Arsip Kategori: Kesehatan & Pola Hidup

Varian Delta Covid-19 Masuk NTT, Tiga Terpapar Satunya Anak 12 Tahun

3.087 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Varian Delta Virus Covid-19 mulai menyebar masuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kini, diketahui terdapat 3 (tiga) warga yang berdomisili di Kota Kupang yang terpapa virus varian delta tersebut. Hal tersebut diungkapkan Kepala Instalasi Patalogi Klinik RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang dr. Hermi Indita Malewa, Sp.PK saat memberikan keterangan Pers bersama Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT Dr. Marius Jelamu M.Si. di Kantor Gubernur NTT pada Rabu, 21 Juli 2021.

Kepala Instalasi Patalogi Klinik RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang dr. Hermi Indita Malewa, Sp.PK yang juga penanggung jawab laboratorium PCR RSUD Johanes Kupang mengatakan, varian delta tersebut diketahui pada sampel spesimen yang dicurigai bermutasi kemudian dikirimkan ke Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI untuk diperiksa.

“Kami sebagai laboratorium rujukan di NTT untuk pemeriksaan PCR Covid-19 memang kita ditugaskan oleh Kemenkes untuk secara berkala mengirimkan spesimen-spesimen yang dicurigai memiliki mutasi atau varian. Dari kemenkes mengeluarkan kriteria untuk kita kirimkan spesimen yang namanya Whole Genome Sequencing (WGS). Tidak semua spesimen yang positif kita kirimkan tetapi yang masuk dalam kriteria saja. Dari 310 sampel yang kami kirimkan pertama pada bulan April itu hasilnya tadi malam diinfokan oleh Balitbangkes bahwa dari 310 sampel spesimen tersebut terdapat 3 yang mengalami mutasi varian delta,” urai dr. Hermi.

Untuk tiga sampel tersebut berasal dari pasien di Kota Kupang, imbuh dr. Hermi, di antaranya seorang anak berusia 12 tahun, lansia berusia 70 tahun dan orang dewasa berusia 33 tahun. “Kami rutin setiap bulan kami kirimkan  sampel sejak bulan April dari semua sampel per kabupaten yang dicurigai bermutasi dan memang kalau dilakukan WGS ini prosesnya lama dan minimal dikirim 2 minggu,” ungkapnya.

Hermi juga menuturkan, diperkirakan akan ada tambahan varian delta dari sampel yang dikirim ke Balitbangkes Kemenkes RI mengingat jumlah sampel yang dikirim terhitung April—Juli 2021 sudah 500 sampel. “Varian delta ini sangat progresif dan cepat penularannya. Itulah mengapa kita sekarang diminta untuk vaksinasi karena vaksin terbukti sangat kelihatan sekali manfaatnya. Saat ini di RSUD W.Z. Johannes Kupang terdapat banyak tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19 namun gejalanya lebih ringan. Ini artinya manfaat vaksin ini memang sangat membantu menekan gejala Covid-19 serta penyembuhan lebih cepat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT sekaligus Juru Bucara Tim Percepatan Penanganan Covid 19 NTT Dr. Marius Jelamu M.Si mengatakan untuk masyarakat agar jangan panik, namun tetap taat protokol kesehatan serta taat melaksanakan vaksinasi.

“Kita minta agar masyarakat jangan panik dan juga tetap menjaga protokol kesehatan. Juga saya minta agar tidak mengalami stres bagi para penderita atau pasien yang terpapar. Harus lakukan vaksinasi dengan benar karena vaksin sangat membantu kita meningkatkan kekebalan tubuh terhadap paparan virus,” ujar beliau.

Pemerintah, tandas Marius harapkan masyarakat taat melakukan vaksinasi. “Pengalaman saya yang terpapar Covid-19 dan saya sudah dinyatakan negatif. Gejala yang saya alami pada saat terpapar itu tidak terlalu berat karena sebelumnya sudah divaksin dan juga melakukan isolasi mandiri dengan benar dan menjaga proses pemulihan dengan baik. Untuk yang terpapar agar jangan stres berat dan lakukan pemulihan,” tambah Marius.

Pemerintah Provinsi NTT berharap target itu seluruh 3,8 juta penduduk NTT harus divaksin, namun baru menyentuh angka 700 ribu.

“Kita sudah minta pemerintah pusat untuk tambahan vaksin,” ungkap Marius Jelamu.(*)

Sumber berita dan foto (*/Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT)

Editor (+roni banase)

Terima Vaksin AstraZeneca, Gubernur VBL Imbau Tingkatan ‘Herd Immunity’

451 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menerima vaksin jenis Astrazeneca tahap pertama bersama para pejabat Eselon II pada Rabu, 14 Juli 2021 di Kantor Gubernur NTT. Usai melakukan vaksinasi, Gubernur VBL mengimbau kepada Bupati dan Wali Kota se-NTT untuk tetap mendorong masyarakat agar segera melakukan vaksinasi untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Sebagai Gubernur, saya sangat berterima kasih kepada masyarakat NTT yang punya kesadaran bersama-sama untuk melakukan vaksinasi, karena kita saat ini mengejar _herd immunity. Sesuai arahan Bapak Presiden Jokowi untuk kita mengejar herd immunity kita semua,” ujar Gubernur VBL.

Bagi masyarakat di seluruh NTT, imbuh Gubernur VBL, vaksin juga memberikan manfaat bagi kita yakni menurunkan angka sakit dan kematian akibat Covid-19. Mendorong terbentuknya herd immunity dengan syarat minimal 70 persen masyarakat NTT telah melakukan vaksin dan meminimalkan dampak ekonomi dan sosial jika sebagian besar masyarakat sudah memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik melawan virus Covid-19, maka aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat bisa terlaksana kembali dengan normal.

“Kita harapkan seluruh Pemerintah Kabupaten dan Kota bersama TNI dan Polri untuk bergerak membantu agar masyarakat kita dapat melakukan vaksinasi secara keseluruhan dan lancar,” ujar VBL.

Gubernur VBL menambahkan, memang dalam proses pelaksanaan vaksinasi secara massal seperti di Kejaksaan tinggi dan Poltekkes Kemenkes Kupang, pasti kerumunan tidak dapat dihindarkan karena masyarakat berbondong-bondong untuk antre.

“Kita semua harus tetap tertib dan teratur melaksanakan vaksinasi sebagaimana target utama kita adalah semua anggota masyarakat harus divaksin. Oleh sebab itu, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar vaksin-vaksin dapat dikirim terus sehingga kita semua dapat terlayani dengan baik,” jelas VBL.

Nanti di bulan Desember, tandas Gubernur VBL, kita sudah tidak lagi menggunakan masker, tentunya dengan memastikan kalau kita semua telah divaksin. Kita lihat kemarin di Eropa semua penonton sepakbola bola menyaksikan pertandingan di stadion tanpa masker dan itu menunjukkan kalau herd immunity mereka sudah hampir mencapai 100 persen melalui vaksinasi. (*)

Sumber berita dan foto (*/biro administrasi pimpinan setda ntt)

Editor (+roni banase)

Manajemen RSUD Gabriel Manek Sesalkan Sikap Arogansi PMKRI Belu

2.432 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | “Kami, rumah sakit siap menerima keluhan apa pun dari pelanggan yang menerima pelayanan. Tapi, kita harus datang dengan sopan, baik – baik, tidak usah nada tinggi untuk menyelesaikan persoalan. Apalagi, ini ‘kan bawa nama organisasi (PMKRI,red.), alangkah baiknya bersurat,” ungkap Direktris Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mgr Gabriel Manek, SVD Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dr. Batsheba Elena Corputty, MARS dengan nada sesal ketika dikonfirmasi wartawan pada Sabtu sore, 24 April 2021.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/04/23/diduga-bocah-28-tahun-jadi-korban-malpraktik-rsud-gabriel-manek/

Direktris Elena Corputty menjelaskan, setelah adanya dugaan malpraktik terhadap pasien bocah Gamaliel Salomo Pobas yang terjadi pada Kamis, 15 April 2021, dirinya dicari tiga kali oleh Ketua PMKRI Cabang Belu bersama sejumlah anggota pada Jumat, 16 April; Senin,19 April; dan Selasa, 20 April 2021.

Pada saat itu, Elena Corputty mengaku, pada tiga hari berbeda itu, dirinya sedang menghantar donasi ke Malaka, rapat internal di Ruang Direktris dan mengikuti Musrenbang RKPD di GOR L.A Bone Atambua. “Secara struktur, kalau saya tidak ada, bisa ketemu KTU atau kabid. Saat mereka bertemu ibu KTU, mereka paksa untuk telepon saya. Akhirnya saya ditelepon, tapi saya tidak angkat karena bapak wakil sementara bicara. Mereka terus memaksa untuk kasih kepastian kegiatan di GOR selesai jam berapa. Mereka bilang, kalau tidak bertemu saya jam 12, maka mereka akan datang lagi dengan jumlah yang lebih banyak dan melakukan tindakan anarkis,” cerita Direktris Elena Corputty.

Bahkan, lanjut Elena Corputty, di hadapan KTU, anggota PMKRI mengancam akan merusak fasilitas RSUD apabila keinginan untuk bertemu direktris tidak terpenuhi. “Ibu KTU telepon beritahu saya. Kalau ada ancaman seperti itu, kita lapor polisi. Setelah dilaporkan, polisi kasih nomor kontak dan berpesan, kalau mereka anarkis segera kontak,” ujar Elena Corputty.

Pada hari yang sama,  sekembalinya Elena Corputty dari GOR, pertemuan pun digelar sekitar pukul 13.00 WITA, dengan diawasi secara ketat oleh tenaga sekuriti RSUD. “Mereka bilang, kami sudah tunggu 20 menit, kami tidak dihargai. Omongnya juga dengan nada tinggi. Mereka tanya saya tentang manajemen pelayanan, saya sampaikan. Dokter Mega juga menjelaskan. Tim kerja yang hadir saat itu mau menjelaskan, tapi mereka bilang ‘lu siapa?’, lu diam! Ngomongnya tidak sopan. Saya bilang kalau datang di orang punya rumah omong baik – baik, tidak usah pakai nada tinggi. Malah mereka bilang, ini bukan rumah pribadinya direktur. Saya bilang, memang ini bukan rumah pribadi direktur, tapi kami yang bekerja di sini merasa, ini rumah kami. Ngomongnya kasar, pakai tunjuk – tunjuk. Itu, Okto yang jawab – jawab saya. Mereka tidak menghargai orang tua bicara, sekuriti sudah tahan – tahan dari awal. Sekuriti tidak terima, makanya sekuriti banting kursi. Itu yang mereka bilang diintimidasi,” aku Elena Corputty.

Kepala bidang Pelayanan, Sipri Mali juga menjelaskan, pada Jumat 16 April 2021, dirinya yang menerima Ketua PMKRI, Okto Tefa dan dua anggota di ruang kerjanya. Saat itu, Sipri Mali merasa lucu saat mendengarkan penyampaian Ketua PMKRI terkait kondisi telinga bocah Gamaliel Pobas. “Saya tertawa karena pak Okto bilang, setelah orang tua bawa anaknya periksa di Sito Husada, dokter senter dari sebelah tembus di sebelah, lihat ada batu di dalam. Saya tertawa, ada ilmu baru. Saya bilang pak Okto, saya bukan dokter, tapi saya tanya dulu dokter di sini. Apa benar senter telinga bisa tembus? Saat itu Okto langsung diam,” kisahnya.

Ketika ditanya Okto, kenapa dokter tidak merawat – inapkan bocah Gamaliel?, cerita lanjut Sipri Mali, alasannya ada dua kemungkinan, dokter memberikan resep obat untuk rawat jalan dan dokter memikirkan risiko terjelek bagi anak di masa Covid.

Selanjutnya, sesuai salinan klarifikasi yang diterima wartawan, dr. Mega menguraikan, pasien anak atas nama Gamaliel Salomo Pobas yang mengeluh sakit telinga, dihantar orang tuanya ke IGD RSUD Atambua, pada Kamis malam, 15 April 2021, tepat pukul 21.30 WITA. Orang tuanya sudah memeriksa menggunakan senter di rumah dan melihat seperti ada batu di kedua liang telinga.

Sesuai prosedur, dua perawat mengukur tanda – tanda vital pasien, laju denyut nadi 115 kali per menit, laju pernapasan 24 kali per menit, suhu aksila 36,7 derajat Celsius, saturasi oksigen 94,4 dan berat badan 10 kg. Perawat mulai memeriksa bocah itu di Ruang Triase, menemukan cairan minyak yang dioles orang tuanya semasih di rumah, bukan batu seperti yang disampaikan orang tua pasien.

Pemeriksaan dilanjutkan oleh dr. Mega yang bertugas jaga IGD malam itu dengan menggunakan alat periksa telinga (otoskop), setelah terima laporan dari kedua perawat. Pasien diperiksa dalam keadaan digendong ayahnya. Hasilnya, tidak ditemukan batu; membran timpani utuh; dinding telinga tampak merah (iritasi); dan sisa minyak di ujung corong otoskop. Dokter Mega melihat ada infeksi sehingga menulis resep obat tetes dan diserahkan ke orang tua pasien untuk membeli di apotek.

Akan tetapi, orang tua pasien yang melihat telinga anaknya telah berdarah, menuduh dr. Mega telah melukai telinga anak itu dengan memasukkan otoskop, yang disebut orang tua bocah itu sebagai jarum.

Mega dan kedua perawat berusaha meyakinkan orang tua pasien sembari menunjukkan otoskop, bahwa alat itu terbuat dari plastik, bukan benda tajam sehingga tidak mungkin melukai telinga anak. Orang tua pasien tidak mau terima penjelasan, marah – marah dan akhirnya ditinggalkan dr. Mega untuk periksa pasien gawat lain di IGD.

Seorang perawat pria yang datang untuk memeriksa ulang dengan otoskop dan membersihkan darah di telinga pun tetap tidak diizinkan orang tua pasien. Bahkan, orang tua pasien mengancam akan melapor. Perawat pria itu pun mempersilakan, jika berniat melapor sembari berkata, “kalau bapak mau lapor, silakan lapor sekarang, jangan tunggu sampai besok!”.

Ancaman melapor itu pun diungkapkan ibu pasien sambil menunjuk ke arah dokter lain yang berada di ruangan IGD itu. Diajak berulang – ulang untuk tenang oleh petugas malam itu dan dibantu sekuriti agar anak itu dibawa masuk lagi ke Ruang Triase untuk pemeriksaan lanjut, tetapi ditolak.

“Kami tidak mau lagi di sini, kami mau ke RS Sito Husada. Kalau andainya di Sito ditemukan batu, kami mau tuntut. Perawat baju biru itu bodoh!” ujar Ibu bocah Gamaliel Salomo Pobas. (*)

Penulis + foto: (*/ Herminus Halek)

Diduga, Bocah 2,8 Tahun Jadi Korban Malpraktik RSUD Gabriel Manek

2.005 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Bocah berumur 2,8 tahun Gamaliel Pobas berdomisi di Kompleks Kuburan China, Kelurahan Fatukbot, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); diduga menjadi korban malpraktik dr. Mega dan dua perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mgr. Gabriel Manek Atambua, pada Kamis malam, 15 April 2021, sekitar pukul 21.20 WITA. Demikian diutarakan perwakilan organisasi PMKRI Cabang Kabupaten Belu di Ruang Kerja Ketua DPRD Belu, Jeremias Manek Seran Junior, pada Kamis siang, 22 April 2021.

Berdasarkan kronologis kejadian yang menimpa bocah nahas sebagaimana dibacakan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama sejumlah anggota DPRD lintas fraksi itu, bahwa pada Kamis malam, 15 April 2021 sekitar pukul 21.20 WITA, bocah Gamaliel merintih sakit pada telinga bagian kanan. Karena itu, orang tuanya bergegas membawanya ke RSUD Atambua guna pemeriksaan dan pengobatan oleh petugas medis.

Setibanya di Ruang IGD, bocah malang itu diperiksa dr. Mega dan dua perawat yang saat itu sedang bertugas dengan  menggunakan alat Autoskop. Alat itu, kemudian ditekan keras oleh dr. Mega ke dalam kedua telinga bocah itu hingga menyebabkan si bocah menangis histeris kesakitan. Usai memeriksa bocah tersebut, dr Mega mendiagnosis mengalami peradangan/ infeksi pada liang telinga. Dokter Mega lantas memberi resep kepada orang tua bocah itu untuk membeli obat di apotek. Di saat hendak membeli obat, si bocah malah menangis sejadi – jadinya lantaran telinga kiri tampak telah  berdarah.

Ayah si bocah tampak tak puas melihat kondisi anaknya itu, lalu komplain ke dr. Mega dan dua perawat itu. Namun, jawaban  yang diterima malah membuat ayah bocah itu mendadak naik pitam. Saat itu, dr. Mega berkilah, alat Autoskop terbuat dari bahan karet sehingga tidak mungkin melukai liang telinga si bocah.

Orang tua si bocah lantas membawa anaknya ke Rumah Sakit Sito Husada yang jaraknya tidak jauh dari RSUD Mgr Gabriel Manek untuk dilakukan pemeriksaan. Ketika hendak meninggalkan ruang IGD menuju Sito Husada, terdengar suara teriakan oleh salah satu perawat pria bernada mengancam dan mengusir. “Keluar dari sini! Bapak mau melapor di mana, silakan!”.

Ketika diperiksa dengan menggunakan senter di RS Sito Husada, petugas menemukan semacam benda keras di dalam telinga kanan. Sedangkan, telinga kiri tidak sempat diperiksa karena sedang berdarah. Lalu, petugas menyarankan kembali ke dr. spesialis anak atau poli umum RSUD karena Sito Husada tidak tersedia alat periksa telinga. Tetapi, si bocah dan kedua orang tuanya memilih kembali ke rumah.

Ketua DPRD bersama anggota DPRD lintas fraksi saat RDP dugaan malpraktik oleh oknum dokter RSUD Gabriel Manek Atambua

Keesokan harinya, Jumat sore, 16 April 2021 pukul 16.00 WITA,  bocah Gamaliel dibawa orang tuanya ke RS Tentara. dr. Basri yang saat itu memeriksa bocah Gamaliel dengan alat Autoskop, menemukan gumpalan kotoran telinga yang sudah membatu pada telinga kanan. Sedangkan, pada telinga kiri, ditemukan gumpalan darah yang sudah mengering.

Basri menyarankan si bocah nahas itu untuk dibawa orang tuanya ke dr. spesialis THT di Kupang karena RS Tentara hanya menyediakan obat penghancur kotoran membatu dalam telinga, tetapi tidak memiliki alat penyedot kotoran telinga. dr. Basri juga mengungkapkan bahwa penggunaan Autoskop yang benar adalah cukup disenter dari luar untuk mengecek isi liang telinga, dan tidak untuk dimasukkan ke dalam telinga karena gendang telinga sangat lunak dan rawan terluka apabila ditusuk dengan menggunakan alat Autoskop. Dan saat ini, bocah Gamaliel sedang berada di Kupang bersama orang tuanya sesuai anjuran dr. Basri.

Berkaitan dengan dampak buruk yang timbul akibat adanya dugaan malpraktik tersebut, PMKRI Cabang Belu meminta anggota DPRD untuk segera menghadirkan pihak RSUD Mgr. Atambua guna memberikan klarifikasi sekaligus mempertanggungjawabkan kelalaian profesionalitas petugas medis, terutama dr. Mega, kedua perawat  yang memeriksa bocah Gamaliel dan seorang perawat pria yang mengusir.

Ketua DPRD bersama anggota DPRD lintas fraksi yang hadir dalam RDP itu tampak geram dan menanggapi secara serius terhadap persoalan ini, karena buruknya pelayanan RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua sudah terjadi berulang – ulang. Bahkan, salah satu anggota DPRD Belu Eduardus Mauboy sendiri pernah mengalami langsung pelayanan serupa yang tidak profesional.

Tindak lanjut anggota DPRD Belu terhadap  pengaduan PMKRI tersebut, disepakati bersama dalam forum untuk menunggu kembalinya si bocah Gamaliel Pobas bersama orang tuanya dari Kupang sekaligus memastikan hasil pemeriksaan terbaru.

Selain itu, tuntutan PMKRI untuk segera dihadirkan pihak RSUD Atambua itu belum bisa langsung dieksekusi, lantaran bertepatan dengan kesibukan persiapan pelantikan Bupati/ Wakil Bupati Belu terpilih yang akan dihelat di Kupang, pada Senin, 26 April 2021 dan dilanjutkan dengan acara penjemputan serta acara serah terima jabatan dari penjabat Bupati Belu Zakarias Moruk, M.M. kepada Bupati/ Wakil Bupati terlantik Agustinus Taolin – Aloysius Hale Serens di Ruang Sidang utama DPRD Belu, pada Selasa, 27 April 2021. (*)

Penulis + foto: (*/ Herminus Halek)

Foto utama oleh shutterstock

Alat Tes Covid Genose Tiba di Kupang, Uji Perdana di Pasar Kasih Naikoten

284 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Genose 19 merupakan alat test deteksi dini Covid-19 melalui embusan nafas yang dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada. Cara menggunakan Genose sangat mudah, seseorang diimbau untuk tidak merokok dan puasa selama setengah atau satu jam sebelum test dilakukan. kemudian seseorang hanya menghembuskan napas ke kantong sekali pakai untuk kemudian dianalisis oleh alat ini, rata-rata prosesnya hanya 3 menit.

Wali Kota Kupang, Doktor Jefri Riwu Kore  memantau langsung uji coba perdana alat tes cepat Covid-19 yakni Genose C19 yang  berlangsung di Pasar Kasih Naikoten I, pada Kamis, 1 April 2021 oleh para petugas dari Dinas Kesehatan Kota Kupang. Dalam pemantauan tersebut, Wali Kota Jefri didampingi Kadis Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati, M.Si,  Kepala Puskesmas Bakunase, drg. Dian Sukmawati Arkiang, Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kota Kupang, Ernest S. Ludji, S.STP, M.Si. serta Lurah Naikoten I, BudI Imanuel Izaac, S.H.

Warga dan pengunjung Pasar Kasih Naikoten saat mencoba alat tes Covid, Genose

Kepada para pedagang dan pengunjung Pasar Kasih Naikoten, Wali Kota Jefri  mengimbau untuk melakukan tes dengan menggunakan Genose, guna memastikan kondisi kesehatan mereka. Jika hasil tes reaktif maka warga bersangkutan akan langsung diberikan obat dan vitamin, serta bisa langsung dievakuasi ke pusat kesehatan terdekat maupun rumah sakit. Dinas Kesehatan pun telah menyiapkan mobil ambulans di lokasi tes untuk kebutuhan evakuasi tersebut.

Wali Kota Jefri berharap dengan adanya alat yang sederhana ini masyarakat tidak perlu takut  akan biaya pemeriksaan dan juga proses pemeriksaannya karena lebih mudah dan tidak seperti tes antigen. Maka, kepada Dinas Kesehatan, ia meminta untuk memperluas akses di semua tempat pelayanan kesehatan, supaya mudah dijangkau masyarakat dan proses sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat bisa dilakukan via kelurahan setempat.

Tampak para pedagang dan pengunjung di Pasar Kasih Naikoten cukup antusias untuk mencoba metode tes dengan alat Genose 19 yang disiapkan petugas kesehatan di pos informasi pasar tersebut. (*)

Sumber berita dan foto (*/PKP_ans)

Editor (+roni banase)

Dr. Ragu : Tak Ada Kejadian Pasca-Imunisasi Covid-19 di Poltekkes Kemenkes Kupang

209 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pos pelayanan Vaksinasi Covid-19 dari Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Kupang dengan 4 (empat) pos layanan di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kupang, Keperawatan Gigi, Keperawatan Kupang, dan Kebidanan telah melaksanakan Vaksinasi Covid-19 Tahap I dan II bagi petugas pelayanan publik di wilayah Kota Kupang.

Baca juga: https://gardaindonesia.id/2021/03/12/inisiasi-gubernur-ntt-ratusan-pekerja-media-dapat-vaksinasi-covid-19/

Demikian disampaikan oleh Direktur Poltekkes Kemenkes Kupang, Dr. Ragu Harming Kristina, SKM., M.Kes. saat diwawancarai oleh awak media di sela-sela Vaksinasi Covid-19 Tahap II bagi Pekerja Media pada Jumat siang, 26 Maret 2021 di ruang Prodi Gigi.

Sejak awal Vaksinasi Covid-19 Tahap I bagi petugas pelayanan publik pada 4 Maret 2021 hingga selesai, ungkap Doktor Ragu, dijangkau 2.639 orang divaksin. “Jumlah tersebut tersebar di empat pos pelayanan Vaksinasi Covid-19 Poltekkes Kemenkes Kupang,” urainya seraya menyampaikan vaksinasi tersebut khusus bagi petugas pelayanan publik termasuk Pekerja Media atau Wartawan.

Selanjutnya 14 hari setelah Vaksinasi Tahap I, imbuh Doktor Ragu, pada Vaksinasi Covid-19 Tahap II pada Jumat, 26 Maret 2021, kemudian masuk data Vaksinasi Tahap I. “Ada kemungkinan, jumlah yang divaksin meningkat menjadi 2.800 orang,” terangnya.

Direktur Poltekkes Kemenkes Kupang, Dr. Ragu Harming Kristina, SKM, M.Kes.(kanan) saat diwawancarai Reporter RRI, Alo Tani

Terkait apakah terdapat kejadian pasca-diimunisasi (Kipi), saat dikonfirmasi oleh Reporter RRI, Alo Tani, Istri dari Pengacara Kondang NTT, Lorens Mega Man ini pun mengungkap bahwa nihil kondisi. “Kipi tidak ada (nol), toh kalau ada hanya berupa ketakutan atau gemetar dingin saat hendak divaksin, namun berangsur membaik usai diberi minyak dan sebagainya,” ungkapnya.

Tahap berikutnya, imbuh Doktor Ragu Kristina diperuntukkan bagi masyarakat umum dan direncanakan dibuka lagi 1 (satu) pos pelayanan Vaksinasi Covid-19. “Kami tetap mendukung Dinas Kesehatan Provinsi NTT untuk memvaksinasi masyarakat umum. Kami menunggu instruksi dari Bapak Kadis Kesehatan dan siap membantu pemerintah,” tegasnya.

Selama pelaksanaan vaksinasi, tandas Dr. Ragu, telah berjalan dengan baik dan menyampaikan terima kasih kepada masyarakat, bahkan ada yang bertanya kapan mereka memperoleh Vaksinasi Covid-19.

Penulis, editor, dan foto (+roni banase)

Hermanus Man Salut Antusiasme Ratusan Lansia Penerima Vaksin Covid-19

294 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Sejak pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 tahap kedua yang diperuntukkan bagi warga lanjut usia dan pelayanan publik di Kota Kupang, Wakil Wali Kota Kupang, dokter Hermanus Man terus melakukan pemantauan jalannya proses vaksinasi baik di puskesmas-puskesmas dan tempat pelayanan publik lainnya.

Pada Senin dan Selasa, 15—16 Maret 2021, dr. Herman Man menyambangi Puskesmas Sikumana dan Puskesmas Bakunase untuk memantau langsung jalannya kegiatan vaksinasi Covid-19 bagi lansia di kedua lokasi tersebut. Saat memantau pelaksanaan vaksinasi massal untuk lansia di Puskesmas Sikumana pada Senin, 15 Maret 2021, tampak antusiasme warga yang hadir sejak pukul 08.00 WITA  mengikuti proses vaksinasi yang digelar di Puskesmas tersebut.

Didampingi Sekretaris Camat Maulafa, Norbertus Noto, beberapa Lurah se-Kecamatan Maulafa dan Kepala Puskesmas Sikumana dr. Maria Ivonny Dondao Rai, dokter Herman Man mengungkapkan apresiasinya atas antusiasme warga dalam mengikuti program vaksinasi Covid-19 dari pemerintah. “Saya senang melihat proses vaksinasi di Puskesmas Sikumana hari ini, berjalan sangat baik dan penuh dengan antusiasme masyarakat,” ujarnya.

Seraya menyapa beberapa warga lansia yang sedang dalam antrean, dokter Herman Man menegaskan bahwa antusias masyarakat mengikuti Vaksinasi Covid-19 ini seolah memberi pesan pada kita semua bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebagaimana informasi-informasi yang tidak bertanggung jawab yang beredar di tengah masyarakat beberapa waktu lalu.

“Ini pertanda bahwa kita akan mampu menang melawan Covid-19,” terang dokter Herman Man.

Selain itu, dokter Herman Man juga memantau prosedur isolasi mandiri oleh puskesmas dengan koordinasi satgas Covid-19 Kota Kupang, camat dan lurah yang diakuinya telah berjalan dengan baik dari sisi pendekatan dan penerapan protokol kesehatan.

Wakil Wali Kota Kupang, dr. Hermanus Man bersama Lansia Penerima Vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Sikumana

Kepala Puskesmas Sikumana dr. Maria Ivonny Dondao Rai, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa jadwal Pelayanan Vaksinasi dilakukan  Setiap hari,  mulai pukul 09.00—11.30 WITA. Stok vaksin yang tersedia untuk Puskesmas Sikumana total berjumlah 51 multi-dose bagi lansia. Selain itu, jumlah OTG yang menjalani isolasi mandiri yaitu sebanyak 51 orang.

Dari pantauan yang dilakukan, untuk Puskesmas Sikumana vaksinasi yang ditargetkan berjumlah 4.593 orang, sesuai daftar nama yang sudah diverifikasi, dengan perincian jumlah per kelurahan; Kelurahan Naikolan 698 orang, Sikumana 1.301 orang, Oepura 1.382 orang, Kolhua 655 orang, Fatukoa 304 orang dan Kelurahan Belo 253 orang. Sementara yang telah melakukan vaksin sebanyak 171 orang terdiri dari lansia dan pelayanan publik.

Antusiasme warga lansia penerima vaksin Covid-19 juga tampak di Puskesmas Bakunase, ketika dokter Herman Man  berkunjung pada Selasa, 16 Maret 2021 untuk memantau jalannya proses vaksinasi di puskesmas tersebut. Menemui para warga lansia yang sementara tertib dalam antrean, ia menyapa sekaligus memberikan dukungan dan berpesan agar rileks dan tidak tegang petugas menyuntikkan vaksin.

Didampingi Camat Kota Raja, Rudi Abubakar dan Lurah se-kecamatan Kota Raja serta Kepala UPTD Puskesmas Bakunase, drg. Dian Sukmawati Arkiang, dokter Herman Man mengapresiasi antusiasme para lansia yang hadir untuk menerima vaksin di Puskesmas Bakunase. “Saya senang melihat banyaknya warga yang bersedia dan antusias vaksin. Patut diapresiasi banyak warga lansia datang vaksinasi. Saya berharap agar lebih banyak warga Kota Kupang berusia lansia yang belum untuk tidak takut dan datang untuk divaksin,” tuturnya.

Kepada para RT/RW, tenaga kesehatan, para Lurah, Camat juga TNI dan Polri di Kecamatan Kota Raja, dokter Herman Man mengingatkan untuk selalu berkoordinasi dan tetap semangat dalam penanganan Covid-19 di Kota Kupang. Ia pun mengonfirmasi kondisi terkini kasus Covid-19 kepada para lurah di setiap kelurahan yang hadir termasuk situasi lapangan kepada tenaga kesehatan 3T.

Dokter Hermanus Man berdialog dengan Vaksinator Covid-19

Dokter Herman Man mengingatkan kepada para tenaga kesehatan 3T untuk selalu berkoordinasi dengan para lurah serta camat dan kepala UPTD Puskesmas Bakunase agar selalu update setiap informasi terkini. Koordinasi juga terus dilakukan terkait pemantauan dan pengawasan terhadap pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri, baik kepada tenaga kesehatan 3T, Kepala UPTD Puskesmas Bakunase, Camat, para Lurah dan Babinkantibmas.

George Aleks Saununu, warga lanjut usia yang baru saja menerima vaksin, ketika dimintai pernyataannya terkait program vaksinasi covid-19 turut menyampaikan dukungannya kepada pemerintah. “Kita perlu menjunjung tinggi program pemerintah dan ini juga untuk kepentingan kesehatan saya dan orang lain di lingkungan sekitar saya. Untuk itu saya juga berharap agar semua orang mau dan dapat divaksin. Harapan kami sebagai warga, semua komponen terutama pemerintah serius dalam penanganan Covid-19 agar semua cepat normal kembali dan perekonomian pulih,” urainya.

Sementara Olin Mboik, tenaga kesehatan yang bertugas memvaksin para warga di UPTD Puskesmas Bakunase menilai bahwa sejak hari pertama vaksinasi tahap 2 banyak warga lansia yang antusias untuk menerima vaksinasi di Puskesmas Bakunase. Dari data yang ada, terhitung sejak 3 Maret lalu hingga saat ini, di wilayah pelayanan UPTD Puskesmas Bakunase sudah lebih dari seratus orang warga lanjut usia yang menerima vaksin.

“Kami juga selalu berkoordinasi dengan para RT/RW serta lurah dan TNI/POLRI untuk mengimbau warga lanjut usia untuk tidak takut untuk divaksin, karena vaksin ini telah terbukti halal, aman dan teruji secara klinis,” tuturnya.

Untuk termin pertama yang sudah dilaksanakan sejak tanggal 6 Maret 2021, di UPTD Puskesmas Bakunase ditargetkan sebanyak 527 orang yang terdiri dari 400 orang lansia dan 127 petugas pelayanan publik termasuk di dalamnya para tenaga kesehatan, para Camat dan Lurah se-Kota Kupang dan bagi pedagang.

Hingga saat ini, sudah 163 orang lansia yang sudah menerima vaksin. Selanjutnya akan menerima vaksin termin kedua terhitung 28 hari setelah menerima vaksin termin pertama. Adapun jadwal pelayanan Vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Bakunase, dilakukan setiap hari pada pukul 09.00—13.00 WITA, kecuali hari Minggu dan hari libur. (*)

Sumber berita dan foto (*/PKP_ghe/nyg/jms)

Editor (+roni banase)

Tumpas Covid-19, Rumah Sakit Tentara Atambua Vaksinasi Anggota TNI AD

279 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Guna mempercepat pelaksanaan vaksinasi  menumpas Covid-19, Rumah Sakit Tk. IV Atambua, Kelurahan Beirafu, Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menghelat vaksinasi jenis Sinovac tahap ke–2 untuk 75—80 personil TNI AD, pada Jumat, 12 Maret 2021; dipimpin langsung oleh Letda Ckm dr. Basri Manurung dan didampingi oleh Letda Ckm dr. Maulana Akbar.

Pgs. Kepala Rumah Sakit Tk. IV Atambua, Lettu Ckm drg. Malik Handro Agam menjelaskan, bahwa pelaksanaan kegiatan vaksinasi jenis Sinovac tahap ke–2 untuk  pelayanan publik itu ditargetkan minimal per hari memberi vaksin kepada 75—80  anggota TNI AD. “Apabila waktu yang kita tentukan ini sudah terlaksana dan masih ada waktu sisa, maka kita akan tambahkan. Pimpinan pusat juga diminta untuk mendukung pemerintah daerah, terutama agar mempercepat pelaksanaan vaksin di wilayah masing-masing,” ungkapnya.

Pelaksanaan vaksin jenis Sinovac tahap ke – 2 tersebut, kata Handro Agam, ditargetkan kepada para Babinsa lantaran mereka itulah yang lebih banyak kontak dengan masyarakat di daerah – daerah pelosok. “Jadi kita segera menertibkan Babinsanya. Tapi kalau untuk pembagiannya, yang divaksin itu dari Kodim, Kompi Kavaleri, Satgas Pamtas RI – RDTL dan Subdenpom. Jadi, kita vaksin militer yang terdata dalam 4 satuan, tapi yang kita utamakan adalah Babinsanya. Dalam waktu 2 sampai 3 hari itu, kita habiskan dulu militernya,” tandas Agam.

Pgs. Kepala Rumah Sakit Tk. IV Atambua, Lettu Ckm drg. Malik Handro Agam (kanan) didampingi Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, Ir. Florianus Nahak, Msi saat memberikan keterangan pers

Dirinya berharap, setiap personil yang sudah divaksin tetap menaati protokol kesehatan (3 M dan 3 T), sesuai anjuran pemerintah. “Kita juga sudah mempersiapkan dari penanganan awal sampai dengan kita bawa ke IGD, apabila kita bisa menangani. Kita juga sudah buat jalur untuk masuk ke RSUD. Jadi, apabila terjadi tahapan-tahapannya, kita dari pelayan publik ini sudah siap untuk menanganinya” tuturnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, Ir. Florianus Nahak, Msi., Kabid P2P Dinas Kesehatan Kabupten Belu, Rosa Gaudensiana Asa, SKM., personil yang menerima Vaksin, dan Insan Pers.

Adapun data pelaksanaan kegiatan Vaksinasi, antara lain: anggota Kodim 1605/Belu 35 orang, Subdenpom Atambua 4 orang, Satgas Pamtas Sektor Timur Yonif 742/SWY  2 orang, Kikav KKA 19 orang, dan anggota Yonif RK 744/SYB 25 orang.

Sementara, tahapan Vaksinasi Covid – 19 jenis Sinovac, antara lain tahap I, pendaftaran terhadap anggota TNI yang akan melaksanakan Vaksin Covid-19 jenis Sinovac, tahap II, skrining, tahap III, pemberian Vaksin, tahap IV, input data dan observasi dan tahap V, peserta menunggu selama 30 menit di ruang observasi untuk mengetahui efek vaksinasi.

Anggota TNI AD saat divaksinasi Covid-19

Adapun total jumlah peserta yang mengikuti Vaksin Covid-19 jenis Sinovac adalah 89 orang dan yang memenuhi syarat dan layak divaksin sebanyak 82 orang. Vaksin yang siapkan oleh Rumah Sakit Tentara Atambua, berjumlah 10 vial, dan 9 vial habis terpakai.

Anggota TNI AD yang tidak menerima Vaksin Covid-19 jenis Sinovac karena penyakit  bawaan dan ditolak sistem yakni Kapten Inf. Jermi Mamengko, Kapten Inf. I Nyoman Swastika, Pelda Augusto Zubeidi Hornai Goncalves, Serka Kristianus Nesi, Sertu Yusuf Ratu, Sertu Yoksan Remli Bising, Sertu Fransiskus Xaverius, Serka Marcos Da Costa, Pelda Sapon, dan Serda Yohanis Misa.

Ketentuan bagi yang tidak boleh menerima Vaksin Covid-19, sebagai berikut :

  1. Pernah terkonfirmasi menderita COVID-19;
  2. Sedang hamil atau menyusui;
  3. Mengalami gejala ISPA seperti batuk/ pilek/ sesak napas dalam 7 hari terakhir;
  4. Anggota keluarga serumah yang kontak erat/ suspek/ konfirmasi/ sedang dalam perawatan karena penyakit Covid-19;
  5. Memiliki riwayat alergi berat atau mengalami gejala sesak napas, bengkak dan kemerahan setelah divaksinasi Covid – 19 sebelumnya;
  6. Mendapatkan terapi aktif jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah;
  7. Menderita penyakit jantung (gagal jantung/ penyakit jantung coroner);
  8. Menderita penyakit Autoimun Sistemik (SLE/ Lupus, Sjogren, vaskulitis, dan autoimun lainnya);
  9. Menderita penyakit ginjal (penyakit ginjal kronis/ sedang menjalani hemodialysis/ dialysis peritoneal/ transplantasi ginjal/ sindroma nefrotik dengan kortikosteroid);
  10. Menderita penyakit Reumatik Autoimun/ Rhematoid Arthritis;
  11. Menderita penyakit saluran pencernaan kronis;
  12. Menderita penyakit Hipertiroid/ hipotiroid karena autoimun.
  13. Menderita penyakit kanker, kelainan darah, imunokompromais/defisiensi imun, dan penerima produk darah/transfusi;
  14. Menderita penyakit diabetes melitus dan menderita HIV;
  15. Memiliki penyakit paru (asma, PPOK, TBC). (*)

Penulis + foto: (*/Herminus Halek)