Kasus Meningkat, Kemen PPPA Ajak Kaum Milenial Cegah KDRT

Loading

Kab. Batang-Jateng, Garda Indonesia | Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dari Kekerasan dalam Rumah Tangga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Ali Khasan menyebutkan, angka Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) sudah sangat mengkhawatirkan. Kondisi ini didasarkan pada angka KDRT yang mengalami peningkatan.

“Menurut Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan pada 6 Maret 2019, jumlah kekerasan terhadap perempuan paling tinggi adalah KDRT atau ranah personal yang mencapai angka 71% atau 9.637 kasus. Paling menonjol adalah kekerasan fisik mencapai 41% atau 3.927 kasus,” ujar Ali Khasan dalam Sosialisasi Pencegahan Kekerasan dalam Rumah Tangga oleh Kemen PPPA di Kab. Batang, Provinsi Jawa Tengah, Senin/25 Maret 2019

Ali Khasan menerangkan, larangan melakukan kekerasan perlu menjadi catatan penting bagi kaum muda sebelum berumah tangga. Kaum muda atau milenial dinilai berpotensi membantu menurunkan angka kekerasan dan perceraian jika memahami potensi KDRT sejak dini.

“Informasi cara mencegah KDRT sejak dini penting diberikan kepada kaum muda di samping agar mereka tidak menjadi pelaku dan korban KDRT, juga melatih kesiapan mereka sebelum menikah. Kesiapan dalam membangun keluarga akan membentuk ketahanan keluarga,” jelas Ali Khasan.

Pasal 5 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah menyebutkan, ‘Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, atau penelataran rumah tangga’.

Bupati Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Wihaji saat membuka kegitan sosialisasi, mengakui meski angka KDRT di Kab. Batang terbilang kecil, namun tidak menjadi alasan untuk abai.

“Jumlah angka kekerasan dalam rumah tangga semakin tinggi di Indonesia. Meski di Kab. Batang pada tahun 2018 tercatat hanya 23 kasus, tetapi mungkin masih banyak yang tidak terlaporkan. KDRT tidak boleh kita anggap remeh, karena selain merusak masa depan bangsa juga merusak keluarga,” ujar Bupati Kab. Batang.

Wihaji mengajak masyarakat di daerahnya untuk memahami rambu-rambu di dalam keluarga. Terutama terkait bentuk-bentuk kekerasan yang tidak boleh dilakukan, dan mengedepankan upaya pencegahan KDRT dengan getok tular.

“Jangan lupa, setelah mendapatkan pengetahuan di sini, getok tularkan ke masyarakat di sekitar kita. Sosialisasi ini banyak kita libatkan peserta remaja agar mereka siap, karena biasanya kalau mereka kurang siap nantinya berpotensi juga terjadi KDRT dalam rumah tangganya,” terang Wihaji.

M Khotibul Umam, ternyata sependapat dengan pernyataan Bupati Kab. Batang. Menurut siswa SMAN 2 Kab. Batang ini, sosialisasi pencegahan KDRT penting untuknya dan kaum milenial.

“Saya kan masih muda dan sebagai kaum millenial, sosialisasi pencegahan KDRT penting buat pengetahuan saya kedepannya. Nanti kalau saya sudah dewasa, sudah saatnya untuk menikah saya mengetahui bagaimana menghindari adanya kekerasan dalam rumah tangga,” ujar Umam.

Meski diakui tidak ingin menikah di usia muda, sebagai peserta Umam pun berencana akan menyampaikan informasi yang didapatkannya hari ini kepada keluarga dan sanak saudaranya. “Setidaknya saya akan memberitahu orang terdekat, seperti orangtua dan kakak saya yang sudah menikah. Supaya tidak terjadi terjadi kekerasan,” tambah Umam. (*)

Sumber berita (*/Publikasi & Media Kemen PPPA)
Editor (+rony banase)