tidak ada salahnya bapak/ibu meluangkan waktu sedikit ke tempat tersebut untuk mengambil abate.

Selain itu, sekali lagi saya sangat merekomendasikan ke semua, agar tidak ada salahnya menanam tanaman anti nyamuk di halaman bapak/ibu. Bagi yang beralasan tidak punya halaman karena tinggal di perumahan, tanamlah dalam pot. Selain mengusir nyamuk, tanaman tersebut bisa digunakan, sebagai bumbu dapur.

Tanaman yang dimaksud seperti SERAI, DAUN MINT, SELASIH, dan lain-lain.

Kalau saya pribadi, saya bentengi keluarga saya dengan produk SAGHA SERRIES. Kami rajin balur minyak sagha, dimana salah satu kandungannya adalah serai dan juga lavender.

Pengen juga merasakan seperti kami? Bebas nyamuk, tidur nyaman, silahkan hubungi saya di :

https://api.whatsapp.com/send?phone=628113835595

#LebihBaikMencegahdaripadaMengobati

#SehatituMahaltapiJauhLebihMahalkalauSakit

 

Penulis berprofesi sebagai Petugas Surveilans Puskesmas Alak – Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur

Editor (+rony banase)

(Visited 1 times, 1 visits today)