“Kenyang Tak Harus Nasi” Diversifikasi Pangan Lokal di Provinsi NTT

380 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Agar dapat meningkatkan ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal, pada Rabu, 19 Agustus 2020, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia menyelenggarakan Gerakan Diversifikasi Pangan serentak secara nasional. Gerakan ini sekaligus mengajak masyarakat untuk mengubah pola konsumsi agar tidak tergantung pada satu komoditas saja.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT termasuk salah satu dari penyelenggara Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal menghelat kegiatan di halaman kantor yang dimulai pada pukul 07.00 WITA—selesai. Menghadirkan para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) antara lain Gapoktan Muda Mandiri Oesao yang mengolah pangan lokal berbahan dasar tepung jagung; dan UKM Alma Snack memproduksi keripik ubi sejak 2016 (awalnya dijual di kampus dan dipasarkan secara online yang dikelola oleh Putri Alma Oematan).

Pose bersama kelompok tani binaan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Selain itu, turut berpartisipasi UKM Melati memproduksi jagung keripik pulut, keripik ubi, dan stik kelor, sejak 2014 yang dikelola oleh Zesterina Mooy di Kelurahan Lasiana; UKM Shinta memproduksi Keripik, UKM Frestin; UKM Isabela; UKM Suka Maju dari Ajaobaki Kecamatan Molo Utara; dan UKM Dapur Kelor.

Acara yang diramu semi virtual ini, menghadirkan Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo yang menyapa seluruh Sobat Tani di seluruh Indonesia pada pukul 09.30 WIB (pukul 10.30 WITA di Kupang, Nusa Tenggara Timur). Kegiatan ini mengusung tagline #KenyangGakHarusNasi.

Mentan Syahrul, saat menyapa para Sobat Tani mengatakan terdapat enam komoditas yang menjadi fokus pemerintah untuk dikembangkan saat ini, yaitu Singkong, Jagung, Pisang, Talas, Kentang, dan Sagu. Kandungan karbohidrat enam komoditas ini ternyata tidak kalah dengan kandungan yang ada di nasi. Faktanya 120 gram singkong memiliki kandungan karbohidrat yang setara dengan seporsi nasi.

Selain mengenyangkan, imbuhnya, komoditas pangan lokal juga memiliki kandungan gizi yang bermanfaat untuk kesehatan. Bahkan bisa digunakan untuk menu diet diabetes, pencegahan kanker, dan cocok untuk Sobat Tani yang ingin menjaga berat badan ideal.

Selain dapat bonus sehat, tandas Syahrul Yasin Limpo, diversifikasi pangan juga sebagai bagian dari antisipasi atas peringatan FAO yang memprediksi banyak negara akan mengalami krisis pangan pada masa pandemi ini.

Steven Lay, M.M. Kabid Ketahanan Pangan dan Penyuluhan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Ir. Steven Lay, M.M. selaku Kabid Ketahanan Pangan dan Penyuluhan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT kepada Garda Indonesia menyampaikan melalui kegiatan ini masyarakat diimbau untuk mengenal dan memahami manfaat pangan lokal yang sangat beragam dan sangat berpotensi dijadikan sumber karbohidrat non beras.

“Dari nilai gizi, pangan lokal tak kalah dengan makanan nasional yang selama ini kita konsumsi bahkan selama ini banyak makanan yang tercemar. Kita ingin mengembalikan potensi di daerah di seluruh NTT,” bebernya.

Menurut Stev Lay, sapaan akrabnya, saat ini Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT memiliki mesin pengolahan jagung menjadi tepung jagung yang ditempatkan di Oesao, Kabupaten Kupang. “Di sana, kami melatih para petani untuk memproduksi tepung jagung dan mengajar kelompok tani untuk membuat beraneka ragam kudapan dari pangan lokal,” ungkapnya.

Hasil olahan pangan lokal oleh kelompok tani binaan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Terkait diversifikasi pangan lokal, tandas Stev, sesuai dengan potensi masing-masing daerah. “Misalnya di NTT, dengan potensi jagung dengan program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) besutan Gubernur NTTdan kelor (marungga, red).”

Sementara itu, Ruri Ndoki dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Muda Mandiri Oesao menyampaikan bahwa pengolahan pangan lokal yang dilakukan oleh gapoktan berfokus kepada pengembangan industri pangan lokal yakni pengolahan jagung menjadi tepung. “Saat ini, masyarakat belum bisa menerima dan terbiasa menggunakan tepung jagung, mereka masih terbiasa menggunakan tepung terigu,” ungkapnya seraya menyampaikan gapoktan sendiri terbentuk pada Juli 2020.

Dari tepung jagung, imbuh Ruri, Gapoktan Muda Mandiri dapat mengolah 15 macam kudapan (kue, red) basah dan menjadi kudapan kering seperti baruas, siput jagung, sagu, bagia, dan kembang goyang. Selain itu, juga mengolah Kopi Jagung (kopi biji diolah dengan tepung jagung dan bahan lain).

Terkait animo masyarakat terhadap diversifikasi pangan lokal tepung jagung, tandas Ruri, belum bisa dinilai karena baru saja dikembangkan. “Kami baru dalam tahapan mempromosikan kepada masyarakat terutama kepada pihak Pemda Kupang,” urainya seraya menyampaikan Gapoktan Muda Mandiri Oesao terdiri gabungan lima kelompok tani.

Ruri pun menyampaikan bahwa Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT turut memberikan pembinaan, pendampingan, dan pelatihan. “Mereka memberikan bantuan berupa pelatihan dan dana untuk pengembangan industri pangan lokal, dari kondisi tersebut, gapoktan dapat mengembangkan produk dan menambah pendapatan rumah tangga,” pungkasnya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)