oleh

Forum PRB NTT Susun Roadmap Penanggulangan Bencana 2022—2026

Kupang, Garda Indonesia | Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) adalah platform kolaborasi multipihak atau pentahelix penanggulangan bencana. Keberadaan Forum PRB bertujuan meningkatkan partisipasi dan kemitraan para pihak, yakni pemerintah, media massa, akademisi, masyarakat dan dunia usaha.

Di Provinsi NTT, Forum PRB telah terbentuk sejak tahun 2018, melalui musyawarah daerah (Musda) I tahun 2012 terbentuk kepengurusan baru dalam Musda II dan pada 24 Juni 2022, Program SIAP SIAGA dan Yayasan PIKUL mendukung Musda III yang menghasilkan kepengurusan baru periode 2022—2026.

Sepanjang 8 (delapan) tahun aktivitasnya, Forum PRB Provinsi NTT telah diakui peran pentingnya dalam ranah pengurangan risiko bencana dan telah menyerap berbagai pembelajaran dan beradaptasi dengan kebutuhan perubahan. Karena itu, dalam Musda III 2022, FPRB Provinsi NTT mengubah struktur organisasi untuk bisa lebih fleksibel dan luwes dalam menjalankan peran kolaboratifnya. Dengan perubahan struktur dan perubahan konteks kebencanaan (seperti Covid-19, siklon tropis Seroja), maka FPRB Provinsi NTT perlu merumuskan rincian kerangka kerja dan peta jalan Forum PRB Provinsi NTT hingga agenda masing-masing komponen.

BPBD Provinsi NTT dan Program SIAP SIAGA memfasilitasi dan hadir sebagai pengarah pertemuan perumusan ini, dengan fokus pada isu dan strategi utama pokja dan kaukus, menyusun peta jalan 2026, dan business process Forum PRB NTT (perencanaan, monitoring — evaluasi, knowledge management)

Dalam pertemuan yang dilaksanakan pada Senin—Selasa, 29—30 Agustus 2022 di Hotel Silvia Premier, turut hadir 3 (tiga) Forum PRB Kabupaten prioritas yakni Kabupaten Kupang, Manggarai Barat dan Rote Ndao juga baru membentuk pengurus dalam tahun 2021 dan 2022. Ketiga FPRB Kabupaten akan difasilitasi guna mengidentifikasi tantangan dan peluang, termasuk potensi sumber daya kolaborasi; menyusun isu dan strategi utama kolaborasi PRB sebagai bagian dari pre-strategic planning.

Ketua Forum PRB Provinsi NTT, Norman Riwu Kaho menyampaikan bahwa dalam musyawarah daerah akan menuntun forum kepada apa yang akan dilakukan pada tahun 2022—2026 di bidang kebencanaan dan berupaya mendorong keterlibatan perempuan, disabilitas, anak, dan kelompok rentan masyarakat.

“Kami juga mendorong kampus untuk mampu bergerak menyiapkan pusat studi tentang kebencanaan agar dapat diraih perwakilan mahasiswa yang mampu mengedukasi tentang desa tangguh bencana (Destana),” tandasnya.

Silvi Fanggidae, Koordinator SIAP SIAGA mengatakan bahwa sebagai program kerja sama pemerintah Australia dan Indonesia untuk penguatan sistem penanggulangan bencana dan sebagai base line kolaborasi dan koordinasi penanggulangan bencana, mendukung Forum PRB guna meminimalkan risiko bencana dengan keterlibatan berbagai pihak.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kalak BPBD NTT), Ambrosius Kodo menekankan bahwa Forum PRB dapat membuat titik pijak pengurangan risiko bencana. Ia pun mengungkapkan terima kasih kepada program SIAP SIAGA dan Forum PRB.

“Hampir semua jenis bencana ada di NTT. Jenis bencana cuaca ekstrem, banjir ROB, gempa bumi, tsunami, angin kencang, badai Seroja dan Seroja memberikan pengalaman bagi pemerintah NTT, dan berdasarkan kondisi ini, maka dibuatlah rencana kontingensi,” ungkapnya sembari menyampaikan bahwa saat terjadi bencana, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.

Dukungan dari Forum PRB, tandas Ambrosius Kodo, sangat membantu pemerintah mengurus, mengoordinasikan, menggerakkan, dan membangun ketangguhan bencana di Nusa Tenggara Timur.

Penulis (+roni banase)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *