Arsip Kategori: Pertanian & Perkebunan

Impian NTT Jadi Provinsi Pengekspor Sapi, Gubernur VBL Yakin NTT Bakal Kaya

289 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | NTT bakal menjadi provinsi kaya dari sektor Peternakan. Demikian penegasan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat bertatap muka dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang NTT di ruang kerjanya, pada Senin, 8 Juni 2020.

VBL sangat optimis di bawah kepemimpinannya dapat mengembalikan kejayaan NTT di sektor peternakan.

“Salah satu mimpi besar saya adalah mengembalikan kejayaan NTT di sektor Peternakan. NTT harus memiliki sapi dengan kualitas yang baik, bahkan sampai ke kelas Sapi Wagiu. Dan untuk sampai ke tahap ini, perlu kolaborasi yang baik antar sektor. Pemerintah menyiapkan anggaran, Dinas melalui tenaga – tenaga ahlinya termasuk Dokter Hewan harus lebih aktif di lapangan. Buatkan penelitian dan riset sehingga mampu menciptakan inovasi baru yang membangun,” ucapnya bersemangat.

“Vaksinnya seperti apa, koordinasi juga dengan Dinas Pertanian untuk memanfaatkan batang jagung yang telah selesai dipanen untuk menghasilkan pakan ternak yang baik. Hal ini sangat penting karena menyangkut asupan protein hewani bagi masyarakat NTT,” kata VBL.

“Hal penting lainnya yang perlu diterapkan dalam sistem kerja adalah Check List. Setiap hari harus selalu mengontrol setiap pekerjaan kita. Masalahnya apa, kenapa sampai ada masalah, kendalanya apa, kemajuan sudah sampai tahap mana, harus selalu dicek setiap hari. Ini baru namanya kerja secara terstruktur dan terencana,” sambung VBL.

Gubernur VBL saat bertatap muka dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PHDI) Cabang NTT pada Senin, 8 Juni 2020 di Ruang Kerja Gubernur

Mantan Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem ini juga meminta pihak PDHI Cabang NTT untuk menghidupkan kembali Pusat Kesehatan Hewan (PUSKESWAN).

“Sebagai Gubernur saya mau agar seluruh Pusat Kesehatan Hewan yang tersebar di seluruh NTT agar dimanfaatkan kembali. Saat ini banyak jebolan dari Fakultas Kedokteran Hewan yang memilih berkarya di provinsi lain. Jika PUSKESWAN ini dihidupkan kembali maka mereka akan diberdayakan. Sekali lagi saya katakan bahwa mimpi saya yang luar biasa ini harus juga didukung juga oleh Dokter Hewan yang hebat,” sambung Laiskodat.

Di akhir pertemuan, Ia kembali menegaskan dukungannya terhadap program yang dibuat oleh PDHI Cabang NTT. “Tingkatkan kualitas pelayanan, desain secara baik setiap program, sehingga Pemerintah menyiapkan anggarannya. Kalau ada masalah yang berhubungan dengan Pemerintah Pusat, maka Pemerintah Provinsi akan berkoordinasi langsung, sehingga semuanya bisa berjalan baik,” tandas VBL.

Sementara itu, Ketua PDHI Cabang NTT, Dr.drh. Maxs U.E Sanam, M.Sc. mengatakan bahwa kehadiran Dokter Hewan di NTT ini bukan hanya sebatas menyuntik hewan, tetapi sebagai penjaga kestabilan hewan yang ada di provinsi ini.

Ketua PDHI juga menjelaskan, saat ini NTT sangat rentan dengan penyakit menular hewan, sehingga sangat meresahkan masyarakat. Oleh karena itu penguatan laboratorium sangat penting, sehingga setiap kasus yang terjadi tidak perlu lagi di kirim ke daerah lain untuk diteliti.

“Contoh kasusnya yakni penyakit Anthrax sampelnya harus dikirim ke Semarang, demikian juga penyakit Rabies sampelnya dikirim ke Bandung,” ungkap Maxs Sanam.

Turut hadir pada kesempatan ini, Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi; Staf Khusus Gubernur, Imanuel Blegur; Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Dhani Suhadi; dan beberapa pengurus PDHI Cabang NTT.(*)

Sumber berita (*/Sam Babys/Staf Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor dan foto utama (+rony banase)

40 Hektar Lahan di Desa Manusak Digarap Jadi Lahan Program TJPS

229 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Lahan seluas sekitar 40 hektar di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur dijadikan sebagai lahan penanaman jagung jenis hibrida dan lamuru yang merupakan Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) besutan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL).

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/05/30/ini-arahan-dan-motivasi-menteri-pertanian-bagi-petani-tjps-di-desa-manusak/

Pencanangan Program TJPS dan penanaman jagung jenis hibrida dan lamuru dilakukan oleh Gubernur VBL, Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo, Kapolda NTT Irjen Pol Hamidin; dan Bupati Kupang, Kornelis Masneno pada Jumat siang, 29 Mei 2020 di Desa Manusak.

Menteri Syahrul Yasin Limpo pun memberikan arahan dan memotivasi para petani Program TJPS untuk memaksimalkan panas, air dan lahan yang tersedia.

Foto bersama Kepala Desa Manusak, Arthur Ximenes (tengah depan berbaju batik dan bermasker merah) bersama perangkat desa, perangkat dusun, dan para petani Program TJPS Desa Manusak

Lantas, seperti apakah kesediaan dan semangat para petani (kebanyakan adalah warga eks Timor Leste, red) menyongsong Program TJPS tersebut dan dapat secara maksimal mengolah lahan Desa hasil pemekaran dari Desa Pukdale pada tahun 2003 ? Simak petikan wawancara antara Garda Indonesia dan Kepala Desa Manusak, Arthur Ximenes pada Jumat, 29 Mei 2020 di Kantor Desa Manusak di bawah ini:

Garda Indonesia : Seberapa luas lahan yang digunakan di Desa Manusak?

Kepala Desa Manusak : Hampir 40 hektar, yang tadi secara simbolis dilakukan penanaman jagung oleh Pak Menteri dan Pak Bupati ada 5 hektar.

Garda Indonesia : Program TJPS yang sudah berjalan dan dilakukan panen berjalan?

Kepala Desa Manusak : Kalau panen perdana tahap pertama sudah dilakukan dan tahap kedua untuk musim kemarau. Tahap pertama sudah dilakukan oleh masyarakat secara mandiri.

Garda Indonesia : Diperoleh berapa banyak ton jagung untuk pengolahan pertama?

Kepala Desa Manusak : Kalau dari kurang lebih 40 hektar lebih banyak fokusnya untuk padi. Pengolahan pertama dilakukan oleh masyarakat dan pengolahan kedua inilah yang diintervensi oleh pemerintah untuk program TPJS. Kami dari pemerintah desa sifatnya untuk membekali, karena ini ada di wilayah kami dan yang menjadi penerima manfaat tersebut adalah kelompok tani yang ada. Sebagai kepala desa mesti ada untuk memperlancar segala program yang dicanangkan oleh pemerintah.

Garda Indonesia : Berapa banyak kelompok tani (poktan) yang dilibatkan untuk program ini?

Kepala Desa Manusak : Kali ini, kurang lebih ada 3 kelompok tani walaupun lebih fokus ke satu kelompok tani yaitu Liselik. Ada lagi dua kelompok yang lain. Secara total ada 18 kelompok tani di Manusak yang sudah memiliki SK dan yang belum memiliki SK kurang lebih ada 10 kelompok tani.

Garda Indonesia : Luas lahan yang dijadikan sebagai lahan pertanian oleh masyarakat Manusak ada berapa hektar?

Kepala Desa Manusak : Di sini untuk lahan basah kurang lebih ada 250 hektar dan petani-petani ada yang menanam bawang merah. Dua minggu lalu diadakan panen kacang hijau dari provinsi hasil olahan kelompok tani yang baru pulang dari Cina. Karena tahun ini gagal tanam karena hujan, karena musim panasnya 8 bulan dan 4 bulan sisanya musim kemarau.

Garda Indonesia : Program tanam air apakah ada di sini?

Kepala Desa Manusak : Sudah ada P2T dan teman-teman kelompok yang lain secara swadaya, tetapi yang kita harapkan adalah optimalisasi dalam mengejar target dalam penyelesaian irigasi waduk Raknamo. Ini sedang berjalan semoga sebelum 31 Desember 2020 sudah tuntas.

Garda Indonesia : Keberhasilan yang sudah ditorehkan oleh Desa Manusak?

Kepala Desa Manusak : Ada pemberdayaan yang kita lakukan dengan bantuan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pemerintah desa itu mesti mengikuti iklim yang ada. Seperti pada tahun 2020, hujan hanya sekitar 4 bulan sehingga langkah yang kita lakukan itu mendorong masyarakat melalui aparat-aparat dusun, RT/RW, BPD dan pendamping desa, kita betul-betul memanfaatkan lahan yang ada. Ada yang menanam kacang hijau, jagung, tanaman hortikultura yang lain, ada juga masuk di peternakan. Kami tentu memiliki prestasi, tetapi kami memiliki tujuan yang pasti yaitu untuk menyejahterakan masyarakat.

Garda Indonesia : Berapa banyak jumlah jiwa dan KK di Desa Manusak?

Kepala Desa Manusak : Dilihat dari sisi historis dan fakta di lapangan bahwa ada 839 KK dengan total jiwa 4.317 dengan mayoritasnya ada warga eks Timor-Timur. Itu memiliki sebuah tantangan sendiri. Dengan demikian mulai tahun 2014 sebelum ada dana desa, 2013 kita berupaya melakukan pemberdayaan yang lebih fokus pada perikanan.

Selain itu, dengan pemerintah daerah dan kementerian peternakan, kita melakukan pembagian sapi lalu tahun 2019—2024, kita akan fokuskan masyarakat untuk peternakan, jagung dan pertanian. Karena kalau peternakan melalui dana desa selalu berupaya untuk membentuk kelompok agar masyarakat secara bersama bisa menerima sapi dari pemerintah desa agar digulirkan demi perekonomian keluarga.

Garda Indonesia : Berapa banyak sapi yang dihasilkan dari program tersebut?

Kepala Desa Manusak : Tahun 2020 ada 25 ekor, kami akan membuat SK sehingga ada 25 orang yang menerima itu. dari 25 orang, tidak dikembalikan ke desa, setelah 4 tahun harus putar kepada tetangganya yang belum mendapatkan sapi. Sehingga betul-betul bukan pinjam modal lalu kembalikan dengan modal, tetapi kita mendampingi dan memberdayakan masyarakat sesuai dengan perencanaan yang ada.

Sehingga dari RI yaitu Pak Menteri berserta jajarannya, Pak Gubernur serta jajarannya, dan kami di pemerintah daerah dengan paket komplit Pak Bupati yaitu 5P. Kami di desa korelasikan program itu menjadi kekuatan untuk bisa merencanakan dan membangun bersama-sama.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Ini Arahan dan Motivasi Menteri Pertanian bagi Petani TJPS di Desa Manusak

296 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Yang menarik bagi saya untuk datang ke NTT adalah keinginan kuat masyarakat dan Pak Gubernur yang selalu memilih diksi yang seksi. Pilihan diksinya itu “Mau NTT Tidak Miskin.” Beliau selalu katakan NTT miskin, itu yang harus diubah dan itu membuat saya hadir bukan hanya karena Menteri,” ujar Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo saat memberikan sambutan dalam kunjungan kerjanya saat situasi pamdemi Covid-19 di Desa Manusak pada Jumat siang, 29 Mei 2020.

Kunjungan Menteri Pertanian untuk memberikan bantuan dan mendukung lahan pertanian di Provinsi NTT khususnya mendorong Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) besutan Gubernur VBL di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain Menteri Syahrul, turut hadir sejumlah pejabat dari Kementerian Pertanian.

Sebelum menyerahkan bantuan bibit jagung hibrida komposit dan bawang merah kepada petani di Desa Manusak dan melepas dua kontainer jagung (42 ton) menuju ke Surabaya, Mantan Bupati Sulawesi Selatan ini pun berkata suka tantangan seperti Bupati Kupang.

“Saya bekas kepala desa 1 tahun 9 bulan, saya pernah jadi lurah 9 bulan, saya pernah jadi camat 4 tahun, saya pernah jadi bupati dua periode, jadi wakil gubernur satu periode. 25 tahun saya jadi kepala daerah. Oleh karena itu Pak Bupati dan warga sekalian, mengatakan untuk tidak miskin itu jawabannya di depan mata dan sudah ada di NTT untuk menjawab itu. Jawabannya adalah pertanian,” ungkapnya.

Menteri Syahrul Yasin Limpo saat mengendarai traktor dan ditemani Kapolda NTT

Lanjut Menteri Pertanian, “Pak desa, pak camat, tokoh-tokoh masyarakat, para orang tua, kalau mau tidak miskin, Allah memberikan di depan mata ada tanah, air, api, angin untuk bisa hidup lebih baik. Yang miskin itu kalau memang tidak melakukan kerja. Saya jadi gubernur memulai dengan pendapatan rakyat saya Rp.8 juta, saya mengakhiri pendapatan rakyat saya per tahun Rp.48,6 juta.”

“Adakah yang lain?” tanya Menteri Limpo sebelum melakukan penanaman jagung hibrida komposit bersama Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat; Kapolda NTT Irjen Pol Hamidin; dan Bupati Kupang, Korinus Masneno.

Jawabnya, “Tidak!, hanya pertanian, perikanan dan peternakan. Ini semua kerja semua orang. Saya percaya mimpinya Pak Gubernur akan selesai tidak sampai 5 tahun.”

“Dream it, believe it dan make it happen. Believe your dream and your dream become true, ujarnya menirukan ucapan Gubernur NTT.

Hari ini saya hampir menangis dengar Pak Gubernur berbicara seperti itu, ungkap Menteri Syahrul. Kunci daerah yang bisa maju itu bahwa kalau kepala daerahnya memang mau, apa yang kurang? Kita punya hakikat, akademik yang cukup, kamu turun tangan di situ. Riset kita cukup.

Dalam pertanian itu ada tiga hal, cuaca harus diperhitungkan berarti water management harus jalan. Bagaimana air tetap mengalir disini, tolong Pak Dirgen Ketahanan Pangan pompa airnya tambah 20 lagi di sini. Ekskavator juga, kalau sudah panen dan tidak dikeringkan nanti hancur lagi, kalau perlu pakai kombinasi besar biar sekali masuk panen, langsung refill.

Tegas Menteri Limpo, “Jagung itu yang tidak boleh ditanam hanya di kuburan dan aspal. Yang lain bisa, batu-batu sekalipun bisa. Yang mau itu semangat kita. You become what you think. Karena itu para pejabat dan tokoh masyarakat mau menjadikan ini seperti apa? Kalau kalian bilang tidak bisa, ya tidak bisa. Kalau bilang ini pasti bisa, tembok-tembok dan batu-batu itu berputar dengan kekuatan kita.”

Menteri Pertanian memberikan bantuan simbolis kepada petani TJPS Desa Manusak yang diterima oleh Gubernur VBL

Ia pun memberikan petunjuk kepada para petani Desa Manusak, “Saya kepala desa dan camat teladan di Indonesia, oleh karena itu saya mau hitung dengan baik, satu hektar ini kalau jagung bisa sampai 8—12 ton. Di sini taruhlah kisaran 5 ton. 5 ton per hektar itu berarti kali 3.200 per kg, berarti Rp.16 juta. Ongkos kerja ini sampai merokok dan makan di dalam senilai Rp.5 juta, masih ada 10 juta. Dalam Rp.5 juta itu sudah bayar traktor lagi, jadi bisa disisihkan satu juta. Jadi ini tinggal diolah.”

Selain bantuan pemerintah, imbuhnya, kita siapkan lagi. Kalau memang kita ingin cepat. Untuk manual 10 orang, satu hari satu hektar. Kalau dengan mesin 4—5 hektar dalam satu hari. Lahan cukup banyak di sini, 3—4 hektar kali 15 juta berarti ada 60 juta bagi 100 hari atau 3 bulan berarti 10 juta. Hanya dengan dengan jagung.

“Jangan ada yang mundur,” tegasnya lagi memotivasi petani jagung yang bakal berjibaku dalam Program TJPS.

Di dalam suasana Covid dan krisis seperti ini, beber Menteri Syahrul, sampai dua tahun ekonomi yang bisa jalan adalah pertanian karena masalah perut. Oleh karena itu betul sekali strategi Pak Gubernur genjot habis. Tolong teman-teman perbankan salurkan modal untuk alat-alat besar, yang kalian bisa jamin pengembalian uang hanya pertanian sampai dengan dua tahun ke depan. Jangan ragu dan turunkan seperti itu.

“Saya dan Pak Bupati akan ke sini 100 hari lagi,” tandasnya berjanji seraya berujar optimis dan berharap 100 hari lagi melihat hasil tanam, bibit tambahkan saja dan tolong atur dan bermimpi juga sepanjang di jalan, di depan rumah dikasih bibit jagung, karena masih lihat ada tanah yang gersang.

Dia pun mengungkapkan saat menjadi Bupati Sulawesi Selatan mencanangkan 100 juta ekor sapi, pada saat itu sapi hanya mencapai 280 ribu ekor. “Bersama seluruh profesor-profesor di Unhas saya lewati 1,2 juta. Saya yakin dengan pikiran Pak Gubernur yang dahsyat itu, saya ada di belakang Pak Gubernur sebagai teman kita ubah ini NTT,” katanya memotivasi kemudian melanjutkan penanaman jagung bersama Gubernur NTT.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto oleh Aven Rame

Panen Jagung Program TJPS di Kab. Kupang, Gubernur NTT: Belajar dari Kisah Yesus

279 Views

Kab Kupang, Garda Indonesia | Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengajak Kepala Dinas Pertanian, Para Pendamping dan juga Kelompok Tani Sehati agar menjadikan Yesus sebagai teladan dalam bekerja. Hal ini disampaikannya saat panen dan tanam jagung jenis Sumo, NK 212 dan Pioner di Desa Oeteta Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, pada Jumat, 24 April 2020.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/04/02/ikut-program-tjps-gubernur-vbl-apresiasi-kinerja-kelompok-tani-fajar-pagi/

“Waktu Yesus memberi makan lima ribu orang itu hanya bermodalkan lima potong roti dan dua ekor ikan. Jadi walaupun saat ini kita bergerak dengan segala keterbatasan, sebagai Gubernur saya minta agar hal ini tidak menjadi penghalang, melainkan harus menjadi motivasi agar kita bekerja lebih giat untuk menghasilkan produk yang berkualitas baik dan bermanfaat bagi banyak orang,” kata Gubernur memotivasi.

“Prinsip saya dalam bekerja adalah tidak ada yang tidak bisa. Kalau kita sudah mulai dengan tidak bisa, maka selamanya tidak akan berhasil. Datang dan katakan bahwa bisa, ini baru dinamakan orang yang mau berubah dan mau berhasil,” sontak Gubernur Laiskodat.

Lebih lanjut, berkaitan dengan kegiatan panen hari ini, mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem ini, menghimbau agar ke depan program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) harus digalakkan di tempat ini.

“Saya mau agar ke depan, petani di tempat ini dapat membeli sapi dari hasil panen jagung. Pak Kadis Pertanian harus galakkan program TJPS. Sehingga batang jagung yang setelah dipanen dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak,” imbau Gubernur VBL.

Dengan bermodalkan lahan kosong yang masih sangat luas di sini, Gubernur VBL juga meminta agar bulan September nanti, tempat ini kembali dilakukan panen jagung dengan hasil yang lebih bagus.

“Saya mau jagung jenis Sumo, Nasa dan Pioner harus segera ditanam di lahan seluas sepuluh ribu hektar agar bulan September nanti bisa dipanen. Saya akan siapkan anggaran sebesar Rp.25 Miliar. Pak Kadis Pertanian segera buatkan rinciannya, mulai dari benih, pupuk dan juga traktor untuk membuka lahan, semuanya harus disiapkan sebaik mungkin,” pintanya.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat (bertopi baret dan berkacamata) saat panen jagung

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi NTT, Yohanis Oktovianus dalam sambutannya mengatakan bahwa Dinas yang dipimpinnya siap melaksanakan apa yang diperintah oleh Bapak Gubernur NTT. “Sesuai dengan perhitungan kami bahwa anggaran sebesar 25 Miliar yang disampaikan langsung oleh Bapak Gubernur, sangat bisa untuk mengolah lahan seluas sepuluh ribu hektar,” terang Kadis Oktavianus.

Di samping itu, Ketua Kelompok Tani Sehati, Kris Liunome mengatakan bahwa lahan yang saat ini diolah oleh Kelompok Tani Sehati seluas 7 hektar, dan masing – masing hektarnya mampu memproduksi jagung sebanyak 13 ton. Masih menurut Kris, bahwa hasil panen kali ini terasa sangat istimewa karena sudah ada pengusaha yang langsung datang ke lokasi untuk membelinya dengan harga Rp.3.200 per kilonya.

Tampak hadir pada kesempatan ini, Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT Christian Mbuik, beberapa Anggota DPRD Provinsi NTT dan Kabupaten Kupang dan juga Wakapolres Kabupaten Kupang.(*)

Sumber berita dan foto (*/Sam Babys–Staf Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Kelompok Tani Program TJPS ‘Lestari Indah’ Belu Panen Raya Jagung

218 Views

Belu- NTT, Garda Indonesia | Salah satu Program favorit Pertanian Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang dicanangkan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur Yoseph Nae Soi terus menuai hasil.

Salah satunya adalah Kelompok Tani (Poktan) jagung ‘Lestari Indah’, seperti disaksikan Garda Indonesia, saat melakukan panen raya di Dusun Naba, Desa Tasain, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di lahan milik Gregorius Molo, yang juga selaku ketua kelompok tani seluas 1 hektar, pada Senin, 13 April 2020.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/04/02/ikut-program-tjps-gubernur-vbl-apresiasi-kinerja-kelompok-tani-fajar-pagi/

Ketua Kelompok Tani ‘Lestari Indah’, Gregorius Molo menuturkan, sejak awal program itu hadir di Desa Tasain, dirinya tidak menghadiri sosialisasi. Tetapi, setelah diketahuinya dari cerita masyarakat petani sekitar, dirinya menyadari TJPS sebagai program yang sangat bermanfaat. Karena itu, ungkapnya, perlu adanya dukungan pemerintah untuk mengadakan mesin pipil dan terutama soal pasaran.

Ketua Kelompok Tani ‘Lestari Indah’, Gregorius Molo (bertopi dan berbaju kaos kuning) saat foto bersama para petani TJPS

“Hasil panennya sangat banyak. Kalau kita simpan di rumah pasti rusak. Kalau bisa pemerintah pastikan bagi kami harus jual ke mana, biar tidak ditimbun di rumah. Kita juga minta mesin pipil karena hasil yang banyak seperti ini, tentu kita kesulitan dalam memipil secara manual,” pinta mantan kepala Desa Tasain itu.

Kelompok tani ‘Lestari Indah’ ini merupakan salah satu poktan dari total 12 poktan yang tersebar di wilayah Desa Tasain dan didampingi langsung oleh Yohana Taus. Kegiatan itu dihadiri juga oleh pendamping kelompok tani dari desa lain di Kecamatan Raimanuk yakni, Sariana Martha Boru dan Kristoforus Loe Talo (Desa Teun); Agustina Yulistia Beti (Desa Mandeu); Maria Nelde Laku (Desa Duakoran). Selain itu, hadir juga pendamping TJPS lainnya dari Kecamatan Tasifeto Timur, yakni, Emanuel Luan dan Angelina Abuk (Desa Silawan).

Pendamping TJPS Desa Teun, Kristoforus Talo menjelaskan, hasil maksimal yang diperoleh petani jagung itu atas telah suksesnya penerapan inovasi teknologi pertanian dengan pola tanam sistem double track, 20 : 40 : 90 dengan bibit jagung komposit (lamuru).

Koordinator lapangan TJPS Kabupaten Belu Petrus Sama Lelo yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Senin malam, 13 April 2020, menyampaikan terima kasih kepada teman- teman sejawatnya yang sudah sukseskan panen raya di Desa Tasain, meskipun dirinya berhalangan hadir.

Kegembiraan Petani TJPS saat melakukan panen raya di Dusun Naba, Desa Tasain, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu

Petrus mengakui, tidak hadirnya pejabat daerah dalam kegiatan itu lantaran akibat dari kondisi negara yang sedang dilanda bencana penyebaran Virus Corona. “Sebenarnya kita mau undang bupati dan wakil bupati untuk hadiri kegiatan itu. Tetapi kondisi sekarang ini tidak mengizinkan untuk berkerumun,” tandasnya.

Menanggapi panen raya tersebut, Kepala Desa Tasain Amandus Koamesak mengatakan, dirinya merasa luar biasa lantaran dengan hadirnya program TJPS di wilayah desanya itu, dinilainya sangat membantu para petani dalam meningkatkan hasil panen para petani jagung.

“Saya rasa senang dan luar biasa karena hasil panen jagung tahun ini meningkat drastis. Sebelum ada program TJPS, hasil panen jagung hanya berkisar 30 kilogram per are. Sekarang ini, hasilnya sudah bisa mencapai 60 kilogram per are. Ini sesuatu yang membanggakan dan patut untuk diberikan apresiasi. Terima kasih pak Gubernur,” ungkap kepala desa.

Amandus berharap, program ini terus berlanjut demi kesejahteraan masyarakat petani jagung di Desa Tasain. “Kita harap program ini tidak terputus, karena masyarakat sangat membutuhkan fasilitasi dari para pendamping TJPS,” pungkas Koamesak. (*)

Penulis (*/HH)
Editor (+rony banase)

Gubernur VBL Pinta Petani TJPS di TTU Dapat Jadi Penyuluh Bagi Petani Lain

226 Views

Insana-TTU, Garda Indonesia | “Sebagai Gubernur, saya mengucapkan terima kasih buat para pendamping yang dengan penuh semangat, tetap setia mendampingi petani di sini, sehingga kualitas jagung yang dipanen sangat memuaskan. Meski saat ini dunia sedang dilanda Virus Corona yang sangat meresahkan, tetapi semangat para pendamping dan juga para petani di tempat ini tidak surut sedikit pun. Sekali lagi terima kasih buat semuanya,” tutur Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL).

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/04/02/ikut-program-tjps-gubernur-vbl-apresiasi-kinerja-kelompok-tani-fajar-pagi/

Pesan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) tersebut disampaikannya kepada para petani yang mengikuti Program TJPS (Tanam Jagung Panen Sapi); saat melakukan panen jagung jenis Komposit Lamuru secara simbolis di Desa Letneo, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, pada Selasa, 7 April 2020.

“Ke depan saya minta agar program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) ini melibatkan seluruh komponen yang ada di Kabupaten, termasuk juga TNI dan POLRI. Tentunya saya akan berkoordinasi dengan Kapolda dan Danrem agar dapat mengerahkan seluruh perangkatnya untuk terlibat secara aktif di lapangan,” sambung Gubernur.

Gubernur VBL saat memanen jagung di lahan sebelah embung

Bermodalkan sebuah embung yang ada di dekat lokasi panen jagung ini, membuat mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem ini kembali mengajak para petani dan juga pendamping yang ada untuk kembali melakukan proses penanaman jagung. “Tadi ketika melakukan panen, saya lihat ada sebuah embung besar. Jadi setelah panen kali ini saya ajak semua untuk kembali melakukan penanaman. Nanti pemerintah akan bantu Dinamo Air untuk menyedot air yang ada di embung untuk proses penyiraman. Jadi walaupun musim panas, jagungnya akan tetap berhasil,” pinta Gubernur Viktor.

Lanjutnya,” Dan para petani tidak perlu khawatir tentang proses penjualannya, karena berapa pun hasi panennya, pemerintah melalui PT Flobamor akan langsung datang ke lokasi untuk membelinya. Saat ini pihak PT Flobamor juga ada di sini untuk proses pembeliannya”.

Gubernur VBL mencuci tangan untuk antisipasi penyebaran Virus Corona,

Gubernur VBL meminta agar seluruh petani ketika selesai memanen jagung, batangnya jangan dibuang atau dibakar, karena batang jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. “Nanti pemerintah akan siapkan ahlinya agar dapat mengajarkan ke para petani. Tentunya hal ini sejalan dengan program TJPS ini. Tanam jagung, hasil panennya dijual pada pasar (market) yang sudah ada, uang hasil jualan dipakai untuk membeli sapi, dan sapinya bisa makan batang jagung hasil panen yang telah diolah menjadi pakan ternak, ini yang dinamakan kerja secara terencana,” urai Gubernur.

Gubernur juga meminta agar proses pendampingan dari Dinas Pertanian ini cukup 2 kali, setelah itu para petani sudah harus mandiri. “Yang paling penting, ilmu yang telah didapat harus diajarkan kepada para petani lainnya, sehingga mereka juga bisa melakukan hal yang sama di tempat mereka,” tandas Gubernur VBL mengakhiri sambutannya.

Pada tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Yohanis Oktovianus mengatakan bahwa jumlah tenaga pendamping sebanyak 11 orang, pendampingan yang dilakukan terhadap para petani di tempat ini, sampai kepada proses penukaran dengan sapi.

Untuk diketahui, Kabupaten TTU memiliki lahan yang telah ditanami jagung jenis Komposit Lamuru di lahan seluas 350 hektar, yang terletak di Kecamatan Insana Barat dan Kecamatan Insana Tengah yang memiliki luas yang sama 175 hektar, dengan total jumlah petani sebanyak 350 orang, dengan alokasi satu orang petani menggarap satu hektar lahan. Sedangkan untuk kualitas jagung sendiri, dipastikan bahwa satu hektar mampu menghasilkan jagung sebanyak 6—7 ton dengan kadar air 14 persen.

Turut hadir pada kesempatan ini, Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes, Anggota DPR RI Kristina Mukin, Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT Kristian Mbuik dan juga Staf Khusus Gubernur NTT Imanuel Blegur.(*)

Sumber berita dan foto (*/Sam Babys–Staf Biro Humas dan Protokol)
Editor (+rony banase)

Ikut Program TJPS, Gubernur VBL Apresiasi Kinerja Kelompok Tani Fajar Pagi

213 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), kembali melakukan kunjungan ke Kabupaten Kupang pada Kamis, 2 April 2020. Kunjungannya kali ini dalam rangka panen jagung jenis Komposit Lamuru yang terletak di Kecamatan Amabi Oefeto yang melaksanakan Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS).

Baca juga:

https://gardaindonesia.id/2020/03/15/program-tanam-jagung-panen-sapi-berjalan-kab-sbd-panen-perdana/

Gubernur sangat mengapresiasi apa yang telah dikerjakan oleh Kelompok Tani Fajar Pagi, karena telah berhasil menanam, merawat dan akhirnya dapat menuai hasil dengan kualitas yang sangat baik. Melihat hasil yang telah dicapai oleh Kelompok Tani Fajar Pagi ini, membuat mantan Anggota DPR RI ini meminta Kadis Pertanian untuk segera mendata jumlah lahan di Kabupaten Kupang yang ke depannya dapat ditanami jagung.

“Saya mau agar ke depan Dinas Pertanian mendata berapa besar lahan kosong yang dapat ditanami jagung, siapa yang mengelola, sampai ke perhitungan anggaran. Buat perhitungan sampai ke anggaran yang dibutuhkan berapa banyak, sehingga pemerintah akan masuk untuk memfasilitasinya,” urai Gubernur VBL.

Lanjutnya, ” Kalau kesulitan air maka pemerintah akan membantu dengan cara membelokkan aliran air dari sungai yang ada di sekitar ke lokasi tanam. Jadi tidak akan ada lagi masalah mengenai air ke depan. Asalkan untuk kesejahteraan rakyat, maka apa pun akan difasilitasi oleh pemerintah, tentunya dengan perhitungan yang cermat,” sambung Laiskodat.

Gubernur VBL saat ikut memanen jagung dari Petani di Kecamatan Amabi Oefeto yang melaksanakan Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS)

Sebelum meninggalkan lokasi panen ini, Gubernur Viktor juga meminta kepada pihak kelompok tani ini agar batang jagung yang telah selesai dipanen, dikumpulkan kembali untuk dijadikan pakan ternak. Dan tentunya pihak pemerintah akan menyiapkan orang untuk melatih kelompok tani ini mengenai cara mengolahnya.

Hingga saat ini, kelompok tani fajar pagi ini telah berhasil memanen jagung dengan jenis yang sama di lahan seluas 52 hektar, dan masing-masing hektarnya mampu menghasilkan jagung 5,5—6 ton per hektarnya.

Sekadar informasi, tempat ini pernah didatangi oleh Gubernur VBL sebelum dirinya dilantik menjadi Gubernur NTT. Saat itu dirinya meminta agar tempat ini mampu melaksanakan program pemerintah “Tanam Jagung Panen Sapi” (TJPS), saat itu pula dirinya berjanji akan mendatangkan tenaga pendamping untuk melatih para petani mengenai cara tanam yang baik sampai ke proses panennya.

Saat ini kelompok tani Fajar Pagi ini didampingi oleh 10 orang tenaga pendamping yang berasal dari Dinas Pertanian Provinsi dan dari Pihak Universitas Nusa Cendana. Dan apa yang beliau sampaikan saat itu terbukti telah dikerjakan dan menuai hasil yang sangat baik, karena saat ini kelompok tani ini mampu menghasilkan kualitas jagung yang baik, dan setiap anggotanya saat ini telah memiliki sapi dari hasil tanam jagung.

Turut hadir mendampingi Gubernur, Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT Christian Mbuik dan juga Staf Khusus Gubernur Imanuel Blegur.(*)

Sumber berita dan foto (*/Sam Babys–Staf Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Program Tanam Jagung Panen Sapi Berjalan, Kab. SBD Panen Perdana

488 Views

Sumba Barat Daya, Garda Indonesia | Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan diinisiasi para peneliti handal yang dijalankan di 7 (tujuh) kabupaten yakni di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Belu, Malaka, Sumba Timur, dan Sumba Barat Daya (SBD) berjalan dan mulai membuahkan hasil.

Panen Perdana Program TJPS dilaksanakan di Desa Weekombak, Kecamatan Webar, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) pada Sabtu, 14 Maret 2020, dihadiri oleh Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Yohanes Oktavianus.

Untuk mengenal lebih detail tentang tujuan Program TJPS dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi NTT, maka pada Sabtu, 14 Maret 2020 Sekitar pukul 15.11 WITA, Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Miqdont Abola kepada media ini mengatakan bahwa Program TJPS dilaksanakan sejak tahun 2019 yang menyasar lahan kering seluas 2.400 hektar dan untuk meminimalkan angka kemiskinan.

“Konsep TJPS dilakukan sebagai implementasi atas hasil kajian tim ahli dari Balai Penelitian Terpadu Pertanian (BPTP) Provinsi NTT, Fakta di lapangan membuktikan bahwa saat petani mengikuti pendekatan TJPS maka hasil panen berbeda dengan pendekatan tradisional,” ungkap Miqdont.

Jagung Varietas Baru dan Unggul yang ditanam dalam Program TJPS

Mengenai tata kelola program TJPS, urai Miqdont, per petani harus mengelola luas lahan kering seluas 1 hektare (tak meski harus di satu lokasi) dengan menggunakan teknologi. “Secara manual, petani miskin di kantong-kantong kemiskinan hanya mengolah lahan kering maksimal seluas 20—25 are setahun. Dengan luas lahan tersebut maka hasil produksi jagung hanya berkisar 900 kg—1 ton saja, dan dengan kondisi tersebut (asumsi 1 rumah tangga terdapat 5 orang), data kita menunjukkan ketahanan pangan masih diragukan (tidak termasuk pendapatan yang harus disisihkan). Dari kondisi tersebut, maka diinisiasi konsep untuk mengintegrasikan produksi jagung dan sapi,” beber Miqdont.

Lanjut Miqdont, Mengapa Sapi? Karena Sapi merupakan bagian dari budaya petani Timor dan Sumba dan dari sisi ekonomi mempunyai peranan sangat penting untuk membangun ekonomi. Provinsi NTT memiliki banyak sapi, namun populasi dan distribusi kepemilikan hanya berada pada segelintir orang. “Sebagian besar petani memiliki banyak ternak sapi, namun semu, karena sapi tersebut kepunyaan orang lain,” ungkap Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT.

Bulir Jagung dari Varietas Baru dan Unggul

Tentang konsep TJPS, secara gamblang Miqdont menjelaskan, dalam 1 (satu) siklus panen, 1 Kepala Keluarga (KK) mengelola 1 (satu) hektar lahan kering yang mana biaya pengolahan tanah dari anggaran pemerintah dan menjadi tanggung jawab pemerintah untuk meringankan beban petani. “Kita patok produksi jagung harus sebanyak 5 (lima) ton per hektar. Dari 5 ton jagung, dialokasikan 1—1,5 ton untuk ketahanan pangan selama setahun, 3,5—4 ton dialokasikan untuk dijual kemudian dibelikan 1 (satu) ekor sapi dan masih menyisihkan dana tunai untuk simpanan petani,” urai Miqdont.

Dari kondisi tersebut, jelas Miqdont, dalam 1 (satu) siklus produksi, kita bisa merubah petani dari yang tidak aman pangan menjadi memiliki keamanan pangan, dan petani yang tidak memiliki sapi akhirnya memiliki sapi. “Ini yang mau terus kita lakukan, sehingga secara bertahap distribusi kepemilikan sapi bisa menjadi merata di tingkat masyarakat karena tidak mungkin pemerintah dapat membelikan sapi untuk masing-masing petani. Itulah konsep Tanam Jagung Panen Sapi,” ujar Miqdont seraya berkata jika lahan kering yang dimiliki petani memiliki sumber air, maka pemerintah membantu pompa air.

Foto bersama Pendamping dan Petani Program TJPS bersama hasil panen jagung

Sementara itu, Ketua Tim Ahli TJPS, Dr. Ir. Tony Basuki, M.Si. menyampaikan bahwa tahapan penanaman jagung di Kabupaten Sumba Barat Daya dimulai pada November 2019 sehingga dapat memanen jagung pada Maret 2020. “Saat ini, di Kabupaten SBD melakukan panen perdana oleh Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, namun sebelumnya dilaksanakan persiapan lahan, olah tanah termasuk pendampingan dan pelatihan, jadi harus ada internalisasi kepada petani sehingga petani paham tentang Program TJPS,” terang Tony Basuki.

Adi Rekrut Pendamping Program TJPS, jelas Tony, direkrut 800 orang pada Desember 2019 oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, dan terjaring 99 pendamping lalu dilatih dan mulai bekerja dengan langkah utama yakni “Calon Petani Calon Lahan (CPCL)” yang diarahkan oleh Dinas termasuk pendampingan non teknis termasuk dilatih ulang oleh Tim Ahli TJPS.

Adapun Tim ahli TJPS terdiri dari Ketua Tim dari BPTP NTT/Ahli Pertanian, Dr. Ir. Tony Basuki, M.Si.; anggota, Dr. Ir. Evert Y. Hosang, M.Si (BPTP NTT/,Ahli Pertanian); Dr. Marten Mulik (Fapet Undana/ahli Peternakan); Dr. Ir. Twen Dami Dato (Fapet Undana/Ahli Ternak); Dr. Ir. Yohanis Ngongo, M.Sc (BPTP NTT/Ahli Sosial Ekonomi); Dr. Herry Kotta (Undana/Ahli Lingkungan); Ir. Debora KanaHau, M.Si (BPTP NTT/Ahli Peternakan); Ir. Bambang Permana, M.Si (Dinas Peternakan NTT); dan Dr. Bernard de Rosari, S.P., M.P. (BPTP NTT, Ahli Ekonomi Pertanian).

Hasil panen jagung varietas baru dan unggul dari Program TJPS di Kabupaten Sumba Barat Daya

“Kabupaten SBD dan Sumba Timur mulai menanam jagung pada November 2019, sedangkan sebagian besar kabupaten lain menanam pada awal Januari 2020 dan bakal memanen pada awal April 2020,” tutur Tony Basuki seraya berharap agar Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dapat hadir saat panen pada di Kabupaten berikutnya karena merupakan salah satu program andalannya.

Sekitar 70 desa dilibatkan dalam Program TJPS di 7 (tujuh) kabupaten di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, urai Tony, merupakan komoditas kebanggaan orang NTT yakni jagung dan ternak sapi, namun saat ini bukan lagi menjadi komoditas komersial, namun hanya sekadar keamanan pangan (food security) petani NTT.

“Kondisi saat ini yang mana petani hanya asal tanam jagung saja dan tidak punya kebanggaan akan ternak sapi, maka kami membuat komitmen dengan petani yang mau menjalankan Program TJPS karena harus memproduksi 5 (lima) ton jagung hasil panen per 1 (satu) hektar lahan kering dengan menyiasati pola tanam sistem double track dan menggunakan varietas unggul baru yang dapat meningkatkan produksi di atas 30 persen,” ungkapnya.

“Awalnya banyak orang ragu terhadap Program TJPS, namun saat ini mulai menampakkan hasil layaknya panen di Kabupaten SBD,” pungkas Tony Basuki, Ketua Tim Ahli TJPS.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)