Arsip Tag: menteri pertanian

Pemerintah Optimalisasi Budidaya Porang & Sarang Burung Walet

182 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Sarang Burung Walet dan tanaman Porang saat ini menjadi dua komoditas ekspor yang menjadi andalan Indonesia di pasar dunia. Melihat potensi itu, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa pihaknya akan mengoptimalkan budidaya dan produktivitas bagi dua komoditas tersebut.

“Selaku Menteri Pertanian, saya akan berproses lebih maksimal di budidayanya sampai dengan produktivitas yang kemudian tentu produktivitas itu berakhir dan di hilir dengan melakukan proses-proses pengolahan lanjutan bersama Menteri Perindustrian yang disertai pengaturan-pengaturan tentang perdagangan, termasuk ekspornya, bersama dengan Menteri Perdagangan,” ujarnya di Kantor Presiden, Jakarta, pada Selasa, 4 Mei 2021, selepas mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo.

Mentan Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa Porang dapat dibudidayakan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Porang juga menjadi salah satu komoditas Indonesia yang kini diminati dunia. Hal yang sama berlaku untuk komoditas sarang burung walet.

“Oleh karena itu, kita akan segera mengembangkan dan mengakselerasi lebih kuat dari hulu ke hilir, terutama melakukan pembinaan-pembinaan teknis kepada petani baik Porang maupun Sarang Burung Walet,” tuturnya.

Selain itu, Syahrul mengungkap bahwa Presiden Joko Widodo menyampaikan pesan kepada pihaknya bahwa segenap upaya yang dilakukan harus berpihak kepada rakyat. Segala regulasi yang nantinya akan dibuat tidak boleh justru menjadi hambatan bagi para petani dan industri lokal.

“Saya selaku Mentan bersama dengan Mendag (Menteri Perdagangan, red) akan mencoba melakukan upaya maksimal serta memberikan ruang bagi Petani Porang dan tentu Petani Rumah Burung Walet agar besok kita mendapatkan nilai-nilai ekspor yang lebih banyak bagi kepentingan negeri dan rakyat,” tandasnya. (*)

Sumber berita (*/BPMI Setpres)

Editor (+roni banase)

Foto utama oleh infosawit.com

Menteri Yasin Limpo Dukung Peradaban Baru dan Program TJPS di NTT

415 Views

Sumba-NTT, Garda Indonesia | Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL) bersama jajarannya dan didampingi oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Josef Nae Soi (JNS), pada Selasa, 22 September 2020, melakukan Kunjungan Kerja di Sumba Tengah pada Lokasi Pertanian Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS).

Menteri Pertanian mengajak seluruh stakeholder terkait di Sumba untuk mensyukuri atas anugerah Sang Pencipta untuk memastikan hari esok lebih baik. “Mari kita pastikan hari esok lebih baik, jangan pernah mengatakan NTT tanahnya tidak subur, yakinlah kita hidup di atas tanah yang subur sekarang tergantung bagaimana kita mengolahnya.” ujar Menteri Yasin Limpo

Lebih lanjut Menteri Yasin mengatakan kehadirannya di Sumba Tengah atas dasar dua alasan, yang pertama atas Perintah Bapak Presiden dan kedua, atas Komunikasi Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur dengan niat tulus untuk membangun peradaban baru di NTT.

“Saya datang ke sini atas dua permintaan, yang pertama, saya di perintahkan Bapak Presiden untuk ke sini (Sumba Tengah-NTT); kedua: Gubernur dan Wakil Gubernur NTT sama-sama pekerja keras untuk itu saya datang untuk bersinergi dalam mewujudkan peradaban baru di NTT,” ungkap Yasin Limpo.

Mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini juga mengajak Bupati, Camat dan Kepala Desa untuk melindungi rakyatnya, bekerja bersama rakyatnya dan menaati kebijakan negara.

Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL) bersama jajarannya dan didampingi oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Josef Nae Soi (JNS), pada Selasa, 22 September 2020, melakukan Kunjungan Kerja di Sumba Tengah pada Lokasi Pertanian Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS)

“Bupati, camat, kepala desa, areal ini bagus sekali, mari kita buat lebih bagus ke depannya, ajak rakyat kalian untuk bekerja sepenuh hati, tugas kita melindungi dan menyejahterakan mereka, akan tetapi masyarakat juga harus patuh terhadap kebijakan negara,” imbau Yasin Limpo.

Di lokasi kunjungan kerja di Desa Umbu Pabal Kecamatan Umbu Ratu Nggai Barat, Ia memerintahkan seluruh jajarannya untuk 100 hari ke depan melihat hasil dengan cara kerja bersinergi dengan Pemerintah Daerah dan TNI-POLRI untuk mewujudkannya dengan “Cara Mekanisasi.”

“Saya mau semua Dirjen dan staf ahli bersinergi dengan Pemerintah Daerah dan TNI-POLRI serta terlibat kerja di hamparan ini pakai cara mekanisasi. Mengurus Pertanian itu ada 4 hal menurut saya, Harus ada air, Lahannya tidak bermasalah, pelatihan petani, dukungan pengawalan dari TNI/Polri dan 100 hari dari sekarang kita lihat hasilnya di akhir.” pungkasnya.

Sementara itu, Wagub Josef Nae Soi yang berulang tahun bertepatan dengan Kunjungan Kerja Menteri Pertanian, mengatakan bahwa kehadiran Menteri Pertanian tidak hanya datang untuk mendukung TJPS saja melainkan juga untuk bersama meningkatkan peradaban baru di NTT. “Pak Menteri, Terima kasih atas doanya, beliau jauh-jauh datang ke sini untuk mendukung TJPS yang selanjutnya bersama kita meningkatkan Peradaban Baru di NTT,” ujar Wagub Josef.

Wagub Josef menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pertanian atas dukungannya terhadap pertanian di NTT. “Saya bersama Gubernur atas nama masyarakat NTT menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Pak Menteri yang telah mendukung Pembangunan Pertanian di NTT hingga saat ini.” tandas Wagub Josef Nae Soi. (*)

Sumber berita dan foto (*/Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

“Kenyang Tak Harus Nasi” Diversifikasi Pangan Lokal di Provinsi NTT

643 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Agar dapat meningkatkan ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal, pada Rabu, 19 Agustus 2020, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia menyelenggarakan Gerakan Diversifikasi Pangan serentak secara nasional. Gerakan ini sekaligus mengajak masyarakat untuk mengubah pola konsumsi agar tidak tergantung pada satu komoditas saja.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT termasuk salah satu dari penyelenggara Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal menghelat kegiatan di halaman kantor yang dimulai pada pukul 07.00 WITA—selesai. Menghadirkan para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) antara lain Gapoktan Muda Mandiri Oesao yang mengolah pangan lokal berbahan dasar tepung jagung; dan UKM Alma Snack memproduksi keripik ubi sejak 2016 (awalnya dijual di kampus dan dipasarkan secara online yang dikelola oleh Putri Alma Oematan).

Pose bersama kelompok tani binaan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Selain itu, turut berpartisipasi UKM Melati memproduksi jagung keripik pulut, keripik ubi, dan stik kelor, sejak 2014 yang dikelola oleh Zesterina Mooy di Kelurahan Lasiana; UKM Shinta memproduksi Keripik, UKM Frestin; UKM Isabela; UKM Suka Maju dari Ajaobaki Kecamatan Molo Utara; dan UKM Dapur Kelor.

Acara yang diramu semi virtual ini, menghadirkan Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo yang menyapa seluruh Sobat Tani di seluruh Indonesia pada pukul 09.30 WIB (pukul 10.30 WITA di Kupang, Nusa Tenggara Timur). Kegiatan ini mengusung tagline #KenyangGakHarusNasi.

Mentan Syahrul, saat menyapa para Sobat Tani mengatakan terdapat enam komoditas yang menjadi fokus pemerintah untuk dikembangkan saat ini, yaitu Singkong, Jagung, Pisang, Talas, Kentang, dan Sagu. Kandungan karbohidrat enam komoditas ini ternyata tidak kalah dengan kandungan yang ada di nasi. Faktanya 120 gram singkong memiliki kandungan karbohidrat yang setara dengan seporsi nasi.

Selain mengenyangkan, imbuhnya, komoditas pangan lokal juga memiliki kandungan gizi yang bermanfaat untuk kesehatan. Bahkan bisa digunakan untuk menu diet diabetes, pencegahan kanker, dan cocok untuk Sobat Tani yang ingin menjaga berat badan ideal.

Selain dapat bonus sehat, tandas Syahrul Yasin Limpo, diversifikasi pangan juga sebagai bagian dari antisipasi atas peringatan FAO yang memprediksi banyak negara akan mengalami krisis pangan pada masa pandemi ini.

Steven Lay, M.M. Kabid Ketahanan Pangan dan Penyuluhan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Ir. Steven Lay, M.M. selaku Kabid Ketahanan Pangan dan Penyuluhan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT kepada Garda Indonesia menyampaikan melalui kegiatan ini masyarakat diimbau untuk mengenal dan memahami manfaat pangan lokal yang sangat beragam dan sangat berpotensi dijadikan sumber karbohidrat non beras.

“Dari nilai gizi, pangan lokal tak kalah dengan makanan nasional yang selama ini kita konsumsi bahkan selama ini banyak makanan yang tercemar. Kita ingin mengembalikan potensi di daerah di seluruh NTT,” bebernya.

Menurut Stev Lay, sapaan akrabnya, saat ini Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT memiliki mesin pengolahan jagung menjadi tepung jagung yang ditempatkan di Oesao, Kabupaten Kupang. “Di sana, kami melatih para petani untuk memproduksi tepung jagung dan mengajar kelompok tani untuk membuat beraneka ragam kudapan dari pangan lokal,” ungkapnya.

Hasil olahan pangan lokal oleh kelompok tani binaan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Terkait diversifikasi pangan lokal, tandas Stev, sesuai dengan potensi masing-masing daerah. “Misalnya di NTT, dengan potensi jagung dengan program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) besutan Gubernur NTTdan kelor (marungga, red).”

Sementara itu, Ruri Ndoki dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Muda Mandiri Oesao menyampaikan bahwa pengolahan pangan lokal yang dilakukan oleh gapoktan berfokus kepada pengembangan industri pangan lokal yakni pengolahan jagung menjadi tepung. “Saat ini, masyarakat belum bisa menerima dan terbiasa menggunakan tepung jagung, mereka masih terbiasa menggunakan tepung terigu,” ungkapnya seraya menyampaikan gapoktan sendiri terbentuk pada Juli 2020.

Dari tepung jagung, imbuh Ruri, Gapoktan Muda Mandiri dapat mengolah 15 macam kudapan (kue, red) basah dan menjadi kudapan kering seperti baruas, siput jagung, sagu, bagia, dan kembang goyang. Selain itu, juga mengolah Kopi Jagung (kopi biji diolah dengan tepung jagung dan bahan lain).

Terkait animo masyarakat terhadap diversifikasi pangan lokal tepung jagung, tandas Ruri, belum bisa dinilai karena baru saja dikembangkan. “Kami baru dalam tahapan mempromosikan kepada masyarakat terutama kepada pihak Pemda Kupang,” urainya seraya menyampaikan Gapoktan Muda Mandiri Oesao terdiri gabungan lima kelompok tani.

Ruri pun menyampaikan bahwa Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT turut memberikan pembinaan, pendampingan, dan pelatihan. “Mereka memberikan bantuan berupa pelatihan dan dana untuk pengembangan industri pangan lokal, dari kondisi tersebut, gapoktan dapat mengembangkan produk dan menambah pendapatan rumah tangga,” pungkasnya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

40 Hektar Lahan di Desa Manusak Digarap Jadi Lahan Program TJPS

423 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Lahan seluas sekitar 40 hektar di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur dijadikan sebagai lahan penanaman jagung jenis hibrida dan lamuru yang merupakan Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) besutan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL).

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/05/30/ini-arahan-dan-motivasi-menteri-pertanian-bagi-petani-tjps-di-desa-manusak/

Pencanangan Program TJPS dan penanaman jagung jenis hibrida dan lamuru dilakukan oleh Gubernur VBL, Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo, Kapolda NTT Irjen Pol Hamidin; dan Bupati Kupang, Kornelis Masneno pada Jumat siang, 29 Mei 2020 di Desa Manusak.

Menteri Syahrul Yasin Limpo pun memberikan arahan dan memotivasi para petani Program TJPS untuk memaksimalkan panas, air dan lahan yang tersedia.

Foto bersama Kepala Desa Manusak, Arthur Ximenes (tengah depan berbaju batik dan bermasker merah) bersama perangkat desa, perangkat dusun, dan para petani Program TJPS Desa Manusak

Lantas, seperti apakah kesediaan dan semangat para petani (kebanyakan adalah warga eks Timor Leste, red) menyongsong Program TJPS tersebut dan dapat secara maksimal mengolah lahan Desa hasil pemekaran dari Desa Pukdale pada tahun 2003 ? Simak petikan wawancara antara Garda Indonesia dan Kepala Desa Manusak, Arthur Ximenes pada Jumat, 29 Mei 2020 di Kantor Desa Manusak di bawah ini:

Garda Indonesia : Seberapa luas lahan yang digunakan di Desa Manusak?

Kepala Desa Manusak : Hampir 40 hektar, yang tadi secara simbolis dilakukan penanaman jagung oleh Pak Menteri dan Pak Bupati ada 5 hektar.

Garda Indonesia : Program TJPS yang sudah berjalan dan dilakukan panen berjalan?

Kepala Desa Manusak : Kalau panen perdana tahap pertama sudah dilakukan dan tahap kedua untuk musim kemarau. Tahap pertama sudah dilakukan oleh masyarakat secara mandiri.

Garda Indonesia : Diperoleh berapa banyak ton jagung untuk pengolahan pertama?

Kepala Desa Manusak : Kalau dari kurang lebih 40 hektar lebih banyak fokusnya untuk padi. Pengolahan pertama dilakukan oleh masyarakat dan pengolahan kedua inilah yang diintervensi oleh pemerintah untuk program TPJS. Kami dari pemerintah desa sifatnya untuk membekali, karena ini ada di wilayah kami dan yang menjadi penerima manfaat tersebut adalah kelompok tani yang ada. Sebagai kepala desa mesti ada untuk memperlancar segala program yang dicanangkan oleh pemerintah.

Garda Indonesia : Berapa banyak kelompok tani (poktan) yang dilibatkan untuk program ini?

Kepala Desa Manusak : Kali ini, kurang lebih ada 3 kelompok tani walaupun lebih fokus ke satu kelompok tani yaitu Liselik. Ada lagi dua kelompok yang lain. Secara total ada 18 kelompok tani di Manusak yang sudah memiliki SK dan yang belum memiliki SK kurang lebih ada 10 kelompok tani.

Garda Indonesia : Luas lahan yang dijadikan sebagai lahan pertanian oleh masyarakat Manusak ada berapa hektar?

Kepala Desa Manusak : Di sini untuk lahan basah kurang lebih ada 250 hektar dan petani-petani ada yang menanam bawang merah. Dua minggu lalu diadakan panen kacang hijau dari provinsi hasil olahan kelompok tani yang baru pulang dari Cina. Karena tahun ini gagal tanam karena hujan, karena musim panasnya 8 bulan dan 4 bulan sisanya musim kemarau.

Garda Indonesia : Program tanam air apakah ada di sini?

Kepala Desa Manusak : Sudah ada P2T dan teman-teman kelompok yang lain secara swadaya, tetapi yang kita harapkan adalah optimalisasi dalam mengejar target dalam penyelesaian irigasi waduk Raknamo. Ini sedang berjalan semoga sebelum 31 Desember 2020 sudah tuntas.

Garda Indonesia : Keberhasilan yang sudah ditorehkan oleh Desa Manusak?

Kepala Desa Manusak : Ada pemberdayaan yang kita lakukan dengan bantuan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pemerintah desa itu mesti mengikuti iklim yang ada. Seperti pada tahun 2020, hujan hanya sekitar 4 bulan sehingga langkah yang kita lakukan itu mendorong masyarakat melalui aparat-aparat dusun, RT/RW, BPD dan pendamping desa, kita betul-betul memanfaatkan lahan yang ada. Ada yang menanam kacang hijau, jagung, tanaman hortikultura yang lain, ada juga masuk di peternakan. Kami tentu memiliki prestasi, tetapi kami memiliki tujuan yang pasti yaitu untuk menyejahterakan masyarakat.

Garda Indonesia : Berapa banyak jumlah jiwa dan KK di Desa Manusak?

Kepala Desa Manusak : Dilihat dari sisi historis dan fakta di lapangan bahwa ada 839 KK dengan total jiwa 4.317 dengan mayoritasnya ada warga eks Timor-Timur. Itu memiliki sebuah tantangan sendiri. Dengan demikian mulai tahun 2014 sebelum ada dana desa, 2013 kita berupaya melakukan pemberdayaan yang lebih fokus pada perikanan.

Selain itu, dengan pemerintah daerah dan kementerian peternakan, kita melakukan pembagian sapi lalu tahun 2019—2024, kita akan fokuskan masyarakat untuk peternakan, jagung dan pertanian. Karena kalau peternakan melalui dana desa selalu berupaya untuk membentuk kelompok agar masyarakat secara bersama bisa menerima sapi dari pemerintah desa agar digulirkan demi perekonomian keluarga.

Garda Indonesia : Berapa banyak sapi yang dihasilkan dari program tersebut?

Kepala Desa Manusak : Tahun 2020 ada 25 ekor, kami akan membuat SK sehingga ada 25 orang yang menerima itu. dari 25 orang, tidak dikembalikan ke desa, setelah 4 tahun harus putar kepada tetangganya yang belum mendapatkan sapi. Sehingga betul-betul bukan pinjam modal lalu kembalikan dengan modal, tetapi kita mendampingi dan memberdayakan masyarakat sesuai dengan perencanaan yang ada.

Sehingga dari RI yaitu Pak Menteri berserta jajarannya, Pak Gubernur serta jajarannya, dan kami di pemerintah daerah dengan paket komplit Pak Bupati yaitu 5P. Kami di desa korelasikan program itu menjadi kekuatan untuk bisa merencanakan dan membangun bersama-sama.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Ini Arahan dan Motivasi Menteri Pertanian bagi Petani TJPS di Desa Manusak

475 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Yang menarik bagi saya untuk datang ke NTT adalah keinginan kuat masyarakat dan Pak Gubernur yang selalu memilih diksi yang seksi. Pilihan diksinya itu “Mau NTT Tidak Miskin.” Beliau selalu katakan NTT miskin, itu yang harus diubah dan itu membuat saya hadir bukan hanya karena Menteri,” ujar Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo saat memberikan sambutan dalam kunjungan kerjanya saat situasi pamdemi Covid-19 di Desa Manusak pada Jumat siang, 29 Mei 2020.

Kunjungan Menteri Pertanian untuk memberikan bantuan dan mendukung lahan pertanian di Provinsi NTT khususnya mendorong Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) besutan Gubernur VBL di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain Menteri Syahrul, turut hadir sejumlah pejabat dari Kementerian Pertanian.

Sebelum menyerahkan bantuan bibit jagung hibrida komposit dan bawang merah kepada petani di Desa Manusak dan melepas dua kontainer jagung (42 ton) menuju ke Surabaya, Mantan Bupati Sulawesi Selatan ini pun berkata suka tantangan seperti Bupati Kupang.

“Saya bekas kepala desa 1 tahun 9 bulan, saya pernah jadi lurah 9 bulan, saya pernah jadi camat 4 tahun, saya pernah jadi bupati dua periode, jadi wakil gubernur satu periode. 25 tahun saya jadi kepala daerah. Oleh karena itu Pak Bupati dan warga sekalian, mengatakan untuk tidak miskin itu jawabannya di depan mata dan sudah ada di NTT untuk menjawab itu. Jawabannya adalah pertanian,” ungkapnya.

Menteri Syahrul Yasin Limpo saat mengendarai traktor dan ditemani Kapolda NTT

Lanjut Menteri Pertanian, “Pak desa, pak camat, tokoh-tokoh masyarakat, para orang tua, kalau mau tidak miskin, Allah memberikan di depan mata ada tanah, air, api, angin untuk bisa hidup lebih baik. Yang miskin itu kalau memang tidak melakukan kerja. Saya jadi gubernur memulai dengan pendapatan rakyat saya Rp.8 juta, saya mengakhiri pendapatan rakyat saya per tahun Rp.48,6 juta.”

“Adakah yang lain?” tanya Menteri Limpo sebelum melakukan penanaman jagung hibrida komposit bersama Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat; Kapolda NTT Irjen Pol Hamidin; dan Bupati Kupang, Korinus Masneno.

Jawabnya, “Tidak!, hanya pertanian, perikanan dan peternakan. Ini semua kerja semua orang. Saya percaya mimpinya Pak Gubernur akan selesai tidak sampai 5 tahun.”

“Dream it, believe it dan make it happen. Believe your dream and your dream become true, ujarnya menirukan ucapan Gubernur NTT.

Hari ini saya hampir menangis dengar Pak Gubernur berbicara seperti itu, ungkap Menteri Syahrul. Kunci daerah yang bisa maju itu bahwa kalau kepala daerahnya memang mau, apa yang kurang? Kita punya hakikat, akademik yang cukup, kamu turun tangan di situ. Riset kita cukup.

Dalam pertanian itu ada tiga hal, cuaca harus diperhitungkan berarti water management harus jalan. Bagaimana air tetap mengalir disini, tolong Pak Dirgen Ketahanan Pangan pompa airnya tambah 20 lagi di sini. Ekskavator juga, kalau sudah panen dan tidak dikeringkan nanti hancur lagi, kalau perlu pakai kombinasi besar biar sekali masuk panen, langsung refill.

Tegas Menteri Limpo, “Jagung itu yang tidak boleh ditanam hanya di kuburan dan aspal. Yang lain bisa, batu-batu sekalipun bisa. Yang mau itu semangat kita. You become what you think. Karena itu para pejabat dan tokoh masyarakat mau menjadikan ini seperti apa? Kalau kalian bilang tidak bisa, ya tidak bisa. Kalau bilang ini pasti bisa, tembok-tembok dan batu-batu itu berputar dengan kekuatan kita.”

Menteri Pertanian memberikan bantuan simbolis kepada petani TJPS Desa Manusak yang diterima oleh Gubernur VBL

Ia pun memberikan petunjuk kepada para petani Desa Manusak, “Saya kepala desa dan camat teladan di Indonesia, oleh karena itu saya mau hitung dengan baik, satu hektar ini kalau jagung bisa sampai 8—12 ton. Di sini taruhlah kisaran 5 ton. 5 ton per hektar itu berarti kali 3.200 per kg, berarti Rp.16 juta. Ongkos kerja ini sampai merokok dan makan di dalam senilai Rp.5 juta, masih ada 10 juta. Dalam Rp.5 juta itu sudah bayar traktor lagi, jadi bisa disisihkan satu juta. Jadi ini tinggal diolah.”

Selain bantuan pemerintah, imbuhnya, kita siapkan lagi. Kalau memang kita ingin cepat. Untuk manual 10 orang, satu hari satu hektar. Kalau dengan mesin 4—5 hektar dalam satu hari. Lahan cukup banyak di sini, 3—4 hektar kali 15 juta berarti ada 60 juta bagi 100 hari atau 3 bulan berarti 10 juta. Hanya dengan dengan jagung.

“Jangan ada yang mundur,” tegasnya lagi memotivasi petani jagung yang bakal berjibaku dalam Program TJPS.

Di dalam suasana Covid dan krisis seperti ini, beber Menteri Syahrul, sampai dua tahun ekonomi yang bisa jalan adalah pertanian karena masalah perut. Oleh karena itu betul sekali strategi Pak Gubernur genjot habis. Tolong teman-teman perbankan salurkan modal untuk alat-alat besar, yang kalian bisa jamin pengembalian uang hanya pertanian sampai dengan dua tahun ke depan. Jangan ragu dan turunkan seperti itu.

“Saya dan Pak Bupati akan ke sini 100 hari lagi,” tandasnya berjanji seraya berujar optimis dan berharap 100 hari lagi melihat hasil tanam, bibit tambahkan saja dan tolong atur dan bermimpi juga sepanjang di jalan, di depan rumah dikasih bibit jagung, karena masih lihat ada tanah yang gersang.

Dia pun mengungkapkan saat menjadi Bupati Sulawesi Selatan mencanangkan 100 juta ekor sapi, pada saat itu sapi hanya mencapai 280 ribu ekor. “Bersama seluruh profesor-profesor di Unhas saya lewati 1,2 juta. Saya yakin dengan pikiran Pak Gubernur yang dahsyat itu, saya ada di belakang Pak Gubernur sebagai teman kita ubah ini NTT,” katanya memotivasi kemudian melanjutkan penanaman jagung bersama Gubernur NTT.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto oleh Aven Rame