Arsip Kategori: Pertanian & Perkebunan

Pupuk Bersubsidi Langkah di Manggarai, LPPKPD Siap Tempuh Jalur Hukum

115 Views

Manggarai, Garda Indonesia | Di tengah usaha memerangi pandemi virus corona yang cukup membebankan, tampaknya masyarakat Manggarai, khususnya para petani juga dihadapkan dengan salah satu persoalan serius lainnya yaitu soal kelangkaan pupuk bersubsidi. Hal ini diungkapkan oleh Ketua umum sekaligus pendiri Lembaga Pusat Pengkajian Kebijakan Pembangunan Daerah (LPPKPD), Heribertus Erik San dalam siaran pers yang diterima media ini pada Senin, 25 Januari 2021.

Menurut Ketua LPPKPD, masalah ini mestinya juga menjadi fokus perhatian Pemerintah Kabupaten Manggarai. “Masalah kelangkaan pupuk akan sangat mempengaruhi produksi dan produktivitas hasil tani menurun, yang mengakibatkan pendapatan usaha tani merugi. Dalam situasi pandemi Covid-19 yang belum selesai, tentunya masalah ini akan semakin menambah beban para petani,” ungkap Erik San.

Lebih lanjut, Erik San mengatakan pemberian pupuk bersubsidi pada dasarnya sangat membantu dalam hal mendongkrak produksi dan produktivitas pertanian para petani di Kabupaten Manggarai. Pemerintah memberikan pupuk bersubsidi dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional. “Pemberian pupuk bersubsidi ini haruslah memenuhi enam prinsip utama yang sudah dicanangkan atau disebut 6 T, yakni tepat jenis, tepat jumlah, tepat harga, tepat tempat, tepat waktu, dan tepat mutu,“ urainya.

Meski demikian, imbuh Heribertus, pada kenyataannya keenam prinsip ini belum dijalankan maksimal di wilayah Manggarai. Hal itu pun mencakup soal kendala tepat waktu distribusi ke kelompok tani. “Persoalan yang kerap dihadapi petani adalah kelangkaan pupuk bersubsidi dan juga soal pendistribusiannya yang tidak tepat waktu. Masalah ini hampir terus dialami pada setiap musim tanam,” ungkapnya.

Ketua umum sekaligus pendiri Lembaga Pusat Pengkajian Kebijakan Pembangunan Daerah (LPPKPD), Heribertus Erik San

Dibeberkan Heribertus, pada musim tanam Januari 2021 misalnya, para kelompok tani di wilayah Kecamatan Wae Ri’i mengalami kelangkaan pupuk bersubsidi, terkhusus Pupuk Poska dan SP-36. Beberapa kelompok tani di Wilayah Kecamatan Wae Ri’i yang mengeluhkan kelangkaan ini di antaranya kelompok tani Wela Woja, Wae Nggori, dan beberapa kelompok tani di Wilayah Kecamatan Wae Ri’i lainnya.

“Masalah ini juga dikeluhkan oleh Asosiasi Petani Simantri Wae Ri’i yang diketuai oleh Robertus Jelahu,” tegas Heribertus.

Menyikapi persoalan tersebut, Heribertus Eriksan menegaskan, Lembaga LPPKPD tentunya tidak akan tinggal diam untuk mendorong dan mendesak pemerintah agar memberi respons cepat dan mengecek apakah jumlah pupuk bersubsidi tersebut memang kurang atau ada permainan sejumlah elite dibaliknya.

Pemerintah, imbau Heribertus, perlu bersikap tegas dengan memanggil para distributor dan pihak terkait lainnya yang bertanggung jawab dalam hal pengadaan pupuk bersubsidi tersebut. Ia pun menjelaskan bahwa pengaturan penyaluran pupuk bersubsidi ini memang sudah tertuang dalam peraturan Menteri Perdagangan Nomor 15/M-DAG/PER/4/2013 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 01 Tahun 2020. Kedua aturan tersebut menjelaskan syarat, tugas, dan tanggung jawab produsen, distributor serta penyalur atau pengecer.

Karena itu, Heribertus menegaskan bahwa Lembaga LPPKPD siap mengadvokasi masalah ini. “Sebagai LSM yang memiliki bidang kegiatan advokasi untuk peningkatan kualitas dan percepatan pelayanan kepada masyarakat, Lembaga LPPKPD siap hadir mendampingi kelompok tani. Bahkan ke depan, Lembaga LPPKPD siap untuk menempuh jalur hukum dan melaporkan masalah ini ke aparat penegak hukum (APH) apabila ditemukan ada unsur penyelewengan dalam sistem distribusi pupuk bersubsidi ini,” tegasnya.

Langkah seperti ini, tandas Heribertus, memang terpaksa dilakukan agar persoalan yang ada bisa menemui titik terang yang pasti dan sedapat mungkin menjawab keresahan masyarakat dibalik kelangkaan yang terjadi. “Karena masalah ini terkait hajat hidup orang banyak. Apalagi hampir 80 persen masyarakat Manggarai itu petani semua. Jadi kalau pupuknya tidak tersedia tentunya juga mempengaruhi produktivitas hasil tani dan petani pasti rugi. Hal ini tentunya sangat penting dan mesti diwaspadai,” tutupnya.

Informasi yang dihimpun oleh jurnalis media ini dari Heribertus Erik San, pada tahun 2020, Lembaga LPPKPD ini telah menerbitkan buku Kajian Program Sistem Manajemen Pertanian Terintegrasi (Simantri) Pemerintah Daerah Manggarai yang diluncurkan secara resmi di Aula Nuca Lale Kantor Bupati Manggarai pada tanggal 27 Juli 2020. Buku ini secara khusus membahas  implementasi program pertanian Simantri di Manggarai dan strategi inovasi, termasuk masalah pupuk.(*)

Sumber berita dan foto pendukung (*/jivan)

Foto utama oleh serayunews.com

Editor (+roni banase)

Mulai Januari 2021, Distribusi Pupuk Bersubsidi di TTU Pakai Kartu Tani

330 Views

Kefa-TTU, Garda Indonesia | Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Gregorius Mathias Radrigis, S.P. menyampaikan bahwa penyaluran pupuk bersubsidi akan disalurkan kepada 5—6  kecamatan dengan alokasi 850ha untuk Ft- 1 tahun anggaran 2020/2021.

Pernyataan Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten TTU tersebut, disampaikannya usai menggelar rapat evaluasi kepada para admin, Koordinator PPL dan Mantri Tani terkait penggunaan Kartu Tani oleh Petani untuk mendapatkan Pupuk Bersubsidi pada program Gubernur NTT, Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS),.pada Selasa, 22 Desember 2020.

Rapat yang dilaksanakan di aula Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten TTU tersebut mengangkat tema “Evaluasi dan koordinasi updating RDKK dalam e-RDKK kegiatan penyaluran Pupuk bersubsidi tingkat Kabupaten Timor Tengah Utara Tahun Anggaran 2020”.

Kepada Garda Indonesia, Kadis Gregorius, mengungkapkan bahwa per tanggal 1 Januari 2021 dan seterusnya, akan ada perubahan sistem dalam pendistribusian pupuk. “Saat ini, yang kita kejar terhitung 1 Januari nanti, kita tidak memakai sistem manual lagi dan diharuskan memakai sistem elektronik. Jadi, Petani mau dapat pupuk harus menabung di BRI terdekat,” urainya.

Petani, imbuh Gregorius, akan mendapatkan Kartu Tani sejenis kartu ATM, saat digesek nanti, bakal keluar struk. “Itulah yang akan dibawa ke penyalur (pengecer), untuk mendapatkan pupuk, sesuai yang dibutuhkan pada musim tanam pertama,” terangnya.

Tentunya, lanjut Kadis Gregorius, bakal ada tantangan karena masyarakat (Petani,red), yang belum terbiasa menabung baru dapat pupuk. “Jadi, kepada Admin, Koordinator PPL dan Mantri Tani, harus disosialisasikan kepada kelompok Tani sesuai materi pertama evaluasi tadi,” tegasnya.

Gregorius juga menekankan kepada Admin, Koordinator PPL dan Mantri Tani, untuk memberikan hal-hal yang praktis karena banyak Petani akan susah mendapatkan Pupuk bersubsidi terkait sistem yang mengikat dan terbatas pada petani yang masuk dalam Kelompok Tani. “Dan itu, sudah dikukuhkan atau di-input ke data SIMBLUKTAN Jakarta oleh Kementerian Pertanian,” tandasnya.(*)

Penulis (*/Melkianus Nino)

Editor (+rony banase)

Gubernur VBL : Pertanian Lahan Kering di NTT Harus Membantu Pembangunan

71 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengatakan pengembangan sektor pertanian khususnya pertanian lahan kering harus ikut membantu pembangunan daerah. Hal tersebut diungkapkannya pada saat memberikan sambutan dalam Seminar Nasional Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana dengan Tema Pola Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan yang dilaksanakan di Aula Gedung Rektorat Universitas Nusa Cendana pada Kamis, 26 November 2020.

“Pengembangan pertanian lahan kering tentunya sangat penting untuk turut membantu pembangunan provinsi ini. Tentu juga harus menggandeng pariwisata sebagai lokomotif utamanya. Sektor pertanian, peternakan, serta perikanan harus mampu menjadi suplai chain bagi pariwisata,” jelas Gubernur VBL.

Lanjut VBL, “Supply chain dari sektor-sektor tersebut harus bisa dihasilkan dari NTT sendiri bukan dari luar. Komoditi unggulan dari sektor pertanian lahan kering tentunya diharapkan juga mampu memenuhi kebutuhan pariwisata.”

Ia pun menambahkan, dalam hasil survei menunjukkan bahwa bila pandemi Covid-19 berakhir, maka destinasi pariwisata dengan atraksi alam dan budaya akan paling banyak dikunjungi. Tentunya, NTT akan dapat keuntungan karena atraksi alam dan budaya yang atraktif dan eksotis adalah ciri khasnya.

“Terima kasih kepada Kampus Undana yang sudah menyelenggarakan seminar ini dan tentunya saya berharap mahasiswa lulusan Fakultas Pertanian harus mampu menjadi pengusaha di sektor pertanian. Begitu pun dengan lulusan Fakultas Peternakan, Perikanan dan lainnya untuk menjadi pengusaha di bidangnya,” pinta Gubernur VBL.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat saat memberikan sambutan dalam Seminar Nasional Fakultas Pertanian Undana Kupang

Selama ini, imbuh VBL, SDM lulusan sarjana yang ada di NTT masih memiliki pola pikir hanya mau untuk menjadi PNS. Setiap kali lulus dari kampus hanya tunggu lowongan PNS. Memang ada baiknya juga, namun kuota penerimaannya terbatas. Imbasnya adalah angka pengangguran yang tinggi. “Maka dari itu, lulusan sarjana pertanian harus bisa menjadi pengusaha di bidang pertanian. Itu sungguh luar biasa karena ilmu bukan hanya dipelajari namun juga bisa membantu di tengah masyarakat dan membantu untuk kemandirian dirinya sendiri,” tandasnya.

Sementara itu, Rektor Univesitas Nusa Cendana Prof. Ir. Fredik Benu, M.Si, P.hd mengatakan pengembangan pertanian lahan kering sebagai salah satu ujung tombak perguruan tinggi dan pemerintah dan masyarakat untuk membangun pertanian sekaligus menjawab persoalan yang ada.

“Terima kasih pada Bapak Gubernur yang sudah memberikan dukungan. Baru-baru ini juga beliau menghimpun para pimpinan perguruan tinggi yang ada di Timor, Sabu, Rote dan Alor bertekad bersama mewujudkan tanggung jawab pembangunan di tengah masyarakat melalui MoU yang ditandatangani bersama,” ujarnya.

Fred Benu menambahkan, perkuliahan di kampus kini tidak hanya mengajarkan teori pada mahasiswa, namun mengambil tanggung jawab mengatasi persoalan di masyarakat. (*)

Sumber berita dan foto (*/Meldo—Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Kadis Pertanian NTT: Sekian Lama NTT Bergantung Benih pada Provinsi Lain

669 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | “NTT ini, sekian lama bergantung benihnya kepada provinsi lain. Sehingga, dalam pengembangan usaha pertanian kita, sering kali mengalami hambatan. Di mana, ketika benih itu datang, musim hujannya sudah lewat. Akibatnya, produktivitas (pertanian) kita rendah,” ungkap Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Lecky Frederich Koli dalam sambutannya mewakili Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat saat kunjungan kerja (Kunker) di Desa Leuntolu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, pada Minggu, 15 November 2020.

Karena itu, lanjut Lecky Frederich Koli, atas perintah Gubernur pada Agustus 2020 lalu, pihaknya menomor-satukan perbaikan siklus pertanian. Upaya–upaya yang dikerjakan hingga saat ini sudah mulai menunjukkan hasil dari aspek perbenihan. Saat ini, Kabupaten Belu sudah bisa produksi benih jagung Komposit Namoru yang bisa digunakan untuk back–up Kabupaten Kupang. Sebaliknya, Kabupaten Kupang sudah bisa menghasilkan benih padi untuk back–up Kabupaten Belu.

“Terima kasih kepada Pak Pjs. Bupati Belu yang sudah konsolidasi, sehingga benih jagung sudah bisa keluar untuk back- up Kabupaten Kupang,” ucapnya.

Menurut Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, hal ini merupakan satu langkah yang baik dengan dukungan dari Gubernur NTT. Dan saat ini, pihaknya sudah mempersiapkan benih yang akan digunakan pada musim tanam kedua (musim tanam periode Asep [April–September]). “Sehingga yang kita harapkan untuk musim tanam April – September (2021,red.), tidak ada lagi keterlambatan benih. Kita sudah siapkan benih padi, benih jagung, kacang–kacangan yang sifatnya lokal,”ujarnya.

Benih padi yang dibutuhkan untuk tahun ini, lapornya kepada Gubernur NTT, bahwa dibutuhkan 1.650 ton. Namun, masih kekurangan 100 ton, sehingga didatangkan dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). “Benih jagung Komposit, kita sudah bisa siapkan sendiri sedangkan, Hibrida kita datangkan dari luar. Untuk persiapan musim tanam Asep, kita butuhkan benih jagung 800 ton atau 800.000 kg, “urainya.

Musim tanam Okmar (Oktober – Maret) Kabupaten Belu 2020, jelasnya, akan ditanam jagung Hibrida kurang lebih 1.000 hektar, dan jagung Komposit 522 hektar yang benihnya sudah diserahkan hari ini (Minggu, 15 November,red).

Berkaitan dengan program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS), program besutan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, imbuh Lecky Frederich Koli, hasil penjualan jagung setelah dipanen, direnten dengan pembelian ternak seperti Sapi, Babi, Kambing, Domba dan Ayam untuk dipelihara.

“Karena pengalaman sekian lama, kalau tanam jagung panen jagung, maka setelah jagungnya habis terjual, petaninya tetap jatuh miskin. Maksudnya, supaya rantai ekonominya bertambah demi ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi rumah tangga,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT menyerahkan bantuan benih dan alat pipil jagung secara simbolis kepada sejumlah Kelompok Tani (Poktan), antara lain: benih jagung Hibrida untuk Poktan Sinar Kuanitas dan Poktan Sinar Meomanu, benih padi bagi Poktan Makmur Mandiri dan Poktan Haliasekin, benih jagung Komposit Poktan Sinar Harapan, dan alat pipil jagung kepada Poktan Manuaman. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)
Editor: (+rony banase)

Kunjungi Besipae, VBL Minta OPD Terkait Desain Kawasan Ekonomi Baru

220 Views

Besipae-TTS, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) melakukan kunjungan kerja di 4 (empat) kabupaten yakni Kabupaten TTS, Malaka, Belu dan TTU pada tanggal 14—18 November 2020. Pada hari pertama, Gubernur VBL mengunjungi TTS, tepatnya di Besipae, Kecamatan Amanuban Selatan, di mana terdapat lahan seluas 3.780 ha yang merupakan aset pemerintah provinsi dan bakal dijadikan kawasan pertumbuhan ekonomi baru.

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Viktor bersama rombongan dan Bupati TTS, Egusem Pieter Tahun, S.T., M.M. langsung mengunjungi lokasi pembangunan Pom Bensin, penanaman Marungga, pembangunan ranch untuk pengembangan ternak Sapi dan aset bangunan pemerintah yang tidak berfungsi. Saat itu juga para Pimpinan Perangkat Daerah mendapatkan arahan langsung untuk percepatan desain pembangunan kawasan Besipae.

“Pasca kunjungan ini, saya perintahkan Dinas Peternakan agar menduplikasi model ranch peternakan sapi yang ada di Sumba untuk diterapkan di kawasan ini. Begitu juga Dinas Pertanian untuk Pengembangan Marungga. TJPS agar disiapkan luas lahannya beserta aspek teknisnya. Dinas Perindag mendesain kebutuhan pengadaan mesin pengering dan pengolahan bubuk Marungga serta Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup memetakan kawasan ini dan peruntukkannya serta siapkan lahan 5 ha untuk Taman Sepe. Badan Aset dan Pendapatan mendesain restoran dan penginapan di kawasan ini untuk peningkatan pendapatan Pemprov,” tegas Gubernur Viktor.

Setelah itu, Gubernur Laiskodat berdialog bersama para Usif dan masyarakat Besipae, terkait dengan pengembangan kawasan pertumbuhan ekonomi di tempat tersebut sekaligus mendengar langsung harapan mereka terkait pengembangan Kawasan Besipae.

Gubernur VBL saat melihat langsung lahan Besipae

“Ini aset Pemprov yang dikelola untuk kepentingan masyarakat dalam bentuk kolaborasi antar Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Desa agar lahan ini tidak dikelola seperti tahun-tahun sebelumnya. Di sini akan ada pertanian, peternakan, perikanan, restoran, pom bensin, pariwisata. Oleh karena itu, program kerja di sini sistemnya pemerintah hanya membantu dan masyarakat yang kerja dan menikmati hasilnya,” ujar VBL.

Kita, imbuh VBL, sungguh-sungguh membangun dan para pimpinan OPD terkait saya beri target untuk mengimplementasikan programnya di sini. “Sebagai Gubernur, saya menyampaikan apresiasi kepada para Usif dan masyarakat yang telah membantu pemerintah dalam penyelesaian permasalahan di lahan ini.” tandasnya.

Usif Nope Nabuasa yang mewakili para Usif dan masyarakat juga menyampaikan harapannya terkait pembangunan kawasan Besipae. “Bapak Gubernur, persoalan Besipae telah selesai pada 20 Agustus 2020. Saat itu, keluarga Nabuasa telah menyerahkan kepada Pemerintah untuk beraktivitas dan mengimplementasikan program kegiatannya di sini. Harapan kami, lahan ini bisa ditata kembali lebih baik,” alasnya.

Selanjutnya Gubernur dan Bupati TTS bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju Desa Bena untuk panen Jagung Program TJPS (Tanam Jagung Panen Sapi). (*)

Sumber berita dan foto (*/Arbi Kore–Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Panen Jagung Program TJPS di Kabupaten Kupang, VBL Digendong ke Lokasi Acara

841 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Saat melakukan panen jagung secara simbolis di lokasi Gerakan Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) dari Kelompok Tani Fajar Kasih di Desa Poto Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang pada Jumat, 30 Oktober 2020; Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) disambut hangat dengan Natoni (tutur adat Timor, red), tarian penyambutan, dan dikukuhkan sebagai Tuan Adat oleh masyarakat.

Selain memperoleh apresiasi tersebut, sebagai Gubernur NTT pertama yang menginjakkan kaki dalam kunjungan kerja resminya di Fatuleu Barat, VBL yang didampingi oleh Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe, kemudian digendong oleh masyarakat setempat. Sebelum digendong, sempat terlontar guyonan dari gubernur yang rajin melakukan melakukan sidak ke pelosok daerah tersebut.

“Kalian, kuat angkat saya tidak? Saya berat,” ujar VBL kepada masyarakat yang akan menggendong. Selanjutnya, VBL pun digendong dari titik penjemputan menuju ke tenda acara yang berjarak sekitar 10 meter.

Didampingi oleh Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe, Gubernur VBL diterima oleh Camat Fatuleu Barat, Kandidus Neno di kantor Desa Poto.

Camat Fatuleu Barat, Kandidus Neno dalam sambutannya menyampaikan sejumlah usulan pembangunan dan apresiasi terhadap Gubernur NTT. “Hari ini, Bapak Gubernur mengunjungi kita di Fatuleu Barat. Sebelumnya kami tahu Gubernur lewat buku dan cerita orang. Karena dalam sejarah kami di Fatuleu Barat, sejak 1958 hingga kini atau sekitar 62 tahun, baru kali ini Bapak Gubernur adalah Gubernur pertama yang mengunjungi Fatuleu Barat. Beberapa usulan yang kami sampaikan berkaitan dengan adanya potensi pertanian, maka kebutuhan kami berupa Alsintan, pompa mesin air, Jaringan Internet dan Listrik,” ungkap Camat Neno.

Gubernur VBL saat panen jagung Program TJPS di Kabupaten Kupang

Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe menyampaikan, kondisi Fatuleu Barat saat ini mengalami perkembangan dalam pembangunan infrastruktur jalan yang akan diikuti dengan terpenuhi kebutuhan pembangunan lainnya. “Hari ini, Bapak Gubernur datang panen simbolis jagung Gerakan TJPS. Dapat kita saksikan bersama, meskipun tempat ini gelap, akan tetapi saat jalan kita tidak terantuk seperti dulu. Artinya jalan kita sudah mulus dan itu karena kebijakan bapak Gubernur. Tentunya masyarakat mesti yakin bahwa pasti kita terus diperhatikan oleh Gubernur asalkan kita tetap kerja dan sukseskan Gerakan TJPS untuk mewujudkan kesejahteraan ,”ujar Jerry.

Dalam kunjungan kerjanya, Gubernur VBL didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Lecky Frederich Koli. staf Khusus Gubernur, Pius Rengka dan Tim Balai Pengkajian Tekhnologi Pertanian (BPTP) NTT.

Gubernur VBL dalam sambutannya menegaskan, pemimpin itu mesti terus bersama rakyatnya untuk melayani rakyatnya. Karena daerah ini memiliki potensi yang luar biasa, maka harus dikelola dengan baik. Masyarakat mesti memiliki etos kerja yang tinggi dan apa yang menjadi kebutuhan akan dipenuhi di tahun 2021.

“Dalam kepemimpinan saya, tentunya saya terus terjun ke lapangan untuk melayani masyarakat dan memastikan elemen Pemerintah bekerja bersama masyarakat. Hari ini kita panen, Tahun depan (2021) potensi lahan 400 ha yang terverifikasi, Tanam dan panen serta sukseskan Gerakan TJPS maka saya pastikan kebutuhan jaringan listrik dan telepon ada di tempat ini,” tegas Gubernur Viktor.

Selain di Desa Poto, juga dilakukan panen perdana jagung program TJPS pada Kelompok Tani Mutiara di Desa Pariti, Kecamatan Sulamu. Adapun lokasi lahan TJPS untuk Kabupaten Kupang seluas 2.600 ha. Namun, setelah dilakukan Verifikasi Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) untuk musim tanam (MT) periode April—September (ASEP) oleh Pendamping Lapangan, terverifikasi luasan lahannya 375 ha. Khusus Kecamatan Sulamu, luas lahan terverifikasi 110 ha dengan realisasi tanam 67, 05 ha dan Kecamatan Fatuleu Barat, Luas lahan terverifikasi 43,30 ha dengan realisasi tanam 39,20 ha. (*)

Sumber berita dan foto (*/Arbi Kore—Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Tiga Tahun Program Kemitraan Wilayah di Poktan Kaifo Ingu, Ini Capaiannya

332 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Program Kemitraan Wilayah (PKW) di Kelompok Kaifo Ingu dimulai pada tahun 2018 dan akan berakhir di Desember 2020, dengan sumber dana dari DIKTI dan PEMDA Kabupaten Kupang masing-masing sebesar Rp.300 juta dan Rp.600 juta.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2019/03/04/program-kemitraan-wilayah-wujudkan-agroeduwisata-di-kab-kupang/

Program Kemitraan Wilayah (PKW) dengan tema Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang merupakan wisata agro untuk pendidikan bagi siswa mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA sampai PT. Di samping untuk masyarakat umum, konsep yang dibangun adalah “Pertanian Terpadu atau Mix Farming” yang dipadukan dengan konsep Zero Waste. Dapat dikatakan Agroeduwisata sebagai lokasi pendidikan bagi siswa dan mahasiswa dan dapat pula melakukan penelitian, pengabdian kepada masyarakat (PKM) dalam bidang Agroforestry bagi para dosen dan mahasiswa dan tempat mehasiswa melakukan praktik kerja lapang (PKL).

Ketua Pelaksana Prof. Dr. Ir. Erna Hartati, MS didampingi Dr. Ir. Markus M. Kleden, para dosen Undana dan Politani, dan Pemda Kabupaten Kupang bersama petani yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) Kaifo Ingu yang diketuai oleh Kristofel Ulu; mulai membuka lahan baru seluas seluas 5 hektar pada tahun 2018, sebelumnya dipenuhi tanaman kabesak hutan.

Foto bersama Prof. Dr. Ir. Erna Hartati, MS, dengan tim dosen Undana dan Politani, dan Pemda Kabupaten Kupang bersama petani yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) Kaifo Ingu

Upaya tersebut dilakukan untuk memperluas lahan yang sudah diusahakan seluas 3 Ha untuk tanaman pangan berupa padi, jagung dan sayuran. Pembukaan lahan baru seluas 5 Ha diperuntukkan bagi budidaya tanaman buah-buahan yang cocok di lahan kering, budidaya hijauan pakan ternak (HPT) menggunakan Sistem Tiga Strata (STS). Selain itu juga dikembangkan Sapi Bali dan Kambing peranakan Etawah (PE) dan Kambing BOER dan hasil persilangan kambing PE dengsn BOER.

Prof. Erna Hartati menyampaikan, kegiatan diawali dengan pelatihan berkaitan dengan inovasi teknologi yang akan diimplementasikan selama tiga tahun. “Respons dari kelompok > 80 % sangat antusias menerima inovasi teknologi yang akan mereka adopsi,” ungkapnya.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2019/11/11/ilmuwan-hitpi-apresiasi-tata-kelola-lahan-kering-oleh-kelompok-tani-kaifo-ingu/

Sementara, pada tahun kedua (2019), imbuh Prof. Erna, kegiatan yang dilakukan antara lain : pertama, dilakukan penanaman padi menggunakan teknologi IPAT-BO yaitu teknologi hemat air, pupuk dan bibit. “Teknologi ini cocok diimplementasikan di Lahan Kering Iklim Tropis Semi Kering seperti di NTT yang dapat ditanaman 2x per tahun yaitu pada musim hujan dan musim kemarau masing-masing dengan produksi 7,8 ton/ha. dan 9,0 ton/ha. Berarti rata-rata kenaikan > 100% dibandingkan penanaman secara konvensional dengan produksi 4 ton/ha. Peningkatan produksi padi secara langsung berpengaruh terhadap kecukupan pangan dan peningkatan ekonomi keluarga kelompok tani/ternak. Setiap penerapan teknologi dalam bidang pertanian akan diikuti pula dengan peningkatan produksi limbah yang sudah didayagunakan secara optimal untuk diolah menjadi sumber pakan menggunakan teknologi amoniasi,” ulasnya.

Untuk tanaman palawija, imbuh Prof. Erna, yaitu tanaman jagung 2x tanam, dipanen sebagai jagung pipil dengan produksi 8 ton/ha/tahun dan terjadi kenaikan produksi 5 ton atau 125 % Disisi lain, juga mengalami peningkatan yang diikuti dengan peningkatan limbah. Limbah jagung yang selanjutnya diolah dengan teknologi silase sebagai sumber pakan bagi ternak kambing dan sapi.

Teknologi Silase

Dalam program kemitraan wilayah (PKW) di Poktan Kaifo Ingu, lanjut Prof. Erna, selain padi dan palawija juga ditanam sayuran yang ditanam sebagai tanaman sela antara tanaman buah. “Dari tahun ke tahun, keragaman jenis tanaman sayuran juga bertambah seperti tanaman cabe rawit, bawang merah, pitcai, sawi, kol, sayur bangkok, kacang panjang, labu lilin, dan terung yang sebelumnya hanya ditanam singkong dan pepaya. Peningkatan keragaman ini membawa dampak terhadap peningkatan ethos kerja dan skill petani karena usia panen yang berbeda dari berbagai jenis tanaman sayur yang ada. Selain dikonsumsi, sebagian besar dijual sehingga berdampak terhadap peningkatan ekonomi keluarga,” bebernya.

Peningkatan ini, terangnya, membawa dampak terhadap peningkatan keragaman konsumsi sayuran. Selain peningkatan keragaman, juga terjadi peningkatan produksi tanaman sayur yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat anggota kelompok tani/ternak Kaifo Ingu. “Sistem penjualan produksi tanaman sayur melalui pedagang pengumpul yang langsung datang ke lokasi usaha. Hal ini berdampak pada alokasi penggunaan waktu anggota untuk kegiatan usahatani lainnya,” urai Prof. Erna.

Terkait perawatan tanaman buah-buahan yang sudah dicanangkan penanaman perdana pada Oktober 2018 meliputi irigasi menggunakan sistem tetes, sementara untuk pemupukan diberikan pupuk bokasi yang dibuat langsung oleh kelompok Kaifo Ingu dan untuk mengurangi penguapan dilakukan pemberian mulsa organik dari jerami padi dan rumput kering.

irigasi menggunakan sistem tetes

Budidaya sapi dan kambing PE dan Boer dan hasil persilangannya yang akan beranak akhir Desember 2020 atau awal Januari 2021. “Untuk persiapan pakan di musim kemarau, kelompok sudah menerapkan teknologi amoniasi dari limbah jerami padi dan teknologi silase dari limbah jagung yang dipanen muda seperti yang dilakukan panen jagung pada Jumat, 23 Oktober 2020,” jelas Prof. Erna.

Untuk menciptakan konsep Zero Waste atau tidak ada limbah di lokasi pertanian tersebut, tandasnya, kelompok juga telah terampil melakukan pembuatan pupuk bokasi dan hasilnya kembali ke tanah sebagai pupuk organik bagi tanaman padi, jagung dan sayur mayor dan tanaman buah-buahan.

Budidaya Kambing PE dan Boer

Untuk tahun 2020, urai Prof. Erna, kegiatan yang dilakukan antara lain:

Pertama, melanjutkan kegiatan tahun kedua yaitu selain penanaman padi dengan teknologi IPAT-BO, tanaman jagung, sayur mayur dilakukan perawatan (manajemen pemberian pakan, manajemen penyakit pada ternak dan perawatan tanaman buah-buahan meliputi irigasi dengan sistem tetes, pemupukan dengan pupuk bokasi yang dibuat oleh kelompok dan pemberian mulsa organik menggunakan jerami padi atau rumput kering untuk mengurangi penguapan;

Kedua, di tahun ke-3 sudah mulai terbentuk hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yaitu “Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang” dengan konsep Pertanian Terpadu (Mix Farming) dipadukan dengan konsep Zero Waste;

Ketiga, melanjutkan perawatan sapi baik terhadap induk, pejantan dan anak, kambing PE dan Boer dan ternak kecil dsalam hal ini ternak bebek/entog melalui manajemen pemeliharaan ternak (kebersihan kandang,pemberian pakan dan kesehatan ternak).

Budidaya ternak sapi dikelola oleh Kelompok Tani Kaifo Ingu

Selain menerima bantuan dari PKW, ungkap Prof. Erna, kelompok Kaifo Ingu juga sudah menerima bantuan dari pihak Bank Indonesia (BI) pada awal Oktober 2020 berupa alat untuk mendeteksi temperatur, curah hujan, kesuburan tanah, pH tanah untuk lahan di sekitar Desa Air Bauk. Dengan alat tersebut kelompok tani/ternak dengan mudah memantau dan menindak lanjuti masalah temuan yang terdeteksi sehingga masalah yang dihadapi dapat segera diatasi.

Dampak ekonomi setelah pelaksanaan PKW selama 3 tahun yaitu kontribusi terhadap peningkatan ekonomi RT kelompok baru disumbangkan dari pertanian tanaman pangan (padi, jagung dan sayur mayur). Pada tahun-tahun selanjutnya kontribusi peningkatan ekonomi RT kelompok Kaifo Ingu dalam jangka pendek diperoleh dari produksi telur atau daging bebek dilakukan pengolahan sebelum dijual dan penjualan ternak sapi maupun kambing.

Dampak sosial sudah terjadi perubahan skill dan pola pikir petani dan etos kerja mulai meningkat. Di samping itu, kelompok lain di sekitar lokasi mulai mengadopsi teknologi IPAT-BO untuk tanaman padi, sehingga di sekitar lokasi sudah ditanam padi 2x setahun.

Sementara, Masalah utama yang masih dihadapi, terang Prof. Erna, sumber air sangat kurang untuk mengelola lahan secara maksimal dan ke depan, diharapkan pengadaan sumur bor permanen untuk mewujudkan “Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang” dengan konsep pertanian terpadu dipadukan dengan konsep Zero waste .

“Sumur bor dimaksud yakni model permanen yang dilengkapi instalasi dengan sumber energi menggunakan solar cell. Di samping itu, masih dibutuhkan pendampingan untuk dua tahun ke depan untuk selanjutnya pada tahun 2025, dan kini, Agroeduwisata atau Wisata Pendidikan Agro” sudah bisa mulai dikunjungi oleh para wisatawan,” pungkas Prof. Erna seraya mengucapkan terima kasih kepada Kemendikbud dan DIKTI, Universitas Nusa Cendana, Politani Negeri Kupang, dan Pemda Kupang. (*)

Sumber berita dan foto (*/tim PKW Undana)
Editor (+rony banase)

Sinergi PKM Fapet Undana dan Poktan Unuhari, Olah Lahan Kering Pakai Bokashi

336 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Fakultas Peternakan (Fapet), Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, para petani yang mengolah lahan kering lebih kurang 5.000 meter persegi di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur; menjadi lebih produktif pada musim tanam kedua (April—September).

Sinergi yang dilakukan oleh Tim PKM Fapet Undana Kupang dan para petani organik yang tergabung dalam Kelompok Tani Unuhari yang diketuai oleh Welem Riwu Bengu dan beranggotakan 25 orang, dengan memberikan bantuan bibit sayur-sayuran yang ditanam pada musim tanam kedua (musim kemarau, red) dengan dukungan sumur bor.

Ketua tim PKM Fapet Undana, Ir. Arnoldus Keban, M.Si. pada Jumat, 2 Oktober 2020, menyampaikan bahwa sejak Agustus 2020, lahan yang tersedia telah ditanam bibit sayur berupa Sawi manis, Pacoi, Kangkung, Ketimun, Tomat, Cabe, Brokoli, Kacang panjang, dan Bawang Merah mulai menampakkan hasil.

Arnold Keban (sapaan akrabnya, red) yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Pelayanan, Penerapan, dan Pengembangan Iptek LP2M Undana, menyampaikan Undana melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi sesuai dengan disiplin ilmu (tupoksi) masing-masing. “Salah satu dari Tri Dharma itu adalah pengabdian kepada masyarakat, seperti yang kami lakukan saat ini, “ ujarnya.

Ketua tim PKM Fapet Undana, Ir. Arnoldus Keban, M.Si. saat menyerahkan bantuan pohon Pisang Luan

Pada kesempatan tersebut, PKM Fapet Undana juga memberikan bantuan dan melakukan penanaman pohon Pisang Luan.

Sementara pengolahan Pupuk Bokashi dipandu dan dilatih oleh anggota tim PKM Fapet Undana, Dr. Ir. Twen Dami Dato, MP. menyampaikan Pupuk Bokashi yang diolah berbahan dasar kotoran Sapi dan daun Kromolena, starter EM4 dan ABG Degra, adiktif yang digunakan yakni dedak dan gula air.

“Proses pemeraman Pupuk Bokashi selama 3 (tiga) minggu yang menghasilkan 30 karung dan dipakai untuk mengolah lahan,” ungkap Dr. Twen.

Para petani organik di Desa Noelbaki pun berkesempatan memperoleh materi secara in situ berupa teknologi pengolahan pupuk bokashi dan budi daya hortikultura organik dari Dr. Twen Dami Dato dan materi analisis usaha hortikultura dan dinamika kelompok oleh Ir. Arnoldus Keban, M.Si. Tak hanya itu, para petani organik juga memperoleh pelatihan dari 2 petugas pertanian lapangan (PPL) dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT yakni Jose de A. Freitas, S.Pt. dan Maria Kristela Tuames, S.P.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto (*/istimewa)