Arsip Kategori: Pertanian & Perkebunan

Tim Dosen Fapet Undana Beri Diseminasi Teknologi Peternakan bagi Warga Noeltoko

129 Views

Noeltoko-TTU, Garda Indonesia | Desa Noeltoko di Kabupaten TTU memiliki nilai sejarah karena merupakan wilayah “Sonaf” atau pusat kerajaan dan ditetapkan oleh Bappenas sebagai desa percepatan dalam pengembangannya. Akhir-akhir ini Desa Noeltoko semakin terkenal dengan terungkapnya kasus “stunting” yang memiliki tingkat prevalensi cukup tinggi.

Mencermati potensi dan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Noeltoko, tim Dosen Fapet Undana dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Badan Riset Inovasi Nasional Republik Indonesia (Kemristekdikti) melalui skim Program Diseminasi Teknologi pada Masyarakat (PDTM) tahun 2019 telah dan sedang melakukan kegiatan Hilirisasi Teknologi Peternakan bagi peternak di Desa Noeltoko.

Alasan pelaksanaan kegiatan tersebut karena masyarakat Desa Noeltoko mengandalkan sektor pertanian termasuk peternakan sebagai sumber pendapatan utama dalam perekonomian rumah tangga mereka. Akan tetapi dalam pengelolaannya masih dilakukan secara tradisional, sehingga pemanfaatan berbagai sumber daya yang tersedia belum optimal dan berdampak pada rendahnya produktivitas usaha, khususnya di bidang peternakan, masyarakat (peternak) Desa Noeltoko masih dilakukan secara tradisional yang ditandai dari penyediaan pakan pada ternaknya masih tergantung pada pakan konvensional seperti hijauan untuk ternak sapi dan umbi-umbian serta biji-bijian pada ternak babi.

Foto bersama Tim Dosen Fapet Undana dan warga Desa Noeltoko Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU)

Selain itu, ternak yang diusahakan masih mengandalkan genetik lokal baik ternak babi maupun sapi. Oleh karena itu, kegiatan ini difokuskan pada kegiatan teknologi perbaikan pakan dan teknologi inseminasi buatan pada ternak babi dan sapi.

Adapun tujuan kegiatan Program Diseminasi Teknologi pada Masyarakat (PDTM) tahun 2019 antara lain:

Pertama, meningkatkan pemahaman peternak dalam memanfaatkan sumber daya lokal yang belum dimanfaatkan untuk perbaikan usaha ternak dan pentingnya perbaikan mutu genetik ternak lokal melalui introduksi genetik unggul dengan memanfaatkan teknologi inseminasi buatan;

Kedua, meningkatkan ketrampilan peternak dalam mengolah bahan pakan lokal berupa limbah pertanian terutama bonggol pisang sebagai pakan ternak babi dan sapi;

Ketiga, meningkatkan ketrampilan peternak khususnya generasi muda desa dalam penguasaan teknologi inseminasi buatan baik untuk ternak babi maupun ternak sapi.

Pakan ternak merupakan faktor penentu dalam suatu pemahaman peternakan oleh karena biaya pakan memiliki porsi terbesar dalam suatu siklus produksi. Pada tingkat peternak khususnya di pulau Timor, usaha peternakan sapi potong masih dilakukan secara tradisional memanfaatkan pakan lokal yang tersedia di tingkat peternak terutama hijauan legume dan rumput alam. Pada kondisi pemeliharaan yang demikian menyebabkan produktivitas sapi potong masih rendah, di mana pertambahan berat badan harian hanya mencapai 0.25—0.30kg/e/h jauh dari pertumbuhan optimal sapi bali yaitu 0.6—0.7kg/e/h (Sobang, 2005).

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan konsentrat Sapi Bali dapat meningkatkan pertambahan berat badan harian dapat mencapai 0.50kg/e/h. Namun penyusunan pakan konsentrat di tingkat peternak masih menghadapi kendala bahan pakan sumber energi seperti jagung giling dan dedak padi memiliki harga yang cukup mahal dan bersaing dengan kebutuhan manusia dan ternak lainnya terutama ternak babi dan unggas.

Oleh karena itu, diperlukan strategi penyediaan pakan konsentrat di tingkat peternak dengan harga yang lebih terjangkau melalui pemanfaatan bahan limbah hasil pertanian. Salah satu limbah pertanian yang cukup tersedia di tingkat peternak dan belum banyak dimanfaatkan adalah bonggol pisang. Bonggol pisang merupakan bagian umbi dari tanaman pisang yang tertinggal setelah pemanenan buah pisang.

Beberapa keunggulan bonggol pisang sebagai bahan pakan ternak adalah :
1) tanaman pisang dapat beradaptasi berbagai tipe dan topografi lahan, 2) tersedia sepanjang tahun, 3) mengandung unsur pati atau karbohidrat mudah tercerna yang tinggi sebagai unsur nutrisi penting selain protein yang dibutuhkan oleh ternak, 4) kandungan serat kasarnya yang rendah, 5) melalui fermentasi nilai nutrisi bonggol pisang dapat ditingkatkan terutama kandungan protein kasarnya.

Saat ini melalui pendanaan Kemristekdikti, Tim Peneliti Fakultas Peternakan Undana telah melakukan riset terhadap penggunaan tepung bonggol pisang sebagai bahan penyusun pakan konsentrat pada sapi potong.

Kegiatan telah dilakukan dalam kurun waktu Agustus—November 2019 dengan melakukan pertemuan bersama masyarakat untuk menyamakan persepsi tentang pelaksanaan program kegiatan. Ketua Tim Pelaksana, Ir.Grace Maranatha, M.Si. menyampaikan tentang tujuan program diseminasi teknologi bagi masyarakat dan lebih khusus pada masyarakat Noeltoko.

Grace Maranatha menjelaskan bahwa Kemenristekdikti bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana telah memfasilitasi melalui bantuan pendanaan untuk melakukan deseminasi teknologi bagi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas ternak yang selama ini masih dikelola secara tradsional.

Anggota tim pelaksana, Ir. Yohanis Umbu L. Sobang, M.Si. menyampaikan upaya penyediaan pakan ternak dengan memanfaatkan limbah pertanian yang tersedia di sekitar peternak, secara menekankan penggunaan bonggol pisang sebagai pakan sumber energi yang cukup baik dan berpotensi menggantikan porsi jagung dalam pakan konsentrat sesuai hasil riset yang dilakukannya pada sapi penggemukan di Kabupaten Kupang. Selain itu, dibahas juga pentingnya aspek perkandangan yang sehat dan nyaman bagi ternak sehingga dapat berproduksi dengan optimal.

Ir. Petrus Kune,M.Si memberikan edukasi teknologi inseminasi buatan pada ternak babi serta memberikan tips bagi peternak untuk mendeteksi birahi

Disamping itu, anggota tim yang lain, Ir. Petrus Kune,M.Si menekankan pada penerimaan teknologi inseminasi buatan baik pada ternak sapi dan babi serta memberikan tips bagi peternak untuk mendeteksi birahi ternak secara baik dan tepat, sehingga pelaksanaan IB atau perkawinan dapat dilakukan tepat waktu, menentukan kelompok sebagai mitra binaan yaitu 1 kelompok untuk ternak babi dan 1 kelompok untuk ternak sapi dengan anggota masing-masing 20 orang.

Adapun fasilitas yang diberikan kepada kelompok ternak babi adalah 1 (satu) pasang ternak babi unggul jenis Landrace (betina) dan Duroc (jantan) umur kawin, bahan untuk pembuatan kandang berupa semen, seng, dan paku, dummy untuk penampungan semen ternak babi, peralatan IB, dan 1 (satu) mesin pakan dengan fungsi chopper dan penepung. Sedangkan fasilitas yang diperoleh kelompok ternak sapi adalah bahan untuk pembuatan kandang berupa semen, seng, dan paku, peralatan IB pada sapi, dan 1 (satu) mesin pakan dengan fungsi chopper dan penepung.

Penyerahan fasilitas mesin pakan, ternak, dan peralatan telah dilakukan oleh Dr. Umbu Lily Pekuwali, S.H., M.Hum. selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat mewakili Universitas Nusa Cendana meminta para anggota kelompok untuk memelihara dan memanfaatkan semaksimal mungkin sehingga dengan fasilitas yang diterima dapat memberikan manfaat untuk peningkatan produktivitas ternaknya.

Selanjutnya dilakukan pendampingan dalam pengoperasian mesin pakan dan dalam hal pembuatan pakan yang dilakukan tim teknisi, F. D. Samba, S.Pt. dengan memberikan pendampingan dalam penampungan semen babi dan Inseminasi Buatan. Respons kelompok mitra terhadap kegiatan ini cukup tinggi, terlihat dari kesediaan mereka untuk menyediakan bahan lokal untuk pembuatan kandang secara gotong royong, dan bersedia menyediakan limbah pertanian khususnya bonggol pisang untuk digunakan sebagai pakan ternak. (*)

Sumber berita (*/Tim PDTM Fapet Undana)
Editor (+rony banase)

Ilmuwan HITPI Apresiasi Tata Kelola Lahan Kering oleh Kelompok Tani Kaifo Ingu

115 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sekitar 40 ilmuwan HITPI berkunjung ke 3 (tiga) lokasi berbeda di Kabupaten Kupang guna melihat lebih dekat sistem tata kelola lahan kering yang diterapkan oleh Kelompok Tani Setetes Madu di Camplong II, Yayasan Williams dan Laura dan Kelompok Tani Kaifo Ingu di Air Bauk Desa Babau.

Tata kelola Lahan Kering oleh Kelompok Tani Kaifo Ingu di Air Bauk Desa Babau Kabupaten Kupang memperoleh apresiasi dari para ilmuwan yang terhimpun dalam Himpunan Ilmuwan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI).

Kelompok Tani Kaifo Ingu mengelola lahan kering seluas 12 hektar sejak 2018 dengan pendamping Prof. Erna Hartati dan tim Undana, Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan Pemda Kabupaten Kupang untuk melakukan kegiatan di bidang pertanian tanaman pangan, tanaman buah-buahan, peternakan dan tanaman hijauan makanan ternak.

Para ilmuwan HITPI saat memasuki areal lahan pertanian yang dikelola oleh Kelompok Tani Kaifo Ingu

Apresiasi tersebut disampaikan oleh Sekretaris Umum HITPI, Prof. Dr. I Wayan Suarna, MS. dari Universitas Udayana (Unud) Bali, saat bertatap muka dan berdialog dengan Ketua Kelompok Tani Kaifo Ingu, pada Rabu, 6 November 2019. Dirinya mengapresiasi sistem pengairan ke areal sawah yang hemat air karena pengairan ke sawah menggunakan sistem buka tutup.

“Satu contoh saat menaikkan air tidak menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga meminimalisir emisi dari aktivitas pertanian dan memitigasi terhadap perubahan iklim,” puji Prof. Wayan.

Ilmuwan HITPI dari Universitas Udayana (Unud) Bali ini juga mengapresiasi sistem pertanian yang tidak menggunakan banyak air di areal sawah. “Sistem yang digunakan seperti Sistem Sri yang digunakan di Bali,” tutur Prof. Wayan.

Ketua Kelompok Tani Kaifo Ingu, Kristofel Ulu mengatakan sejak terbentuk pada tahun 1986, Kelompok Tani Kaifo Ingu hanya beranggotakan 15 petani yang berupaya mengadopsi berbagai teknologi dengan kondisi lahan kering berupa hutan yang belum dikelola secara maksimal.

Ilmuwan HITPI saat memanen Pepaya di lokasi lahan yang dikelola oleh Kelompok Kaifo Ingu

“Namun pada tahun 2018, PKW dari Fakultas Peternakan (Fapet) Undana Kupang, Politani dan Pemkab Kupang telah merebut hati kami dengan memberikan bantuan awal berupa pembuatan lahan baru dalam seluas 5 hektar menggunakan ekskavator,” ungkap Kris.

Pihak PKW Fapet Undana Kupang, jelas Kris, juga mengajarkan teknologi IPAT-BO (Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Bahan Organik) yaitu teknologi menanam padi hemat air dengan menggunakan pupuk organik yang digunakan di areal sawah di lahan kering oleh Kelompok Tani Kaifo Ingu.

Kandang Sapi yang terintegrasi dalam lahan yang dikelola oleh Kelompok Kaifo Ingu

Sementara itu, Pendamping Kelompok Tani Kaifo Ingu, Prof. Dr. Erna Hartati, MS. menyampaikan tentang pengelolaan lahan kering di Air Bauk merupakan program Kemitraan Wilayah (PKW) dengan menggunakan teknologi hemat air masih menggunakan BBM dan cukup besar biayanya sehingga program ke depan energinya bersumber dari solar sel, shg meminimalisir penggunaan BBM.

Adapun konsep yang dibangun, jelas Prof. Erna yaitu pertanian terpadu/mix farming meliputi pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan dan kebun buah-buahan. Dalam kegiatannya tim pelaksana mentransfer berbagai teknologi yakni IPAT-BO yang menggunakan hemat air untuk mengoptimalkan produksi hasil pertanian tsb.

“Diharapkan 3 tahun ke depan dapat terwujud Agroeduwisata di Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur sesuai tema PKW periode Tahun 2018—2020 yaitu Membangun Model Agroeduwisata di Kab Kupang yang dapat menjadi wisata agro untuk pendidikan yang dapat dimanfaatkan oleh pelajar mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi,” imbuh Prof Erna.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

‘Indoor Farming’, Apakah Tepat Untuk Dipraktekkan di Indonesia?

154 Views

Penulis : Raka Andika Cahyo Putra

Jakarta, Garda Indonesia | Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah di seluruh wilayah negeri. Namun sayangnya, kita sebagai warga Indonesia masih banyak yang menggunakan hasil impor.

Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dalam pengolahan sumber daya alam serta kurangnya sumber daya manusia yang kompeten. Dengan sumber daya alam yang melimpah, masyarakat Indonesia seharusnya dapat memanfaatkan potensi tersebut sebagai ladang ekonomi yang menjanjikan.

Namun, hingga saat ini masyarakat Indonesia hanya bergantung dari sektor pertanian yang cenderung konvensional.

Ya, salah satu permasalahan yang belum teratasi sampai saat ini adalah pertanian di Indonesia. Pertanian merupakan sektor yang sangat krusial saat ini. Bahkan, Indonesia dijuluki sebagai negara agraris dimana sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Akan tetapi, masih banyak orang yang menganggap bahwa petani itu identik dengan lahan yang kotor dan berlumpur sehingga petani dianggap sebagai profesi yang tidak potensial dan menguntungkan.

Oleh sebab itu, masih banyak sifat apatis terhadap pertanian di Indonesia. Padahal jika tanpa petani, dari mana masyarakat bisa mendapatkan bahan makanan dan bertahan hidup?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu dari tiga sektor teratas dalam hal kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2019 dengan kontribusi sebesar 12,65%, lalu ada sektor industri dengan kontribusi sebesar 20,07%, serta sektor perdagangan 12,20%.

Untuk komoditas padi saja, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat produksi padi 2014 mencapai 70,8 ton gabah kering giling (GKG). Angka tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2015 meningkat menjadi 75,4 ton, 2016 (79,35 ton) 2017 (81,14 ton), dan pada 2018 naik lagi menjadi 83,04 ton GKG.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, pertanian di Indonesia banyak menemui kendala contohnya dalam hal modal, lahan yang sulit, serta masih memakai teknologi konvensional yang menyebabkan lamanya jangka waktu pengolahan dan hasil yang kurang memadai.

Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan dari pemerintah untuk dapat segera mengatasi permasalahan yang terjadi diantaranya dengan memberikan penyuluhan yang intensif terhadap petani-petani di Indonesia.

Cara lain untuk dapat mengatasi pertanian di Indonesia adalah dengan menciptakan “Pertanian Modern”. Pertanian modern merupakan teknologi atau inovasi di bidang pertanian yang lebih maju dari segi mesin, pengendalian hama penyakit hingga panen dan pasca panen. Hal yang membedakan pertanian modern dengan pertanian konvensional adalah perlakuan dan cara perawatan dalam proses budidayanya.

Pertanian modern ini bukan lagi yang dimaksudkan dengan petani yang mempunyai sawah dan lahan yang berlumpur, melainkan menjadi petani masa kini yang mempunyai teknologi baru dan penciptaan hasil pertanian dalam bentuk baru. Menjadi petani modern tidak harus dilakukan dalam kelompok yang besar melainkan dapat dilakukan secara individual.

Indoor farming merupakan salah satu bentuk pertanian modern secara vertikal yang dapat dilakukan pengusaha di Indonesia. Cara yang dapat dilakukan dalam upaya indoor farming adalah tanaman hidroponik (di atas air), aquaponic (di atas kolam ikan), serta aeroponic (di udara).

Indoor farming dapat dilakukan di dalam ruangan dan juga di luar ruangan tanpa harus menggunakan lahan yang luas dan berlumpur. Indoor farming menggunakan teknik controlled-environment agricultural (CEA), yakni mulai dari suhu, kelembaban, dan cahaya harus dikontrol dengan ketat.

Perubahan iklim serta hujan terus menerus bukanlah suatu ancaman yang akan mempengaruhi indoor farming, sehingga tidak akan ada gagal panen. Produk yang dihasilkan indoor farming tidak kalah dengan pertanian biasa, namun di Indonesia belum banyak yang menjadi industri besar meski sudah banyak yang mencoba indoor farm.

Teknik indoor farming ini banyak memiliki keunggulan antara lain dapat meningkatkan produktivitas, menghasilkan sumber makanan yang sehat dan bebas hama, bahkan dapat mengurangi biaya dalam hal transportasi dan bahan bakar.

Selain itu, dengan semakin terbatasnya lahan di Indonesia, petani tidak perlu lagi khawatir karena indoor farming bisa dilakukan di berbagai tempat misalnya di gedung yang tinggi, di atap rumah, di basement, truk kontainer, dan masih banyak lagi. Namun disamping keunggulan yang dimiliki, indoor farming juga memiliki beberapa kelemahan yaitu biaya untuk menjalankan sistem ini sangatlah mahal karena menggunakan teknologi yang canggih, software, dan hardware.

Untuk perawatannya pun dibutuhkan kontrol tingkat tinggi, serta teknik ini juga dianggap menghasilkan CO2 yang lebih banyak dibandingkan dengan pertanian sawah sehingga masih memunculkan perdebatan antara pihak yang pro dan kontra. (*)

(*/Penulis merupakan Mahasiswa Politeknik Statistika STIS Jakarta)
Editor (+rony banase) Foto : Istimewa

Gubernur NTT Ajak Masyarakat Lakukan Diversifikasi Pangan

67 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, mengajak masyarakat untuk melakukan diversifikasi atau penganekaragaman pangan di kebun atau lahannya.Hal ini untuk menghindari ketergantungan pada salah satu pangan.

“Kita harus melakukan diversifikasi atau penganekaragaman pangan. Kita berkewajiban mewujudkan penganekaragaman pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh kita, ” jelas Gubernur Viktor dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah NTT, Ir. Benediktus Polo Maing saat acara penutupan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-39 Tingkat Provinsi NTT dan Pameran Pangan Lokal di Borong, Manggarai Timur, pada Jumat, 27 September 2019.

Tema yang diangkat adalah _Meningkatkan Potensi Pengelolaan Sumber Daya Lokal Menuju NTT sehat dan NTT Sejahtera._ Dengan motto _Menjadikan Pangan Lokal NTT Berdaya Saing Global._

Gubernur menegaskan, NTT punya beragam potensi pangan lokal yang tersebar luas di seluruh wilayah NTT. Baik yang tersedia di kebun, sawah, ladang, laut dan hutan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan dan mengembangkannya.

“Namun dalam kenyataannya, kebutuhan pangan kita masih didatangkan dari luar NTT. Selama ini, kita mendatangkan beras, jagung, kedelai, buah-buahan, bawang dan sayuran dari luar NTT. Melihat potensi-potensi yang kita miliki di lapangan, saya optimis kalau kita semua bekerja keras, kita bisa memperoleh hasil optimal juga bisa mandiri dalam hal ketersediaan pangap lokal,” jelas politisi Nasdem tersebut.

Mantan Ketua Fraksi Nasdem itu mengharapkan agar pengembangan menu berbasis pangan lokal harus terus ditingkatkan. Tidak berhenti di meja pameran. “Kreasi ibu-ibu PKK berbasis pangan lokal harus disosialisasikan lebih lanjut kepada masyarakat agar dapat diterapkan di dalam masing-masing keluarga. Promosi pangan lokal harus diperkuat dengan pengembangan aneka kuliner berbasis pangan lokal yang bisa jadi ikon dari masing-masing kabupaten/kota,” jelas Gubernur.

Kandidat Doktor di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga itu secara khusus memgingatkan kembali masyarakat NTT untuk mengembangkan kelor. Tanaman tersebut menjadi pohon masa depan yang diandalkan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi dan stunting.

“Tanaman kelor NTT termasuk yang terbaik di dunia sehingga bisa menjadi ’emas hijau’ yang bernilai ekonomis tinggi. Saya ajak seluruh masyarakat daerah ini untuk menanam kelor secara massal sebagai tanaman produksi dan mengonsumsinya untuk kebutuhan gizi,”urai Viktor Laiskodat.

Sementara itu Ketua Panitia sekaligus Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan NTT, Yohanes Octavianus mengatakan, HPS bertujuan untuk mengingatkan pentingnya ketersediaan pangan sebagai hak hidup setiap manusia.

“Beberapa acara untuk menyukseskan HPS ini diantaranya sidak pangan segar asal tumbuhan di Pasar Inpres Borong dan kelompok tani. Dari hasil sidak ini, masih ditemukan tanaman-tanaman yang gunakan pestisida di atas batas normal. Juga ada kegiatan lomba pangan lokal oleh ibu PKK, jalan santai, lomba jajanan kreatif berbasis kelor, lomba stand pameran, juru informasi dan stand terbaik, kegiatan temu wicara (talkshow), seminar dan pertemuan evaluasi,” jelas Yohanes.

Sebelum penutupan acara, diadakan kegiatan lonto leok atau urung rembuk antara utusan para petani, kelompok tani, PKK dan unsur pemerintah daerah.

Dalam kesempatan itu, terungkap usulan dan permintaan dukungan dari pemerintah daerah terhadap pengembangan pupuk organik di NTT.

“Kami minta perhatian pemerintah untuk bisa membatasi penggunaan pestisida yang berbahan kimia. Karena menurut pengalaman, beras atau pangan yang menggunakan pupuk organik lebih mahal harganya dari pangan yang menggunakan bahan kimia, ” jelas Marselus Rangkat, petani asal Manggarai Timur.

Dalam kesempatan tersebut Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT memberikan bantuan kepada Kelompok Tani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) berupa dana insentif, 2 (dua) unit traktor, 1 mesin pompa air, benih. Turut diberikan juga bantuan dari Dinas Peternakan NTT berupa anakan lamtoro teramba, polybag, vaksin, Collar dan obat-obatan ternak.

Juga diserahkan hadiah kepada juara lomba festival pangan lokal Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA), lomba citra menu jajanan kreatif berbasis kelor, lomba stand, juru penerang (jupen) dan poster.

Pada bagian akhir dibacakan deklarasi HPS ke-39 berupa dukungan bagi pengembangan pariwisata dengan upaya pengembangan holtikultura, pengoptimalan pemanfaatan lahan dengan adanya kebijakan bupati/wali kota, kampanyekan produk lokal di hajatan pemerintah dan keluarga, pekarangan instansi pemerintah harus ditanami pangan.

Selanjutnya HPS ke-40 ditetapkan akan dilaksanakan di Sumba Barat Daya. Acara ini juga dimeriahkan oleh pentas tarian caci oleh siswa/siswi SMA di Borong, Manggarai Timur.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut Anggota DPRD NTT, Wakil Bupati Manggarai Timur, Dandim 1612 Manggarai, para ketua tim penggerak PKK dan Kadis Pertanian/ Ketahanan Pangan Kabupaten/ Kota se-NTT, Duta Pangan Lokal NTT 2019, para peserta, insan pers, masyarakat dan undangan lainnya. (*)

Sumber berita (*/Aven Rame—Biro Humas dan Protokol Pemprov NTT)
Editor (+rony banase)