Cinta Itu Harus Dirayakan

Loading

Oleh : Lejap Yuliayant Angelomestius. S. Fil.

Angin berembus lembut, menyapu dedaunan Gamal kering yang belum juga hancur oleh bakteri. Di atas langit awan kemerahan telah berganti rupa menjadi gelap.  Terang telah menjelma ke dalam malam. Malam ini alam lebih bersahabat karena hujan telah beristirahat setelah hampir seharian mengguyur bumi.

Di atas tempat tidur, gadis kecil berbaring. Ia tak bicara atau bernyanyi seperti halnya yang biasa dilakukannya pada malam-malam sebelumnya. Di bibirnya tak ada gairah untuk mengucapkan kata. Tak ada hasrat untuk mendengungkan nada. Ia benar-benar lebih memilih diam meski sesekali terlihat tersenyum dan sesekali ia juga mengeratkan giginya dengan emosi. Entah kepada siapa ekspresi itu ditujukan. Mungkin kepada angin atau kepada malam. Entah.

Lama ia berbaring, dan kemudian berjalan menuju potret yang tersimpan rapi di atas meja belajarnya. Matanya dalam menatap tak berkedip pada potret itu. Potret wanita separo tua yang tersenyum dengan tubuh yang berselimutkan gaun putih di hadapannya.

Di kepalanya ada pikiran untuk menyentuh  potret itu namun ada keengganan di tangannya. Di dadanya ada juga hasrat untuk mengangkat potret itu, namun tak ada nafsu pada tangannya.

Hampir sejam lamanya, ia bergulat pada keengganan tangan dan hasrat pikirannya. Hingga akhirnya tangannya mendapat gairah dan ia pun menyentuh potret itu, mengangkat  dan kemudian mendekapkan ke dadanya.

“Mama…,” panggilnya lirih dengan warna suara yang berat dan serak, dan air matanya pun mulai berjatuhan. Ia menangis dengan nada isak yang parau.

Di ruang tamu ayahnya sedang berkumpul dengan para sahabat dan keluarganya. Mereka terlihat sibuk mempersiapkan perayaan ulang tahun gadis kecil itu. Ada kue ulang tahun yang dihiasi pernak-pernik coklat dengan lilin angka sembilan yang diletakan persis di depan patung Yesus. Ada juga ikan goreng dan ayam panggang yang telah tersusun rapi di meja hidangan.

“Sayang,,” ayahnya memanggil.

Mendengar suara panggilan ayah gadis kecil itu cepat-cepat menyeka air mata dan kemudian berjalan menuju lemari kayu yang berada tidak jauh dari meja belajarnya. Ia menarik sehelai pakaian dan berjalan menuju cermin kaca yang tergantung pada dinding kamarnya.

Dengan lihai ia merias dirinya dengan secantik mungkin meskipun pakaian yang digunakan seadanya.  Bermodalkan beberapa botol bedak dan minyak wangi pembelian ayahnya beberapa saat yang lalu ia  mendandani diri. Gadis kecil itu sadar bahwa ia harus tampil lebih anggun malam ini.

Setelah merias dirinya, ia berjalan menuju ruang tamu tempat di mana ayah, sahabat dan keluarganya berkumpul. Di ruang tamu lilin sudah menyala, dan di balik samar-samar nyala lilin gadis kecil itu melihat senyuman yang merekah pada bibir semua yang hadir. Senyuman yang begitu indah sebagai ungkapan syukur dan bahagia pada hari ulang tahun yang kesembilan yang boleh di alaminya.

“Selamat hari Ulang Tahun, sayang” kata ayahnya sambil merangkul gadis kecil itu. Perempuan kecil  itu membiarkan dirinya terlelap dalam pelukan ayahnya dan seketika itu juga air matanya pun mulai berjatuhan. Ia menangis tanpa melepas suara, entah karena sakit yang dialaminya karena perayaan ulang tahun kali ini tanpa ibu atau karena bahagia ulang tahun yang dialaminya, hanya dia sendiri saja yang tahu.

Menyaksikan momen haru itu, semua yang hadir dengan kompak menyanyikan lagu happy birthday, lagu yang selalu dinyanyikan ketika hari ulang tahun tiba. Suasana di ruang tamu malam itu pun menjelma dalam perayaan syukur ulang tahun yang meriah. Ada ceria dan senyum di wajah gadis kecil itu seakan hendak mengungkapkan terima kasih kepada semua yang hadir dan kepada Sang Khalik.

Sesaat kemudian setelah lagu happy birthday itu dinyanyikan mereka pun kembali hening dan salah satu dari sahabat ayahnya pun akhirnya mengajak mereka dalam doa.

Gadis kecil itu pun melepaskan tubuh dari rangkulan ayahnya. Sambil menyilang kan kaki dan mengatupkan kedua tangannya ia mempersiapkan diri untuk ikut dalam doa bersama.

Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus…. doa pun di mulai. Gadis kecil itu khusuk dalam doa. Di celah-celah khusuknya doa ketika nama ayah dan ibunya disebut air matanya kembali berjatuhan. Dadanya kembali terasa sesak. Ia ingin ibunya juga ada di sini bersamanya. Namun, itu tak mungkin. Ibunya masih punya banyak urusan yang membuatnya tak bisa hadir.

Dengan tenang tanpa seorang pun tahu gadis kecil itu  menundukkan kepalanya dan di dalam dada,  jiwanya mengadu kepada Tuhan: Tuhan berkatilah ibuku, berkatilah ayahku. Jagalah mereka. Berilah mereka kesehatan jiwa dan raga serta perlindungan dari segala bahaya. Tuan….. Terima kasih untuk semua cinta yang selalu kuterima. Terima kasih untuk semua yang Kau beri.

Gadis kecil itu sadar bahwa perayaan ulang tahun itu kali ini memang berbeda. Ia harus merayakannya tanpa ada ibu. Tapi ia tahu bahwa meskipun ibunya tak ada bersamanya malam ini,  ia harus merayakannya. Perayaan ulang tahun itu selalu memiliki arti yang istimewa karena selain itu merupakan perayaan syukur. Ulang tahun juga merupakan perayaan cinta.

Perayaan cinta tak akan pernah bisa dibatalkan oleh hal apa pun meskipun itu orang yang kita cintai. Itulah keistimewaan cinta; cinta itu seperti malam yang terangnya yang menuntun lebih terang dari pada fajar.

Gadis kecil itu menginginkan ibunya turut hadir dalam perayaan ulang tahunnya dan ketika ibunya tak sempat hadir, ia juga tidak membatalkan perayaan ulang tahun itu. Ia tahu, bahwa ibunya mencintainya, dan cinta itu harus dirayakan.

Di akhir doa syukur bersama, gadis itu terlihat tersenyum. Wajahnya seakan kehilangan lupa untuk bersedih. Ia kini terlihat lebih kuat dan tegar sebelum mereka menikmati santap malam bersama.(*)

Foto utama (*/istimewa/koleksi pribadi)