Tiga Tahun Program Kemitraan Wilayah di Poktan Kaifo Ingu, Ini Capaiannya

288 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Program Kemitraan Wilayah (PKW) di Kelompok Kaifo Ingu dimulai pada tahun 2018 dan akan berakhir di Desember 2020, dengan sumber dana dari DIKTI dan PEMDA Kabupaten Kupang masing-masing sebesar Rp.300 juta dan Rp.600 juta.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2019/03/04/program-kemitraan-wilayah-wujudkan-agroeduwisata-di-kab-kupang/

Program Kemitraan Wilayah (PKW) dengan tema Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang merupakan wisata agro untuk pendidikan bagi siswa mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA sampai PT. Di samping untuk masyarakat umum, konsep yang dibangun adalah “Pertanian Terpadu atau Mix Farming” yang dipadukan dengan konsep Zero Waste. Dapat dikatakan Agroeduwisata sebagai lokasi pendidikan bagi siswa dan mahasiswa dan dapat pula melakukan penelitian, pengabdian kepada masyarakat (PKM) dalam bidang Agroforestry bagi para dosen dan mahasiswa dan tempat mehasiswa melakukan praktik kerja lapang (PKL).

Ketua Pelaksana Prof. Dr. Ir. Erna Hartati, MS didampingi Dr. Ir. Markus M. Kleden, para dosen Undana dan Politani, dan Pemda Kabupaten Kupang bersama petani yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) Kaifo Ingu yang diketuai oleh Kristofel Ulu; mulai membuka lahan baru seluas seluas 5 hektar pada tahun 2018, sebelumnya dipenuhi tanaman kabesak hutan.

Foto bersama Prof. Dr. Ir. Erna Hartati, MS, dengan tim dosen Undana dan Politani, dan Pemda Kabupaten Kupang bersama petani yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) Kaifo Ingu

Upaya tersebut dilakukan untuk memperluas lahan yang sudah diusahakan seluas 3 Ha untuk tanaman pangan berupa padi, jagung dan sayuran. Pembukaan lahan baru seluas 5 Ha diperuntukkan bagi budidaya tanaman buah-buahan yang cocok di lahan kering, budidaya hijauan pakan ternak (HPT) menggunakan Sistem Tiga Strata (STS). Selain itu juga dikembangkan Sapi Bali dan Kambing peranakan Etawah (PE) dan Kambing BOER dan hasil persilangan kambing PE dengsn BOER.

Prof. Erna Hartati menyampaikan, kegiatan diawali dengan pelatihan berkaitan dengan inovasi teknologi yang akan diimplementasikan selama tiga tahun. “Respons dari kelompok > 80 % sangat antusias menerima inovasi teknologi yang akan mereka adopsi,” ungkapnya.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2019/11/11/ilmuwan-hitpi-apresiasi-tata-kelola-lahan-kering-oleh-kelompok-tani-kaifo-ingu/

Sementara, pada tahun kedua (2019), imbuh Prof. Erna, kegiatan yang dilakukan antara lain : pertama, dilakukan penanaman padi menggunakan teknologi IPAT-BO yaitu teknologi hemat air, pupuk dan bibit. “Teknologi ini cocok diimplementasikan di Lahan Kering Iklim Tropis Semi Kering seperti di NTT yang dapat ditanaman 2x per tahun yaitu pada musim hujan dan musim kemarau masing-masing dengan produksi 7,8 ton/ha. dan 9,0 ton/ha. Berarti rata-rata kenaikan > 100% dibandingkan penanaman secara konvensional dengan produksi 4 ton/ha. Peningkatan produksi padi secara langsung berpengaruh terhadap kecukupan pangan dan peningkatan ekonomi keluarga kelompok tani/ternak. Setiap penerapan teknologi dalam bidang pertanian akan diikuti pula dengan peningkatan produksi limbah yang sudah didayagunakan secara optimal untuk diolah menjadi sumber pakan menggunakan teknologi amoniasi,” ulasnya.

Untuk tanaman palawija, imbuh Prof. Erna, yaitu tanaman jagung 2x tanam, dipanen sebagai jagung pipil dengan produksi 8 ton/ha/tahun dan terjadi kenaikan produksi 5 ton atau 125 % Disisi lain, juga mengalami peningkatan yang diikuti dengan peningkatan limbah. Limbah jagung yang selanjutnya diolah dengan teknologi silase sebagai sumber pakan bagi ternak kambing dan sapi.

Teknologi Silase

Dalam program kemitraan wilayah (PKW) di Poktan Kaifo Ingu, lanjut Prof. Erna, selain padi dan palawija juga ditanam sayuran yang ditanam sebagai tanaman sela antara tanaman buah. “Dari tahun ke tahun, keragaman jenis tanaman sayuran juga bertambah seperti tanaman cabe rawit, bawang merah, pitcai, sawi, kol, sayur bangkok, kacang panjang, labu lilin, dan terung yang sebelumnya hanya ditanam singkong dan pepaya. Peningkatan keragaman ini membawa dampak terhadap peningkatan ethos kerja dan skill petani karena usia panen yang berbeda dari berbagai jenis tanaman sayur yang ada. Selain dikonsumsi, sebagian besar dijual sehingga berdampak terhadap peningkatan ekonomi keluarga,” bebernya.

Peningkatan ini, terangnya, membawa dampak terhadap peningkatan keragaman konsumsi sayuran. Selain peningkatan keragaman, juga terjadi peningkatan produksi tanaman sayur yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat anggota kelompok tani/ternak Kaifo Ingu. “Sistem penjualan produksi tanaman sayur melalui pedagang pengumpul yang langsung datang ke lokasi usaha. Hal ini berdampak pada alokasi penggunaan waktu anggota untuk kegiatan usahatani lainnya,” urai Prof. Erna.

Terkait perawatan tanaman buah-buahan yang sudah dicanangkan penanaman perdana pada Oktober 2018 meliputi irigasi menggunakan sistem tetes, sementara untuk pemupukan diberikan pupuk bokasi yang dibuat langsung oleh kelompok Kaifo Ingu dan untuk mengurangi penguapan dilakukan pemberian mulsa organik dari jerami padi dan rumput kering.

irigasi menggunakan sistem tetes

Budidaya sapi dan kambing PE dan Boer dan hasil persilangannya yang akan beranak akhir Desember 2020 atau awal Januari 2021. “Untuk persiapan pakan di musim kemarau, kelompok sudah menerapkan teknologi amoniasi dari limbah jerami padi dan teknologi silase dari limbah jagung yang dipanen muda seperti yang dilakukan panen jagung pada Jumat, 23 Oktober 2020,” jelas Prof. Erna.

Untuk menciptakan konsep Zero Waste atau tidak ada limbah di lokasi pertanian tersebut, tandasnya, kelompok juga telah terampil melakukan pembuatan pupuk bokasi dan hasilnya kembali ke tanah sebagai pupuk organik bagi tanaman padi, jagung dan sayur mayor dan tanaman buah-buahan.

Budidaya Kambing PE dan Boer

Untuk tahun 2020, urai Prof. Erna, kegiatan yang dilakukan antara lain:

Pertama, melanjutkan kegiatan tahun kedua yaitu selain penanaman padi dengan teknologi IPAT-BO, tanaman jagung, sayur mayur dilakukan perawatan (manajemen pemberian pakan, manajemen penyakit pada ternak dan perawatan tanaman buah-buahan meliputi irigasi dengan sistem tetes, pemupukan dengan pupuk bokasi yang dibuat oleh kelompok dan pemberian mulsa organik menggunakan jerami padi atau rumput kering untuk mengurangi penguapan;

Kedua, di tahun ke-3 sudah mulai terbentuk hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yaitu “Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang” dengan konsep Pertanian Terpadu (Mix Farming) dipadukan dengan konsep Zero Waste;

Ketiga, melanjutkan perawatan sapi baik terhadap induk, pejantan dan anak, kambing PE dan Boer dan ternak kecil dsalam hal ini ternak bebek/entog melalui manajemen pemeliharaan ternak (kebersihan kandang,pemberian pakan dan kesehatan ternak).

Budidaya ternak sapi dikelola oleh Kelompok Tani Kaifo Ingu

Selain menerima bantuan dari PKW, ungkap Prof. Erna, kelompok Kaifo Ingu juga sudah menerima bantuan dari pihak Bank Indonesia (BI) pada awal Oktober 2020 berupa alat untuk mendeteksi temperatur, curah hujan, kesuburan tanah, pH tanah untuk lahan di sekitar Desa Air Bauk. Dengan alat tersebut kelompok tani/ternak dengan mudah memantau dan menindak lanjuti masalah temuan yang terdeteksi sehingga masalah yang dihadapi dapat segera diatasi.

Dampak ekonomi setelah pelaksanaan PKW selama 3 tahun yaitu kontribusi terhadap peningkatan ekonomi RT kelompok baru disumbangkan dari pertanian tanaman pangan (padi, jagung dan sayur mayur). Pada tahun-tahun selanjutnya kontribusi peningkatan ekonomi RT kelompok Kaifo Ingu dalam jangka pendek diperoleh dari produksi telur atau daging bebek dilakukan pengolahan sebelum dijual dan penjualan ternak sapi maupun kambing.

Dampak sosial sudah terjadi perubahan skill dan pola pikir petani dan etos kerja mulai meningkat. Di samping itu, kelompok lain di sekitar lokasi mulai mengadopsi teknologi IPAT-BO untuk tanaman padi, sehingga di sekitar lokasi sudah ditanam padi 2x setahun.

Sementara, Masalah utama yang masih dihadapi, terang Prof. Erna, sumber air sangat kurang untuk mengelola lahan secara maksimal dan ke depan, diharapkan pengadaan sumur bor permanen untuk mewujudkan “Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang” dengan konsep pertanian terpadu dipadukan dengan konsep Zero waste .

“Sumur bor dimaksud yakni model permanen yang dilengkapi instalasi dengan sumber energi menggunakan solar cell. Di samping itu, masih dibutuhkan pendampingan untuk dua tahun ke depan untuk selanjutnya pada tahun 2025, dan kini, Agroeduwisata atau Wisata Pendidikan Agro” sudah bisa mulai dikunjungi oleh para wisatawan,” pungkas Prof. Erna seraya mengucapkan terima kasih kepada Kemendikbud dan DIKTI, Universitas Nusa Cendana, Politani Negeri Kupang, dan Pemda Kupang. (*)

Sumber berita dan foto (*/tim PKW Undana)
Editor (+rony banase)

(Visited 7 times, 1 visits today)