Waspada Cuaca Ekstrem di Wilayah Indonesia pada 10—17 Mei 2021

639 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Hasil analisis dinamika atmosfer-laut BMKG, menunjukkan bahwa terdapat aktivitas fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah Indonesia yang diamati bersamaan dengan aktifnya fenomena Gelombang Ekuatorial lainnya seperti Gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial.

Saat ini juga terpantau pola sirkulasi siklonik di wilayah Indonesia, yaitu di Laut Sulu dan Papua Barat yang dapat membentuk pertemuan dan perlambatan kecepatan angin. Kondisi atmosfer yang masih labil pada skala lokal juga mampu meningkatkan potensi konvektif kuat yang menyebabkan pembentukan awan hujan menjadi lebih intensif di beberapa wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut dapat menimbulkan potensi hujan sedang lebat pada tanggal 10—12 Mei 2021 di wilayah Aceh, Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep.Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Pada tanggal 13—15 Mei 2021 di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kep.Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Pada tanggal 16—17 Mei 2021 di wilayah Aceh, Kep.Riau, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Sementara untuk 3 (tiga) hari ke depan (10—12 Mei 2021) berdasarkan prakiraan cuaca berbasis dampak banjir/bandang dengan kategori “Waspada” perlu diwaspadai di wilayah sebagai berikut : Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Jawa barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat,  Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Papua

Prakiraan Cakupan Spasial Maksimum Awan Comulonimbus (CB)

Awan Cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial maksimum antara 50—75% (OCNL / Occasional pada 10—16 Mei 2021) diprediksi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Laut Jawa, Laut Sulawesi, Selat makassar, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Laut Banda, Papua Barat, dan Papua.

Prakiraan Tinggi Gelombang pada 10—17 Mei 2021

Tinggi Gelombang 1.25—2.5 meter (Moderate Sea) dapat terjadi di perairan utara Sabang, Selat Karimata bagian selatan, perairan utara Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Laut Jawa, perairan selatan Kalimantan, perairan Kotabaru, Selat Makassar bagian selatan, Laut Bali, Laut Sumbawa, perairan Kep. Sabalana hingga Kep. Selayar, Teluk Bone bagian selatan, perairan Baubau hingga Wakatobi, perairan Manui – Kendari, perairan selatan Kep. Banggai hingga Kep. Sula, perairan Bitung – Likupang, Perairan Kep. Sitaro, perairan Kep. Talaud, perairan utara Halmahera, Laut Halmahera, perairan utara Papua Barat hingga Papua, Samudra Pasifik utara Papua Barat hingga Papua, Laut Flores, Laut Sawu bagian utara, Selat Ombai, Laut Banda, perairan P. Buru hingga P. Seram, perairan Kep. Sermata, perairan utara Kep. Babar hingga Kep. Tanimbar, perairan selatan Kep. Kei hingga Kep. Aru, Laut Arafuru bagian timur.

Sementara, tinggi gelombang 2.5—4.0 meter (Rough Sea) berpeluang terjadi di perairan barat Aceh, perairan barat Pulau  Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, perairan Bengkulu, perairan barat Lampung, Samudra Hindia barat Sumatra, Selat Sunda bagian barat dan selatan, perairan selatan Banten hingga Pulau Sumba, Selat Bali – Lombok – Alas bagian selatan, Selat Sumba bagian barat, perairan P. Sawu, perairan Kupang – P. Rotte, Laut Sawu bagian selatan, Samudra Hindia selatan Bali hingga NTT, perairan selatan Kep. Babar hingga Kep. Tanimbar, Laut Arafuru bagian barat dan tengah

Dan tinggi Gelombang 4.0—6.0 meter (Very Rough Sea) berpeluang terjadi di Samudra Hindia selatan Banten hingga Jawa Timur.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada periode pancaroba (hujan secara sporadis, lebat dan durasi singkat, disertai petir dan angin kencang, bahkan hujan es), hal ini berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung, terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi.(*)

Sumber berita (*/Meteorologi BMKG)

Editor (+roni banase)

Foto utama oleh anao.gov.au

(Visited 515 times, 1 visits today)