oleh

Bank Jatim Berbisnis dengan Bank NTT

Kupang, Garda Indonesia | Jajaran Direksi Bank Jatim melakukan kunjungan kerja ke Bank NTT dalam rangka rencana kerjasama bisnis atau business opportunity offering pada Senin pagi, 24 Oktober 2022 pukul 10.00 WITA—selesai. Hadir Direktur Komersial Korporasi merangkap Pjs. Direktur Keuangan Bank Jatim, Edy Masrianto; Direktur Konsumer, Ritel, dan Syariah, Arief Wicaksono; Pimpinan Corporate Secretary, Budi Sumarsono; Pimpinan Perencanaan Strategis dan Manajer Kinerja, Wahyu Kusumo Wisnubroto; dan Pimpinan Divisi TI, Eko Tri.

Di hadapan manajemen Bank NTT yakni Direktur Kredit Bank NTT, Stefen Messakh; Direktur Kepatuhan Bank NTT Cristopher Adoe, Kadiv Rencorsec Endry Wardono, dan beberapa kepala divisi; Edy Masrianto mewakili Dirut Bank Jatim menyampaikan bahwa aset Bank Jatim tahun 2021 mencapai Rp100,72 triliun (tumbuh 20,45 persen [YoY]), laba bersih tercatat Rp 1,52 triliun (tumbuh 2,29 persen [YoY]).

Edy Masrianto pun mengungkapkan tujuan kunjungan kerja di Bank NTT guna berkolaborasi dan bersinergi demi memberikan nilai positif dan Bank Jatim bisa menggaet hal positif dari Bank NTT yang telah menunjukkan kinerja baik.

Edy Masrianto yang menjabat sebagai Direktur Komersial Korporasi merangkap Pjs. Direktur Keuangan Bank Jatim, mengurai jejak langkah sejak tahun 1961—2022. Ia juga mengurai sistem digitalisasi yang diterapkan Bank Jatim berupa Bank Jatim Mobile pada tahun 2016, virtual account (2018), BJTM Connect (2019), Jatim QRIS (2020), Jconnect (2021), dan Jconnect Invest & Jconnect Remittance (2022).

Edy Masrianto pun mengungkapkan Bank NTT memiliki local wisdom dan diprediksi bakal menjadi hub business wilayah Indonesia Timur. “Kami sangat mempunyai keinginan untuk bertumbuh bersama dan saling mengisi berupa wisdom local dan berkolaborasi memberikan kesempatan Bank NTT training di Bank Jatim,” ujarnya.

Pose bersama manajemen Bank NTT dengan Bank Jatim. Foto: Roni Banase

Kepada awak media, Edy Masrianto juga menyampaikan bahwa Bank Jatim bakal ikut menumbuhkan kembangkan Bank NTT. “Bank Jatim bisa bekerja sama dengan masuk dalam penyertaan modal,” ungkapnya.

Menimpali Edy Masrianto, Direktur Kepatuhan Bank NTT Cristopher Adoe menyampaikan kebanggaan dapat dikunjungi jajaran direksi Bank Jatim. “Momentum ini merupakan kesempatan meningkatkan kerja sama terkait local wisdom karena Bank NTT tidak bisa bertumbuh sendiri,” tandasnya.

Sementara, Direktur Kredit Bank NTT, Stefen Messakh menyampaikan bahwa terhitung September 2021 memiliki aset Rp17,41 triliun serta modal inti Rp2,2 triliun. (Kondisi ini membuat Bank NTT berada pada kelompok bank yang setara asetnya dengan BPD DIY dan Bank Jambi, red).

Stefen Messakh membeberkan peningkatan business planning dan capaian kinerja Bank NTT mengelola isu ketahanan pangan dengan pembiayaan pada ekosistem pertanian yakni kopi, kakao, vanili, jagung. “Bank NTT menjadi  off taker mengirimkan 100 ton jagung (program TJPS) dari kabupaten Sumba Barat Daya ke Jawa Timur. Pada sektor peternakan, Bank NTT membangun ekosistem penggemukan sapi dan yang menjadi off taker adalah PD Flobamor,” urainya.

Bank NTT, imbuh Stefen Messakh, juga memperhatikan pembiayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang diharapkan memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi. “Kami juga telah menerbitkan tools e catalogue UMKM dan masuk ke marketplace,” ungkapnya.

Ke depan, tandas Stefen Messakh, diharapkan Bank NTT dapat masuk dalam kerja sama kredit sindikasi karena hingga saat ini pertumbuhan kredit Bank NTT mencapai 39 persen karena hanya masuk ke sektor kecil seperti skim Kredit Mikro Merdeka. Selain itu, penggunaan digitalisasi kredit Mikro Merdeka memakai Mobile Banking Bank NTT dengan sistem hybrid.

Penulis (+roni banase)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.