“Pagelaran Budaya“ Warnai HUT Ke-58 Jemaat Imanuel Batukadera

370 Views

Kota Kupang-NTT, gardaindonesia.id-Dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Jemaat GMIT Imanuel Batukadera Ke-58; Panitia perayaan menggelar Pentas Seni Budaya yang melibatkan jemaat dari unsur etnis/suku Alor, Rote, Sabu, dan Timor.

Dengan perpaduan berbagai pentas budaya berupa tarian, lagu, perayaan HUT Ke-58 Jemaat GMIT Imanuel Batukadera, diramu dalam bingkai budaya nan unik dan menarik dengan melibatkan semua jemaat dari berbagai etnis/suku.

Mengambil lokasi di halaman pastori Gereja GMIT Imanuel Batukadera, Jumat/31 Agustus 2018 petang, perayaan HUT Ke-58 diawali dengan ibadat syukur, dilanjutkan pemotongan tumpeng, sekapur sirih, dan hiburan lagu rohani serta tarian daerah.

Dengan mengusung tema, “Jemaat Imanuel Batukadera Bersyukur dan Siap Berbagi “, sekitar 1.200 jemaat memadati areal pastori dengan mempersembahkan tari-tarian dan nyanyian rohani berbalut budaya.

Semua penampilan Jemaat GMIT Imanuel Batukadera disiarkan langsung oleh RrI Program 4 dengan melibatkan semua personil Pro 4 RRI Kupang.

Koordinator Pelaksana Hari Raya Gerejawi Jemaat Imanuel Batukadera Kota Kupang, Pnt.Martha D Alomau-Nahak kepada gardaindonesia.id menyampaikan Gereja harus punya kepedulian dengan budaya, masyarakat yang berbudaya lebih gampang menerima apa yang disampaikan; Gereja tidak bisa dipertentangkan dengan budaya.

“Kami tampilkan konsep budaya karena jemaat punya potensi untuk tampil. Sehingga ada rasa senang untuk mencintai budaya sendiri,“terang Martha.

Ketua Majelis Jemaat Imanuel Batukadera, Pdt Adolvina Doko Hege,STh., menyampaikan bahwa Jemaat Imanuel Batukadera (JIB) selalu hidup rukun dengan tetangga dan sebagai saudara. Jemaat mendiami Gereja Imanuel Batukadera berasal dari suku Alor, Rote, Sabu dan Timor.

“Gereja selalu mengakomodir budaya namun selalu kritis. Budaya sebagai jati diri berasal dari suku masing-masing harus dipelihara dengan bangga,“ ungkap Pdt Adolvina.

“Jemaat Imanuel Batukadera tinggal ditengah-tengah masyarakat beda agama namun hidup rukun. Kami juga mau bermitra dengan pemerintah karena medan pelayanan sama yakni jemaat dan masyarakat. Apa yang menjadi tanggung jawab bersama, mari kita kerjakan bersama, “pinta Pdt Adolvina (+rb)