Terdapat 645 ‘Blank Spot’ di NTT, Johnny Plate : Akan Dibangun 121 Titik BTS

204 Views

Labuan Bajo, Garda Indonesia | Menteri Kominfo RI Johnny Gerard Plate saat kunjungan kerjanya dan bersama Wakil Gubernur (Wagub) NTT Josef Nae Soi (JNS) mengadakan rapat koordinasi tentang “Pembangunan Infrastruktur Telekomunikasi” di Labuan Bajo, pada Jumat, 25 September 2020.

Wagub Josef mengatakan perkembangan teknologi komunikasi telah membawa perubahan besar dalam hidup manusia. “Perkembangan telekomunikasi telah mengubah peradaban kita. Yang tadinya, kita berkomunikasi dari rumah ke rumah, fisik per fisik. Tapi dengan bantuan alat komunikasi, mengubah semuanya. Kita bisa berkomunikasi secara virtual, apalagi dalam kondisi Covid-19,” urai Wagub JNS.

Wagub Josef memberikan apresiasi kepada Kementerian Kominfo yang terus berupaya meningkatkan infrastruktur jaringan telekomunikasi di NTT. “Jaringan internet sangat penting untuk pendidikan dalam situasi saat ini. Kami berterima kasih kepada Presiden secara khusus Menteri Kominfo yang hadirkan super Wi-Fi di Labuan Bajo. Tentu akan lebih super lagi kalau super Wi-Fi ini ada di seluruh kabupaten/kota di NTT,” pungkasnya.

Menkominfo Johnny Gerard Plate, menyampaikan, Covid-19 merupakan momentum dan peluang untuk akselerasi dan transformasi digital nasional. Ini jadi titik pijak baru bagi Indonesia ke depannya sesuai arahan Presiden Jokowi. “Karena Covid-19 mendorong dan memanfaatkan penggunaan infrastruktur telekomunikasi dan informatika sebagai fondasi dasar kehidupan kini dan masa depan. Covid-19 juga memberikan challenge atau kesempatan yang luar biasa bagi Kementerian Kominfo untuk memastikan tersedianya infrastruktur dasar telekomunikasi dan informatika secara memadai baik diukur dari sisi rasio internet maupun disparitas internet antar-wilayah,” ungkapnya.

Johnny Plate juga menjelaskan, dari hasil monitoring kualitas cakupan layanan internet di Indonesia oleh Kementerian Kominfo dan rekan-rekan operator seluler, masih terdapat 12.548 desa/kelurahan yang belum tersedia layanan sinyal 4G atau dikenal dengan blank spot di 83.500 lebih desa/ kelurahan di Indonesia. Sejumlah 9.113 desa/kelurahan berada di kawasan 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) termaksud NTT dan 3.435 desa/kelurahan berada di wilayah komersial atau non 3T, termasuk ibukota negara. Setelah Kominfo melakukan monitoring cakupan layanan frekuensi, ada satu titik di ibukota negara yang belum tersedia jaringan 4G.

“Terdapat 645 desa/ kelurahan di NTT yang blank spot atau belum ada sinyal 4G. Terdiri dari dua kategori yaitu 542 desa/kelurahan yang menjadi tugas Badan Aksesibilitas Teknologi dan Informasi (BAKTI) Kominfo. Dan sisanya 103 desa yang nanti menjadi wilayah kerja mitra Kominfo yaitu operator seluler termasuk Telkomsel. Tahun 2020 ini, kita akan bangun 121 titik BTS di seluruh NTT. Agar BTS bisa berfungsi dan ada sinyalnya, kita akan kolaborasi dengan operator seluler,” urai Johnny Plate.

Kementerian Kominfo akan berupaya keras agar 9.113 desa/kelurahan itu pada akhir tahun 2022 bisa dapatkan sinyal 4G. Komitmen ini didukung oleh pembiayaan dari APBN, penerimaan utang pajak Kominfo, dan Universal Service Obligation (USO) atau Kewajiban Pelayanan Universal yang disediakan melalui tarif operator seluler.

“Untuk NTT kita akan bagi dalam dua tahap. Tahun depan (2021,red) kita akan selesaikan 421 desa/kelurahan dan sisanya tahun 2022,” jelas Johnny.

Menurut politisi NasDem tersebut, lisensi yang diberikan negara kepada operator seluler adalah membangun infrastruktur. Namun, mengingat tantangan wilayah yang luar biasa berat, pembangunan infrastruktur Teknologi Komunikasi dan Informatika (TIK) operator seluler tidak bisa cakup seluruh wilayah di Indonesia. Di situlah hadir BAKTI untuk mengisi ruang kosong terutama di wilayah 3T. Ini tidak cukup jika dibiayai melalui skema pembiayaan USO. Perlu ada terobosan-terobosan sumber pembiayaan baru yang kali ini ditampung dalam APBN dan penerimaan negara bukan pajak.

“Khusus Manggarai Barat ada 24 BTS yang sudah dibangun oleh operator seluler. Juga ada pilot project Super WiFi dengan jangkauan radius 500 meter. Ini pertama kali diuji coba di Indonesia. Bukan satu saja tetapi 20 titik yang sudah aktif dan sudah menghasilkan sinyal paling kurang 4MB/detik dan bisa sampai 30 MB/detik. Tiga super WiFi akan selesai akhir Oktober sehingga totalnya menjadi 23 Super WiFi,” beber Johnny.

Kominfo, jelas Johnny akan berupaya memenuhi layanan sinyal di seluruh tanah air setidaknya di pusat layanan publik yang jumlahnya 500.000 di seluruh Indonesia. Masih tersisa 150.000 yang masih belum bisa dilayani dengan Wifi sehingga Kominfo menyiapkan satu satelit multifungsi yang nantinya akan ditempatkan di orbit satelit 146 bujur timur.

“Mudah-mudahan pada kuartal ketiga tahun 2023 satelit ini akan melayani seluruh titik layanan publik di Indonesia,” harap Menkominfo.

Lebih lanjut, Johnny Plate mengungkapkan, dengan pengembangan infrastruktur jaringan telekomunikasi ini, pemerintah berharap ruang digital dapat dimanfaatkan secara cerdas, baik dan bermanfaat untuk kepentingan bangsa, negara dan masyarakat.

“Jangan isi ruang digital dengan hal-hal yang tidak bermanfaat seperti hoax, hate speech dan disinformasi,” pintanya.

Sumber berita dan foto (*/Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)