Arsip Kategori: Kesehatan & Pola Hidup

Gubernur VBL : Mulai Hari Ini, Gratis ‘Swab dan Rapid Test’ bagi Masyarakat NTT

4.255 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Saya hitung mulai hari ini, masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang akan melakukan perjalanan ke Jakarta atau ke mana pun, apalagi Desember nanti, anak-anak yang akan berangkat sekolah ke luar NTT, tidak lagi dibebani dengan swab atau rapid test dengan anggaran-anggaran seperti itu,” ujar Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL).

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/10/08/per-8-oktober-2020-pemprov-ntt-sesuaikan-tarif-swab-900-ribu-rupiah/

Pernyataan VBL tersebut disampaikannya saat Launching Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kerja sama Pemerintah Provinsi NTT, Universitas Nusa Cendana, dan Forum Academia NTT) yang dilaksanakan di Klinik Undana Naikoten I pada Jumat, 16 Oktober 2020.

Gubernur VBL pun mengungkapkan telah menandatangani Pergub pada Kamis, 15 Oktober 2020. “Mulai berlaku pada hari ini (Jumat, 16 Oktober 2020), swab dan rapid test berlaku gratis bagi semua masyarakat Nusa Tenggara Timur,” tegasnya di hadapan Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi; Pjs. Bupati Malaka, dr. Meserasi Ataupah; Rektor Undana Kupang, Prof, Ir. Fredrik Benu, M.Si. Ph.D. Direktur RSUD Prof. W. Z. Johannes Kupang, dan undangan lainnya.

Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Undana, tandas VBL, untuk kesehatan masyarakat telah diresmikan dan ini tentunya sangat membantu dalam peningkatan pelayanan kesehatan.

Foto bersama Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dengan Forum Academia NTT, dan Mahasiswa Kedokteran Undana tingkat akhir

Sementara itu, dilansir dari siaran pers dari Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Rektor Universitas Nusa Cendana Prof. Ir. Fredrik Benu, M. Si., Ph. D memberikan apresiasi pada Pemprov NTT yang ikut membantu adanya laboratorium tersebut. “Saya apresiasi yang sangat besar pada kepemimpinan Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur yang berkenan untuk mendorong adanya Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat di Provinsi ini, kerja sama dengan pihak Kampus Undana dan juga atas inisiasi dari adik-adik di Forum Academia NTT,” urai Prof. Fredrik

Forum Academia NTT (FAN) melalui dr. Fima Inabuy menjelaskan, Laboratorium tersebut dinamakan Laboratorium Kesehatan Masyarakat karena tujuan laboratorium ini bukan untuk diagnosa atau mengobati tetapi menjaga masyarakat tetap sehat melalui upaya surveilance yang berbasis biomolekuler.

“Artinya kita menggunakan PCR untuk menentukan strategi-strategi pencegahan penularan penyakit. Dan dalam konteks pandemi Covid-19 agenda dari laboratorium ini adalah melakukan pool test yakni screenning massal, untuk mendeteksi kelompok mana yang orangnya terinfeksi dan kelompok mana yang belum,” ungkapnya.

“Rencana skema kerja sama kami dengan agenda pool test pada kelompok-kelompok pelaku perjalanan dan tenaga-tenaga kesehatan. Namun menanggapi akumulasi sampel di RSUD W.Z. Johannes saat ini yang sudah mencapai lebih dari 3.000 sampel, maka tentu kami membantu dahulu di RSUD W. Z. Johannes. Menghadapi kedaruratan akumulasi sampel ini maka skema pemeriksaan sampel yang kami usulkan adalah kerja sama pembagian tugas antara laboratorium biomolekuler kesehatan masyarakat ini dan dengan laboratorium biomolekuler RSUD W.Z. Johannes,” terang dr. Fima.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto oleh Biro Humas dan Protokol Setda NTT

Selamat Hari Cuci Tangan Sedunia, Refleksi Budaya Cuci Tangan di Provinsi NTT

299 Views

Oleh : Karolus Ngambut

Hari ini, tanggal 15 Oktober, seluruh dunia memperingati Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Ini tentang cuci tangan benaran, bukan tentang ungkapan “cuci tangan” yang artinya tidak bertanggungjawab. Menurut beberapa literatur, cuci tangan dengan sabun dan air telah dipraktikkan berabad-abad lamanya, yang merupakan bagian dari praktik keagamaan, Islam atau Kristen.

Kemudian, pada tahun 1847, seorang dokter Hongaria keturunan Jerman yang bekerja di sebuah klinik kebidanan di Rumah Sakit Umum di Winna Austria, bernama Ignaz Philipp Semmelweis mengusulkan kepada teman sejawatnya supaya mencuci tangan terlebih dahulu dengan larutan yang mengandung clorin sebelum memberikan pelayanan kepada pasien. Hal ini dilakukannya setelah dari hasil pengamatannya bahwa banyak ibu yang baru melahirkan menderita demam atau infeksi post partum (infeksi bakteri yang menyerang saluran reproduksi perempuan setelah terjadinya kelahiran atau keguguran). Demam tersebut sering berakibat fatal atau kematian. Jumlah kasusnya. Berkat usulannya, angka kematian di klinik persalinannya turun di bawah 1% dari sebelumnya dilaporkan tiga kali lebih banyak.

Meskipun Semmelweis telah menerbitkan hasil yang menunjukkan bahwa disinfeksi tangan mengurangi tingkat kematian hingga di bawah 1%, pengamatan Semmelweis bertentangan dengan pendapat medis yang diterima pada saat itu, sehingga komunitas kedokteran menolak gagasannya. Karena ia tidak dapat menjelaskan secara ilmiah mengapa penemuannya bisa menurunkan tingkat kematian, dan beberapa dokter merasa tersinggung dengan usulan agar mereka mencuci tangan terlebih dahulu.

Praktik Semmelweis baru diterima secara luas setelah ia meninggal, terutama setelah Louis Pasteur berhasil membuktikan kebenaran teori kuman dan setelah Joseph Lister melakukan operasi dengan metode higienis dan sangat berhasil.

Semmelweis memang tidak dikenang sebagai Bapak Cuci Tangan Pakai Sabun, namun penemuannya menjadi model epidemiologi untuk pencegahan penyakit.

Pengamatan jangka panjang selama 40 rumah sakit di Amerika, menyimpulkan bahwa mencuci tangan dengan antiseptik dapat mencegah terjadinya infeksi. Sehingga pada tahun 1980, Communicable Diseases Control (CDC ) atau semacam dinas pengendalian penyakit di Amerika Serikat menerbitkan pedoman kebersihan tangan pakai sabun. Dan pada tahun 2006, WHO mengembangkan strategi peningkatan kebersihan tangan telah diuji coba pada sejumlah tempat perawatan kesehatan di seluruh dunia.

Tujuannya, untuk mendapatkan data tentang kelayakan, validitas, dan keandalan intervensi. Simpulannya bahwa telah terbukti sangat positif peningkatan kebersihan tangan dengan antiseptik dapat menurunkan infeksi nosokomial pada pasien yang dirawat. Akhirnya, Penetapan Hari Mencuci Tangan dengan Sabun Sedunia jatuh pada tanggal 15 Oktober pada Pertemuan Tahunan Air Sedunia (Annual World Water Week) yang berlangsung pada 17—23 Agustus, 2008 di Stockholm seiring dengan penunjukan tahun 2008 sebagai Tahun Internasional Sanitasi oleh Rapat Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Ya..demikian sekilas sejarah singkat mengapa hari ini diperingati sebagai Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia. Mencuci tangan mungkin saja dapat dikatakan adalah praktik yang sederhana, namun banyak faedahnya, terutama bagi kesehatan fisik jasmani kita. Dikatakan praktik sederhana, karena tidak butuh waktu yang lama untuk mencuci tangan, hanya butuh minimal 20 detik, kita bisa terhindar dari penularan penyakit melalui tangan. namun demikian banyak tantangannya, yaitu air tidak ada, sabun yang mengandung antiseptik tidak tersedia, dan tidak terbiasa sehingga sering lupa.

Data statistik menunjukkan bahwa akses masyarakat kita ke fasilitas cuci tangan masih rendah, baru 76 persen, 7 persen penduduk Indonesia yang mempunyai akses terhadap fasilitas CTPS, di NTT sendiri baru 51,92 persen. Ini data sebelum pandemi Covid-19. Seperti apa data setelah terjadi pandemi Covid-19? Pemerintah dan WHO mengeluarkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 salah satunya dengan mencuci tangan pakai sabun pada air mengalir.

Tantangan, hasil kajian dengan jumlah responden yang terbatas di Kota Kupang yang pernah kami lakukan pada April 2020 menunjukkan lebih dari 80 % rumah tangga memiliki fasilitas CTPS. Tentang waktu dan cara mencuci tangan, cara mencuci tangan yang benar sesuai protokol kesehatan, hanya 67% responden yang dapat menjawab dengan benar. Selanjutnya pengamatan sederhana yang dilakukan secara sederhana pada tempat umum di seputar Kota Kupang seperti pasar pertokoan, mal, tempat pariwisata, hanya terdapat 4 dari 10 orang yang mencuci tangan dengan sabun pada saat berada di tempat umum, meskipun terdapat fasilitas CTPS yang lengkap.

Kajian akademis lainnya juga menyimpulkan bahwa beberapa faktor yang menghambat praktik CTPS, misalnya ketersediaan air untuk cuci tangan, terutama di tempat yang sulit air. Pemahaman tentang cuci tangan juga menjadi penghambat, alasan mencuci tangan kalau tangan kotor, bukan karena mematikan kuman yang ada di tangan. Hambatan lainnya adalah pada kebiasaan pada masa lalu, tentang hal ini, dicontohkan dari pernyataan responden bahwa “dulu saya makan tidak cuci tangan tidak sakit, sekarang kita diajar mencuci tangan lagi”.

Terhadap berbagai hambatan sarana dan fasilitas CTPS serta hambatan yang terkait dengan perilaku mencuci tangan, tentunya diperlukan langkah strategis yang mungkin perlu dipertimbangkan antara lain : pertama, perubahan paradigma dalam bidang kesehatan, yaitu mencegah lebih baik dan lebih murah dari pada mengobati kalau sudah sakit. Kedua, kolaborasi multi sektor yaitu pemerintah, dunia usaha, masyarakat, tokoh agama, media massa, perguruan tinggi, politisi, LSM, dan lain sebagainya untuk menangani isu ini. Ketiga, gerakan cuci tangan perlu diawasi dan dimonitor oleh petugas khusus, terutama di tempat umum, supaya tidak lupa dan menjadi kebiasaan sehari-hari.

Semoga kita tidak lupa mencuci tangan hari ini.. !

Foto utama oleh herstory.co.id
Editor (+rony banase)

Per 8 Oktober 2020, Pemprov NTT Sesuaikan “Tarif Swab” 900 Ribu Rupiah

753 Views

Ruteng-NTT, Garda Indonesia | Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran bernomor HK.02.02/I/3713/2020 tentang Batas Tarif Tertinggi Pemeriksaan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Dalam surat edaran tersebut, batas biaya maksimal tes PCR mandiri adalah Rp.900.000,- (sembilan ratus ribu rupiah).

Terkait kondisi tersebut, maka Pemerintah Provinsi NTT menyesuaikan tarif pemeriksaan swab secara mandiri untuk Covid-19 sesuai dengan ketetapan Pemerintah Pusat yakni sebesar Rp.900.000. Sementara untuk pemeriksaan rapid test sebesar Rp.150.000,- rupiah.

“Per hari ini, kami umumkan kepada seluruh masyarakat NTT, Bapak Gubernur telah memutuskan bahwa pemeriksaan Swab mandiri dikenakan biaya sebesar 900 ribu rupiah dan rapid test sebesar 150 ribu rupiah sesuai dengan kebijakan nasional,” jelas Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Jelamu Ardu Marius kepada wartawan di Hotel Spring Hill, Ruteng, pada Kamis, 8 Oktober 2020.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Jelamu Ardu Marius

Marius menegaskan, Peraturan Gubernur (Pergub) lama yakni Pergub Nomor 25 Tahun 2020 tentang Tarif Layanan Kesehatan yang menetapkan biaya pemeriksaan swab test sebesar Rp.1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah) dan rapid test sebesar Rp.350.000,- (tiga ratus lima puluh ribu rupiah) akan segera direvisi.

“Kita akan mengeluarkan revisi Peraturan Gubernur secepatnya. Namun, sebelum revisi tersebut dikeluarkan dan ditandatangani, Bapak Gubernur memutuskan untuk menyesuaikan biaya pemeriksaan swab dan rapid test sesuai standar nasional. Kami mengharapkan agar semua rumah sakit dan laboratorium bisa menyesuaikan dan memberlakukan tarif baru mulai hari ini,” jelas Marius.

Dengan diturunkannya biaya tersebut, diharapkan dan diimbau kepada para pelaku perjalanan terutama dari luar NTT agar bisa melakukan pemeriksaan swab untuk mengetahui dirinya positif atau tidak.

“Kalau misalnya hasilnya positif, diharapkan untuk tidak melakukan perjalanan ke NTT. Pastikan diri negatif, sehingga bisa melakukan perjalanan dengan tenang,” pungkas Marius.(*)

Sumber berita dan foto pendukung (*/Aven Rame—Humas dan Protokol Setda NTT)
Foto utama oleh emc.id
Editor (+rony banase)

Ernest Ludji : Tidak Ada Klaster Perbankan di Kota Kupang

2.054 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | “Dapat kami jelaskan terkait pemberitaan di beberapa media, adanya klaster perbankan di Kota Kupang, saya tegaskan bahwa hingga saat ini belum terjadi penularan di perbankan,” tegas Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Penyebaran Covid-19 Kota Kupang, Ernest Ludji pada Jumat, 2 Oktober 2020 saat diwawancarai TVRI NTT.

Baca juga: https://gardaindonesia.id/2020/10/02/tepis-berita-klaster-perbankan-ini-penjelasan-resmi-plt-dirut-bank-ntt/

Memang beberapa karyawan/karyawati di dua bank tersebut (Bank NTT dan BRI, red), imbuh Ernest, terpapar dan positif Covid-19. “Tetapi, mereka belum pernah bersentuhan atau berinteraksi dengan teman-teman di kantor, karena setelah pulang dari zona merah, yang bersangkutan langsung melakukan karantina mandiri hingga saat ini,” ungkapnya.

Ernest Ludji juga menegaskan agar masyarakat tidak perlu khawatir melakukan aktivitas di bank selama tetap mematuhi protokol Covid-19 karena dipastikan tidak ada klaster perbankan.

Terkait wacana pembatasan sosial berskala besar (PSBB), imbuh Ernest, memungkinkan dilaksanakan di Kota Kupang. “Kondisi tersebut dapat terjadi, apabila tingkat penularan Covid-19 di Kota Kupang meningkat,” tegasnya.

Selain itu, imbuh Ernest, tingkat ketaatan dan kedisiplinan terhadap penerapan protokol kesehatan. ”Banyak masyarakat yang belum sadar dan disiplin terkait gerakan memakai masker, mencuci tangan, dan menghindari tempat kerumunan,” ungkapnya.

Apabila terjadi lonjakan kasus Positif Covid-19 signifikan Kota Kupang, tandas Ernest, maka Pemerintah Kota Kupang mengkaji lebih serius lagi tentang pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto (*/istimewa)

Tepis Berita Klaster Perbankan, Ini Penjelasan Resmi Plt. Dirut Bank NTT

922 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Selamat pagi Om Ernes (Ernest Ludji, Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Penyebaran Covid-19 Kota Kupang, red)… terima kasih infonya tentang penyebaran dan data paparan Covid-19 di Kota Kupang, memang betul ada 1 pegawai dari Kantor Cabang Khusus (KCK) yang positif Covid, pelaku perjalanan dari Bali 2 minggu yang lalu, dia mengantar suaminya melanjutkan pendidikan dokter spesialis dan setelah pulang dari Bali belum masuk kantor, karena saya langsung perintahkan Kepala KCK untuk dilakukan karantina mandiri selama 2 minggu,” demikian urai Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho pada Jumat, 2 Oktober 2020, menanggapi berita yang beredar di media massa terkait klaster perbankan.

Sebelumnya, seperti dikutip dari selatanindonesia.com, berita per Kamis, 1 Oktober 2020, Ernest Ludji merincikan, klaster Perbankan yakni, Bank BRI sebanyak 3 orang yang terdeteksi positif Covid-19 dan 1 (satu) orang di Bank NTT.

“Saya baru dapat laporan, ada dua bank di Kota Kupang yang jadi klaster baru yaitu Bank BRI dan Bank NTT,” sebut juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kupang, Ernest S. Ludji, S.STP., M.Si, Kamis (1/10/2020). Meski demikian, Ernest belum merincikan Bank BRI mana dan Bank NTT mana yang kini menjadi klaster baru penyebaran Covid-19 di Kota Kupang.

Terkait kondisi tersebut, tegas Alex Riwu Kaho, mengungkapkan bahwa selama dikarantina dia (karyawati Bank NTT yang positif Covid-19, red) tinggal di hotel dan tidak pernah berhubungan atau bertemu dengan teman-teman kantor.

Kemarin (Kamis, 1 Oktober 2020), urai Alex Riwu Kaho, info hasil tes reaktif ternyata positif dan pimpinan cabang khusus (PCK) sudah buatkan surat ke yang bersangkutan untuk karantina lagi selama 14 hari sampai dinyatakan sehat oleh pihak rumah sakit.

“Namun, karena berita tersebut sangat sensitif bagi layanan bank, maka tolong Om Ernes bantu luruskan tentang ‘Cluster Bank NTT’ karena memang pegawai kami, namun kejadian bukan di Bank NTT, terima kasih,” pinta Alex Riwu Kaho.

Penulis, editor dan foto utama (+rony banase)

Bercakap dengan Dokter Faisal, Presiden Jokowi : Betapa Berat Tangani Covid-19

294 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Sejenak berbincang dengan dr. Faisal Rizal Matondang, Sp.P, seorang dokter spesialis paru, membuat Presiden Joko Widodo merasakan betul perjuangan, dedikasi, dan kerja keras yang ditunjukkan para dokter di tengah pandemi Covid-19. Bahkan, melalui perbincangan itu terungkap bahwa dokter yang bertugas menangani pasien Covid-19 di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso tersebut sempat dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

“Dokter Faisal lagi di mana? Sepertinya sedang tidak bertugas?” tanya Presiden di awal pembicaraan melalui sambungan video yang diunggah di saluran YouTube Sekretariat Presiden, pada Minggu pagi, 27 September 2020.

“Hari ini saya pertama masuk, Pak, setelah saya menjalani perawatan. Saya terkena Covid. Jadi saya sudah menjalani perawatan segala macam,” jawab Faisal.

Dokter Faisal sudah bersiaga menangani pasien Covid-19 semenjak awal mewabah di Indonesia. Kontak erat dengan sejumlah pasien Covid-19 selama bertugas membuatnya sempat terpapar virus penyebab pandemi di sekitar 215 negara.

Sebelumnya, Dokter Faisal telah menjalani perawatan untuk memulihkan kondisinya. Setelah melalui sejumlah pemeriksaan dan dilakukan tes usap, ia dinyatakan sembuh dan dapat kembali bertugas untuk kembali menolong dan memberikan pengobatan bagi para pasien yang terinfeksi Covid-19.

“Kemarin rontgen terakhir dan sudah di-swab. Saya dinyatakan sudah boleh bertugas. Jadi hari ini saya baru hari pertama bertugas,” tuturnya.

“Alhamdulillah sudah sembuh. Dokter Faisal, bagaimana penanganan Covid di RSPI Sulianti Saroso?” Presiden melanjutkan perbincangan.

Dokter spesialis paru lulusan Universitas Indonesia tersebut menjelaskan bahwa perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit tersebut sudah sesuai dengan prosedur dan standar dari Kementerian Kesehatan. Begitu pula dengan sarana dan obat-obatan yang tersedia lengkap. Namun, ia mengakui bahwa saat ini pihaknya mengalami kekurangan tenaga medis oleh karena lonjakan pasien yang datang.

“Alat medis insya Allah tersedia. Tenaga mungkin masih tetap kurang. Pasien makin bertambah,” ungkapnya.

Faisal juga menjelaskan mengenai kesehariannya saat merawat para pasien. Kebosanan merupakan salah satu hal utama yang dirasakan pasien saat menjalani isolasi dan perawatan di rumah sakit. Untuk mengatasi hal tersebut, dirinya mengakui memberikan waktu dan atensi yang lebih bagi para pasiennya untuk berbincang dan bercanda meski merasakan keterbatasan dan sesak selama menggunakan masker dan alat pelindung diri lainnya.

“Saya biasa sama pasien-pasien sering agak lama. Di samping periksa, walaupun saya sesak karena tertutup oleh APD, saya suka bercanda-bercanda. Terakhir itu saya kasih semangat buat pasien supaya pasien tetap berpikir positif untuk dapat hasil negatif swab-nya,” ucapnya.

“Saya bisa bayangkan betapa beratnya bertugas menangani Covid ini,” sahut Presiden.

Sang dokter pun menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk tetap berdisiplin menerapkan 3M, yakni mengenakan masker, mencuci tangan secara berkala, dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari Covid-19 di tengah masyarakat.

“Tetap jaga sesuai protokol kesehatan, pakai masker, mencuci tangan, menghindari berkumpul-kumpul. Mudah-mudahan kita bisa lewati pandemi ini,” ujar Faisal.

Di pengujung perbincangan, Presiden Joko Widodo menyampaikan ucapan terima kasih dan menghargai dedikasi serta kerja keras yang ditunjukkan oleh dokter Faisal beserta dokter-dokter lain dan tenaga medis di seluruh Indonesia untuk memberikan perawatan kepada para pasien Covid-19.

“Saya menyampaikan terima kasih, mengapresiasi yang tinggi, menghargai kerja keras yang tinggi dari para dokter dan tenaga medis yang berjuang,” tandasnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/BPMI Setpres) Editor (+rony banase)

Pasien Covid-19 Naik di Kota Kupang, Pemkot Koordinasi dengan Rumah Sakit

359 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Jumlah pasien Covid-19 terus bertambah beberapa waktu terakhir (data terakhir per Rabu, 23 September 2020, jumlah positif Covid-19 di Kota Kupang mencapai 56 orang, dengan kontak erat sebanyak 522 orang dan suspek sebanyak 423 orang), mendorong Pemerintah Kota Kupang untuk menyikapi secara serius upaya penanganan. Sejumlah pimpinan rumah sakit baik pemerintah maupun swasta yang ada dalam wilayah Kota Kupang diundang untuk melakukan koordinasi terkait itu.

Wakil Wali Kota Kupang, dokter Herman Man memimpin langsung rapat yang berlangsung di Aula Garuda Kantor Wali Kota Kupang, pada Rabu, 23 September 2020. Menurutnya dengan bertambahnya jumlah pasien positif Covid-19, Pemerintah Kota Kupang memandang perlu untuk melakukan langkah-langkah antisipasi, termasuk memastikan soal ketersediaan fasilitas seperti ruangan dan tempat tidur berikut peralatan kesehatan khusus bagi pasien Covid-19.

Rapat koordinasi tersebut membahas kesigapan beberapa hal, di antaranya soal sumber daya seperti ruangan dan tempat tidur bagi pasien positif Covid-19. Diketahui dari sejumlah rumah sakit di Kota Kupang tersedia total 83 tempat tidur bagi pasien positif Covid dan 27 ruangan isolasi bertekanan negatif serta 27 ruangan non tekanan negatif.

Sumber daya lain yang tidak kalah penting adalah ketersediaan tenaga kesehatan. Dokter Herman Man berusaha memastikan ketersediaan tenaga medis terutama dokter spesialis paru dan penyakit dalam di masing-masing rumah sakit. Juga memastikan ketersediaan fasilitas penginapan khusus bagi para tenaga kesehatan yang sedang menangani pasien positif.

Ia juga mengimbau kepada para pimpinan rumah sakit di Kota Kupang untuk secara ketat menerapkan disiplin penggunaan APD bagi para petugas, guna mencegah jatuhnya korban pasien positif Covid-19 dari tenaga kesehatan seperti yang terjadi di daerah lain.

dr. M. Ibrahim, yang mewakili pimpinan Rumah Sakit Angkatan Laut Samuel J. Moeda Kupang, mengakui saat ini pihaknya masih mengalami kendala soal ruangan khusus untuk filter screening awal di depan rumah sakit. Karena itu mereka sangat mengharapkan dukungan Pemkot Kupang berupa tenda. Selain itu dia juga menyarankan agar para tenaga kesehatan yang sudah merawat pasien positif Covid-19 tidak hanya di-rapid test tetapi juga di-swab.

Pengelola atau perwakilan rumah sakit di Kota Kupang saat rapat koordinasi dengan Pemkot Kupang

Sementara itu, dr. Sieny dari RS Leona Kupang mengusulkan perlunya pelatihan bagi para analis kesehatan untuk pengambilan swab. Pelatihan ini menurutnya perlu untuk mengantisipasi jika suatu waktu jumlah pasien positif terus bertambah dan masing-masing rumah sakit diminta untuk melakukan tes swab sendiri.

Menanggapi usul saran tersebut, dokter Herman Man langsung minta Dinas Kesehatan Kota Kupang untuk segera menindaklanjuti dan membantu pihak rumah sakit melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Dalam pertemuan tersebut dokter Herman Man didampingi oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Kupang, Rudy Priyono, S.KM, M.Kes dan salah satu kabid di Dinas Kesehatan Kota Kupang, I Gusti Ngurah Suarnawa, S.KM, M.Kes. Hadir juga seluruh pimpinan rumah sakit baik swasta maupun pemerintah yang ada di Kota Kupang.

Saat ini menurutnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menerapkan kembali aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Salah satu alasannya adalah untuk mencegah meningkatnya jumlah pasien positif Covid-19, karena RS sudah penuh. Dikawatirkan, jika ada tambahan pasien lagi tidak dapat tertampung lagi di rumah sakit.

Dokter Herman menambahkan peluang bertambahnya jumlah pasien positif Covid-19 di Kota Kupang masih ada karena jalur transportasi udara masih terbuka. Data terakhir yang berhasil dihimpun pasien positif corona di Kota Kupang umumnya adalah warga lokal yang merupakan pelaku perjalanan dari luar daerah. Untuk itu ada wacana dari Pemkot Kupang untuk mewajibkan para pelaku perjalanan dari luar daerah untuk melakukan tes swab, guna mencegah transmisi lokal yang mengakibatkan jumlah pasien positif bertambah.

Rencananya pada Jumat, 25 September 2020, Pemerintah Kota Kupang juga akan melakukan massive rapid test di pasar yang ada di Kota Kupang. Karena pasar merupakan salah satu lokasi yang terindikasi mempunyai risiko tinggi penularan covid 19. Sebelumnya, pada Selasa, 22 September 2020, Pemkot juga sudah melakukan rapid test terhadap sejumlah ASN di lingkup Pemkot Kupang, sebagai upaya deteksi dini penularan Covid-19 di kantor. (*)

Sumber berita dan foto (*/PKP_ans)
Editor (+rony banase)

Banyak Kasus Balita Gizi Buruk, Dinkes Kota Kupang Garap Program PGBT & PIS-PK

81 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Dinas Kesehatan Kota Kupang gencar menggarap program PGBT (Penanganan Gizi Buruk Terpadu) dan PIS-PK (Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga). Dengan adanya dua program ini, kasus balita gizi buruk dan stunting makin banyak ditemukan. Maka, kasus balita gizi buruk dan stunting di Kota Kupang juga semakin banyak yang terdata. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati kepada wartawan, pada Rabu, 23 September 2020.

drg. Retno menyebutkan, dari data yang di entri ke dalam aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), kasus balita gizi buruk memang mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2018 sebanyak 218 kasus (1,47%), tahun 2019 ada 353 kasus (2,3%) dan 796 kasus (5,0%) di tahun 2020. Sedangkan stunting, kasusnya juga mengalami peningkatan. Tahun 2018 sebanyak 3.426 kasus (23,4%), tahun 2019 ada 3.892 kasus (29,9%) dan 5.151 kasus (32,2%) di tahun 2020.

Menurut Retno, peningkatan angka kasus balita gizi buruk dan stunting bukan berarti Pemerintah Kota Kupang, dalam hal ini Dinas Kesehatan tidak maksimal dalam melakukan upaya pencegahan dan pengendalian. Sebaliknya, lewat program PGBT yang gencar dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat dan lintas sektor, kasus balita gizi buruk dan stunting makin banyak ditemukan untuk selanjutnya didata dan ditangani.

“Tahun kemarin dibantu Unicef dan lembaga agama, kita sosialisasi PGBT di enam kecamatan dengan melibatkan para kader posyandu, tokoh masyarakat, tokoh agama, lurah dan komponen masyarakat lainnya. Dengan pemahaman yang semakin baik, banyak keluarga yang kemudian proaktif untuk melaporkan soal tumbuh kembang anak-anaknya. Jadi, temuan kasusnya menjadi lebih banyak,” jelas mantan Kadis Sosial Kota Kupang itu.

Kasus balita gizi buruk dan stunting, lanjut Retno, juga makin banyak ditemukan saat petugas kesehatan di semua puskesmas gencar melaksanakan PIS-PK untuk melihat persoalan setiap keluarga dari dekat. Lewat program ini, petugas kesehatan melakukan pendataan terhadap balita dari rumah ke rumah sehingga ditemukan sejumlah kasus balita gizi buruk dan stunting yang belum terdata.

“Sebelum dilakukan PIS-PK, ada keluarga-keluarga yang memang tidak aktif melaporkan soal tumbuh kembang anak-anaknya. Padahal ada yang gizi buruk dan stunting. Nah dengan PIS-PK, setiap puskesmas sudah punya data sasaran per kelurahan by name by adress (BNBA),” terang Retno.

Jadi, sambung Retno, kalau kasus balita gizi buruk dan stunting meningkat, ya itu karena semakin banyak keluarga yang aktif untuk melaporkan tentang kondisi anak-anaknya. Ditambah lagi keseriusan petugas kesehatan untuk melakukan pendataan dari rumah ke rumah.

Untuk pencegahan dan penanganan masalah gizi buruk dan stunting, Retno mengaku pihaknya sudah melakukan berbagai intervensi, antara lain, pemberian tablet tambah darah pada remaja putri sebagai calon-calon ibu dan ibu hamil untuk mencegah anemia. Pemberian PMT bagi ibu hamil KEK (Kekurangan Energi Kronis). Peningkatan kapasitas petugas dengan pelatihan PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak) yang dilanjutkan dengan pelatihan kader PMBA sebagai pendamping ibu hamil dan balita di masyarakat. Mendorong pemberian ASI eksklusif hingga 23 bulan. Pelaksanaan kegiatan PMBA yang dilaksanakan dengan konseling maupun praktek kepada orangtua atau pengasuh. Tatalaksana balita gizi buruk rawat jalan dengan pedoman PGBT di mana balita gizi buruk tanpa komplikasi dirawat dengan obat gizi atau Ready to Use Terapheutic Food (RUTF). Pendistribusian vitamin A dan mineral mix. Penyediaan obat cacing dan imunisasi lengkap serta pencegahan dan pengobatan diare.

Retno menambahkan, intervensi program perbaikan gizi terhadap balita gizi buruk dilakukan selama 90 hari. Namun, setelah diterapi dan dikembalikan ke keluarganya, ada anak yang kembali ke status gizi buruk karena ini sangat tergantung pada ketahanan pangan setiap keluarga, asupan gizi dan beragam pola makan.

“Penanganan masalah gizi buruk dan stunting itu multi-sektor. Tidak bisa hanya dari sektor kesehatan. Untuk penanganan gizi buruk menjadi tidak gizi buruk, itu tugas Dinas Kesehatan. Sedangkan, setelah dikembalikan ke keluarga, tanggung jawabnya sudah multi-sektor,” ungkapnya. (*)

Sumber berita dan foto */PKP—Nina)
Editor (+rony banase)